Struktur rencana penerimaan dalam APBD tahun 2009 relatif tidak mengalami perubahan. Dari rencana sebesar Rp 954,42 miliar, sebagian besar masih bersala dari pos dana perimbangan, yaitu Rp 730,58 miliar. Yang secara lebih khusus lagi sumber terbesar dari dana alokasi umum sejumlah Rp 616,60 miliar. Sementara dari pos pendapatan asli daerah yang diperkirakan mencapai Rp 223,85 miliar, sebagian besar berasal dari pajak. Sementara bila melihat tingkat realisasi pendapatan pada tahun 2008, kondisinya cukup menggembirakan bahkan sedikit diatas target (100,8%).
Sumber : Biro Keuangan Provinsi NTT
Grafik 5.5 Realisasi Pendapatan Tahun 2008 Grafik 5.2 Pertumbuhan APBD Provinsi NTT
Tingkat realisasi pendapatan yang paling besar terjadi pada pos pajak daerah sebesar 120,09%, sehingga secara keseluruhan pendapatan asli daerah telah memenuhi 107,52% dari rencana. Sedangkan untuk dana yang bersumber dari pemerintah pusat (DAU), dari alokasi sebesar Rp 616 miliar, seluruhnya terealisasi selama tahun 2008. Sementara untuk penerimaan tahun 2009, berdasarkan tren empat tahun terakhir tingkat realisasi anggaran belanja pada akhir triwulan I diperkirakan berada pada kisaran 10% – 15%.
Ketergantungan sumber penerimaan daerah terhadap bantuan pemerintah pusat relatif sangat tinggi. Kontribusi dana perimbangan untuk mengisi celah fiskal (fiscal gap) dalam share pos pendapatan daerah terlihat cukup dominan. Dalam era otonomisasi daerah, hal ini mengindikasikan bahwa pada daerah-daerah atau provinsi tertentu dukungan pemerintah pusat masih mutlak diperlukan.
5.3 Belanja Daerah
Rencana anggaran belanja tahun 2009, mengalami penurunan sebesar 9,90% dibandingkan rencana tahun sebelumnya. Dari Rp 1,14 triliun menjadi Rp 1,03 triliun. Tidak adanya belanja hibah, dan penurunan alokasi belanja modal dari Rp 224,85 miliar menjadi Rp 168,16 miliar merupakan faktor utama penurunan alokasi belanja tahun 2009. Bila melihat efek yang ditimbulkan dalam menggerakan perekonomian, belanja modal memiliki multiplier effect yang besar. Meskipun disatu sisi diimbangi dengan kenaikan anggaran belanja pegawai sebagai dampak kenaikan gaji PNS, pengaruhnya diperkirakan tidak bersifat sustainable (berkelanjutan). Kenaikan gaji PNS secara otomatis umumnya akan mengangkat kinerja konsumsi, berbeda dengan belanja modal yang akan memberikan dampak lanjutan lebih besar.
Realisasi belanja untuk APBD 2008 sebesar 86,38% dari rencana. Dari Rp. 1,14 triliun, terealisasi sebesar Rp. 984,23 miliar. Sebagian besar pengeluaran pemerintah daerah merupakan belanja tidak langsung yang digunakan untuk belanja pegawai (pembayaran gaji) dan belanja hibah. Rencana belanja langsung sebesar Rp. 565,89 miliar, terealisasi sebesar Rp.
442,38 miliar, sedangkan untuk belanja tidak langsung dari Rp. 573,74 miliar, yang berhasil direalisasikan sebesar Rp. 541,85 miliar.
Menurut Biro Penyusunan Program SKPD dengan tingkat realisasi rendah adalah Balitbangda (29,18%), BKPMD (52,84%) dan Badan Perlindungan Masyarakat (62%). Kinerja realisasi belanja pemerintah pada tahun 2009 diharapkan dapat lebih optimal, sejalan dengan adanya perubahan IV Kepres 80 yang memungkinkan untuk melakukan pelelangan dan tender sebelum memasuki tahun anggaran baru. Sikap ekstra hati-hati dari aparat pemerintah daerah dalam melaksanakan proyek dan belum maksimalnya pemahaman sumber daya manusia terhadap ketentuan yang berlaku menjadi salah satu hambatan. Fenomena tersebut sangat berkaitan dengan masalah-masalah hukum yang bisa terjadi. Prosedur yang ketat dalam setiap kegiatan pengadaan barang dan jasa menjadi kendala dalam merealisasikan setiap program kerja yang telah direncanakan. Selain itu, keputusan pemerintah yang menaikan harga BBM, mengakibatkan semua SKPD harus menghitung ulang program yang telah disusun disesuaikan dengan kenaikan harga barang yang terjadi.
Grafik 5.6 Realisasi Belanja 2008
*
2008 2008 2009
PENDAPATAN 938,932,000,000 946,026,751,848 954,424,000,000
Pendapatan Asli Daerah 208,190,685,000 237,286,164,010 223,847,850,000
1 Pajak Daerah 124,472,258,400 150,722,921,922 136,662,800,000
2 Retribusi Daerah 31,990,055,250 32,817,661,228 35,345,705,250
3 14,500,000,000 12,707,325,599 14,500,000,000
4 Lain-lain 37,228,371,350 41,038,255,261 37,339,344,750
Dana Perimbangan 716,741,315,000 708,740,587,838 730,576,150,000
1 Bagi hasil pajak dan bukan pajak 57,563,515,000 53,820,333,838 61,215,350,000
2 Dana alokasi umum 616,601,800,000 616,601,854,000 616,601,800,000
3 Dana alokasi khusus 42,576,000,000 38,318,400,000 52,759,000,000
Lain-lain pendapatan 14,000,000,000
1
2 14,000,000,000
3 Dana bagi hasil pajak dari provinsi dan pemda lain 4 Dana Penyesuaian dan otonomi khusus
5 Bantuan keuangan dari provinsi atau pemda lain
BELANJA 1,139,424,850,104 984,233,460,799 1,026,623,375,053
Belanja tidak Langsung 573,536,271,158 541,853,187,396 530,065,465,400
1 Belanja Pegawai 278,758,075,920 284,868,218,105 347,763,137,000
2 Belanja bunga 3 Belanja subsidi
4 Belanja hibah 107,706,140,300 93,264,088,217 5,025,000,000
5 Belanja bantuan sosial 53,851,401,800 52,224,987,199 46,641,892,900 6 Belanja bagi hasil kepada prov/kab/kota dan desa 65,626,115,638 50,060,997,375 62,210,698,000 7 Belanja bantuan keuangan kepada pemerintah prov/ 56,594,537,500 53,276,973,500 57,424,737,500
kab/kota dan desa
8 Belanja tidak terduga 11,000,000,000 8,157,923,000 11,000,000,000
Belanja langsung 565,888,578,946 442,380,273,403 496,557,909,653
1 Belanja pegawai/personalia 65,294,012,451 45,564,709,030
2 Belanja barang dan jasa 275,745,154,620 239,658,531,857 282,838,037,091
3 Belanja modal 224,849,411,875 202,721,741,546 168,155,163,532
Pendapatan dana darurat Hasil perusahaan milik daerah
dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan
Pendapatan hibah
B
BB AAABBB VVVIII
T
TTEEENNNAAAGGGAAAKKKEEERRRJJJAAA&&&KKKEEESSSEEEJJJAAAHHHTTTEEERRRAAAAAANNN
6.1 Kondisi Umum
Pertumbuhan ekonomi relatif belum optimal dalam memberikan perbaikan signifikan, baik dari sisi tenaga kerja maupun kesejahteraan bagi masyarakat NTT. Hal ini tampak dari daya serap sektor riil terhadap tenaga kerja yang masih belum menunjukkan perubahan yang nyata dalam beberapa tahun terakhir. Kinerja setor rill dalam menyerap tenaga kerja masih berjalan relatif lambat. Secara struktural, dominasi sektor pertanian terhadap pembentukan PDRB juga tercermin dari kemampuan sektor tersebut dalam memberikan kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja.
Penurunan harga BBM pada bulan Januari 2009 lalu, relatif belum mampu mengangkat daya beli masyarakat secara signifikan. Angka indeks penjualan riil justru cenderung mengalami penurunan sejak bulan Desember 2008 lalu (hasil Survei Penjualan Eceran KBI Kupang). Peningkatan daya beli diperkirakan baru akan terjadi setelah realisasi kenaikan gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS), yang merupakan salah satu insentif bagi kegiatan konsumsi. Lambatnya pemulihan tingkat daya beli masyarakat juga dipengaruhi oleh peningkatan Upah Minimum Provinsi (UMP) yang masih berada di bawah level Kebutuhan Hidup Layak (KHL). Sehingga secara umum tingkat kesejahteraan masyarakan relatif belum mengalami perubahan signifikan dibandingkan triwulan sebelumnya.
6.2 Perkembangan Ketenagakerjaan
Tingkat pengangguran terbuka relatif belum mengalami perubahan. Berdasarkan data ketenagakerjaan pada bulan Agustus 2008, tercatat dari jumlah angkatan kerja di provinsi NTT sebesar 2.166,92 ribu jiwa dan terdapat 80,81 ribu yang menganggur atau secara prosentase tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Provinsi NTT sebesar 3,73%. Kondisi tersebut
relatif tidak jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya untuk periode yang sama, yaitu 3,72%. Namun demikian, jika diamati lebih lanjut 45,24% dari total angkatan kerja yang berkerja, sebenarnya termasuk dalam kategori setengah menganggur. Hal ini mengindikasikan peningkatan daya serap tenaga kerja didominasi pada sektor-sektor informal.
Sektor usaha informal pada dasarnya cenderung relatif rentan terhadap gejolak (shock) ekonomi yang terjadi. Tingkat turn over yang mungkin terjadi relatif besar. Hal ini dikarenakan usaha-usaha informal umumnya belum mapan, namun demikian ditengah kondisi gejolak ekonomi global saat ini usaha-usaha tersebut justru relatif tidak terkena dampaknya. Jenis usaha informal umumnya berskala UMKM, sehingga sangat bergantung pada daya beli masyarakat. Dengan kondisi kualitas sumber daya manusia yang sebagian besar masih terbatas, sektor usaha informal memang menjadi penyelamat. Secara umum, kondisi ketenagakerjaan di NTT masih belum mengalami perubahan signifikan.
Sumber : BPS diolah
Grafik 6.1 Perkembangan Tenaga Kerja NTT
Tabel 6.1 Perkembangan Ketenagakerjaan
Februari Agustus Februari Agustus Februari Agustus Penduduk 15+ 2,728,429 2,780,2762,753,967 2,810,310 3,017,928 3,045,015 Angkatan Kerja 2,107,262 2,098,7962,047,931 2,087,368 2,210,876 2,166,919 Kerja 2,002,355 2,015,2281,973,187 2,009,643 2,129,110 2,086,105 Penganggur 104,907 74,744 83,568 77,725 81,766 80,814 Bukan Angkatan Kerja 621,167 706,036 681,480 722,942 807,052 878,096 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja % 73.39% 71.65% 72.48% 71.51% 70.55% 68.51% Tingkatan Pengangguran Terbuka % 4.98% 3.65% 3.98% 3.72% 3.70% 3.73% Setengah Pengangguran 1,147,943 997,740 868,832 937,560 927,920 943,655 Terpaksa 523,539 391,936 296,782 333,319 474,660 366,790 Sukarela 624,404 605,814 572,050 604,241 453,260 576,865
Sumber : BPS Prov. Nusa Tenggara Timur
Secara struktural, sektor pertanian masih memegang peranan tertinggi dalam menyerap tenaga kerja. Kontribusi sektor pertanian dalam mendominasi pembentukan angka PDRB NTT, sejalan dengan kemampuan sektor tersebut dalam menyerap tenaga kerja. Dari total 2.086,11 ribu yang bekerja, 69,42% atau setara dengan 1.448,07 ribu yang berkecimpung pada sektor pertanian. Sektor lain yang cukup memberikan kontribusi dalam menyerap tenaga kerja adalah sektor jasa dan sektor perdagangan. Struktur perekonomian NTT dapat direfleksikan dalam struktur tenaga kerjanya. Namun demikian, bila dilihat perkembangan dari setiap tahunnya, terdapat indikasi adanya pergeseran struktur tenaga kerja di Provinsi NTT. Prosentase tenaga kerja pada sektor pertanian cenderung bergerak turun, sedangkan sektor-sektor yang lain cenderung mengalami peningkatan, antara lain : sektor jasa-jasa, sektor perdagangan, hotel dan restoran ataupun sektor industri yang merupakan sektor ekonomi sekunder dan tersier.
Bila melihat perkembangan ketenagakerjaan di NTT selama lebih dari 10 tahun terakhir, menunjukan angka yang positif dengan adanya peningkatan jumlah angkatan kerja. Namun demikian, beberapa gejolak yang pernah melanda Indonesia mengakibatkan terjadinya lonjakan pada angka tingkat pengangguran terbuka (TPT). Lonjakan yang cukup signifikan terjadi pada tahun 2001 dan 2005. Hal tersebut dikarenakan adanya kebijakan pemerintah yang menaikan harga BBM. Kondisi terebut mengakibatkan terjadinya pembengkakan biaya (high cost economy) yang memaksa pengusaha untuk merumahkan (lay off) sebagian karyawanya guna mempertahankan kelanjutan usahanya. Kemudian
Tabel 6.2 Struktur Ketenagakerjaan NTT
Februari Agustus Februari Agustus Februari Agustus PERTANIAN 1,573,830 1,550,9641,470,101 1,377,293 1,592,982 1,448,074 INDUSTRI 122,554 164,428 110,581 165,430 73,100 140,866 PERTAMBANGAN 22,215 3,348 13,374 17,587 24,042 18,544 LISTRIK dan AIR 1,087 1,228 2,320 2,033 2,728 2,626 KONSTRUKSI 32,561 42,703 50,964 49,955 47,738 47,529 PERDAGANGAN 73,608 93,527 105,628 131,000 124,662 141,387 TRANSP,PERGUDANGAN 53,308 61,463 71,760 80,464 97,408 97,102 & KOMUNIKASI KEUANGAN 4,338 5,719 6,408 7,223 7,606 10,059 JASA KEMASYARAKATAN 118,854 130,670 103,229 178,658 158,844 179,918 Total 2,002,355 2,015,2281,973,187 2,009,643 2,129,110 2,086,105
Catatan: *)Lapangan Pekerjaan Utama/Sektor Lainnya: terdiri dari Sektor Pertambangan serta Listrik, Gas dan Air
Sumber : BPS Prov. Nusa Tenggara Timur
krisis ekonomi pada tahun 1998 juga relatif sempat meningkatkan angka TPT di NTT meskipun tidak terlalu signifikan. Hal ini menunjukan bahwa struktur tenaga kerja di NTT masih relatif tahan terhadap gejolak yang berasal dari luar, dikarenakan sektor industri yang berbasis ekspor masih belum dominan dalam struktur perekonomian NTT.
6.3 Perkembangan Kesejahteraan
Tekanan terhadap kesejahteraan masyarakat NTT diperkirakan tetap akan dirasakan. Penurunan harga BBM belum mendorong penguatan daya beli masyarakat NTT. Hal ini dikarenakan penurunan harga BBM tidak serta merta langsung menurunkan harga barang-barang (BOKS Bab Inflasi), terutama kebutuhan pangan. Pada awal tahun 2009, Pemerintah Provinsi NTT berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat NTT, dengan menaikkan menaikkan standart Upah Minimum Regional (UMP). Sesuai dengan kesepakatan Dewan Pengupahan NTT pada tahun 2009 UMP mengalami kenaikan 19,23% dibandingkan tahun 2008, yaitu dari Rp. 650.000,00/bulan menjadi Rp. 775.000/bulan.
Adapun standart KHL yang ditetapkan diatas Rp 850.000 per bulan. Dalam standart KHL terdapat 7 kelompok penentu UMP adalah makanan dan minuman (pangan), sandang (pakaian), perumahan, pendidikan, kesehatan, transportasi, rekreasi serta tabungan. Upah minimum merupakan upah bulanan terendah yang terdiri atas upah pokok dan tunjangan tetap dan hanya berlaku bagi
Grafik 6.2 Perkembangan UMP NTT
Sumber : BPS Prov NTT 0 150000 300000 450000 600000 750000 900000 1050000 rupi a h 2001 2003 2005 2006 2007 2008 2009 UMP 275000 350000 450000 550000 600000 650000 775000 KHL 273979 349612 402989 670560 735000 782,466 879686
pekerja yang mempunyai masa kerja kurang dari 1 tahun. Dengan kondisi tersebut, secara umum pekerja di NTT relatif masih belum mengalami peningkatan daya beli. Namun demikian, diindikasikan akan ada sedikit sentimen positif pada bulan April melalui peningkatan gaji PNS.
Kondisi status tenaga kerja di NTT menjadi salah satu penyebab, tingkat kesejahteraan masyarakat relatif tidak berkembang. Sebagian besar pengusaha di NTT mempekerjakan buruh dengan status tidak tetap. Hal ini menyebabkan buruh sangat rentan terhadap PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Selain itu dari sekitar 2 (dua) juta angkatan kerja yang bekerja, sekitar 700 ribu merupakan pekerja yang tidak dibayar. Hal ini semakin menunjukan indikasi bahwa meskipun tingkat pengangguran di NTT dibawah 5% namun, jaminan kesejahteraan masyarakat masih relatif sangat minim.
Melalui program raskin (beras miskin) pemerintah berusaha membantu mengangkat kesejahteraan masyarakat. Untuk tahun 2009, alokasi raskin bagi Provinsi NTT mengalami penurunan. Jumlah RTS (Rumah Tanga Sasaran) penerima raskin turun 7,29% dibandingkan tahun 2008 menjadi 577.640 RTS dari yang semula 623.107. Hal tersebut secara simultan ikut berdampak pada berkurangnya jatah beras yang harus disalurkan menjadi 103,98 ribu ton dari 109,04 ribu ton, atau berkurang 4,64%. Jumlah RTS yang paling tinggi berada di Kab. Timor Tengah Selatan dengan 63.287 rumah tangga atau setara dengan 11,39 ribu ton beras. Adapun tingkat realisasi penyaluran raskin sampai dengan bulan April sebesar 7,66%.
Tabel 6.3 Status Pekerjaan Penduduk NTT
Februari Agustus Februari Agustus Februari Agustus Berusaha Sendiri 99,311 154,220 184,182 290,963 226,666 285,126
Berusaha dibantu buruh tidak tetap 792,843 786,757 756,752 715,335 768,787 768,506
Berusaha dibantu buruh tetap 11,221 14,147 26,707 25,458 27,595 29,175
Buruh/Karyawan 167,452 202,964 185,155 255,872 233,462 262,598
Pekerja bebas dipertanian 13,024 1,147 21,472 23,977 55,255 22,134
Pekerja bebas di Non Pertanian 17,890 11,525 18,043 22,322 23,381 16,909
Pekerja Tak Dibayar 900,614 802,427 822,917 675,716 793,964 701,657
Total 2,002,355 2,015,2281,973,187 2,009,643 2,129,110 2,086,105
Sumber : BPS Prov. Nusa Tenggara Timur
Pagu Raskin 2008
No. Kabupaten / Kota Sasaran
(RTS PM) Kuantum (KG)
1 Kota Kupang 12.794 2.302.920 2 Kab. Kupang 55.110 9.919.800 3 Kab. Rote Ndao 19.001 3.420.180 4 Kab. TTS 64.615 11.630.700 5 Kab. Sumba Timur 28.645 5.156.100 6 Kab. Ende 23.779 4.280.220 7 Kab. Flores Timur 19.016 3.422.880 8 Kab. Lembata 13.819 2.487.420 9 Kab. Sikka 35.508 6.391.440 10 Kab. Belu 49.263 8.867.340 11 Kab. TTU 24.746 4.454.280 12 Kab. Sumba Barat 15.605 2.808.900 13 Kab. Sumba Barat Daya 34.963 6.293.340 14 Kab. Sumba Tengah 11.084 1.995.120 15 Kab. Manggarai 35.194 6.334.920 16 Kab. Manggarai Barat 25.087 4.515.660 17 Kab. Manggarai Timur 32.754 5.895.720 18 Kab. Ngada 8.561 1.540.980 19 Kab. Nagekeo 10.331 1.859.580 20 Kab. Alor 25.336 4.560.480
Tabel 6.4 Pagu Raskin 2009
JUMLAH 545.211 98.137.980
B
BB AAABBB VVVIIIIII
O
OOUUUTTTLLLOOOOOOKKKPPPEEERRREEEKKKOOONNNOOOMMMIIIAAANNN
7.1 Pertumbuhan Ekonomi
Pada triwulan II-2009 diperkirakan perekonomian NTT tetap akan tumbuh positif pada kisaran 3,7% - 4,2% ; y-o-y. Dampak langsung penurunan ekonomi dunia saat ini diperkirakan relatif tidak berpengaruh secara signifikan. Penggerak utama ekonomi triwulan mendatang diperkirakan akan berasal dari anggaran belanja pemerintah yang mulai direalisasikan melalui proyek pembangunan fisik maupun yang sifatnya pengadaan. Selain itu kenaikan gaji PNS yang mulai dibayarkan pada bulan April mendatang menjadi insentif tersendiri dari sisi konsumsi yang tentunya akan direspon sisi penawaran melalui sektor perdagangan. Dari sektor primer, triwulan mendatang merupakan periode masa panen bagi komoditi tabama dan sebagian komoditi hasil bumi. Hal ini akan mendorong peningkatan kinerja ekspor secara langsung, mengingat hampir seluruh komoditi asal NTT diantarpulaukan dalam bentuk bahan baku tanpa mengalami proses menuju barang setengah jadi
Alokasi APBN tahun anggaran 2009 untuk kegiatan pembangunan di propinsi NTT yang naik sebesar 14 persen dibandingkan dengan tahun 2008. Hal ini diharapkan menjadi salah satu pendukung positif bagi kinerja
Grafik 7.1 Tren Pertumbuhan Ekonomi NTT 3,600
Sumber : BPS Provinsi NTT diolah
1,600 2,000 2,400 2,800 3,200 01 02 03 04 05 06 07 08
ekonomi tahun 2009, dengan nilai Rp 12,2 triliun akan menjadi salah satu pendukung kegiatan ekonomi tahun ini. Bahkan beberapa lembaga pemerintahan mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk NTT seperti Departemen Pendidikan Nasional senilai Rp 1 triliun, Departemen Pekerjaan Umum Rp 772 miliar, Kepolisian Negara 501 miliar dan Departemen Perhubungan senilai Rp 299 miliar.
7.2 Inflasi
Grafik 7.2 Proyeksi Inflasi Kota Kupang
Sementara itu, tekanan inflasi pada triwulan mendatang untuk wilayah Kota Kupang diperkirakan relatif mengalami penurunan pada kisaran 7 ± 1%; y-o-y. Untuk triwulan II sampai dengan Juni 2009, tekanan dari sisi suplai relatif akan membaik, namun demikian harus tetap diwaspadai tekanan dari sisi demand. Kenaikan gaji PNS yang mulai akan dibayarkan pada bulan April mendatang dapat menjadi insentif dalam meningkatkan aktivitas konsumsi. Sehinga perlu diimbangi dengan peningkatan kapasitas dari sisi penawaran. Keputusan pemerintah untuk menurunkan harga BBM per 15 Januari diharapkan memberikan sinyal positif terhadap tekanan inflasi sepanjang tahun 2009. Meskipun penurunan tersebut diperkirakan tidak akan serta merta langsung ditransmisikan melalui penurunan harga-harga barang di Kota Kupang, karena perkembangan harga di Kota Kupang sangat dipengaruhi oleh kondisi daerah lain (imported inflation).
130
Sumber : BPS Provinsi NTT diolah
50 60 70 80 90 100 110 120 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009