BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Landasan Teori
2.2.4. Pendapatan Asli Daerah (PAD)
2.2.4.1. Pengertian Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Pendapatan Asli Daerah (PAD) nerupakan penerimaan yang diperoleh daerah dari sumber-sumber di dalam wilayahnya sendiri yang dipungut berdasarkan Peraturan Daerah (perda) sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku.
Menurut BPS, Pendapatan Asli Daerah adalah pendapatan yang diperoleh daerah yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan untuk mengumpulkan dana guna keperluan daerah yang bersangkutan dalam membiayai kegiatannya.
Sedangkan menurut Mardiasmo (2002 : 132) Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah penerimaan dari sektor pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan milik negara dan hasil pengelolahan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain – lain Pendapatan Asli Daerah yang sah,
Sedangkan berdasarkan UU No.25 Tahun 1999 (dalam Siahaan, 2005 : 112) mendefinisikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah merupakan sebagai penerimaan yang diperoleh oleh suatu daerah dari sumber-sumber dalam wilayahnya sendiri yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah semua penerimaan yang diperoleh dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah, dan lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah dalam kurun waktu tertentu yang pemanfaatannya menjadi hak daerah yang bersangkutan.
Selanjutnya menurut Keputusan Mendagri Nomor 29 Tahun 2002 Pendapatan meliputi semua penerimaan yang merupakan hak Daerah dalam satu Tahun Anggaran yang akan menjadi penerimaan Kas Daerah. Pendapatan Daerah dirinci menurut kelompok pendapatan, yang meliputi: Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan dan lain-lain pendapatan yang sah
Setiap kelompok pendapatan dapat dirinci menurut jenis pendapatan; Kelompok Pendapatan Asli Daerah meliputi: a) hasil pajak daerah, b) hasil retribusi daerah, c) hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah lainnya yang dipisahkan, d) lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. Kelompok Dana Perimbangan meliputi: a) Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan bangunan, dan penerimaan dari sumberdaya alam, b) Dana Alokasi Umum, c) Dana Alokasi Khusus. Kelompok lain-lain pendapatan yang sah, antara lain hasil penjualan asset tetap Daerah dan jasa giro (Taufik, 2004 ; 21)
2.2.4.2. Sumber-Sumber Pendapatan Daerah
Soeparmoko (2001 : 94 - 95) mengemukakan sumber-sumber penerimaan pemerintah ataupun cara-cara yang dapat di tempuh pemerintah untuk mendapatkan uang pada pokoknya dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Pajak 2. Retribusi
3. Keuntungan di perusahaan-perusahaan negara
4. Denda-denda dan perampasan yang dijalankan oleh pemerintah
5. Sumbangan masyarakat untuk jasa-jasa yang di berikan oleh pemerintah
6. Hasil dari undian negara
7. Pinjaman baik dari dalam negeri maupun luar negeri 8. Hadiah
Selanjutnya menurut Samudra (1995 : 50-51) mengemukakan sumber pendapatan meliputi tidak saja Pendapatan Asli Daerah (PAD), akan tetapi termasuk pula sumber pendapatan daerah yang berasal dari penerimaan pemerintah pusat, yang dalam realisasinya dapat saja berbentuk bagi hasil penerimaan pajak dari pusat atau lainnya yang berbentu subsidi (sokongan) untuk keperluan pembangunan daerah dan sebagainya.
Alokasi sumber-sumber keuangan pemerintah untuk daerah bisa disebabkan oleh adanya permintaan daerah untuk membiayai kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat atau hal lainnya, yang dapat diwujudkan, misalnya dalam bagi hasil pungutan pajak, yakni pajak pusat yang sebagian atau seluruh hasilnya diserahkan kepada daerah (tax sharing), penyertaan modal pemerintah, yaitu investasi modal pemerintah pusat di daerah, pinjaman, bagian anggaran pusat yang dialokasikan untuk pengeluaran-pengeluaran khusus pemerintah daerah yang dibayar langsung oleh pemerintah pusat (Mursinto, 2005 ; 201)
Sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan pengertian dalam arti sempit. Jadi jelas berbeda dengan pengertian sumber pendapatan daerah (secara global). Sebab dari semua sumber-sumber pendapatan, hanya sebagian saja yang merupakan Pendapatan Asli Daerah. Contoh dari pendapatan asli daerah adalah penerimaan dari pungutan pajak daerah, retribusi daerah, hasil dari perusahaan daerah , dan lainnya yang merupakan sumber Pendapatan Asli Daerah itu yang digali atau dihasilkan oleh daerah yang bersangkutan dan merupakan pula
pendapatan daerahyang sah. Khusus mengenai retribusi daerah, merupakan pungutan langsung yang dikenakan untuk pelayanan tertentu dari pemerintah daerah. Pungutan ini dibedakan dari pajak daerah yang dipungut tanpa menunjuk langsung pelayanan yang diberikan. (Mursinto, 2005 ; 201)
2.2.4.3. Usaha - Usaha Yang Dapat Dilakukan Untuk Meningkatkan
Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Ada beberapa faktor yang dapat dilakukan guna meningkatkan Pendapatan Asli Daerah di kabupaten maupun kota. Seperti telah diungkapkan sebelumnya bahwa untuk kabupaten maupun kota Pendapatan Asli Daerah (PAD) seharusnya merupakan sumber utama dalam APBD guna pembangunan daerahnya. Dengan demikian ketergantungan terhadap pemerintah pusat menjadi semakin berkurang.
Faktor internal yang dapat ditempuh guna meningkatkan Pendapatan Asli Daerah diantaranya adalah meninjau kembali kelembagaan yang ada saat ini dalam artian dinas penghasil di kabupaten maupun kota. Hal ini berarti apakah lembaga atau dinas penghasil di kabupaten maupun kota sudah bekerja secara optimal. Kenyataan ini sangat penting sekali untuk menilai diri sendiri apakah fungsi pelayanan telah dijalankan secara optimal. Diakui atau tidak, menilai diri sendiri bukan sebuah hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. Bila dikaitkan dengan PP Nomer 8 Tahun 2003, yang pada prinsipnya berisi tentang struktur pemerintahan baik kabupaten maupun kota yang ramping
tetapi kaya fungsi pada era otonomi daerah. Memang kenyataan yang terjadi perubahan struktur organisasi yang sangat mendasar sampai saat ini masih belum diikuti dengan budaya organisasi yang memadai.
Seperti diketahui masih banyak penarikan pajak maupun retribusi yang tidak melalui hanya satu dinas penghasil melainkan melalui beberapa dinas. Kenyataan ini menimbulkan birokrasi yang relatif cukup panjang dan memerlukan waktu penyelesaian cukup lama. Bila kondisi suatu kabupaten maupun kota seperti demikian sebaiknya secepatnya dilakukan perubahan.
Faktor internal lainnya adalah perlunya peninjauan kembali terhadap Perda-perda di kabupaten dan kota yang berkaitan dengan Pendapatan Asli Daerah. Diakui atau tidak masih banyak Perda-perda yang tumpang tindih antara satu sama lain. Tentu saja berkaitan dengan perda ini, tentunya harus bekerja sama dengan pihak legislatif dalam hal ini DPRD kabupaten dan kota. Inventarisasi terhadap Perda-perda yang berkaitan dengan PAD tersebut harus secepatnya dilakukan, agar supaya dapat diketahui Perda yang tumpang tindih. Memang inventarisasi yang harus dilakukan ini memerlukan waktu cukup lama karena berkaitan dengan pihak lain dalam hal ini legislatif.
Faktor internal lainnya adalah perlunya dilakukan pemetaan terhadap obyek maupun subyek pajak dan retribusi yang potensial. Pemetaan ini tidak hanya dilakukan terhadap besaran dari pajak maupun retribusi tetapi juga jenis obyek pajak maupun wajib pajak. Melalui pemetaan ini, diharapkan akan diketahui jenis-jenis pajak apa yang belum
tergali maupun wajib pajak yang belum terdaftar sebagai wajib pajak. Cara ini berguna sebagai dasar perencanaan guna menentukan besarnya Pendapatan Asli Daerah di masa selanjutnya.
Faktor internal selanjutnya adalah perlu adanya kemudahan-kemudahan terhadap form-form isian sehingga mudah dimengerti oleh wajib pajak maupun proses penyelesaian kewajiban wajib pajak. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah melalui kerja sama dengan pihak lain dalam hal ini bank sehingga wajib pajak tidak perlu lagi datang ke dinas penghasil untuk membayar pajak. Dengan demikian akan dapat dihindari adanya kerja sama antara wajib pajak dengan oknum-oknum aparat dinas penghasil.
Selain faktor Internal tersebut diatas, faktor internal juga mempengaruhi Pendapatan Asli Daerah (PAD), yaitu misalnya masih banyak perilaku wajib pajak yang berusaha bekerja sama dengan oknum-oknum dinas penghasil agar supaya dikenakan pajak yang relatif rendah. Bila menghadapi wajib pajak sedemikian ini maka kedua belah pihak harus dikenakan sangsi yang proporsional. Tentu saja kepastian hukum terhadap mereka ini harus ditegakkan dengan benar.
Faktor eksternal yang juga harus diperhatikan adalah adanya kerja sama antara dinas pemberi ijin dengan dinas yang berhak untuk menarik pajak maupun retribusi. Melalui cara ini akan dapat diketahui adanya wajib pajak baru sehingga dapat dipakai sebagai dasar pertimbangan perencanaan selanjutnya. Idealnya dapat dilakukan melalui pelayanan satu atap agar supaya deteksi tersebut dapat dilakukan sedini mungkin.
Faktor eksternal yang juga ikut berperan dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah adalah perusahaan-perusahaan jasa yang menangani masalah pajak maupun retribusi. Perusahaan-perusahaan jasa tersebut perlu dilakukan inventarisasi agar supaya dapat dideteksi perusahaan mana yang kurang profesional dalam menjalankan kegiatannya. Bagi perusahaan ini bila tidak bekerja secara profesional harus diberikan sangsi dengan tegas. Hal ini untuk menghindari lamanya proses penyelesaian membayar pajak maupun retribusi yang sebenarnya kesalahannya terletak pada perusahaan jasa tersebut, namun seringkali ditimpakan pada dinas penghasil.
2.2.5. Kinerja Keuangan Daerah
Kinerja pemerintah daerah tidak dapat dinilai berdasarkan laba yang diperoleh karena pemerintah daerah bukan perusahaan pencari laba. Mungkin saja pemerintah daerah melakukan aktivitas menghasilkan pendapatan yang lebih besar dari biayanya sehingga mengalami surplus. Akan tetapi surplus yang diperoleh tidak berarti menunjukkan kinerja unit pemerintah yang bagus, sebab harus dilihat apakah surplus tersebut karena tarif yang terlalu tinggi yang dibebankan terhadap publik.
Kinerja keuangan pemerintah daerah sebagai penyusun dan pelaksana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) yang dapat digambarkan dalam suatu laporan kinerja keuangan surplus/deficit pemerintah.
Dengan demikian laporan surplus atau defisit pada anggaran adalah merupakan suatu laporan yang menyajikan tentang pendapatan pemerintah daerah selama satu periode dan biaya untuk memperoleh pendapatan tersebut.
Untuk lebih jelasnya, berikut ini merupakan Laporan surplus-defisit anggaran pemerintah daerah yang dapat disajikan pada tabel 2.1 sebagai berikut:
Tabel 2.1. : Laporan Surplus Defisit Anggaran Pemerintah Daerah Untuk Periode 31 Desember 20XX
No. Rek Keterangan Jumlah (Rp)
PENDAPATAN:
Pendapatan pajak hotel Pendapatan retribusi pasar Pendapatan laba BUMD
Pendapatan bagi hasil pajak dan bukan pajak Pendapatan DAU
Total Pendapatan BELANJA: Belanja rutin
Belanja perjalanan dinas Belanja barang
Belanja pegawai
Biaya sosialisasi akuntansi Jumlah belanja rutin Belanja pembangunan
Belanja pembangunan pertanian Belanja pembangunan industri Belanja pembangunan agama Jumlah belanja pembangunan Total Belanja Surplus/Defisit xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Sumber: Halim, 2002, Akuntansi Keuangan Daerah, Penerbit Salemba
2.2.6. Laporan Keuangan Daerah
2.2.6.1. Jenis Laporan Keuangan Daerah
Laporan keuangan daerah menurut IPSAS (International Public Sector Accounting Standart) seperti yang dikutip oleh Bastian (2001: 177) terdiri dari:
1. Laporan Posisi Keuangan / Neraca.
Laporan yang memberikan gambaran utuh suatu entitas (pemerintah daerah) pada suatu titik waktu. Dalam neraca akan tergambar elemen-elemen yang menyusun entitas tersebut, sehingga neraca sering disebut sebagai potret keuangan suatu entitas.
2. Laporan Surplus-Defisit / Laporan Kinerja Keuangan.
Laporan surplus-defisit adalah laporan yang menggambarkan kinerja keuangan entitas (pemerintah daerah) dalam satu periode akuntansi. Kinerja dalam hal ini digambarkan dengan kemampuan pemerintah daerah dalam menciptakan surplus. Ketika total biaya lebih besar daripada total pendapatan, maka terjadi defisit.
3. Laporan Arus Kas.
Laporan arus kas adalah laporan yang menggambarkan perubahan posisi kas dalam suatu periode akuntansi. Didalam laporan arus kas, perubahan posisi kas akan dilihat dari tiga sisi, yaitu kegiatan operasi, pendanaan dan investasi. Laporan arus adalah laporan yang selama ini dihasilkan oleh system akuntansi berbasis kas yang sebelumnya dianut oleh pemerintah daerah meskipun dalam format yang tidak sama persis.
4. Laporan Perubahan Ekuitas Dana.
Laporan ekuitas dana menyajikan informasi mengenai perubahan surplus dan defisit anggaran akibat berbagai transaksi yang terjadi dalam satu periode. Laporan ini merupakan pelengkap dari laporan surplus/defisit anggaran.
5. Laporan Perhitungan Anggaran dan Nota Perhitungan Anggaran. Merupakan suatu laporan yang menggambarkan selisih antara jumlah yang dianggarkan dalam APBN diawal periode dengan jumlah yang telah direalisasikan dalam APBD diakhir periode.
2.2.6.2. Pemakai Laporan Keuangan Daerah
Laporan keuangan daerah akan digunakan oleh berbagai pihak yang berkepentingan dan terlibat dengan pemerintah daerah baik langsung maupun tidak langsung, sehingga pihak-pihak tersebut disebut sebagai pemakai laporan keuangan pemerintah daerah.
Menurut Halim (2002: 22) pemakai laporan keuangan pemerintah daerah adalah:
1. DPRD.
2. Badan Eksekutif.
3. Badan Pengawas Keuangan.
4. Investor, Kredit dan Donatur Pemerintahan.
5. Analisis Ekonomi dan Pemerhati Pemerintah Daerah. 6. Rakyat.
2.2.6.3. Tujuan Pelaporan Keuangan Pemerintah Daerah
Menurut Bastian (2006: 96) Tujuan dari pelaporan keuangan umum dalam pemerintah daerah adalah menyadiakan informasi yang berguna untuk tujuan pengambilan keputusan dan untuk mendemonstrasikan akuntabilitas entitas untuk sumber-sumber daya terpercaya dengan:
1. Menyediakan informasi mengenai sumber-sumber, alokasi dan penggunaan sumber daya finansial.
2. Menyediakan informasi mengenai bagaimana entitas mendanai aktivitasnya dan memenuhi persyaratan kasnya.
3. Menyediakan informasi yang berguna dalam mengevaluasi kemampuan entitas untuk mendanai aktivitasnya dan untuk memenuhi kewajiban dan komitmennya.
4. Menyediakan informasi mengenai kondisi finansial suatu entitas perubahan di dalamnya.
5. Menyediakan informasi agregat yang berguna dalam mengevaluasi kinerja entitas dalam hal kas jasa, efisiensi dan pencapaian tujuan.
2.2.7. Analisis Rasio Keuangan
2.2.7.1. Pengertian Analisis Rasio Keuangan
Menurut Halim (2002: 127) Analisis keuangan adalah usaha mengidentifikasi ciri-ciri keuangan berdasarkan laporan keuangan yang tersedia. Penggunaan analisis rasio terhadap APBD belum banyak dilakukan sehingga secara teori belum ada kesepakatan mengenai nama
dan kaidah pengukurannya. Meskipun demikian, dalam rangka pengelolaan keuangan daerah yang transparansi, jujur, demokratis, efektif, efisien dan akuntabel, analisis rasio terhadap APBD perlu dilaksanakan meskipun kaidah pengakuntansian dalam APBD berbeda dengan laporan keuangan yang dimiliki perusahaan swasta. Analisis rasio keuangan pada APBD dilakukan dengan cara membandingkan hasil yang dicapai dari satu periode dibandingkan dengan periode sebelumnya sehingga dapat diketahui bagaimana kecenderungan yang terjadi.
Hasil analisis rasio keuangan digunakan untuk:
1. Menilai kemandirian keuangan daerah dalam membiayai penyelenggaraan otonomi daerah.
2. Mengukur efektivitas dalam merealisasikan pendapatan daerah.
3. Mengukur aktivitas pemerintah daerah membelanjakan pendapatan daerahnya.
4. Melihat perkembangan perolehan pendapatan dan pengeluaran yang dilakukan selama periode waktu tertentu.
Pada pemerintah daerah, penggunaan analisis rasio keuangan masih sangat terbatas, karena:
1. Keterbatasan penyajian laporan keuangan yang sifatnya berbeda dengan penyajian laporan keuangan perusahaan.
2. Selama ini penyusunan APBD dilakukan berdasarkan tingkat inflasi dan mengabaikan bagaimana rasio keuangan dalam APBD.
3. Penilaian keberhasilan APBD sebagai penilaian pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah lebih ditekankan pada pencapaian target sehingga kurang memperhatikan bagaimana perubahan yang terjadi pada komposisi struktur APBD nya.
2.2.7.2. Jenis-Jenis Analisis Rasio Keuangan Pada APBD
Menurut Widodo seperti yang telah dikutip oleh Halim (2002: 128), ada beberapa rasio yang dapat dikembangkan berdasarkan data keuangan yang bersumber dari APBD antara lain:
1. Rasio Kemandirian Keuangan Daerah.
Kemandirian keuangan daerah menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintah, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat yang telah membayar pajak dan retribusi sebagai sumber pendapatan yang diperlukan daerah.
Kemandirian keuangan daerah ditunjukkan oleh besar kecilnya pendapatan asli daerah dibandingkan dengan pendapatan daerah yang berasal dari sumber lain, misalnya bantuan pemerintah pusat maupun dari pinjaman.
x100% Pinjaman dan Provinsi atau Pusat Pemerintah Bantuan Daerah Asli Pendapatan n Kemandiria Rasio
Rasio kemandirian menggambarkan ketergantungan daerah terhadap sumber dana ekstern. Semakin tinggi rasio kemandirian mengandung arti bahwa tingkat ketergantungan daerah terhadap bantuan pihak ekstern (terutama pusat dan propinsi) semakin rendah dan demikian pula sebaliknya. Rasio kemandirian juga menggambarkan tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah. Semakin tinggi rasio kemandirian, semakin tinggi parstisipasi masyarakat dalam membayar pajak dan retribusi daerah yang
merupakan komponen utama pendapatan asli daerah. Semakin tinggi masyarakat membayar pajak dan retribusi daerah akan menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang semakin tinggi.
2. Rasio Efektifitas Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Rasio efektivitas menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam merealisasikan pendapatan asli daerah yang direncanakan dibandingkan dengan target yang ditetapkan berdasarkan potensi riil daerah.
x100% Diharapkan Yang PAD Penerimaan Target Daerah Asli Pendapatan Realisasi s Efektifita Rasio
Kemampuan daerah menjalankan tugas dikategorikan efektif apabila rasio dicapai minimal sebesar 1 atau 100%. Namun semakin tinggi rasio efektivitas menggambarkan kemampuan daerah yang semakin baik.
3. Rasio Efisiensi Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Rasio efisiensi adalah rasio yang menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan dengan realisasi pendapatan yang diterima.
x100% PAD Penerimaan Realisasi PAD Memungut n Untuk Dikelaurka Yang Biaya Efisiensi Rasio
Kinerja pemerintah dalam melakukan pungutan pendapatan dikategorikan efisien apabila rasio yang dicapai kurang dari 1 atau di bawah 100%. Semakin kecil rasio efisiensi berarti kinerja pemerintah daerah semakin baik.
4. Rasio Aktivitas. a Rasio Keserasian.
Rasio ini menggambarkan bagaimana pemerintah daerah memprioritaskan alokasi dananya pada belanja rutin dan belanja pembangunan secara optimal. Semakin tinggi presentase belanja pembangunan yang digunakan untuk menyediakan sarana dan prasarana ekonomi masyarakat cenderung semakin ke riil.
x100% APBP Total Rutin Belanja Total APBD Terhadap Rutin Belanja Rasio Dan x100% APBD Total n Pembanguna Belanja Total APBD Terhadap n Pembanguna Belanja Rasio
Belum ada patokan yang pasti mengenai besarnya rasio rutin maupun pembangunan terhadap Anggaran Pendapatan dan Balanja Daerah (APBD) yang ideal, karena sangat dipengaruhi oleh dinamisasi kegiatan pembangunan dan besarnya kebutuhan investasi yang diperlukan untuk mencapai pertumbuhan yang ditargetkan. Sebagai daerah bagian dari negara yang berkembang, peranan pemerintah daerah untuk memacu pelaksanaan pembangunan yang relatif masih kecil, sangat perlu ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan pembangunan di daerah.
b Penyerapan Dana Per Triwulan.
Penyerapan dana per triwulan menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam melaksanakan dan mempertanggungjawabkan secara periodic atas kegiatan yang
direncanakan pada masing-masing triwulan. Hal ini sesuai dengan pasal 37 Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban keuangan daerah yang menegaskan bahwa Pemerintah Daerah menyampaikan laporan triwulan pelaksanaan APBD kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Apabila realisasi penerimaan pendapatan per triwulan dikurangi realisasi pengurangan per triwulan terjadi surplus dan sementara penyerapan dana untuk pengeluaran terbesar terjadi pada periode triwulan terakhir, hal ini berarti beban kerja pelaksanaan pembangunan terpusat pada kerja dan sumber daya lainnya pada masing-masing periode triwulan terakhir tersebut merupakan tahap penyelesaian dan masa pemeliharaan proyek.
5. Debt Service Coverage Ratio (DSCR).
Dalam rangka melaksanakan sarana dan prasarana pembangunan di daerah, selain menggunakan pendapatan asli daerah, pemerintah daerah dapat menggunakan alternatif lain, yaitu dengan melakukan pinjaman, sepanjang prosedur dan pelaksanaannya sesuai dengan peraturan yang berlaku, yaitu:
a Jumlah kumulatif pinjaman daerah yang wajib dibayar maksimal 75% dari penerimaan APBD tahun sebelumnya.
b DSCR minimal 2,5
DSCR merupakan perbandingan antara penjumlahan Pendapatan Asli Daerah (PAD), Bagian Daerah (BD), dari Pajak Bumi dan Bangunan, Bea Perolehan Hak atas Tanah serta Dana
Alokasi Umum (DAU) setelah dikurangi Belanja Wajib (BW), dengan pejumlahan Angsuran Pokok, Bunga dan Biaya Pinjamam lainnya yang jatuh tempo.
100% x Pinjaman) Biaya Bunga Angsuran (Pokok Total BW -DAU) BD (PAD DSCR
c Ketentuan yang menyangkut penggunaan pinjaman.
d Pinjaman jangka panjang digunakan membiayai pembangunan yang dapat menghasilkan penerimaan kembali untuk pembelian pinjaman dan pelayanan masyarakat.
e Pinjaman jangka pendek untuk pengaturan arus kas. f Ketentuan yang menyangkut prosedur.
g Mendapatkan persetujuan DPRD. h Dituangkan dalam kontrak. 6. Rasio Pertumbuhan.
Rasio Pertumbuhan (Growth Ratio) mengikuti seberapa besar kemampuan pemerintah daerah dalam mempertahankan dan meningkatkan keberhasilan yang telah tercapai dari periode berikutnya. Dengan diketahuinya pertumbuhan untuk masing-masing komponen sumber pendapatan dan pengeluaran, dapat digunakan mengevaluasi potensi-potensi mana yang perlu diperhatikan.
7. Tingkat Desentralisasi Fiskal.
Ukuran ini menunjukkan dan tanggungjawab yang diberikan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk melaksanakan pembangunan, ini berarti bahwa pemerintah pusat memberikan
otonomi kepada daerah untuk menyelenggarakan program-program regional, sehingga seluruh pertanggungjawaban pengelolaan dan pembiayaannya dilakukan oleh pemerintah daerah. Tingkat desentralisasi fiscal diukur dengan menggunakan rasio yaitu Pendapatan Asli Daerah terhadap Total Penerimaan Daerah (Hariyadi 2002: 237)
2.2.8. Desentralisasi
Istilah otonomi lebih cenderung pada political aspect (aspek politik kekuasaan negara), sedangkan desentralisasi lebih cenderung pada administrative aspect (aspek administrasi negara) (Rasyid, 2000: 78)
Menurut Nugroho (2000: 42) Desentralisasi adalah prinsip pendelegasian wewenang dari pusat kebagian-bagiannya, baik bersifat wilayah maupun fungsi. Prinsip ini mengacu kepada fakta adanya span of control dari setiap organisasi sehingga organisasi perlu diselenggarakan bersama-sama. Di dalam desentralisasi politik semacam ini, rakyat dengan menggunakan dan memanfaatkan saluran-saluran tertentu ikut serta didalam pemerintahan, dengan batas wilayah daerah masing-masing.
Menurut Nurcholis (2005: 3) Desentralisasi ini dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Desentralisasi territorial (territorial decentralisatie) yaitu penyerahan kekuasaan untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri, batas pengaturannya adalah daerah. Desentralisasi territorial mengakibatkan adanya otonomi pada daerah yang menerima penyerahan.
2. Desentralisasi fungsional (fungcionale decentralisatie) yang pelimpahan kekuasaan untuk mengatur dan mengurus fungsi tertentu. Batas pengaturan tersebut adalah jenis fungsi.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa desetralisasi adalah pelimpahan atau pendelegasian wewenang dari pusat ke daerah-daerah otonom sehingga organisasi perlu diselenggarakan bersama-sama.
Desentralisasi fiscal terutama dimaksudkan untuk memindahkan atau menyerahkan sumber-sumber pendapatan dan factor-factor