• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendapatan Penduduk di Kabupaten Buton

PENDAPATAN PENDUDUK

4.1. Pendapatan Penduduk di Kabupaten Buton

4.1. Pendapatan Penduduk di Kabupaten Buton

Pendapatan suatu daerah yang merupakan akumulasi pendapatan dari berbagai sektor, biasanya dicerminkan oleh besarnya angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang dihitung berdasarkan waktu tertentu (satu tahun). Data PDRB tahunan di suatu wilayah juga dapat mencerminkan tingkat perkembangan ekonomi suatu daerah, baik secara keseluruhan maupun sektoral. PDRB biasa didefinisikan sebagai ”keseluruhan nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu wilayah tertentu dalam waktu setahun” (BPS dan Bappeda Kab. Buton, 2005: 299). Berdasarkan data PDRB terkini (tahun 2003 dan 2004), secara umum pendapatan Kabupaten Buton cenderung mengalami peningkatan, baik menurut harga berlaku maupun harga konstan 1993. Berdasarkan harga berlaku pada tahun 2004, PDRB Kabupaten Buton mencapai Rp 840.597,31 juta, lebih tinggi dari PDRB tahun 2003 yang tercatat sebesar Rp 693.800,16 juta. Demikian pula menurut harga konstan tahun 1993, meskipun peningkatannya jauh lebih kecil yaitu Rp170.042,87 (2003) dan Rp182.035,52 (2004), yang dipengaruhi oleh faktor inflasi. (BPS dan Bappeda Kab. Buton, 2005). Kondisi ini menunjukkan adanya perbaikan ekonomi di wilayah ini, mengingat pada kurun waktu tahun

2004, data PDRB Kabupaten Buton masih menunjukkan kecenderungan yang menurun, terutama dilihat dari harga konstan tahun 2000. Dibandingkan daerah lain di wilayah Sulawesi Tenggara, tampaknya perbaikan ekonomi di Kabupaten Buton agak tersendat, karena daerah lain seperti Kabupaten Muna, Kendari (Kota dan Kabupaten), dan Kabupaten Kolaka, berdasarkan data PDRB tahun 2000-2004, telah menunjukkan kecenderungan meningkat, dilihat dari harga berlaku maupun konstan tahun 2000 (BPS, 2005). Akibat goncangan inflasi yang cukup berat sejak tahun 1997, diikuti kenaikan harga BBM dan kebutuhan pokok lainnya, telah menyulitkan pemulihan ekonomi baik di tingkat nasional maupun di tingkat daerah.

Perbaikan ekonomi yang mulai nampak di Kabupaten Buton sejak tahun 2003, juga tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang menunjukkan peningkatan dari sekitar 6% menjadi sekitar 7% selama tahun 2003-2004. Peningkatan ini merupakan kontribusi dari hampir semua sektor, terutama sektor konstruksi (12,2 %), sektor perdagangan (9,7%) dan sektor pertanian (8,5%). Satu-satunya sektor yang mengalami pertumbuhan negatif pada tahun 2004 adalah sektor listrik dan air minum (sekitar minus 28 persen) (BPS dan Bappeda Kabupaten Buton , 2005). Peningkatan pertumbuhan ekonomi dalam kurun waktu 2003-2004, juga berdampak terhadap peningkatan PDRB per kapita (atas dasar harga berlaku) yaitu dari Rp 2.736.323 (2003) menjadi Rp3.232.756 (2004) atau meningkat sekitar 18%. Namun demikian peningkatan PDRB per kapita atas dasar harga konstan tahun 1993 relatif kecil yaitu sekitar 4%. Peningkatan PDRB per kapita merupakan salah satu indikasi meningkatnya kemakmuran penduduk, meskipun pengaruh faktor inflasi tidak dapat diabaikan.

Pendapatan sektoral dan peran sektor pertanian

Sektor pertanian merupakan sektor yang berperan penting dalam perekonomian di Kabupaten Buton, baik dilihat dari penyediaan lapangan usaha maupun struktur PDRB. Data Susenas tahun 2004 menunjukkan 3 dari 4 penduduk (10 tahun/lebih) yang bekerja terlibat di sektor pertanian (BPS dan Bappeda Kab. Buton, 2005: 73). Demikian pula struktur PDRB Kabupaten Buton menunjukkan sektor pertanian tetap memberikan kontribusi yang penting terhadap PDRB, dibandingkan sektor –sektor lainnya.. Pada tahun 2004 sumbangan sektor pertanian terhadap PDRB atas dasar harga yang berlaku, mencapai sekitar 47%.. Demikian pula menurut harga konstan tahun 1993, sumbangan sektor pertanian tetap menonjol yaitu

Kondisi Sosial-Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II 110

sekitar 40% tahun 2004. Sektor lain yang memberikan sumbangan terbesar kedua dan ketiga pada tahun 2004 (berdasarkan harga berlaku) berasal dari sektor jasa (sekitar 18%) dan perdagangan (sekitar 14%), sementara sumbangan kebanyakan sektor lain terhadap PDRB, masih di bawah 10%. Sumbangan terkecil berasal dari sektor Listrik dan Air Minum yang kurang dari satu persen dan satu-satunya sektor dengan tingkat pertumbuhan negatif pada tahun 2003-2004 (BPS dan Bappeda Kab. Buton, 2005 : 299)(lihat Gambar 4.1).

Gambar 4.1:

Struktur PDRB Kabupaten Buton Menurut Lapangan Usaha Atas dasar Harga Berlaku Tahun 2004

Struktur PDRB Menurut Lapangan Kerja Tahun 2004

47.15 6.07 0.62 5.91 14.19 2.743.35 18.36 1.61 Pertanian Pertambangan

Industri Pengolahan listrik, gas dan air minum Konstruksi/bangunan Perdagangan

Angkutan/kom Keuangan

Jasa

Sumber: Kabupaten Buton Dalam Angka 2004, BPS dan Bappeda Kab. Buton, 2005:305

Selama tahun 2003-2004, kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB (atas dasar harga berlaku) juga mengalami peningkatan dari sekitar 44% menjadi 47%, sementara kebanyakan sektor lainnya mengalami penurunan kontribusi atau relatif tetap. Peningkatan ini menunjukkan proses pemulihan ekonomi sesudah krisis sedang terjadi, terutama melalui sektor pertanian yang memang mempunyai peran menonjol di wilayah ini. Pada

periode sebelumnya yaitu beberapa tahun sekitar krisis (1996-2000), sumbangan semua sektor terhadap PDRB cenderung menurun atau stagnan, termasuk sektor pertanian. Pada tahun 2000, sumbangan sektor pertanian jauh lebih rendah dari tahun 2004 yaitu sekitar 37% (menurut harga yang berlaku).

Peningkatan pendapatan dan pendapatan per kapita secara umum di Kabupaten Buton berdasarkan data PDRB, menunjukkan adanya perbaikan ekonomi secara makro dalam beberapa tahun terakhir. Analisa data PDRB sektoral juga semakin menegaskan peran penting sektor pertanian sebagai penyumbang terbesar dalam perkembangan pendapatan regional tersebut. Meskipun sektor pertanian dalam arti luas mencakup berbagai sub sektor seperti pertanian pangan, hutan, perkebunan dan perikanan, peran sumber daya laut terutama perikanan laut dalam perkembangan ekonomi wilayah ini cukup penting. Kondisi ini disebabkan sebagian besar wilayah Kabupaten Buton (82 persen) terdiri dari lautan, dengan potensi utama wilayah ini adalah sumber daya laut (SDL). Data tentang sumbangan masing-masing sub sektor pertanian hanya tersedia untuk PDRB tahun-tahun sekitar krisis (1996-2000). Secara kuantitatif sumbangan perikanan terhadap PDRB sekitar 7%, jauh lebih rendah dari pertanian pangan (16%) (BPS, 2001). Kemungkinan sebagai akibat potensi besar SDL belum dikelola secara maksimal di wilayah ini (baru sekitar 40-60%), atau laporan data tentang perikanan yang kurang akurat. Pelelangan ikan terbuka hampir tidak pernah dilakukan, sedangkan jumlah tempat pelelangan ikan (TPI) yang sangat terbatas di wilayah ini (hanya 2 buah), semakin menyulitkan perhitungan hasil produksi ikan yang sebenarnya di masing-masing wilayah.

Perhitungan hasil produksi SDL selama ini dilakukan melalui perkiraan sampel dari beberapa alat tangkap. Menyadari potensi SDL yang belum dikelola secara optimal, pengembangan sumber daya laut menjadi salah satu dari tiga fokus utama pembangunan ekonomi ke depan, di samping sektor pariwisata dan infrastruktur. Salah satu program yang mendukung pengembangan SDL di wilayah ini adalah diluncurkannya skeme kredit untuk masyarakat pesisir oleh Pemerintah Daerah/Dinas Kelautan dan Perikanan –DKP sejak tahun 2002. Skeme kredit merupakan dana bergulir untuk membantu modal usaha masyarakat (terutama nelayan) dalam mengembangkan usaha budi daya terkait SDL Menurut laporan DKP, sampai tahun 2006, bekerja sama dengan BRI telah berhasil disalurkan Rp6 milyard kepada lebih dari 1000 nelayan, dengan mengutamakan pemanfaatannya untuk budi daya (sekitar 80%) seperti rumput laut (di semua kecamatan), kerang mabe (Kecamatan Kapuntori) dan mutiara

Kondisi Sosial-Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II 112

(Kapuntori). Usaha budi daya terkait dengan SDL sangat membantu menunjang perekonomian nelayan, sekaligus berperan melindungi terumbu karang baik langsung maupun tidak dari praktek-praktek yang merusak. Namun dalam pelaksanaannya skeme kredit ini masih banyak kendala yang dihadapi, terutama lemahnya pengawasan dalam menghadapi penyimpangan-penyimpangan di lapangan, sehingga kurang mencapai sasaran yang diharapkan.