BAB IV. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
B. Deskripsi Variabel Penelitian
2. Pendapatan Per Kapita
Dalam penelitian ini, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita adalah definisi dari variabel pendapatn per kapita. Produk domestik bruto dapat didefinisikan sebagai jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh unit usaha dalam suatu negara atau wilayah tertentu, atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha ekonomi di negara atau wilayah tersebut dalam satu tahun tertentu. Tingkat pertumbuhan ekonomi nasional dapat digunakan untuk menilai prestasi pertumbuhan ekonomi dan untuk menentukan tingkat kemakmuran masyarakat dan perkembangannya, tercermin dalam
commit to user
20 pendapatan nasional riil yaitu Produk Domestik Bruto atau GDP (Gross
Domestic Product) yang dihitung menurut harga berlaku dalam tahun
dasar maupun dalam harga konstan (Sukirno, 1999).
Melalui pendekatan pengeluaran dalam perhitungan pendapatan nasional dijelaskan jenis pengeluaran PDB yang dilakukan oleh masyarakat untuk; konsumsi, pengeluaran pemerintah, investasi atau pemebentukan modal tetap, dan ekspor neto. Semuanya merupakan permintaan terhadap barang dan jasa, juga merupakan macam penggunaan barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu perekonomian. Dengan kata lain produk domestik bruto (PDB) digunakan untuk keperluan konsumsi rumahtangga, konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap domestik (investasi) dan ekspor neto (Y=C+I+G+NX).
3. Hubungan Pendapatan Perkapita dengan Simpanan
Salah satu faktor ekonomi yang sangat mempengaruhi proses pertumbuhan ekonomi adalah pembentukan modal, dimana sumber pengarahan modal dalam negeri yang dapat digunakan untuk pembiayaan pembangunan, salah satunya adalah melalui tabungan sukarela masyarakat. Yang dimaksud dengan tabungan sukarela masyarakat adalah bagian dari pendapatan yang diterima oleh masyarakat yang secara sukarela disisihkan dan tidak digunakan untuk konsumsi (Sukirno, 1999).
Untuk menjelaskan hubungan antara pendapatan dan simpanan bisa menggunakan teori absolute income hypothesis. Teori ini merupakan hasil pemikiran Keynes yang menjelaskan tentang hubungan antara pendapatan dengan konsumsi dan simpanan. Oleh karena itu simpanan
commit to user
21 merupakan bagian dari pendapatan yang tidak dikonsumsikan, maka menurut Keynes simpanan merupakan fungsi dari pendapatan (Arwansyah, 2003).
4. Tingkat Suku Bunga
Tingkat suku bunga adalah harga dari penggunaan uang atau bisa juga sebagai sewa atas penggunaan uang untuk jangka waktu tertentu (Boediono, 1985). Dapat juga dikatakan sebagai harga yang harus dibayar apabila terjadi pertukaran antara 1 rupiah sekarang dengan 1 rupiah nanti (misal 1 tahun lagi) dimana dengan jangka waktu tersebut bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan (resiko), seperti keterlambatan membayar kembali atau tidak membayar sama sekali, adanya pengaruh inflasi yang menurunkan nilai mata uang serta adanya biaya transaksi.
a. Teori Keynes tentang tingkat suku bunga
Keynes menjelaskan bahwa tingkat suku bunga merupakan imbalan jasa (harga) yang harus dibayarkan kepada penabung agar dia bersedia untuk melepas bagian kekayaannya dalam bentuk tabungan yang disimpan untuk selanjutnya digunakan untuk investasi. Dengan kata lain bunga merupakan harga yang harus dibayar agar dana likuiditas tidak disimpan melainkan dilepaskan untuk investasi (Djojohadikusumo, 1990). Boediono (1985) mengatakan bahwa tingkat suku bunga merupakan harga dari penggunaan uang untuk jangka waktu tertentu.
commit to user
22 Menurut pandangan Keynes, tingkat suku bunga merupakan titik pencerminan dari supply tabungan di satu pihak dan permintaan untuk investasi di pihak lain. Tingkat suku bunga merupakan faktor lepas (independen) dari pasokan tabungan dan permintaan investasi. Tingkat tabungan merupakan suatu fenomena moneter semata-mata dan tergantung dari hasrat orang untuk menahan tabungannya dalam bentuk likuiditas. Tingkat suku bunga tergantung dari hasrat likuiditas atau liquidity preference. Disinilah diungkapkan istilah pengertian baru dalam konsep Keynes, LP dalam kaitannya dengan tingkat suku bunga (Djojohadikusumo, 1990). Artinya bahwa perubahan tingkat suku bunga selanjutnya akan mempengaruhi keinginan untuk mengadakan investasi dan dengan demikian akan mempengaruhi GNP (Nopirin, 1992). Disamping itu menurut Keynes tingkat suku bunga sangat sensitif terhadap penghimpunan dana masyarakat.
b. Teori Klasik tentang tingkat suku bunga
Tabungan menurut teori klasik adalah fungsi dari tingkat bunga. Semakin tinggi tingkat bunga semakin tinggi pula keinginan masyarakat untuk menabung. Sedangkan investasi merupakan fungsi dari tingkat bunga. Semakin tinggi tingkat bunga, keinginan pengusaha untuk berinvestasi juga semakin kecil, alasannya adalah seorang pengusaha akan menambah pengeluaran investasinya apabila keuntungan yang diharapkan dari investasi lebih besar dari tingkat suku bunga yang dibayar untuk dana investasi tersebut yang merupakan ongkos untuk penggunaan dana (cost of capital). Semakin
commit to user
23 rendah tingkat bunga, maka pengusaha akan lebih terdorong untuk melakukan investasi, karena biaya penggunaan dana juga semakin kecil. Tingkat bunga dalam keadaan keseimbangan akan tercapai apabila keinginan untuk menabung masyarakat sama dengan keinginan pengusaha untuk melakukan investasi. Kenaikan efisiensi produksi, misalnya, akan mengakibatkan keuntungan yang diharapkan naik sehingga pada tingkat upah yang sama pengusaha berusaha meminjam sana lebih besar untuk membiayai investasinya atau untuk dana investasi yang sama jumlahnya.
Menurut ekonom klasik adanya tabungan masyarakat tersebut bukan berarti dana hilang dari peredaran, tetapi dipinjam atau dipakai oleh pengusaha untuk membiayai investasinya dan penabung mendapatkan bunga atas tabungannya sedangkan pengusaha bersedia membayar bunga tersebut selama harapan keuntungan yang diperoleh dari investasi lebih besar dari bunga tersebut. Adanya kesamaan antara tabungan dengan investasi (misalnya jika tabungan meningkat maka pengeluaran investasi juga meningkat) adalah sebagai akibat bekerjanya mekanisme tingkat suku bunga. Tingkat suku bunga akan berfluktuasi sehingga keinginan mengadakan investasi oleh pengusaha sama dengan keinginan menabung dari masyarakat, sehingga menurut teori klasik diperoleh persamaan S=I dimana tabungan adalah fungsi dari tingkat suku bunga. Semakin tinggi tingkat suku bunga maka semakin tinggi keinginan masyarakat untuk menabung (Nopirin, 1992).
commit to user
24
5. Hubungan Tingkat Suku Bunga dengan Simpanan
Bunga adalah “harga” dari loanable funds. Terjemahan langsung dari istilah tersebut adalah “dana yang tersedia untuk dipinjamkan”. Menurut teori ini bunga adalah harga yang terjadi di pasar dana investasi. Hubungan tingkat suku bunga dan simpanan dapat dijelaskan dalam teori
loanable funds yaitu merupakan sisi suplí dari loanable funds yang
menerangkan hubungan antara tingkat suku bunga dan simpanan, dimana hubungan kedua variabel tersebut bersifat positif. Semakin tinggi tingkat bunga akan semakin meningkatkan kesediaan masyarakat untuk menyimpan dananya pada lembaga perbankan, sehingga jumlah simpanan masyarakat pada lembaga perbankan akan naik.
Rumah tangga akan menyimpan lebih banyak dananya di bank apabila tingkat suku bunga tinggi. Pada tingkat suku bunga rendah, masyarakat cenderung menyimpan dananya lebih sedikit karena mereka merasa lebih baik mengkonsumsikan uangnya (Sukirno, 1999: 100-104). Namur demikian hubungan positif juga dapat terjadi akibat adanya
substitution and income effect. Dornbusch, Fischer, dan Startz (1998)
menyimpulkan bahwa pengaruh tingkat suku bunga terhadap simpanan adalah kecil dan sukar ditemukan karena ambigu atau bermakna ganda.
6. Tingkat Inflasi a. Pengertian
Definisi dari inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk naik secara umum dan terus-menerus. Kenaikan dari satu atau dua barang saja tidak disebut inflasi, kecuali jika kenaikan tersebut mengakibatkan
commit to user
25 kenaikan pada sebagian besar dari harga barang-barang lain. Kenaikan harga ini diukur dengan menggunakan indeks harga (Boediono, 1994).
Beberapa indeks harga yang sering digunakan untuk mengukur inflasi antara lain:
1. Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index), adalah suatu indeks harga yang mengukur biaya sekelompok barang-barang dan jasa-jasa di pasar, yang dibeli untuk menunjang kebutuhan sehari-hari.
2. Indeks Harga Produsen (Producer Price Index), adalah suatu indeks dari harga bahan-bahan baku (row materials), barang setengah jadi (intermediate products) dan peralatan modal serta mesin yang dibeli oleh sektor bisnis atau perusahaanGNP deflator.
b. Macam-macam Inflasi
Laju inflasi dapat berbeda dari negara satu dengan negara lain atau dalam satu negara dengan waktu yang berbeda. Menurut besarnya inflasi dapat dibagi dalam tiga kategori (Nopirin, 2000:27): 1) Inflasi Merayap (creeping inflation), ditandai dengan laju inflasi yang
rendah (kurang dari 10% per tahun), kenaikan harga berjalan lambat, dengan presentase yang kecil serta dalam jangka waktu yang sangat lama.
2) Inflasi Menengah (galloping inflation), ditandai dengan keniakan harga yang cukup besar dan terjadi dalam waktu yang relatif pendek serta mempunyai sifat akselerasi.
commit to user
26 3) Inflasi Tinggi (hyperinflation), merupakan inflasi yang paling parah akibatnya (laju inflasi di atas 100%), ditandai dengan semakin merosotnya nilai uang sehingga masyarakat tidak lagi berkeinginan menyimpan uang. Perputaran uang semakin cepat dan harga naik secara akselerasi.
Adapun jenis-jenis inflasi menurut sebabnya adalah (Nopirin, 2000:28):
1) Inflasi Tarikan Permintaan (Demands-pull inflation), Inflasi ini bermula dari adanya kenaikan permintaan total (agregat demand),
sedangkan produksi telah berada pada keadaan kesempatan kerja penuh. Dalam keadaan hampir kesempatan kerja penuh, kenaikan permintaan total di samping menaikkan harga dapat juga menaikkan hasil produksi (output).
2) Inflasi Dorongan Biaya (Cost-push Inflation), inflasi yang terjadi akibat kenaikan biaya produksi yang mengakibatkan penurunan penawaran. Kenaikan biaya produksi ini ditimbulkan oleh beberapa faktor diantaranya: (1) Persatuan serikat buruh dalam menuntut kenaikan upah, (2) Industri yang bersifat monopolistis, sehingga dapat menggunakan kekuasaanya di pasar untuk menentukan harga yang lebih tinggi, (3) kenaikan harga bahan baku industri.
3) Inflasi Struktural (Structural Inflation), adalah inflasi yang terjadi sebagai akibat dari adanya berbagai kekuatan struktural yang menyebabkan penawaran dalam perekonomian menjadi kurang atau tidak responsif terhadap permintaan yang meningkat.
commit to user
27 4) Inflasi Sebagai Akibat Kebijakan (Policy Induced Inflation), adalah inflasi yang disebabkan oleh kebijakan ekspansi moneter yang juga dapat merefleksikan defisit anggaran yang berlebihan dan cara pembiayaan.
5) Inflasi Dasar (Core Inflation), adalah inflasiyang cenderung untuk berlanjut pada tingkat yang sama sampai kejadian ekonomi yang mengakibatkan perubahan. Jika inflasi terus bertahan dan tingkat inflasi ini diantisipasi dalam bentuk kontrak finansial dan upah, kenaikan inflasi akan terus berlanjut.
c. Teori Inflasi
Secara garis besar ada tiga kelompok teori inflasi yang masing-masing membicarakan aspek-aspek tertentu dari proses inflasi antara lain (Boediono, 1994: 166):
1. Teori Kuantitas
Teori ini menyoroti peranan dalam proses inflasi dari jumlah uang beredar dan psikologi (harapan) masyarakat mengenai kenaikan harga-harga (expectation). Inti dari teori ini adalah inflasi hanya bisa terjadi kalau ada penambahan volume uang yang beredar (berupa penambahan uang kartal atau penambahan uang giral). Selain itu laju inflasi ditentukan oleh laju pertambahan jumlah uang yang beredar dan oleh psikologi (harapan) masyarakat mengenai kenaikan harga-harga di masa yang akan datang.
commit to user
28 2. Teori Keynes
Menurut Keynes, inflasi terjadi karena suatu masyarakat ingin hidup di luar batas kemampuan ekonominya, sehingga permintaan masyarakat akan barang-barang selalu melebihi jumlah barang-barang yang tersedia. Penyebab terjadinya kenaikan permintaan ini, menurut Keynes adalah akibat dari keniakan jumlah uang beredar, peningkatan pengeluaran konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah, dan ekspor netto.
3. Teori Strukturalis
Teori ini memberi tekanan pada adanya ketegaran dari struktur perekonomian negara-negara sednag berkembang. Faktor-faktor struktural dari perekonomian itu hanya dapat berubah secara gradual dan dalam jangka panjang. Menurut teori ini, ketegaran utama dalam perekonomian negara-negara sedang berkembang yang bisa menimbulkan inflasi adalah (Boediono, 1994: 167):
a) Ketidakelastisan dari penerimaan ekspor, artinya laju pertumbuhan nilai ekspor lebih lamban dibanding dengan laju pertumbuhan sektor-sektor lainnya. Kelambanan tersebut disebabkan oleh dua faktor yaitu: Pertama, harga dari barang-barang ekspor di pasaran dunia makin tidak menguntungkan. Kedua, supply atau produksi barang-barang ekspor yang tidak responsif terhadap kenaikan harga.
b) Ketidakelastisan dari supply atau produksi bahan makanan di dalam negeri, artinya laju pertumbuhan produksi bahan makanan di
commit to user
29 dalam negeri lebih lamban dibandingkan dengan laju pertumbuhan jumlah penduduk dan pendapatan per kapita, sehingga harga bahan makanan dalam negeri cenderung meningkat melebihi kenaikan harga barang-barang lain.
7. Hubungan Tingkat Inflasi dengan Simpanan
Dalam beberapa teori memprediksi bahwa semakin besar ketidakpastian dapat meningkatkan simpanan. Di dalam literatur empiris mengenai simpanan dan pertumbuhan, yang populer digunakan sebagai
proxy akan ketidakpastian makroekonomi adalah inflasi. Inflasi, sebagai
determinan lain simpanan yang potensial, merupakan parameter atas instabilitas perekonomian (Loayza et. al., 2000). Ada beberapa alasan mengapa inflasi dapat mempengaruhi simpanan: inflasi yang lebih tinggi cenderung meningkatkan tingkat suku bunga nominal dan karenanya meningkatkan pendapatan dan simpanan rumahtangga. Namun demikian, semakin tinggi inflasi dapat menurunkan simpanan melalui ketidkapastian tersebut (Masson et. al., 1998).
Hanya beberapa dari sekian banyak penelitian yang mengikutsertakan inflasi sebagai variabel independen menemukan pengaruh positif dan signifikan terhadap simpanan. Dalam penelitiannya, Masson et. al. (1998) menemkan bahwa inflasi memiliki koefisien yang kecil dan tidak signifikan. Oleh karenanya, pengaruh inflasi dalam determinan simpanan masih merupakan hal yang diperdebatkan untuk diteliti.
commit to user
30
B. Penelitian Terdahulu
1. Penelitian Charles Yuji Horioka dan Junmin Wan (2007)
Penelitian ini menganalisis mengenai determinan simpanan rumahtangga di China dengan menggunakan model life-cycle serta data panel propinsi di China tahun 1995-2004 berdasarkan hasil survei kependudukan China. Tingkat simpanan rumahtangga di China terbilang tinggi dan semakin meningkat menjadi latar belakang penelitian ini dengan determinan utamanya yakni: lag tingkat simpanan, tingkat pertumbuhan pendapatan, dan (dalam beberapa kasus) tingkat suku bunga riil, serta tingkat inflasi. Metode estimasi yang digunakan adalah
generalized-method-of-moments (GMM). Dengan metode tersebut, mereka
juga menemukan bahwa variabel-variabel yang berhubungan dengan struktur umur dari populasi tidak mempunyai dampak yang signifikan terhadap tingkat simpanan. Hasil dari penelitian ini membenarkan
life-cycle hypothesis sama baiknya dengan permanent income hypothesis—
dimana konsisten dengan adanya inertia atau persistence—dan secara tidak langsung mengatakan bahwa tingkat simpanan rumahtangga di China akan tetap tinggi untuk beberapa waktu kedepan.
2. Penelitian Werner Dirschmid dan Ernst Glatzer (2004)
Penelitian ini dilakukan guna menganalisis mengenai determinan tingkat simpanan rumahtangga di Austria. Penurunan tingkat simpanan rumahtangga beberapa dekade sebelumnya di Austria menjadi latar belakang mengapa penelitian ini dilakukan. Alat analisis yang digunakan adalah Error Correction Model (ECM). Dengan ECM ditunjukkan bahwa
commit to user
31 keputusan untuk menabung individu dipengaruhi oleh petumbuhan pedapatan, tingkat suku bunga riil, inflasi, pengeluaran jaminan sosial, dan keseimbangan anggaran belanja pemerintah. Temuan ini menjadi semakin penting bagi kebijakan ekonomi, perhatian akan masyarakat lanjut, serta kebutuhan akan reformasi pada sistem tunjangan pensiun. Pada masa yang akan datang, rumahtangga diharapkan dapat meningkatkan konsumsi dan meningkatkan kemauan untuk menabung. Berdasarkan hasil analisis, hal ini dapat tercapai dengan peningkatan ukuran produksi dan menaikkan tabungan individu.
3. Penelitian Prema-Chandra Athukorala (2004)
Penelitian ini menganalisis mengenai determinan simpanna sektor swasta pada proses pembangunan ekonomi di India tahun 1954-1998. Metodologi yang digunakan adalah dengan mengestimasi fungsi tingkat simpanan yang diturunkan dari hipotesis daur hidup namun tetap memperhatikan karakteristik struktural dari perekonomian yang sedang berkembang. Dengan penggunaan LCM sebagai alat analisis, ditemukan bahwa tingkat simpanan meningkat di kedua level. Tingkat pertumbuhan
disposible income dan besarnya dampak tahap awal lebih kecil
dibandingkan dengan tahap akhir. Tingkat suku bunga deposito riil memiliki dampak positif dan signifikan terhadap tingkat simpanan, namun besarnya sedang. Simpanan sektor publik terlihat mendesak simpanan sektor swasta, namun tidak proporsional, yang dapat disimpulkan bahwa kebijakan publik dapat mempengaruhi tingkat tabungan nasional. Diantara banyak variabel, penyebaran fasilitas perbankan dalam perekonomian dan
commit to user
32 tingkat inflasi memeiliki damapk positif. Sedangkan perubahan-perubahan dalam kontrak perdagangan dan biaya/pajak bagi masyarakat pendatang berdampak negatif terhadap simpanan sektor swasta.
C. Kerangka teoritis
Simpanan masyarakat di perbankan merupakan salah satu sumber modal negara yang beasal dari dalam negeri yang digunakan sebagai dana dalam pembiayaan pembangunan selain sumber dana dari utang. Simpanan masyarakat akan disalurkan kembali kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat sesuai dengan kegiatan usaha bank yang tertuang dalam Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang No.10 tentang perbankan.
Beberapa studi tentang faktor penentu tingkat tabungan telah dilakukan yang diantaranya menjelaskan bahwa pendapatan perkapita, tingkat bunga, tingkat inflasi, dan struktur usia penduduk menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat simpanan masyarakat di perbankan. Penelitian ini membatasi variabel-variabel yang akan diteliti. Simpanan masyarakat menjadi variabel dependen, dimana varian-variannya akan dijelaskan dengan tiga variabel indpenden, yaitu: (1) pendapatan perkapita, (2) tingkat suku bunga, (3) tingkat inflasi.
Besarnya tabungan yang dilakukan oleh rumahtangga tergantung kepada besar kecilnya tingkat pendapatan rumahtangga tersebut. Semakin besar jumlah pendapatan yang diterima oleh rumahtangga, semakin besar pula jumlah tabungan yang akan dilakukan. Tingkat suku bunga akan menentukan besarnya tabungan maupun yang akan dulakukan dalam perekonomian. Setiap
commit to user
33 perubahan dalam tingkat suku bunga akan menyebabkan pula perubahan dalam tabungan rumahtangga. Rumahtangga akan menawarkan lebih banyak tabungan apabila tingkat suku bunga bertambah tinggi dan sebaliknya. Inflasi -mewakili ketidakpastian dalam perekonomian-yang lebih besar dapat meningkatkan tabungan karena konsumen menghindari resiko dengan menyimpan modalnya sebagai tindakan pencegahan dalam menghadapi kemungkinan perubahan yang kurang baik pada pendapatan dan faktor-faktor lain.
Untuk mempermudah pemahaman dalam penelitian ini, digambarkan suatu kerangka pemikiran yang sistematis, sebagai berikut:
Gambar 2.3 Kerangka pemikiran
D. Hipotesis penelitian
Berdasarkan tinjauan pustaka dan berbagai penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
1. Diduga pendapatan per kapita berpengaruh positif dan signifikan terhadap simpanan masyarakat di perbankan wilayah Jawa Tengah.
Tingkat Suku Bunga Pendapatan per kapita Inflasi Simpanan masyarakat di Perbankan
commit to user
34 2. Diduga tingkat suku bunga berpengaruh positif dan signifikan terhadap
simpanan masyarakat di perbankan wilayah Jawa Tengah.
3. Diduga tingkat inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap simpanan masyarakat di perbankan wilayah Jawa Tengah.
commit to user
35
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain dan Lingkup Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan analisis data sekunder yang bertujuan untuk menguji hipotesis yang diajukan serta untuk menganalisis pengaruh pendapatan per kapita, tingkat suku bunga, dan tingkat inflasi terhadap simpanan masyarakat di perbankan Jawa Tengah. Penelitian ini dilakukan di wilayah Jawa Tengah dengan input data dari 35 Kabupaten/Kota meliputi Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Batang, Kabupaten Blora, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Brebes, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Demak, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Jepara, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Kendal, Kabupaten Klaten, Kabupaten Kudus, Kabupaten Magelang, Kabupaten Pati, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Purworejo, Kabupaten Rembang, Kabupaten Semarang, Kabupaten Sragen, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Tegal, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Wonosobo, Kota Magelang, Kota Pekalongan, Kota Salatiga, Kota Semarang, Kota Surakarta, Kota Tegal. Periode data yaitu dari tahun 2002 sampai tahun 2010.
commit to user
36
B. Identifikasi dan Definisi Operasional Variabel Penelitian
Data yang digunakan dalam penelitian ini, dikelompokkan menjadi dua variabel yaitu variabel dependen dan variabel independen. Adapun definisi operasional dari variabel adalah:
1. Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi variabel independennya. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah simpanan masyarakat di perbankan Jawa Tengah. Variabel simpanan ini terdiri dari giro, tabungan, dan deposito propinsi Jawa Tengah pada periode 2002-2010. Satuan pengukuran variabel simpanan ini adalah juta Rupiah. Data simpanan masyarakat diperoleh dari Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia Bank Indonesia berbagai edisi. 2. Variabel independen merupakan variabel yang mempengaruhi
variabel dependen, antara lain: a. Pendapatan Per Kapita
Variabel pendapatan per kapita yang digunakan adalah PDRB per kapita atas dasar harga konstan tahun 2000 propinsi Jawa Tengah periode tahun 2002-2010. Pendapatan perkapita dinotasikan dengan PP. Satuan pengukuran variabel pendapatan per kapita ini adalah Rupiah. Data pendapatan per kapita diperoleh dari Badan Pusat Statistik Jawa Tengah.
b. Tingkat Suku Bunga
Variabel tingkat suku bunga yang digunakan adalah tingkat suku bunga tabungan nominal bank persero di Ppropinsi Jawa Tengah periode tahun 2002-2010. Tingkat suku bunga dinotasikan dengan
commit to user
37 SBN, dimana SBN adalah tingkat suku bunga nominal. Satuan pengukuran variabel suku bunga ini adalah persen (%). Dalam penelitian ini tingkat suku bunga diperlakukan sama untuk setiap kabupaten/kota. Data diperoleh dari Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia Bank Indonesia berbagai edisi.
c. Tingkat Inflasi
Variabel tingkat inflasi yang digunakan adalah tingkat inflasi propinsi Jawa Tengah periode tahun 2002-2010. Definisi tingkat inflasi dalam penelitian ini merupakan perubahan dari deflator PDRB per tahun. Tingkat inflasi dinotasikan dengan INF. Satuan pengukuran inflasi ini adalah persen (%). Data diperoleh dari Badan Pusat Statistik Jawa Tengah.
C. Model Penelitian
Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah adopsi dari model ayng digunakan oleh Horioka dan Wan (2007: 8-11). Model yang digunakan oleh Horioka dan Wan adalah sebagai berikut:
SR=f [CHY,YOUNG,OLD,DEP,SR(-1),RINT,INFL,RURAL]... (3.1)
Yang mana SR adalah tingkat tabungan rumahtangga sebagai variabel. Sedangkan variabel independennya adalah: (1) tingkat pertumbuhan pendapatan, (2) rasio populasi usia 0-14 tahun terhadap usia 15-64 tahun, (3) rasio populasi usia lebih dari 65 tahun terhadap usia 15-64, (4) total rasio populasi usia muda dan tua terhadap usia 15-64 tahun, (5) lag tingkat
commit to user
38 tabungan, (6) tingkat suku bunga riil, (7) tingkat inflasi, dan variabel dummy
untuk rumahtangga perkotaan dan perdesaan.
Adapun keperlun penelitian ini, yang akan dipilih sebagai variabel