BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG BASMALAH
D. Pendapat Mufasir Tentang Masalah Pembacaan Basmalah
Imam asy-Syaukani berkata dalam tafsirnya : “Adapun hadis-hadis yang menyebutkan tidak dibacanya basmalah di dalam, walaupun lebih sahîh, namun yang memastikan dibacanya basmalah lebih unggul, walaupun keluar dari lingkup sahîh, maka mengamalkannya lebih utama, apalagi dengan adanya kemungkinan penakwilan tidak dibacanya basmalah. Dan ini berkonsekwensi penetapan essensial, maksudnya adalah karena sebagai al-Qur’an, dan berkonsekwensi penetapan karakter, maksudnya adalah menyaringkan bacaannya saat membuka
80 Ibnu Hazm, al-Muhalla terj. Abu Usamah Fathurrahman, h. 384 81 Ibnu Hazm, al-Muhalla terj. Abu Usamah Fathurrahman, h. 384
bacaan surat di dalam salat (yakni di dalam salat jahr, yaitu salat yang bacaannya dinyaringkan).82
Menurut Ibnu Katsir, pendapat yang paling sahîh tentang basmalah adalah bahwa ia merupakan pemisah antarsurat, sebagaimana hadis dari Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Abû Dâwud, “Bahwa Rasulullah SAW. tidak mengetahui pemisah surat sehingga diturunkanlah Bismillâhirrahmânirrahîm.” Jadi barang siapa yang berpandangan bahwa basmalah termasuk ayat surat al-Fâthah, berarti ia berpendapat bahwa membacanya harus jahr dalam salat, dan orang yang tidak berpendapat demikian, berarti membacanya secara sirr (tidak nyaring). Masing- masing pendapat itu dianut oleh para sahabat sesuai dengan pandanganya sendiri. Keterangan yang menegaskan ihwal khalifah yang empat menyebutkan bahwa mereka men-sirr-kan basmalah, demikian pula beberapa kelompok tabi’in salaf
dan khalaf. Men-sirr-kan basmalah juga merupakan mazhab Abu Hanifah, ats- Tsauri, dan Ibnu Hambal. Menurut Imam Malik basmalah itu tidak perlu dibaca, baik sirr maupun jahr. Kesimpulannya, salat orang yang membaca basmalah secara sirr dan jahr adalah sah. Hal ini berdasarkan riwayat dari Nabi SAW. dan kesepakatan para imam.83
Imam al-Qurthubi dalam Jami’ li Ahkam al-Qur’an tentang basmalah, menurut beliau pendapat membaca basmalah dengan samar bersama surat al- Fâtihah merupakan pendapat yang baik dan sesuai dengan atsar yang diriwayatkan dari Anas, serta tidak bertentangan dengannya. Pendapat ini juga
82 Muhammad bin Ali bin Muhammad al-Syaukani, Tafsîr Fatẖ al-Qadîr , juz 1, h. 66 83 Imam Ibn Katsîr, Tafsîrul Qur’ânil ‘Azîm, jilid 1, h. 55
dapat memberi jawaban orang-orang dari silang pendapat seputar hukum membaca basmalah.84
Nashruddin Baidan juga berpendapat dalam tafsirnya, Tafsir Kontemporer Surat al-Fâtihah, beliau berkata: “Apabila dikaji dengan saksama dalil-dalil yang mereka jadikan dasar untuk menetapkan hukum, maka akan ditemukan kelebihan dan kekurangan dalil masing-masing; dalam arti dalil-dalil yang mereka pakai mempunyai kekuatan dan kelemahan yang hampir sama, karena kedua belah pihak sama-sama menggunakan hadis ahad, yakni hadis yang tak sampai kederajat mutawatir. Dalam kasus serupa ini, pendapat mana yang diyakini itulah yang dipakai (diamalkan). Namun telah popular di dalam kaedah ushul fiqih bahwa dalil yang menetapkan (positif) lebih didahulukan dari pada dalil yang menafikan (negatif).85
Jangan sampai terjadi keretakan apalagi perpecahan umat, hanya disebabkan hal-hal yang sepele seperti perbedaan persepsi tentang basmalah di awal surat al-Fâtihah maupun di surat-surat lainnya. Jadi tidak perlu salah- menyalahkan karena perbedaan tersebut telah ada sejak permulaan Islam. Perlu ditanamkan di dalam diri kita masing-masing, bahwa beramal (beribadah) semata- mata ditujukan untuk memperoleh ridha Allâh ; tidak perlu dikaitkan dengan organisasi atau lembaga tertentu karena pertanggungjawabannya hanya kepada Allâh , bukan kepada organisasi atau lembaga itu.86
Abdul Malik Abdul karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan HAMKA, beliau mengatakan dalam tafsirnya, Tafsir al-Azhar. “Setelah kita
84 Syaikh Imam al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâmil Qur’ân, jilid 1, h. 237 85 Nashruddin Baidan, Tafsir Kontemporer Surat al-Fātiḥah, h. 34 86 Nashruddin Baidan, Tafsir Kontemporer Surat al-Fātiḥah, h. 34
selidiki dengan seksama, semua hadis yang membicarakan di antara jahr dan sirr Bismillâhirrahmânirrahîm itu, jelas bahwa pedoman dari kata-kata atau sabda Nabi SAW. sendiri (Aqwalun Nabi) tidak ada, yang memerintahkan men-jahr atau menyuruh men-sirr-kan, dan sebaliknya. Yang jadi pedoman ialah riwayat- riwayat dari sahabat-sahabat beliau. Baik yang yang menguatkan men-jahr atau yang memiih sirr saja. Dan setelah diselidiki pula semua sanad hadis-hadis itu, ada saja pembicaraan orang atasnya, baik hadis yang mengatakan jahr atau mengatakan sirr. Malahan terdapat dua riwayat berlawanan di antara jahr dan sirr dari satu orang. Sebab itulah masalah ini termasuk masalah khilafiyah masalah yang dipertikaikan orang. Atau termasuk masalah ijtihadiyah, artinya yang terserah kepada pertimbangan ijtihad masing-masing ahlinya. Dalam hal ini
terpakailah Qa’idah Ilmu Ushul yang terkenal.87
داهتجَابُدق يَُداهتجَا
“Ijtihad tidaklah dapat disalahkan dengan ijtihad pula.”
Sampai Ibnu Qayyim di dalam Zâdil Mâd mengambil satu jalan tengah.
Dia berkata : “Sesungguhnya Nabi SAW. adalah men-jahr-kan Bismillâhirrahmânirrahîm sekali-kali dan membacanya dengan sirr pada kebanyakan kali. Dan tidak syak lagi, tentu tidaklah beliau selalu men-jahr-kan tiap hari dan tiap malam lima kali selama-lamanya, baik ketika dia sedang berada dalam kota ataupun sedang dalam perjalanan, akan tersembunyi saja yang demikian itu bagi khalifah-khalifahnya yang bijak dan bagi jumhur sahabat- sahabatnya dan ahli sejamannya yang mulia itu. Ini adalah hal yang sangat
mustahil, sehingga orang perlu menggapai-gapai ke sana ke mari mencari sandaran dengan kata-kata yang mujmal dan hadis-hadis yang lemah. Meskipun hadis-hadis yang diambil itu ada yang sahîh, namun dia tidaklah sarih, dan meskipun ada yang sarih, tidak pula dia sahîh.”88
M. Quraish Shihab dalam tafsirnya mengatakan bahwa masing-masing pendapat mempunyai alasan-alasan keagamaan, masing-masing berusaha mengikuti tata cara yang dicontohkan oleh Nabi yang diriwayatkan oleh para sahabat beliau. Di sini timbul pertanyaan, apakah tidak mungkin justru Nabi SAW. telah memberikan beberapa contoh atau mempraktikan sekian ragam cara ibadah? Bukankah beliau hidup di tengah-tengah sahabatnya selama dua puluh tahun lebih? Agaknya cukup logis untuk mengiyakan pertanyaan di atas. Dalam hal ini, di kalangan sementara ulama dikenal istilah Ta’adud al-Ibâdât (keragaman cara beribadah). Kalau ini diterima, maka kita bisa menyimpulkan bahwa semua cara yang disebut di atas itu dapat dibenarkan dan tidak perlu saling dipertentangkan. Pintu surga sedemikian lebar sehingga dapat dimasuki oleh semua orang yang secara ikhlas mengikuti cara dan ajaran yang ia yakini telah diajarkan oleh Nabi SAW.89
Betapapun, seperti kata Abduh yang dinukil oleh Rasyid Ridha dalam Tafsîr al-Manâr, basmalah adalah ayat al-Qur’an. Karena itu, dalam buku tafsir ini, tidak salahnya kita kaji kandungannya, terlepas dari persoalan apakah ia bagian dari al-Fâtihah atau bukan. Penomoran ayat-ayat di dalam buku ini dibuat
88 Abdul Malik Abdul Karim Amrullah (HAMKA), Tafsir al-Azhar , jilid 1, h. 127 89 M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, jilid 1, h. 9
berdasarkan pendapat bahwa basmalah adalah ayat pertama surat al-Fâtihah. Demikian yang dikutip oleh M. Quraish Shihab.90
76
Dari uraian yang telah dikemukakan dari bab I sampai IV, dapat diambil sebuah kesimpulan, I’tibar dan pesan bahwa yang menyebabkan perbedaan di kalangan ulama terkait dengan pembacaan basmalah dalam salat di antaranya adalah:
1. Bermacam-macamnya hadis yang saling bertentangan satu sama lain.
2. Perbedaan dalam menentukan kedudukan basmalah dalam al-Fâtihah maupun al-Qur’an.
3. Perbedaan dalam menafsirkan hadis-hadis yang tekait dengan masalah ini.
Jadi, orang yang berpedoman kepada bacaan para imam qira’at yang
memandang basmalah sebagai salah satu ayat dari surat al-Qur’an maka tidak sah
salatnya kecuali harus membaca basmalah. Sedangkan bagi orang yang
berpedoman kepada bacaan para imam qira’at yang tidak memandang basmalah sebagai salah satu ayat dari Ummul Qur’an, maka dia dipersilahkan memilih antara membaca basmalah dengan tidak membaca basmalah.
Selanjutnya dalam membacanya, apakah dikeraskan atau tidak? Dalam hal ini terdapat tiga pendapat yang semuanya mempunyai dalil hadis masing-masing tempat mereka berpegang: pertama, sunah dikeraskan, pendapat tersebut dikemukakan Imam asy-Syafi’i dan mereka yang menyepakatinya. Kedua, tidak sunah dikeraskan (sunah disamarkan), pendapat itu dikemukakan Imam Abu Hanifah, mayoritas ahli hadis, ahli ra’yi dan sejumlah fuqaha. Ketiga, boleh
memilih di antara keduanya (dibaca keras atau samar), pendapat tersebut adalah pendapat Ishak bin Rahawaih dan Ibnu Hazm.
Jadi kesimpulannya, salat orang yang membaca basmalah secara sirr (tidak dikeraskan) dan jahr (dikeraskan) adalah sah. Hal ini berdasarkan riwayat dari Nabi SAW. dan kesepakatan para imam.
B. SARAN
Dari pembahasan yang telah diuraikan di atas, dapat dilihat bahwa masing- masing kelompok mempunyai dalil yang dijadikan hujjah bagi mereka. Terlepas dari kebenaran hujjah kelompok-kelompok di atas, hendaknya ini tidak menjadikan alasan terpecah-belahnya umat Islam. Karena perlu dipahami bahwa ini adalah permasalahan furu’iyah yang sangat wajar, jika terdapat perbedaan di dalamnya. Asalkan tidak merusak yang asal atau yang inti, maka tidaklah jadi persoalan. Masing-masing bisa mengamalkan sesuai dengan keyakinan dan hujjah masing-masing dan tidak menjadikan perbedaan ini sebagai alat untuk merusak ukhuwah islamiyah di antara sesama muslim.
Hasil penelitian ini merupakan sekelumit dari disiplin ilmu pengetahuan. Terkait hadis-hadis yang penulis telusuri hanya terbatas pada al-Kutub al-Sittah, sehingga bahan kajian sangat terbatas sekali. Adapun harapan penulis kepada pembaca adalah dapat mengkaji hadis yang lainnya untuk lebih memperkaya perbendaharaan kitab hadis, sehingga akan banyak bahan analisa yang dapat diperbincangkan.
Demikian juga dengan kitab-kitab syarh dan buku referensi yang asngat minim, penulis juga berharap kepada pembaca agar dapat melengkapi referensi
lebih banyak lagi. Dan bagi umat Islam hendaklah dalam menjalani hidup di dunia ini mengacu pada dalil-dalil yang absolut kebenarannya, yakni al-Qur’an dan hadis sahîh.
Saran terakhir, umat Islam jangan pernah berhenti untuk terus mengkaji aspek kehidupan Nabi, karena penulis yakin, dengan demikian akan menambah rasa cinta dan kerinduan kita kepada beliau. Sehingga yang diharapkan kelak adalah dapat bersanding dengannya.
79 DAFTAR PUSTAKA
Abdul Karim Amrullah (HAMKA), Abdul Malik. Tafsir al-Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982.
Abu Ubaidah, Darwis. Tafsir al-Asas; tafsir lengkap dan menyentuh ayat-ayat seputar Islam, Iman dan Ihsan. Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2012.
Abu al-Husain al-Qusyairi al-Naisaburi, Muslim bin al-Hajjaj. Sahîh Muslim. Bayrût: Dâr al-Fikr, tth.
Agama R.I, Departemen. al-Qur’an dan Tafsirnya. Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci al-Qur’an, 1983.
Ali, Atabik. Kamus Kontemporer Arab-Indonesia. Yogyakarta: Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, 1996.
Annuri, Ahmad. Panduan Tahsin Tilawah al-Qur’an & Ilmu Tajwid. Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2010.
‘Arabi, Ibnu. Tafsir Qur’anul Karim. Dâr al-‘Arabiyah, 1968.
Baidan, Nashruddin. Tafsir Kontemporer Surat al-Fâtihah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012.
Bakker dan Jubair. Metode Penulisan Filsafat. Yogyakarta: Kanisius, 1994. Al-Bassam, Abdullah bin Abdurrahman. Syarah Bulughul Maram terj. Aan
Anwariyah dkk. Jakarta: Pustaka Azzam, 2010.
Al-Batawy, Saiful Anwar. Rahasia Kedahsyatan Basmalah. Jakarta: Kunci Iman, 2012.
Al-Bukhârī al-Ju‘fī, Muḥammad bin ‘Ismâ‘īl Abū ‘Abdillâh. Sahîh al-Bukhârî. Bayrût: Dâr al-Fikr, 1994.
80 Al-Caff, Muhammad. Tafsir Populer al-Fâtihah; Menyelami Makna Lahir dan Batin al-Fâtihah Secara Mudah dan Sederhana. Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2011.
Faqih Imani, Allamah Kamal. Tafsir Nurul Qur’an; sebuah tafsir Sederhana menuju Cahaya al-Qur’an. Jakarta: al-Huda, 2003.
Hadi , Sutrisno. Metode Research 1. Yogyakarta: Andi Offset, 1987.
Hazm, Ibnu. Al-Muhalla terj. Abu Usamah Fathurrahman. Jakarta: Pustaka Azzam, 2008.
Husnan, Djaelan. Perbandingan Mazhab dalam Hukum Islam. Jakarta: Yayasan Wakaf Baitussalam Billy Moon, 2013.
Ibn Katsîr, Isma’il bin ‘Amr al-Qurasyi bin Kasir al-Basri ad-Dimasyqi
‘Imâduddîn Abul Fidâ’ al-Hâfiz al-Muhaddis asy-Syafi’i. Tafsîrul
Qur’ânil ‘Azîm. Kairo: Matba’ah al-Istiqâmah, 1958.
Ibnu Mâjah, Abu Abdillah Muhammad Ibn Yazid al-Qazwini. Sunan Ibnu Mâjah. Bayrût: Dâr al-Fikr, tth.
Ismail, M. Syuhudi. Hadis Menurut Pembela, Pengingkar dan Pemandunya. Jakarta: Gema Insani Press, 1995.
Katsoff, Lois O. Pengantar Filsafat. Penerjemah Suyono Sumargono. Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992.
J. Moleong , Lexy. Metodologi Penulisan Kualitatif. Bandung: Rosdakarya, 2005.
Al-Marâghî, Ahmad Musṯafa. Tafsîr al-Marâghî. Mesir: Musṯafa al-Bâbî al- Halabî, 1974.
Mashadi, Mansur. khasiat dan Mu’jizat surat al-Fâtihah. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1995.
81 Muhammad Syamsul Haq al-‘Azhim Abadi, Abu Ath-Thayyib. Aunul Ma’bud; Syarah Sunan Abû Dâwud terj. Anshari Taslim. Jakarta: Pustaka Azzam, 2009.
Munawwir, Ahmad Warson. al-Munawwir; Kamus arab-Indonesia. Surabaya: Pustaka Progressif, 1997.
Al-Nasâ’î, Aḥmad bin Syu‘âb Abū ‘Abdirrahmân. Sunan al-Nasâ’î. Bayrût: Dâr al-Fikr, t.th.
Nasib Ar-Rifa’i, Muhammad. Kemudahan dari Allah: Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir. Jakarta: Gema Insani Press, 1999.
Al-Qurthubi, Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar bin Farh al- Ansari al-Khazraji al-Andalusi. Al-Jâmi’ li Ahkâmil Qur’ân. Mesir: Dâr al- Kutub al-Misriyah, tth.
Quthb, Sayyid. Tafsîr Fî Zilâl al-Qur’ân (Kairo: Dâr al-Ihya al-Tijari al-
‘Arabiyah, 1386)
Ridha, M. Rasyid. Tafsîr al-Manâr. Beirut: Dâr al-Fikr, t.th.
Rusyd, Ibnu. Bidayatul Mujtahid terj. Beni Sarbeni, dkk. Jakarta: Pustaka Azzam, 2006.
Al-Ṣâliḥ, Ṣubhî. ‘Ulûm al-Hadîts wa Muṣṭalaḥuhu. Bayrūt: Dâr al-‘Ilmi Lilmayîn, 1988.
Salim, Abd. Muin. Jalan Lurus Menuju Hati Sejahtera; Tafsir surat al-Fâtihah. Jakarta: Pustaka Hidayah, 1999.
Ash-Shan’anī. Terjemahan Subulus Salam terj. Abu Bakar Muhammad. Surabaya: al-Ikhlas.
82 Ash-Shidiqi, Hasbi. Sejarah dan Pengantar Ilmu Tafsir al-Qur’an. Jakarta: Bulan
Bintang, 1994.
Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Misbah; Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati, 2002.
Softwere “al-Maktabah al-Syâmilah”, bagian 2.
Sugiyono. Memahami penulisan Kualitatif. Bandung: CV Alfabeta, 2005.
Sulaymân bin al-Asy‘ats al-Sijistânî, Abû Dâwud. Sunan Abû Dâwud. Bayrût: Dâr al-Fikr, tth.
Al-Syaukani, Muhammad bin Ali bin Muhammad, Tafsîr Fatẖ al-Qadîr. Mesir: Dâr al-Hadîts, 1413 H/1993 M.
At-Tabari, Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Khalid bin Kasir Abu Ja’far.
Jâmi’ul Bayân fî Tafsîril Qur’ân. Bayrut: Dâr al-Kutbi al-Ilmiyah, 1426 H/2005 M.
Tafsir al-Qur’an, Majlis. Tafsir al-Qur’an Surat al-Fâtihah dan al-Baqarah ayat 1-39. Solo: Percetakan al-Abror.
Tim AAK UIN Jakarta. Pedoman Akademik: Program Strata 1 2012-2013. Jakarta: Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan UIN Jakarta, 2012.
Al-Tirmîdzî, Muhammad bin Isa Abu Isa. Sunan al- Tirmîdzî. Bayrût: Dâr al-Fikr, tth.
Wensinck, A. J. Al-Mu'jam al-Mufahras li al-fâz al-Hadîs. Leiden: E. J. Brill, 1943.
Yunus, Mahmud. Kamus Arab-Indonesia. Jakarta: PT. Mahmud Yunus wa Dzurriyyah, 2010.