• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendampingan Pastoral terhadap Remaja Pengguna Gadget dan Internet di

Dalam dokumen T1 712012043 Full text (Halaman 29-39)

III. HASIL PENELITIAN DAN ANALISA

3.2 Temuan Hasil Penelitian

3.2.3 Pendampingan Pastoral terhadap Remaja Pengguna Gadget dan Internet di

Gadget dan internet merupakan wujud perkembangan teknologi dan informasi yang

akan terus berkembang seiring dengan perkembangan berbagai bidang ilmu. Berkomunikasi merupakan salah satu kebutuhan manusia, dimana hal itu menunjukkan keberadaan manusia sebagai makhluk sosial yang saling berhubungan dan membutuhkan.

Gadget dan internet merupakan salah satu media komunikasi yang kini dapat dinikmati oleh semua kalangan masyarakat bahkan anak balitapun sudah diperkenalkan dengan

gadget oleh orangtuanya sebagai media belajar dan juga bermain mereka. Alat komunikasi

59 Wawancara dengan Ibu. Tri Pancarwati, (guru sekolah minggu), Tulungrejo, 6 Mei 2016, Pukul

17.35 Wib.

60 Wawancara dengan Bp. Reso Budiarjo, (guru sekolah minggu), Tulungrejo, 28 Desember 2015,

Pukul 10.35 Wib.

61 Wawancara dengan Pdt. Luvi Eko Yunanto, (Pendeta jemaat), Tulungrejo, 31 Desember 2015,

19

tersebut membawa banyak pengaruh besar dalam dunia remaja secara khusus, dimana ketika gadget dan internet digunakan secara salah atau berlebihan tanpa pengawasan dari orang tua, gadget dapat berpengaruh pada interaksi sosial anak terhadap lingkunganya baik lingkungan internal (keluarga) maupun eksternal (lingkungan sekolah, gereja, masyarakat dan pertemanan).

Seiring berkembangnya berbagai teknologi dan informasi, gadget semakin dilengkapi dengan berbagai aplikasi yang beragam, sehingga tidak hanya digunakan untuk menerima pesan atau menelepon saja, namun juga untuk bermain games, mengakses segala informasi baik bersifat pendidikan, hiburan, berita, olahraga dan juga mengaktifkan semua media sosial sebagai bentuk trend yang sedang berkembang saat ini. Orangtua dalam memberikan fasilitas tersebut kepada anak mereka juga memiliki alasan yang beragam,

seperti karena tidak ingin melihat anaknya gagap teknologi atau istilah kerennya “gaptek”,

ada yang karena paksaan dari anak mereka, ada juga yang membelikannya supaya anaknya bisa dengan mudah mengakses segala informasi yang diperlukan dalam perkembangannya. Perkembangan teknologi dan komunikasi tersebut memang tidak bisa dihindari karena remaja hidup dalam dunia digital, namun yang terpenting orangtua dan juga gereja secara khusus dalam penelitian ini dapat mendampingi mereka dan memberikan batasan dalam penggunaan gadget dan internet tersebut.

Remaja merupakan masa dimana seseorang sedang mencari identitas mereka dan mengupayakan berbagai macam cara untuk menjawab segala kebingungan dan rasa ingin tahu mereka. Remaja di GKJW Tulungrejo berada dalam masa seperti ini, dimana mereka selalu tidak puas dengan apa yang dimiliki atau mereka mengerti sekarang. Hal tersebut membuat mereka melakukan berbagai macam hal seperti mengeksplorasi kemampuan dirinya dengan media yang ada seperti gadget dan jaringan internet mereka. Keberadaan ini sejalan dengan pemikiran Erik H. Erikson bahwa masa remaja menempatkan mereka pada masa perkembangan yang diperhadapkan dengan adanya identitas versus

kebingungan identitas (identity versus identity confusion).62 Dengan berbagai aplikasi dalam gadget yang dimilikinya, seorang remaja akan mampu mengekpresikan dirinya dan juga mengembangkan potensinya. Misalnya saja dengan media sosial seperti facebook, bbm, instagram, path, twitter, line, whatsApp, mereka akan dengan mudah menjalin komunikasi dengan semua orang diberbagai belahan dunia, mereka juga dapat

20

menunjukkan berbagai suasana hati mereka dalam media sosial yang dimilikinya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis, terlihat bahwa remaja di GKJW Tulungrejo seringkali memakai media sosial yang diaktifkan dari gadget mereka untuk mengungkapkan suasana hatinya yang mudah berubah-ubah, seperti rasa senang, marah, kecewa, sakit hati, sedih dan bahkan terdapat kata-kata memaki disana. Keberadaan ini menurujuk kepada konsep G. Stanley Hall akan adanya badai dan stress (strorm and stress view) dalam diri remaja dimana ini merupakan masa pergolakan yang dipenuhi oleh konflik dan perubahan suasana hati. Menurut pandangannya ini, berbagai pikiran, perasaan dan tindakan remaja berubah-ubah antara kesombongan dan kerendahan hati, niat yang baik dan godaan, kebahagiaan dan kesedihan.63

Bagi para remaja yang menggunakan media sosial mereka dengan bijaksana tidak akan terjerumus dalam permasalahan, namun bagi mereka yang menggunakannya dengan tidak bijaksana itu justru akan membuat mereka tidak dapat berkembang. Hal ini terbukti dari beberapa remaja yang sedang berkonflik dan kemudian mereka hanya meluapkan amarah mereka dalam media sosial dengan kata-kata yang memaki dan saling merendahkan, itu akan membuat mereka jatuh dalam gagalnya berkomunikasi dan tidak adanya penghargaan antara satu dengan yang lainnya. Jikalau keadaan ini tidak dapat diatasi dengan baik akan membuat remaja yang satu merasa minder atau malas untuk berteman dan melakukan kegiatan bersama. Komunikasi merupakan salah satu yang mendukung perkembangan remaja, karena setiap orang pasti akan berkomunikasi untuk mendapatkan sesuatu atau mengungkapkan pemikirannya. Namun yang perlu disadari bahwa komunikasi tidak hanya dilakukan dalam dunia maya saja, namun juga dalam pertemuan langsung dan kegiatan bersama. Kesadaran itu harus dimiliki oleh para remaja sehingga mereka tidak menjadi pribadi yang individual, namun mampu melakukan sosialisasi dengan sekitarnya.

Menurut Erik H. Erikson, justru pada masa remajalah seorang individu mulai melihat atau menyadari diri sendiri, mempunyai masa lalu dan masa depan yang secara eksklusif merupakan dirinya sendiri.64 Masa remaja merupakan masa di mana seseorang membuat kenangan dan antisipasi tentang masa depan. Suatu masa di mana seseorang individu mencari identitas yang khusus. Keadaan ini terwujud dalam hubungan remaja

63 Santrock, Remaja Edisi 11.

21

dengan teman sebayanya, hubungan dalam keluarga, masyarakat, sekolah dan juga gereja. Remaja senang dengan kehidupan berkelompok baik menurut jenis kelamin, tingkat usia,

hobby dan lain sebagainya menunjukkan bahwa kehidupan mereka dipengaruhi oleh komunitas dan juga perubahan dinamika yang terjadi dalam masyarakat. Dulu remaja bisa bermain bersama berbagai permainan tradisional seperti bermain kasti, kelereng, layang-layang, petak kumpet dan lain sebagainya yang menekankan adanya kehadiran dan adanya komunikasi, namun kini semua permainan itu sudah jarang ditemui karena berbagai macam permainan canggih dan lebih menantang dapat mereka lakukan sendiri dengan

gadget yang dimilikinya.

Keberadaan remaja di GKJW Tulungrejo sejalan dengan pemikiran Jean Piaget tentang remaja yang menempatkan mereka dalam tingkatan operasi berpikir formal. Remaja mengalami perkembangan dalam kognitif, umumnya mereka mulai mempertanyakan banyak hal yang sudah diajarkan kepada mereka, maka tidak jarang apabila banyak remaja menolak sebagian atau bahkan seluruh nilai-nilai dan kepercayaan yang dipelajari atau didapatkan semasa kanak-kanak.65 Dengan memahami perubahan pola pikir dalam diri remaja ke arah yang lebih rasional inilah maka sangatlah berbahaya jika gereja hanya menjejali para remaja dengan aktivitas yang tidak berarti. Salah satu keuntungan dari bekerja atau melayani remaja adalah bahwa pada masa ini remaja sangat terbuka terhadap hal-hal atau ide-ide serta bimbingan. Selain itu masa remaja merupakan masa dimana mereka sudah mulai mengambil sejumlah keputusan dan komitmen.66 Seluruh keberadaan remaja ini merupakan tantangan bagi keluarga dan gereja untuk membimbing mereka dalam proses perkembangannya.

Remaja akan selalu mencoba-coba hal yang baru dan dekat dengan dunia mereka untuk menunjukkan identitas diri mereka, dan adanya perasaan untuk ingin dipuji dan diperhatikan. Akan tetapi kita juga harus bisa memahami isi hati mereka karena ada remaja yang akan terbuka dan bercerita ketika mereka mengalami masalah dan kegagalan, namun ada juga remaja yang justru akan menutup diri dan tidak jarang dari mereka tiba-tiba akan depresi dan menjadi pendiam secara mendadak. Dinamika perubahan dan perkembangan remaja inilah yang sudah seharusnya kita mengerti sebagai keluarga dan juga gereja.

65 Nuhamara, Pendidikan Agama., 12.

22

Berbagai macam dukungan perlu dilakukan oleh gereja dan orangtua, misalnya dukungan secara sosiologis yang menekankan akan kehidupan bersama dalam suatu komunitas yang memberikan suasana nyaman bagi remaja untuk dapat berkembang dan mengekplorasi diri mereka. Selain itu ada dukungan yang bersifat edukasi, sehingga dalam menggunakan

gadget dan internet harus diberikan batasan baik waktu juga situs-situs yang bisa diakses mereka, sehingga mereka dapat menggunakan peluang itu untuk mencari informasi dan tontonan yang baik.

Pendampingan yang diberikan saat masa anak-anak akan membawa pengaruh yang besar bagi kehidupan kepribadian mereka dan juga perkembangan di jemaat. Pada umumnya pendampingan pastoral diberikan sebagai salah satu bentuk pelayanan yang ada di gereja yang berguna untuk menolong sesama yang menghadapi masalah atau menolong mereka supaya dapat hidup dengan baik. Keterampilan dalam melakukan penggembalaan pada dasarnya adalah keterampilan berkomunikasi dan berhubungan dalam cara yang mendorong pertumbuhan.67 Remaja yang mengalami berbagai dinamika perubahan dalam hidupnya memerlukan seseorang dan tempat yang nyaman bagi mereka untuk mencurahkan segala rasa ingin tahu mereka dan juga permasalahan yang mereka alami.

Media dan teknologi informasi merupakan salah satu yang dekat dengan kehidupan remaja. Kemajuan media informasi dan komunikasi sudah dirasakan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat baik dari segi positif maupun negatif penggunaannya. Banyak sekali informasi yang dapat diakses di internet, salah satu kekhawatiran yang muncul adalah bahwa informasi yang diakses oleh anak-anak dan remaja di internet tidak terkelola dengan baik. Remaja dapat mengakses informasi yang mengandung unsur seksual, petunjuk untuk melakukan kekerasan, serta informasi lainnya yang tidak sesuai dengan usia mereka. Singkatnya, internet memiliki potensi yang sangat besar untuk meningkatkan peluang pendidikan remaja. Meskipun demikian, internet juga memiliki keterbatasan dan mengandung bahaya. Internet merupakan suatu teknologi di mana orang tua perlu memonitor dan mengatur remaja dalam menggunakannya.68

67 Howard Clinebell, Tipe-Tipe Dasar Pendampingan dan Konseling Pastoral (Yogyakarta:

Kanisius, 2002), 63.

23

Pemahaman akan manfaat penggunaan gadget dan internet ini semakin membuka kesempatan remaja untuk menggunakannya baik secara positif maupun negatif. Selama ini remaja tidak banyak mendapatkan perhatian dari gereja berkaitan dengan perkembangan teknologi ini, terutama memberikan pendampingan serta memberdayakan remaja dalam masa pencarian identitas mereka. Pelayanan yang diberikan kepada remaja hanya sebatas dalam hubungan antara pelayan dan yang dilayani dalam sebuah peribadatan, katekisasi, pelatihan drama, menyanyi dan juga musik. Kesadaran akan perkembangan yang semakin merajalela dalam segala bidang membawa ke dalam pemahaman akan pentingnya pendampingan bagi remaja. Pendampingan pastoral yang dilakukan oleh gereja perlu dilengkapi dengan pendampingan orangtua (keluarga).

Keluarga merupakan dasar bagi seorang anak memulai sosialisasi mereka, dimana melalui kasih sayang dan perhatian yang diberikan, anak mulai bertumbuh dan mengenal dirinya sendiri juga lingkungannya. Seorang anak kecil yang kemudian bertumbuh menjadi remaja memerlukan role model untuk mereka contoh dan sebagai sumber mengeksplorasi diri mereka dan segala keinginannya. Keluarga disebut sebagai setting utama dan pertama tidak lain karena peranan orang tua dalam mengasuh anak-anaknya adalah sangat penting. Bukan hanya anak yang belajar dan mengalami pertumbuhan, tetapi sesungguhnya seluruh anggota keluarga saling belajar dari yang lain melalui interaksi yang terjadi.69 Keluarga dalam hal ini orangtua (ayah dan ibu) mempunyai tanggungjawab mendidik anak-anak mereka di dalam iman kepada Tuhan serta cara hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan.70

Keberadaan orangtua atau keluarga ini secara khusus juga diperlukan dalam pendampingan kepada remaja yang saat ini hidup dalam dunia digital. Pengaruh gadget

dan internet yang beranekaragam memerlukan pengawasan orangtua saat mereka menggunakannya. Selama ini pendampingan yang bisa dilakukan orangtua adalah membatasi penggunaan gadget dan internet serta melakukan pengawasan kepada mereka, sehingga ketika gadget mereka diberi password misalnya, orangtua harus mengerti dan melarang mereka memberi password pada gadgetnya supaya orangtua bisa mengontrol apa

69 Daniel Nuhamara, Pembimbing Pendidikan Agama Kristen (Bandung: Jurnal Info Media, 2007),

57.

24

saja yang dilakukan anak-anaknya dengan gadget tersebut.71 Orangtua di zaman modern membelikan gadget dan fasilitas internet kepada anak-anaknya supaya mereka tidak ketinggalan zaman, akan tetapi jauh dari itu sebagai orangtua harusnya bisa memilah dan mengarahkan anak-anak mereka bertumbuh dengan baik. Tidak semua remaja mampu memfungsikan gadget dan internet yang dimilikinya secara positif, disinilah memerlukan kepekaan orangtua untuk meluangkan waktu dekat dan memberikan sapaan hangat untuk mereka. Dengan cara seperti itu orangtua akan menjadi sahabat bagi anak-anaknya, kemudian anak tidak takut dan tidak segan-segan jika mau bercerita tentang dirinya dan masalah perkembangan yang dilaluinya.

Pendampingan pastoral merupakan sarana pelayanan untuk menolong setiap orang yang menghadapi berbagai permasalahan, tujuannya selain untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi juga supaya orang tersebut bisa mengambil sikap yang tepat ketika di kemudian hari menghadapi masalah yang sama. Fungsi pendampingan pastoral yang cocok untuk remaja adalah fungsi yang membimbing, memberdayakan dan mengasuh. Namun seperti yang diungkapkan oleh Pdt. Luvi Eko Yunanto, secara khusus pendampingan pastoral kepada remaja masih belum dilakukan secara maksimal, hal tersebut dikarenakan tenaga yang khusus untuk itu masih belum ada.72 Selama ini pendampingan yang dilakukan dalam bentuk ibadah-ibadah, katekisasi remaja, kunjungan kepada mereka yang sakit secara fisik, memperkenalkan remaja dengan gereja melalui keikutsertaan mereka dalam berbagai acara gereja dan juga melalui percakapan non-formal yang dilakukan dengan mereka.73 Isi perkunjungan yang dilakukan oleh pendeta adalah untuk menanyakan keadaan remaja, memberikan doa bagi mereka yang sakit secara fisik dan juga keberadaan keluarga. Gereja selama ini hanya melakukan pendampingan pastoral dibagian kulitnya saja, dalam arti ini sebuah perkunjungan itu menyangkut dua aspek yang pertama adalah pendampingan pastoral yang merupakan inisiatif pelayan gereja melalui percakapan basa-basi yang menanyakan keberadaan remaja dan juga hal apa yang dirasakan mereka saat ini.

71 Wawancara dengan Ibu. Pirmaning Eldi Astutik, (guru sekolah minggu), Tulungrejo, 8 Januari

2016, Pukul 11.45 Wib.

72 Wawancara dengan Pdt. Luvi Eko Yunanto, (Pendeta jemaat), Tulungrejo, 31 Desember 2015,

Pukul 10.15 Wib.

25

Dalam percakapan yang dalam ilmu konseling merupakan basa-basi itu merupakan gerbang masuk bagi para pelayan untuk melakukan konseling pastoral nantinya. Gereja sudah seharusnya sadar dan tidak menunggu kasus terjadi baru melakukan pendampingan, akan tetapi pendampingan dilakukan dalam setiap kesempatan yang kita miliki. Hal tersebut perlu dilakukan karena tidak semua remaja memiliki keberanian untuk mengungkapkan permasalahannya. Bercermin pada keteladanan Yesus, kita belajar untuk mau memahami orang sakit bukan pada apa yang menimpa fisiknya tetapi juga mental, masalah sosial dan spiritualnya.74 Pendampingan pastoral merupakan wujud komitmen gereja dalam melakukan panggilan pelayanannya ditengah-tengah dunia ini. Fungsi pastoral yang dekat dengan kehidupan remaja dan perkembangan teknologi adalah fungsi untuk membimbing, memberdayakan dan mengasuh, namun perlu dilengkapi dengan fungsi lainnya yang dikatakan oleh Aart Van Beek sebagai fungsi menyembuhkan, memulihkan dan menopang. Selama ini yang melakukan pendampingan pastoral hanya pendeta, namun seharusnya itu menjadi tanggungjawab bersama sebagai orang-orang yang telah diselamatkan oleh Tuhan Yesus. Remaja merupakan generasi penerus gereja yang perlu mendapatkan perhatian yang khusus pula, pendampingan pastoral bukan saja untuk menyelesaikan masalah yang bersifat jasmani saja akan tetapi juga rohani yang meliputi perkembangan iman dan juga kepribadian remaja.

Salah satu tujuan penggembalaan dan konseling adalah memampukan seseorang menanggapi krisis-krisis mereka sebagai kesempatan-kesempatan untuk bertumbuh.75 Remaja yang berada dalam krisis mencari identitas seperti yang diungkapkan oleh Erik H. Erikson, mereka memerlukan pendampingan dari segala pihak yang terdekat dengan mereka, yaitu orangtua dan juga gereja. Penggembalaan (pendampingan pastoral) adalah suatu jawaban terhadap kebutuhan setiap orang akan kehangatan, perhatian penuh, dukungan, dan penggembalaan (pendampingan).76 Keberadaan yang seperti ini memerlukan komunikasi yang baik diantara orangtua dan juga gereja, sebagaimana tanggungjawab bersama dalam merawat dan mengarahkan pertumbuhan, kepribadian dan iman remaja merupakan tanggungjawab bersama. Gereja perlu melakukan kerjasama yang

74 Jacob Daan Engel, Konseling Dasar dan Pendampingan Pastoral: Pemahaman dan Pengalaman

dalam Praktek (Salatiga: Widya Sari Press, 2003), 82.

75 Howard Clinebell, Tipe-Tipe Pendampingan dan Konseling Pastoral (Yogyakarta: Kanisius,

2002), 44.

26

baik dengan orangtua melalui pelatihan-pelatihan akan pendampingan kepada anak, pengenalan remaja dan dunianya, serta pengenalan teknologi dan infomasi yang lekat dengan remaja. Selama ini orangtua yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi akan dengan mudah mengatasi perkembangan teknologi ini, akan tetapi warga yang lainnya perlu mendapat pembinaan supaya memiliki wawasan yang luas untuk mendidik anak-anak mereka lebih baik lagi.

Pendampingan pastoral kepada remaja memerlukan pengenalan akan remaja dan juga perkembangannya, sebagai pelayan atau konselor, kita harus mampu menjadi seorang sahabat bagi mereka. Seorang sahabat yang dimaksudkan adalah kita menyediakan waktu untuk remaja, memperhatikan mereka dalam segala keadaan dan masalah yang dihadapi, serta menjadi motivator atau penolong saat mereka kesulitan dan jatuh dalam masalah. Tuhan Yesus begitu menaruh perhatian kepada anak-anak dan menyayangi mereka walaupun sebagian besar orang menganggap anak-anak tidak berguna dan pembuat keributan. Ada sebuah konsekuensi yang diberikan kepada setiap kita yang tidak memperdulikan anak-anak (remaja). GKJW Tulungrejo mencoba mendampingi remaja dalam ibadah-ibadah yang dilakukan, pembinaan iman melalui katekisasi remaja dan kegiatan bersama dalam bentuk percakapan dan pertemuan non-formal. Namun pendampingan itu masih kurang menjangkau secara personal dan terutama mengatasi permasalahan perkembangan gadget dan internet dalam hidup remaja. Jalan yang bisa ditempuh oleh gereja adalah dengan melakukan sarasehan dengan orangtua untuk membekali mereka tentang perkembangan teknologi dan informasi sehingga mampu menjadi kontrol bagi remaja disegala keadaan. Khotbah yang disampaikan dalam peribadatan masih kurang karena setiap orang memiliki penghayatan yang berbeda sehingga diperlukan ruang untuk bertemu baik pihak gereja dan remaja juga dengan orangtua. Pendampingan pastoral yang diberikan oleh seluruh warga jemaat merupakan wujud nyata janji seluruh warga yang terucap dalam formulasi pertanyaan kesanggupan warga dalam suatu pelayanan baptisan yang menyatakan akan bersedia membimbing dan mengingatkan ketika seorang anak dalam pertumbuhannya mengalami masalah atau melakukan penyimpangan.

Pendampingan pastoral yang sempurna merupakan bentuk pertolongan yang utuh kepada sesama yang meliputi kebutuhan jasmani, mental, sosial, dan rohani. Sebab Allah

27

yang adalah pencipta, bersifat merawat dan memelihara dengan baik, maka bila pastoral dihubungkan kepada istilah pendampingan, dimaksud untuk memperdalam makna pekerjaan pendampingan. Pendampingan tersebut tidak hanya memiliki aspek horizontal

(dari manusia kepada manusia) akan tetapi juga mewujudkan aspek vertikal (hubungan dengan Allah).77 GKJW Tulungrejo melalui program terbarunya yaitu P2A (Pendampingan dan Perlindungan Anak) bisa melakukan pendampingan pastoral kepada remaja secara holistik dimana ada pemenuhan aspek fisik, aspek mental, aspek sosial dan juga aspek spiritual mereka. Aspek fisik dapat dipenuhi melalui penyediaan atau perhatian kepada kebutuhan fisik remaja seperti kesehatan, penyuluhan akan merawat tubuh yang baik dan sebagainya. Aspek mental diberikan melalui pemberian perhatian, kasih sayang, rasa aman, dan perasaan emosional yang dialami remaja melalui pendampingan dan sharing bersama. Aspek sosial diberikan melalui kegiatan bersama yang dilakukan dalam kelompok, masyarakat dan keluarga misalnya melalui kegiatan kerjabakti, menolong sesama yang kekurangan dan sebagainya sehingga anak tidak hanya sibuk dengan gadget dan internet mereka namun juga dapat mengenal sekitarnya. Sedangkan aspek spritual dapat diberikan melalui penanaman nilai-nilai rohani yang memaknai kehidupan sehingga perkembangan teknologi ini dapat digunakan sebagai pendekatan penyampaian itu kepada remaja misalnya melalui sharing dalam media sosial, peraga dan variasi pelayanan dengan media yang unik dan dekat dengan remaja. Fungsi pendampingan pastoral yang diperlukan setidaknya meliputi fungsi membimbing yang diberikan melalui percakapan baik bersifat formal maupun non-formal dalam rangka mengeksplorasi kebutuhan remaja dan permasalahan mereka, fungsi memberdayakan diberikan melalui penyediaan fasilitas seperti pelaksanaan seminar dan pelatihan akan penggunaan gadget dan internet secara baik dan benar. Sedangkan fungsi mengasuh diberikan melalui perhatian dan pemberian rasa nyaman dan aman bagi remaja dalam segala kegiatan bersama baik di gereja maupun dalam keluarga dan masyarakat.

Memahami perkembangan remaja merupakan salah satu upaya alternatif terbaik dalam membimbing remaja. Tujuan Allah dengan manusia adalah keutuhan. Hanya sebagai manusia yang utuh kita dapat menjalankan tugas kita sebagai manusia beriman menurut gambar Allah. Manusia merupakan makhluk yang tidak sempurna, ketidaksempurnaan itu meliputi kehidupan sosial-ekonomi, fisik, emosional, spiritual,

28

relasional, dan lain sebagainya. Hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya pendampingan pastoral itu dilakukan terutama dikalangan remaja. Pertumbuhan warga jemaat yang diawali dengan remaja merupakan awal dari pembangunan dan juga suksesnya pelayanan di gereja di masa yang akan datang. Perkembangan teknologi dan informasi (gadget dan internet) bukan merupakan sesuatu yang perlu dihalangi untuk diketahui remaja, namun pendampingan kepada merekalah yang perlu dilakukan oleh gereja. Dengan begitu tugas pendampingan pastoral dengan tujuan pengutuhan menjadi

Dalam dokumen T1 712012043 Full text (Halaman 29-39)

Dokumen terkait