BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Hasil Penelitian
4) Pendampingan
Kegiatan pendampingan merupakan salah satu tahapan yang tidak dapat terlepas dari penyelenggaraan kegiatan-kegiatan kampung ramah anak. Kegiatan pendampingan ini dilakukan oleh penggurus RW maupun tokoh masyarakat di RW 05. Penggurus RW maupun tokoh masyarakat melakukan beberapa hal dalam kegiatan pendampingan. Di mulai dari koordinasi di awal perencanaan kegiatan hingga pemantauan yang dilakukan saat pelaksanaan kegiatan-kegiatan kampung ramah anak di RW 05.
Di bawah ini merupakan penjelasan dari bentuk kegiatan pendampingan:
a) Konsultasi
Konsultasi merupakan tahapan pertama dalam kegiatan pendampingan dalam penyelenggaraan kegiatan-kegiatan kampung ramah anak. Kegiatan konsultasi di KRA “Kambojo” ini dilakukan dengan melakukan pertemuan dengan para penggurus RT dan RW serta tokoh masyarakat. Konsultasi sering dilakukan para penggurus KRA “Kambojo” dengan mengunjungi rumah para penggurus RT dan RW serta tokoh masyarakat yang bersangkutan.
107
Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Bapak “AG” bahwa : “Biasanya pemuda pemuda yang jadi penggurus itu datang ke rumah mbak, nah... mereka menyampaikan usulan kegiatan dan meminta kami untuk memberikan saran selain itu mereka juga bercerita tentang hambatan -hambatan yang mereka hadapi. Setelah itu mereka meminta pertimbangan mengenai kegiatan yang akan mereka laksanakan untuk anak anak.”
Senada dengan yang diungkapkan oleh “BM” bahwa : “Jadi kita main ke rumah beberapa penggurus dan tokoh masyarakat yang bisa kami mintai pertimbangan mbak. Nah dari situ kami dapat masukan masukan juga”
Seperti yang diungkapkan pula oleh “PR” bahwa :
“Kalau gak datang ke rumah yang bersangkutan ya waktu gak sengaja ketemu atau pas beliau para penggurus maupun tokoh lagi ada di kantor sekretariat giru mbak, trus kita minta i pendapat gitu”
Dari pernyataan diatas dapat dipahami bahwa kegiatan konsultasi dilakukan agar dalam pelaksanaan kegiatan kampung ramah anak mendapatkan persetujuan dan dukungan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan dari para penggurus RT dan RW serta tokoh masyarakat. Sehingga beberapa hambatan dari penggurus KRA “Kambojo” mendapatkan solusi dari penggurus RW serta tokoh masyarakat. Selain itu, agar penggurus KRA “Kambojo” dapat mengetahui bahwa kegiatan yang akan dilaksanakan sudah sesuai dengan kebutuhan anak-anak RW 05.
108 b) Fasilitasi
Kegiatan fasilitasi merupakan tindak lanjut dari kegiatan konsultasi. Kegiatan ini sebagai salah satu cara untuk membantu penggurus KRA “Kambojo” menyelesaikan hambatan-hambatan dalam mewujudkan beberapa kegiatan kampung ramah anak. Kegiatan fasilitasi ini merupakan salah satu bentuk dukungan para penggurus RT dan RW serta tokoh masyarakat agar kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan dapat berjalan dengan lancar. Bentuk dari fasilitasi ini diantaranya yaitu dengan melibatkan para penggurus KRA “Kambojo” dalam pertemuan RW di setiap tanggal 5.
Selain itu, dengan melakukan kegiatan forum anak untuk mempermudah para penggurus KRA “Kambojo” dalam mewujudkan kegiatan-kegiatan kampung ramah anak tersebut. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Bapak “AT” bahwa :
“Setelah para penggurus bercerita mengenai hambatan mereka nanti kami ajak mereka dalam pertemuan RW mbak. Agar hambatan yang mereka hadapi mendapatkan bantuan dari penggurus. Sebagai contoh, ketika para penggurus kekurangan dana untuk melakukan suatu kegiatan. Nanti kami share ke penggurus RW apakah ada anggaran untuk kegiatan tersebut, dll.”
Selain itu Bapak “MY” mengungkapkan bahwa :
“Kalau mereka ada masalah yang langsung saya beri solusi mbak. Misal, para penggurus bingung karena kurangnya SDM. Ya nanti kami adakan forum anak dan menawarkan kepada mereka siapa yang bisa membantu”
109
“Kalau kita lagi ada masalah, para penggurus itu selalu tanggap dan langsung ngasih solusi kok mbak”
Pernyataan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kegiatan fasilitasi merupakan salah satu kegiatan tindak lanjut dari penggurus RT dan RW serta tokoh masyarakat dalam menyelesaikan hambatan-hambatan yang dihadapi oleh penggurus KRA “Kambojo” dalam mewujudkan kegiatan-kegiatan kampung ramah anak. Kegiatan fasilitasi dilakukan dengan mengundang penggurus KRA “Kambojo” dalam pertemuan RW dan mengadakan forum anak. Namun tidak menutup kemungkinan diadakan kegiatan-kegiatan lain yang tidak terencana. Seperti melakukan diskusi ringan di kantor sekretariat bersama koordinator kampung ramah anak.
c) Koordinasi
Koordinasi merupakan salah satu tahapan dari kegiatan pendampingan yang dilakukan oleh para penggurus RT dan RW serta tokoh masyarakat dengan para penggurus KRA “Kambojo”. Koordinasi ini bertujuan untuk menyamakan pemikiran antara penggurus RW serta penggurus KRA “Kambojo”. Sehingga dari kegiatan yang akan dilaksanakan dapat tercapai tujuannya. Kegiatan koordinasi ini dilakukan sebelum pelaksanaan kegiatan-kegiatan kampung ramah anak.
110
Koordinasi dimulai dengan penjelasan alur kegiatan dan pembagian tugas. Seperti yang diungkapkan oleh “BM” bahwa :
“Sebelum kegiatan dimulai satu hari sebelumnya kami berkumpul bersama penggurus RW untuk membahas kegiatan di hari esok, kami menyampaikan alur kegiatan yang akan dilaksanakan dan membagi tugas – tugas mbak. Jadi biar nanti tidak ada miss comunication”
Selain itu “DM” juga mengungkapkan bahwa :
“Kalau mau melaksanakan kegiatan itu kita koordinasi mbak sama para penggurus dan tokoh masyarakat yang aktif. Jadi disini kami bisa saling bagi tugas”
Senada dengan yang diungkapkan oleh Bapak “AT” bahwa: “Disini walaupun ide maupun tenaganya lebih kuat pemuda, tapi kami juga melakukan koordinasi agar kami dapat membantu semampu kami mbak”
Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa koordinasi dilakukan satu hari sebelum pelaksanaan kegiatan. Kegiatan koordinasi ini dengan cara melakukan kumpul bersama penggurus RW. Sehingga dari kegiatan koordinasi ini diharapkan dapat mengurangi miss comunication antar penggurus RW maupun penggurus KRA “Kambojo”.
d) Pengawasan
Kegiatan pengawasan ini menjadi salah satu tahapan terakhir dalam proses pendampingan penggurus KRA “Kambojo”. Penggurus RW dalam hal ini melakukan pengamatan selama kegiatan kampung ramah anak berlangsung. Namun tidak hanya mengamati saja, para penggurus RW
111
mempunyai konsep yaitu Tut Wuri Handayani. Yaitu salah satu konsep Ki Hadjar Dewantara yang dipegang teguh oleh para penggurus RW yang sudah menginjak usia dewasa akhir.
Konsep dari Ki Hadjar Dewantara menjelaskan bahwa dari belakang selalu mendorong dan memberi motivasi. Selain itu para penggurus memberikan contoh ketika berada di posisi depan seperti Ing Ngarsa Sung Tuladha. Dan menyamakan posisi sama dengan para penggurus KRA “Kambojo” ketika berada di tengah seperti Ing Madya Mangun Karsa. Seperti yang diutarakan oleh Bapak “AT” bahwa :
“Sebagai orang tua kami menganut konsep nya ki hadjar mbak, jadi selain memberi motivasi kami juga berusaha memberi contoh yang baik dan selalu mendampingi mereka. Sehingga mereka akan mempunyai rasa tidak enak kepada yang lebih tua dan akan membuat mereka segan”
Senada dengan yang diungkapkan oleh Bapak “YN” bahwa: “Jadi kami yang lebih tua itu tidak hanya menyuruh mbak tapi juga memberi contoh dan menyemangati mereka yang muda”
Seperti yang diungkapkan oleh “BM” bahwa :
“Tokoh masyarakat disini itu semangatnya luar biasa mbak,malah kita kalah kadang sama mereka. Nah dari itu, kami selalu belajar. Dan kalau mereka ngawasin itu mereka memposisikan sebagai kaum muda. Jadi kami pekewuh mbak”
Dari pernyataan di atas dapat dipahami bahwa pengawasan tidak hanya dilakukan dengan sebatas mengamati namun para penggurus RW juga melakukan aksi-aksi untuk membantu
112
penyelenggaraan dari kegiatan-kegiatan kampung ramah anak. Sehingga para penggurus KRA “Kambojo” khususnya pemuda mempunyai rasa segan. Selain itu juga bertujuan untuk menumbuhkan komitmen dan rasa memiliki terhadap kegiatan-kegiatan KRA “Kambojo”.
Bentuk pendampingan dapat tergambar jelas dalam bagan di bawah ini :
Bagan 3. Bentuk pendampingan program KRA “Kambojo”
c. Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat dalam Penyelenggaraan Kegiatan Kampung Ramah Anak “Kambojo”
Program kampung ramah anak “Kambojo” ini merupakan salah satu program informal yang diperuntukan bagi anak-anak namun juga bertujuan sebagai salah satu upaya pemberdayaan untuk pemuda. Penyelenggaraan program kampung ramah anak “Kambojo” tentu tidak dapat terlepas dari faktor pendukung dan faktor penghambat. Faktor pendukung yang dirasakan oleh penyelenggara program yaitu adanya partisipasi masyarakat yang tinggi. Partisipasi masyarakat yang tinggi terlihat dari dukungan masyarakat dalam berbagai kegiatan-kegiatan
Sebelum Pelaksanaan Saat Pelaksanaan
Konsultasi
Fasilitasi Koordinasi
113
yang dilaksanakan. Bentuk dukungan masyarakat dapat dilihat dari kegiatan kampung ramah anak yang selalu dimeriahkan oleh masyarakat RW 05 karena semua masyarakat hadir dalam kegiatan kampung ramah anak. Misalnya keikutsertaan orangtua dalam kegiatan wajib kunjung museum yang hanya diperuntukan hanya bagi anak-anak. Bentuk dukungan dari masyarakat sangat beragam, mulai dari dukungan materi maupun non materi. Hal ini seperti yang dirasakan oleh Bapak “AT” selaku koordinator program kampung ramah anak. Beliau mengatakan bahwa :
“Yang mendukung pelaksanaan kegiatan kampung ramah anak itu, dukungan dari masyarakat mbak. Baik dalam bentuk materi maupun non materi. Masyarakat selalu menerima dengan baik kegiatan kegiatan dari kampung ramah anak. dan masyarakat selalu memeriahkan di tiap kegiatan. Bisa diliat di dokumentasi kegiatan- kegiatan kami mbak”.
Selain itu berdasarkan hasil wawancara, lengkapnya sarana dan prasarana yang tersedia menjadi salah satu faktor pendukung. Hal ini diungkapkan oleh “DM” selaku penggurus yang menyatakan bahwa :
“ Faktor pendukungnya itu dari kelengkapan sarpras yang dimiliki oleh KRA “Kambojo” mbak. Kami memiliki kantor sekretariat yang nyaman dan aman untuk tempat berdiskusi selain itu dilengkapi pula adanya koneksi internet, sehingga memudahkan kami untuk mencari informasi dan membantu anak – anak pula”.
Faktor pendukung yang lain yaitu ide-ide kreatif yang dimiliki penggurus KRA “Kambojo” maupun penggurus RW 05. Hal itu seperti yang diungkapkan oleh Bapak “MY” bahwa:
“...ide-ide untuk tiap kegiatan juga menjadi faktor pendukung mbak. Biasanya kami mengemas kegiatan berawal dari ide yang sederhana namun kita buat berbeda dengan yang lain sehingga dapat menarik
114
perhatian anak-anak pada khususnya dan masyarakat RW 05 pada umumnya”.
Berdasarkan hasil wawancara tersebut maka dapat diketahui bahwa faktor pendukung dalam penyelenggaraan program kampung ramah anak antara lain adanya dukungan dari masyarakat baik materi maupun non materi, sarana dan prasarana yang memadai dan ide-ide kreatif dari penggurus KRA “Kambojo” maupun dari penggurus RW 05.
Faktor penghambat program kampung ramah anak yang dirasakan oleh penggurus KRA “Kambojo” yaitu padatnya kegiatan anak-anak di luar lingkungan rumah. Padatnya kegiatan anak membuat anak-anak lelah dan tidak mau untuk bersosialisasi di lingkungan RW 05. Sehingga sebagian anak-anak memanfaatkan waktu luang untuk beristirahat di rumah. Seperti yang diungkapkan oleh “AN” selaku sekretaris KRA “Kambojo” bahwa :
“Faktor penghambatnya ya kalau ada kegiatan-kegiatan belum tentu semua anak-anak mengikuti. Karena anak-anak kadang sudah capek dengan kegiatan yang ada di luar lingkungan RW 05. Jadi kalau diajak untuk berkumpul ada satu dua anak yang lebih memilih untuk beristirahat di rumah mbak”.
Senada dengan yang diungkapkan “PR” bahwa:
“Susahnya itu nentuin pelaksanaan kegiatan mbak, soalnya anak-anak disini itu ada yang kegiatannya banyak sekali di sekolah. Jadi sekalinya ada kegiatan KRA, mereka memilih untuk istirahat”
Seperti yang diungkapkan pula oleh Bapak “SR” bahwa :
“Penghambatnya sendiri itu ya anak-anaknya itu mbak, soalnya mereka itu banyak kegiatan juga disekolah dan di luar kampung. Jadi kalau saya liat itu, kadang yg aktif ya anak-anak itu aja”
115
Berdasarkan hasil wawancara di atas maka faktor penghambat pelaksanaan program kampung ramah anak yaitu kesibukan anak-anak di luar lingkungan RW 05. Kegiatan anak di luar lingkungan RW 05 menyebabkan anak lelah. Sehingga sebagian anak-anak di RW 05 enggan untuk mengikuti kegiatan kampung ramah anak “Kambojo”. Anak-anak lebih memilih untuk beristirahat di rumah.
2) Pemberdayaan Pemuda melalui Program Kampung Ramah Anak