• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hutan Indonesia saat ini sebagian besar dalam kondisi rusak. Di sisi lain, kebutuhan akan keberadaan hutan dengan luasan yang cukup dan kualitas yang baik, yang dapat menopang seluruh kehidupan di muka bumi ini, masih cukup tinggi. Hal tersebut bermakna bahwa terlepas dari wujud biofisik lahan saat ini, apabila sesuai dengan karakteristik biofisiknya, sebidang lahan harus berwujud dan berfungsi sebagai hutan. Dengan demikian, peruntukan lahan tersebut harus dipertahankan sebagai hutan. Artinya, jika hutan tersebut dalam kondisi baik maka harus tetap dipertahankan, dipelihara, dan dimanfaatkan secara lestari. Sebaliknya, jika dalam kondisi rusak maka harus direhabilitasi (Suhendang 2004). Berdasarkan data Departemen Kehutanan (2006), luas kawasan hutan Indonesia ± 126,8 juta ha. Kawasan tersebut diklasifikasikan sesuai dengan fungsinya menjadi kawasan konservasi (23,2 juta ha), kawasan lindung (32,4 juta ha), kawasan produksi terbatas (21,6 juta ha), kawasan produksi (35,6 juta ha) dan kawasan produksi yang dapat dikonversi (14,0 juta ha). Dari total luasan tersebut, kawasan yang telah terdegradasi sampai dengan tahun 2004 mencapai luas 59,17 juta ha. Sementara itu, lahan kritis yang berada di luar kawasan hutan tercatat ± 41,47 juta hektar. Sebagian dari lahan-lahan tersebut tersebar di 282 Daerah Aliran Sungai (DAS).

Laju deforestasi menunjukkan angka yang berubah-ubah, dan cenderung menurun bukan karena berhasilnya kegiatan rehabilitasi, namun lebih dikarenakan semakin sulitnya bahan baku kayu dijangkau oleh penebang liar. Bila pada tahun 2003 diperkirakan laju kerusakan sebesar 3,2 juta hektar, pada tahun 2005 diperkirakan laju kerusakan hutan mencapai angka ± 2,4 juta hektar (WALHI 2004). Situasi tersebut terjadi pula di kawasan hutan dan DAS di Propinsi Sulawesi Tengah. Hal ini disebabkan oleh aktivitas pembalakan komersial, baik secara illegal maupun legal, konversi hutan untuk perkebunan skala besar maupun kecil, dan pemungutan hasil hutan secara serampangan.

9

Penggundulan hutan di Sulawesi Tengah saat ini telah mencapai luasan ± 625.257 ha. Sekitar 35,25% atau seluas 220.288 ha kerusakan terjadi di dalam kawasan hutan. Selain menimbulkan dampak ekologis, kerusakan hutan tersebut berpengaruh terhadap kualitas kehidupan masyarakat pedesaan, terutama mereka yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan hutan, dan menjadikan hutan sebagai bagian dari sumber pendapatan keluarga (YBAHL 2004).

Telah banyak upaya yang dilakukan pemerintah dalam meredam laju degradasi hutan, utamanya melalui kegiatan reboisasi hutan dan penghijauan. Namun, upaya tersebut hingga saat ini belum juga mampu memberikan hasil nyata. Hal ini disebabkan karena pemerintah masih memandang masalah deforestasi sebagai masalah fisik semata, sehingga pendekatan teknologi selalu diandalkan untuk memecahkannya.

Kegagalan tersebut di atas dapat dilihat dari dua sisi, pertama: deforestasi hanyalah gejala dari masalah lain, baik dibidang ekonomi, sosial, politik, dan kebijakan. Tanpa upaya untuk memecahkan masalah yang sebenarnya, kegiatan rehabilitas akan terus mengalami kegagalan; kedua: kegiatan rehabilitasi tidak menarik (atraktif) bagi masyarakat pengguna lahan untuk berpartisipasi, karena tidak mampu memecahkan masalah mereka secara langsung, misalnya:

meningkatkan pendapatan atau mengurangi resiko kegagalan panen

(Kartodihardjo 2006).

Upaya terkini yang ditempuh pemerintah dalam meredam laju degradasi hutan, yang sekaligus mengupayakan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan, adalah melalui Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GN-RHL). Namun demikian, setelah lebih dari empat tahun pelaksanaannya, keberhasilan kegiatan ini masih tergolong rendah. Hal ini terindikasi melalui banyaknya keluhan terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut di daerah-daerah. Salah satu faktor yang menjadi keluhan penerapan kegiatan GN-RHL adalah ”rendahnya tingkat partisipasi masyarakat”.

Terdapat sejumlah kajian terdahulu yang menjelaskan hubungan antara tingkat partisipasi masayrakat dengan keberhasilan pembangunan kehutanan, diantaranya: Pujo(1998), Sunartana (2003), Safei (2003), Trison (2005). Namun demikian, belum dijumpai kajian yang secara khusus menjelaskan faktor-faktor

10

dominan apa saja, baik internal maupun eksternal, yang meyebabkan tingkat partisipasi masyarakat yang rendah dalam pelaksanaan kegiatan GN-RHL. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor apa saja mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat, serta strategi apa yang dapat diupayakan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan rehabilitas hutan, utamanya dalam kegiatan GN-RHL.

Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk: 1. mengetahui tingkat partisipasi masyarakat peserta kegiatan GN-RHL

2. mengetahui hubungan di antara faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi dengan tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan GN-RHL.

3. Menyusun strategi pengembangan partisipasi masyarakat dalam kegiatan GN-

RHL

Hipotesis

Berdasarkan latar belakang, permasalahan, tujuan penelitian dan kerangka pemikiran, dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:

1. Peserta kegiatan GN-RHL memiliki tingkat partisipasi yang rendah

2. Terdapat hubungan antara faktor internal dan faktor eksternal dengan tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan GN-RHL

Manfaat Penelitian

Melalui penelitian ini dapat diketahui tingkat partisipasi masyarakat di setiap tahapan kegiatan dan faktor-faktor yang memiliki hubungan dengan tingkat partisipasi masyarakat, sehingga dapat diupayakan pengembangan terhadap partisipasi masyarakat.

11

TINJAUAN PUSTAKA

Rehabilitasi Hutan dan Lahan

Rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) merupakan bagian dari sistem pengelolaan hutan dan lahan, yang ditempatkan pada kerangka daerah aliran sungai (DAS). RHL mengambil posisi dalam mengisi kesenjangan, ketika sistem perlindungan tidak dapat mengimbangi hasil sistem budidaya hutan dan lahan, sehingga terjadi deforestasi dan degradasi lahan. RHL juga sangat berperan dalam meningkatkan luas areal bertegakan hutan dan bangunan konservasi tanah; memulihkan fungsi hidrologi hutan dan lahan dalam DAS; memulihkan fungsi perlindungan tanah dan stabilitas iklim mikro; meningkatkan produksi Oksigen (O2) dan penyerap gas-gas pencemar udara; memulihkan dan melestarikan

sumberdaya plasma nutfah; membuka peluang kesempatan berusaha dan kesejahteraan masyarakat; membuka peluang untuk pengembangan ekowisata; memulihkan citra negara, bangsa, pemerintah, dan masyarakat di mata dunia (WALHI 2004).

Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No.20/Kpts-II/2001, RHL memiliki beberapa prinsip, di antaranya: (a) meminimumkan kegagalan kebijakan (policy failure), sebagai akibat kegagalan birokrasi (government failure) dan kegagagalan pasar (market failure). Arahnya adalah mewujudkan good policy, good implementation, good performance; (b) RHL harus menjadi kebutuhan masyarakat; (c) RHL menggunakan DAS sebagai unit analisis dalam perencanaan dan pengendalian; (d) adanya kejelasan wewenang dan tata hubungan kerja dalam RHL; (e) memanfaatkan potensi masyarakat lokal (f) tujuan RHL disesuaikan dengan fungsi utama kawasan yang menjadi sasaran rehabilitasi; (g) perlunya pemahaman yang baik terhadap status penguasaan/ kepemilikan lahan sasaran RHL agar potensi konflik dapat diantisipasi; (h) kontribusi biaya (cost sharing) antara pemerintah dan masyarakat; dan (i) adanya penguatan kelembagaan (Timpakul 2004). Upaya-upaya RHL yang telah dilakukan selama ini disajikan pada Tabel 1.

12

Tabel 1. Kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) selama Periode (1951 – 2004)

No Tahun Kegiatan

1 1951 – 1960 Penanaman karangkitri pada tanah-tanah pekarangan/tegalan melalui kegiatan Rencana Kesejahteraan Indonesia

2 1967-1970 Proyek Deptan 001 s/d 037 (penghijauan sektoral belum berbasis DAS)

3 1970-1976 Setelah banjir di Solo tahun 1966 telah dilaksanakan upaya Rehabilitasi Lahan Kritis berbantuan natura (pangan dan bibit tanaman) dari WFP/world food program ( hasil kurang memadai) 4 1973-1979 Proyek Upper Solo Watershed Management and Upland

Development /TA. INS/72/006 di Solo bantuan FAO/UNDP, mulai dilakukan uji coba model pengelolaan DAS dan teknik konservasi tanah dan air (hasilnya norma, kriteria dan standar)

5 1981-1989 Proyek Citanduy I dan II bantuan USAID di Panawangan-Ciamis (hasilnya norma, kriteria dan standar konservasi tanah dan air/ model farm.

6 1976/1977– 1996/1997

INPRES Reboisasi dan Penghijauan secara lintas sektor, perencanaan berbasis DAS dan pembinaan teknis oleh proyek2 di daerah (P3RPDAS), reboisasi dilaksanakan pemda propinsi dan penghijauan oleh pemda kabupaten (tingkat keberhasilan fisik: rendah – sedang

7 1990/1991– 1997/1998

Kredit Usahatani Konservasi DAS (KUK DAS) (keberhasilan: 57% realisasi pengembalian kredit)

8 2000 – 2004 RHL DAK DR (40%) di daerah penghasil hutan alam, dilaksanakan Pem Kab/Kota tanpa pembinaan teknis Dephut (keberhasilan : rendah/bermasalah)

9 2000–2004 RHL DR (60 %) di daerah non penghasil hutan alam, dilaksanakan Pem Kab/Kota dengan perencanaan/pembinaan teknis oleh Balai Pengelolaan DAS (keberhasilan : rendah-cukup)

10 2003–2007 GN-RHL di DAS-DAS prioritas, perencanaan dan pembinaan teknis oleh Ditjen RLPS dan UPT nya, penyediaan bibit oleh BP DAS, penanaman/ konservasi tanah oleh Pem. Kab/Kota dan BKSDA/BTN, penilaian bibit/kinerja oleh Perguruan Tinggi, pengendalian oleh Pem Prop/Pusat

Sumber : DEPHUT 2006

Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir (2000-2005), pemerintah telah merehabilitasi hutan dan lahan dalam bentuk reboisasi seluas ± 469.256 ha, dan penghijauan, termasuk hutan rakyat seluas ± 1.785.149 ha. Selain itu, di tahun

13

tahun 2003 pemerintah melului Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GN-RHL) telah mentargetkan rehabilitasi kawasan hutan dan ekosistemnya seluas 3 juta ha, dengan sasaran DAS prioritas, hutan rusak dan lahan kritis, serta rawan bencana. Selain itu direncanakan pula pembangunan hutan tanaman seluas 5 juta ha dan hutan rakyat seluas 2 juta ha. Gerakan tersebut diproklamirkan oleh pemerintah di tahun 2002, dengan tema: ”Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan”, sebagai komitment bangsa dalam upaya meningkatkan kualitas lingkungan dan kesejahteraan rakyat (WALHI 2004).

Lingkup kegiatan GN-RHL terdiri atas: (a) Kegiatan pencegahan perusakan lingkungan, meliputi kegiatan sosialisasi kebijakan perbaikan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan penegakan hukum; dan (b) Kegiatan penanaman hutan dan rehabilitasi, meliputi penyediaan bibit tanaman (pengadaan bibit, renovasi, dan pembangunan sentra produksi bibit), penanaman (reboisasi, hutan rakyat, penanaman turus jalan, pemeliharaan tanaman dll) dan pembuatan bangunan konservasi tanah (dam pengendali dan penahan (gully plug), pembuatan teras (terasering), sumur resapan (grass barrier), dll), penyusunan rencana dan rancangan kegiatan, pengembangan kelembagaan (pendampingan, pelatihan dan penyuluhan) dan pembinaan (Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat 2003).

GN-RHL merupakan upaya rehabilitasi hutan dan lahan serta perbaikan lingkungan yang sifatnya terpadu, menyeluruh, bersama-sama dan terkoordinasi dengan melibatkan semua stakeholders melalui suatu perencanaan, pelaksanaan, serta pemantauan dan evaluasi yang efektif dan efisien. Tugas Kementerian/

Departemen/Non-Departemen/Lembaga dilaksanakan dalam rangka

mensukseskan penyelenggaraan GN-RHL (Hidayat 2003).

Secara garis besar peran masing-masing stakeholder adalah sebagai berikut :

(a) Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Kementerian

Koordinator Bidang perekonomian, dan Kementerian Bidang Politik dan Keamanan bertugas mengkoordinasikan penyelenggaraan GN-RHL.

14

(b) Departemen Kehutanan bertugas menyiapkan perencanaan dan pembibitan, pembinaan teknis dalam penanaman dan pemeliharaan, serta sebagai koordinator dalam pelaksanaan GN-RHL.

(c) Departemen Keuangan bertugas menyiapkan anggaran dan pendanaan bagi pelaksanaan GN-RHL.

(d) Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah bertugas memilih prioritas DAS yang kritis untuk ditangani dan menyiapkan peta DAS bagi dasar perencanaan.

(e) Departemen Pertanian bertugas pembinaan pemeliharaan tanaman

pertanian/perkebunan yang ditanam dalam kegiatan GN-RHL.

(f) Departemen Dalam Negeri bertugas menggerakkan jajaran pemerintah daerah

dan masyarakat untuk melaksanakan penanaman bibit dan pemeliharaan tanaman, serta melaksanakan sosialisasi.

(g) Departemen Pendidikan Nasional bertugas mengerahkan siswa/mahasiswa

untuk terlibat aktif dalam upaya GN-RHL, dan meningkatkan kepedulian siswa/mahasiswa terhadap kelestarian lingkungan.

(h) Departemen Kehakiman dan Hak Azasi Manusia bertugas melaksanakan

penegakan hukum terhadap perusakan lingkungan.

(i) Kementerian Lingkungan Hidup bertugas melakukan pemantauan pelaksanaan

perkembangan perbaikan lingkungan serta sebagai koordinator dalam pencegahan perusakan lingkungan.

(j) Kementerian Riset dan Teknologi bertugas menyediakan informasi dan evaluasi tentang perbaikan kondisi lingkungan yang diperoleh dari citra satelit.

(k) Tentara Nasional Indonesia (TNI) bertugas menggerakkan

personil/anggotanya untuk melaksanakan upaya-upaya penanaman bersama- sama masyarakat.

(l) Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) bertugas mengamankan pelaksanaan

15

Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Sumberdaya Hutan Bentuk Partisipasi

Partisipasi memiliki arti yang luas. Sebagian ahli mendefenisikan partisipasi sebagai keikutsertaan masyarakat, baik dalam bentuk pernyataan maupun kegiatan. Keikutsertaan terbentuk sebagai akibat dari terjalinnya interaksi sosial antar individu atau kelompok masyarakat yang lain (Wardoyo 1992). Demikian halnya Davis (1967) menyebutkan partisipasi sebagai keterlibatan mental, pemikiran, dan perasaan seseorang di dalam situasi kelompok, yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan atau bantuan kepada kelompok tersebut dalam usaha mencapai tujuan bersama, dan turut bertanggung jawab terhadap usaha bersangkutan.

Mubyarto (1984) mengartikan partisipasi sebagai suatu bentuk kesediaan membantu berhasilnya setiap kegiatan, sesuai dengan kemampuan tiap-tiap individu tanpa mengorbankan diri sendiri. Lebih jauh, Slamet (2003) memaknai partisipasi masyarakat sebagai wujud keikutsertaan masyarakat dalam setiap tahapan kegiatan pembangunan, termasuk di dalamnya ikut memanfaatkan dan menikmati hasil-hasil pembangunan. Jadi, bukan hanya menyumbangkan input ke dalam pembangunan, namun lebih jauh ikut serta memanfaatkan dan menikmati hasil-hasil pembangunan.

Sementara itu, Oakley (1991) lebih memandang partisipasi sebagai wujud perbaikan sistem atau sebagai suatu proses, yang dimaksudkan untuk memberi penguatan pada kemampuan masyarakat desa, agar mereka berinisiatif terlibat secara langsung dalam pembangunan. Sejalan dengan itu, Soetrisno (1995) mengemukakan bahwa defenisi partisipasi adalah kerjasama antar rakyat dan

pemerintah dalam merencanakan, melaksanakan, melestarikan, dan

mengembangkan hasil pembangunan. Dalam konteks ini diasumsikan bahwa rakyat mempunyai aspirasi dan nilai budaya, yang perlu diakomodasi dalam proses perencanaan dan pelaksanaan suatu kegiatan pembangunan.

Derajat Partisipasi

Tjokroamidjojo (1991) menjelaskan bahwa partisipasi masyarakat meliputi tiga tahap, yakni (1) keterlibatan dalam proses penentuan arah, strategi, dan

16

kebijaksanaan pembangunan, (2) keterlibatan dalam memikul beban dan tanggung jawab dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan, dan (3) keterlibatan dalam memetik hasil dalam pembangunan secara berkeadilan. Lebih jauh, Ndraha (1987) mengemukakan enam tahapan partisipasi, di antaranya: (a) partisipasi dalam menerima dan memberikan informasi; (2) partisipasi dalam memberikan tanggapan dan saran terhadap informasi yang diterima, baik yang bersifat “mengiyakan“ atau yang menerima dengan syarat; (3) partisipasi dalam perencanaan pembangunan; (4) partisipasi dalam pelaksanaan operasional pembangunan; (5) partisipasi dalam menerima kembali hasil-hasil pembangunan dan (6) partisipasi dalam menilai pembangunan.

Terkait dengan partisipasi dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam, Borrini-Feyerabend (2000) mengemukakan bahwa partisipasi efektif dapat dipandang sebagai sebuah kondisi di mana kearifan lokal, keterampilan, dan sumberdaya lainnya digerakkan dan dilaksanakan secara totalitas. Partisipasi berarti bahwa masyarakat lokal diberdayakan untuk menggerakkan kemampuan mereka menjadi aktor-aktor sosial dalam mengelola sumberdaya, membuat keputusan, dan mengontrol kegiatan-kegiatan yang mempengaruhi kehidupan mereka (Cernea 1985).

Berkaitan dengan apa yang telah dikemukakan di atas, Wilcox (1994) telah mengembangkan partisipasi ke dalam lima tahap yakni: informasi, konsultasi, keputusan bersama, bekerja sama, dan mendukung kepentingan masyarakat (lihat Gambar 1).

Degree of control Supporting Acting together Deciding together Consultation Information Substantial Participation

17

Menurut model Wilcox, tingkatan yang paling rendah dalam mengontrol sumber daya alam secara keseluruhan adalah tingkatan ”informasi”, di mana masyarakat diberitahu apa yang direncanakan dengan maksud untuk mendidik partisipan. Tingkatan selanjutnya dari partisipasi adalah ”konsultasi” yang berarti menawarkan beberapa opsi atau pilihan dan menerima masukan. Selanjutnya, ”keputusan bersama” berarti masyarakat didorong untuk memberikan beberapa ide, dan memutuskan bersama sebagai jalan terbaik ke depan. Tingkatan partisipasi yang lebih tinggi adalah ”bertindak secara bersama-sama”, untuk mencapai keputusan yang terbaik di antara kepentingan yang beragam atau berbeda kemudian melaksanakannya. Tahapan yang tertinggi dari kontrol adalah ketika masyarakat ”mendapatkan bantuan” berdasarkan apa yang mereka inginkan, berupa dukungan dari pemegang otoritas sumberdaya.

Secara lebih rinci, Nanang dan Devung (2004) mengembangkan konsep Wilcox menjadi beberapa item, di antaranya:

Tingkat 6: Mobilisasi dengan kemauan sendiri (self-mobilization): masyarakat mengambil inisiatif sendiri, jika perlu dengan bimbingan dan bantuan pihak luar. Mereka memegang kontrol atas keputusan dan pemanfaatan sumberdaya; pihak luar memfasilitasi mereka.

Tingkat 5. Kemitraan (partnership): masyarakat mengikuti seluruh proses pengambilan keputusan bersama dengan pihak luar, seperti studi kelayakan, perencanaan, implementasi, evaluasi, dll. Partisipasi merupakan hak mereka dan bukan kewajiban untuk mencapai sesuatu Ini disebut “partisipasi interaktif.”

Tingkat 4. Plakasi/konsiliasi (Placation/Conciliation): masyarakat ikut dalam proses pengambilan keputusan yang biasanya sudah diputuskan sebelumnya oleh pihak luar, terutama menyangkut hal-hal penting. Mereka mungkin terbujuk oleh insentif berupa uang, barang, dll. Tingkat 3. Perundingan (consultation): pihak luar berkonsultasi dan berunding

dengan masyarakat melalui pertemuan atau public hearing dan sebagainya. Komunikasi dua arah, tetapi masyarakat tidak ikut serta dalam menganalisis atau mengambil keputusan.

18

Tingkat 2. Pengumpulan informasi (information gathering): masyarakat

menjawab pertanyaan yang diajukan oleh orang luar. Komunikasi searah dari masyarakat ke luar.

Tingkat 1. Pemberitahuan (informing): hasil yang diputuskan oleh orang luar (pakar, pejabat, dll.) diberitahukan kepada masyarakat. Komunikasi terjadi satu arah dari luar ke masyarakat setempat.

Tingkat-tingkat partisipasi masyarakat tersebut bermanfaat sebagai alat untuk menilai partisipasi nyata di lapangan. Pada dasarnya partisipasi yang sesungguhnya terdapat pada Tingkat 5 dan Tingkat 6.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi

Peningkatan partisipasi merupakan salah satu upaya untuk memberdayakan dan mengembangkan kekuatan lokal. Partisipasi masyarakat dapat dipandang pula sebagai satu kekuatan penting dan menentukan keberhasilan proses pembangunan dan hal yang penting adalah pemberdayaan ataupun partisipasi masyarakat hendaknya berjalan dengan sukarela, tanpa paksaan (Mubyarto1994). Keuntungan partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan hutan di antaranya: (a) sasaran-sasaran lokal, pengelolaan lokal dan keuntungan-keuntungan lokal. Penduduk akan lebih antusias, tentang suatu rencana seperti miliknya sendiri, dan mereka akan lebih berkeinginan berpartisipasi dalam pelaksanaan dan pengawasannya; (b) mereka akan lebih sadar akan permasalahan dan peluang-peluang penggunaan dan pengelolaan sumberdaya hutan; (c) rencana dapat memberikan perhatian yang dekat pada desakan-desakan lokal, meskipun ini dikaitkan dengan sumberdaya alam dan masalah-masalah sosial-ekonomi dan budaya; dan (d) informasi yang lebih baik akan memberi sumbangan pada tingkat perencanaan yang lebih tinggi (Pujo1998).

Ada dua sumber yang menyebabkan munculnya partisipasi, yaitu: partisipasi yang muncul dari dalam diri manusia itu sendiri dan partisipasi karena dorongan dari luar. Kedua bentuk partisipasi tersebut mempunyai kekuatan sendiri-sendiri yang saling mengisi. Partisipasi dari luar dapat berupa paksaan atau rangsangan dari luar. Masyarakat dengan kesadaran sendiri melaksanakan pembangunan (Koentjaraningrat 1980). Namun demikian, dalam pelaksanaannya di lapangan

19

sering dijumpai berbagai hambatan, di antaranya; pertama, belum dipahaminya makna sebenarnya dari konsep partisipasi yang berlaku di kalangan lingkungan aparat perencana dan pelaksanan pembangunan. Di lingkungan aparat perencana dan pelaksanaan pembangunan, partisipasi merupakan kemauan rakyat untuk mendukung secara mutlak kegiatan-kegiatan pemerintah yang dirancang dan ditentukan tujuannya oleh pemerintah. Hambatan kedua yang ditemukan di lapangan adalah lemahnya kemauan rakyat berpartisipasi dalam pembangunan berakar pada banyaknya peraturan/ perundang-undangan, yang meredam keinginan rakyat untuk berpartisipasi (Soetrisno 1995).

Hasil penelitian lainnya menunjukkan bahwa status sosial ekonomi (pekerjaan, pendidikan, pendapatan) berkaitan erat dengan tahapan partisipasi. Lapisan penduduk yang berstatus sosial lebih tinggi biasanya lebih banyak terlibat dalam proses perencanaan dan pelaksanaan, kelasa sosial menegah lebih banyak terlibat dalam proses pelaksanaan, sedangkan kelasa sosial yang lebih rendah lebih banyak hanya dalam proses pemanfaatan.

Sallatang (1986), menyatakan bahwa terdapat beberapa hal yang menyebabkan rendahnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan atau pelaksanaan proyek, di antaranya:

(1) Proyek-proyek yang dilaksanakan sebelumnya tidak dibicarakan secara tuntas dengan masyarakat. Masyarakat merasakan sekedar diminta dan diharapkan menerima dan melaksanakan saja. Sehingga, proyek-proyek yang dilaksanakan tidak atau kurang merupakan hasil kesepakatan (commitment) di antara para pelaku. Karenanya, masyarakat kurang memiliki rasa tanggung jawab.

(2) Tidak atau kurang diikutsertakannya masyarakat berpartisipasi dalam tahap perencanaan sebagai tahap pertama dalam menyelenggarakan suatu proyek, yang justru dalam penilaiannya merupakan suatu rangkaian kegiatan penting dirasakan oleh masyarakat. Demikian, masyarakat kurang ikut serta dalam proyek atau sedikitnya mereka merasa tidak diperhatikan.

(3) Di antara proyek-proyek yang dilaksanakan, banyak yang dirasakan oleh masyarakat tidak atau kurang menyentuh kebutuhan terasa (felt need) nya.

20

(4) Para warga masyarakat sukar mengambil atau memainkan peranan dalam berbagai kegiatan proyek, karena mereka tidak atau kurang mengetahui aturan-aturan teknis operasional dan prosedurnya.

(5) Pengorbanan yang dilepaskan ataupun keuntungan yang diperoleh berkenaan

dengan pelaksanaan proyek-proyek, acapkali kurang berimbang dan kurang memenuhi rasa keadilan khususnya di kalangan mereka yang terkena langsung oleh proyek-proyek yang bersangkutan.

Hal tersebut sejalan dengan Cohen dan Uphoff (1977) menyatakan bahwa setiap individu dapat mengalihkan partisipasinya dari suatu sistem ke sistem yang lain karena: (1) tingkat keuntungan (imbalan) yang diperoleh tidak ada atau rendah, (2) tidak adanya kesesuaian terhadap nilai atau norma yang berlaku dalam masyarakat. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan dalam lingkungan kehidupan seseorang dan kelompok yang lebih mengandung harapan dan keuntungan lebih besar.

Partisipasi muncul diakibatkan oleh faktor di dalam diri seseorang itu yang disebut faktor intrinsik dan faktor dari luar diri disebut faktor lingkungan. Faktor intrinsik meliputi; umur, ukuran keluarga, pendidikan formal, pendidikan non formal, pendapatan (dari dalam dan luar kegiatan), luas lahan milik, kekosmopolitan, pendapatan rumah tangga, dan kepahaman kontrak. Sedangkan untuk faktor lingkungan meliputi; aksesibilitas lahan andil, peran pembinaan teknis, peran penyuluh, peran kelembagaan formal, peran kelembagaan informal, peran petugas lapangan dan luas lahan andil.

Slamet (1980) menyatakan bahwa dalam usaha menumbuhkan dan meningkatkan partisipasi dipengaruhi beberapa hal yaitu: (1) adanya kesempatan untuk ikut dalam kegiatan, (2) ada kemauan untuk berpartisipasi dan (3) ada kemauan untuk memanfaatkan kesempatan. Iqbal (1988) dalam Sunartana (2003) menambahkan bahwa faktor-faktor yang termasuk dalam kesempatan yaitu peluang petani untuk menjadi peserta kegiatan, status keanggotaan, sedangkan faktor-faktor yang termasuk dalam kemampuan yaitu pendidikan formal dan non formal, pengalaman petani dalam berusaha tani, usia petani, dan luas lahan. Sementara untuk faktor yang termasuk dalam kemauan yaitu motivasi petani dan jarak tempat tinggal petani dengan lokasi kegiatan.

21

Tingkat partisipasi masyarakat juga dipengaruhi oleh dua faktor; yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal mencakup ciri-ciri atau karakter individu, meliputi; umur, tingkat pendidikan, luas lahan garapan, pendapatan, motivasi, persepsi, jumlah tenagah kerja, status petani, dan kekosmopolitan.