• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendalaman Karakter Ruang .1 Mata Pelajaran Sains

Dalam dokumen 3. PERENCANAAN BANGUNAN (Halaman 88-155)

THE BOARD OF EDUCATION

3.4 Pendalaman Karakter Ruang .1 Mata Pelajaran Sains

Standar kompetensi lulusan SMP untuk mata pelajaran Sains dirumuskan dengan mempertimbangkan standar kompetensi yang telah dikuasai oleh lulusan Sekolah Dasar dan juga tingkat perkembangan mental siswa SMP. Oleh karena posisi institusi SMP yang berkeinginan untuk melanjutkan baik ke SMA maupun ke SMK, maka rumusan standar kompetensi untuk mata pelajaran juga memperhatikan hal-hal tersebut.

Standar kompetensi untuk suatu mata pelajaran juga tidak dapat lepas dari karakteristik mata pelajaran yang bersangkutan. Ada mata pelajaran yang selain memiliki peluang untuk mengembangkan kemampuan aspek kognitif, juga memiliki peluang lebih banyak untuk mengembangkan kemampuan psikomotor dibandingkan mata pelajaran lainnya. Demikian pula pengembangan aspek afektif, tidak akan sama antara mata pelajaran yang satu dengan mata pelajaran yang lain.

Mata pelajaran Sains memiliki peluang yang seimbang baik untuk mengembangkan kemampuan dalam aspek kognitif, psikomotor, maupun afektif.

Untuk suatu materi tertentu dari Sains ada yang bersifat hierarkhis, ada pula yang tidak. Materi yang hierarkhis harus dipelajari dengan mendahulukan materi yang menajdi prasyaratnya.

Sebagi ilmu, Sains memiliki aspek proses dan produk. Oleh karena itu, karakteristik ini pun perlu diperhatikan

3.4.1.1 Karakteristik Keilmuan Sains

Pada aspek Biologis, Sains mengkaji berbagai persoalan yang berkait dengan berbagai fenomena pada makhluk hidup pada berbagai tingkat organisaasi kehidupan dan interaksinya dengan faktor lingkungan, pada dimensi ruang dan waktu. Untuk aspek fisik, Sains memfokuskan diri pada benda tak hidup, mulai dari benda tak hidup yang dikenal dalam kehidupan sehari-hari seperti air, tanah dan udara, batuan dan logam, sampai dengan benda yang berada di luar bumi dalam susunan tata surya dan sistem galaksi di alam semesta. Untuk aspek kimia, Sains mengkaji berbagai fenomena kimia baik makhluk hidup maupun pada

makhluk tak hidup yang ada di alam semesta. Ketiga aspek tersebut dikaji secara simultan sehingga menghasilkan konsep yang utuh , yang menggambarkan konsep-konsep dalam bidang kajian Sains. Khusus untuk materi bumi dan antariksa dapat dikaji secara lebih dalam dari segi struktur maupun kejadiannya.

Dalam penerapannya, Sains juga memiliki peranan penting dalam perkembangan peradaban manusia, baik dalam hal manusia mengembangkan berbagai teknologi yang dipakai untuk menunjang kehidupannya, maupun dalam hal menerapkan kosep Sains dalam kehidupan bermasyarakat, baik aspek politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan-keamanan. Oleh karena itu, struktur Sains juga tidak dapat dilepaskan dari peranan Sains dalam hal tersebut.

3.4.1.2 Struktur Keilmuan Sains

Agar siswa SMP dapat mempelajari Sains dengan benar maka Sains harus dikenalkan secara utuh baik menyangkut objek, persoalan maupun tingkat organisasi dari benda-benda di jagat raya

Dimensi objek sains meliputi :

• Benda-benda hidup mencakup (a) plantae(tumbuhan) (b) animalium (hewan) termasuk di dalamnya manusia © fungi (jamur) (d) protista, (e) archebacteria, dan (f) eubacteria.

• Benda tak hidup mencakup (a) bumi (tanah, batuan , air, udara), (b) tata surya,

© galaksi, dan (d) jagat raya (alam semesta)

Berdasarakn tinjauan dari segi dimensi tingkat organisasi benda dalam alam dapat dibuat garadasi mulai dari (a) sub-atom (proton, elektron dan neuron), (b) atom , © molekul, (d) unsur, senyawa dan campuran, (e) zat, dan (f) benda.

Dimensi tema/persoalan Sains dapat dikaji dari aspek-aspek berikut (Walden University, 2002), yaitu :

• Tema /persolaan Sains sebagai proses penemuan (sience as inquiry):

menyangkut (a) penemuan ilmiah (b) metode ilmiah

• Tema/persoalan Sains dari aspek fisika (physical scoience) menyangkut : (a) sifat materi dan perubahan sifat dalam materi, (b) gerak dan gaya, © transfer energi

• Tema/persoalan Sains dari aspek biologi (living science) menyangkut : (a) struktur dan fungsi dalam sistem kehidupan, (b) reproduksi dan penurunan sifat, © regulasi dan tingkah laku, (d) populasi dan ekosistem, (e) keragaman dan adaptasi organisme

• Tema /persoalan Sains dari aspek bumi dan antrariksa (earth and space science) ,mengkaji : (a) struktur sistem bumi, (b) sejarah pembentukan bumi,

© bumi dan sistem tata surya

• Tema/persoalan Sains dalam hubungannya dengan teknologi (science and technology) mengkaji : (a) rancangan-rancangan teknologi, dan (b) keterkaitan sains dengan teknologi

• Tema/persoalan Sains dari perspektif personal dan sosial (personal and social perspective) mengkaji : (a) kesehatan diri , ( b) populasi , sumber daya dan lingkungan © bencana alam, (d) resiko dan keuntungan , serta (e) sains, teknologi dan masyarakat

• Tema /persoalan Sains dari sisi sejarah dan hakikat Sains (history and natural of science) mengkaji : (a) Sains sebagi hasil rekayasa/usaha keras manusia (b) hakikat Sains sebagai ilmu, dan © sejarah perkembangan Sains sebagai ilmu

Khusus untuk tema /persoalan yang berkait dengan aspek biologi dapat pula didekati dengan apa yang sudah dikembangkan oleh BSCS (BSCS,1996) yang meliputi :

• Pola-pola evolusi dan produk perubahan (evolution: pattern and product of change)

• Interaksi dan interdependensi (interaction and interdependence)

• Penjagaan dan pemeliharaan keseimbangan yang dinamis (maintenance of a dynamic equilibirium)

• Pertumbuhan , perkembangan, diferensiasi (growth, development, and differentiation)

• Kelangsungan genetik (genetic continuum)

• Energi, materi dan organisasi (energy, matter, and organisation)

• Sains, teknologi dan masyarakat (science , technology, and society )

Bentley dan Watts (1989) mengemukakan bahwa persoalan atau tema Sains dapat dikaji dari aspek keilmuan yang akan dikembangkan pada diri siswa , yakni

mencakup aspek mengkomunikasikan konsep secara ilmiah, aspek pengembangan konsep dasar Sains, dan pengembangan kesadaran Sains dalam konteks ekonomi dan sosial

Menurut Djohar (2000) , kajian sains untuk SMP jika ditinjau dari dimensi objek, tingkat organisasi objek, dan tema/persoalannya aspek Fisika, Kimia dan Biologi, akan banyak sekali jenis kajiannya. Oleh karena itu agar siswa SMP dapat mengenal kebulatan Sains sebagi ilmu , maka seluruh tema/persoalan Sains pada berbagai jenis objek dan tingkat organisasinya dapat dijadikan bahan kajian, sepanjang tetap dalam kerangka pengenalan. Dengan kata lain, kajian sains untuk SMP hendaknya luas untuk memenuhi keutuhannya. Dengan kata lain bahwa Sains sebagai mata pelajaran hendaknya diajarkan secara utuh atau terpadu, tidak dipisah-pisahkan antara Biologi, Fisika, Kimia, dan bumi-antariksa. Selain tidak jelasnya keutuhan konsep Sains sebagai ilmu, juga berat bagi siswa SMP karena konsep Sains menjadi kumpulan dari konsep Biologi ditambah dengan Fisika, Kimia dan bumi-antariksa. Hal ini mengingat tingkat berpikir sebagian besar siswa SMP masih pada taraf perubahan/transisi dari fase konkret ke fase operasi formal . Hanya sebagian kecil siswa SMP yang sudah dapat benar-benar pada tataran operasi formal, karena fase formal mulai dicapai anak pada usia 14 tahun (Carin dan Sund, 1989)

3.4.1.3 Metode dan Sikap Ilmiah Bidang Sains

Sains sebagai ilmu terdiri dari produk dan proses . Produk Sains terdiri atas fakta (misalnya : orang menghirup udara dan mengeluarkan udara dari hidungnya, biji kacang hijau muncul hipokotil dan epikotilnya dan akan betambah panjang ukurannya saat ditanam pada kapas yang disiram air), konsep (misalnya : udara yang dihirup ke dalam paru-paru lebih banyak kandungan oksigennya dibandingkan dengan udara yang dikeluarkan dari paru-paru, logam memuai jika dipanaskan), prinsip (misalnya : kehidupan meemrlukan energi, benda tak hidup tidak mengalami pertumbuhan), prosedur (misal : pengamatan, pengukuran, tabulasi data, analisis data), teori (misalnya teori evolusi, teori asal mula kehidupan), hukum dan postulat (misal hukum Boyle, Archimedes, Postulat

Kock). Semua itu merupakan produk yang diperoleh melalui serangkaian proses penemuan ilmiah menurut metoda ilmiah yang didasari oleh sikap ilmiah.

Ditinjau dari segi proses, Sains memiliki berrbagai keterampilan Sains misalnya (a) mengidentifikasi dan menemukan variabel tetap/bebas dan variabel berubah, (b) menetukan apa yang diukur dan diamati, © keterampilan mengamati menggunakan sebanyak mungkin indera (tidak hanya indera penglihatan), mengumpulkan angka yang relevan, mencari perbedaan dan kesamaan, mengklasifikasikan, (d) keterampilan dalam menafsirkan hasil pengamatan seperti mencatat secara terpisah setiap jenis pengamatan dan dapat menghubung-hubungkan hasil pengamatan , (e) keterampilan menemukan suatu pola dalam seri pengamatan dan keterampilan dalam meramalkan apa yang akan terjadi berdasarkan hasil pengamatan, (g) keterampilan menggunakan alat/bahan dan mengapa alat/bahan itu digunakan. Selain itu adalah keterampilan dalam menerapkan konsep , baik penerapan konsep dalam situasi baru, menggunakan konsep dalam pengalaman baru untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi, maupun dalam menyusun hipotesis.

Keterangan Sains juga menyangkut keterampilan dalam berkomunikasi seperti (a) keterampilan menyusun laporan secara sistematis, (b) menjelaskan hasil percobaan atau pengamatan , © cara mendiskusikan hasil percobaan, (d) cara membaca grafik atau tabel, dan (e) keterampilan mengajukan pertanyaan , baik bertanya apa, mengapa, dan bagaimana, maupun bertanya untuk meminta penjelasan serta keterampilan mengajukan pertanyaan yang berlatar belakang hipotesis. Jika aspek-aspek proses ilmiah tersebut disusun dalam suatu urutan tertentu dan digunakan untuk memecahkan suatu permasalahan yang dihadapi , maka rangkaian proses ilmiah itu menurut Towle (1989) menjadi sutu metode ilmiah.

Rezba dkk (1995) mendeskripsikan keterampilan proses Sains yang harus dikembangkan pada diri siswa mencakup kemampuan yang paling sederhana yaitu mengamati, mengukur, sampai dengan kemampuan tinggi yaitu kemampuan bereksperimen.

Menurut Bryce dkk (1990), keterampilan proses Sains mencakup keterampilan dasar (basic skill) sebagi kemampuan yang terendah , kemudian

diikuti dengan keterampilan proses (process skill). Sebagai keterampilan tertinggi adalah keterampilan investigasi (Investigation skill). Keterampilan dasar mencakup : (a) melakukan pengamatan (observation skill) (b) mencatat data (recording skill), © melakukan pengukuran (measurement skill), (d) mengimplementasikan prosedur (procedural skill), dan (e) mengikuti instruksi (following instruction). Keterampilan proses meliputi (a) menginferensi (skill of inference) dan (b) menyeleksi berbagai cara /prosedur(selection of procedures).

Keterampilan investigasi berupa keterampilan merencanakan dan melaksanakan serat melaporkan hasil investigasi. Keterampilan tersebut juga harus didasari oleh sikap ilmiah seperti sikap antusias, ketekunan, kejujuran, dan sebagainya

Mengingat dari perkembangan mental siswa SMP menurut Piaget (Carin dan Sund, 1989) sebagian besar berada pada taraf transisi dari fase konkret ke fase operasi formal, maka diharapkan sudah mulai dilatih untuk mempu berpikir secara abstrak. Oleh karena itu, pembelajaran Sains di SMP, terutama di kelas II hendaknya sudah mengenalkan siswa kepada kemampuan untuk memulai melakukan investigasi/penyelidikan walaupun sifatnya masih sangat sederhana.

Setidaknya siswa sudah mulai dilatih untuk merencanakan pengamatan/percobaan sederhana, mengidentifikasi variabel, merumuskan hipotesis berdasarkan pustaka bukan sekedar menurut dugaan yang rasional berdasrkan logika, mampu melakukan dan melaporkan percobaan baik secara tertulis maupun lisan. Jika hal seperti itu dibiasakan maka hasil belajar yagn dicapai benar-benar akan memuat unsur kognitif, afektif dan psikomotor.

Untuk siswa sekolah menegah, dalam konteks ,melakukan penyelidikan/investigasi sederhana, siswa seharusnya sudah dilatih bagaimana ia harus mengorganisasikan data untuk menjawab pertanyaan, atau bagaimana ia dapat mengorganisasikan kejadian-kejadian untuk dijadikan alasan pembenar yang paling kuat. Selain itu, proses Sains juga mencakup kemampuan untuk mengkomunikasikan baik secara tertulis berupa pembuatan tulisan/ karangan, pemberian label, menggambar, melengkapi peta konsep mengembangkan, melengkapi petunjuk kerja, membuat grafik dan mengkomunikasikan secara lisan kepada orang lain (Walden University, 2000)

Menurut DES (Cavendish ,et all, 1990) proses Sains sekolah menengah sudah berbeda dengan sekolah dasar, yaitu meliputi (a) kegiatan melakuakn observasi, memilih kegiatan observasi yang relevan dengan investigasi/penyelidikannya untuk dipelajari lebih lanjut, © menemukan dan mengidentifikasi pola-pola baru dan menghubungkannya dengan pola-pola yang sudah ada, (d) menyarankan dan menilai penjelasan-penjelsan dari pola-pola yang ada (e) mendesain dan melaksanakan percobaan termasuk melakukan berbagai pengukuran untuk menguji pola-pola yang ada, mengkomunikasikan (baik verbal dalam bentuk matemtika atau grafik) dan menginterpretasikan tulisan-tulisan dan bahan ajar lainnya, (f) memakai peralatan dengan efektif dan hati-hati, (g) menggunakan pengetahuan untuk melaksanakan investigasi, (h) menggunakan pengetahuannya untuk memecahkan problem-problem yang berkaitan dengan teknologi

Mengingat demikian luasnya kawsan kajian keilmuan Sains berdasar ragam objek, ragam tingkat organisasi, dan ragam tema persoalannya , maka dalam membelajarkan siswa untuk menguasai Sains bukan pada banyaknya konsep yang harus dihafal tetapi lebih kepada bagaimana siswa berlatih menemukan konsep-konsep sains melalui metode ilmiah dan sikap ilmiah , dan siswa siap melakukan kerja ilmiah, termasuk dalam hal meningkatkan kreativitas dan mengapresiasi nilai-nilai.

3.4.1.4 Perkembangan Peserta Didik

Usia SMP secara normal berkisar antara 13 tahun sampai 15 tahun.

Namun karena kesempatan dan berbagai faktor lainnya dapat saja seorang anak usia 12 tahun sudah masuk SMP. Menutut Piaget (Carin and Sund), perkembangan mental mereka berbeda dalam masa transisi dari fase konkret ke fase formal yakni fase perkembangan mental yang memungkinkan untuk dilatih mulai berpikir abstrak. Oleh karena itu pembelajaran Sains SMP sudah mulai dibawa ke taraf berpikir abstrak

3.4.1.5 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Sains

Standar kompetensi untuk siswa SMP menggambarkan kemampuan siswa SMP yang sifatnya terukur, yang harus dikembangkan selama proses pembelajaran dari kelas I samapi kelas III. Perumusan standar kompetensi dilakukan dengan memperhatikan kedudukan jenjang pendidkan, sifat atau karkteristik Sains sebagai ilmu, juga tingkat perkembangan mental siswa SMP, serta cakupan ilmu yang akan dipelajari mulai dari kelas I sampai kelas III

Depdiknas telah mengeluarkan dokumen yang memuat rumusan-rumusan kompetensi. Untuk mata pelajaran Sains yang harus dikuasai oleh siswa SMP dalam hal ini adalah standar kompetensi yang menunjukkan keutuhan Sains sebagai mata pelajaran. Rumusan butir-butir standar kompetensi mata pelajaran Sains di SMP adalah

• Aspek kerja ilmiah

Mengenali perkembangan dan hakikat Sains serta melakukan kerja ilmiah dalam bidang Sains

• Aspek Makhluk Hidup dan Proses Kehidupan

Menggunakan alat dan teknik serta keselamatan kerja dalam mengamati gejala kehidupan dengan cermat

Mengaplikasikan konsep keanekaragaman makhluk hidup berdasarkan ciri-ciri kehidupan

Mengidentifikasi komponen ekosistem dan saling ketergantungan antar komponen, serta melakukan upaya pengelolaan lingkungan untuk mengatasi pencemaran dan kerusakan lingkungan.

Mengaitkan hubungan antara struktur dan fungsi jaringan, struktur dan fungsi organ pada tumbuihan

Mengaitkan hubungan antara struktur dan fungsi beberapa sistem organ pada manusia dan vertebrata dengan lingkungan, teknologi dan masyarakat.

Mengaplikasikan konsep pertumbuhan dan pekembangan, kelangsungan hidup, dan pewarisan sifat pada organisme , serta kaitannya dengan lingkungan, teknologi dan masyarakat

• Aspek Materi dan Sfatnya

Mengidentifikasi, mengumpulkan data, menyimpulkan penggunaan dan efek samping bahan kimia di sekitar kita, serta mengkomunikasikannya

Melakukan percobaan untuk membedakan unsur, senyawa dan campuran, memisahkan campuran dengan beberapa cara sesuai dengan karakteristiknya, membandingkan perubahan fisis dan kimia serta mengkomunikasikan hasilnya

Melakukan percobaan untuk mengidentifikasi ciri-ciri reaksi kimia dan sifat zat (asam, basa, dan garam) serta mengenal partikel materi

• Aspek Energi dan Perubahannya

Melakukan pengukuran terhadap berbagai besaran secara benar, mendeskripsikan dan membuat rancangan sederhana tentang dasar-dasar mekanika serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari

Menerapkan konsep zat dan kalor serta penerapanya dalam penyelesaian masalah sehari-hari

Mendeskripsikan dasar-dasar getaran, gelombang dan optik sertat penerapannya dalam produk teknologi sehari-hari

Menerapakan konsep kelistikan dan kemagnetan untuk memahami keterkaitannya dengan pemanfaatan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.

• Aspek Bumi dan Alam Semesta Serta Sains, Lingkungan, Teknologi, dan Masyarakat

Mendeskripsikan perilaku dan karakteristik tata surya secara sederhana serta proses-proses khusus yang terjadi di tanah dan udara yang terkait dengan masalah lingkungan.

3.4.1.6 Pemilihan Strategi Pembelajaran

Dalam penguasaan konsep Sains, pengalaman belajar harus mencerminkan keterampilan proses Sains yang dilakukan siswa, mulai dari yang sederhana (basic skill) berupa kegiatan pengamatan/ penginderaan sampai pada kegiatan yang terpadu sebagai metode ilmiah keterampilan meyelidiki (investigative skill).

Pengalaman belajar hendaknya juga secara langsung ataupun tidak langsung (nurturant effect) mampu mengembangkan kecakapan hidup (life skills)

yang dapat memberi bekal kepada siswa untuk dapat mandiri dalam mengarungi kehidupan dunia kerja mana kala yang bersangkutan terpaksa tidak dapat melanjutkan pendidikan. Pemilihan pengalaman belajar yang berkait dengan kecakapan hidup yang diperlukan siswa lebih ditekankan pada penyiapan diri dalam kehidupan nyata sehari-hari, sehingga mampu memecahkan permasalahan yang dihadapi secara wajar.

Kecakapan hidup dapat dipisahkan menjadi kecakapan yang sifatnya umum dan spesifik. Kecakapan umum meliputi kesadaran diri (kesadaran aktualisasi diri dan kesadaran potensi diri), kecakapan berpikir rasional, dan kecakapan sosial, sedangkan kecakapan spesifik mencakup kecakapan akademik dan kecakapan vokasional.

Kecakapan vokasional dikembangkan secara penuh pada sekolah kejuruan namun tidak berarti bahwa pembelajaran di SMP tidak boleh dimulai dengan pengembangan kecakapan vokasional. Pelatihan menggunakan berbagai peralatan labolatorium untuk membuat alat peraga akan nemberikan kecakapan vokasional atau kecakapan kejuruan. Dengan peralatan yang sama akan dihasilkan produk lain yang tidak hanya digunskan untuk belajar Sains. Pemakaian alat labolatorium berkaitan langsung dengan kehidupan.

Agar dapat menguasai langkah-langkah pemecahan masalah dalam bidang Sains melalui metode observasi diperlukan beberapa kegiatan. Pertama :” mampu mendefinisikan variabel yang diobservasi. Kedua : mengetahui karakteristik penemuan konsep melalui metode observasi. Ketiga menyusun langkah/prosedur observasinya. Selanjutnya melakukan pengamatan dengan panca indera dan atau melakukan pengukuran. Hasil pengamatan disusun dalam tabel/grafik kemudian ditarik kesimpulan. Hasilnya disampaikan pada orang lain secara tertulis atau lisan. Semua kegiatan itu memberikan pengalaman bagaimana seseorang harus memecahkan permasalahan yang dihadapi dan mengkomunikasikannya kepada orang lain. Dengan memberi pengalaman belajar untuk melaporkan hasil temuannya secara tertulis maupun lisan berarti melatih siswa mampu berkomunikasi dengan orang lain.

3.1.4.7 Karakter Ruang Kelas Sains

Tabel 3.5 Labolatorium IPA Secara Umum

Tabel 3.6 Labolatorium Fisika

Tabel 3.7 Labolatorium Biologi

Tabel 3.8 Labolatorium Kimia

Dari karakteristik mata pelajaran Sains dapat disimpulkan bahwa ruang kelas untuk mata pelajaran Sains harus bersifat fleksibel dan dapat digunakan untuk pelajaran biologi, fisika dan kimia sekaligus. Gabungan dari ketiga karakteristik kegiatan belajar ketiga mata pelajaran tersebut menghasilkan ruang yang dapat digunakan baik untuk pelajaran maupun untuk praktikum

Gambar 3.31 Kelas Sains

Gambar 3.32 Kelas Sains-perspektif

Gambar 3.33 Kelas Sains-perspektif

3.4.2 Mata Pelajaran Matematika 3.4.2.1 Karakteristik Matematika

Mengajarkan Matematika tidaklah mudah karena fakta menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam mempelajari matematika (Jaworski, 1994).

Perlu kiranya dibedakan antara matematika dan matematika sekolah. Agar pembelajaran matematika dapat memenuhi tuntutan inovasi pendidikan pada umumnya, Ebbutt dan Straker (1995:10-63) mendefinisikan matematika sekolah yang selanjutnya disebut sebagai matematika sebagai berikut:

• Matematika sebagai kegiatan penelusuran pola dan hubungan

Implikasi dari pandangan ini terhadap pembelajaran adalah : (1) memberi kesempatan siswa untuk melakukan kegiatan penemuan dan penyelidikan pola-pola untuk menentukan hubungan (2) memberi kesempatan siswa untuk melakukan percobaan dengan berbagai cara, (3) mendorong siswa untuk menemukan adanya urutan, perbedaan , perbandingan, pengelompokan, dsb.

(4) mendorong siswa menarik kesimpulan umum, (5) membantu siswa

memahami dan menemukan hubungan antara pengertian yang satu dengan yang lainnya

• Matematika sebagai kreativitas yang memerlukan imajinasi, intuisi, dan penemuan.

Implikasi dari pandangan ini terhadap pembelajaran adalah: (1) memberi kesempatan siswa untuk melakukan kegiatan penemuan dan penyelidikan pola-pola untuk menentukan hubungan , (2) mendorong rasa ingin tahu, keinginan, keinginan bertanya, kemampuan menyanggah, dan kemapuan memperkirakan, (3) menghargai penemuan yang diluar perkiraan sebagai hal yang bermanfaat daripa da menganggapnya sebagai kesalahan (4) mendorong siswa menemukan struktur dan desain matematika (5) mendorong siswa menghargai penemuan siswa yang lainnya, (6) mendorong siswa berpikir refleksif, (7) tidak menyarankan hanya menggunakan satu metode saja

• Matematika sebagai kegiatan pemecah masalah (problem solving)

Implikasi dari pandangan ini terhadap pembelajaran adalah: (1)menyediakan lingkungan belajar matematika yang merangsang timbulnya persolaan matematika (2) membantu siswa memecahkan persoalan matematika menggunakan caranya sendiri, (3) membantu siswa mengetahui informasi yang diperlukan untuk memecahkan persoalan matematika , (4) mendorong siswa untuk berpikir logism, konsisten, sistematis dan mengembangkan sistem dokumentasi/catatan, (5) mengembangkan kemampuan dan keterampilan untuk memecahkan persoalan, (6) membantu siswa mengetahui bagaimana dan kapan menggunakan berbagai alat peraga /media pendidikan matematika seperti jangka , kalkulator, dsb

• Matematika sebagai alat berkomunikasi

Implikasi dari pandangan ini terhadap pembelajaran adalah :

(1) mendorong siswa mengenali sifat matematika, (2) mendorong siswa membuat contoh sifat matematika, (3) mendorong siswa menjelaskan sifat matematika, (4) mendorong siswa membicarakan persoalan matematika, (5)

mendorong siswa membaca dan menulis matematika menghargai bahasa ibu siswa dalam membicarakan matematika.

3.4.2.2 Karakteristik Peserta Didik

• Perkembangan Aspek Kognitif

Ebutt dan Straker (1995:60-75), memberikan pandangannya bahwa agar potensi siswa dapat dikembangkan secara optimal, asumsi tentang karakteristik subjek didik dan implikasi terhadap pembelajaran matematika diberikan sebagai berikut.

Murid akan mempelajari matematika jika mereka mempunyai motivasi.

Implikasi pandangan ini bagi usaha guru adalah: (1) menyediakan kegiatan yang menyenagkan, (2) memperhatikan keinginan siswa, (3) membangun pengertian melalui apa yang diketahui oleh siswa, (4) menciptakan suasana kelas yang mendukung kegistan belajar, (5) memberikan kegiatan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, (6) memberikan kegiatan yang menantang, (7) memberikan kegiatan yang memberikan harapan keberhasilan, (8) menghargai setiap pencapaian siswa

Murid mempelajari matematika dengan caranya sendiri. Implikasi pandangan ini adalah siswa belajar dengan cara yang berbeda dan dengan kecepatan yang berbeda, tiap siswa memerlukan pengalaman tersendiri yang terhubung dengan pengalamannya di masa lampau, tiap siswa mempunayilaatar belakan g sosial-ekonomi- budaya yan g berbeda.

Oleh karena itu guru perlu mengetahui kelebihan dan kekurangan para siswa, merencanakan kegiatan yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa, membangun pengetahun dan keterampilan baik yang diperoleh di sekolah maupun di rumah, menggunakan catatan kemajuan siswa (assessment)

Murid mempelajari matematika baik secara mandiri maupun melalui kerja sama dengan temannya. Implikasi pandangan ini bagi usaha guru adalah memberikan kesempatan belajar dalam kelompok untuk melatih kerjasama, emberi kesempatan belajar secara klasik untuk memberi kesempatan saling bertukar gagasan, memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan kegiatan secara mandiri, melibatkan siswa dalam pengambilan keputusan tentang

kegiatan yang akan dilakukannya, mengajarkan bagaimana cara mempelajari matematika

Murid memerlukan konteks dan situasi yang berbeda-beda dalam mempelajari matematika. Implikasi pandangan ini bagi usaha guru adalah menyediakan dan menggunakan berbagai alat peraga, memberi kesempatan belajar matematika di berbagai tempat dan keadaan, memberi kesempatan untuk menggunakan matematika untuk berbagai keperluan, mengembangkan sikap menggunakn matematika sebagai alat untuk memecahkan problematika baik di sekolah maupun di rumah, menghargai sumbagnan tradisi budaya dan seni dalam pengembangan matematika, membantu siswa menilai sendiri

Murid memerlukan konteks dan situasi yang berbeda-beda dalam mempelajari matematika. Implikasi pandangan ini bagi usaha guru adalah menyediakan dan menggunakan berbagai alat peraga, memberi kesempatan belajar matematika di berbagai tempat dan keadaan, memberi kesempatan untuk menggunakan matematika untuk berbagai keperluan, mengembangkan sikap menggunakn matematika sebagai alat untuk memecahkan problematika baik di sekolah maupun di rumah, menghargai sumbagnan tradisi budaya dan seni dalam pengembangan matematika, membantu siswa menilai sendiri

Dalam dokumen 3. PERENCANAAN BANGUNAN (Halaman 88-155)

Dokumen terkait