• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Teori-Teori Terkait Penelitian

3. Sektor Pariwisata

Menurut Pasal 2 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan menyebutkan bahwa pembangunan kepariwisataan dilakukan berdasarkan asas manfaat, kekeluargaan, adil, merata, keseimbangan, kemandirian, kelestarian, partisipatif, keberlanjutan, demokratis, kesetaraan dan kesatuan yang diwujudkan melalui pelaksanaan rencana pembangunan kepariwisataan dengan memperhatikan keanekaragaman, keunikan dan kekhasan budaya dan alam, serta kebutuhan manusia untuk berwisata, yang telah disesentralisasikan dapat tercermin pada pelaksanaan fungsi pelayanan pemerintah yang bersifat lokal.

Menurut Undang-Undang No. 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan, dinyatakan bahwa wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang kunjungi dalam jangka waktu sementara. Pada dasarnya wisata mengandung unsur yaitu; kegiatan perjalanan, dilakukan secara sukarela, bersifat sementara, dan perjalanan itu seluruhnya atau sebagian bertujuan untuk menikmati objek atau daya tarik wisata.

Menurut ahli lain yang bernama Krippendort, bahwa pengertian pariwisata akan menjadi lebih jelas bila kita mempelajarinya dari segi jasa atau produk yang dihasilkan atau pelayanan yang diharapkan oleh wisatawan (konsumen) jika sedang berada dalam suatu perjalanan. Dengan tujuan ini maka akan terihat tahap dimana konsumen memerlukan

service (layanan) yang tertentu. Pendekatan ini beranggapan bahwa

produk dari industri pariwisata adalah semua jasa yang diberikan oleh tujuan wisata semenjak wisatawan meninggalkan tempat kediamannya, sampai di tempat tujuan, hingga kembali ke tempat asalnya. (J. Krippendorf, n.d.1971)

Menurut Cooper, pariwisata adalah serangkaian kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh perorangan atau keluarga atau kelompok dari tempat tinggal asalnya ke berbagai tempat lain dengan tujuan melakukan wisata dan bukan untuk bekerja atau mencari penghasilann di tempat tujuan.

23

Kunjungan dimaksud bersifat sementara (1 hari, 1 minggu, 1 bulan) dan pada waktunya akan kembali ke tempat tinggal semula. Jadi ada dua elemen penting yaitu: perjalanannya itu sendiri dan tinggal sementara di tempat tujuan dengan berbagai aktivitas wisatanya. (Cooper, 1993)

Dalam bidang destinasi pariwisata, Pemerintah Pusat mempunyai wewenang sebagai berikut, pertama, penetapan daya tarik wisata. Kedua, pengelolaan daya tarik wisata nasional. Ketiga, pengelolaan kawasan strategis pariwisata nasional. Keempat, pengelolaan destinasi pariwisata nasional dan penetapan tanda daftar usaha pariwisata lintas Daerah Provinsi. Adapun Pemerintah Daerah Provinsi dalam bidang destinasi pariwisata mempunyai wewenang pengelolaan daya tarik wisata provinsi, pengelolaan kawasan strategis pariwisata provinsi dan penetapan tanda daftar usaha pariwisata lintas Daerah Kabupaten/Kota dalam 1 (satu) Daerah Provinsi.

b. Konsepsi Pariwisata dan Pertumbuhan Ekonomi

Menurut Yoeti, pariwisata harus memenuhi empat kriteria di bawah ini, yaitu : (Yoeti, 2006)

1) Perjalanan dilakukan dari suatu tempat ke tempat lain, perjalanan dilakukan di luar tempat kediaman di mana orang itu biasanya tinggal.

2) Tujuan perjalanan dilakukan semata-mata untuk bersenang-senang mencari nafkah di negara, kota atau daya tarik wisata yang dikunjungi.

3) Uang yang dibelanjakan wisatawan tersebut dibawa dari negara asalnya, di mana dia bisa tinggal atau berdiam, dan bukan diperoleh karena hasil usaha selama dalam perjaanan wisata.

4) Perjalanan dilakukan minimal 24 jam atau lebih.

Menurut Spilane (1987), dalam arti luas pariwisata adalah perjalanan dari suatu tempat ke tempat lain, bersifat sementara, dilakukan perorangan maupun kelompok, sebagai usaha mencari keseimbangan atau keserasian dan kebahagiaan dengan lingkungan hidup dalam dimensi sosial, budaya, alam dan ilmu. Dikemukakan pula oleh Pendit (1990) bahwa pariwisata mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi, karena dapat menyediakan lapangan kerja, menstimulasi berbagai sektor produksi, serta memberikan kontribusi secara langsung bagi kemajuan-kemajuan dan usaha-usaha pembuatan dan perbaikan pelabuhan, jalan raya, pengangkutan, serta pelestarian lingkungan hidup dan sebagainya yang dapat memberikan keuntungan dan kesenangan baik kepada masyarakat setempat maupun wisatawan dari luar.

Menurut Joyusuharto, bahwa pengembangan pariwisata memiliki tiga fungsi, yaitu manggalakkan ekonomi, memelihara kepribadian bangsa dan kelestarian fungsi dan mutu lingkungan hidup, dan memupuk rasa cinta tanah air dan bangsa. Untuk menjalankan ketiga fungsi tersebut maka diperlukan pengembangan objek wisata dan daya tarik wisata, meningkatkan dan pengembangan promosi dan pemasaran, serta meningkatkan pendidikan dan pelatihan kepariwisataan. (Joyusuharto,

25 1995)

c. Jenis Pariwisata

Walaupun banyak jenis wisata ditentukan menurut motif tujuan perjalanan, menurut (Spillane, 1994) yang terdapat di daerah tujuan wisata yang menarik customer untuk mengunjunginya sehingga dapat pula diketahui jenis pariwisata yang mungkin layak untuk dikembangkan dan mengembangkan jenis sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan pariwisata tersebut.

1) Pariwisata untuk menikmati perjalanan (pleasure tourism)

Jenis pariwisata ini dilakukan oleh orang yang meninggalkan tempat tinggalnya untuk berlibur, mencari udara segara yang baru, untuk mengendorkan ketegangan syarafnya, untuk menikmati keindahan alam, untuk menikmati hikayat suatu daerah, untuk menikmati hiburan, dan sebagainya.

2) Pariwisata untuk rekreasi (recreation sites)

Jenis pariwisata ini dilakukan oleh orang yang menghendaki pemanfaatan hari-hari libur untuk istirahat, untuk memulihkan kembali kesegaran jasmani dan rohani, yang akan menyegarkan keletihan dan kelelahannya.

3) Pariwisata untuk kebudayaan (cultural tourism)

Jenis pariwisata ini ditandai oleh adanya rangkaian motivasi seperti keinginan untuk belajar di pusat-pusat pengajaran dan riset, untuk mempelajari adat istiradat, cara hidup masyarakat negara lain dan

sebagainya.

4) Pariwisata untuk olahraga (sports tourism)

Dalam jenis pariwisata ini, unsur yang ditekankan adalah kesempatan yang digunakan oleh pelaku perjalanan ini yang menggunakan waktu- waktu bebasnya untuk menikmati dirinya sebagai wisatawan yang mengunjungi berbagai objek wisata dan jenis pariwisata lain.

5) Pariwisata untuk konvensi (convention tourism)

Banyak negara yang tertarik dan menggarap jenis pariwisata ini dengan banyaknya hotel atau bangunan-bangunan yang khusus dilengkapi untuk menunjang convention tourism.

6) Pariwisata untuk urusan dagang (business tourism)

Pariwisata untuk urusan dagang umumnya dilakukan para pengusaha atau industrialis antara lain mencakup kunjungan ke pameran dan instalasi teknis.

d. Konsep Perilaku Wisatawan

Di lingkup pariwisata, konsep perilaku konsumen pun juga sudah menjadi pokok bahasan yang menarik. Studi tentang perilaku konsumen di sektor pariwisata sering menggunakan pendekatan dalam menegaskan pemahaman terhadap perilaku tersebut. Oppermann menegaskan bahwa loyalitas terhadap tujuan wisata sering dilihat dari pendekatan perilaku karena lebih mudah diimplementasikan berdasarkan ketersediaan data. Secara spesifik (Opperman, 2000) menegaskan bahwa wisatawan yang

27

sudah melakukan kunjungan ulang ke suatu tempat wisata cenderung memiliki ekspresi loyalitas yang tinggi terhadap daerah tujuan wisata terkait.

Hasan dan Amirullah menjelaskan bahwa kekuatan yang mempengaruhi keputusan membeli atau menggunakan jasa konsumen dapat dibagi dua kekuatan, yaitu a) kekuatan internal, seperti pengalaman belajar, kepribadian dan konsep diri, motivasi dan kepribadian, sikap dan keinginan, b) kekuatan eksternal, seperti: faktor budaya, sosial, lingkungan dan bauran pemasaran. (Hasan, 2013)

e. Definisi Potensi Pariwisata

Pengertian potensi wisata menurut Yoeti, adalah segala sesuatu yang terdapat di daerah tujuan wisata, dan merupakan daya tarik agar orang- orang mau datang berkunjung ke tempat tersebut. Uraian di atas dapat dijabarkan bahwa potensi objek wisata terjadi karena suatu proses, dapat disebabkan oleh proses alam maupun karena disebabkan oleh proses budidaya manusia yang selanjutnya dapat digunakan sebagai suatu kemampuan untuk meraih sesuatu. Potensi alam yang dimiliki oleh suatu objek wisata merupakan kekuatan yang paling besar untuk menarik pengunjung. (Yoeti, 2006)

Sujali mengartikan potensi sebagai perubahan bentuk permukaan bumi sebagai akibat sebuah proses alam dengan tenaga endogen sehingga membentuk pegunungan, sungai, danau, dan bentuk lainnya. Berkaitan dengan potensi daya tarik wisata, maka juga dapat disebabkan oleh adanya

budaya atau kreativitas manusia. Terdapat faktor-faktor yang berpengaruh terhadap potensi wisata suatu tempat, yaitu:

1) Aspek fisik, meliputi kondisi yang berpengaruh terhadap perubahan iklim, tanah, flora dan fauna, morfologi.

2) Atraksi, merupakan segala sesuatu yang menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung di suatu daerah, misal terdapat suatu festival tertentu seperti Dieng Culture Festival, upacara adat, dan lainnya.

3) Aksesbilitas, berkaitan dengan berbagai upaya yang dilakukan untuk mencapai tempat wisata, dalam hal ini semakin mudah tempat wisata ditemukan maka akan semakin tinggi pula minat wisatawan untuk berkunjung.

4) Pemilikan dan penggunaan lahan yang berpengaruh terhadapt lokasi tempat wisata serta arah kebijakan pengembangannya. Kepemilikan lahan seperti lahan pribadi atau dimiliki pemerintah. 5) Sarana dan prasarana pendukung wisata. Sarana wisata meliputi

transportasi, biro perjalanan wisata, penginapan, restoran. sedangkan prasarana wisata seperti komunikasi, listrik, persediaan air minum, sistem perbankan, pelayanan kesehatan. Sarana dan prasarana yang lengkap akan mendukung wisatawan untuk lebih lama berada di lokasi tersebut.

6) Masyarakat, peran masyarakat sangat penting sebagai pemilik atraksi wisata, oleh karenanya pemerintah secara berkala

29

melakukan penyuluhan kepada masyarakat dalam bentuk bina masyarakat sadarwisata.

f. Peran Sektor Pariwisata

Pariwisata merupakan suatu gejala sosial yang sangat kompleks, yang menyangkut manusia seutuhnya dan memiliki berbagai macam aspek yang penting, aspek tersebut diantaranya yaitu aspek sosiologis, aspek psikologis, aspek ekonomis, aspek ekologis dan aspek-aspek lainnya. Diantara sekian banyak aspek tersebut, aspek yang mendapat perhatian yang paling besar dan hamper merupakan satu-satunya aspek yang dianggap sangat penting adalah aspek ekonomisnya.

Pengembangan di dalam sektor pariwisata akan berhasil dengan baik, apabila masyarakat luas dapat lebih berperan atau ikut serta secara aktif. Agar masyarakat luas dapat lebih dapat berperan serta dalam pembangunan kepariwisataan, maka masyarakat perlu diberi pemahaman tentang apa yang akan diperoleh. Disamping itu, masyarakat juga harus mengetahui hal-hal yang dapat dirugikan yang diakibatkan oleh adanya pariwisata tersebut. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, peranan artinya tindakan yang dilakukan seseorang dalam suatu peristiwa. Konsep peran menurut Sedarmayati, ialah sebuah landasan persepsi yang digunakan setiap orang yang berinteraksi dalam suatu kelompok atau organisasi untuk melakukan suatu kegiatan mengenai tugas dan kewajibannya. (Sedarmayanti, 2004)

Menurut Musanef, memberikan batasan bahwa pariwisata adalah gabungan gejala dan hubungan yang timbul dari interaksi wisatawan, bisnis, pemerintah serta tuan rumah dalam proses menarik dan melayani wisatawan, serta pengunjung lainnya. Untuk itu, interaksi yang dilakukan oleh tuan rumah dengan wisatawan, bisnis, dan pemerintah mendapatkan kepuasan serta kepercayaan dalam hubungan tersebut. Dari sisi positif, pariwisata mempunya peran yaitu (Musanef, 1999):

1) Meningkatkan pendapatan devisa negara pada umumnya, serta pendapatan penduduk dan masyarakat sekitarnya, perluasan kesempatan kerja dan mendorong kegiatan-kegiatan industri lainnya.

2) Memperkenalkan pendayagunaan keindahan alam dan kebudayaan Indonesia.

3) Dapat mengembangkan komunikasi, transportasi,akomodasi, kebudayaan di daerah tujuan wisata diketahui banyak orang (wisatawan), mengurangi pengangguran, meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.

Sisi negatif dari penyelenggaraan kepariwisataan dapat menurunkan moral masyarakat, perubahan sikap masyarakat, tata cara keagamaan, mempengaruhi adat istiadat dan kebijakan masyarakat yang dikunjungi, turunnya nilai pada hutan lindung, dan turunnya nilai sejarah serta kebudayaan.

31

g. Tujuan dan Manfaat Pariwisata Indonesia

Industri pariwisata mulai dikenal di Indonesia setelah dikeluarkan Instruksi Presiden RI No. 9 tahun 1969. Dalam pasal 3 disebutkan, bahwa “Usaha-usaha pengembangan pariwisata di Indonesia bersifat suatu pengembangan industri pariwisata dan meripakan bagian dari usaha pengembangan dan pembangunan serta kesejahteraan masyarakat dan Negara.

Sesuai dengan instruksi Presiden tersebut dikatakan bahwa tujuan pengembangan pariwisata di Indonesia adalah:

1) Meningkatkan pendapatan devisa pada khususnya dan pendapatan Negara pada umumnya, perluasan kesempatan serta lapangan kerja dan mendorong kegiatan-kegiatan industri sampingan lainnya. 2) Memperkenalkan dan mendayagunakan keindahan alam dan

kebudayaan Indonesia.

3) Meningkatkan persaudaraan atau persahabatan nasioanl dan internasioanl.

Dengan pernyataan tersebut, jelaslah bahwa usaha-usaha yang berhubungan dengan kepariwisataan merupakan usaha yang bersifat

Comersial. Hal tersebut dapat dilihat dari betapa banyaknya jasa yang

diperlukan oleh wisatawan jika melakukan perjalanan wisata semenjak ia berangkat dari rumahnya tersebut. Jasa yang diperoleh tidak hanya oleh satu perusahaan yang berbeda funsgi dalam proses pemberian pelayanannya. Sedangkan manfaat pariwisata, adalah;

1) Menciptakan lapangan kerja

2) Meningkatkan penghasilan bagi masyarakat, baik dari pelayanan jasa maupun dari penjualan barang cinderamata.

3) Meningkatkan pendapatan negara. 4) Mendorong pembangunan daerah.

5) Menanamkan rasa cinta tanah air dan budaya bangsa.

h. Faktor Pendukung Pariwisata

Pariwisata sebagai salah suatu faktor dalam perkembangan ekonomi, peran dan pentingnya pariwisata internasional, karena pariwisata tidak hanya sebagai sumber perolahan devisa, akan tetapi juga sebagai faktor menentukan lokasi inudtsri dan pengembangan wilayah yang miskin akan sumber-sumber alam. Dari pengembangan pariwisata sendiri memiliki banyak dampak positif, diantaranya, menciptakan kesempatan berwirausaha, meningkatkan penerimaan pajak ke Pemerintah, dan juga dapat mendorong peningkatan investasi dari sektor industri pariwisata dan

Menurut Weaver & Lowton, faktor penarik didefinisikan sebagai sesuatu kekuatan yang dapat membantu untuk merangsang sebuah produk wisata dengan menarik konsumen kepada suatu destinasi tertentu. Sub faktor yang termasuk dalam faktor penarik adalah: (Weaver & Lowton, 2016 dalam Udayantini et al., 2015)

33 1) Aksebilitas

Sarana dan infrastruktur yang baik seperti transportasi, telepon umum, ketertiban jalan raya, trotoar untuk pejalan kaki dan lain- lain dapat menjadi faktor penarik utama bagi wisatawan dalam memilih negara destinasi.

2) Ketersediaan jasa atau service

Kesukesesan suatu produk pariwisata seringkali bergantung pada ketersediaan atas fasilitas-fasilitas jasa, seperti akomodasi, makanan dan minuman, travel agency, souvenir, iklan media masa dan lain-lain.

3) Budaya

Berdasarkan Mc. Intosh, salah satu dari empat motivasi berpergian adalah budaya, yang berarti keinginan untuk memperoleh keinginan untuk memperoleh pengetahuan negara lain, seperti musik, seni, tari, cerita rakyat dan agama. Pavule berpendapat wisatawan ingin mencari pengalaman lain dalam hal budaya yang mana berhubungan dengan budaya mereka sendiri. (Pavule, 2006) 4) Stabilitas politik dan keamanan

Stabilitas politik dan kemanan suatu daerah atau negara merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap pemilihan negara destinasi.

5) Ketersediaan atraksi

oleh beberapa faktor, seperti kualitas,kuantitas, keanekaragaman, keunikan dari suatu atraksi atau hiburan. Ketersediaan suatu atraksi merupakan bagian yang viral untuk menciptakan permintaan pariwisata karena atraksi-atraksi adalah suatu produk yang di jual kepada pengunjung.

Wisatawan membuat keputusan bertindak didasari saat melakukan kunjungan di tempat asal maupun saat memilih lokasi wisata dan semuanya didasari oleh motivasi wisatawan saat berkunjung ke suatu tempat.motivasi merupakan kebutuhan dan keinginan yang merupakan faktor pendorong untuk melakukan perjalanan. Sedangkan keputusan berkunjung wisatawan yaitu bagaimana wisatawan memandang suatu masalah atau kebutuhan dan bagaimana masalah atau kebutuhan dan bagaimana motivasi yang muncul dalam dirinya (Alexander Morissan, 2007)

i. Faktor Pendorong Pengembangan Pariwisata dan Perannya Dalam Pertumbuhan Ekonomi;

Faktor pendorong pengembangan pariwisata di Indonesia menurut (Spillane, 1987) ;

1) Berkurangnya peranan minyak bumi sebagai sumber devisa negara jika dibanding dengan waktu lain;

2) Merosotnya nilai ekspor pada sektor nonmigas;

3) Adanya kecenderungan peningkatan pariwisata secara konsisten;

35

4) Besarnya potensi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia bagi pengembangan pariwisata.

Menurut (Fandeli, 1995) faktor yang mendorong manusia berwisata adalah;

1) Keinginan untuk melepaskan diri tekanan hidup sehari-hari di kota, keinginan untuk mengubah suasana dan memanfaatkan waktu senggang.

2) Kemajuan pembangunan dalam bidang komunikasi dan transportasi.

3) Keinginan untuk melihat dan memperoleh pengalaman- pengalaman baru mengenai masurakat dan tempat lain.

4) Meningkatnya pendapatan yang dapat memungkinkan seseorang dapat dengan bebas melakukan perjalanan yang jauh dari tempat tinggalnya.

j. Strategi Pengembangan Pariwisata

Pengembangan sektor pariwisata merupakan suatu tindakan yang realistis dan logis, mengingat dampak positif yang ditimbulkan diantaranya semakin meluasnya kesempatan usaha, baik hotel, biro perjalanan, toko cinderamata, ketrampilan khas daerah, serta meningkatnya pendapat masyarakat dan mendorong terpeliharanya keamanan dan ketertiban walaupun sebenarnya juga ada hal-hal yang berdampak negatif. Kesenjangan antarwilayah di Indonesia tidak terlepas

dari adanya keragaman potensi sumber daya alam, letak geografis, kualitas sumber daya manusia, ikatan etnis atau politik. Peranan pariwisata dalam pembangunan Negara pada garis besarnya ber-inti-kan tiga, yakni segi ekonomis (sumber devisa, pajak-pajak), segi sosial (penciptaan lapangan kerja), dan segi kebudayaan (memperkenalkan kebudayaan kepada wisatawan baik domestik maupun internasional). Dari sisi pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia yang mencapai angka 7,2% angka tersebut juga lebih tinggi dari pertumbuhan dunia yang hanya mencapai 4,7%. Untuk lebih mengoptimalkan upaya pengembangan perekonomian daerah melalui kepariwisataam, diperlukan inovasi, prakarsa, dan kreatifitas, serta strategi pengembangan ekonomi masing-masing daerah.

Untuk pengembangan sebuah objek (produk) pariwisata, strategi kebijakan yang terintergratif dapat digunakan untuk membantu pengembangan pariwisata ini. Proses pengembangan dan implementasi berbagai bentuk program komunikasi persuasive kepada pemangku kebijakan, swasta dan partisipasi masyarakat secara keberlanjutan. Dalam strategi ini ada beberapa hal yang harus dilakukan, panduan yang dapat diambil yaitu bisa menggunakan hierarchy of effect yang dibuat oleh (Lavidge, n.d. 1996). Adapun tahapannya sebagai berikut:

37

1. Kesadaran (awareness), kesadaran harus dibangun sebagai permulaan dari proses komunikasi suatu produk. Dalam hal ini masyarakat harus sadar bahwa objek wisata yang akan dipromosikan oleh pemerintah itu ada. Tugas pemerintah daerah untuk mengenalkan mulai dari nama destinasi wisata dan keunggulan-keunggulannya. Pada tahap ini banyak sekali jalan yang bisa ditempuh oleh pemerintah daerah, misalnya dengan memberitakannya di berbagai media.

Pengetahuan (knowledge), setelah masyarakat telah banyak yang sadar akan adanya objek pariwisata tersebut. Pemerintah Daerah perlu mengetahui berapa banyak audiens yang mengerti sedikit, cukup banyak atau banyak sekali pengetahuan tentang objek wisata yang dipromosikan. Berdasarkan informasi tersebut, pemerintah daerah kemudian memilih pengetahuan tentang objek wisata sebagai tujuan komunikasi.

2. Menyukai (liking), bila masurakat sasaran telah menyukai atau berminat terhadap objek wisata yang dipromosikan, berarti masyarakat sasaran sudah sampai pada tahap ketiga dari hierarki. Jika masyarakat terlihat kurang menyukai objek wisata tersebut maka pemerintah daerah harus mengetahui alasannya dan mengembangkan suatu komunikasi pemasaran untuk mendorong perasaan menyukai.

3. Preferensi (preference), masyarakat mungkin menyukai objek wisata tersebut tapi tidak memilihnya dibandingkan objek wisata lain. Dalam hal ini, pemerintah daerah harus berupaya membangun preferensi konsumennya.

4. Keyakinan (convication), ada kemungkinan masyarakat sasaran sudah menjadikan objek wisata tersebut sebagai piliham tapi tidak memliki keyakinan yang pasti. Tugas pemerintah daerah adalah membangun keyakinan di antara para masyarakat yang tertarik bahwa objek wisata tersebut adalah yang terbaik bagi mereka. 5. Membeli (purchase), akhirnya beberapa orang dari masyarakat

mungkin memiliki keyakinan tetapi tidak bermaksud untuk mengunjunginya. Mereka kemungkinan menanti lebih banyak informasi atau merencanakan untuk bertindak kemudian. Komunikasi harus mengarahkan masyarakat ini agar mengambil langkah terakhir, yaitu melakukan kunjungan ke objek wisata yang kita promsikan.

Menurut Suryono, strategi pada prinsipnya berkaitan dengan persoalan: kebijakan pelaksanaan, penentuan tujuan yang hendak dicapai, dan penentuan cara-cara atau metode penggunaan sarana-prasarana. Strategi selalu berkaitan dengan tiga hal yaitu tujuan, sarana, dan cara. Oleh karena itu, strategi juga harus didukung oleh kemampuan untuk mengantisipasi kesempatan yang ada. Dalam pengembangan pariwisata daerah, pemerintah daerah harus melakukan berbagai upaya dalam pengeembangan sarana dan prasarana pariwisata. (Suryono, 2004)

39

k. Konsep Kepuasan Wisatawan

Kepuasan pelanggan tidak mudah didefnisikan. Ada berbagai macam pengertoan yang diberikan oleh para ahli. Kepuasan pelanggan adalah respons pelanggan terhadap evaluasi ketidaksesuaian yang di rasakan antara harapan sebelumnya (atau norma kinerja lainnya) dan kinerja actual produk yang di rasakan setelah pemakaiannya. (Wilton, 1988 dalam Kalebos, 2016). Kepuasan pelanggan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (atau hasil) yang ia rasakan di bandingkan dengan harapannya.

Kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja/hasil yang dirasakan dengan harapan. Kepuasan pelangan merupakan suatu hal yang menjadi harapan perusahaan khususnya dibidang hospotaliti. Kepuasan diperoleh apabila kebutuhan dan keinginan pelanggan terpenuhi, sedangkan keinginan dan kebutuhan manusia selalu berubah dan tidak ada batasnya. (Kotler dan Keller, 2010) mengatakan bahwa kepuasan wisatawan merupakan tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan antara kinerja produk/jasa yang ia rasakan dengan harapannya. Kepuasan adau ketidakpuasan wisatawan adalah respon terhadap evaluasi ketidaksesuaian atau diskonfirmasi yang dirasakan antara harapan sebeluumnya dan kinerja aktual produk yang dirasakan setelah pemakaian.

Dokumen terkait