A. Teori-Teori Terkait Penelitian
2. Pendapatan Asli Daerah
a. Definisi Pendapatan Asli Daerah
Di dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah ini, hubungan kewenangan antara pusat dan daerah, antara lain bertalian erat dengan cara pembagian urusan penyelenggaraan pemerintahan atau cara menentukan urusan rumah tangga daerah. Setiap daerah dapat menggali potensi yang bisa dikembangkan, sehingga perkembangan masing-masing daerah meningkat pesat. Terdapat berbagai sektor yang dapat dikembangkan, diantaranya adalah sektor perdagangan, sektor jasa, sektor pertanian, sektor pariwisata dan lain-lain.
Otonomi daerah berfungsi untuk menciptakan keanekaragaman penyelenggaraan pemerintah, sesuai dengan kondisi dan potensi masyarakat serta mengakomodasi keanekaragaman masyarakat, sehingga
15
terwujud variasi struktur politik untuk menyalurkan aspirasi masyarakat. Pasal 1 ayat 6 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah menyebutkan bahwa otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Jaelani, 2018)
Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah menentukan bahwa Pendapatan Asli Daerah adalah pendapatan yang di peroleh daerah yang di pungut berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sesuai dengan ketentuan pasal 6 Undang-undang Perimbangan Keuangan antara Pemerintahan Pusat dan Daerah, Pendapatan Asli Daerah dapat di peroleh melalui sumber-sumber dana yang di dapat dari Pajak Daerah, Retribusi Daerah, hasil pengelolahan kekayaan daerah yang dipisahkan. Sumber- sumber pendapatan tersebut diharapkan menjadi sumber pembiayaan penyelenggaraan dan pembangunan untuk meningkatkan dan memeratakan kesejahteraan rakyat.
Dalam Undang-Undang No. 9 tahun 2015 tentang Pemerintah Daerah dan Undang-Undang No. 33 tahun 20004 tentang perimbang Keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah telah diatur bahwa pendapatan pemeerintah terdiri dari atas Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan dan lain-lain yang sah. Pendapatan Asli Daerah (PAD)
merupakan akumulasi dari Pos Penerimaan Pajak yang terdiri atas Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, serta pos penerimaan investasi serta pengelolaan sumber daya alam. (Bastian, 2002)
Pada konteks yang demikian, otonomi daerah dapat diandalkan sebagai konsep pembangunan dengan memberikan wewenang secara luas bagi pemerintah daerah dari pusat untuk meningkatkan PAD nya. Menurut Wahyudi, tuntutan peningkatan PAD semakin meningkat seiring dengan banyaknya personil, peralatan, pembiayaan dan dokumen ke daerah dalam jumlah yang tidak sedikit. Dana perimbangan dari pemerintah daerah dalam mendukung otonomi daerah meskipun jumlahnya cukup memadai namun pemerintah daerah harus dituntut lebih kreatif dan inovatif dalam meningkatkan PAD dan memberikan keleluasaan dalam membelanjakan APBD-nya. (Wahyudi Kumorotomo, 2010)
Dalam upaya memperbesar peran pemerintah daerah dalam pembangunan, pemerintah daerah dituntut untuk lebih mandiri dalam membiayai kegiatan operasional rumah tanganya, berdasarkan hal tersebut dapat dilihat bahwa pendapatan daerah tidak dapat dipisahkan dengan belanja daerah, karena adanya saling terkait dan merupakan satu alokasi anggaran yang disusun dan dibuat untuk melancarkan roda pemerintahan daerah.
17
b. Sumber-Sumber Pendapatan Asli Daerah
Adapun sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) menurut Undang-Undang No. 33 tahun 2004 ayat 1 dan 2 menyatakan bahwa PAD bersumber dari:
1) Pajak Daerah
Menurut Undang-Undang No. 34 tahun 2000 pajak daerah didefinisikan sebagai iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang yang dapat membiayai penyelenggaraan Pemerintah Daerah dan pembangunan daerah. Menurut Yani, pajak daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah daerah dan pembangunan daerah. (Yani, 2002)
Jenis-jenis pajak daerah untuk Kabupaten/Kota menurut Kadjamiko antara lain; pajak restoran, pajak hiburan, pajak reklame, pajak penerangan jalan, pajak pengembalian bahan galian golongan C, dan pajak parkir. (Kadjatmiko, 2002).
2) Retribusi Daerah
Retribusi daerah didefinisikan sebagai pungutan terhadap orang atau badan kepada Pemerintah Daerah dengan konsekuensi Pemerintah Daerah memberikan jasa pelayanan atau perjanjian
tertentu yang langsung dapat dirasakan oleh pembayar retribusi. Retribusi menurut Saragih adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan. (Saragih, 2003)
Menurut Undang-Undang No. 28 tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah menyebutkan bahwa retribusi daerah yang selanjutnya disebut retribusi adalah pungutan daerah sebagai pembayaran jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan atau diberikan pemerintah daerah untuk kepentingan pribadi atau golongan. Jenis pendapatan retribusi Kabupaten/Kota meliputi objek pendapatan adalah: retribusi pelayanan parkir di tepi jalan umum, retribusi pelayanan pasar, retribusi jasa usaha pasar grosir atau pertokoan, retribusi jasa usaha tempat khusus parkir, retribusi jasa usaha tempat penginapan atau villa, retribusi jasa usaha tempat rekreasi, dan lain-lain.
3) Hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan milik daerah yang dipisahkan
Penerimaan daerah ini berasal dari hasil perusahaan milik daerah dan pengelolaan kekayaan milik daerah yang dipisahkan. Perusahaan daerah adalah semua perusahaan yang didirikan dengan modal daerah baik seluruhnya ataupun sebagian. Dengan
19
tujuan dapat menciptakan lapangan pekerjaan atau mendorong perekonomian daerah dan merupakan cara yang efisien dalam melayani masyarakat dan untuk menghasilkan penerimaan daerah. Dalam Undang-Undang No. 33 tahun 2004 jenis pendapatan ini dirinci menurut objek pendapatan yang mencakup:
a) Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik daerah / BUMD.
b) Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik negara / BUMN.
c) Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik swasta atau kelompok usaha masyarakat.
4) Lain-lain 5)
6) sah
a) Hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan b) Jasa giro
c) Pendapatan bunga
d) Keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing
e) Komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan atau pengadaan barang dan jasa oleh daerah. Dari uraian tersebut di atas, maka intensifikasi dan eksternsifikasi sumber keuangan atau pendapatan daerah perlu dilakukan melalui
penggalian sumber-sumber keuangan baru sejalan dengan sumber Pendapatan Asli Daerah yang diatur melalui Undang-Undang No. 33 tahun 2004. Besarnya ketergantungan keuangan daerah pada subsidi dan bantuan pemerintah pusat, berakibat berkurangnya hakekat desentralisasi otonomi daerah.
7) Prospek Strategi Peningkatan Pendapatan Asli Daerah
Dalam desawarsa terakhir ini banyak negara berkembang menaruh perhatian yang khusus terhadap industri pariwisata. Hal ini jelas kelihatan dengan banyaknya program pengembangan kepariwisataan di negara tersebut. Disamping itu, bahwa bahan baku industri pariwisata tidak akan pernah habis, sedangkan bahan baku industri lain terbatas. Kebijakan pemerintah pada sektor pariwisata ada yang memberikan dampak langsung dan adapula yang memberikan dampak tidak langsung. Selain itu hal diatas ada kemungkinan suatu kebijakan ekonomi pemerintah memberikan dampak langsung pada sektor lain tetapi dapat memberikan dampak tidak langsung bagi sektor pariwisata.
Untuk dapat melaksanakan tugas otonomi dengan sebaik-baiknya, ada beberapa faktor yang perlu mendapat perhatian. Menurut Kaho, setidaknya ada empat faktor yang mempengaruhi pelaksanaan otonomi daerah, yaitu: (Redjo, 1998)
1) Keuangan harus cukup dan baik. 2) Manusia pelaksananya harus baik. 3) Peralatannya harus cukup dan baik.
21
4) Organisasi dan manajemen harus baik.
Sejalan dengan pendapat tersebut di atas Redjo mengatakan, ada empat hal yang penting untuk menilai suatu daerah dapat mengurus dan mengatur rumah tangga sendiri, yaitu: (Redjo, 1998)
1) Adanya urusan-urusan yang diserahkan oleh Pemerintah atasnya (Pusat dan Daerah Tingkat I)
2) Pengaturan dan penyusunan urusan tersebut dilakukan atas inisiatif dan kebijaksanaan sendiri.
3) Untuk mengatur urusan tersebut diperlukan perlengkapan atau aparatur sendiri.
4) Untuk mebiayai urusan tersebut diperlukan sumber keuangan
3. Sektor Pariwisata