• Tidak ada hasil yang ditemukan

TELKOM, yang dirinci berdasarkan produk dan layanan utama TELKOM untuk periode tahun 2004 sampai dengan tahun 2006, dengan tiap item dinyatakan sebagai persentase dari jumlah item pendapatan usaha.

Setelah adanya peraturan yang diterbitkan oleh Dirjen Postel pada Agustus 2001, Pemerintah bermaksud mengakhiri hak eksklusif TELKOM sebagai operator penyedia jasa layanan lokal dan sambungan langsung jarak jauh. Hak eksklusif TELKOM untuk layanan lokal berakhir pada bulan Agustus 2002 dan untuk layanan sambungan langsung jarak jauh berakhir pada bulan Agustus 2003. Namun TELKOM menerima lisensi komersial untuk menyediakan layanan sambungan tetap SLI pada tanggal 13 Mei 2004. Dengan berakhirnya hak eksklusif TELKOM dalam penyelenggaraan sambungan lokal dan sambungan langsung jarak jauh, Indosat yang menjadi pesaing TELKOM, memperoleh lisensi komersil untuk menyelenggarakan layanan sambungan langsung jarak jauh pada tanggal 13 Mei 2004 dan sambungan telepon tidak bergerak nirkabel pada bulan Agustus 2004. Indosat mulai menawarkan layanan sambungan langsung jarak jauh pada akhir tahun 2004. TELKOM memperkirakan pendapatan dari layanan interkoneksi yang berasal dari pemain baru di pasar sambungan lokal dan sambungan langsung jarak jauh akan meningkat dan pangsa pasar layanan sambungan telepon tidak bergerak akan sedikit berkurang dimasa mendatang sehubungan dengan liberalisasi pasar ini. Berkenaan dengan layanan sambungan tetap SLI, TELKOM mulai menawarkan layanan ini kepada pelanggan pada tanggal 7 Juni 2004 dengan nama produk TIC 007. TELKOM mengakui pendapatan sambungan

langsung internasional dari TIC 007 ini sebagai pendapatan interkoneksi.

Pendapatan Telepon Tidak Bergerak

Komponen pendapatan telepon tidak bergerak terdiri dari pendapatan percakapan lokal dan sambungan jarak jauh dalam negeri, pendapatan abonemen bulanan, pendapatan pasang baru, pendapatan kartu telepon dan pendapatan lain-lain. Pendapatan dari percakapan lokal dan jarak jauh, abonemen bulanan, dan pasang baru diberlakukan baik untuk sambungan telepon tidak bergerak kabel maupun sambungan telepon tidak bergerak nirkabel.

Pendapatan percakapan lokal dan jarak jauh, dan abonemen bulanan ditentukan oleh para operator telekomunikasi berdasarkan formula tarif maksimum yang ditentukan oleh Pemerintah. Level tarif maksimum diterapkan sama di seluruh Indonesia. Besaran pendapatan abonemen bulanan TELKOM berbeda-beda menurut jenis pengguna dan jenis jasa yang diberikan. Penggunaan panggilan lokal dan jarak jauh dalam negeri berbeda-beda tergantung pada jarak panggilan, lama panggilan dan time band, sedangkan pendapatan pasang baru, kartu telepon dan jasa lainnya ditentukan oleh operator yang bersangkutan. Pendapatan telepon tidak bergerak diakui pada saat pelanggan memakai telepon tersebut kecuali

pendapatan dari pemasangan sambungan telepon tidak bergerak diakui pada saat pemasangan selesai dan siap dipakai. Pendapatan telepon tidak bergerak, untuk periode tahun 2004 sampai dengan tahun 2006, dengan tiap butir dinyatakan sebagai persentase dari jumlah pendapatan usaha dapat dilihat pada Tabel 2.

Pendapatan Telepon Selular

Komponen utama dari pendapatan telepon selular adalah pendapatan pulsa. Pendapatan telepon selular juga mencakup pendapatan abonemen bulanan, pendapatan jasa penyambungan, dan pendapatan fitur. Tarif penggunaan pulsa dan abonemen bulanan ditentukan oleh para operator telekomunikasi berdasarkan pada tingkatan tarif maksimum yang ditentukan oleh Pemerintah. Tingkatan tarif maksimum diterapkan secara seragam di seluruh Indonesia. Tarif jasa penyambungan ditentukan oleh operator masing-masing. Hanya pelanggan pascabayar yang membayar jasa penyambungan dan abonemen bulanan, sedangkan pelanggan prabayar pada umumnya membayar tarif penggunaan pulsa yang lebih tinggi. Dalam laporan laba rugi konsolidasian TELKOM, sejumlah pendapatan dari penjualan kartu perdana prabayar dicatat sebagai pendapatan jasa penyambungan.

Bagi pelanggan pascabayar, pendapatan abonemen bulanan diakui sebagai pendapatan pada saat pelanggan berlangganan,

sedangkan pendapatan jasa penyambungan dicatat sebagai pendapatan pada saat penyambungan terjadi. Bagi pelanggan prabayar, pendapatan dari kartu perdana diakui pada saat pengiriman ke distributor, penyalur atau langsung ke pelanggan, dan pendapatan dari voucher isi ulang diakui pertama kali sebagai Pendapatan Diterima Dimuka dan diakui secara proporsional sebagai pendapatan berdasarkan panggilan yang berhasil dilakukan, dengan menggunakan nilai sebagaimana tertera pada voucher atau ketika nilai yang ada pada voucher tersebut tidak digunakan lagi atau habis masa berlakunya. Pendapatan diakui setelah dikurangi potongan harga kepada dealer.

Tabel 3 menyajikan pendapatan selular, untuk periode tahun 2004 sampai dengan tahun 2006, dengan tiap butir dinyatakan sebagai persentase dari jumlah pendapatan usaha.

Pendapatan Pola Kerjasama Operasi (“KSO”)

Pendapatan Kerja Sama Operasi terdiri dari: • pembayaran awal oleh mitra KSO,

yang diamortisasi sesuai dengan masa perjanjian KSO;

• Pendapatan Minimum TELKOM (MTR),

Tahun-tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2006 2005 2004 Rp (miliar) % Rp (miliar) % Rp (miliar) %

Pendapatan usaha Telepon

Tetap 10.979,0 21,4 10.781,3 25,8 10.645,0 31,4 Selular 20.622,6 40,2 14.570,9 34,9 10.421,3 30,7 Pendapatan Kerja Sama Operasi 489,4 1,0 588,7 1,4 656,6 1,9 Interkoneksi 8.681,5 16,9 7.742,1 18,5 6.188,0 18,2 Data dan Internet 9.065,2 17,7 6.934,3 16,6 4.808,8 14,2 Jaringan 718,7 1,4 586,6 1,4 654.3 1,9 Pola bagi hasil (PBH) 415,5 0,8 302,3 0,7 280,6 0,8 Jasa telekomunikasi lain 322,1 0,6 301,0 0,7 293,2 0,9

merupakan pembayaran minimum tertentu yang dibayarkan per bulan; dan

• pendapatan KSO yang harus dibagi (DKSOR), merupakan persentase tertentu dari pendapatan KSO setelah dikurangi biaya operasi dan MTR yang dibayarkan per bulan.

Pendapatan KSO mengalami penurunan karena dilakukannya akuisisi atas mitra KSO, yang menyebabkan dikonsolidasikannya pendapatan KSO dan dicatat dalam Pendapatan Telepon Tidak Bergerak. Penurunan pendapatan KSO pada tahun 2006 diakibatkan oleh akuisisi dan pengkonsolidasian KSO VII pada bulan Oktober 2006.

Tabel 4 menyajikan pendapatan Kerja Sama Operasi (KSO), untuk periode tahun 2004 sampai dengan tahun 2006, dengan tiap butir

dinyatakan sebagai persentase dari jumlah pendapatan usaha.

Pendapatan Interkoneksi

Komponen pendapatan interkoneksi terdiri dari pendapatan interkoneksi selular, interkoneksi internasional dan interkoneksi lainnya. Pendapatan interkoneksi terdiri dari biaya yang dibebankan pada operator domestik dan internasional lain, pada saat mana panggilan telepon yang berawal dari jaringan operator lain tersebut tersambung (interconnect) dengan jaringan telepon tidak bergerak TELKOM maupun jaringan selular Telkomsel. Pendapatan interkoneksi juga mencakup roaming internasional oleh operator diluar negeri kepada jaringan selular bergerak Telkomsel, serta biaya (fee) ritel yang dibebankan kepada pelanggan TELKOM untuk panggilan keluar dan pendapatan sambungan langsung internasional dari jasa

TELKOMSLI-007 sejak jasa tersebut diluncurkan pada bulan Juni 2004.

Biaya yang dibebankan atas interkoneksi ditentukan berdasarkan perjanjian antar operator, dengan biaya maksimum yang ditetapkan oleh keputusan Pemerintah. Pendapatan dari interkoneksi dengan operator telekomunikasi domestik dan internasional lainnya diakui pada saat terjadi berdasarkan perjanjian dan disajikan sebesar jumlah bersih setelah dikurangi beban interkoneksi. Pendapatan interkoneksi diakui terlebih dahulu, kemudian diselesaikan antar operator secara bulanan, yang dapat berfluktuasi secara signifikan karena adanya penyesuaian antar operator pada saat penyelesaian. Pada tanggal 8 Februari 2006, Menkominfo mengeluarkan Peraturan No.8/ Per/M.KOMINFO/02/2006, yang menerapkan skema tarif interkoneksi baru yang berbasis Tahun-tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember

2006 2005 2004

Rp (miliar) % Rp (miliar) % Rp (miliar) % Pendapatan Telepon Selular:

Pendapatan pulsa 19.257,3 37,5 13.666,3 32,7 9.825,7 28,9 Pendapatan abonemen bulanan 297,4 0,6 383,5 0,9 448,5 1,3 Pendapatan jasa penyambungan 109,2 0,2 64,1 0,2 55,8 0,2 Fitur 958,7 1,9 457,0 1,1 91,3 0,3

Jumlah 20.622,6 40,2 14.570,9 34,9 10.421,3 30,7

TabEL 3: PEnDaPaTan TELEPOn sELULar

Tahun-tahun Yang Berakhir Tanggal 31 Desember 2006 2005 2004 Rp (miliar) % Rp (miliar) % Rp (miliar) % Pendapatan Telepon Tidak

Bergerak:

Percakapan lokal dan sambungan jarak jauh

dalam negeri 7.130,9 13,9 7.223,1 17,3 7.439,3 21,9 Pendapatan abonemen bulanan 3.491,5 6,8 3.289,8 7,9 2.934,9 8,6 Pendapatan pasang Baru 170,2 0,3 197,3 0,5 201,3 0,6 Kartu Telepon 4,0 0,0 10,9 0,0 15,6 0,1 Lain-lain 182,4 0,4 60,2 0,1 53,9 0,2

Jumlah 10.979,0 21,4 10.781,3 25,8 10.645,0 31,4

biaya bagi semua operator jaringan dan jasa telekomunikasi yang telah efektif diberlakukan pada tanggal 1 Januari 2007. Lihat ”Tinjauan Bisnis - Regulasi- Interkoneksi” dan ”Faktor Risiko - Risiko yang terkait dengan TELKOM dan anak perusahaan”.

Tabel 5 di atas menyajikan pendapatan interkoneksi, untuk periode tahun 2004 sampai dengan tahun 2006, dengan tiap item dinyatakan sebagai persentase dari jumlah pendapatan usaha.

Pendapatan Data dan Internet

Komponen pendapatan data dan Internet terdiri dari pendapatan SMS, internet,

komunikasi data, VoIP, dan layanan e-business. Tabel 6 menyajikan pendapatan data dan internet, untuk periode tahun 2004 sampai dengan tahun 2006, dengan tiap item dinyatakan sebagai persentase dari jumlah pendapatan usaha.

Pendapatan Jaringan

Komponen pendapatan jaringan terdiri dari pendapatan sewa transponder satelit dan sirkit langganan.

Tabel 7 menyajikan pendapatan jaringan, untuk periode tahun 2004 sampai dengan tahun 2006, dengan tiap item dinyatakan sebagai persentase dari jumlah pendapatan usaha.

Pendapatan Pola Bagi Hasil (PBH)

Pendapatan pola bagi hasil terdiri dari bagian bersih PBH dan amortisasi pendapatan PBH yang ditangguhkan.

Tabel 8 menyajikan pendapatan PBH, untuk periode tahun 2004 sampai dengan tahun 2006, dengan tiap item dinyatakan sebagai persentase dari jumlah pendapatan usaha.

Pendapatan Jasa Telekomunikasi Lainnya

Pendapatan jasa telekomunikasi lainnya terutama berasal dari pendapatan telex dan

telegram, pendapatan telephone directory assistance dan pendapatan dari layanan televisi kabel.

Pada tahun 2006, pendapatan TELKOM dari jasa telekomunikasi lainnya meningkat sebesar Rp 21,1 miliar, atau 7,0% dari Rp 301,0 miliar pada tahun 2005 menjadi Rp 322,1 miliar pada tahun 2006. Peningkatan pendapatan jasa telekomunikasi lainnya terutama karena meningkatnya pendapatan telephone directory assistance sebesar Rp 23,1 miliar atau 8,2% dari Rp 281,1 miliar pada tahun 2005 menjadi Rp 304,2 miliar pada tahun 2006.

Beban Usaha TELKOM