• Tidak ada hasil yang ditemukan

Selain bertemu dengan Chinese Consul-General, Ong Gwan Seng juga betjumpa dengan Ki Agm Abdulrahman, salah seorang

A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri lebih dari 13.000 pulau besar dan kecil. Berkenaan dengan situasi kependudukan dalam hal perpindahan yang cukup berart� empat pulau besar yaitu Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi mempunyai peranan yang sangat penting. Sensus penduduk lndooesia pada tahun 1980-an, didapatkan keadaan sebagai berikut. Seluruh penduduk Pulau Sumatera yang betjumlah lebih dari 28 juta ocang, lebih dari 2,9 juta lahir di pulau Jawa dan penduduk Jawa yang 91, 3 juta, hanya 718.500 orang lahir di Sumatera. 3 Kondisi ini merupakan perpindahan penduduk paling besar yang pemah tetjadi di Indonesia.

Kenyataannya, migrasi yang dilakukan orang-orang J awa di Sumatera lebih banyak dilakukan melalui program transmigrasi yang diprakarsai oleh Pemerintah. Hal ini dimungkinkan karena Indonesia mempunyai Departemen Transmigrasi, suatu badan tingkat tinggi yang mendorong redistribusi penduduk di dalam negeri. Departemen ini merupakan kebutuhan bagi negara Republik Indonesia yang berpenduduk tidak merata. Wilayah negara yang berpenduduk sangat padat adalah Jawa, Madura dan Bali. Daerah yang sangat jarang penduduknya seperti Sumatera menjadi tujuan pemerintah untuk melaksanakan program transmigrasi.4

Transmigrasi merupakan salah satu kebijakan pemerintah di bidang kependudukan yang bertujuan untuk meratakan penyebaran penduduk ke seluruh wilayah dengan sasaran utama ke daerah di luar Jawa yaitu kepulau Sumatera. Transmigrasi sebagai pemindahan

1 A rtikel ini merupakan gagas ulang dari Lap oran Peneli tian yang dilaksanakan pada tahtm. 20 II.

2 Peneliti Madya Pada BPS NT Ma dang

3 R.H. Pardoko, Mobilitas Migrasi dan Urbanisasi, (Bandtm.g : Angkasa, 1987), hal. 7.

penduduk maka dalam pemindahan tersebut masyarakat yang pindah dalam hal ini masyarakat Jawa secara otomatis juga membawa budaya dan adat istiadat dari daerah asalnya. Ketimpangan yang terjadi di bidang ekonomi adalah faktor utama terjadinya transmigrasi untuk memperbaiki nasib yaqng menghimpit sebagai akibat adanya tekanan

ekonomi5.

Berhasilnya transmigrasi membuka peluang yang lebih p1sti untuk memecahkan masalah pangan dan lapangan kerja yang makin lama makin menyita perhatian Pemerintah. Selain itu, mutlak perlu pemecahan masalah kependudukan . dan mendukung pemerataan penduduk Indonesia dalam menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa serta mengembangkan kebudayaan nasional yang beragam. 6

Dalam menyediakan laban pemukiman bagi para migran dibutuhkan kerja sama yang baik antar Departemen terkait, diantaranya yaitu Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Dalam Negeri dan Departemen Pertanian.7 Adapun yang menjadi landasan kerja sama berbagai departemen dalam kegiatan transmigrasi ini adalah Keputusan Presiden RI Nomor 26 Tahun 1978 mengenai Badan Koordinasi Penyelenggaraan

Transmigrasi (BAKORTRANS) dan Instruksi Presiden RI Nomor 1 Tahun 1976 yaitu tentang sinkronisasi Pelaksanaan Tugas Keagrariaan dengan Bidang Kehutanan, Pertambangan, Transmigrasi dan Pekerjaan Umum.8

Tujuan transmigrasi yang dilaksanakan oleh Pemerintah bertitik tolak pada pembangunan sektor ekonomi dengan penekanan pembangunan bidang pertanian guna meningkatkan taraf hidup masyarakat transmigran dan masyarakat sekitarnya. Pematian Pemerintah ditujukan pada tiga masalah pokok,. yaitu kependudukan, pangan dan laplllgan pekerjaan. Melalui program transmigrasi, ketiga masalah pokok di atas dapat diatasi dengan mencetak sawah-sawah bam di daerah permukiman transmigrasi.9

5 RH. Parrloko, Ibid., hal. I5 .

6 Mursito N daru Sunarto, "Prospek Transmigrasi Meiancarkan P embangunan Pedesaan", Analisa, Nopember No. II Tahun XI, I982), hal. 60. Lihat juga ls rnah Afwan, Sri Surnami, Kustadi, Kerja Sarna Antar Departemen/Lembaga Dalam Penyelen

9

garaan Transmigrasi, (Jakarta: Raja Grafindo, I995), hal. I75.

Kustadi, Masalah Pertanahan di Daerah Permukiman Transmigrasi, (Jakarta: Raja Grafindo, I9 95), hal. 55.

8 Ibid, hal. 56.

9 Indriati Eko Purwaningsih, Masalah Produksi dan Pemasaran Hasil Komoditi Pertanian di Daerah Transmigrasi, (Jakarta: Rl!ia Grafindo Per sada, 1995),

Satu daerah yang menjadi tujuan program transmigrasi di Sumatera adalah Desa Tugumulyo, Kecamatan Lempuing, Kabupatren Ogan Komering llir (OKI), Provinsi Sumatera Selatan. Sebenarnya perpindahan penduduk dari Jawa ke Sumatcra sudah berlangsung s�ak zaman Belanda, yaitu ketika Pemcrintah Kolonial · Belanda membuka beberapa jenis petkebunan di Sumatcra Timur, Aceh Timur, Sumatera Selatan dan Lampung. Kekurangan tenaga buruh petkebunan, oleh Pemerintah Belanda didatangkan dari J awa yang tetkenal sebagai pekerja kuli yang rajin dan ulet dengan upah yang murah. Program transmigrasi yang dilaksanakan pada masa Kolonial Belanda dapat beijalan dengan baik dengan memanfaatkan Undang-Undang Agraria, yang kemudian melahitkan Politik Pintu Terbuka dan Politik Etis yang diprogramkan melipJti pendidikan, irigasi dan transmigrasi. Salah satu alasan yang dipakai adalah melalui pemerataan penduduk J awa yang dinilai sangat padat untuk dipindahkan ke luar Jawa, terutama Sumatera. Pelaksanaan transmigrasi oleh Pemerintah Kolonial tersebut dimaksudkan untuk mengurangi kepadatan penduduk Jawa ke Pulau Sumatera yang sangat jarang penduduknya, yang pada kenyataannya justru hanya sebagai kedok untuk memenuhi tenaga kerja petkebunan yang murah di Sumatera. 10

Pada zaman kemerdekaan, Pemerintah Indonesia juga melakukan program transmigra<ii dari daerah yang padat ke daerah yang kosong untuk membuka lahan pertanian bam. Penduduk yang besar jumlahnya tinggal di wilayah yang luasnya hanya 7 persen dari seluruh kepulauan Indonesia. Aklbatnya, Jawa berpenduduk sangat padat, rata­ rata seorang petani menggarap tanah seluas 0, 2 hektar. Jumlah ini kurang dari luas minimum yang dibutuhkan untuk hidup seorang petani beserta keluarganya.11

Perlu dicarikan jalan keluar untuk mengatasi kondisi kepadatan penduduk J awa. Salah satu cara untuk mengatasinya yaitu melaksanakan p-ogram transmigra<;i. Jika di sebuah pulau penduduknya sangat padat, dan di pulau lainnya sangat jarang penduduknya atau malah banyak yang kosong, maka jalan keluamya adalah melaksanakan program transmigrasi. Bagi mereka yang tidak mempunyai tanah pertanian atau lahanynya terlalu kecil sehingga tidak mencukupi kebutuhan hidupnya, dapat ikut program transmigrasi yang dibiayai oleh Pemerintah. Mereka dapat membuka lahan pertanian bam dengan menerima sekitar 2 hektar tanah pertanian untuk ditanami tanaman

10 Mestika Zed, ''Eko nomi Dualistis Palembang pada Peri ode Kolonial akhir", dalam Fondasi Historis Ekonomi Indonesia, (Yogyakarta : Pusat Studi Sosial Asia Tenggara UG M-Pustaka Pelajar, 2002), hal. 298.

pangan atau perkebman. Program transmigasi yang dilaksanakan oleh Pemerintah di Kabupaten Ogan Komering llir (OKI) Provinsi Smnatera Selatan sangat menarik untuk diteliti karena sampai saat ini masih banyak persoalan, hambatan dan tantangan yang menyebabkan tedadinya kegagalan transmigrasi di beberapa daerah, khususnya di Desa Tugumulyo Kecamatan Lempuing. Kenyatannya, di beberapa daerah di Kabupaten Ogan Komering llir (OKI), hambatan dan masalah tersebut sering terjadi.

Ka yu Agung merupakan ibukota Kabupaten Ogan Komering llir (OK.I) yang meliputi 12 kecamatan antara lain Kecamatan Kayu Agung, Kecamatan Padamaran, Kecamatan Tanjmg Lubuk, Kecamatan SP Padang, Kecamatan Jejawi, Kecamatan Air Sugihan, Kecamatan Pampangan, Kecamatan Tulung Selapan, Kecamatan Sungai Menang dan Kecamatan Lempuing. Kecamatan Lempuing pada awalnya masuk dalam wilayah kekua<iaan Kabupaten Ogan Komering U1u (OKU). Setelah dilihat kembali letak wilayahnya, Kecamatan Lempuing lebih dekat letaknya dengan Kabupaten Ogan Komering llir (OKI), maka pada tanggal 20 Oktober 1980 Kecamatan Lempuing ini beralih kekuasaan dari Kabupaten OKU ke Kabupaten OK.I. 1 arak an tara Kecamatan Lempuing dengan Kabupaten OK.I (Kayu Agung) sekitar 69 km. Lempuing ini teniiri dari 23 desa, antara lain Desa Lubuk Seberuk, Desa Muara Bema� Desa Jae, Desa Tugu Jaya, Des a Tugu Agmg, Desa Kepayan, Desa Bumi Agung, Desa Sidang Sari, Desa Tulung Harapan, Desa Tugumulyo dan desa-desa lainnya.12

Des a Tugumulyo merupakan salah satu daerah transmigrasi yang berhasil dalam bidang pertanian dibandingkan dengan desa transmigrasi lairmya yang ada di Kecamatan Lempuing. Sebelmn dibuk:a menjadi daerah transmigras� Tugumulyo merupakan daerah kawasan hutan yang dihuni oleh binatang-binatang buas. Setelah daerah ini dibuka sebagai daerah transmigrasi lokal, lambat laun menjadi suatu tempat pemuk:iman yang sangat ramai. 13

Tugumulyo baru dibuka pada tahm 1970 dan mempunyai luas wilayah 12.500 hektar. T ransmigrasi yang ada di Desa Tugumulyo ini tennasuk dalam jenis transmigrasi lokal. Transmigrasi lokal merupakan perpindahan penduduk yang tedadi dalam suatu daerah tertentu dari suatu daerah setempat lainnya. Jumlah penduduk yang ada di Tugmnulyo adalah 9.971 jiwa yang terdiri darti 4.051 jiwa laki-laki, 5 .920 jiwa perempuan dan 3.285 kepala keluarga yang mempunyai

12 Monografi Kecamatan Lempuing Tahurr 2010.

13 Wawancara dengan H. Supamo, Kepala Desa Tug umulyo di Tugumulyo l pada tanggal 13 September 2011.

kepadatan penduduk

80

orang perkm. Desa Tugumulyo ini dikepalai

oleh seorang kepala desa dan dibantu oleh staf desa lainnya. Pusat

Pemerintahan Kecamatan Lempuing berada di kota

Kayu

Agung yang

merupakan ibukota Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).14

Para transrnigran yang datang ke daerah Tugumulyo adalah dari