PENDAPATAN PENDUDUK
4. Budi daya rumput laut di Desa Wakambangura
4.2.2. Pendapatan Rumah Tangga di Kecamatan Kadatua
Rata-rata income per kapita penduduk Kadatua cukup rendah hanya sekitar Rp45.951,-. Perekonomian subsistensi menjadi corak kehidupan sehari-hari. Pada saat musim gelombang kuat kondisi yang subsistensi ini semakin terlihat nyata. Perputaran uang di desa-desa ini sangat terbatas. Desa-desa di kecamatan ini yang semakin jauh jaraknya dari kota kabupaten akan semakin subsisten. Ekonomi uang baru mulai terlihat jelas ketika musim gelombang tenang, perdagangan hasil laut cukup intensif yang ditandai dengan datangnya pedagang-pedagang pengumpul.
Pendapatan rata-rata rumah tangga di kecamatan Kadatua ini per bulannya Rp 203.049.17 (tabel 4.9). Jumlah pendapatan sebesar itu diperoleh terutama dari penghasilan Kepala Keluarga. Kontribusi istri dan anak biasanya pada ekonomi subsistensi, seperti bertani dengan menanam ubi kayu, jagung dan pisang ; atau beternak kambing, ayam dan itik. Akan tetapi jumlah ini belum termasuk uang yang dikirim dari anggota keluarga yang kerja di rantau, seperti ke Malaysia, Maluku dan Papua. Tidak ada data yang memadai tentang berapa besar kiriman dari rantau. Pendapatan yang tinggi di kecamatan ini diperoleh oleh orang-orang yang merantau ke Malaysia atau yang bekerja sebagai nelayan redi (pukat cincin). Hasil dari rantau seringkali digambarkan sangat besar bagi orang Kadatua dan bisa menjadi modal usaha sepulang dari rantau.
Tabel 4.9
Statistik Pendapatan di Lokasi Penelitian Kecamatan Kadatua, Kabupaten Buton Tahun 2006 (Rupiah)
Pendapatan per bulan Rupiah
• Per kapita Min.00
Max. 1.117 916.7 Rata-rata 45 951.221 • Rata-rata Rumah Tangga (RT) 203.049.17
• Minimum pendapatan RT .00
• Maksimum pendapatan RT 2.235.833,3
Sumber : Data Primer, Survei Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang Indonesia, 2006
Kondisi Sosial-Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II 138
Pada Tabel 4.10 terlihat bahwa hasil nelayan tetaplah merupakan hasil terbesar dibandingkan pekerjaan-pekerjaan lainnya di dalam wilayah kecamatan Kadatua. Hanya saja terlihat perbedaan yang jauh dari nelayan berpenghasilan minimum dengan nelayan yang memperoleh penghasilan maksimum. Perbedaan tajam ini berkaitan dengan jenis alat tangkap (redi, pancing atau jenis alat tangkap lainnya) dan sarana kenelayanan (perahu bermotor atau tidak, ukuran perahu), serta usia nelayan (tua atau muda).
Hasil dari nelayan sangat besar bila dibandingkan jenis-jenis pekerjaan lain dalam arti ekonomi uang. Ketika musim gelombang kuat corak ekonomi subsisten terlihat sekali di desa-desa di kecamatan Kadatua. Ketergantungan penduduk terhadap hasil laut sangat besar. Hanya sayangnya harga ikan sangat rendah dan sangat dikendalikan oleh pihak pedagang pengumpul.
Tabel 4.10
Statistik Pendapatan Rumah Tangga Terpilih Menurut Lapangan Pekerjaan Kepala Rumah Tangga, Kecamatan Kadatua,
Kabupaten Buton 2007 Pendapatan No Jenis pekerjaan KRT Rata-rata Minimum Maksimum N 1 Nelayan 258 527 6250 2 235 833 71 2 Petani lainnya 500 000 500 000 500 000 1 3 Tenaga Penjualan 45 476 4 166 168 333 14 4 Tenaga Kasar 81 458 4 166 280 000 4 5 Tenaga jasa 95 944 66 666 112 833 3 6 Menganggur 28 452 .00 139 583 7
Sumber: Data Primer, Survei Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang, 2006
Apabila melihat rata-rata pendapatan rumah tangga nelayan di sektor perikanan tangkap yang besar Rp. 250.000,- per bulan, kemudian dibandingkan dengan pendapatan maksimum, yang besarnya Rp. 2.235.000,- maka terjadi perbedaan 10 kali lipat, dan 40 kali lipat perbedaaan pada rata-rata pendapatan (Tabel 4.9). Terjadinya perbedaan besarnya rata-rata pendapatan, pendapatan minimal dan pendapatan maksimal yang cukup tajam menggambarkan keragaman pendapatan yang tajam pada rumah tangga nelayan satu dengan nelayan lain di desa lokasi
Coremap. Besarnya pendapatan maksimum dari lapangan pekerjaan perikanan tangkap berasal dari pendapatan perikanan redi (pukat cincin) yang diperkenalkan oleh sebuah LSM yang dibantu pemerintaah AUSaid. Proyek ini adalah bagian strategi mengatasi penduduk mencari ikan hiu di perairan Autralia.
Dibandingkan dengan lapangan pekerjaan perikanan tangkap, pendapatan sektor lain non perikanan lebih kecil. Untuk lapangaan pekerjaan perdagangan, industri RT, dan jasa, pendapatan rata-rata kurang dari Rp. 50.000. Pendapatan menurut lapangan pekerjaan di desa Kapoa dan Waonu secara keseluruhan menunjukkan masih dibawah rata-rata pendapatan kabupaten, yang besarnya Rp. 3,289,810 (Sensus Pertanian, 2003). Hal inilah yang mendorong penduduk di kedua desa mencari penghasilan dengan jalan merantau ke daerah lain.
Tabel 4.11
Statistik Pendapatan Rumah Tangga Menurut Lapangan Pekerjaan Kepala Rumah Tangga di Lokasi Penelitian Kecamatan Kadatua
Kabupaten Buton 2006
Pendapatan No Lapangan
pekerjaan KRT
Rata-rata Minimum Maksimum N
1 Perikanan Tangkap 258.825,00 6.250,00 2.235.833,00 73 3 Jasa 55.611,00 4.166,00 112.833,00 6 4 Perdagangan& Industri RT 45.476,00 4.166,00 168.333,00 14 5 Lainnya 28.452,00 ,00 139.583 7 Total 100
Sumber: Data Primer, Survei Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang, 2006
Nelayan di kecamatan Kadatua melakukan penangkapan ikan sepanjang tahun. Hanya saja pada musim gelombang kuat HOK (hari orang kerja) berkurang dibandingkan musim gelombang lemah, nelayan jarang turun melaut dan melakukan penangkapan ikan di dekat-dekat pantai saja. Seringkali pula nelayan hanya sekedar mengumpulkan kerang-kerangan, siput, bulu babi, gurita serta ikan yang terperangkap pada waktu air laut
Kondisi Sosial-Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II 140
surut. Kaum perempuan dan anak-anak banyak terlibat dalam aktivitas pengumpulan hasil laut ini.
Penelitian kali ini mencoba mengamati pendapatan nelayan pada tiga periode, yakni saat gelombang kuat, pancaroba (peralihan) dan gelombang lemah untuk melihat intensitas pemanfaatan sumber daya ikan. Selain hasilnya tentu dalam penelitian ini dicari pula kelengkapan data lain seperti jarak melaut, lamanya melaut, frekuensi (berapa kali dalam sehari melaut), jenis alat tangkap yang digunakan dan variasi pemanfaatan SDL pada ketiga musim tersebut.
a. Jarak melaut. Fishing ground (tempat mencari ikan) terbatas sekali jaraknya, tidak jauh dari pulau tempat tinggal nelayan berkisar antara 400 - 500 meter-an dari bibir pantai pada musim gelombang lemah, tidak lebih dari 300 meter pada musim pancaroba dan kurang dari 200 meter pada musim gelombang kuat. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi daerah paparan pulau, khususnya perairan tiap desa, yang relatif sempit dan sarana penangkapan ikan yang masih sangat sederhana serta masih bersifat tradisional. Faktor lain yang dominan mempengaruhi adalah corak kehidupan masyarakatnya yang masih subsisten, nelayan menangkap ikan sebagian besar hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsinya saja.
b. Lama melaut. Pada musim gelombang lemah, umumnya nelayan melakukan penangkapan ikan selama kurang lebih 7 jam, dihitung mulai saat berangkat meninggalkan pantai sampai dengan kembali lagi. Pada saat pancaroba lama di laut berkurang hanya sekitar 5 jam saja dan menjadi sangat terbatas pada musim gelombang kuat tidak lebih dari 2 jam saja. Faktor utamanya adalah sarananya yang sebagian besar berupa sampan tidak bermotor. Saat penelitian ini berlangsung, penduduk merasakan bahwa musim melaut sekarang ini tidak menentu. Secara tradisional musim gelombang kuat 5 bulan, musim gelombang lemah 6 bulan dan pancaroba 1 bulan. Kini, tidak pasti, periode musim tertentu bisa lebih panjang atau bisa lebih pendek.
c. Frekuensi melaut. Umumnya nelayan Kadatua melakukan penangkapan ikan sangat tergantung pada cuaca. Pada musim gelombang lemah penangkapan ikan dilakukan hampir tiap hari. Pada musim gelombang kuat, nelayan melakukan usaha penangkapan ikan lebih untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari. Jumlah hari melaut pada musim itu sangat sedikit, rata-rata terdapat 5 - 6 hari orang kerja (HOK) melaut dalam sebulan. Pada musim pancaroba tidak
menentu jumlah hari melautnya, tetapi orang sudah tidak tiap hari turun ke laut.
d. Jenis alat tangkap. Alat tangkap yang dominan dimiliki hampir setiap nelayan adalah pancing ulur yang sebagian besar berupa pancing berukuran kecil. Ada juga sebagian nelayan yang memiliki pancing yang berukuran besar untuk perairan dalam. Pada musim gelombang kuat dan pancaroba, rata-rata nelayan hanya menggunakan satu jenis alat tangkap, yaitu pancing ulur. Sebaliknya pada musim gelombang lemah orang menggunakan bubu, pancing ulur, panah dan dikombinasi dengan gillnet, sebagian lagi khususnya di desa Banabungi dan desa Kapoa, orang menggunakan pukat cincin (dikenal dengan nama lokal : redi) untuk menangkap ikan terbang, ikan cakalang, tongkol dan lain-lain. Pembagian alat tangkap berdasar musim ini tidak sepenuhnya kaku seperti diuraikan di atas, karena orang biasa juga pada musim gelombang kuat menggunakan alat-alat tangkap yang digunakan pada saat musim gelombang lemah, namun pada saat gelombang kuat teknologi tangkap yang terutama sekali digunakan adalah pancing ulur. e. Jenis ikan tangkapan. Pada saat gelombang kuat, orang mencari juga
jenis biota laut seperti gurita, bulu babi, kerang-kerangan, mata tujuh, jenis ikan-ikan pelagis tertentu. Pada saat gelombang kuat ini ikan Tongkol kurang dan lebih banyak ikan Layang yang diperoleh. Hasil tangkapan lebih dialokasikan untuk pemenuhan kebutuhan pangan dibandingkan komersial.
f. Saat musim gelombang tenang di perairan Kadatua ini lebih banyak diperoleh ikan Layang, ikan Tude dan ikan Tongkol yang diperoleh umumnya berada di luar Rumpon. Musim ini ikan-ikan pelagis non-karang banyak diperoleh. Jenis-jenis ikan non-karang yang sering diperoleh oleh nelayan adalah ikan Merah (Kiawale), ikan Lompa-lompa dan ikan Kerapu (semenjak tahun 1980-an semakin sulit diperoleh).
g. Pendapatan Nelayan. Penghasilan keluarga nelayan merupakan sentral isu dari penelitian kali ini. Penghitungan penghasilan yang tidak menentu ini seringkali menyulitkan para peneliti maupun pembuat kebijakan, yang implikasi berikutnya tentu menyulitkan dalam menyusun agenda maupun berbagai program untuk komunitas nelayan tersebut. Setidaknya ada tiga kesulitan besar dalam menghitung penghasilan mereka. Pertama, kelebihan penelitian ini adalah memasukkan juga musim pancaroba sebagai bagian yang harus dihitung tersendiri. Masalahnya, lama pancaroba tidak pernah menentu
Kondisi Sosial-Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II 142
sejak dulu. Bahkan sekarang ketika pola musim tidak menentu, kadang musim gelombang kuat lama sekali atau musim gelombang tenang lama sekali, menghitung penghasilan per periode musim menjadi rumit. Bagi masyarakat Kadatua, musim pancaroba lebih sering dikategorikan masuk periode musim gelombang kuat, karena penghasilan relatif mulai menurun dan kondisi di laut sudah mulai tidak stabil lagi. Kedua, fluktuasi harga ikan juga cukup tinggi, sehingga membandingkan antara tahun ini dengan tahun kemarin hanya sekedar melihat produksi semata tidaklah cukup.
Apabila dikaitkan dengan penghasilan agak rumit, karena pada saat gelombang kuat jenis tangkapan agak berbeda dengan saat gelombang lemah. Pada saat gelombang kuat, orang mencari jenis biota laut seperti gurita, bulu babi, kerang-kerangan, mata tujuh, jenis ikan-ikan pelagis tertentu. Hasil tangkapan lebih dialokasikan untuk pemenuhan kebutuhan pangan dibandingkan komersial. Keempat, pola kerja masyarakat adalah ’pluri-activity’, menjadi nelayan ketika berada di desa, sedangkan sebagian besar waktunya sebenarnya tercurah untuk berdagang dan dengan hasil yang jauh lebih besar. Masyarakat Kadatua pada dasarnya bukanlah nelayan murni, mereka lebih mencurahkan waktu untuk berdagang. Penghasilan keluarga nelayan secara sederhana merupakan perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual, kemudian dikurangi biaya yang dikeluarkan untuk proses produksi, sebagai berikut (Soekartawi, 1995) :
n
TPB = ∑ (Y i Pi – Ci )
i=1
dimana :
TPB = total penerimaan bersih
Yi = produksi yang diperoleh dalam suatu usaha perikanan Pi = Harga Y
Ci = biaya atau ongkos produksi
Rantai pemasaran
Nelayan di lokasi survei Kadatua menjual ikan kepada pedagang pengumpul yang datang ke kecamatan ini Æ selanjutnya dijual ke pedagang pengumpul besar di Kota Bau-bau Æ Pedagang Besar Kendari Æ Makassar dan Surabaya
Catatan: Pengumpul sering juga datang ke lokasi untuk membeli hasil-hasil laut dan mengirim langsung ke Kendari.
Pendapatan nelayan menurut musim
Sebenarnyalah penghasilan usaha perikanan di kecamatan Kadatua ini banyak diupayakan pada musim gelombang tenang. Hal ini berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pangan dan kebutuhan untuk usaha kenelayanan. Pengeluaran utama untuk pangan adalah untuk membeli bahan makanan pokok seperti beras. Lauk pauk diambilkan dari hasil kegiatan kenelayanan. Orang Kadatua umumnya tidak begitu suka beli daging, selain harganya mahal juga karena anggapan bahwa ikan lebih enak rasanya dibandingkan daging. Selain itu, konsep ikan segar sangat mempengaruhi konsumsi penduduk, sehingga penduduk enggan untuk makan ikan yang diasap atau diasinkan. Bahkan ikan dibakar merupakan proses pemasakan yang dihindari. Kalau tidak ada ikan sama sekali, mereka bahkan beli ikan ke kota Bau-bau. Sebagaimana saat penelitian ini berlangsung, orang yang punya hajat menyelenggarakan pernikahan beli ikan ke kota Bau-bau karena hasil laut sudah sangat kurang. Sedangkan untuk kegiatan kenelayanan adalah pengeluaran untuk membeli bahan bakar.
Adapun pendapatan nelayan di kecamatan Kadatua dengan menggunakan hasil survei yang dilakukan pada dua desa, yakni desa Kapoa dan desa Waonu, sebagaimana yang terlihat dalam tabel 4.12
Kondisi Sosial-Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II 144
Tabel 4.12.
Statistik Pendapatan Rumah Tangga Dari Kegiatan Kenelayanan Menurut Musim di Lokasi Penelitian Kecamatan Kadatua,
Kabupaten Buton, 2006 (Rupiah)
Musim Pendapatan Gelombang Lemah Pancaroba Gelombang Kuat Rata-rata 266.650 199.650 88.960 Minimum .00 .00 .00 Maksimum 3.800.000. 2.280.000 750.000. Sumber : Data Primer, Survei Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang Indonesia, 2006
Gelombang kuat berlangsung selama 5 bulan, dari bulan Desember sampai dengan bulan April. Seringkali bulan November sudah terjadi gelombang kuat di laut dan berakhir bulan Maret. Pada saat musim ini di laut angin kencang dan ombak keras serta tinggi yang menyebabkan penduduk mencari ikan di sekitar perairan desa saja. Pada musim ini alat yang banyak dipakai adalah redi dan pancing ulur. Untuk kegiatan kenelayanan di area rumpon digunakan pancing sampai dengan 50 macam. Penghasilan sebagian besar penduduk rendah, faktor utamanya sebagian besar adalah sampan tidak bermotor, sehingga tidak bisa pergi jauh-jauh dari pantai dan tidak bisa lama-lama di laut. Selain itu, pada musim ini kaum perempuan ikut terlibat dalam aktivitas pengumpulan hasil laut seperti siput, kerang-kerangan, bulu babi bahkan gurita. Penghasilan dari penjualan hasil laut dihitung secara uang sangat kecil, rata-rata penghasilan penduduk dalam usaha kenelayanan di musim ini Rp88.960,-. Maksimal penghasilan Rp750.000,- yang diperoleh nelayan setempat. Hasil dari penelitian ini menyebutkan bahwa 87 persen responden mempunyai penghasilan kurang dari Rp250.000,- pada musim gelombang kuat. Hanya 2 persen responden yang mempunyai penghasilan antara Rp500.000,- sampai dengan Rp1 juta.
Bila kegiatan pengumpulan hasil laut di pinggir pantai yang banyak dilakukan oleh kaum perempuan bisa dikonversikan dengan baik, hasilnya akan sangat berbeda. Misalnya Bulu Babi memang harganya sangat rendah sekitar Rp2.000,- per biji. Jika dihitung bulanan tentu hasilnya lumayan banyak. Orang tidak biasa menghitungnya karena Bulu Babi ini pada musim gelombang kuat umumnya dikonsumsi sendiri dengan cara dibakar dan dimakan bersama nasi atau kasoami (makanan tradisional dari ubi kayu).
Musim ini diwarnai kegiatan ekstensifikasi yang lebih variatif dibandingkan musim-musim lain. Kegiatan berdagang, merantau ke Malaysia, mencari sirip hiu, budidaya rumput laut dan lain-lain lebih banyak mewarnai bulan-bulan di musim ini. Rumah-rumah kosong lebih banyak ditemui pada musim ini dibandingkan bulan-bulan pada musim lainnya.
Tabel 4.13.
Distribusi RT Menurut Pendapatan RT (Kegiatan Kenelayanan) dan Musim di Lokasi Penelitian Kecamatan Kadatua, Kabupaten Buton,
2006 (persen)
Musim No Kategori Pendapatan Gelombang
Lemah
Pancaroba Gelombang Kuat
1. <Rp 250.000 64 72 87
2. Rp 250.000- Rp 499.000 22 19 11
3. Rp 500.000 - Rp 999.000 9 5 2
4. Rp 1.000.000 – Rp 1.499.000 5 4 0
100 100 100
Sumber: Data Primer, Survei Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang Indonesia, 2006
Musim pancaroba berlangsung sekitar 1 bulan lebih dan kurang dari 2 bulan. Bagi penduduk desa Kapoa, sekitar bulan April dan bulan Mei merupakan musim pancaroba, yang orang biasanya mengategorikan kondisi di laut tidak stabil, kadang tenang kadang muncul situasi yang berupa angin kencang dan ombak keras. Agak berbeda, di desa Waonu justru orang menganggap musim pancaroba terjadi pada sekitar bulan Oktober – November, karena memang posisi letak desanya yang berbeda dengan Desa Kapoa. Beberapa tahun terakhir ini periode pancaroba menguntungkan bagi mereka, kondisi dan situasi di laut tenang dan memudahkan mencari ikan. Sekarang orang mulai kesulitan untuk menyusun pembedaan waktu musim, karena hujan dan kemarau juga tidak menentu lamanya, kadang musim hujan lebih lama dan tidak jarang juga musim kemarau jauh lebih panjang dari biasanya.
Kondisi Sosial-Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II 146
Hasil kegiatan kenelayanan pada musim pancaroba ini umumnya lebih baik dibandingkan musim gelombang kuat. Penggunaan alat tangkap lebih bervariasi dan lama melaut juga rata-rata lebih panjang tetapi frekuensi melaut biasanya hanya 1 kali saja. Jenis tangkapan ikan sama dengan musim gelombang kuat, yakni ikan-ikan karang dan ikan pelagis kecil.
Rata-rata orang memperoleh hasil perikanan Rp199.650 dan maksimal Rp2.280.000,- per bulannya. Ada 72 persen responden yang diwawancarai menyebutkan memperoleh penghasilan kurang dari Rp250.000,- sebulannya pada musim ini. Penghasilan antara Rp250.000,- sampai dengan Rp500.000,- disebutkan oleh 19 responden. Ada 5 responden yang menyatakan bahwa mereka berpenghasilan antara Rp500.000,- sampai dengan Rp1 juta. Empat responden menyebutkan memperoleh penghasilan di atas Rp1 juta sebulannya pada musim itu. Hal ini menunjukkan bahwa pada musim pancaroba orang mulai intensif melakukan kegiatan kenelayanan dibandingkan pada saat musim gelombang kuat. Kecenderungan intensifikasi alat tangkap juga terjadi pada musim ini.
Musim gelombang tenang merupakan saat dimana orang mengumpulkan banyak hasil kenelayanan dibandingkan dua musim lainnya. Hasil ini dalam arti komersialisasi atau hasil laut yang dijual. Lama melaut (HOK), frekuensi orang melaut, variasi jenis alat tangkap dan kuantitas hasil tangkapan secara umum lebih dibandingkan musim pancaroba dan musim gelombang kuat. Pada musim ini sampan tidak bermotor tidak menjadi halangan bagi orang untuk mencari ikan agak jauh dari pantai dan dalam waktu yang cukup lama.
Rata-rata perolehan nelayan per bulannya pada musim ini adalah Rp266.650,- dan maksimal Rp3.800.000,-. Ada 64 persen responden menyebutkan memperoleh penghasilan kurang dari Rp250.000,-. Jumlah responden yang memiliki penghasilan antara Rp250.000,- sampai dengan Rp500.000,- sebesar 22 persen dan 9 persen memiliki penghasilan di atasnya sampai dengan Rp1 juta. Lima responden menyebutkan memperoleh penghasilan di atas Rp1 juta. Nelayan pengguna redi dan beberapa nelayan dengan menggunakan perahu bermotor memperoleh hasil sebesar itu.
Ilustrasi kasus
Perbedaan musim sangat berpengaruh terhadap pola aktivitas nelayan. Kondisi dan situasi di laut sangat menentukan bentuk operasi penangkapan ikan. Penduduk di desa-desa kecamatan Kadatua, khususnya
di daerah survei, melakukan penangkapan ikan secara intensif pada musim gelombang tenang, yakni antara bulan Mei sampai dengan bulan Oktober. Antara bulan November – Desember sudah memasuki musim gelombang kuat, dimana angin kencang dan ombak keras yang menyulitkan nelayan untuk melakukan penangkapan ikan. Bagi penduduk desa Kapoa, sekitar bulan April dan bulan Mei merupakan musim pancaroba, yang orangnya biasanya mengategorikan kondisi di laut tidak stabil, kadang tenang kadang muncul situasi yang berupa angin kencang dan ombak keras. Agak berbeda, di desa Waonu justru orang menganggap musim pancaroba terjadi pada sekitar bulan Oktober – November, karena memang posisi letaknya yang berbeda dengan Desa Kapoa. Namun beberapa tahun terakhir ini periode pancaroba menguntungkan bagi mereka, kondisi dan situasi di laut tenang dan memudahkan mencari ikan. Sekarang orang mulai kesulitan untuk menyusun pembedaan waktu musim, karena hujan dan kemarau juga tidak menentu lamanya, kadang musim hujan lebih lama dan tidak jarang juga musim kemarau jauh lebih panjang dari biasanya.
Selain masalah musim, intensitas pemanfaatan sumberdaya perikanan sebenarnyalah berkaitan pola pemenuhan kebutuhan pangan. Pada musim gelombang tenang orang mencari ikan sebanyak-banyaknya, yang sebagian dijual dan sebagian lagi dikonsumsi sendiri. Hasil penjualan itu sebagian untuk menutupi kekurangan biaya hidup pada saat musim gelombang kuat. Korelasi yang jelas antara ketiga periode musim itu adalah : i) jarak melaut, b) penggunaan alat tangkap, dan iii) jenis ikan tangkapan. Kalau dikaitkan dengan penghasilan agak rumit, karena pada saat gelombang kuat jenis tangkapan agak berbeda dengan saat gelombang tenang. Pada saat gelombang kuat, orang mencari juga jenis biota laut seperti gurita, bulu babi, kerang-kerangan, mata tujuh, jenis ikan-ikan pelagis tertentu. Pada saat gelombang kuat ini ikan tongkol kurang dan lebih banyak ikan Layang yang diperoleh. Hasil tangkapan lebih dialokasikan untuk pemenuhan kebutuhan pangan dibandingkan komersial.
Saat musim gelombang tenang di perairan Kadatua ini lebih banyak diperoleh ikan Layang, ikan Tude dan ikan Tongkol yang diperoleh umumnya berada di luar Rumpon. Musim ini ikan-ikan pelagis non-karang banyak diperoleh. Jenis-jenis ikan karang yang sering diperoleh oleh nelayan adalah ikan Merah (Kiawale), ikan Lompa-lompa dan ikan Kerapu (semenjak tahun 1980-an semakin sulit diperoleh).
Tenaga kerja juga menunjukkan hal yang menarik. Di banyak daerah lain biasanya orang sudah pensiun menjadi nelayan sekitar umur 40 tahun lebih sedikit, di Kadatua ini cukup banyak nelayan yang usianya
Kondisi Sosial-Ekonomi Masyarakat di Lokasi COREMAP II 148
sudah tua sekitar 50 - 60 tahun-an. Anak-anak mudanya lebih suka merantau ke daerah lain untuk memperoleh penghasilan yang lebih menjanjikan. Nampaknya mereka bekerja mencari ikan hanyalah karena tinggal di tepi