• Tidak ada hasil yang ditemukan

perusahaan

Rencana pengembangan TELKOM dapat menguras sumber daya utama dan dapat memberi dampak merugikan pada prospek bisnis dan kinerja keuangan.

Untuk menjaga tingkat persaingan dan posisi TELKOM dalam merebut persaingan dan mempertahankan pangsa pasar, TELKOM telah menetapkan visi perusahaan untuk menjadi full service and network provider. Untuk mencapai tujuan ini, TELKOM harus meningkatkan fokus pada multimedia dan jenis layanan lain di samping tetap konsentrasi pada bisnis inti Perusahaan yaitu layanan lokal, jarak jauh domestik dan telepon selular. Pelaksanaan atas rencana dalam rangka untuk mencapai sasaran ini dapat menguras sumber daya manajerial, keuangan dan sumber daya lain dari TELKOM, yang berpotensi memberi dampak yang merugikan prospek bisnis dan kinerja keuangan TELKOM.

Kepentingan Pemegang Saham Pengendali Mayoritas TELKOM dapat berbeda dengan kepentingan Pemegang Saham TELKOM lainnya.

Pemerintah memiliki hak mayoritas sebesar 51,19% dari jumlah saham yang dikeluarkan dan beredar dan memiliki pengendalian atas TELKOM dan memiliki kemampuan untuk menentukan keputusan dari hampir seluruh tindakan yang memerlukan persetujuan dari para pemegang saham TELKOM. Pemerintah yang juga pemegang saham Dwiwarna TELKOM yang memiliki hak suara khusus

dan hak veto untuk hal tertentu, termasuk pemilihan dan pemberhentian Direksi dan Komisaris TELKOM. Melalui Departemen Komunikasi dan Informasi (Menkominfo), Pemerintah juga memiliki kewenangan untuk mengatur industri telekomunikasi Indonesia. Dimungkinkan adanya situasi dimana kepentingan Pemerintah selaku regulator dan pemegang saham pengendali TELKOM mengalami benturan kepentingan dengan kepentingan bisnis TELKOM. Selain itu, tidak ada jaminan bahwa Pemerintah tidak akan memberikan peluang kepada operator telekomunikasi lain yang sahamnya juga dimiliki oleh Pemerintah.

Kegagalan sistem tertentu, jika terjadi, dapat memberi dampak merugikan pada hasil operasi TELKOM.

TELKOM mengoperasikan jaringan telepon tidak bergerak (PSTN), jaringan telepon tidak bergerak nirkabel, jaringan data dan jaringan selular GSM. Jaringan terpadu terdiri dari jaringan akses tembaga, jaringan akses optik, bTS, switch, transmisi, satelit dan server aplikasi. Setiap kegagalan dari jaringan terpadu ini, server TELKOM, atau setiap link transmisi yang mengakibatkan gangguan dalam operasi atau penyediaan layanan TELKOM, baik akibat gangguan operasi, bencana alam atau lainnya, dapat merugikan kemampuan TELKOM dalam mendapatkan dan mempertahankan pelanggan dan memberi dampak merugikan pada hasil usaha, prospek dan kinerja keuangan.

Pihak regulator dan operator telekomunikasi lain dapat mempertanyakan kemampuan TELKOM dalam menerapkan tarif PSTN untuk layanan telepon tidak bergerak nirkabel berbasis-CDMA-nya yang baru, yang dipasarkan dengan merek dagang TELKOMFlexi.

Pada bulan Desember 2002, TELKOM memperkenalkan layanan telepon tidak bergerak nirkabel berbasis-CDMA baru, yang dipasarkan dengan merek dagang TELKOMflexi untuk pesawat telepon tidak bergerak dan nirkabel. Sampai dengan

tanggal 31 Desember 2006, produk ini telah dipasarkan di 236 kota. Teknologi telepon tidak bergerak nirkabel berbasis-CDMA memungkinkan dikembangkannya jaringan telepon dengan cepat dan mengurangi belanja modal per sambungan dengan meniadakan kebutuhan akan instalasi kabel bawah tanah. TELKOMflexi menawarkan kepada pelanggan kemampuan menggunakan pesawat telepon nirkabel dengan mobilitas terbatas (di dalam kode area yang sama). Pelanggan pada umumnya memiliki seluruh fitur yang ditawarkan oleh layanan selular kecuali roaming ke kode area lain dan dalam lingkup internasional. Pelanggan TELKOMflexi pascabayar dibebani tarif yang sama dengan angka tarif PSTN sedangkan pelanggan prabayar dibebani tarif yang sedikit lebih tinggi dari tarif pascabayar tetapi tanpa biaya bulanan. Dalam segala hal, baik tarif pascabayar maupun prabayar TELKOMFlexi secara substansial lebih rendah dari tarif layanan selular. Regulator telekomunikasi, operator selular dan asosiasi perdagangan selular telah berupaya dan di masa mendatang dapat berupaya mengenakan batasan sesuai kemampuan TELKOM dalam menyediakan layanan telepon tidak bergerak nirkabel dengan tarif PSTN. Apabila batasan tersebut dikenakan, maka TELKOM dapat kehilangan sebagian atau seluruh keuntungan dari investasinya di jaringan yang mendukung layanan TELKOMflexi. TELKOM dapat menimbulkan sengketa dengan regulator atau pesaing.

TELKOM mungkin perlu menghimpun dana yang dibutuhkan untuk pembelanjaan modal tertentu di masa mendatang dan adanya persyaratan pembatasan dalam perjanjian pinjaman dapat mengakibatkan TELKOM tunduk pada restrictive covenant .

TELKOM mungkin perlu melakukan penghimpunan dana tambahan yang besar untuk mendukung pertumbuhan bisnis perusahaan, melaksanakan akuisisi, menghadapi kejadian yang tidak diduga, dan mengembangkan perbaikan layanan

atau produk baru. Perseroan mungkin juga perlu melakukan sesuatu untuk menghadapi tekanan persaingan, mengembangkan bisnis pendukung atau tehnologi yang tepat, atau memanfaatkan peluang bisnis. TELKOM tidak dapat memastikan bahwa kebutuhan penghimpunan dana tambahan tersebut, pada saat dibutuhkan, akan pasti tersedia berdasarkan syarat dan ketentuan yang dapat diterima oleh TELKOM. Selain itu, suatu fasilitas perjanjian pinjaman, jika ada, dapat mengandung adanya persyaratan pembatasan(“restrictive covenant”) dalam perjanjian pinjaman yang dapat mengakibatkan fleksibilitas operasional TELKOM menjadi dibatasi untuk keperluan bisnis tertentu. Apabila tidak terdapat ketersediaan dana yang memadai sesuai dengan syarat dan ketentuan yang dapat diterima oleh TELKOM, maka dimungkinkan TELKOM tidak akan mampu mengembangkan atau meningkatkan layanannya. Perseroan juga mungkin tidak akan mampu memperoleh keuntungan dari peluang bisnis di masa mendatang atau menghadapi tekanan persaingan, semua itu dapat memberi dampak kerugian yang material pada bisnis, dan hasil kinerja operasi keuangan TELKOM.

Kemampuan TELKOM untuk menyusun pengaturan pembiayaan yang memadai sangatlah penting untuk mendukung belanja modal Perusahaan.

Bidang industri telekomunikasi sarat dengan modal. Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan menyediakan layanan dan teknologi yang setara dan kompatibel dengan penyedia layanan telekomunikasi lain, TELKOM harus terus memperluas dan memperbaharui jaringannya, yang melibatkan penanaman modal yang cukup substansial. TELKOM sangat bergantung pada dana internalnya, pinjaman penerusan (two-step loans) yang diperoleh dari Pemerintah dan pembiayaan dari pihak ketiga, termasuk pembiayaan pemasok untuk mendukung pengembangan jaringan sambungan telepon tidak bergeraknya. Apabila TELKOM tidak

memiliki dana internal yang memadai atau tidak mampu mendapatkan vendor yang memadai atau pembiayaan pihak ketiga lainnya untuk belanja modal yang telah direncanakan oleh Perseroan atau dengan cara lain mendanai pengeluaran tersebut melalui pengaturan pembiayaan lainnya, maka TELKOM mungkin harus mengabaikan, menunda atau menangguhkan sebagian belanja modal yang telah direncanakannya. Hal ini dapat menghambat TELKOM untuk melakukan ekspansi dan memperbaharui jaringannya, yang dapat mempengaruhi pendapatan dan pertumbuhan perusahaan.

Serikat Pekerja dapat berdampak negatif pada bisnis TELKOM.

Undang-undang yang memperbolehkan pembentukan serikat pekerja, dipadu dengan kondisi ekonomi yang lemah, senantiasa mengakibatkan gejolak tenaga kerja dan gerakan aktivis di Indonesia. Pada 25 februari 2003, Dewan Perwakilan Rakyat mengesahkan undang-undang ketenagakerjaan baru, yaitu undang-undang No. 13 tahun 2003 (“undang-undang Ketenagakerjaan”), yang berlaku efektif pada 25 Maret 2003. undang-undang Ketenagakerjaan memberikan perlindungan lebih besar kepada karyawan antara lain mensyaratkan pengaturan dari Industrial Relation Court untuk pemberhentian karyawan dalam situasi tertentu dan mencakup kenaikan besar pesangon, uang penghargaan masa kerja dan ganti rugi yang harus dibayar kepada karyawan yang diberhentikan serta mengijinkan karyawan berserikat tanpa campur tangan dari pihak pemberi kerja. Undang-Undang Ketenagakerjaan dan peraturan pelaksanaan yang dikeluarkan berdasarkan undang-undang tersebut dapat berdampak secara substansial pada hubungan tenaga kerja di Indonesia. Pada bulan Mei 2000, karyawan TELKOM membentuk serikat bernama “Serikat Karyawan TELKOM” atau “SEKAR.” Pada bulan Mei 2006, sekelompok karyawan TELKOM membentuk serikat lain bernama “Serikat Pekerja” atau “SP” sebagai alternatif

selain SEKAR. Kedua serikat kerja tersebut diakui oleh TELKOM, meskipun keanggotaan dengan setiap serikat tidak diwajibkan. TELKOM percaya bahwa hubungannya dengan SEKAR dan SP cukup baik. Namun, tidak ada jaminan bahwa kegiatan serikat kerja tidak akan memberi dampak material yang merugikan pada bisnis, kinerja keuangan dan prospek TELKOM.

Teknologi baru dapat memberi dampak yang merugikan pada kemampuan TELKOM agar tetap kompetitif.

Perubahan teknologi di bidang industri telekomunikasi bersifat cepat dan signifikan. TELKOM mampu menghadapi peningkatan persaingan di bidang perkembangan teknologi saat ini dan masa mendatang. Teknologi, layanan atau standar baru dapat mengakibatkan perubahan signifikan pada model bisnis, pengembangan produk baru atau penyediaan layanan tambahan. Selain itu, apabila terjadi perubahan kebutuhan pelanggan atau tidak efisiennya jaringan infrastruktur, maka TELKOM perlu melakukan upgrade teknologi ke jaringan generasi baru (next generation network) untuk menerapkan teknologi terpadu dan efektivitas biaya serta melakukan upgrade terhadap sistem pengendalian hutang dan tagihan (billing and credit control system) untuk mendukung pertumbuhan bisnis dan penerapan teknologi dan layanan baru. Produk dan layanan baru mungkin dinilai terlalu mahal untuk dikembangkan dan dapat mengakibatkan masuknya para pesaing baru ke pasar. TELKOM tidak dapat memprediksi secara akurat pengaruh dari perubahan teknologi di masa kini dan masa mendatang terhadap operasi atau daya saing layanan Perusahaan. Sama halnya, TELKOM tidak dapat menjamin bahwa teknologi yang digunakan sekarang tidak akan segera usang atau mampu mengimbangi persaingan dari teknologi-teknologi baru di masa mendatang. Apabila TELKOM tidak mampu mengikuti secara pesat perubahan teknologi tersebut, maka dapat mengakibatkan dampak kerugian material pada bisnis, kinerja keuangan dan hasil operasi perusahaan.

TELKOM beroperasi dalam suatu industri yang hukum dan peraturannya mengalami reformasi/perubahan signifikan yang perubahan tersebut dapat memberi dampak yang merugikan pada bisnis TELKOM.

Peraturan di bidang industri telekomunikasi di Indonesia mengandung sejumlah ketidakpastian. Pada dasarnya, undang-Undang Telekomunikasi No. 36 tahun 1999 (“Undang-Undang Telekomunikasi”) mengatur tentang kerangka utama reformasi industri telekomunikasi, antara lain liberalisasi industri, masuknya operator baru dan perubahan struktur kompetisi. Undang-Undang Telekomunikasi secara garis-besar hanya menguraikan kerangka dan prinsip dasar untuk liberalisasi industri telekomunikasi. TELKOM melihat adanya ketidakpastian dalam peraturan di bidang telekomunikasi di Indonesia, diantaranya berkaitan dengan hal-hal berikut: • Interkoneksi: TELKOM, termasuk

anak perusahaan seperti Telkomsel, diwajibkan untuk memperbolehkan operator lain melakukan interkoneksi dengan memakai jaringan milik mereka ke jaringan milik TELKOM, hal ini terlebih dahulu harus diatur dengan perjanjian interkoneksi dengan operator tersebut. Sampai dengan tanggal laporan tahunan ini, kemampuan TELKOM untuk merundingkan perjanjian interkoneksi tersebut dibatasi oleh ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam berbagai keputusan menteri yang mengatur tentang tarif interkoneksi. Pada 8 Februari 2006, Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkominfo) mengeluarkan Peraturan No. 8/Per/M/ KOMINFO/02/2006, yang menetapkan pola tarif interkoneksi baru berbasis-biaya untuk seluruh jaringan telekomunikasi dan operator layanan. Berdasarkan skema baru ini, penyelenggara tujuan panggilan akan menentukan biaya interkoneksi yang akan diterimanya berdasarkan formula yang diatur dalam Peraturan No. 8/Per/ M/KOMINfO/02/2006, yang bertujuan

untuk mengatur agar penghitungan tarif panggilan dilakukan berdasarkan beban biaya yang dikeluarkan untuk menyelenggarakan panggilan tersebut. Perhitungan biaya interkoneksi tersebut harus disampaikan dalam bentuk Dokumen Penawaran Interkoneksi (“DPI”) dan kemudian dilaporkan kepada Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI). TELKOM telah menyerahkan DPI-nya pada bulan April 2006. Pada bulan Agustus 2006, BRTI telah menyelesaikan hasil review atas DPI yang diserahkan oleh para operator jaringan, termasuk TELKOM. BRTI mengeluarkan DPI final (DJPT No. 279/DIRJEN/2006) terkait dengan TELKOM pada 4 Agustus 2006. Skema baru tarif interkoneksi mulai berlaku efektif pada 1 Januari 2007. TELKOM tidak dapat menjamin tentang dampak dari penyesuaian tersebut terhadap pendapatan interkoneksi & biaya TELKOM dan tidak ada jaminan bahwa hal tesebut tidak akan memberi dampak kerugian material pada prospek bisnis, kinerja keuangan, dan operasi TELKOM.

• Lisensi: Lisensi TELKOM untuk menyediakan layanan sambungan telepon tidak bergerak, layanan SLJJ dan layanan SLI yang semula terpisah diganti dan disatukan menjadi lisensi tunggal yang dikeluarkan pada 13 Mei 2004. TELKOM juga memegang lisensi multimedia yang mencakup layanan seperti penyedia layanan Internet, penyedia komunikasi data, akses jaringan dan VoIP. Pemerintah, berkenaan dengan hukum dan peraturan yang berlaku, dapat mengubah syarat-syarat dari lisensi dan wewenang bisnis TELKOM atas dasar kebijaksanaannya. Pemerintah juga dapat memberikan kewajiban tertentu kepada pihak pemegang lisensi. Setiap pelanggaran terhadap syarat-syarat dan ketentuan dari lisensi atau wewenang bisnis Perseroan atau kelalaian mematuhi peraturan yang berlaku

dapat membuat lisensi atau wewenang bisnis tersebut dicabut kembali. Pencabutan kembali atau perubahan yang tidak menguntungkan atas lisensi atau wewenang bisnis atau kelalaian memperbaharuinya sesuai syarat-syarat setara dapat memberi dampak material yang merugikan pada bisnis, kinerja keuangan, hasil operasi dan prospek TELKOM.

• Tarif: Pada tahun 1995, Pemerintah memberlakukan peraturan yang mengatur tentang formula untuk menetapkan penyesuaian tarif layanan telekomunikasi sambungan telepon tidak bergerak domestik. Namun review tahunan atas penyesuaian tarif tersebut tidak diterapkan secara konsisten. Selain itu, amandemen terhadap kebijakan batas tarif atas (price cap) yang saat ini berlaku memungkinkan operator untuk melakukan kalkulasi penyesuaian tarif tahunan terhitung mulai tanggal 1 Januari 2002 berdasarkan formula yang ditentukan oleh Pemerintah. Pada 29 Januari 2002, Pemerintah mengeluarkan surat yang ditujukan kepada TELKOM yang menetapkan kenaikan 45,49% untuk tarif sambungan telepon tidak bergerak domestik yang akan dilaksanakan dalam kurun waktu tiga tahun. Pada 2002 dilakukan kenaikan tarif, dengan rata-rata tertimbang dari kenaikan 15%. Pada bulan Januari 2003, Pemerintah menunda kenaikan tarif kedua sehubungan dengan adanya berbagai protes dari masyarakat. Namun, pada 30 Maret 2004, Pemerintah, seperti yang direkomendasikan oleh BRTI, mengumumkan bahwa Pemerintah akan mengijinkan operator untuk melakukan penyesuaian tarif, dengan kenaikan hasil rata-rata tertimbang sebesar 9%. Pada 8 Pebruari 2006, Pemerintah mengeluarkan Keputusan No. 09/ Per/M.KOMINFO/02/2006 mengenai Prosedur Penentuan Tarif Saat Ini dan Tarif yang Disesuaikan dari Teleponi

Dasar Jaringan Tetap, yang menetapkan formula baru untuk menghitung kenaikan tarif selanjutnya. Tidak ada jaminan bahwa Pemerintah akan menerapkan kenaikan tarif lebih lanjut atau bahwa tarif akan setiap saat menyesuaikan dengan beban biaya. Apabila Pemerintah tidak menerapkan kenaikan tarif secara berkala, maka hal tersebut dapat memberi dampak material yang merugikan pada bisnis, kinerja keuangan dan operasi perusahaan.

• Migrasi Frekuensi untuk Penyedia Jasa Layanan 3G: Pada 31 Agustus 2005, Menkominfo mengeluarkan siaran pers yang mengumumkan bahwa untuk memenuhi standar internasional industri dan sebagaimana yang direkomendasikan oleh International Telecommunications Union — Radio Communication Sector (“ITU-R”), spektrum frekuensi 1900 MHz hanya akan digunakan untuk jaringan International Mobile Telecommunications-2000 (“IMT-Telecommunications-2000” atau “3G”). Menkominfo juga mengumumkan bahwa jaringan teknologi berbasis-CDMA yang digunakan oleh TELKOM untuk layanan telepon tidak bergerak nirkabel hanya dapat beroperasi dalam spektrum frekuensi 800 MHz. Saat ini, TELKOM menggunakan spektrum frekuensi 1900 MHz untuk jaringan telepon tidak bergerak nirkabel di Jakarta, banten dan daerah Jawa Barat sementara, untuk daerah lain, TELKOM menggunakan spektrum frekuensi 800 MHz. Sebagai akibat dari keputusan Pemerintah tersebut, peralatan Base Station System (“bSS”) TELKOM di Jakarta, banten dan daerah Jawa barat yang merupakan bagian dari instalasi dan perangkat transmisi untuk jaringan telepon tidak bergerak nirkabel tidak lagi dapat digunakan mulai akhir tahun 2007. TELKOM berharap peralatan bSS akan sepenuhnya diganti dengan peralatan bSS yang beroperasi di 800 MHz pada akhir Juni 2007. Pada 13 Januari 2006, Menkominfo mengeluarkan Peraturan Menkominfo

No.01/PER/M.KOMINFO/1/2006 yang menegaskan kembali keputusan Pemerintah bahwa jaringan telepon tidak bergerak nirkabel TELKOM hanya dapat beroperasi dalam spektrum frekuensi 800 MHz dan bahwa 1900 MHz dialokasikan untuk jaringan 3G. TELKOM telah mengeluarkan biaya yang signifikan untuk mengganti perangkat BSS dan TELKOM tidak dapat menjamin bahwa TELKOM tidak akan mengalami kerugian lebih lanjut akibat dari kebijakan pemerintah ini. Selain itu, menindaklanjuti regulasi tentang migrasi frekuensi, TELKOM mulai melakukan rencana registrasi pelanggan telepon tidak bergerak nirkabel pada bulan Juni 2007. Saat ini, TELKOM meregistrasi pelanggan untuk identifikasi jumlah pelanggan yang terkena dampak penggantian pesawat telepon pada tanggal efektif terjadinya migrasi frekuensi. TELKOM juga mempertimbangkan bentuk dan jumlah kompensasi kepada pelanggan terkait dengan migrasi frekuensi, yang mana rumusannya belum selesai hingga tanggal pembuatan Laporan Tahun ini.

• Terminasi Lisensi Wireless Local Loop (“WLL”): Pada triwulan pertama tahun 2005, Pemerintah, dalam rangka pengaturan kembali spektrum frekuensi di bidang industri telekomunikasi, menerbitkan serangkaian peraturan yang mengakibatkan TELKOM tidak dapat menggunakan spektrum frekuensi tertentu yang saat ini dipergunakan untuk mendukung jaringan telepon tidak bergerak nirkabel terhitung mulai akhir tahun 2006. Akibat pemberlakuan peraturan-peraturan tersebut, fasilitas jaringan kabel tertentu milik TELKOM yang masuk dalam segmen telepon tidak bergerak kabel, yang terutama terdiri dari WLL dan perangkat approach link (suatu perangkat transmisi untuk menghubungkan antara BTS dan sentral lokal) yang beroperasi pada spektrum

frekuensi yang terkena dampak regulasi, tidak lagi dapat digunakan terhitung mulai akhir tahun 2006. TELKOM tidak dapat menjamin bahwa TELKOM tidak akan mengalami kerugian lebih lanjut akibat dari kebijakan pemerintah ini. Di samping itu, TELKOM melakukan program penggantian untuk menggantikan layanan WLL dengan layanan FlexiHome. Saat ini, TELKOM telah mengidentifikasikan bahwa jumlah pelanggan WLL yang terkena dampak dari Regulasi Pemerintah mencapai 173.418 pelanggan dan program ini direncanakan selesai pada akhir tahun 2007.

• Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (“BRTI”): undang-undang Telekomunikasi memperkenankan Pemerintah untuk mendelegasikan wewenangnya untuk mengatur, mengawasi dan mengontrol sektor telekomunikasi di Indonesia kepada badan regulasi independen, pada saat bersamaan tetap mempertahankan wewenang untuk merumuskan kebijakan atas industri telekomunikasi. Pendelegasian wewenang tersebut kepada bRTI dilaksanakan berdasarkan Keputusan Menkominfo No. 31/2003, tertanggal 11 Juli 2003. bRTI terdiri dari para pejabat dari Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi dan Komite Peraturan Telekomunikasi. Tidak ada jaminan bahwa BRTI tidak akan menempuh tindakan yang dapat merugikan bisnis, keputusan keuangan, hasil operasi atau prospek TELKOM. • Persaingan di Pangsa Pasar

Telekomunikasi Domestik Sambungan Telepon tidak bergerak: Dahulu, TELKOM memiliki hak eksklusif untuk menyediakan layanan telekomunikasi domestik sambungan telepon tidak bergerak di Indonesia. Sesuai dengan peraturan pelaksana undang-undang

Telekomunikasi yang baru, Pemerintah telah mengakhiri monopoli TELKOM dalam penyediaan layanan telekomunikasi domestik sambungan telepon tidak bergerak. Menteri Perhubungan

memberikan lisensi kepada Indosat untuk menyediakan layanan jaringan telepon tidak bergerak lokal sejak bulan Agustus 2002. Pada 13 Mei 2004, Indosat menerima lisensi komersialnya untuk menyediakan layanan telepon jarak jauh domestik. Indosat meluncurkan layanan akses telepon tidak bergerak nirkabel CDMA dengan merek dagang “StarOne” di Surabaya pada 29 Mei 2004 dan di Jakarta pada 25 Juli 2004, sehingga menciptakan “sistem duopoli” di pasar telekomunikasi domestik sambungan telepon tidak bergerak di Indonesia. Pada 31 Desember 2005, Indosat menawarkan layanan ini di Jakarta, bogor, Depok, Tangerang, bekasi, banten, Surabaya, yogyakarta, Malang, Sidoarjo, Gresik, Batu, Madura (Bangkalan, Sampang, Sumenep), Pasuruan dan Medan. Sesuai perjanjian interkoneksi antara TELKOM dan Indosat tertanggal 23 September 2005, TELKOM dan Indosat sepakat untuk membuka interkoneksi (i) jaringan telepon tidak bergerak lokal TELKOM dengan jaringan telepon tidak bergerak jarak jauh Indosat; (ii) jaringan telepon tidak bergerak lokal Indosat dengan jaringan telepon tidak bergerak jarak jauh TELKOM; (iii) antara jaringan telepon tidak bergerak jarak jauh TELKOM dan Indosat; (iv) jaringan sambungan telepon tidak bergerak domestik TELKOM dengan sambungan internasional Indosat; dan (v) jaringan telepon tidak bergerak lokal Indosat dengan sambungan internasional TELKOM, dengan tarif interkoneksi dihitung berdasarkan panggilan demi panggilan (”call by call basis”). Pada 1 Desember 2005, TELKOM dan Indosat mengadakan perjanjian interkoneksi untuk jaringan telepon tidak bergerak TELKOM dengan jaringan selular Indosat dan mengijinkan pelanggan selular Indosat mengakses

layanan SLI TELKOM. Oleh sebab itu, diharapkan Indosat dapat memperluas cakupan layanannya ke kota-kota lain di Indonesia. Indosat juga mulai menawarkan layanan jarak jauh domestik terbatas untuk panggilan di dalam jaringannya pada akhir tahun 2004. Persaingan di pasar sambungan telepon tidak bergerak, termasuk telepon tidak bergerak nirkabel, dapat menurunkan basis pelanggan TELKOM yang ada karena pelanggan dapat memilih untuk menerima layanan dari penyedia lain. Pengaturan interkoneksi TELKOM akan dipengaruhi oleh pola interkoneksi baru berbasis-biaya yang diumumkan kepada masyarakat pada bulan Februari 2006. Perubahan terhadap perjanjian interkoneksi dengan Indosat yang mencerminkan pola baru interkoneksi berbasis biaya terhitung sejak tanggal 1 Januari 2007.

• Layanan SLJJ dan SLI: Pada 11 Maret 2004, Menteri Perhubungan mengeluarkan Keputusan No. 28/2004, Keputusan No. 29/2004 dan Keputusan No. 30/2004 yang lebih lanjut melaksanakan kebijakan Pemerintah untuk mendorong persaingan di pasar layanan SLJJ dan SLI. berdasarkan Keputusan No. 28/2004, TELKOM, yang saat ini menggunakan “0” sebagai kode akses untuk layanan SLJJ-nya, pada 1 Maret 2005, diharuskan tidak lagi menggunakan kode akses “0” dan harus melaksanakan kode akses tiga angka dalam bentuk “01X” untuk akses ke layanan SLJJ-nya. Namun TELKOM, dalam batas tenggat-waktu yang diberikan, belum melaksanakan dan tidak berharap dalam waktu dekat akan melaksanakan kode akses tiga angka karena diperlukan instalasi yang kompleks atau upgrade terhadap peralatan. TELKOM menduga akan mengeluarkan biaya yang signifikan dalam hubungannya dengan persyaratan baru untuk menetapkan kode akses SLJJ tiga angka, termasuk pengeluaran yang diperlukan untuk memasang atau meng-upgrade fasilitas switching baru, membuat