• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEMESTER II TAHUN AJARAN 2018/2019

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi dan mempunyai peran yang sangat penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Pola pikir matematika juga akan membentuk pola pikir manusia misalnya disiplin diri, berpikir secara logis, kritis, cermat, efesien, sistematis dan konsisten. Karena salah satu alat yang dapat melatih ketelitian, kecermatan, dan ketepatan kerja adalah matematika.

Matematika menjadi mata pelajaran yang diberikan kepada semua jenjang pendidikan dimulai dari sekolah dasar untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir secara logis, kritis, cermat, analitis, efesien, kreatif, sistematis dan konsisten, serta kemampuan bekerjasama. Hal ini karena matematika sebagai sumber ilmu lain, yang berarti bahwa banyak ilmu yang penemuan dan pengembangannya melibatkan matematika, sehingga mata pelajaran matematika sangat bermanfaat bagi peserta didik sebagai ilmu dasar untuk penerapan di bidang lain.

Mengingat peranan matematika yang sangat besar maka seorang pendidik terutama guru matematika harus

159

mampu memilih strategi yang tepat dalam mengajar, sehingga siswa mampu menguasai materi sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Seorang guru harus bisa mengidentifikasi atau memilih model pembelajaran yang tepat bagi siswanya. Hal tersebut berpengaruh pada proses pembelajaran di dalam kelas. Proses pembelajaran yang menyenangkan dan mengajak minat siswa untuk aktif dapat memberikan hasil belajar yang maksimal.

Pentingnya peran matematika ini tidak didukung dengan fakta yang terjadi. Matematika menjadi mata pelajaran yang diajarkan sedini mungkin bahkan sudah diajarkan mulai dari tingkat sekolah dasar. Diajarkan sedini mungkin tidak menjamin hasil belajar mateamtika yang baik, hal ini didukung dengan fakta bahwa secara nasional hasil ujian matematika (UN) mulai tingkat SD sampai SMA masih jauh dari standar yang diharapkan. Selain itu, mata pelajaran matematika sudah menjadi ketakutan tersendiri bagi siswa. Tingkat kesusahan dari pembelajaran matekatika menjadi pemicu tidak tertatik dan takutnya siswa akan mata pelajaran matematika, sehingga sangat-sangat penting bagi guru untuk menciptakan suasana belajar matematika yang menyenangkan dan menarik bagi siswa.

160

Fakta rendahnya hasil belajar matematika siswa juga terjadi pada siswa kelas VII B, dimana dari 38 siswa terdapat 18 orang siswa yang memperoleh nilai rendah dan berada dibawah nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Hasil refleksi peneliti diperoleh informasi bahwa pembelajaran matematika yang dilakukan tidak menggunakan model atau metode pembelajaran yang menarik dan sesuai dengan materi yang diajarkan. Afandi dkk (2013) menjelaskan bahwa model pembelajaran merupakan prosedur atau pola sistematis yang digunakan sebagai pedoman untuk mencapai tujuan pembelajaran didalamnya terdapat strategi, teknik, metode, bahan, media dan alat penilaian pembelajaran. Sedangkan metode pembelajaran adalah cara atau tahapan yang digunakan dalam interaksi antara peserta didik dan pendidik untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sesuai dengan materi dan mekanisme metode pembelajaran.

Melihat kenyataan yang terjadi pada kelas VII B SMP Negeri 4 Wewewa Timur dimana dari 38 siswa hanya 20 orang siswa yang mencapai nilai KKM yaitu 76 dan hanya 2 orang siswa yang memperoleh nilai diatas 80. Hal ini disebabkan adanya kecenderungan siswa untuk malas bertanya meskipun masih belum memahami materi yang

161

diajarkan akibatnya guru juga mengalami kesulitan untuk menentukan model pembelajaran yang tepat sehingga guru lebih sering menggunakan model pembelajaran lansung dimana semua pembelajaran dikelas didominasi oleh guru yang berakibat pada rendahnya hasil belajar atau nilai akhir siswa.

Hasil refleksi mendalam yang dialkukan oleh peneliti, ditemukan penyebab rendahnya hasil belajar matematika siswa kelas VII B yaitu tingginya tingkat kejenuhan dan rendahnya minat siswa terhadap pembelajaran matematika yang disebabkan oleh penggunaan model pembelajaran yang monoton dan tidak menarik bagi siswa sehingga menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa. Oleh karena itu, peneliti berusaha mennguba pembelajaran yang selama ini dilakukan dengan menciptakan pembelajaran yang lebih menarik dan meminimalisisr tingkat kejenuhan siswa selama pembelajaran matematikan dengan mencoba menggunakan model pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif (cooperative learning) tipe Numbered Head Together

(NHT) yang melibatkan kerjasama antara siswa.

Cooperative learning merupakan model pembelajaran

162

dengan teman sebaya dan didampingi guru. Proses belajar-mengajar dalam model pembelajaran ini tidak lagi didominasi oleh guru, tetapi siswa dituntut untuk berbagi informasi dan saling belajar mengajar dengan siswa yang lainnya.

Numbered Head Together (NHT) atau penomoran

berfikir bersama adalah merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional (Afandi dkk, 2013: 65). Numbered Head

Together (NHT) memberi kesempatan kepada siswa untuk

saling berbagi ide serta mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. NHT juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerjasama mereka (Lie, 2002: 59). Sehingga dapat disimpulkan bahwa NHT merupakan suatu model pembelajaran yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi antara siswa untuk memperoleh pemahaman yang tepat dengan melibatkan kerjasama antara siswa. Berdasarkan kesimpulan tersebut, NHT dianggap sangat cocok digunakan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VII B SMP Negeri 4 Wewewa Timur.

Berdasarkan penjelasan diatas, maka peneliti melakukan penelitian yang berjudul “Peningkatan Hasil

163

Belajar Matematika Siswa Kelas VII B SMP Negeri 4 Wewewa Timur Menggunakan Model Pembelajaran

Numbered Head Together (NHT) Semester II Tahun Ajaran

2018/2019”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:

1. Bagaimana peningkatan hasil belajar matematika siswa kelas VII B SMP Negeri 4 Wewewa Timur menggunakan model pembelajaran Numbered Head

Together (NHT)?

2. Bagaimana respon siswa kelas VII B SMP Negeri 4 Wewewa Timur terhadap pembelajaran menggunakan model pembelajaran Numbered Head Together (NHT)?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini yaitu sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar matematika siswa kelas VII B SMP Negeri 4 Wewewa Timur menggunakan model pembelajaran Numbered

164

2. Untuk mengetahui respon siswa kelas VII B SMP Negeri 4 Wewewa Timur terhadap pembelajaran menggunakan model pembelajaran Numbered Head

Together (NHT).

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil peneltian ini diharapkan dapat bermanfaat begi beberapa pihak sebagai berikut:

1. Bagi Peneliti

a. Menambah wawasan peneliti tentang model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) yang dapat diterapkan dalam pembelajaran matematika. b. Menambah pengalaman yang dapat dikembangkan

dalam pembelajaran untuk materi lain bila memungkinkan.

2. Bagi Siswa

a. Dapat mengembangkan potensinya dengan terlibat aktif dalam proses pembelajaran.

b. Dapat meningkatkan kemampuan dan respon belajar siswa dalam mencapai hasil belajar yang optimal

165 3. Bagi Guru

Menjadi pedoman guru dalam melakukan pembelajaran menggunakan model pembelajaran

Numbered Head Together (NHT).

4. Bagi Sekolah

Sebagai bahan masukan dalam melakukan pembelajaran menggunakan model pembelajaran

Numbered Head Together (NHT) sebagai upaya dalam

meningkatkan kemampuan dan respon belajar siswa untuk mencapai hasil belajar yang optimal.

166 BAB II

Dokumen terkait