PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Di era globalisasi saat ini, dunia perindustrian tengah memasuki era revolusinya yang ke-4 yang lebih dikenal dengan sebutan era Industry 4.0. Pada era revolusi ini perekonomian global mengalami perkembangan serta perubahan besar seperti pada masa ketika revolusi industri pertama, kedua, dan ketiga diperkenalkan untuk pertama kalinya. Revolusi ini memungkinkan adanya otomasi dan kecerdasan buatan pada teknologi baik perangkat fisik maupun digital untuk berkomunikasi, menganalisis dan menggunakan data yang telah diproses sehingga memberikan potensi bagi perusahaan untuk melipatgandakan produktifitas dan laba bersih serta mengurangi biaya selama kegiatan produksi.
Salah satu sektor industri yang terkena dampak revolusi industry 4.0 ini adalah sektor manufaktur. Perusahaan manufaktur adalah perusahaan yang mengolah barang mentah menjadi barang jadi atau setengah jadi sehingga memiliki nilai tambah atas barang tersebut untuk kemudian disalurkan kepada konsumen. Untuk mencapai tujuannya, perusahaan membutuhkan modal/dana dalam setiap kegiatan operasionalnya. Selain menggunakan modal pribadi, perusahaan juga bisa mendapatkan modal dari luar perusahaan dengan cara melakukan penerbitan saham di pasar modal.
Hal ini akan memberikan keuntungan pada masing-masing pihak. Sederhananya, perusahaan akan mendapatkan keuntungan berupa pinjaman modal
keuntungan berupa pembagian dividen dari perusahaan atas pinjaman modal yang telah diberikan melalui kegiatan investasi.
Menurut Gumanti (2011), Kegiatan Investasi adalah kegiatan yang dimaksudkan untuk menunda konsumsi hari ini untuk dikonsumsi pada waktu mendatang, dengan harapan nilai di waktu mendatang lebih tinggi daripada nilai yang ditemui hari ini. Jadi investasi adalah tentang bagaimana investor memanfaatkan keberadaan pasar modal sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraannya dalam bentuk penyaluran dana kepada pihak yang membutuhkan dana, yaitu perusahaan.
Saham adalah kertas atau tanda bukti kepemilikan modal/dana pada suatu institusi atau perusahaan yang tercantum dengan jelas nilai nominal, nama institusi, yang disertai hak dan kewajiban yang dijelaskan kepada setiap pemegangnya(Fahmi, 2012). Dengan menanam saham diperusahaan, investor berharap dapat memperoleh pendapatan berupa dividen dan capital gain.
Menurut Darsono & Rahman (2018), dividen merupakan pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan dan berasal dari keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Dividen yang dibagikan perusahaan dapat berupa dividen tunai,artinya kepada setiap pemegang saham diberikan dividen berupa uang tunai dalam jumlah rupiah tertentu untuk setiap saham atau dapat pula berupa dividen saham yang berarti kepada setiap pemegang saham diberikan dividen sejumlah saham, sehingga jumlah saham dimiliki seorang pemodal akan bertambah.
Capital gain merupakan selisih antara harga beli dan harga jual (Syahyunan, 2015). Sebagian investor menilai perusahaan dengan melihat harga
saham perusahaan tersebut. Perusahaan dengan harga saham yang tinggi akan dinilai baik sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan dimata para investor, akan tetapi harga saham yang terlalu rendah akan menurunkan keinginan para investor untuk melakukan investasi karena harga yang rendah mencerminkan nilai perusahaan yang rendah pula sehingga kurang diminati meskipun sebagian investor menganggap bahwa harga yang rendah tidak mencerminkan perusahaan memiliki nilai yang rendah pula.
Karena adanya perbedaan pandangan investor terhadap harga saham tersebut maka terbentuklah jumlah permintaan dan penawaran yang berubah-ubah setiap waktunya. Perubahan ini menyebabkan terjadinya fluktuasi pada harga saham sehingga menyebabkan munculnya sebuah volatilitas atau besarnya jarak antara harga naik dan harga turun pada saham tersebut. Saham dengan volatilitas tinggi berarti harga saham naik dengan cepat lalu seketika turun dengan cepat sehingga memunculkan selisih yang besar antara harga terendah dengan harga tertingginya dalam suatu waktu. Berikut ditampilkan tabel selisih antara harga saham tertinggi dan harga saham terendah dari 5 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2013-2017:
Tabel 1.1
Volatilitas Harga Saham Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Periode 2013-2017
Kode
Perusahaan Tahun
Harga Saham Per Lembar Tertinggi
(RP.)
Harga Saham Per Lembar Terendah (Rp.) Volatilitas (%) SMGR 2013 19.150 11.350 68.72 2014 17.400 13.500 28.89 2015 16.475 7.100 132.04 2016 11.875 8.050 47.52
Lanjutan Tabel 1.1
Kode
Perusahaan Tahun
Harga Saham Per Lembar Tertinggi
(Rp.)
Harga Saham Per Lembar Terendah (Rp.) Volatilitas (%) GGRM 2013 57.800 32.000 80.63 2014 64.250 39.700 61.84 2015 64.000 39.500 62.03 2016 77.950 52.550 48.33 2017 83.800 60.050 39.55 ASII 2013 8.300 6.050 37.19 2014 8.050 6.225 29.32 2015 8.575 4.975 72.36 2016 8.875 5.700 55.70 2017 9.350 7.625 22.62 ICBP 2013 6.700 3.800 76.32 2014 6.700 4.900 36.73 2015 13.000 5.450 138.53 2016 10.275 6.425 59.92 2017 9.225 8.075 14.24 INDF 2013 8.000 5.350 49.53 2014 7.800 6.325 23.32 2015 7.725 4.560 69.41 2016 9.200 5.175 77.78 2017 9.000 7.275 23.71
Sumber: finance.yahoo.com 2019 (data diolah).
Pada Tabel 1.1 dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan selisih antara harga saham tertinggi dan harga saham terendah untuk masing-masing perusahaan setiap tahunnya. Harga saham tertinggi dimiliki oleh PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) pada tahun 2017 sebesar Rp83.800,-. Sedangkan harga saham terendah dimiliki oleh PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) pada tahun 2013 sebesar Rp3.800,-. Untuk membandingkan persentase volatilitas harga saham masing-masing perusahaan, dapat dilihat dalam Gambar 1.1 sebagai berikut:
Sumber: finance.yahoo.com 2019(data diolah)
Gambar 1.1
Grafik Persentase Volatilitas Harga Saham Perusahaan Manufaktur yangTerdaftar di BEI Periode 2013-2017
Pada Gambar 1.1 terlihat bahwa volatilitas harga saham perusahaan manufaktur dari tahun 2013-2017 memiliki tingkat yang berbeda-beda untuk setiap perusahaannya. Perusahaan yang memiliki tingkat volatilitas tertinggi pada harga sahamnya adalah PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) yang memiliki tingkat volatilitas sebesar 138.53 persen pada tahun 2015. Hal ini dapat terjadi karena adanya jarak yang besar antara harga saham tertinggi dan harga saham terendah pada perusahaan tersebut. Pada tahun 2015 PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. memiliki harga saham tertinggi sebesar RP13.000,- dan di tahun yang sama perusahaan tersebut memiliki harga saham terendah sebesar Rp5.450,-. Selisih yang besar ini menyebabkan perusahaan memiliki tingkat
2013 2014 2015 2016 2017 SMGR 68,72% 28,89% 132,04% 47,52% 29,45% GGRM 80,63% 61,84% 62,03% 48,33% 39,55% ASII 37,19% 29,32% 72,36% 55,70% 22,62% ICBP 76,32% 36,73% 138,53% 59,92% 14,24% INDF 49,53% 23,32% 69,41% 77,78% 23,71% 0,00% 20,00% 40,00% 60,00% 80,00% 100,00% 120,00% 140,00% 160,00%
Pada Gambar 1.1 juga terlihat bahwa PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) merupakan perusahaan yang memiliki tingkat volatilitas terendahpada harga sahamnya ditahun 2017dengan tingkat volatilitas sebesar 14.24 persen. Hal ini disebabkan karena jumlah selisih antara harga saham tertinggi dan harga saham terendah kecil. Pada tahun 2017 Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. memiliki harga saham tertinggi sebesar Rp9.225,- dan harga saham terendah sebesar Rp8.075,- yang menyebabkan perusahaan ini memiliki tingkat volatilitas yang rendah pada harga sahamnya di tahun tersebut.
Ada berberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya fluktuasi pada harga saham yang dapat meningkatkan volatilitas pada harga saham tersebut, diantaranya jumlah dividen per lembar saham yang dibagikan perusahaan kepada pemegang saham, perubahan pendapatan perusahaan, dan jumlah hutang yang dimiliki oleh perusahaan tersebut.
Menurut Kamaludin & Indriani (2018) kebijakan dividen mencakup keputusan mengenai apakah laba akan dibagikan kepada pemegang saham atau akan ditahan untuk reinvestasi dalam perusahaan. Berikut ditampilkan tabel dan grafik dividen per lembar saham perusahaan manufaktur periode 2013-2017:
Tabel 1.2
Dividen Per Lembar Saham Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar diBEIPeriode 2013-2017
Kode Perusahaan Dividen Per Lembar Saham (Rp)
2013 2014 2015 2016 2017 SMGR 407 375 305 305 136 GGRM 800 800 2.600 2.600 2.600 ASII 216 216 177 168 185 ICBP 186 190 128 154 162 INDF 142 220 168 235 237
Sumber: Data sekunder 2019 (data diolah)
Gambar1.2
Grafik Dividen Per Lembar Saham Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Periode 2013-2017
Berdasarkan Tabel 1.2 diatas terlihat bahwa setiap perusahaan memiliki dividen yang dibagikan kepada pemegang saham dalam jumlah yang berbeda untuk setiap lembar sahamnya. Jumlah dividen per lembar saham yang paling besar dibagikan adalah saham milik PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) yang membagikan dividen sebesar Rp2.600,- selama 3 tahun berturut-turut yaitu pada tahun 2015, 2016, dan 2017. Sedangkan jumlah dividen per lembar saham yang paling sedikit di bagikan adalah saham milik PT Indofood CBP Sukses
2013 2014 2015 2016 2017 SMGR Rp407 Rp375 Rp305 Rp305 Rp136 GGRM Rp800 Rp800 Rp2.600 Rp2.600 Rp2.600 ASII Rp216 Rp216 Rp177 Rp168 Rp185 ICBP Rp186 Rp190 Rp128 Rp154 Rp162 INDF Rp142 Rp220 Rp168 Rp235 Rp237 0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 1000 1100 1200 1300 1400 1500 1600 1700 1800 1900 2000 2100 2200 2300 2400 2500 2600 2700 SMGR GGRM ASII ICBP INDF
Pada Gambar 1.2 terlihat bahwa PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) membagikan dividen paling besar dibandingkan dengan perusahaan yang lain. Meskipun pada tahun 2013 dan 2014 jumlah dividen yang dibagikan lebih rendah dari pada tahun 2015, 2016, dan 2017 yaitu sebesar Rp800,- per lembar saham, namun jumlah ini masih lebih besar dari jumlah dividen yang dibagikan oleh perusahaan lain baik di tahun yang sama maupun ditahun yang berbeda. Sedangkan untuk dividen yang jumlahnya paling sedikit dibagikan secara keseluruhan adalah PT Indofood CBP Sukses MakmurTbk. (ICBP) yang membagikan dividen per lembar saham dibawah Rp200,- setiap tahunnya.
Berdasarkan Tabel 1.2 dan Gambar 1.2 diatas dapat disimpulkan bahwa dividen yang dibagikan kepada pemegang saham dapat menggambarkan bahwa perusahaan tersebut berada dalam kondisi baik dan memperoleh laba sehingga mengindikasikan bahwa perusahaan tersebut dapat bertahan untuk periode selanjutnya. Jika Tabel 1.2 mengenai pembagian dividen dihubungkan dengan Tabel 1.1tentang harga saham perusahan tersebut maka dapat terlihat ada suatu hubungan yang terbentuk antara besarnya jumlah dividen yang di bagikan dengan harga saham yang terbentuk di pasar modal.Syahyunan (2015) menjelaskan bahwa didalam prakteknya, perusahaan cenderung akan memberikan jumlah dividen yang relatif stabil atau meningkat secara teratur karena ada asumsi bahwa investor melihat kenaikan dividen sebagai suatu pertanda baik bahwa perusahaan akan memiliki prospek yang cerah kedepannya.
Berdasarkan pernyataan ini kita dapat menyimpulkan bahwa apabila dividen yang dibagikan relatif stabil atau meningkat, maka akan menstabilkan
atau meningkatkan harga saham perusahaan tersebut. Pada Tabel 1.1 dan 1.2 terlihat bahwa PT Semen Indonesia (PERSERO) Tbk. (SMGR) mengalami penurunan harga saham pada harga saham tertingginya setiap tahun. Salah satu penyebabnya adalah karena jumlah dividen yang dibagikan oleh SMGR terus mengalami penurunan setiap tahunnya. Sedangkan pada PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) yang membagikan jumlah dividennya secara stabil dan cenderung meningkat setiap tahunnya mengakibatkan harga saham tertingginya juga ikut mengalami pengingkatan secara stabil.
Jannah & Haridhi (2016) menyatakan bahwa informasi mengenai kebijakan dividen berkaitan dengan teori sinyal, karena informasi tersebut akan memberikan sinyal kepada investor mengenai kinerja perusahaan dalam jangka panjang dan akan menarik minat investor untuk menanamkan dananya pada saham tersebut, sehingga permintaan saham akannaik dan pada akhirnya menyebabkan nilai saham juga akan naik. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin besar pembayaran dividen, semakin kuat sinyal profitabilitas perusahaan, sehingga mengurangi risiko investor dalam berinvestasi dan rendahnya volatilitas harga saham.
Menurut Bathalaet al. (1994), earning volatilitymenunjukkan naik dan turunnya laba yang dihasilkan oleh perusahaan. Naik dan turunnya laba perusahaan merupakan tingkat perubahan yang cepat dan sangat sulit untuk di prediksi pergerakannya. Berikut ditampilkan perubahan jumlah laba sebelum pajak penghasilan (EBIT) perusahaan manufaktur periode 2013-2017 pada Tabel 1.3 dan Gambar 1.3.
Tabel 1.3
Perubahan EBIT Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Periode 2013-2017(dalam Jutaan Rupiah)
Kode Perusahaan Tahun EBIT (Rp) Perubahan EBIT (%)
SMGR 2012 6.287.454 2013 6.920.399 10.07 2014 7.077.276 2.27 2015 5.850.923 -17.33 2016 5.084.621 -13.10 2017 2.746.546 -45.98 GGRM 2012 5.530.646 2013 5.936.204 7.33 2014 7.254.713 22.21 2015 8.635.275 19.03 2016 8.931.136 3.43 2017 10.436.512 16.86 ASII 2012 27.898.000 2013 27.523.000 -1.34 2014 19.630.000 -28.68 2015 27.058.000 37.84 2016 22.253.000 -17.76 2017 29.196.000 31.20 ICBP 2012 3.027.190 2013 2.966.990 -1.99 2014 3.445.380 16.12 2015 4.009.634 16.38 2016 4.989.254 24.43 2017 5.206.561 4.36 INDF 2012 6.309.756 2013 4.666.958 -26.04 2014 6.340.185 35.85 2015 4.962.084 -21.74 2016 7.385.228 48.83 2017 7.658.554 3.70
Sumber: Data sekunder 2019(data diolah).
Berdasarkan Tabel 1.3 diatas, dapat dilihat bahwa PT Astra Internasional Tbk. (ASII) memiliki EBIT terbesar dari jumlah EBIT perusahaan lainnya. Pada tahun 2013, PT Astra Internasional Tbk. tercatat telah mencapai EBIT tertinggi
sebesar Rp29.196.000.000.000,- dengan persentase perubahan laba sebesar 31.20 persen dari tahun sebelumnya. Perubahan yang positif ini menandakan bahwa perusahaan mengalami kenaikan laba dari jumlah laba yang di dapatkan perusahaan di tahun sebelumnya. Sedangkan PT Indofood CBP Sukses MakmurTbk. (ICBP) merupakan perusahaan dengan jumlah EBIT yang paling rendah dari perusahaan lainnya. Ditahun 2013 PT Indofood CBP Sukses MakmurTbk. memiliki jumlah EBIT terendah dari tahun lainnya yaitu sebesarRp2.966.990,- dengan persentase perubahan EBIT -1.99 persen dari tahun sebelumnya. Perubahan yang negatif ini menandakan bahwa perusahaan mengalami penurunan laba dari jumlah laba yang didapatkan perusahaan di tahun sebelumnya.
Selanjutnya untuk membandingkan persentase perubahan laba masing-masing perusahaan, dapat dilihat dalam Gambar 1.3 sebagai berikut:
Sumber: Data sekunder 2019(data diolah).
SMGR GGRM ASII ICBP INDF
2013 10,07% 7,33% -1,34% -1,99% -26,04% 2014 2,27% 22,21% -28,68% 16,12% 35,85% 2015 -17,33% 19,03% 37,84% 16,38% -21,74% 2016 -13,10% 3,43% -17,76% 24,43% 48,83% 2017 -45,98% 16,86% 31,20% 4,36% 3,70% -60,00% -40,00% -20,00% 0,00% 20,00% 40,00% 60,00% 2013 2014 2015 2016 2017
Grafik Perubahan EBIT Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Periode 2013-2017
Pada Gambar 1.3 terlihat masing-masing perusahaan mengalami perubahan EBIT setiap tahunnya. Perubahan EBIT terbesar terjadi pada PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF). Di tahun 2013 terjadi perubahan laba sebesar -26.04 persen dari tahun sebelumnya. Kemudian di tahun 2014 terjadi perubahan berupa kenaikan EBIT yang pesat sebesar 35.85 persen dari tahun 2013. Ditahun 2015 kembali terjadi perubahan berupa penurunan EBIT sebebar -21.74 persen dari tahun 2014. Kemudian di tahun 2016 kembali terjadi perubahan berupa kenaikan EBIT sebesar 48.83 persen dari tahun 2015. Kemudian pada tahun 2017, perusahaan mengalami kenaikan perolehan EBIT dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu sebesar -3.70 persen.
Sedangkan perusahaan dengan perubahan EBIT paling kecil dan cenderung stabil adalah PT Gudang Garam Tbk. (GGRM). PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) mengalami kenaikan perubahan EBIT yang positifuntuk setiap tahun yaitu 7.33 persen pada tahun 2013, 22.21 persen pada tahun 2014, 19.03 persen pada tahun 2015, 3.43 persen pada tahun 2016, dan 16.86 persen pada tahun 2017.
Perubahan laba yang positif dan negatif ini menjadi salah satu pertimbangan bagi para investor terkait keputusannya menanamkan modal di perusahaan tersebut. Perubahan dengan laba yang positif menandakan bahwa perusahan tersebut telah berhasil dalam melaksanakan perencanaanya untuk memajukan perusahaan melalui kegiatan operasinya.
perencanaan yang dilakukan oleh perusahaan terkait dengan strategi untuk memajukan perusahaan namun gagal dicapai sehingga perusahaan tersebut terlihat telah gagal dalam mengambil keputusan dan beresiko akan kehilangan kepercayaan karena dianggap tidak baik dalam menentukan perencanaan dan menyusun strategi.
Jika Tabel 1.3 mengenai perubahan EBIT dihubungkan dengan Tabel 1.1 tentang harga saham perusahan tersebut maka dapat terlihat ada suatu hubungan yang terbentuk antara besarnya perubahan perolehan laba sebelum pajak penghasilan dengan harga saham yang terbentuk di pasar modal. Seperti pada PT Semen Indonesia (PERSERO) Tbk. (SMGR) yang mengalami penurunan perubahan EBIT untuk setiap tahunnya. Hal ini juga akan menurunkan harga saham yang terbentuk di pasar modal.
Hal ini terlihat pada tahun 2013 persentase perubahan EBIT PT Semen Indonesia (PERSERO) Tbk. sebesar 10.07 persen dengan perolehan harga saham tertinggi sebesar Rp19.150,-. Kemudian pada tahun 2014 persentase perubahan EBIT mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya namun persentase perubahannya mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 2.27 persen dan diikuti dengan penurunan harga saham tertinggi sebesar Rp 17.400,-. Kemudian pada tahun 2015 persentase perubahan EBIT mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yaitu sebesar -17.33 persen dan diikuti dengan penurunan harga saham tertinggi sebesar Rp16.475,-. Kemudian pada tahun 2016 persentase perubahan EBIT kembali mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yaitu sebesar -13.10 persen dan diikuti dengan
penurunan kembali harga saham tertinggi sebesar Rp11.875,-. Kemudian pada tahun 2017 persentase perubahan EBIT kembali mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yaitu sebesar -45.98 persen dan diikuti dengan penurunan kembali harga saham tertinggi sebesar Rp11.100,-.
Leverageatau rasio solvabilitas adalah rasio keuangan yang mengukur kemampuan perusahaan dalam melunasi seluruh hutang-hutangnya atau rasio ini dapat pula digunakan untuk mengetahui bagaimana perusahaan mendanai kegiatan usahanya apakah lebih banyak menggunakan liabilitas atau ekuitas (Syahyunan, 2015).
Dalam hal ini apabila perusahaan melakukan kegiatan usahanya dengan menggunakan liabilitas yang terlalu besar dibandingkan dengan jumlah ekuitas yang dimiliki maka kemungkian besar perusahaan tersebut akan mengalami kesulitan dalam melunasi hutang tersebut yang nantinya akan menjadikan perusahaan tersebut mengalami kebangkrutan. Hal ini dapat merugikan berbagai pihak khususnya para investor yang menanamkan modalnya di perusahaan tersebut. Berikut ditampilkan daftar total liabilitas dan persentase perubahan liabilitas perusahaan manufaktur :
Tabel 1.4
Perubahan Liabilitas Perusahaan Manufaktur
yang Terdaftar di BEI Periode 2013-2017(Dalam Jutaan Rupiah)
Kode Perusahaan Tahun Total Liabilitas (Rp) Perubahan Liabilitas (%)
SMGR 2012 8.414.229 2013 8.988.908 6,83 2014 9.312.214 3,60 2015 10.712.320 15,04 2016 13.652.504 27,45 GGRM 2012 14.903.612 2013 21.353.980 43,28 2014 25.099.875 17,54
2015 25.497.504 1,58
2016 23.387.406 -8,28
Lanjutan Tabel 1.4
Kode Perusahaan Tahun Total Liabilitas (Rp) Perubahan Liabilitas (%)
SII 2017 24.572.266 5,07 2012 92.460.000 2013 107.806.000 16,60 2014 11.584.000 -89,25 2015 118.902.000 926,43 ICBP 2016 121.949.000 2,56 2017 139.317.000 14,24 2012 5.835.523 2013 8.001.739 37,12 2014 10.455.187 30,66 INDF 2015 10.173.713 -2,69 2016 10.401.125 2,24 2017 11.295.184 8,60 2012 25.294.168 2013 39.719.660 57,03
Sumber: Data sekunder 2019 (data diolah)
Pada Tabel 1.4 terlihat bahwa PT Astra Internasional Tbk.(ASII) memiliki jumlah liabilitas atau hutang terbesar dibandingkan dengan perusahaan lain untuk setiap tahunnya. Pada tahun 2017, PT Astra Internasional Tbk. memiliki total liabilitas terbesar dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp139.317.000.000.000,-. Sedangkan perusahaan dengan jumlah liabilitas atau hutang terkecil adalah PT Indofood CBP Sukses MakmurTbk. (ICBP). Pada tahun 2013,PT Indofood CBP Sukses MakmurTbk. memiliki total liabilitas sebesar Rp5.835.523.000.000,- dan merupakan jumlah total liabilitas terendah yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Untuk membandingkan persentase perubahan total liabilitas masing-masing perusahaan, dapat dilihat dalam Gambar 1.4 sebagai
berikut:
Sumber: Data sekunder 2019 (data diolah).
Gambar 1.4
Grafik Perubahan Total Liabilitas Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Periode 2013-2017 (Dalam Persen)
Berdasarkan Gambar 1.4 terlihat bahwa PT Astra Internasional Tbk. (ASII) memiliki persentase perubahan liabilitas atau hutang yang cukup besar jika dibandingkan dengan perusahaan yang lainnya. Pada tahun 2015 perusahaan ini memiliki total liabilitas sebesar Rp118.902.000.000.000,- sedangkan ditahun sebelumnya yaitu tahun 2014 perusahaan tersebut hanya memiliki total liabilitas sebesar Rp11.584.000.000.000,- saja. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan jumlah total liabilitas yang besar dan mengakibatkan persentase perubahannya melonjak naik sebesar 926.43 persen.
Pada Tabel 1.4 juga terlihat bahwa PT Semen Indonesia (PERSERO) Tbk. (SMGR) merupakan perusahaan dengan tingkat perubahan liabilitas yang
SMGR GGRM ASII ICBP INDF
2013 6,83% 43,28% 16,60% 37,12% 57,03% 2014 3,60% 17,54% -89,25% 30,66% 15,32% 2015 15,04% 1,58% 926,43% -2,69% 6,35% 2016 27,45% -8,28% 2,56% 2,24% -21,51% 2017 35,69% 5,07% 14,24% 8,60% 7,71% -200,00% 0,00% 200,00% 400,00% 600,00% 800,00% 1000,00% 2013 2014 2015 2016 2017
relatif lebih kecil dibandingkan dengan perusahaan lainnya. Ini terbukti dengan adanya kenaikan jumlah liabilitas sebesar 6.83 persen ditahun 2013; 3.60 persen ditahun 2014; 15.04 persen ditahun 2015; 27.45 persen ditahun 2016; dan 35.69 persen ditahun 2017. Sayangnya, kenaikan liabilitas ini tidak dapat di kategorikan kedalam suatu peningkatan yang baik karena perusahaan dengan jumlah liabilitas yang tinggi dan terus bertambah tanpa adanya pengurangan merupakan pertanda bahwa perusahaan tersebut tidak memiliki kemampuan untuk melunasi hutang-hutangnya.
Hal ini terlihat pada PT Semen Indonesia (PERSERO) Tbk. (SMGR) yang dalam kurun waktu 5 tahun tidak terjadi pengurangan jumlah total liabilitas yang dimilikinya. Sedangkan pada empat perusahaan lainnya, mereka memiliki persentase perubahan total liabilitas yang negatif, seperti PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) pada tahun 2016 sebesar -8.28 persen; PT Astra Internasional Tbk. (ASII) pada tahun 2014 sebesar -89.25 persen; PT Indofood CBP Sukses MakmurTbk. (ICBP) pada tahun 2015 sebesar -2.69 persen; dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) pada tahun 2016 sebesar -21.51 persen.
Persentase perubahan yang negatif ini menandakan bahwa terjadi pengurangan jumlah liabilitas atau hutang dari jumlah liabilitas di tahun sebelumnya. Artinya perusahaan tersebut telah melunasi sebagian hutangnya yang mengakibatkan jumlah liabilitas atau hutang menjadi berkurang.Jika Tabel 1.4 mengenai perubahan EBIT dihubungkan dengan Tabel 1.1 tentang harga saham perusahan tersebut maka dapat terlihat ada suatu hubungan yang terbentuk antara besarnya perubahan liabilitas perusahaan dengan harga saham
yang terbentuk di pasar modal.Seperti pada PT Semen Indonesia (PERSERO) Tbk. (SMGR) yang mengalami kenaikan perubahan liabilitas untuk setiap tahunnya. Hal ini menjadi salah satu faktor yang menurunkan harga saham yang terbentuk di pasar modal.
Pada tahun 2013 PT Semen Indonesia (PERSERO) Tbk. memiliki total liabilitas sebesar Rp8.988.908,- dengan persentase perubahan sebesar 6.83 persen dari tahun sebelumnya serta harga saham tertinggi sebesar Rp19.150,-. Kemudian pada tahun 2014 total liabilitas perushaan mengalami kenaikan sebesar Rp9.312.214 dengan persentase perubahan liabilitas sebesar 3.60 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal ini menyebabkan perusahaan mengalami penurunan harga saham tertingginya menjadi Rp17.400,-. Kemudian pada tahun 2015 total liabilitas perusahaan kembali mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp10.712.320,- dengan persentase perubahan sebesar 15.04 persen. Hal ini menyebabkan harga saham tertinggi perusahaan kembali mengalami penurunan menjadi Rp16.475,-. total liabilitas perusahaan juga mengalami kenaikan sebesar Rp13.652.504,- pada tahun 2016 dengan persentase perubahan sebesar 27.45 persen dan Rp18.524.450,- pada tahun 2017 dengan persentase sebesar 35.69 persen. Hal ini juga mengakibatkan harga saham tertinggi perusahaan kembali mengalami penurunan yaitu sebesar Rp11.875 pada tahun 2016 dan Rp11.100,- pada tahun 2017.
Berdasarkan penjelasan diatas,dapat disimpulkan bahwa ketiga faktor tersebut yaitu kebijakan dividen, earning volatility, dan leveragemerupakan faktor dapat mempengaruhi naik atau turunnya harga saham perusahaan manufaktur di
pasar modal.
Penelitian mengenai pengaruh kebijakan dividen, earning volatility, dan leverage sudah pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Penelitian Jannah & Haridhi (2016)dan Surahmat et al(2017)menyatakan pengaruh kebijakan dividen terhadap volatilitas harga saham adalah negatif signifikan, sedangkan penelitian yang dilakukan Priana & Muliartha (2017), menyatakan bahwa pengaruh kebijakan dividen terhadap volatilitas harga saham adalah positif.
Penelitian mengenai pengaruh earning volatility terhadap volatilitas harga saham, penelitian Rowena & Hendra (2017) dan penelitian Surahmat et al (2017), menyatakan bahwa pengaruh earning volatility terhadap volatilitas harga saham adalah negatif signifikan. Sedangkan penelitian Jannah & Haridhi (2016), menyatakan bahwa pengaruh earning volatility terhadap volatilitas harga saham adalah positif signifikan.
Penelitian untuk melihat pengaruh leverage terhadap volatilitas harga saham dalam penelitian Selpiana & Badjra (2018) dan Sova (2013), menyatakan bahwa pengaruh leverage terhadap volatilitas harga saham adalah positif tidak signifikan, sedangkan penelitian Priana & Muliartha (2017) menyatakan pengaruh yang negatif dan dalam penelitian Jannah & Haridhi (2016) Pengaruh leverage terhadap volatilitas harga saham dinyatakan positif dan signifikan.
Berdasarkan fenomena yang ada dan hasil penelitan terdahulu dapat disimpulkan bahwa masih terdapat reaserch gap atau adanya ketidakkonsistenan serta perbedaan pada hasil penelitian terdahulu yang telah dilakukan. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitan dengan
judul “Pengaruh Kebijakan Dividen, Earning Volatility, dan
LeverageTerhadap Volatilitas Harga Saham Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijelaskan diatas, maka peneliti akan merumuskan masalah dalam penelitian ini. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Apakah Dividend Payout Ratio (DPR) berpengaruh terhadap volatilitas harga