• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Memasuki era globalisasi dan persaingan bebas yang semakin dinamis, setiap

perusahaan dituntut untuk dapat tetap bersaing dan memenangkan persaingan

sesuai dengan bidang usaha di mana perusahaan tersebut dibangun. Setiap

perusahaan dibentuk dengan harapan dapat memperoleh profit yang optimal agar

selalu berada pada kondisi keuangan yang surplus dalam rangka mempertahankan

kelangsungan hidup perusahaan.

Perindustrian adalah salah satu sektor ekonomi yang memberikan kontribusi

cukup besar terhadap perekonomian di Indonesia. Perkembangan sektor industri,

khususnya sektor industri manufaktur dalam beberapa tahun terakhir merupakan

salah satu sektor ekonomi yang paling dominan di Indonesia. Meski sempat

dihadang krisis utang yang melanda Eropa pada tahun 2012, namun secara umum

pertumbuhan sektor industri manufaktur menunjukkan kekonsistenan yang cukup

baik sebagai salah satu sektor ekonomi Indonesia yang paling dominan hingga

saat ini.

Dalam pertumbuhan perekonomian Indonesia, terdapat sembilan sektor

ekonomi utama yang menunjang pertumbuhan perekonomian Indonesia itu

1. Pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan. 2. Pertambangan dan penggalian.

3. Industri manufaktur. 4. Listrik, gas, dan air bersih. 5. Konstruksi.

6. Perdagangan, hotel, dan restoran. 7. Transportasi dan komunikasi.

8. Keuangan “real estate” dan jasa perusahaan. 9. Jasa-jasa.

Sumber: www.bps.go.id

Dari kesembilan sektor ekonomi yang ada, sektor industri manufaktur

merupakan salah satu sektor ekonomi yang paling dominan dalam pertumbuhan

perekonomian di Indonesia berdasarkan kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB)

tahunan selama tahun 2010-2015. Dominannya sektor industri manufaktur di

Indonesia ini tidak terlepas dari kontribusinya dalam mentransformasi budaya

bangsa Indonesia ke arah modernisasi dalam kehidupan masyarakat yang

menunjang pembentukan daya saing nasional. Dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia, terdapat sebuah sebutan “the leading sector” yang merupakan sebutan

yang diberikan untuk sektor ekonomi yang paling menunjang pertumbuhan

Berdasarkan kontribusi dari sembilan sektor ekonomi Indonesia, Badan Pusat

Statistik (BPS) telah menyajikan data yang menunjukkan bahwa sektor industri

manufaktur memiliki predikat sebagai “the leading sector” yang memberikan

sumbangan terbesar dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia berdasarkan

kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) tahunan dengan persentase yang selalu

unggul dibandingkan dengan sektor ekonomi lainnya selama tahun 2010-2015,

Tabel 1.1 Kontribusi Sektor Ekonomi Indonesia Berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) Tahunan Periode 2010-2015

No. Sektor 2010 2011 2012 2013 2014 2015

Ekonomi Milyar (Rp) % Milyar (Rp) % Milyar (Rp) % Milyar (Rp) % Milyar (Rp) % Milyar (Rp) %

1. Pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan. 985.470,50 15,29% 1.091.447,10 14,71% 1.193.452,90 14,50% 1.310.427,30 14,42% 1.409.655,70 14,12% 1.555.746,90 14,37% 2. Pertambangan dan penggalian. 719.710,10 11,16% 876.983,80 11,82% 972.458,40 11,81% 1.026.297,00 11,29% 1.039.423,00 10,41% 881.694,00 8,14% 3. Industri Manufaktur. 1.599.073,10 24,80% 1.806.140,50 24,34% 1.972.523,60 23,96% 2.152.802,80 23,69% 2.227.584,00 22,31% 2.418.376,40 22,34% 4. Listrik, gas,

dan air bersih. 49.119,00 0,76% 55.882,30 0,75% 62.271,60 0,76% 70.339,60 0,77% 122.745,70 1,23% 139.796,70 1,29%

5. Konstruksi. 660.890,50 10,25% 753.554,60 10,16% 844.090,90 10,26% 907.267,00 9,98% 1.041.949,50 10,43% 1.177.084,10 10,87% 6. Perdagangan, hotel, dan restoran. 882.487,20 13,69% 1.023.724,80 13,80% 1.148.791,00 13,96% 1.301.175,00 14,32% 1.419.239,40 14,21% 1.535.287,80 14,18% 7. Transportasi dan komunikasi. 423.172,20 6,56% 491.287,00 6,62% 549.105,40 6,67% 635.302,90 6,99% 836.426,20 8,38% 985.051,50 9,10% 8. Keuangan “real estate” dan jasa perusahaan. 466.563,80 7,24% 535.152,90 7,21% 598.433,30 7,27% 682.973,20 7,52% 703.012,20 7,04% 792.621,30 7,32% 9. Jasa-jasa. 660.365,50 10,24% 785.014,10 10,58% 889.798,80 10,81% 1.000.691,70 11,01% 1.185.134,60 11,87% 1.342.050,50 12,39% Total PDB 6.446.851,90 100% 7.419.187,10 100% 8.230.925,90 100% 9.087.276,50 100% 9.985.170,30 100% 10.827.709,20 100%

Bedasarkan tabel tersebut, terlihat bahwa pada tahun 2010-2015 secara

berturut-turut industri manufaktur memiliki persentase kontribusi Produk

Domestik Bruto (PDB) tahunan tertinggi pada sektor ekonomi di Indonesia yang

mengungguli sektor ekonomi lainnya. Selanjutnya, melalui data tersebut, maka

dapat dibuat suatu urutan peringkat yang dapat memperlihatkan sektor ekonomi

Indonesia mana yang paling dominan berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB)

tahunan dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia selama periode 2010-2015,

seperti yang dijelaskan pada tabel berikut:

Tabel 1.2 Peringkat Sektor Ekonomi Indonesia yang Paling Dominan Berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) Tahunan Periode

2010-2015

No. Sektor Peringkat

Ekonomi 2010 2011 2012 2013 2014 2015

1. Pertanian, peternakan, kehutanan, dan

perikanan. 2 2 2 2 3 2

2. Pertambangan dan penggalian. 4 4 4 4 6 7

3. Industri Manufaktur. 1 1 1 1 1 1

4. Listrik, gas, dan air bersih. 9 9 9 9 9 9

5. Konstruksi. 6 6 6 6 5 5

6. Perdagangan, hotel, dan restoran. 3 3 3 3 2 3

7. Transportasi dan komunikasi. 8 8 8 8 7 6

8. Keuangan “real estate” dan jasa

perusahaan. 7 7 7 7 8 8

9. Jasa-jasa. 5 5 5 5 4 4

Sumber: BPS, Produk Domestik Bruto Tahunan Menurut Lapangan Usaha, 2010-2015. Diolah oleh Penulis

Berdasarkan tabel tersebut, terlihat bahwa setelah diperingkat sektor

Indonesia berdasarkan kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB)

tahunan selama periode 2010-2015. Pembangunan dalam bidang industri tidak

dapat dipungkiri merupakan salah satu faktor mengapa industri manufaktur masih

tetap dominan di Indonesia, bahkan di tengah krisis yang sempat mengancam

perekonomian Indonesia akibat krisis utang yang sempat menerpa Eropa pada

tahun 2012. Meskipun sempat terjadi penurunan dalam hal persentase pada

kontribusinya dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang disebabkan oleh

beberapa faktor seperti krisis ekonomi yang melanda Eropa dan Amerika Serikat,

harga komoditas pangan, dan harga minyak, sektor industri manufaktur masih tetap dapat bertahan menjadi “the leading sector” dibandingkan dengan sektor

ekonomi lainnya berdasarkan kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto

(PDB) tahunan selama periode 2010-2015. Dengan perannya yang cukup vital

dalam perekonomian Indonesia, pembangunan dalam bidang industri manufaktur

sudah sepantasnya dilaksanakan secara terpadu dan memberikan manfaat yang

besar bagi masyarakat.

Kebangkitan industri manufaktur Indonesia juga dapat terlihat dari laporan

yang telah diolah oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Berdasarkan hasil statistik

yang telah dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), sektor industri manufaktur

juga memberikan perkembangan yang cukup baik dan memberikan dampak

positif dalam menyerap jumlah tenaga kerja pada periode antara tahun 2010-2015.

Kontribusi industri manufaktur menempati urutan keempat jika dibandingkan

dengan sektor ekonomi lainnya dalam hal penyerapan tenaga kerja, di mana

cenderung mengalami peningkatan selama periode 2010-2015 seperti pada tabel

Tabel 1.3 Kontribusi Sektor Ekonomi Indonesia dalam Penyerapan Tenaga Kerja Periode 2010-2015 No. Sektor Ekonomi 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Jumlah Pekerja % Jumlah Pekerja % Jumlah Pekerja % Jumlah Pekerja % Jumlah Pekerja % Jumlah Pekerja % 1. Pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan. 41.494.941 38,35% 39.142.053 36,19% 39.921.568 35,33% 39.220.261 34,78% 38.973.033 34,00% 37.752.816 32,88% 2. Pertambangan dan penggalian. 1.254.501 1,16% 1.456.734 1,35% 1.605.864 1,42% 1.426.454 1,27% 1.436.370 1,25% 1.320.430 1,15% 3. Industri manufaktur. 13.824.251 12,78% 14.540.124 13,44% 15.618.481 13,82% 14.959.804 13,27% 15.254.674 13,31% 15.259.578 13,29% 4. Listrik, gas,

dan air bersih. 234.070 0,22% 237.905 0,22% 251.547 0,22% 252.134 0,22% 289.193 0,25% 287.050 0,25%

5. Konstruksi. 5.592.897 5,17% 6.324.516 5,85% 6.869.565 6,08% 6.349.387 5,63% 7.280.086 6,35% 8.209.630 7,15% 6. Perdagangan, hotel, dan restoran. 22.492.176 20,79% 22.576.315 20,87% 23.599.696 20,88% 24.105.906 21,38% 24.829.734 21,66% 25.685.234 22,37% 7. Transportasi dan komunikasi. 5.619.022 5,19% 5.085.220 4,70% 5.066.610 4,48% 5.096.987 4,52% 5.113.188 4,46% 5.109.490 4,45% 8. Keuangan “real estate” dan jasa perusahaan. 1.739.486 1,61% 2.589.011 2,39% 2.694.370 2,38% 2.898.279 2,57% 3.031.038 2,64% 3.260.888 2,84% 9. Jasa-jasa. 15.956.423 14,75% 16.213.883 14,99% 17.383.920 15,38% 18.451.860 16,36% 18.420.710 16,07% 17.934.884 15,62% Total 108.207.767 100% 108.165.761 100% 113.011.621 100% 112.761.072 100% 114.628.026 100% 114.820.000 100%

Sumber: BPS (2014 dan 2015) Situasi Angkatan Kerja di Indonesia: Agustus 2014 dan Indikator Pasar Tenaga Kerja Indonesia, Agustus 2015, Badan Pusat Statistik, Jakarta. Diolah oleh Penulis.

Meskipun berada pada posisi keempat dalam kontribusi penyerapan tenaga

kerja jika dibandingkan dengan sektor ekonomi lainnya, sektor industri

manufaktur menunjukkan pertumbuhan yang cenderung positif dalam hal

penyerapan tenaga kerja selama periode 2010-2015 dengan rincian pertumbuhan

sebesar 5,18% untuk periode 2010/2011, 7,42% untuk periode 2011/2012, -4,22%

untuk periode 2012/2013, 1,97% untuk periode 2013/2014, dan 0,03% untuk

periode 2014/2015 seperti yang dijelaskan pada tabel berikut:

Tabel 1.4 Pertumbuhan Penyerapan Tenaga Kerja pada Sektor Ekonomi Indonesia Periode 2010-2015

No. Sektor Ekonomi Pertumbuhan (%)

2010/2011 2011/2012 2012/2013 2013/2014 2014/2015

1. Pertanian, peternakan,

kehutanan, dan perikanan. -5,67% 1,99% -1,76% -0,63% -3,13%

2. Pertambangan dan

penggalian. 16,12% 10,24% -11,17% 0,70% -8,07%

3. Industri manufaktur. 5,18% 7,42% -4,22% 1,97% 0,03%

4. Listrik, gas, dan air bersih. 1,64% 5,73% 0,23% 14,70% -0,74%

5. Konstruksi. 13,08% 8,62% -7,57% 14,66% 12,77%

6. Perdagangan, hotel, dan

restoran. 0,37% 4,53% 2,14% 3,00% 3,45%

7. Transportasi dan komunikasi. -9,50% -0,37% 0,60% 0,32% -0,07%

8. Keuangan “real estate” dan

jasa perusahaan. 48,84% 4,07% 7,57% 4,58% 7,58%

9. Jasa-jasa. 1,61% 7,22% 6,14% -0,17% -2,64%

Total -0,04% 4,48% -0,22% 1,66% 0,17%

Sumber: BPS (2014 dan 2015) Situasi Angkatan Kerja di Indonesia: Agustus 2014 dan Indikator Pasar Tenaga Kerja Indonesia, Agustus 2015, Badan Pusat Statistik, Jakarta. Diolah oleh Penulis.

Kekonsistenan sektor industri manufaktur Indonesia yang masih dominan

perusahaan-perusahaan dalam menjalankan usahanya tentu saja harus mengalami

perkembangan dan pertumbuhan dari waktu ke waktu untuk dapat tetap menjaga

kelangsungan hidup perusahaannya. Dalam mencapai perkembangan dan

pertumbuhan tersebut, tentu saja setiap perusahaan membutuhkan sumber dana

atau modal yang memadai agar tetap dapat mengembangkan usahanya. Perolehan

modal perusahaan dapat bersumber dari dana yang berasal dari dalam perusahaan

(internal), yaitu berupa modal sendiri ataupun dari dana yang berasal dari luar

perusahaan (eksternal), yaitu dengan pinjaman atau utang.

Dalam proses perkembangan dan pertumbuhan yang dilakukan oleh

perusahaan, pengambilan keputusan yang menyangkut sumber pendanaan bagi

perusahaan merupakan hal penting yang harus dipertimbangkan secara matang

oleh manajemen perusahaan.

Setiap utang akan menimbulkan beban masing-masing sesuai dengan

besarnya pinjaman yang dilakukan oleh perusahaan yang bersangkutan untuk

mendanai struktur permodalannya. Semakin besar utang, semakin besar pula

beban bunga yang harus dibayarkan oleh perusahaaan. Dari segi struktur

permodalan, suatu perusahaan dikatakan menggunakan financial leverage jika

perusahaan tersebut menggunakan pinjaman atau utang sebagai salah satu sumber

pembiayaan dalam struktur permodalannya selain modal sendiri. Perusahaan

dapat dikatakan menggunakan financial leverage yang menguntungkan atau efek

yang positif jika pendapatan yang diterima dari penggunaan dana tersebut lebih

besar daripada jumlah utang dan beban bunga dari penggunaan dana itu. Dengan

struktur permodalan perusahaan yang berperan sebagai tuas untuk mengungkit

keuangan perusahaan. Berdasarkan uraian tersebut dapat dikatakan bahwa

financial leverage ikut berperan dalam upaya meningkatkan kinerja keuangan

(financial performance) karena dengan adanya financial leverage,

perusahaan-perusahaan yang memperoleh sumber dana yang berasal dari luar perusahaan-perusahaan

(eksternal), yaitu dengan cara berutang dapat mengetahui sejauh mana pengaruh

pinjaman yang diambil perusahaan terhadap peningkatan kinerja keuangan

(financial performance) perusahaan.

Keberadaan financial leverage atau utang dalam suatu perusahaan ternyata

tidak hanya menimbulkan beban bunga bagi perusahaan, tetapi juga dapat

memberikan manfaat. Financial leverage dapat bermanfaat bagi perusahaan

dalam memberikan perlindungan pajak (tax shield) yang akan didapatkan melalui

keberadaan beban bunga yang ditanggung oleh perusahaan. Pajak perusahaan

yang menggunakan utang akan lebih kecil dibandingkan dengan perusahaan yang

tidak menggunakan utang karena adanya perlindungan pajak (tax shield) tersebut,

misalnya perusahaan A yang menggunakan utang dalam struktur permodalannya

menghasilkan EBIT sebesar Rp.200 Milyar dengan beban bunga sebesar

Rp.50 Milyar, sementara perusahaan B yang tidak menggunakan utang dalam

struktur permodalannya menghasilkan EBIT yang sama sebesar Rp.200 Milyar

tanpa menerima beban bunga. Apabila tingkat pajak yang berlaku adalah sebesar

40%, maka jumlah pajak yang harus dibayarkan oleh perusahaan A adalah sebesar

(40% x Rp.200 Milyar). Sehingga, besarnya nilai penghematan pajak (tax shield)

yang diterima oleh perusahaan A adalah sebesar Rp.20 Milyar (Rp.80 Milyar –

Rp.60 Milyar). Selain itu, tentunya utang juga bermanfaat sebagai tuas pengungkit

(leverage) dalam struktur permodalan perusahaan yang dapat dialokasikan untuk

membiayai berbagai macam kegiatan perusahaan dalam rangka mencapai profit

yang optimal. Jika kegiatan perusahaan dapat berjalan dengan lancar sesuai

dengan jenis usaha di mana perusahaan tersebut dibangun, maka hal tersebut akan

membuat tingkat penjualan perusahaan juga semakin meningkat. Dengan

meningkatnya tingkat penjualan, maka laba yang dihasilkan oleh perusahaan juga

akan semakin besar. Hal tersebut mengindikasikan bahwa financial leverage dapat

bermanfaat untuk menghasilkan return yang lebih besar bagi perusahaan maupun

pemegang saham, sehingga akan meningkatkan financial performance pada

perusahaan.

Penggunaan utang tidak selamanya merugikan perusahaan maupun

pemegang saham, selama proporsinya tidak melebihi batas tertentu yang membuat

perusahaan tidak dapat membayarkan kembali pinjaman yang telah dilakukan.

Jika dimanfaatkan dengan baik dan bijaksana, financial leverage akan berdampak

baik pula bagi financial performance perusahaan. Financial performance adalah

ukuran umum kesehatan keuangan perusahaan secara keseluruhan selama periode

waktu tertentu (Fahmi, 2013), yaitu suatu analisis yang dilakukan untuk melihat

sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakan dengan aturan-aturan

Rehman (2013) dalam jurnalnya yang berjudul “Hubungan antara

Financial Leverage dan Financial Performance pada Perusahaan Gula yang

Terdaftar di Karachi Stock Exchange (KSE) Pakistan Periode 2006-2011”

menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara financial leverage (Debt to

Equity Ratio) dengan financial performance (ROA dan Sales Growth), dan

terdapat hubungan negatif antara financial leverage (Debt to Equity Ratio) dengan

financial performance (EPS, Net Profit Margin, dan ROE). Variabel bebas yang

digunakan dalam penelitian tersebut adalah financial leverage dengan indikator

berupa Debt to Equity Ratio. Sedangkan, variabel terikat yang digunakan adalah

financial peroformance dengan indikator berupa ROA, ROE, EPS, Net Profit Margin, dan Sales Growth.

Pada penelitian lain yang dilakukan oleh Enekwe, et al (2014) mengenai

Pengaruh Financial Leverage terhadap Financial Performance pada Perusahaan

Farmasi di Nigeria periode 2001-2012 menunjukkan hasil bahwa terdapat

hubungan negatif antara financial leverage (Debt Ratio dan Debt to Equity Ratio)

dengan financial performance (ROA), dan terdapat hubungan positif antara

financial leverage (Interest Coverage Ratio) dengan financial performance

(ROA). Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah financial

leverage dengan indikator berupa Debt Ratio, Debt to Equity Ratio, dan Interest Coverage Ratio. Sedangkan, variabel terikat yang digunakan adalah financial performance dengan indikator ROA.

menyangkut indikator yang dipakai dalam pengukuran variabel bebas financial

leverage maupun variabel terikat financial performance, objek penelitian, dan

hasil penelitian. Dengan adanya perbedaan tersebut, penulis tertarik untuk

melakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh Financial Leverage

terhadap Financial Performance berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh

Enekwe, et al (2014) dengan menambahkan satu indikator tambahan, yaitu Long

Term Debt Ratio pada pengukuran variabel bebas Financial Leverage.

Penulis menambahkan indikator Long Term Debt Ratio pada pengukuran

variabel bebas Financial Leverage dalam penelitian ini adalah karena selain Long

Term Debt Ratio merupakan salah satu Financial Leverage Ratio, karakteristik

utama dari objek penelitian dalam penelitian ini, yaitu perusahaan sektor industri

manufaktur adalah mengolah bahan baku menjadi barang jadi, di mana terdapat

suatu aktivitas proses produksi barang yang sebagian besar mengandalkan aktiva

tetap (seperti mesin-mesin untuk alat produksi dan bangunan pabrik untuk tempat

produksi) sebelum siap untuk diperdagangkan. Sehingga, bagi perusahaan sektor

industri manufaktur memodernisasi atau memperbaharui aktiva tetap (seperti

mesin-mesin atau bangunan) adalah sesuatu hal yang penting untuk tetap dapat

menunjang kualitas barang yang dihasilkan dalam jangka panjang. Aktiva tetap

itu sendiri merupakan kekayaan yang dimiliki dan digunakan oleh perusahaan

untuk menjalankan kegiatan operasionalnya dalam proses produksi. Dengan

demikian, kebutuhan akan sumber dana jangka panjang merupakan salah satu hal

yang menjadi faktor penting dalam keberlangsungan hidup perusahaan sektor

dari utang jangka panjang (long term debt). Oleh karena itu, penulis

menambahkan indikator Long Term Debt Ratio pada pengukuran variabel bebas

Financial Leverage dalam penelitian ini karena dapat menggambarkan seberapa

besar penggunaan utang jangka panjang (long term debt) atau utang yang timbul

dengan umur jatuh tempo lebih dari satu tahun pada perusahaan sektor industri

manufaktur. Sehingga, indikator yang akan digunakan pada pengukuran variabel

bebas Financial Leverage dalam penelitian ini adalah Debt Ratio, Debt to Equity

Ratio, Interest Coverage Ratio, dan Long Term Debt Ratio. Sedangkan, untuk

indikator yang akan digunakan pada pengukuran variabel terikat Financial

Performance adalah ROA.

Selain itu, pada penelitian ini perusahaan yang dipilih oleh penulis sebagai

objek penelitian adalah perusahaan pada sektor industri manufaktur yang terdaftar

di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perusahaan pada sektor industri manufaktur yang

sudah go public dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sendiri dibagi

menjadi tiga sektor, yaitu sektor industri dasar dan kimia, sektor aneka industri,

dan sektor industri barang konsumsi dengan total sebanyak 145 perusahaan.

Selain itu, untuk masing-masing sektor tersebut dibagi lagi menjadi beberapa sub

sektor yang berbeda-beda dari masing-masing sektornya, seperti yang tertera pada

Tabel 1.5 Pengelompokkan Perusahaan Sektor Industri Manufaktur di Bursa Efek Indonesia (BEI)

No. Sektor Sub Sektor Jumlah Perusahaan

1. Industri Dasar dan Kimia Semen 6

Keramik, porselen, dan kaca 6 Logam dan sejenisnya 16

Kimia 11

Plastik dan kemasan 13

Pakan ternak 4

Kayu dan pengolahannya 2 Pulp dan kertas 9

2. Aneka Industri Mesin dan alat berat 2

Otomotif dan komponen 13 Tekstil dan garment 17

Alas kaki 2

Kabel 6

Elektronika 1

Lainnya 0

3. Barang Konsumsi Makanan dan minuman 14

Rokok 4

Farmasi 10

Kosmetik dan barang keperluan

rumah tangga 6

Peralatan rumah tangga 3

Total 145

Sumber: www.idx.co.id. Diolah oleh Penulis.

Berdasarkan dominasi dari sembilan sektor ekonomi yang berkontribusi

dalam pertumbuhan perekonomian Indonesia berdasarkan Produk Domestik Bruto

(PDB) selama periode 2010-2015, penulis mencoba untuk menyajikan data

mengenai rata-rata proporsi penggunaan utang dalam total asset pada perusahaan

yang telah go public dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk tahun

2015, di mana data yang akan diambil bersumber dari laporan keuangan tahunan

yang telah dipublikasikan oleh perusahaan pada tiga sektor ekonomi teratas yang

berkontribusi dalam pertumbuhan perekonomian Indonesia berdasarkan Produk

1. Industri manufaktur.

2. Pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan. 3. Perdagangan, hotel, dan restoran.

Berikut adalah tabel yang menunjukkan rata-rata proporsi penggunaan

utang dalam total asset pada perusahaan yang telah go public dan terdaftar di

Bursa Efek Indonesia (BEI) di tiga sektor ekonomi teratas yang berkontribusi

dalam pertumbuhan perekonomian Indonesia berdasarkan Produk Domestik Bruto

(PDB) untuk tahun 2015:

Tabel 1.6 Rata-rata Nilai Debt Ratio (DR) Perusahaan di Tiga Sektor Ekonomi Teratas Berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) Periode 2015

No. Sektor Ekonomi Rata-rata Nilai Debt Ratio (DR) (%)

1. Industri manufaktur. 56%

2. Pertanian, peternakan, kehutanan, dan

perikanan. 52%

3. Perdagangan, hotel, dan restoran. 49%

Sumber: www.idx.co.id. Diolah oleh Penulis.

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa sektor industri manufaktur

memiliki persentase rata-rata nilai Debt Ratio (DR) perusahaan terbesar jika

dibandikngkan dengan dua sektor ekonomi teratas lain yang berkontribusi dalam

pertumbuhan perekonomian Indonesia berdasarkan Produk Domestik Bruto

(PDB) tahunan untuk tahun 2015 dengan persentase sebesar 56%, diikuti dengan

49%. Hal tersebut membuktikan bahwa rata-rata perusahaan pada sektor industri

manufaktur yang teah go public dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) lebih

banyak menggunakan sumber dana yang berasal dari luar perusahaan (eksternal)

atau dengan cara berutang untuk memenuhi kebutuhan sumber dananya dalam

total asset perusahaan dibandingkan dengan dua sektor ekonomi teratas lainnya.

Penggunaan utang dengan rata-rata proporsi yang melebihi setengah dari total

asset perusahaan ini juga menggambarkan bahwa rata-rata perusahaan pada sektor

industri manufaktur menggunakan financial leverage dalam upaya meningkatkan

kinerja keuangan (financial performance) perusahaan dengan tujuan agar

perusahaan tetap dapat menjalankan kegiatan usaha sekaligus mempertahankan

kelangsungan hidupnya.

Sebagai gambaran singkat mengenai pengaruh Financial Leverage yang

diwakilkan oleh Debt Ratio, Debt to Equity Ratio, Interest Coverage Ratio, dan

Long Term Debt Ratio terhadap Financial Performance yang diwakilkan oleh

ROA pada perusahaan sektor industri manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia (BEI), penulis juga telah mengolah data laporan keuangan dari tiga

perusahaan industri manufaktur go public yang sudah cukup terkenal dan terdaftar

di Bursa Efek Indonesia (BEI), yaitu PT Astra International Tbk (Sektor aneka

industri, Sub sektor otomotif dan komponen), PT Gudang Garam Tbk (Sektor

industri barang konsumsi, Sub sektor rokok), dan PT Indofood CBP Sukses

Makmur Tbk (Sektor industri barang konsumsi, Sub sektor makanan dan

minuman). Berikut adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada indikator Debt

ROA pada PT Astra International Tbk, PT Gudang Garam Tbk, dan PT Indofood

CBP Sukses Makmur Tbk selama periode 2013-2015 berdasarkan laporan

keuangan yang sudah dipublikasikan oleh masing-masing perusahaan:

Tabel 1.7 Perubahan Debt Ratio, Debt to Equity Ratio,

Interest Coverage Ratio, Long Term Debt Ratio, dan ROA PT Astra International Tbk Periode 2013-2015

Indikator 2013 2014 2015 Perubahan 2013/2014 2014/2015 DR 0,5038 0,4902 0,4845 ↓ 0,0136 ↓ 0,0057 DER 1,0152 0,9616 0,9397 ↓ 0,0536 ↓ 0,0219 ICR 25,8179 20,8924 15,3285 ↓ 4,9255 ↓ 5,5639 LTDR 0,2567 0,2596 0,2521 ↑ 0,0029 ↓ 0,0075 ROA 0,1042 0,0937 0,0636 ↓ 0,0105 ↓ 0,0301

Sumber: www.idx.co.id. Diolah oleh Penulis.

Berdasarkan tabel di atas, pada tahun 2013/2014 terlihat bahwa

kecenderungan yang terjadi adalah apabila financial leverage turun, maka

financial performance juga akan mengalami penurunan karena ada tiga indikator financial leverage yang menunjukkan penurunan, yaitu DR, DER, dan ICR, serta

nilai ROA yang juga menunjukkan penurunan. Hal tersebut sejalan dengan data

pada tahun 2014/2015, di mana terlihat bahwa kecenderungan yang terjadi adalah

penurunan, yaitu DR, DER, ICR, dan LTDR, serta nilai ROA yang juga

menunjukkan penurunan. Oleh karena itu, berdasarkan kecenderungan tersebut

dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif antara financial leverage dan

financial performance pada PT Astra International Tbk periode 2013-2015.

Tabel 1.8 Perubahan Debt Ratio, Debt to Equity Ratio,

Interest Coverage Ratio, Long Term Debt Ratio, dan ROA PT Gudang Garam Tbk Periode 2013-2015

Indikator 2013 2014 2015 Perubahan 2013/2014 2014/2015 DR 0,4206 0,4293 0,4015 ↑ 0,0087 ↓ 0,0278 DER 0,7259 0,7521 0,6708 ↑ 0,0262 ↓ 0,0813 ICR 8,8571 6,2528 7,0404 ↓ 2,6043 ↑ 0,7876 LTDR 0,0411 0,0351 0,0368 ↓ 0,0060 ↑ 0,0017 ROA 0,0863 0,0927 0,1016 ↑ 0,0064 ↑ 0,0089

Sumber: www.idx.co.id. Diolah oleh Penulis.

Berdasarkan tabel di atas, pada tahun 2013/2014 kecenderungan tidak

dapat dinilai atas kenaikan atau penurunan yang terjadi pada financial leverage

terhadap financial performance karena ada dua indikator financial leverage, yaitu

DR dan DER yang mengalami kenaikan, dan ada dua indikator financial leverage,

yaitu ICR dan LTDR yang mengalami penurunan, dengan nilai ROA yang

mengalami kenaikan. Sama halnya untuk tahun 2014/2015, di mana

kecenderungan juga tidak dapat dinilai atas kenaikan atau penurunan yang terjadi

financial leverage, yaitu DR dan DER yang mengalami penurunan, dan ada dua

indikator financial leverage, yaitu ICR dan LTDR yang mengalami kenaikan,

dengan nilai ROA yang mengalami kenaikan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan

bahwa kecenderungan tidak dapat dinilai antara financial leverage dan financial

performance pada PT Gudang Garam Tbk periode 2013-2015.

Tabel 1.9 Perubahan Debt Ratio, Debt to Equity Ratio,

Dokumen terkait