• Tidak ada hasil yang ditemukan

RIWAYAT HIDUP

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

Beras merupakan komoditi yang hingga saat ini masih menjadi makanan pokok bangsa Indonesia. Beras juga merupakan komoditi yang dapat mempengaruhi kondisi sosial ekonomi, dan politik negara. Namun demikian berkaitan dengan komoditas beras saat ini, diketahui bahwa cadangan beras di Indonesia telah mengalami kekurangan. Dibalik nilai strategis tersebut, penguasaan lahan yang berkurang dan ketidakberdayaan dalam menentukan harga menjadi penyebab kemiskinan bagi pelaku usaha (petani). Petani dituntut untuk berpartisipasi dalam membangun kekuatan pangan nasional melalui peningkatan produktivitas. Tuntutan tersebut seringkali terbentur pada ketidakberdayaan petani dalam kemampuan menerapkan (adopsi) teknologi. Menurut Rogers dan Shoemaker (1971), adopsi inovasi adalah suatu proses pengambilan keputusan melalui proses mental sejak seseorang mengetahui adanya inovasi sampai dia mengambil keputusan untuk menerima ataupun dan kemudian memberikan pengukuhan atas keputusan itu. Jika ia menerima (mengadopsi) inovasi tersebut maka dia mulai menggunakan ide-ide baru, praktek baru atau barang baru itu dan menghentikan penggunaan ide-ide lama yang digantikan oleh inovasi itu.

Adopsi teknologi dalam proses penyuluhan pertanian, pada hakekatnya diartikan sebagai proses penerimaan inovasi dan atau perubahan perilaku baik yang berupa: pengetahuan (cognitive), sikap (affective), maupun keterampilan (psycho-motoric) pada diri seseorang setelah menerima “inovasi” yang

disampaikan penyuluh oleh masyarakat sasarannya. Penerimaan disini mengandung arti tidak sekadar “tahu”, tetapi sampai benar-benar dapat melaksanakan atau menerapkannya dengan benar serta menghayatinya dalam kehidupan dan usahataninya. Penerimaan inovasi tersebut, biasanya dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung oleh orang lain, sebagai cerminan dari adanya perubahan: sikap, pengetahuan, dan atau keterampilannya (Mardikanto 1993). Perubahan tersebut dapat dilakukan melalui intervensi dalam bentuk kegiatan pelatihan. Pelatihan merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan kerja. Pelatihan biasanya dilakukan dengan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan, diberikan dalam waktu yang relatif pendek, untuk membekali seseorang dengan keterampilan kerja. Kegiatan pelatihan sebaiknya disusun berdasarkan kebutuhan petani dengan memperhatikan sumberdaya yang ada di desanya dengan memperhatikan aspek kebutuhan belajar petani dan memperhatikan kesesuai antara kebutuhan keterampilan dengan sumberdaya yang dimiliki (Sudirman 2006).

Pengetahuan adalah sifat cognitive yang ada pada diri manusia. Pengetahuan diawali dari proses melihat sampai dengan proses berpikir dalam diri manusia, pengetahuan terkait dengan apa yang diketahui oleh manusia. Pengetahuan dan cakrawalanya memberikan arti terhadap objek psikologinya. Pengetahuan juga merupakan segala sesuatu hal yang diketahui oleh petani tentang suatu inovasi baru (Gibson et al.1988). Sudarta dalam Suryani dan Honorita (2011) menyatakan bahwa dalam akselerasi pembangunan pertanian, pengetahuan petani mempunyai arti penting, karena pengetahuan petani dapat

mempertinggi kemampuannya untuk mengadopsi teknologi baru di bidang pertanian. Jika pengetahuan petani tinggi dan petani bersikap positif terhadap suatu teknologi baru di bidang pertanian, maka penerapan teknologi tersebut akan menjadi lebih sempurna, yang pada akhirnya akan memberikan hasil secara lebih memuaskan baik secara kuantitas maupun kualitas. Menurut Robbins (2000) keterampilan dapat dikategorikan menjadi empat, yaitu: 1) Basic literacy skill

(keahlian dasar) yang merupakan keahlian seseorang yang pasti dan wajib dimiliki oleh kebanyakan orang, seperti membaca, menulis dan mendengar, 2) Technical skill (keahlian teknik) yang merupakan keahlian seseorang dalam pengembangan teknik yang dimiliki, seperti menghitung secara tepat, mengoperasikan computer, 3) Interpersonal skill (keahlian interpersonal) yang merupakan kemampuan seseorang secara efektif untuk berinteraksi dengan orang lain maupun dengan rekan kerja, seperti pendengar yang baik, menyampaikan pendapat secara jelas dan bekerja dalam satu tim, dan 4) Problem solving (menyelesaikan masalah) adalah proses aktivitas untuk menajamkan logika, beragumentasi dan penyelesaian masalah serta kemampuan untuk mengetahui penyebab, mengembangkan alternatif dan menganalisa serta memilih penyelesaian yang baik. Keterampilan merupakan kecakapan atau kemampuan untuk menerapkan suatu inovasi bagaimana petani dapat mengulang segala sesuatu yang dilihatnya melalui kegiatan belajar dengan meniru gerakan, menggunakan konsep untuk melakukan gerakan dengan benar dan melakukan beberapa gerakan dengan benar dan wajar (Nuryanti 2003). Menurut Azwar (2000) bahwa sikap merupakan potensi pendorong yang ada pada individu untuk bereaksi terhadap lingkungan.Sikap tidak selamanya tetap dalam jangka waktu tertentu tetapi dapat berubah karena pengaruh orang lain melalui interaksi sosial. Dalam interaksi sosial, terjadi hubungan saling mempengaruhi diantara individu yang satu dengan yang lain. Individu bereaksi membentuk pola sikap tertentu terhadap berbagai objek psikologis yang dihadapinya.

Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi adalah pendekatan yang ditempuh dalam menerapkan teknologi budidaya padi yang spesifik lokasi (spesifik lokasi ditentukan berdasarkan karakteristik biofisik dan sosial ekonomi) dengan mengintegrasikan berbagai komponen teknologi yang inovatif, dinamis, dan kompatibel untuk dapat memecahkan permasalahan setempat, sehingga timbul efek sinergis. Efek sinergis berarti efek komponen teknologi secara bersama-sama lebih besar dari penjumlahan efek teknologi secara individual. Karena lahan sawah mempunyai tingkat kesesuaian berbeda dan unsur yang menyebabkan perbedaan itu juga tidak sama, maka kombinasi komponen teknologi di satu lokasi dapat berbeda dengan lokasi lainnya (Makarim dan Las 2004).

Pengelolaan Tanaman Terpadu dalam tulisan selanjutnya disingkat PTT merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mewujudkan pencapaian target sukses swasembada berkelanjutan melalui peningkatan produktivitas. PTT merupakan suatu pendekatan holistik bersifat partisipatif yang disesuaikan dengan kondisi spesifik lokasi sehingga bukan merupakan paket teknologi yang harus diterapkan petani di semua lokasi. Tujuan PTT adalah untuk meningkatkan pendapatan petani melalui penerapan teknologi yang cocok untuk kondisi setempat yang dapat meningkatkan produktivitas gabah dan mutu beras serta menjaga kelestarian lingkungan. Menurut Husen (2002), produktivitas

mengandung arti sebagai perbandingan antara hasil yang dicapai (output) dengan keseluruhan sumberdaya yang digunakan (input). Dengan kata lain bahwa produktivitas memiliki dua dimensi. Dimensi pertama adalah efektivitas yang mengarah kepada pencapaian target berkaitan dengan kualitas, kuantitas dan waktu. Dimensi kedua yaitu efisiensi yang berkaitan dengan upaya membandingkan input dengan realisasi penggunaannya atau bagaimana pekerjaan tersebut dilaksanakan.

Pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu (PTT) adalah suatu inovasi dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi usahatani padi melalui perbaikan sistem dan pendekatan dalam perakitan paket teknologi, dinamisasi komponen teknologi padi yang memiliki efek sinergestik yang dilakukan secara partisipatif, dan bersifat dinamis. Metode PTT bersifat spesifik lokasi, sangat tergantung pada faktor biofisik dan keadaan sosial ekonomi masyarakat setempat (Toha 2005). Metode PTT yang dihasilkan oleh lembaga penelitian dan teknologi berdasar kearifan lokal yang sudah terbukti unggul untuk lokasi tertentu, adalah : varietas unggul baru, benih bermutu dan berlabel, pengolahan tanah sesuai musim dan pola tanam, penggunaan bibit muda (umur < 21 hari), bibit ditanam 1-3 batang per rumpun, pengaturan populasi atau tanam dengan system jajar legowo, penyiangan dengan landak/gasrok, pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah, pemberian bahan organik, pengairan berselang, pengendalian OPT dengan pendekatan PHT, panen tepat waktu dan gabah segera dirontok (Puslitbangtan 2009).

Sosialisasi mengenai PTT dilakukan melalui pendekatan sekolah lapang pengelolaan tanaman terpadu dalam tulisan selanjutnya disingkat SL-PTT. SL- PTT berfungsi sebagai tempat belajar pengambilan keputusan para petani atau kelompok tani sekaligus tempat tukar menukar informasi dan pengalaman lapangan, pembinaan manajemen kelompok serta sebagai percontohan bagi kawasan lainnya. SL-PTT merupakan sekolah lapang bagi petani dalam menerapkan berbagai teknologi usahatani melalui penggunaan input produksi yang efisien menurut spesifik lokasi sehingga mampu menghasilkan produktivitas tinggi dalam menunjang peningkatan produksi secara berkelanjutan (Dirjentan 2011). Menurut Moumeni dan Ahmadpour (2013) Sekolah Lapang adalah partisipatif pendekatan yang menggunakan metode pendidikan orang dewasa non- formal berdasarkan teknik pembelajaran eksperimental dan metode pelatihan partisipatif, Oleh karena itu, Sekolah Lapang dianggap sebagai metode yang efektif untuk meningkatkan keterampilan. Pendekatan Sekolah Lapang untuk membangun dan meningkatkan kapasitas petani mengembangkan dan menguji kemungkinan solusi yang memenuhi kebutuhan prioritas mereka, menggabungkan pengetahuan lokal dan ilmiah. Pendekatan Sekolah Lapang menekankan learning by doing. Proses pembelajaran berlangsung di lapangan dan biasanya dirancang untuk bertahan selama siklus tumbuh/tanam. Hal ini memungkinkan petani berpartisipasi penuh dalam pelaksanaan semua komponen teknologi dari tanam sampai panen. Pembelajaran Proses persetujuan petani kesempatan untuk mengamati dan mencerminkan keuntungan dan kerugian dari teknologi dan dengan demikian membuat keputusan apakah mereka akan mengadopsi atau tidak. Hal ini juga sependapat dengan Aphunu dan Ajayi (2010) bahwa pelatihan memberikan tambahan pengetahuan, keterampilan dan sikap sesuai dengan kebutuhan mereka. Pelatihan dilakukan setiap kali seorang individu bergerak di

bidang kegiatan yang menghasilkan kemampuan untuk latihan keterampilan yang tidak dimiliki sebelumnya. Pelatihan ini umumnya melibatkan empat dasar komponen (1) memperoleh pengetahuan tentang keterampilan, (2) mengamati dan menerapkan keterampilan, (3) mencoba keterampilannya (4) mengambil sikap.

Produksi padi Kabupaten Bogor pada tahun 2012 sebesar 594.634 ton GKG meningkat 15,61% dari tahun 2011 sebesar 501.824 ton GKG (Dinas Pertanian Jawa Barat 2012). Keberhasilan pencapaian produksi padi secara tidak langsung merupakan pengaruh nyata dari pelaksanaan kegiatan SL-PTT padi. Kabupaten Bogor mengalokasikan area untuk metode PTT padi seluas 11000 hektar dan sebagai pengembangan produksi padi dan penerapan metode PTT padi salah satunya yaitu di desa Pancawati Caringin Bogor (Dirjentan 2011). Keberhasilan suatu program dipengaruhi pengetahuan, keterampilan, dan sikap aktor/pelaku (petani) di lapangan. Penelitian yang akan dilakukan diharapkan memberikan informasi umpan balik pemahaman petani terhadap metode PTT Padi sebagai upaya peningkatan produktivitas padi.

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, adapun perumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana respon petani terhadap metode PTT Padi untuk meningkatkan produktivitasnya di desa Pancawati Caringin Bogor?

2. Bagaimana pengaruh pengetahuan, keterampilan, sikap terhadap produktivitas padi di desa Pancawati Caringin Bogor?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah:

1. Menganalisis respon petani terhadap metode PTT Padi untuk meningkatkan produktivitasnya di desa Pancawati Caringin Bogor.

2. Menganalisis pengaruh pengetahuan, keterampilan, sikap terhadap produktivitas padi di desa Pancawati Caringin Bogor.

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat bagi :

1. Pemerintah selaku pembuat kebijakan bidang pertanian diharapkan dapat digunakan sebagai masukan sehubungan dengan upaya untuk peningkatan produktivitas padi, dan mendukung suplai beras.

2. Bagi masyarakat (petani) diharapkan dapat digunakan sebagai upaya peningkatan produksi usahatani padinya

3. Bagi mahasiswa dan peneliti diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan penelitian lebih lanjut.

Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini difokuskan pada analisis pengetahuan, keterampilan, sikap terhadap metode Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi dan terhadap produktivtas padi. Penelitian ini terbatas hanya dilakukan di desa Pancawati Caringin Bogor sehingga hasil penelitian ini tidak bisa dianggap sama jika dilakukan di daerah lain, mengingat pola pikir, ekonomi, sosial, budaya serta faktor-faktor lainnya disetiap daerah tidak sama.

2 METODE

Kerangka Pemikiran

PTT padi merupakan suatu metode pendekatan untuk mempertahankan atau meningkatkan produktivitas padi secara berkelanjutan dan efisiensi produksi. PTT menekankan pada prinsip partisipasi yang menempatkan pengalaman, keinginan, dan kemampuan petani pada posisi penting dalam menerapkan suatu teknologi dengan memperhatikan keberagaman lingkungan pertanaman dan kondisi petani (karateristik), sehingga penerapan teknologi di suatu tempat kemungkinan besar berbeda dengan lokasi lainnya. Dalam proses adopsi, petani tidak dapat dengan serta merta mengadopsi suatu inovasi. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan, diantaranya adalah : pengetahuan, keterampilan, dan sikap petani. Respon atau tanggapan individu dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain tingkat kemampuan individu di dalam melihat serta mengindera suatu benda, ataupun suatu objek atau peristiwa dari sudut mana ia melihat masalah itu kemudian ia intepretasikan ke dalam reaksi nyata yang berbentuk respon. Menurut Gibson et al. (1988), respon adalah hasil dari perilaku stimulus yaitu aktivitas dari orang yang bersangkutan, tanpa memandang apakah stimulus tersebut dapat diidentifikasikan atau tidak dapat diamati. Respon akan terkait dengan stimulus, sehingga jika stimulus terjadi maka suatu respon akan mengikuti.

Analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dan analisis structural equation model (SEM). Analisis SEM digunakan untuk menganalisis pengaruh antara variabel eksogen terhadap variabel endogen. Berdasarkan pemaparan tersebut, maka kerangka pemikiran dari penelitian ini adalah seperti yang tersaji pada Gambar 1. Selanjutnya kerangka operasional penelitian seperti tersaji pada Gambar 2.

Gambar 1 Kerangka pemikiran penelitian

Produktivitas Pengetahuan Keterampilan Sikap   

Gambar 2 Kerangka operasional penelitian

Hipotesis

Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka dapat terdapat 3 hipotesis dalam penelitian ini, yaitu :

H1 : Pengetahuan berpengaruh terhadap produktivitas H2 : Keterampilan berpengaruh terhadap produktivitas H3 : Sikap berpengaruh terhadap produktivitas

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini bertempat di desa Pancawati Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor Propinsi Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan pada bulan Nopember 2012 – April 2013.

Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel 1 Populasi

Populasi penelitian ini adalah petani yang tergabung dalam kelompok tani di desa Pancawati Caringin Bogor, yang merupakan salah satu desa yang diarahkan menggunakan Metode PTT dan merupakan salah satu desa yang dijadikan sentra produksi padi dengan jumlah sebanyak 125 orang petani.

2 Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah dengan cara sampling jenuh (sensus), dimana semua anggota populasi dijadikan sebagai sampel. Teknik

Pemenuhan Kebutuhan PERMINTAAN BERAS PTT Padi Respon Petani TERHADAP PTT PADI 1. Pengetahuan 2. Keterampilan 2. Sikap Produktivitas

ini sesuai yang dikemukakan oleh Sugiyono (2007) bahwa sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel, sehingga sampel dalam penelitian ini adalah seluruh populasi yaitu 125 orang petani. Teknik pengambilan sampel ini dipakai dengan tujuan agar dapat memperoleh informasi yang lebih lengkap tentang kondisi sebenarnya.

Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara dengan menggunakan instrumen kuesioner yaitu seperangkat pertanyaan yang disusun untuk diajukan kepada responden. Kuesioner ini dimaksudkan untuk memperoleh informasi secara tertulis dari responden berkaitan dengan tujuan penelitian.

Teknik Pengolahan Data

Untuk memudahkan proses pengolahan data, maka pendapat responden tersebut diberi skala. Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini adalah mempergunakan skala Likert, yaitu:

Sangat Tidak Setuju (STS) = 1

Tidak Setuju (TS) = 2

Netral (N) = 3

Setuju (S) = 4

Sangat Setuju (SS) = 5

Teknik Analisis Data

Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dan analisis SEM (Structural Equation Model) dengan menggunakan program PLS untuk penolakan atau penerimaan hipotesis, digunakan taraf signifikan 5 persen.

1 Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif dilakukan dengan menabulasi hasil kuesioner secara manual dengan program excel dan SPSS (Statistical Program for Social Science)versi 21.0, yang bertujuan untuk mengetahui karakteristik responden. Analisis deskriptif juga dilakukan untuk mengetahui respon petani terhadap metode pengelolaan tanaman terpadu (PTT) padi untuk meningkatkan produktivitasnya di Desa Pancawati Caringin Bogor.

2 Analisis SEM PLS

Analisis Structural Equation Modelling (SEM) dengan pendekatan part least square (PLS) digunakan untuk menganalisis pengaruh pengetahuan, keterampilan dan sikap terhadap produktivitas padi di desa Pancawati Caringin Bogor. Hasil analisis ini akan menunjukkan pengaruh variabel eksogen terhadap endogen berikut dengan besaran koefisien pengaruh.

PLS pertama kali dikembangkan oleh Wold dalam Ghozali (2008) sebagai metode umum untuk mengestimasi path model yang menggunakan konstruk laten dengan multiple indikator. PLS merupakan metode analisis yang powerful karena dapat diterapkan pada semua jenis skala data (distribution free) dimana tidak mengasumsikan data berdistribusi tertentu sehingga data dapat berupa nominal,

kategori, ordinal, interval dan rasio. Disamping itu, pendekatan SEM dengan PLS juga tidak membutuhkan banyak asumsi dan ukuran sampel yang dibutuhkan juga tidak harus besar. Selain dapat digunakan sebagai konfirmasi teori, PLS juga dapat digunakan untuk membangun hubungan yang belum ada landasan teorinya (Ghozali, 2008).

PLS adalah model persamaan Structural Equation Model (SEM) yaitu suatu teknik modeling statistika yang merupakan kombinasi dari analisis principal component, analisis regresi dan analisis path (Yamin 2011).

Ferdinand (2006) menyatakan beberapa alasan penggunaan program SEM sebagai alat analisis adalah bahwa SEM sesuai digunakan untuk :

a. Mengkonfirmasi undimensionalisasi dari berbagai indikator untuk sebuah konstruk/konsep/faktor.

b. Menguji kesesuaian atau ketepatan sebuah model berdasarkan data empiris yang diteliti.

c. Menguji kesesuaian model sekaligus hubungan kausalitas antar faktor yang dibangun atau diamati dalam model penelitian.

Model SEM, Konstruk laten berdasarkan fungsinya dibagi menjadi dua, yaitu: variabel eksogen dan variabel endogen. Variabel eksogen adalah suatu variabel yang tidak dapat dipengaruhi oleh variabel lain (atau disebut variabel independen didalam model regresi). Sedangkan variabel endogen adalah variabel yang dapat dipengaruhi variabel lain. Dalam model SEM, variabel endogen dapat berperan menjadi variabel independen apabila variabel tersebut dapat mempengaruhi variabel lain (Ghozali dan Fuad 2005).

Secara teknis SEM dibagi dalam 2 (dua) kelompok yaitu SEM berbasis kovarian yang diwakili oleh LISREL dan SEM variance atau sering disebut

Component Based SEM yang mempergunakan software SmartPLS dan PLS Graph. Covariance Based SEM lebih bertujuan memberikan pernyataan tentang hubungan kausalitas atau memberikan deskripsi mekanisme hubungan kausalitas (sebab – akibat). Sedangkan Component Based SEM dengan PLS bertujuan mencari hubungan linear prediktif antar variabel (Ghozali 2008). Pada Tabel 1, menunjukkan perbedaan Covariance Based SEM (LISREL) dengan Component Based SEM PLS.

Tabel 1 Perbedaan Covariance Based SEM (LISREL) dengan Component Based SEM (PLS)

No Kriteria PLS LISREL

1 Tujuan Berorientasi prediksi Berorientasi pendugaan parameter

2 Pendekatan Berbasis varian (Ragam) Berbasis Covarian (peragam)

3 Hubungan antara peubah laten dan manifest/Indikator

Formatif atau reflektif Reflektif

4 Peubah Laten Setiap peubah laten merupakan

kombinasi linear dari peubah

manifest/indicator

Peubah laten diduga oleh seluruh peubah

manifest/indicator

5 Kompleksitas model

Sampai kompleksitas besar 100 laten atau 1000 manifest

Sampai kompleksitas sedang (kurang dari 100 laten)

Lanjutan Tabel 1

No Kriteria PLS LISREL

6 Ukuran contoh Rekomendasi sekitar 30 - 100 Rekomendasi sekitar 300 – 800

7 Persyaratan teori Fleksibel, bebas sebaran Asumsi kuat, sebaran normal

8 Perlakuan missing data

Algoritma NIPALS Model kemungkinan maksimum

9 Identifikasi Dalam model rekursif selalu teridentifikasi

Bergantung kepada model idealnya, lebih dari 4 manifest per laten untuk over determinasi, 3 untuk identifikasi yang sesuai Sumber : Ghozali (2008) Model Spesifik dengan PLS

Model analisis jalur semua variabel laten dalam PLS terdiri dari tiga set hubungan : (1) inner model yang menspesifikasi hubungan antar variabel laten (structural model), (2) Outer Model yang menspesifikasi hubungan antara variabel laten dengan indikator atau variabel manifestnya (measurement model), dan (3) Weight realtion dalam mana nilai kasus dari variabel laten dapat diestimasi. Tanpa kehilangan generalisasi, dapat diasumsikan bahwa variabel laten dan indikator atau manifest variabel diskala zero means dan unit variance(nilai standardized) Sehingga parameter lokasi (parameter konstanta) dapat dihilangkan dalam model (Ghozali 2008).

1 Inner Model

Inner Model yang kadang disebut juga dengan (inner relation, structural model dan substantive theory) menggambarkan hubungan antar variabel laten ini :

1 dimana :

vektor variabel laten endogenous vektor variabel laten eksogenous

vektor variabel residual (unexpalined variance)

Oleh karena PLS didesain untuk model recursive, maka hubungan antar variabel laten, setiap variabel laten dependen , atau sering disebut causal chain system dari variabel laten dapat dispeksifikasikan sebagai berikut :

j∑i jii∑i jb b j ……… (2) Dimana :

ji dan jb adalah koefisien jalur yang menghubungkan predictor endogenous dan variabel laten eksogenous  dan sepanjang range indeks i dan b, dan j adalah inner residual variable.

2 Outer Model

Outer model sering juga disebut (outer relation atau measurement model) mendefinisikan bagaimana setiap blok indikator berhubungan dengan variabel

latennya. Blok dengan indikator reflektif dapat ditulis persamaannnya sebagai berikut:

x = x +x

y = y +y ……… (3)

Dimana :

x dan y adalah indikator atau manifest variabel untuk variabel laten eksogenous

dan endogenous  dan sedangkan x dan y merupakan matrik loading yang menggambarkan koefisien regresi sederhana yang menghubungkan variabel laten dengan indikatornya. Residual yang diukur dengan x dan y dapat diinterpretasikan sebagai kesalahan pengukuran atau noise.

3 Weight Relation

Inner dan Outer model memberikan spesifikasi yang diikuti dalam estimasi algoritma PLS, memerlukan definisi weight relation. Nilai kasus untuk setiap variabel laten diestimasi dalam PLS sebagai berikut :

b = ∑kb Wkb Xkb

i= ∑ki Wki Yki………... (4) Dimana wkb dan wki adalah k weight yang digunakan untuk membentuk estimasi variabel laten b dan i. Estimasi variabel laten adalah linier agregat dari indikator yang nilai weightnya didapat dengan prosedur estimasi PLS seperti dispesifikasi oleh inner dan outer model dimana  adalah vector variabel laten endogen (dependen) dan  adalah vector variabel laten eksogen (independen),  merupakan vector residual dan  serta  adalah matrik koefisien jalur (path coefficient).

4 Model Pengukuran atau Outer Model

Covergent validity dari model pengukuran dengan model reflektif indikator dinilai berdasarkan korelasi antara item skor/komponen skor dengan konstruk skor yang dihitung dengan PLS. Ukuran reflektif dikatakan tinggi jika berkorelasi lebih dari 0.7 dengan konstruk yang ingin diukur. Namun demikian untuk penelitian tahap awal dari pengembangan skala pengukuran nilai loading 0.5 sampai 0.6 dianggap cukup Chin, 1998 (dalam Ghozali, 2008). Discriminant validity dari model pengukuran dengan reflektif indikator dinilai berdasarkan

cross loading pengukuran dengan konstruk. Jika korelasi konstruk dengan item pengukuran lebih besar daripada ukuran konstruk lainnya, maka akan menunjukkan bahwa konstruk laten memprediksi ukuran pada blok yang lebih baik daripada ukuran blok lainnya. Metode lain untuk menilai discriminant validity adalah membandingkan nilai akar square root of Average Variance Extracted (AVE) setiap konstruk dengan korelasi antara konstruk lainnya dalam model. Jika nilai akar AVE setiap konstruk lebih besar daripada nilai korelasi antar konstruk dengan konstruk lainnya dalam model, maka dikatakan memiliki

Dokumen terkait