• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendahuluan

Dalam dokumen Makalah-katarak (Halaman 31-84)

LAPORAN PENDAHULUAN

Lampiran 1 Teori dan Analisis Kasus

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Katarak adalah kekeruhan pada lensa mata yang menyebabkan gangguan penglihatan. Hal ini terjadi akibat adanya kerusakan pada lensa mata sehingga daya penglihatan mata berkurang (Djing, 2006). Menurut data WHO dalam Prastiyanto (2011) terdapat 50 juta kebutaan di dunia akibat katarak dan yang paling banyak adalah mereka yang tinggal di negara berkembang beresiko 10 kali lipat mengalami kebutaan akibat katarak dibandingkan penduduk negara maju.

Indonesia sampai sekarang masih tercatat sebagai negara tertinggi jumlah penderita kataraknya di tingkat Asia Tenggara, mencapai 1,5% atau 2 juta jiwa (Firmansyah, 2015). Sebagai perbandingan di Bangladesh memegang angka 1%, di India 0,7% dan Thailand 0,3% (Manafe, 2013). Prevalensi penduduk dengan katarak di provinsi Jawa Timur masih dominasi dari daerah Madura dan Tapal Kuda seperti, Sampang, Bangkalan, Pamekasan, Pasuruan, Situbondo, dan Jember (Ardiantofani, 2014).

Banyak faktor dikaitkan dengan terjadinya katarak antara lain umur, jenis kelamin, penyakit diabetes melitus (DM), pajanan terhadap sinar ultraviolet (sinar matahari), merokok, tingkat sosial ekonomi, tingkat pendidikan, paparan asap, riwayat penyakit katarak, dan pekerjaan (Anas. Tamsuri, 2011).

B. Rumusan Masalah

Dari pemaparan dan uraian latar belakang masalah di atas, agar dalam Asuhan Keperawatan ini lebih terarah pembahasannya dan mendapatkan gambaran secara komprehensif. Maka sangat penting untuk dirumuskan pokok permasalahannya, yakni:

1. Apa definisi dari Katarak ?

2. Bagaimana anatomi fisiologi dari Katarak ? 3. Apa etiologi dari Katarak ?

4. Bagaimana patofisiologi dari Katarak ? 5. Apa manifestasi klinis dari Katarak ? 6. Apa komplikasi dari Katarak ?

7. Bagaimana pemeriksaan penunjang dari Katarak ? 8. Bagaimana penatalaksanaan dari Katarak ?

9. Bagaimana konsep asuhan keperawatan dari Katarak ?

C. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum

Adapun tujuan umum dari penulisan ini adalah agar perawat atau masyarakat atau klien mampu menerapkan asuhan keperawatan secara komprehensif.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui definisi dari Katarak b. Untuk mengetahui fisiologi dari Katarak c. Untuk mengetahui etiologi dari Katarak d. Untuk mengetahui patofisiologi dari Katarak e. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari Katarak f. Untuk mengetahui komplikasi dari Katarak

g. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang dari Katarak h. Untuk mengetahui penatalaksanaan dari Katarak

i. Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan dari Katarak

D. Manfaat Penulisan

Adapun manfaat yang ingin diperoleh dari Asuhan Keperawatan ini adalah:

1. Bagi Masyarakat atau Klien

Memberikan informasi dan bahasan ilmiah tentang Asuhan Keperawatan Katarak.

2. Bagi Penulis

Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan seseorang dalam mempelajari, mengidentifikasi, dan mengembangkan teori yang telah disampaikan mengenai kasus yang berkaitan dengan Asuhan Keperawatan Katarak.

3. Bagi STIKes Mahardika

Dapat dijadikan sumber referensi atau bahan perbandingan bagi kegiatan yang ada kaitannya dengan penyakit katarak, khususnya yang berkaitan dengan Asuhan Keperawatan Katarak.

BAB II TINJAUAN TEORI

A. Definisi

Katarak adalah penurunan progresif kejernihan lensa. Lensa menjadi keruh atau berwarna putih, abu-abu, dan ketajaman penglihatan berkurang. Katarak terjadi apabila protein pada lensa yang secara normal, transparan terurai dan mengalami koagulasi pada lensa (Corwin. Elizabeth J, 2009). Katarak merupakan keadaan dimana pada lensa mata atau kapsula lentis terjadi kekeruhan (opasitas) yang berangsur-angsur (Kowalak, 2011).

Katarak berasal dari bahasa yunani “kataarrhakies” yang berarti air terjun. Dalam bahasa Indonesia, katarak disebut bular, yaitu penglihatan seperti tertutup air terjun akibat lensa yang keruh. Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau akibat keduanya (Anas Tamsuri, 2011).

Dari beberapa pendapat para ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa katarak merupakan penurunan ketajaman penglihatan dengan terjadinya lensa menjadi keruh yang diakibatkan oleh hidrasi (penambahan cairan) lensa.

B. Anatomi Fisiologi

Mata merupakan organ untuk penglihatan dan sangat sensitive terhadap cahaya karena terdapat photoreceptor. Influs saraf dari stimulasi photoreceptor dibawa ke otak pada lobus occipital di serebrum dimana sensasi penglihatan diubah menjadi persepsi. Reseptor penglihatan dapat memproses satu juta stimulus yang berbeda setiap detik (Tarwoto, 2009). 1. Struktur Mata

Bola mata berada diruangan cekung pada tulang tengkorak yang disebut orbit. Orbit tersusun oleh 7 tulang tengkorak yaitu tulang frontalis, lakrimalis, etmoidalis, zigomatikum, maksila, sphenoid dan

palatin yang berfungsi mendukung, menyanggah dan melindungi mata. Pada orbit terdapat dua lubang yaitu foramen optic untuk lintasan saraf optic dan arteri optalmik dan fisura bagian mata terdiri dari:

a. Sklera

Sklera merupakan jaringan ikat fibrosa yang kuat berwarna putih buram dan tidak tembus cahaya, kecuali dibagian depan yang transparan yang disebut kornea. Sklera memberi bentuk pada bola mata dan memberikan tempat melekatnya otot ekstrinsik.

b. Kornea

Kornea merupakan jendela mata, unik karena bentuknya transparan, terletak pada bagian depan mata berhubungan dengan sklera. Bagian ini merupakan tempat masuknya cahaya dan memfokuskan berkas cahaya. Kornea tersusun atas lima lapisan yaitu epithelium, membrane bowman stroma, membrane descemet dan endothelium.

c. Lapisan koroid

Lapisan koroid berwarna coklat kehitaman dan merupakan lapisan yang berpigmen, mengandung banyak pembuluh darah untuk member nutrisi dan oksigen pada retina. Warna gelap pada koroid berfungsi untuk mencegah refleksi atau pemantulan sinar. Pada bagian depan koroid membentuk korpus siliaris yang berlanjut membentuk iris.

d. Iris

Iris merupakan perpanjangan dari korpus siliaris ke enterior. Iris tidak tembus pandang dan berpigmen, berfungsi mengendalikan banyaknya cahaya yang masuk kedalam mata dengan cara merubah ukuran pupil. Ukuran pupil dapat berubah karena mengandung serat-serat otot sirkuler yang mampu

menciutkan pupil dan serat-serat radikal yang menyebabkan pelebaran pupil.

e. Lensa

Lensa mempunyai struktur bikonfeks,tidak mempunyai pembuluh darah, transparan dan tidak berwarna. Kapsul lensa merupakan membrane seni semipermiabel, tebalnya sekitar 4 mm dan diameternya 9 mm. lensa berada dibelakang iris dan ditahan oleh ligamentum yang disebut zonula. Adanya ikatan lensa dengan ligamentum ini menyebabkan dua rongga bola mata yaitu bagian depan lensa dan bagian belakang lensa. Ruangan bagian depan lensa berisi cairan yang disebut aqueous humor, cairan ini diproduksi oleh korpus siliaris dan ruangan pada bagian belakang lensa berisi cairan vitreous humor. Kedua cairan tersebut berfungsi menjaga lensa tetap pada tempatnya dan dalam bentuk yang sesuai serta memberikan makanan pada kornea dan lensa. Lensa tersusun dari 65% air dan sekitar 35% protein dan sedikit mineral, terutama kalium. Lensa berfungsi untuk memfokuskan cahaya yang masuk kedepan retina melalui mekanisme akomodasi yaitu proses penuaan secara otomatis pada lensa untuk memfokuskan objek secara jelas dan jarak yang beragam.

f. Retina

Retina merupakan lapisan terdalam pada mata, melapisi dua pertiga bola mata pada bagian belakang. Pada bagian depan berhubungan dengan korpus siliaris di oraserata. Retina merupakan bagian mata yang sangat peka terhadap cahaya. Pada bagian depan retina terdapat lapisan berpigmen dan berhubungan dengan koroid dan pada bagian belakang terdapat lapisan saraf dalam. Pada lapisan saraf dalam mengandung reseptor, sel bifolar, sel ganglion, sel horizontal dan sel amakrin. Ada dua sel reseptor atau photoreceptor pada retina yaitu sel

konus atau sel kerucut dan sel rod atau sel batang. Sel kerucut berisi pigmen lembayung dan sel batang berisi pigmen ungu. Kedua pigmen tersebut akan terurai jika terkena sinar, terutama pada bagian pigmen berwarna ungu yang terdapat pada sel batang oleh karena itu pigmen pada sel batang berfungsi untuk situasi yang kurang terang atau malam hari. Sedangkan pigmen pada sel kerucut berfungsi lebih pada suasana terang atau pada tingkat intensitas cahaya yang tinggi dan berperan dalam penglihatan di siang hari. Pigmen ungu yang ada pada sel batang disebut rodopsin yang merupakan senyawa protein dan vitamin A. apabila terpapar sinar , rodopsin akan terurai menjadi protein dan vitamin A. pembentukan kembali pigmen tersebut terjadi dalam keadaan gelap dan memerlukan waktu yang disebut adaptasi gelap. Sedangkan pigmen lembayung dari sel kerucut merupakan senyawa yodopsin yang merupakan gabungan antara retinin dan opsin. Pada sel kerucut terdapat 3 macam yaitu sel yang peka terhadap warna merah, hijau dan biru sehingga sel kerucut dapat menangkap spectrum warna. Kerusakan pada salah satu sel kerucut akan menyebabkan buta warna.

g. Fovea sentralis

Fovea sentralis merupakan bagian dari retina yang banyak sel kerucut tapi tidak ada sel batang. Pada fovea ini sel bifolar bersinap dengan sel ganglion membentuk jalur langsung ke otak. Berkas sinar yang masuk jatuh tepat pada fovea.

h. Lutea macula

Lutea macula merupakan daerah kekuningan yang berada sedikit lateral dari pusat.

Mata juga dilengkapi oleh organ asessoris seperti kelopak mata, alis, apparatus lakrimalis yang melindungi mata dan seperangkat otot ekstrinsik yang dapat menggerakan mata (Tarwoto, 2009).

Sebagai struktur tambahan mata, dikenal berbagai struktur aksesori yang terdiri dari alis mata, kelopak mata, bulu mata, konjungtiva, aparatus lakrimal, dan otot-otot mata ekstrinsik. Alis mata dapat mengurangi masuknya cahaya dan mencegah masuknya keringat, yang dapat menimbulkan iritasi, ke dalam mata. Kelopak mata dan bulu mata mencegah masuknya benda asing ke dalam mata. Konjungtiva merupakan suatu membran mukosa yang tipis dan transparan. Konjungtiva palpebra melapisi bagian dalam kelopak mata dan konjuntiva bulbar melapisi bagian anterior permukaan mata yang berwarna putih. Titik pertemuan antara konjungtiva palpebra dan bulbar disebut sebagai conjunctival fornices (Seeley, 2006).

Apparatus lakrimal terdiri dari kelenjar lakrimal yang terletak di sudut anterolateral orbit dan sebuah duktus nasolakrimal yang terletak di sudut inferomedial orbit. Kelenjar lakrimal diinervasi oleh serat-serat parasimpatis dari nervus fasialis. Kelenjar ini menghasilkan air mata yang keluar dari kelenjar air mata melalui berbagai duktus nasolakrimalis dan menyusuri permukaan anterior bola mata. Tindakan berkedip dapat membantu menyebarkan air mata yang dihasilkan kelenjar lakrimal (Seeley, 2006).

Air mata tidak hanya dapat melubrikasi mata melainkan juga mampu melawan infeksi bakterial melalui enzim lisozim, garam serta gamma globulin. Kebanyakan air mata yang diproduksi akan menguap dari permukaan mata dan kelebihan air mata akan dikumpulkan di bagian medial mata di kanalikuli lakrimalis. Dari bagian tersebut, air mata akan mengalir ke saccus lakrimalis yang kemudian menuju duktus nasolakrimalis.

Struktur aksesoris mata dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 1. Otot-Otot Ekstrinsik Bola Mata Sumber: Saladin (2006)

Mata mempunyai diameter sekitar 24 mm dan tersusun atas tiga lapisan utama, yaitu outer fibrous layer, middle vascular layer dan inner layer. Outer fibrous layer (tunica fibrosa) dibagi menjadi dua bagian yakni sclera dan cornea. Sclera (bagian putih dari mata) menutupi sebagian besar permukaan mata dan terdiri dari jaringan ikat kolagen padat yang ditembus oleh pembuluh darah dan saraf. Kornea merupakan bagian transparan dari sclera yang telah dimodifikasi sehingga dapat ditembus cahaya (Saladin, 2006).

Middle vascular layer (tunica vasculosa) disebut juga uvea. Lapisan ini terdiri dari tiga bagian yaitu choroid, ciliary body, dan iris. Choroid merupakan lapisan yang sangat kaya akan pembuluh darah dan sangat terpigmentasi. Lapisan ini terletak di belakang retina. Ciliary body merupakan ekstensi choroid yang menebal serta membentuk suatu cincin muskular disekitar lensa dan berfungsi menyokong iris dan lensa serta mensekresi cairan yang disebut sebagai aqueous humor (Saladin, 2006).

Struktur anatomi yang telah dijelaskan sebelumnya dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 3. Anatomi Bola Mata Sumber: Khurana (2007)

2. Komponen Optik Mata

Komponen optik dari mata adalah elemen transparan dari mata yang tembus cahaya serta mampu membelokkan cahaya (refraksi) dan memfokuskannya pada retina. Bagian-bagian optik ini mencakup kornea, aqueous humor, lensa, dan vitreous body. Aqueous humor merupakan cairan serosa yang disekresi oleh ciliary body ke posterior chamber, sebuah ruang antara iris dan lensa. Cairan ini mengalir melalui pupil menuju anterior chamber yaitu ruang antara kornea dan iris. Dari area ini, cairan yang disekresikan akan direabsorbsi kembali oleh pembuluh darah yang disebut sclera venous sinus (canal of Schlemm) (Saladin, 2006).

Lensa tersuspensi dibelakang pupil oleh serat-serat yang membentuk cincin yang disebut suspensory ligament, yang menggantungkan lensa ke ciliary body. Tegangan pada ligamen

memipihkan lensa hingga mencapai ketebalan 3,6 mm dengan diameter 9,0 mm. Vitreous body (vitreous humor) merupakan suatu jelly transparan yang mengisi ruangan besar dibelakang lensa. Sebuah kanal (hyaloids canal) yang berada disepanjang jelly ini merupakan sisa dari arteri hyaloid yang ada semasa embrio (Saladin, 2006).

3. Komponen Neural Mata

Komponen neural dari mata adalah retina dan nervus optikus. Retina merupakan suatu membran yang tipis dan transparan dan tefiksasi pada optic disc dan ora serrata. Optic disc adalah lokasi dimana nervus optikus meninggalkan bagian belakang (fundus) bola mata. Ora serrata merupakan tepi anterior dari retina. Retina tertahan ke bagian belakang dari bola mata oleh tekanan yang diberikan oleh vitreous body. Pada bagian posterior dari titik tengah lensa, pada aksis visual mata, terdapat sekelompok sel yang disebut macula lutea dengan diameter kira-kira 3 mm. Pada bagian tengah dari macula lutea terdapat satu celah kecil yang disebut fovea centralis, yang menghasilkan gambar/visual tertajam. Sekitar 3 mm pada arah medial dari macula lutea terdapat optic disc. Serabut saraf dari seluruh bagian mata akan berkumpul pada titik ini dan keluar dari bola mata membentuk nervus optikus. Bagian optic disc dari mata tidak mengandung sel-sel reseptor sehingga dikenal juga sebagai titik buta (blind spot) pada lapang pandang setiap mata (Saladin, 2006).

4. Mekanisme Penglihatan

Fungsi utama mata adalah mengubah energi cahaya menjadi impuls saraf sehingga dapat diterjemahkan oleh otak menjadi gambar visual. untuk menghasilkan gambar visual yang tepat dan diinginkan terjadi proses yang sangat kompleks dimulai adanya gelombang sinar/cahaya yang masuk ke mata (Tarwoto, 2009).

Berkas cahaya masuk ke mata melalui konjungtiva, kornea, aqueus humor, lensa dan vitreous humor, dimana pada masing-masing bagian tersebut berkas cahaya dibiaskan (refraksi) sebelum akhirnya jatuh tepat diretina. jumlah cahaya yang masuk di mata akan diatur oleh iris dengan jalan membesarkan atau mengecilkan pupil. pada iris terdapat dua otot polos yang tersusun sirkuler dan radila yang mampu bergerak membesar atau mengecil membentuk pupil (Tarwoto, 2009).

Agar sinar dari objek menghasilkan gambar yang jelas pada retina maka berkas sinar tersebut harus dibiaskan (direfrasikan). pembiasan cahaya untuk menghasilkan penglihatan yang jelas disebut pemfokusan. jarak terdekat dari objek yang dapat dilihat dengan jelas disebut titik dekat (puncutum proximum). sedangkan jarak terjauh saat benda tempak jelas tanpa kontraksi disebut titik jauh (puctum remotum). pemfokusan berkas cahaya merupakan peran utama dari lensa. lensa akan membiaskan cahaya yang masuk dan memfokuskan ke retina. kemampuan lensa untuk menyesuaikan cahaya dekat atau jauh ke titik retina disebut akomodasi. bentuk lensa sendiri dapat berubah-ubah dan diatur oleh otot siliaris yang merupakan otot polos melingkar dan melekat pada lensa melalui ligamentum susupensorium. bentuk lensa yang bikonveks (cembung) akan membiaskan cahaya kesuatu titik/ mengumpul dibelakang lensa. sedangkan lensa bikonkaf (cekung) akan membiaskan cahaya menyebar di belakang lensa. sedangkan lensa bikonkaf (cekung) akan membiaskan cahaya menyebar di belakang lensa. semakin besar lingkungan suatu lensa di ukur dioptri (Tarwoto, 2009).

Berkas cahaya dari lensa kemudian difokuskan di retina. retina merupakan bagian magta vertebrata yang peka terhadap cahaya dan mampu mengubahnya menjadi impuls saraf untuk dihantarkan ke otak melalui nervus optikus (nervus cranial II). pda retina terdapat lapisan saraf atau neuron yaitu neuron fotoreseptor, neuron bipolar dan neuron ganglion. neuron fotoreseptor merupakan reseptor yang peka terhadap

cahaya karena mengandung sel batang (rods) dan sel kerucut (cones). sel batang mengandung pigmen rodopsin yang khusus untuk penglihatan hitam putih dalam cahaya redup. rodopsin merupakan senyaawa prootein dsn vitamin A. Apanbila terkena sinar, maka rodopsin menjadi protein dan vitamin A. pembentukan kembali pigmen tersebut terjadi dalam keadaan gelap. sedangkan sel kerucut berisikan pigmen lembayung yang merupakan senyawa iodopsin yaitu gabungan senyawa retinin dan opsin. sel kerucut peka terhadap warna merah, hijau dan biru sehingga dapat menangkap spectrum warna dan dapat menghasilkan bayang yang tajam dalma cahaya terang (Tarwoto, 2009).

Cahaya yang diterima oleh neuron fotoresptor akan di ubah dalam bentuk bayangan pertama, kemudian akan di ubah kembali menjadi bayangan pertama, kemudian akan diubah kembali menjadi bayangan kedua di sel bipolar dan selanjutnya menjadi bayangan ketiga di sel ganglion yang kemudian dibawa ke korteks penglihatan primer untuk dihasilkan visual penglihatan (Tarwoto, 2009).

C. Etiologi

Sebagian besar katarak, yang disebut katarak senilis, terjadi akibat perubahan degenerative yang berhubungan dengan penuaan. Pajanan terhadap sinar matahari selma hidup dan predisposisi herediter berperan dalam perkembangan katarak senilis.

Katarak juga dapat terjadi pada usia berapa saja setelah trauma lensa, infeksi mata, atau pajanan terhadap radiasi atau obat tertentu. Janin yang terpajan virus rubella dapat mengalami katarak. Individu yang mengalami katarak, yang kemungkinan besar disebabkan olehg gangguan aliran darah ke mata dan perubahan penanganan dan metabolisme glukosa. (Corwin, 2009).

D. Patofisiologi

Lensa berisi 65% air, 35% protein dan mineral penting. Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih, transparan, berbentuk seperti kancing baju, mempunyai kekuatan refraksi yang besar. Lensa mengandung tiga komponen anatomis. Pada zona sentral terdapat nukleus, di perifer ada korteks, dan yang mengelilingi keduanya adalah kapsula anterior dan posterior. Dengan bertambahnya usia, nukleus mengalami perubahan warna menjadi coklat kekuningan. Di sekitar opasitas terdapat densitas seperti duri di anterior dan poterior nukleus. Opasitas pada kapsul posterior merupakan bentuk katarak yang paling bermakna seperti kristal salju (Ilyas, 2008).

Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparansi. Perubahan dalam serabut halus multipel (zonula) yang memanjang dari badan silier ke sekitar daerah di luar lensa. Perubahan kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan koagulasi, sehingga mengabutkan pandangan dengan menghambat jalannya cahaya ke retina. Salah satu teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal disertai influks air ke dalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan mengganggu transmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peran dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan pasien yang menderita katarak (Ilyas, 2008).

Katarak bisa terjaadi bilateral, dapat disebabkan oleh kejadian trauma atau sistemis (diabetes) tetapi paling sering karena adanya proses penuaan yang normal. Faktor yang paling sering berperan dalam terjadinya katarak meliputi radiasi sinar UV, obat-obatan, alkohol, merokok, dan asupan vitamin antioksidan yang kurang dalam jangka waktu yang lama (Guyton, 1997).

Katarak merupakan kondisi penurunan ambilan oksigen,penurunan air, peningkatan kandungan kalsium dan berubahnya protein yang dapat larut menjadi tidak larut. Pada proses penuaan, lensa secara bertahap

kehilangan air dan mengalami peningkatan dalam ukuran dan densitasnya. Peningkatan densitas diakibatkan oleh kompresi sentral serta lensa yang lebih tua. Saat serat lensa yang baru diproduksi dikorteks,serat lensa ditekan menuju sentral. Serat-serat lensa yang padat lama-lama menyebabkan hilangnya transparansi lensa yang tidak terasa nyeri dan sering bilateral (Ilyas, 2005).

Selain itu berbagai penyebab katarak diatas menyebabkan gangguan metabolism pada lensa mata. Gangguan metabolisme ini, menyebabkan perubahan kandungan bahan-bahan yang ada didalam lensa yang pada akhirnya menyebabkan kekeruhan lensa. Kekeruhan dapat berkembang diberbagai bagian lensa atau kapsulnya. Pada gangguan ini sinar yang masuk memalui kornea yang dihalangi oleh lensa yang keruh atau huram. Kondisi ini memburamkan bayangan semu yang sampai pada retina. Akibat otak mengiterprestasikan sebagai bayangan yang berkabut. Pada katarak yang tidak diterapi, lensa mata menjadi putih susu, kemudian berubah kuning, bahkan menjadi coklat atau hitam dank lien mengalami kesulitan dalam membedakan warna (Mansjoer, 2008).

Pathway Pathway Pathway

E. Manifestasi Klinis

Seorang pasien dengan katarak senilis biasanya datang dengan riwayat kemunduran secara progresif dan gangguan dari penglihatan. Penyimpangan penglihatan bervariasi, tergantung pada jenis katarak ketika klien datang. 1. Penurunan Ketajaman Visual

Penurunan ketajaman visual merupakan keluhan yang paling umum dari pasien dengan katarak senilis. katarak dianggap relevan secara klinis jika ketajaman visual dipengaruhi secara signifikan. Selanjutnya, berbagai jenis katarak menghasilkan efek yang berbeda pada ketajaman visual (Vicente Victor D Ocampo, 2016).

Misalnya, tingkat ringan posterior subkapsular katarak dapat menghasilkan penurunan berat ketajaman visual dengan dekat ketajaman mempengaruhi lebih dari jarak penglihatan, mungkin sebagai akibat dari miosis yang akomodatif. Namun, katarak sklerotik inti sering dikaitkan dengan penurunan ketajaman jarak dan dekat penglihatan yang baik (Vicente Victor D Ocampo, 2016).

2. Kesilauan

Silau adalah keluhan lain yang umum dari pasien dengan katarak senilis. Keluhan ini dapat mencakup seluruh spektrum dari penurunan sensitivitas kontras dalam lingkungan yang terang atau menonaktifkan silau siang hari untuk melemahkan silau dengan lampu melaju di malam hari (Vicente Victor D Ocampo, 2016).

Gangguan visual seperti yang menonjol khususnya dalam katarak posterior subkapsular dan untuk tingkat yang lebih rendah, dengan katarak kortikal. Hal ini terkait frekuensi yang jarang dengan

Dalam dokumen Makalah-katarak (Halaman 31-84)

Dokumen terkait