TINJAUAN PUSTAKA
III. Pendapatan Asli Daerah (PAD), Retribusi Daerah dan Retribusi Pasar 3.1.Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah dijelaskan definisi dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebagai berikut :
“Pendapatan Asli Daerah, selanjutnya disebut PAD adalah
pendapatan yang diperoleh Daerah yang dipungut berdasarkan Peraturan Daerah sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.”
Lebih lanjut pada pasal 3 ayat 1 disebutkan pula bahwa tujuan dari Pendapatan Asli Daerah adalah memberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerah untuk mendanai pelaksanaan otonomi daerah sesuai dengan potensi Daerah sebagai perwujudan Desentralisasi.
Faktor keuangan dalam pelaksanaan otonomi dinilai penting, karena uang merupakan hal pokok yang diperlukan oleh daerah untuk menyelenggarakan seluruh urusan rumah tangganya. Keuangan sangat
commit to user
diperlukan oleh daerah dalam mengatur dan mengurus ursan rumah tangganya. Apabila pemerintah daerah tidak memiliki dana yang cukup maka, pelaksanaan kewenangan pusat yang telah diserahkan kepada daerah tidak dapat terlaksana, sehingga ciri pokok dan mendasar otonomi, yakni desentralisasi, akan hilang.
Pentingnya posisi keuangan daerah dalam penyelenggaraan otonomi daerah tersebut mendorong pemerintah daerah untuk membuat alternatif cara untuk mendapatkan pembiayaan daerah melalui berbagai sumber sesuai dengan pembagian kewenangan antara pusat dan daerah. Hal ini tampak dalam penjelasan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Pasal 21 tentang Pemerintahan Daerah, yang menyatakan bahwa:
“Dalam menyelenggarakan otonomi, daerah mempunyai hak: mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya; memilih pimpinan daerah; mengelola aparatur daerah; mengelola kekayaan daerah; memungut pajak daerah dan retribusi daerah; mendapatkan bagi hasil dari pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang berada di daerah; mendapatkan sumber-sumber pendapatan lain yang sah dan mendapatkan hak lainnya yang diatur dalam Peraturan perundang-undangan.”
Berdasarkan hal tersebut, pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk menggali potensi daerah sebagai sumber-sumber penerimaan daerah dengan tetap mengacu kepada undang-undang. Sumber pendapatan daerah dijelaskan dalam Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, sebagai berikut:
commit to user
a. Pendapatan Asli Daerah 1 Pajak Daerah; 2 Retribusi Daerah;
3 Hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan; dan 4 Lain-lain PAD yang sah.
b. Dana Perimbangan 1 Dana Bagi Hasil;
2 Dana Alokasi Umum; dan 3 Dana Alokasi Khusus. c. Lain-lain Pendapatan
Lain-lain Pendapatan terdiri atas pendapatan hibah dan pendapatan Dana Darurat.
Dari penjabaran tersebut dapat diketahu bahwa, pendapatan asli daerah bersumber dari hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah.
Dengan demikian, dapat disimpulan bahwa Pendapatan Asli Daerah adalah pendapatan rutin yang bersumber dari pemanfaatan seluruh potensi daerah, untuk membiayai pelaksanaan otonomi daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan
commit to user 3.2. Retribusi Daerah
Dalam pelaksanaan otonomi, Pemerintah Daerah diberi keleluasaan dalam kewenangan, penataan organisasi dan pengelolaan keuangan, termasuk dalam hal ini kewenangan dalam pengelolaan retribusi daerah. Retribusi termasuk ke dalam salah satu sumber penerimaan daerah dari sisi Pendapatan Asli Daerah.
Pengertian retribusi daerah menurut Rohmat Sumitro dalam Adrian Sutedi (2008:74) adalah sebagai berikut :
“Retribusi daerah adalah pembayaran kepada negara yang dilakukan kepada mereka yang menggunakan jasa-jasa negara, artinya retribusi daerah sebagai pembayaran atas jasa atau karena mendapat pekerjaan usaha atau milik daerah bagi yang berkepentingan, atau jasa yang diberikan daerah baik secara
langsung maupun tidak langsung.”
Hal tersebut senada dengan definisi retribusi daerah yang dinyatakan oleh Panitia Nasri dalam Adrian Sutedi (2008:84) sebagai berikut :
“Retribusi daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran
pemakaian atau karena memperoleh jasa pekerjaan usaha, atau milik daerah untuk kepentingan umum, atau karena jasa yang
diberikan oleh daerah baik langsung maupun tidak langsung.”
Sedangkan pengertian retribusi daerah menurut UU No. 28 Tahun 2009 adalah sebagai berikut :
“Retribusi Daerah, yang selanjutnya disebut Retribusi, adalah
pungutan Daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau
commit to user
Menurut Adrian Sutedi (2008: 84) menyebutkan ciri-ciri pokok dari retribusi daerah, yaitu :
a. Retribusi dipungut oleh pemerintah daerah
b. Dalam pungutan retribusi terdapat prestasi yang diberikan pemerintah daerah yang langsung dapat ditunjuk
c. Retribusi dikenakan kepada siapa saja yang memanfaatkan jasa yang disediakan pemerintah daerah.
Berdasarkan beberapa definisi dan ciri diatas, dapat disimpulkan bahwa retribusi daerah adalah pungutan daerah yang dibebankan kepada masyarakat secara perseorangan maupun badan usaha yang memanfaatkan jasa yang diberikan pemerintah daerah secara langsung maupun tidak langsung.
Menurut Kesit Bambang Prakosa (2003:41) dalam prakteknya, pemungutan retribusi langsung atas konsumen biasanya dikenakan karena satu atau lebih pertimbangan-pertimbangan berikut ini :
a. Apakah pelayanan tersebut merupakan barang-barang publik atau privat. Jasa yang disediakan dianggap dapat memberikan keuntungan umum ataukah keuntungan pribadi.
b. Suatu jasa yang melibatkan suatu sumberdaya yang langka atau mahal dan perlunya disiplin masyarakat untuk mengkonsumsinya. c. Ada beberapa jenis konsumsi yang dinikmati oleh individu bukan
karena kebutuhan pokok sehingga merupakan pilihan daripada keperluan. Contohnya fasilitas rekreasi.
commit to user
d. Jasa-jasa dapat digunakan untuk kegiatan-kegiatan mencari keuntungan disamping memuaskan kebutuhan-kebutuhan individu di dalam negeri. Misalnya air minum, listrik ataupun pembuangan sampah. Hal ini mungkin mengakibatkan pembebanan retribusi kepada seluruh konsumen atau hanya kepada sektor perdagangan atau industri.
e. Retribusi dapat mengetahui atau menguji arah dan skala dari permintaan masyarakat akan jasa.
Setiap pungutan yang dilakukan oleh pemerintah daerah senantiasa berdasarkan prestasi dan jasa yang diberikan kepada masyarakat, sehingga keleluasaan retribusi daerah terletak pada yang dapat dinikmati oleh masyarakat. Jadi, retribusi daerah sangat berhubungan erat dengan jasa layanan yang diberikan pemerintah daerah kepada yang membutuhkan. Pemungutan retribusi daerah memang bisa dipaksakan secara ekonomis, namun perlu diingat bahwa tujuan akhir dari pemungutan retribusi daerah bukan untuk meningkatkan pendapatan daerah, tetapi untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Dengan kata lain, kita tidak bisa hanya berfokus pada bagaimana cara-cara agar pemungutan retribusi daerah itu bisa maksimal, tetapi juga harus menetapkan perhatian yang seimbang tentang bagaimana agar pelayanan yang diberikan kepada masyarakat juga maksimal.
commit to user
Dalam rangka meningkatkan efektivitas dan efisiensi pemungutan retribusi daerah, serta meningkatkan mutu dan jenis pelayanan kepada masyarakat, maka pengenaan retribusi daerah atas penyediaan jasa pemerintah daerah perlu disederhanakan berdasarkan penggolongan jasa yang disediakan oleh pemerintah daerah. Hal tersebut dilakukan agar wajib retribusi dapat dengan mudah memahami dan memenuhi kewajibannya. Untuk itu, dalam Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah disebutkan penggolongan retribusi daerah tersebut dibagi menjadi 3 kriteria yaitu sebagai berikut:
a. Retribusi Jasa Umum adalah retribusi atas jasa yang disediakan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau Badan.
b. Retribusi Jasa Usaha adalah retribusi atas jasa yang disediakan oleh Pemerintah Daerah dengan menganut prinsip-prinsip komersial karena pada dasarnya dapat pula disediakan oleh sektor swasta. c. Retribusi Perizinan Tertentu adalah retribusi atas kegiatan tertentu
Pemerintah Daerah dalam rangka pemberian izin kepada orang pribadi atau Badan yang dimaksudkan untuk pembinaan, pengaturan, pengendalian dan pengawasan atas kegiatan, pemanfaatan ruang, serta penggunaan sumber daya alam, barang, prasarana, sarana atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan.
commit to user
Adapun jenis-jenis retribusi daerah yang dipungut Kota Surakarta tahun 2010 adalah :
a. Retribusi jasa umum, terdiri dari : 1 Retribusi Pelayanan Kesehatan
2 Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan
3 Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akta Catatan Sipil
4 Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat 5 Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum
6 Retribusi Pelayanan Pasar
7 Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor
8 Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran 9 Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta
10 Retribusi Pelayanan Pemeriksaan Kesehatan Hewan dan Ikan. b. Retribusi jasa usaha, terdiri dari :
1 Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah 2 Retribusi Terminal
3 Retribusi Tempat Penginapan/Pesanggrahan/Villa 4 Retribusi Rumah Potong Hewan
5 Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga 6 Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah c. Rretribusi perizinan tertentu, terdiri dari :
commit to user
2 Retribusi Izin Gangguan/Keramaian 3 Retribusi Izin Trayek
4 Retribusi Dispensasi Melalui Jalan Kota
5 Retribusi Usaha Rekreasi dan Hiburan Umum/URHU 6 Retribusi tanda pendaftaran perusahaan (TDP)
7 Retribusi Tanda Daftar Gudang (TDG) 8 Retribusi Izin Usaha Industri (IUI) 9 Retribusi Izin Usaha Perdagangan (IUP) 10 Retribusi Perizinan Bidang Kesehatan 11 Retribusi Perizinan Usaha Bidang Pariwisata 12 Retribusi Perizinan Usaha Bidang Jasa Konstruksi
13 Retribusi Perizinan Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
3.3. Retribusi Pasar
Definisi retribusi pasar dalam Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 8 Tahun 1999 tentang Retribusi Pasar, dalam pasal 2 sebagai berikut :
“Dengan nama Retribusi Pasar dipungut Retribusi bagi setiap
orang atau Badan yang memperoleh fasilitas pasar”.
Obyek retribusi pasar adalah jasa pelayanan penggunaan fasilitas pasar, sedangkan subyeknya adalah Orang pribadi atau Badan yang memperoleh fasilitas pasar.
Retribusi Pasar merupakan salah satu pendapatan daerah yang cukup potensial sebagai sumber pembiayaan menunjang penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di Kota Surakarta.
commit to user
Dalam hal ini retribusi di pasar-pasar tradisional yang dikelola oleh Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) Kota Surakarta mencakup 2 jenis yaitu : (i) Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan dan (ii) Retribusi Pelayanan Pasar. Dimana kedua retribusi tersebut termasuk ke dalam kriteria Retribusi Jasa Umum. Retribusi Pelayanan Pasar masih terdiri dari beberapa bagian, yaitu : Plataran (Klas I, II, III), Los (Klas I, II, III), Kios (Klas I, II, III), Surat Hak Penempatan (SHP), Biaya Balik Nama, Kartu Tanda Pengenal Pedagang (KTPP), Listrik Lingkungan, MCK, Lain-lain, dan Piutang Retribusi Pasar.
IV. Strategi Dinas Pengelolaan Pasar Kota Surakarta dalam Optimalisasi