• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendapat Pemangku Kepentingan Tentang Penggunaan

III. METODE PENELITIAN

3.5 Metode Analisis Data

3.5.4 Pendapat Pemangku Kepentingan Tentang Penggunaan

lahan yang terbaik apabila sub DAS tersebut di atas mempunyai kelas kinerja “Baik” atau keempat parameternya mempunyai nilai yang terbaik.

Empat skenario yang dikembangkan dalam simulasi ini, yakni sebagai berikut :

Skenario Aktual, skenario ini bertujuan untuk melihat kondisi hidrologi yang diakibatkan oleh penggunaan lahan yang berkembang saat ini.

Skenario RTRW, skenario ini bertujuan untuk mengetahui kondisi hidrologinya apabila pemanfatan ruang wilayah diterapkan secara penuh berdasarkan RTRW Kabupaten/Kota Bogor.

Skenario Fungsi Kawasan, skenario ini bertujuan untuk melihat kondisi hidrologinya bila usaha konservasi air dilakukan dengan penggunaan lahan yang diatur sesuai dengan SK Mentan No. 837/Kpts/Um/11/1980.

Skenario Kemampuan Lahan, skenario ini bertujuan untuk melihat kondisi hidrologinya apabila penggunaan lahannya didasarkan pada Kemampuan Lahannya, sesuai dengan evaluasi lahan menurut USDA.

3.5.4 Pendapat Pemangku Kepentingan Tentang Penggunaan Lahan Optimal

Informasi mengenai persepsi dari berbagai pemangku kepentingan dimaksudkan untuk melihat keinginan mereka dalam memanfaatkan lahan di Kawasan Budidaya. Hasilnya berupa urutan kepentingan penggunaan lahan dalam pemanfaatan ruang di daerah kajian. Selain itu informasi ini juga bermanfaat untuk melihat sejauh mana perbedaan antara arahan penggunaan lahan hasil análisis (skenario terbaik) dengan keinginan masyarakat.

Pemeringkatan jenis penggunaan lahan pada penelitian ini menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP). Dalam menyusun hirarki, pendekatan yang digunakan adalah konsep pembangunan berkelanjutan dengan 3 pilar utamanya yaitu aspek keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Struktur hirarkinya seperti disajikan pada Gambar 4. Alternatif yang dipilih yaitu 4 jenis penggunaan lahan yang banyak terdapat di daerah penelitian.

Secara umum wilayah penelitian dibagi dalam 2 zone yaitu

Zone Lindung, adalah wilayah yang pemanfaatan ruangnya diperuntukkan sebagai perlindungan daerah tersebut dan daerah di sekitarnya. Pada zone ini tidak dilakukan pemeringkatan penggunaan lahan karena diasumsikan semua penggunaan lahan dikembalikan fungsinya sebagai kawasan lindung atau penggunaan lahannya hutan.

Zone budidaya, adalah wilayah yang pemanfaatan ruangnya sebagai daerah budidaya. Pada Zone ini dilakukan pemeringakatan penggunaan lahan untuk mendapatkan informasi penggunaan lahan yang optimal. Zone budidaya ini dibagi lagi menjadi Kawasan Penyangga dan Kawasan Budidaya.

Gambar 4 Struktur hirarki pemilihan penggunaan lahan optimal pada daerah penelitian.

Penggunaan Lahan Optimal

Ekonomi Sosial Ekologi

Pendapatan Tenaga Kerja Peluang Pasar Konservasi SD Air Kesesuaian Lahan Penguasaan Teknik Budidaya

Hutan Kebun Ladang

Campuran

IV KEADAAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

Daerah penelitian merupakan sub-DAS Cisadane bagian hulu di mana lokasi outletnya terletak pada stasiun pengukur tinggi muka air sungai

Batubeulah. Daerah ini secara geografis terletak di antara 106o28’50” BT –

106o56’39” BT dan - 6o28’48” LS - 6o47’16” LS. Secara administrasi meliputi 168 desa pada 21 kecamatan di Kabupaten Bogor serta 39 desa pada 4 kecamatan di Kota Bogor. Sub DAS Cisadane Hulu mempunyai luas berdasarkan

perhitungan menggunakan metode SIG adalah sebesar 854,79 km2 atau sekitar

85.479 ha. Bentuk sub-DAS Cisadane Hulu menyerupai trapesium mempunyai panjang (utara-selatan) kurang lebih 34,08 km dan lebar (barat-timur) kurang lebih 51,39 km.

4.1 Kondisi Fisik 4.1.1 Topografi

Sub DAS Cisadane Hulu mempunyai titik terendah yang terletak pada outletnya yaitu pada ketinggian + 75 m dpal, sedangkan titik tertinggi berada di lereng Gunung Pangrango dengan ketinggian sekitar + 2.587,5 m dpal. Perbedaan tinggi tempat yang besar tersebut menyebabkan wilayahnya mempunyai variasi kemiringan lereng yang lebih kompleks mulai dari daerah datar hingga sangat curam. Perbandingan luas wilayah berdasarkan kelas kemiringan lereng disajikan pada Tabel 6. Sebaran keruangan masing-masing kelas kemiringan lereng wilayah Sub-DAS Cisadane Hulu disajikan pada Gambar 5.

Daerah dengan kategori kemiringan lerengnya datar menempati wilayah terkecil yaitu sekitar 3,57% dari total wilayah penelitian atau sekitar 3.051 ha. Wilayah ini tersebar di sebelah utara dan timur yang merupakan daerah hilir sub DAS Cisadane Hulu. Daerah landai ini berada pada ketinggian antara 100 – 300 m dpal.

Gambar 5 Peta Kemiringan Lereng Sub DAS Cisadane Hulu

Daerah dengan kategori kemiringan landai menempati wilayah terluas yaitu sekitar 34,63% atau seluas 29.599 ha. Lokasinya sebagian besar tersebar di bagian utara, tengah, dan timur daerah penelitian. Sebagian kecil lainnya di bagian barat di sekitar sungai Cikaniki dan bagian selatan di sekitar Sungai Cisadane bagian hulu. Sebagian besar daerah ini berada pada ketinggian antara 100-300 m dpal, dan sebagian kecil lainnya berada hingga pada ketinggian 600 m dpa l.

Daerah dengan kategori agak curam tersebar di bagian utara, barat, tengah dan selatan. Daerah dengan kemiringan di antara 15 – 25% ini menempati 21,64% dari total luas wilayah Sub-DAS Cisadane Hulu. Daerah ini sebagian besar berada di antara ketinggian 100-900 m dpal, dan sebagian kecil berada hingga pada ketinggian hingga 1300 m dpal.

Daerah dengan kategori curam banyak terdapat di bagian barat, selatan dan sebagian kecil di sebelah utara. Daerah dengan kemiringan antara 25-40% ini menempati 22,14% dari wilayah Sub-DAS Cisadane Hulu. Lokasi menyebar pada ketinggian mulai 75 m dpal hingga 1100 m dpal, dan sebagian kecil berada hingga pada ketinggian 1800 m dpal.

Tabel 6 Luas wilayah berdasarkan kelas kemiringan lereng No Kelas Kemiringan Keterangan Luas Ha % 1 0 -8 % Datar 3.051 3,57 2 8-15 % Landai 29.599 34,63 3 15-25 % Agak Curam 18.499 21,64 4 25-40 % Curam 18.929 22,14 5 > 40 % Sangat Curam 15.402 18,02 Jumlah 85.480 100,0

Daerah dengan kategori sangat curam banyak terdapat di bagian barat dan selatan. Daerah dengan kemiringan antara >40% ini menempati 18,02% dari wilayah Sub-DAS Cisadane Hulu. Lokasi menyebar pada ketinggian mulai 325 m dpal hingga 2587,5 m dpal, atau berada di daerah pegunungan atau perbukitan.

Di bagian selatan (hulu) terdapat pegunungan dan beberapa puncak gunung yang cukup tinggi mulai dari timur ke barat G. Pangrango adalah (3020 m dpal), G. Salak (2210 m dpal), G. Sumbul (1926 m dpal), G Perbakti (1715 m dpal), G. Gagak (1448 m dpal), G. Kasur (1204 m dpal), G. Kendang (1377 m dpal), dan G. Astana (1511 m dpal).

4.1.2 Geologi

Wilayah Sub DAS Cisadane Hulu, secara geologis, tersusun atas batuan gunung api, batuan sedimen, dan endapan permukaan (P3G Dirjen Geologi dan Sumber Daya Mineral 1998). Batuan gunung api tersebar di bagian selatan dan tengah daerah penelitian, sedangkan bagian utara banyak tertutup oleh batuan sedimen dan endapan permukaan hasil erosi material di bagian hulu (pegunungan).

Batuan gunungapi penyusun daerah penelitian ini sebagian besar adalah berupa endapan gunung api muda, di samping terdapat endapan gunung api tua dan batuan terobosan. Batuan endapan gunung api muda terdiri atas batuan gunungapi Pangrango (Qvp), batuan gunungapi Salak (Qvs), batuan Gunungapi

Endut-Perbakti (Qvep). Batuan endapan gunungapi tua terdiri atas tuf (Qvt), Lava Gunungapi (Qvl), dan Breksi Gunungapi (Qvb). Material utama pembentuk endapan tersebut dapat berupa breksi, lahar, lava dan tuf breksi berselingan dengan tuf pasir dan tuf halus. Batuan vulkanik menyusun daerah dengan bentuk lahan asal vulkanik pada daerah yang reliefnya bergunung, berbukit, berombak maupun dataran.

Batuan sedimen banyak di sebelah utara pada topografi perbukitan hingga dataran. Batuan sedimen tersebut berumur Tersier yang terdiri Anggota Batugamping Formasi Bojongmanik (Tmbl), Formasi Bojongmanik (Tmb) dan Tuf dan Breksi (Tmtb). Batuan ini mengisi daerah berrelief perbukitan hingga dataran.

Endapan Permukaan yang banyak terdapat di daerah penelitian terdiri atas Kipas Aluvial (Qav) dan Endapan Aluvial Sungai (Qa). Sebagian besar menempati bagian utara daerah penelitian dan berada pada lahan dengan relief datar hingga berombak.

4.1.3 Tanah

Menurut Peta Tanah Tinjau Daerah Cisadane Hulu Skala 1 : 250.000 dari Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Kementerian Pertanian, di daerah penelitian terdapat 11 satuan peta tanah (SPT). Sebaran SPT tersebut disajikan pada Gambar 6, sedangkan perbandingan luas masing-masing SPT disajikan pada Tabel 7.

Di bagian hulu tersebar beberapa SPT yang umumnya berada di daerah yang tinggi seperti di perbukitan (vulkanik) denudasional di bagian barat, kompleks G. Salak di bagian tengah dan di G. Pangrango di bagian timur. Di perbukitan denudasional terdapat SPT Asosiasi Latosol Coklat Kemerahan Latosol Coklat berbahan induk tuff vulkan yang menempati kurang lebih 3,19% sub DAS. Kedalaman tanahnya berkisar 90-120 cm, tekstur halus dengan drainase agak lambat.

Di sebelah timurnya, masih di perbukitan denudasional terdapat SPT Asosiasi Latosol Coklat dan Regosol Kelabu. Selain itu terdapat pula di lereng atas sebelah utara G. Salak, sehingga jumlah seluruhnya mencapai 15,68% daerah kajian. SPT ini berasal dari bahan induk tuff, lahar atau endapan lahar vulkan. Kedalamannya kurang dari 30 cm, dengan tekstur tanah kasar dan permeabilitasnya agak lambat. SPT Andosol Coklat Kekuningan menempati 14,68% sub DAS Cisadane Hulu, terdapat di perbukitan denudasional sebelah barat kompleks G. Salak dan di lereng tengah G. Salak bagian timur. Tanahnya berasal dari bahan induk vulkan. Tekstur tanah umumnya kasar, drainase baik dan permeabilitas agak cepat.

Tabel 7 Satuan peta tanah Sub DAS Cisadane Hulu

No Tanah Luas

(ha) % 1 Komp Latosol Merah Kekuningan Latosol

Coklat Podsolik Merah Kekuningan Litosol

24,571 28.75

2 Asosiasi Latosol coklat & Regosol kelabu 13,402 15.68

3 Andosol coklat kekuningan 12,548 14.68

4 Komp Latosol Merah Kekuningan Latosol Coklat Kemerahan & Litosol

10,940 12.80

5 Latosol coklat 7,922 9.27

6 Kompleks regosol kelabu & litosol 7,526 8.80

7 Podsolik merah 2,972 3.48

8 Asosiasi latosol coklat kemerahan & latosol

coklat 2,725 3.19

9 Asosiasi andosol coklat & regosol coklat 1,580 1.85

10 Kompleks rensina litosol dan brown forest soil 698 0.82

11 Asosiasi Aluvial Coklat Kelabu dan Aluvial Coklat Kekelabuan 596 0.70 Jumlah 85.479 100,00 Sumber : PPT (1983).

SPT Kompleks Regosol Kelabu dan Litosol luasnya 8,80% sub DAS menempati lereng tengah G. Salak dan berbahan induk material vulkan. SPT ini mempunyai kedalaman Sedang (60-90 cm) dengan tekstur tanah kasar dan permeabilitas sedang. SPT Kompleks Rensina, Litosol dan Brown Forest Soil

yang berbahan induk material vulkan ini terdapat di sekitar puncak G. Salak, luasnya hanya 0,82% luas sub DAS kajian. Kedalaman solum tanahnya antara 60- 90 cm, tekstur Sedang dengan permeabilitas Sedang. Selanjutnya terdapat SPT Latosol Coklat, merupakan tanah yang juga berbahan material vulkan tersebut mempunyai kedalaman 90-120 cm. Tanah ini terletak di lereng tengah bagian barat G. Pangrango, mempunyai tekstur halus dan permeabilitas agak lambat. Kemudian terdapat SPT Asosisasi Andosol Coklat dan Regosol Coklat. SPT ini berada di lereng atas G. Pangrango dan sebagian kecil di perbukitan vulkanik tererosi di bagian barat daya, dengan kedalaman kurang dari 30 cm. Bahan induknya material vulkan bertekstur kasar dengan permeabilitas yang agak cepat.

Hilir Sub DAS Cisadane sebelah barat, di sekitar S. Cikaniki tanahnya berupa Kompleks Latosol Merah Kekuningan Latosol Coklat Kemerahan dan Litosol. Kedalaman tanahnya mencapai 120 cm, teksturnya agak halus dengan permeabilitas agak lambat. Adapun di daerah perbukitannya, terdapat SPT Podsolik Merah. Tanah dengan kedalaman sekitar 30-60 cm ini mempunyai tekstur agak halus, sedangkan daya permeabilitasnya agak lambat. Di sebelah timur laut, terdapat sebagian kecil SPT Asosiasi Aluvial Coklat Kelabu dan Aluvial Coklat Kekelabuan. Kedalaman solum tanahnya kurang dari 30 cm, tekstur agak halus dan permeabilitasnya sangat lambat.

4.1.4 Iklim

Sub DAS Cisadane menurut klasifikasi Schmidt-Ferguson mempunyai iklim tipe hujan A artinya termasuk daerah yang sangat basah. Hal ini didasarkan pada Q hasil perhitungan yaitu sebesar 2,6% (Q<= 14,3%). Bulan kering terjadi di antara Juli – September, sedangkan bulan lainnya termasuk ke dalam bulan- bulan basah.

Rata-rata curah hujan daerah penelitian adalah sebesar 3097,65 mm/th. Curah hujan rata-rata tahunan secara umum bertambah nilainya semakin kearah tenggara. Sebaran curah hujan rata-rata tahunan dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7 Peta sebaran curah hujan Sub DAS Cisadane Hulu.

4.1.5 Hidrologi

Sub DAS Cisadane Hulu mempunyai sungai utama yaitu Sungai Cisadane yang berhulu di G. Pangrango dan G. Salak dengan panjang berdasarkan peta RBI adalah 111,28 kilometer. Sungai ini mempunyai anak-anak sungai utama di antaranya Ciampea, Cihideung, Ciapus, Cisindangbarang, Cinangneng, Cibungbulan, Cikaniki, Cikaluwung, Puraseda, Cianteun, Cipinanggading, Ciaruteun dan Ciherang. Menurut Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Banten, berdasarkan data debit dalam periode 1991 sampai 1998, sungai-sungai tersebut menghasilkan debit rata-rata bulanan 115,315 m3/det di stasiun Batubeulah, dengan debit bulanan rata-rata terendah pada Agustus sebesar 85,45 m3/det dan tertinggi pada bulan Januari sebesar 133,98 m3/det. Air sungai Cisadane merupakan sumber air baku bagi kebutuhan konsumsi untuk Kabupaten/Kota Tangerang dan Tangerang Selatan serta sebagian wilayah Provinsi DKI Jakarta.

Kualitas air permukaan di Sub DAS Cisadane Hulu pada umumnya masih berada di bawah Baku Mutu Lingkungan kecuali nilai TSS, Sulfida, Khlor,

COD, Phosphat, DO, Sianida, Mangan, Tembaga, dan Total Coliform (BLH Kab Bogor 2009). Nilai TSS (Total Suspended Solid) rata-rata yaitu 70 mg/l, sehingga nilai ini telah melampaui batas kriteria mutu kualitas air kelas 1 yaitu maksimal 50 mg/l. Hal ini menunjukkan adanya kandungan padatan yang tersuspensi dalam air permukaan yang relatif tinggi.

Sub DAS Cisadane Hulu juga mempunyai potensi sumber daya air yang berasal dari mata air dalam jumlah yang besar. Pemunculan air tanah tersebut disebabkan oleh karena secara geomorfologi daerah ini merupakan bentuk lahan asal vulkan/gunung berapi, yaitu Gunung Salak dan Gunung Pangrango. Terdapat sekitar 58 lokasi pemunculan mata air yang tersebar di kecamatan-kecamatan Tenjolaya, Tamansari, Pamijahan, Rumpin, Ciampea, Caringin, Ciawi, dan Rancabungur (BPDAS Citarum-Ciliwung 2007). Mata air dengan debit terbesar yakni 507 l/detik adalah mata air Ciburial yang terletak pada lereng Gunung Salak. Debit tersebut terus menurun dengan nilai penurunan sebesar 1,30% setiap tahunnya. Potensi sumber daya air permukaan tersebut digunakan sebagai bahan baku air minum baik yang dikelola oleh pemerintah daerah maupun pihak swasta. 4.2 Kependudukan

Jumlah penduduk suatu wilayah mempengaruhi kompleksitas masalah di berbagai bidang salah satunya di bidang sumber daya lahan. Hubungan kuantitatif sederhana antara jumlah penduduk dengan sumber daya lahan ditunjukkan dengan kepadatan penduduk. Kepadatan penduduk menggambarkan banyaknya penduduk yang mendiami suatu wilayah.

Kepadatan penduduk menurut daerah administratif di Sub DAS Cisadane Hulu meningkat nilainya ke arah timur atau kearah kota Bogor. Daerah administratif yang mempunyai kepadatan tertinggi adalah Kecamatan Bogor Tengah yaitu sebesar 12.202 jiwa/km2, sedangkan kepadatan terendah berada pada Kecamatan Nanggung yaitu sebesar 651 jiwa/km2. Sebaran kepadatan penduduk

V HASIL DAN PEMBAHASAN

Dokumen terkait