Olahraga merupakan aktivitas untuk meningkatkan stamina tubuh, yang mempunyai dampak positif terhadap derajat kesehatan, oleh karena itu olahraga dianjurkan untuk dilaksanakan secara teratur sesuai dengan kondisi seseorang. Bagi atlet asupan gizi yang terkait dengan olahraga mempunyai arti penting selain untuk mempertahankan stamina, kebugaran atlet serta untuk meningkatkan prestasi atlet tersebut dalam cabang olahraga yang diikutinya.
Dalam hal ini meningkatkan daya tahan aerobik atau endurance dikenal pula prinsip penambahan beban latihan atau overload principle yang dalam hal ini terdiri dari: 1) Intensitas; 2) Frekwensi; 3) Lama program latihan yang dilakukan (Sajoto 1988). Menurut Robergs dan Robert (1997), untuk meningkatkan daya tahan dibutuhkan latihan-latihan yang meningkatkan daya tahan jantung-paru serta daya tahan jantung-pembuluh darah, karena dari hasil penelitian menunjukkan bahwa 0%-10% peningkatan daya tahan dipengaruhi oleh proses adaptasi kardiovaskuler dan transfer kardiorespirasi. Sehingga peningkatan daya tahan akan memberikan hasil yang signifikan dengan cara meningkatkan kerja sistem kardiovaskuler dan kardiorespirasi melalui program latihan yang berinterval dan continue (terus menerus).
Peningkatan daya tahan kardiorespirasi dapat terlihat dengan mengukur VO2max (ambilan oksigen maksimal), selain itu peningkatan daya tahan kardiorespirasi dapat terlihat dengan mengukur nilai kapasitas vital paru yang lebih mudah dan lebih praktis daripada mengukur VO2 max. Nilai kapasitas vital pria dewasa lebih tinggi 20-25% daripada wanita dewasa. Hal ini antara lain disebabkan oleh perbedaan kekuatan otot pria dan wanita. Nilai kapasitas vital paru juga sangat dipengaruhi oleh karakteristik fisik, seperti umur, tinggi badan dan berat badan (Yunus 1997; Guyton & Hall 1996). Atlet cabang olahraga yang banyak menggunakan otot tubuh bagian atas, nilai kapasitas vital parunya juga lebih tinggi daripada atlet cabang olahraga yang banyak menggunakan otot tubuh bagian bawah.
Pengetahuan gizi olahraga bagi masyarakat secara umum serta atlet yang berprestasi sangat penting. Seperti yang telah diketahui bahwa dalam masa pertumbuhan serta perkembangan, proses kehidupan seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor salah satunya masukan zat gizi. Disamping itu gizi juga berpengaruh dalam mempertahankan dan memperkuat daya tahan
tubuh. Derajat kesehatan yang baik akan mampu menciptakan kondisi tubuh yang sehat dan menjadi sumberdaya manusia (SDM) yang berkualitas. Dengan SDM yang baik maka para atlet olahraga diharapkan akan mampu menciptakan prestasi yang baik pula. Salah satu faktor yang penting untuk mewujudkannya adalah melalui pembinaan atlet disetiap cabang olahraga dan pemenuhan zat gizi yang seimbang sesuai dengan kebutuhan para atlet sendiri, pembina olahraga, dan penyediaan makanan yang telah sadar gizi (Napu 2005).
Makanan mempunyai arti penting bagi kehidupan manusia dan sangat berpengaruh dalam perilaku sehari-hari. Manusia pada hakekatnya telah mengenal akan arti dan guna makanan secara harfiah, tetapi pada dasarnya manusia belum menyadari sepenuhnya kepentingan makanan dalam menyusun pertumbuhan dan perkembangan fisiknya (Mukrie et al. 1990).
Tidak ada perbedaan yang mencolok dalam hal makan antara atlet dan non atlet, akan tetapi mengingat bahwa sebagian atlet masih dalam usia pertumbuhan, kegiaatan fisik atlet rata–rata lebih besar dibandingkan non atlet sehingga pengaruh makanan akan lebih langsung terlihat pada penampilan atau prestasi atlet maka di samping jumlahnya harus lebih besar, pengaturan makanan bagi atlet harus lebih cermat dibandingkan makanan bagi non atlet. Pengertian cukup dalam hal makanan adalah bukan semata–mata dapat diartikan dengan “tidak boleh kurang“ terutama bagi atlet. Pengertian cukup disini harus diartikan “tidak boleh berlebihan” disamping boros kelebihan makanan pada atlet akan menjadikan beban yang dapat menurunkan prestasi, inilah sebabnya dalam setiap penyelengaraan makanan bagi atlet sedapat mungkin dikelola atau diawasi oleh seorang ahli gizi (Dirham 1987).
Pengaturan keseimbangan zat gizi antara asupan dan kebutuhan tubuh sangat penting karena kekurangan atau kelebihan zat gizi sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan dan status gizi. Pengaturan makanan terhadap seorang atlet harus bersifat individual. Pemberian makanan harus memperhatikan jenis kelamin, umur, berat badan, serta jenis olahraga. Selain itu, pemberian makanan juga harus memperhatikan periodisasi latihan, masa kompetisi, dan masa pemulihan. Untuk mendapatkan atlet yang berprestasi, faktor gizi merupakan salah satu faktor yang sangat perlu diperhatikan sejak pembinaan di tempat pelatihan sampai pada saat pertandingan.
Salah satu syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh olahragawan untuk meraih prestasi adalah ketahanan fisik yang prima. Kondisi tersebut hanya dapat
dicapai apabila didukung oleh komposisi atau stuktural tubuh yang menguntungkan, latihan yang intensif, teratur dan diet yang kuat. Kesepakatan internasional yang dicetuskan di lausane pada tahun 1992 menyatakan bahwa diet terbukti secara bermakna mempengaruhi prestasi atlet.
SMA Ragunan di Jakarta Selatan merupakan salah satu institusi atau tempat pembinaan atlet berbagai cabang olahraga. SMA Ragunan Jakarta membina atlet-atlet yang masih berada pada usia pertumbuhan, dimana usia tersebut memerlukan asupan gizi dan makanan yang cukup yang sesuai dengan aktivitas yang mereka lakukan. Selain ada pembinaan dan pelatihan bagi para atletnya, sekolah ini juga menyediakan sistem penyelenggaraan makanan bagi para atletnya. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengetahui sejauh mana peranan asupan makanan serta komposisi lemak tubuh terhadap aktivitas daya tahan tubuh atlet di sekolah atlet Ragunan ini.
Perumusan Masalah
Perumusan masalah dalam penelitian Hubungan Antara Asupan Zat Gizi dan Komposisi Lemak Tubuh dengan Kapasitas Daya Tahan Tubuh Atlet di SMA Negeri Ragunan Jakarta adalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah karakteristik sampel berdasarkan pengukuran antropmetri, status gizi dan komposisi lemak tubuh?
2. Berapakah sumbangan konsumsi energi dan zat gizi (protein, karbohidrat dan lemak) dari makanan yang telah disediakan oleh pihak sekolah?
3. Bagaimanakah peranan asupan makanan dengan kapasitas daya tahan tubuh atlet?
4. Bagaimanakah peranan komposisi lemak tubuh dengan kapasitas daya tahan tubuh atlet?
Tujuan Penelitian Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara asupan zat gizi dan komposisi lemak tubuh dengan kapasitas daya tahan tubuh atlet di SMA Negeri Ragunan Jakarta.
Tujuan Khusus
1. Menganalisis karakteristik sampel berdasarkan pengukuran antropometri, status gizi dan komposisi lemak tubuh.
2. Menganalisis tingkat konsumsi energi dan zat gizi para atlet di Sekolah Atlet Ragunan Jakarta.
3. Menganalisis hubungan antara asupan makanan dengan kapasitas daya tahan tubuh atlet.
4. Menganalisis hubungan antara komposisi lemak tubuh dengan kapasitas daya tahan tubuh atlet.
Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran serta informasi tentang tingkat kecukupan kalori atlet di Sekolah Atlet Ragunan Jakarta melalui sistem penyelenggaraan makanan. Hal ini penting agar atlet mampu mengatur konsumsi makanan yang baik sesuai dengan kebutuhan zat gizi masing-masing atlet. Selain itu, juga dapat memberikan gambaran serta informasi mengenai hubungan antara tingkat kecukupan kalori dan komposisi lemak tubuh atlet dengan kapasitas daya tahan tubuh atlet. Karena dangan pengaturan makanan yang baik dapat membuat atlet mampu memenuhi kebutuhan gizinya menjadi lebih baik sehingga mempunyai status gizi yang baik pula serta dapat meningkatkan prestasi. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam menetapkan kebijakan konsumsi pangan bagi atlet dalam rangka peningkatan kualitas gizinya serta kapasitas daya tahan tubuhnya.