Dia adalah murid Hui Sian Hwesio yang pernah bertemu dengan Thian Liong ketika Thian Liong berkunjung ke Siauw-lim-pai untuk menyerahkan kitab Sam-jong Cin-keng kepada Hui Sian Hwesio. Cia Song inilah yang dulu menangkap kemudian membunuh Hui-houw-ong Giam Ti yang dituduh sebagai pemerkosa Kwee Bi Hwa, puteri Kwee Bun To.
“Kami berdua sedang melakukan perjalanan dan tiba di sini ketika rombongan pasukan itu muncul dan mereka hendak ganggu kami, maka kami melawan dan dikeroyok,” kata Ai Yin. Gadis ini diam-diam kagum kepada Cia Song yang tampan dan gagah, dan yang telah menyelamatkan ia dan sucinya itu.
“Akan tetapi, kalian berdua jauh-jauh datang ke sini, ada urusan apakah, kalau aku boleh bertanya? Siapa tahu, aku dapat membantu kalian,” kata Cia Song dengan sikapnya yang lemah lembut dan ramah.
Kim Lan dan Ai Yin saling berpandangan dan mereka setuju untuk berterus terang kepada pemuda yang menarik hati dan menyenangkan itu. Siapa tahu dia dapat membantu dan menemukan orang yang mereka cari-cari.
“Cia-twako sesungguhnya aku sedang mencari seseorang dan su-moi ini ikut denganku. Susahnya, aku tidak tahu ke mana harus mencari seseorang itu,” kata Kim Lan.
“Hemm, siapakah orang yang kaucari itu, Lan-moi? Barangkali saja aku mengenalnya,” tanya Cia Song sambil lalu karena sesungguhnya dia tidak tertarik kepada orang yang dicari kedua orang gadis cantik ini. Akan tetapi jawaban Kim Lan sungguh tak disangka-sangka dan amat mengejutkan hatinya. “Cia-twako, engkau tentu tidak mengenalnya. Dia adalah seorang pemuda yang bernama Souw Thian Liong.”
“Souw Thian Liong...?” tanya Cia Song, tertarik sekali. “Apakah engkau mengenal dia, Cia-twako?” Tanya Ai Yin.
“Hemm, bukankah yang kalian maksudkan itu, Souw Thian Liong murid dari Tiong Lee Cin-jin?” “Benar sekali, twako!” seru Kim Lan girang. “Apakah engkau tahu di mana dia?”
Cia Song mengerutkan alisnya. Tentu saja dia tahu di mana Thian Liong berada! Di Siauw-lim-si dia sudah bergaul akrab dengan Thian Liong dan ia mendengar bahwa sebuah di antara kitab-kitab pelajaran ilmu silat, yaitu Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang merupakan kitab pusaka Kun-lun-pai, yang seharusnya oleh Thian Liong dikembalikan kepada Kun-lun-pai, telah dicuri seorang gadis berpakaian merah yang tidak diketahui siapa nama dan di mana tempat tinggalnya. Dia tahu pula bahwa setelah pergi dari Siauw-lim-si, Thian Liong tentu akan mencari gadis pencuri kitab itu sampai dapat ditemukan untuk merampas kembali kitab pusaka Kun-lun-pai.
Diam-diam tanpa diketahui Thian Liong, Cia Song membayangi pemuda itu karena timbul keinginannya untuk menguasai kitab pusaka Kun-lun-pai itu! Dia tahu bahwa Thian Liong berada di kota Kiang-cu, tak
jauh dari tempat itu dan Thian Liong dilihatnya telah menyewa sebuah kamar di rumah penginapan. Karena memang niatnya hendak mendahului Thian Liong menemukan gadis yang mencuri kitab pusaka Kun-lun-pai, maka selagi Thian Liong berada di kota itu, dia sengaja keluar kota untuk menyelidiki kalau-kalau gadis berpakaian merah itu berada di sekitar daerah itu dan kebetulan dia melihat Kim Lan dan Ai Yin yang dikeroyok perajurit Kin.
“Mungkin aku dapat membantu kalian mendapatkan Souw Thian Liong. Akan tetapi aku juga ingin sekali mengetahui, mengapa kalian mencari dia?”
“Suci Kim Lan yang mencarinya, twako. Dia adalah calon suami suci!” kata Ai Yin.
Cia Song terkejut dan memandang wajah Kim Lan yang berubah kemerahan. “Ah, jadi engkau telah bertunangan dengan Souw Thian Liong, Lan-moi? Sungguh tidak kusangka! Kalau begitu, kiong-hi (selamat)!” Cia Song memberi selamat dengan menjura. “Akan tetapi, kenapa sekarang engkau mencari dia sampai ke sini? Apakah dia pergi tanpa pamit dan ada urusan yang amat penting? Katakanlah terus terang karena aku adalah kenalan baiknya dan aku pasti akan dapat menemukan untukmu.”
Dengan muka masih kemerahan, Kim Lan berkata, “Sebetulnya, dia... memang melarikan diri dan aku ingin bertemu dengan dia untuk minta keputusannya apakah dia mau menjadi suamiku atau kalau tidak...” “Hemm, kalau tidak bagaimana?” kejar Cia Song yang menjadi semakin heran.
“Kalau tidak aku... aku harus membunuhnya!”
Cia Song terbelalak heran. “Bagaimana pula ini?” tanyanya dengan heran. “Apa yang terjadi, Lan-moi?” “Pendeknya, bagiku hanya ada dua pilihan. Dia mau menjadi suamiku atau kalau dia menolak, aku harus membunuhnya!” kata pula Kim Lan.
Cia Song mengerutkan alisnya, lalu dia mengangguk-angguk. “Hemm, begitukah? Jadi dia dan engkau... hemm, dia telah...”
“Tidak, tidak begitu, Cia-twako!” bantah Ai Yin yang tahu apa yang diduga pemuda itu. “Tidak pernah ada hubungan apapun antara Souw Thian Liong dan suci. Akan tetapi suci harus melakukan itu untuk memenuhi sumpahnya, sumpah kami.”
“Sumpah? Aku tidak mengerti...” kata Cia Song, semakin heran.
Kim Lan menghela napas panjang lalu berkata, “Begini, Cia-twako. Karena engkau bersikap baik kepada kami, biarlah kami anggap saudara sendiri dan engkau boleh mengetahui persoalannya. Kami, murid-murid subo, sudah disumpah oleh subo bahwa kami tidak boleh menikah dengan pria kecuali kalau ada pria yang mengalahkan kami dalam pertandingan dan kalau pria itu menolak, kami harus membunuhnya. Kebetulan Souw Thian Liong mengalahkan aku dalam pertandingan, akan tetapi dia menolak untuk menjadi suamiku, bahkan lalu melarikan diri. Karena itu aku harus mencarinya dan minta kepastian darinya.”
Cia Song mengangguk-angguk, diam-diam dalam hatinya dia tertawa mendengar tentang sumpah yang aneh itu. “Hemm, begitukah? Apakah semua murid wanita Kun-lun-pai harus bersumpah seperti itu?” “Tidak, twako,” kata Ai Yin. “Hanya subo Biauw In Su-thai yang mempunyai peraturan seperti itu dan kami sebagai murid-muridnya harus memenuhi sumpah kami.”
“Hemm, aku pernah mendengar bahwa Souw Thian Liong datang ke Kun-lun-pai untuk menyerahkan sebuah kitab pusaka. Benarkah begitu?” tanya Cia Song.
“Ah, engkau tahu juga akan hal itu, Cia-twako?” kata Kim Lan. “Memang benar, akan tetapi menurut pengakuannya, kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat itu telah dicuri orang.”
“Hemm, itu menurut pengakuannya, ya? Aku sudah curiga kepadanya, aku sudah menduga bahwa Souw Thian Liong sebetulnya bukan orang baik-baik. Kitab pusaka Kun-lun-pai itu tentu ingin dia kuasai sendiri dan dia berbohong mengatakan bahwa kitab itu dicuri orang agar mendapat kesempatan untuk mempelajarinya sendiri. Dan kalau dia memang seorang gagah, tentu dia menghormati sumpahmu, Lan-moi. Bukankah mengalahkanmu lalu meninggalkan pergi, membiarkan engkau kebingungan dengan sumpahmu. Dan sementara ini, apa kalian tahu apa yang sedang ia lakukan? Hemm, aku melihat dia berhubungan dengan seorang puteri bangsawan Nuchen.”
“Ya, aku melihatnya sendiri. Dia sekarang berada di kota Kiang-cu, tak jauh dari sini dan dia telah menyewa kamar di sebuah penginapan bersama puteri bangsawan Kerajaan Kin itu.”
“Tak tahu malu!” kata Ai Yin, hatinya ikut panas mendengar betapa pemuda yang telah mengalahkan sucinya dan menolak menikah dengan Kim Lan itu kini bergaul dengan seorang wanita Kin, bahkan bersama-sama menginap di sebuah rumah penginapan.
“Cia-twako, tolonglah tunjukkan tempatnya. Aku harus menemuinya untuk memenuhi sumpahku!” kata Kim Lan dengan muka berubah kemerahan karena hatinya juga mulai merasa panas.
Cia Song memang tidak berbohong. Dia melihat betapa Thian Liong berkenalan dengan Pek Hong Nio-cu. Biarpun dia sendiri tidak mengenal Pek Hong Nio-cu, akan tetapi dari pakaiannya dan dari keterangan orang di jalan yang dia tanyai, tahulah dia bahwa Pek Hong Nio-cu adalah seorang puteri bangsawan yang selain lihai silatnya, juga memiliki kekuasaan besar sehingga ditakuti dua orang pembesar di kota Leng-ciu itu. Diam-diam dia membayangi dan melihat Thian Liong bergaul akrab dengan Pek Hong Nio-cu. Diam-diam dia sendiri juga kagum kepada gadis cantik jelita yang lihai itu. Pula, kedatangannya di daerah yang diduduki Kerajaan Kin juga bukan semata-mata hendak membayangi Thian Liong dan kalau mungkin dapat menguasai kitab pusaka Kun-lun-pai yang katanya dicuri seorang gadis baju merah itu. Akan tetapi dia memiliki tugas pribadi yang teramat penting.
“Baiklah, aku akan mengantarkan kalian ke sana, akan tetapi kalian harus menaati petunjukku karena kalau tidak, keadaannya malah tidak menguntungkan, bahkan berbahaya sekali untuk kita semua. Ketahuilah, Souw Thian Liong seperti kalian sudah mengetahui, adalah seorang yang lihai sekali. Biarpun aku kiranya dapat dan mampu menandinginya, akan tetapi temannya itu, gadis bangsawan Kin itu, ia juga seorang yang lihai bukan main. Ia berjuluk Pek Hong Nio-cu dan memiliki ilmu kepandaian tinggi.”
“Kami tidak takut!” kata Kim Lan.
“Biar kami hajar sekalian gadis kerajaan musuh itu!” kata pula Ai Yin.
“Wah, kalian ini agaknya sudah lupa berada di mana!” kata Cia Song sambil tersenyum. “Kita berada di daerah yang dikuasai Kerajaan Kin, hal ini harus kalian ingat benar. Di mana-mana terdapat pasukan Kin. Kalau kita bentrok begitu saja melawan puteri bengsawan Kin itu, kemudian ia mendatangkan pasukan yang besar jumlahnya, celakalah kita!”
Dua orang gadis itu saling pandang dan baru menyadari kesalahan mereka. “Habis, lalu apa yang harus kita lakukan, twako?” tanya Kim Lan, bingung.
“Nah, karena itu kukatakan tadi bahwa kalian harus menaati petunjukku. Kalian jangan tergesa-gesa turun tangan. Nanti kita memasuki kota Kiang-cu, kita menyewa kamar rumah penginapan, lalu aku akan menemui Thian Liong yang sudah kukenal baik. Aku akan membujuk dia agar dia mau menerimamu sebagai isterinya sehingga engkau tidak akan melanggar sumpahmu, Lan-moi. Kalau dia dapat kubujuk, maka segalanya menjadi beres. Kalau dia menolak, aku akan mencoba memancingnya keluar kota dan di tempat sunyi, tanpa ditemani Pek Hong Nio-cu, kita dapat memaksa dan menyerang dia.”
“Kita?” Kim Lan bertanya.
“Ya, aku akan membantumu, Lan-moi. Kalau tidak, bagaimana kalian akan mampu mengalahkannya?” Diam-diam Kim Lan berterima kasih sekali kepada Cia Song dan Ai Yin menjadi semakin kagum kepadanya. Mereka bertiga lalu meninggalkan hutan itu dan menuju kota Kiang-cu yang jaraknya hanya belasan lie (mil) dari situ.
◄Y►
“Souw-sute (adik seperguruan Souw)…..!”
Mendengar seruan itu, Thian Liong yang bersama Pek Hong Nio-cu berjalan keluar dari rumah penginapan itu terkejut dan menengok.
“Eh, suheng (kakak seperguruan) Cia Song...!” Dia berseru heran sekali ketika mengenal Cia Song. Sejak dia diberi pelajaran ilmu silat dari kitab Sam-jong Cin-keng oleh Hui Sian Hwesio ketua Siauw-lim-pai, Thian Liong diakui sebagai murid Siauw-lim-pai dan karena itu Cia Song menyebutnya sute (adik seperguruan) dan dia menyebut suheng (kakak seperguruan) kepada Cia Song.
Cia Song melangkah cepat menghampiri Thian Liong yang berdiri di samping Pek Hong Nio-cu. Gadis inipun memandang dengan sinar mata penuh selidik kepada pemuda tampan gagah yang menegur Thian Liong sebagai sutenya.
“Aih, Souw-sute, senang sekali kejutan ini bagiku, bertemu denganmu di tempat ini!” kata Cia Song, kemudian seolah baru melihat Pek Hong Nio-cu yang berdiri di samping Thian Liong, dia menyambung ragu, “dan... maaf, kalau boleh aku mengetahui, siapakah nona yang terhormat ini?”
Melihat di ruangan depan rumah penginapan itu terdapat tamu-tamu yang mulai memperhatikan mereka, Thian Liong segera berkata, “Suheng, marilah kita bicara di dalam. Marilah Nio-cu.” Ajaknya kepada Pek Hong Nio-cu. Mereka bertiga lalu memasuki rumah penginapan dan tak lama kemudian mereka bertiga memasuki kamar Thian Liong dan duduk berhadapan terhalang meja.
“Cia-suheng, lebih dulu perkenalkan. Ini adalah Pek Hong Nio-cu, seorang pendekar wanita yang terkenal di daerah ini. Nio-cu, ini adalah suheng Cia Song, murid suhu Hui Sian Hwesio ketua Siauw-lim-pai.”
Dengan sikap lembut dan hormat Cia Song bangkit berdiri dan memberi hormat kepada gadis itu yang dibalas oleh Pek Hong Nio-cu dengan sikap anggun dan angkuh. Melihat sikap wanita itu, makin yakinlah hati Cia Song bahwa Pek Hong Nio-cu tentulah puteri seorang pembesar tinggi kedudukannya.
“Souw-sute, tidak kusangka akan dapat bertemu denganmu di sini. Engkau... eh, kalau boleh aku bertanya, engkau dan nona Pek Hong Nio-cu hendak pergi ke manakah?”
“Saudara Cia Song tidak usah sungkan, sebut saja aku Nio-cu,” kata gadis itu dengan sikap wajar. Kembali Cia Song mendapat kenyataan betapa dalam ucapannya itu gadis ini memiliki wibawa dan keanggunan yang amat kuat.
“Ah, terima kasih, Nio-cu,” katanya.
“Cia-suheng, tentu engkau masih ingat bahwa kitab pusaka milik Kun-lun-pai dicuri orang…….”
“Ah, pencuri wanita baju merah yang tidak kaukenal siapa namanya dan di mana tempat tinggalnya itu?” sambung Cia Song.
“Benar, suheng. Aku hanya ingat bahwa gerakan silatnya memiliki dasar ilmu silat Tibet. Karena itu, aku hendak mencari ke daerah barat dan kebetulan Pek Hong Nio-cu ini juga hendak melakukan perjalanan ke perbatasan Sin-kiang, maka kami melakukan perjalanan bersama. Dan engkau sendiri, hendak pergi ke manakah suheng?”
“Ah, aku... aku hanya hendak melihat-lihat keadaan di utara ini saja. Akan tetapi tiba-tiba aku mendapatkan suatu urusan yang teramat penting, yang menyangkut pribadimu. Aku….. hem, agaknya urusan ini hanya dapat kaudengarkan sendiri saja, sute...”
Mendengar ucapan ini, tiba-tiba Pek Hong Nio-cu bangkit berdiri dan berkata kepada Thian Liong, “Thian Liong, engkau bicarakanlah urusan pribadimu dengan saudara Cia Song. Aku hendak keluar sebentar. Nanti kita bertemu lagi!”
“Maafkan aku, Nio-cu,” kata Cia Song.
“Ah, tidak mengapa!” kata Pek Hong Nio-cu dan gadis ini segera melangkah keluar dari kamar itu.
Thian Liong mengerutkan alisnya, merasa tidak enak karena dia maklum bagaimana perasaan Pek Hong Nio-cu mendengar kata-kata Cia Song yang jelas hendak membicarakan sesuatu yang dirahasiakan bagi orang lain itu.
“Cia-suheng, sebetulnya ada apakah maka engkau bicara seperti ada rahasia besar?” tanya Thian Liong. “Tentu saja Nio-cu menjadi tidak enak dan pergi meninggalkan kita.”
“Maafkan aku, Souw-sute. Akan tetapi aku tidak mengada-ada. Memang ada hal yang harus kuberitahukan kepadamu seorang diri saja dan amat tidak enak kalau sampai terdengar orang lain, apa lagi oleh seorang gadis seperti Nio-cu tadi.”
“Akan tetapi ada urusan apakah, suheng? Aku tidak merasa mempunyai urusan pribadi yang harus disembunyikan dari orang lain!” kata Thian Liong penasaran.
“Kim Lan dan Ai Yin?” Thian Liong mengingat-ingat. Tentu saja mudah baginya mengingat dua nama gadis itu yang membuatnya penasaran setengah mati. Kim Lan dan Ai Yin pernah mengeroyoknya, bahkan dibantu guru mereka, Biauw In Su-thai, dan hendak memaksanya untuk menikah dengan Kim Lan! Sumpah aneh dan gila itu!
“Maksudmu... dua orang murid wanita dari Biauw In Su-thai, tokoh Kun-lun-pai itu?”
“Hemm, ternyata engkau masih ingat dengan baik. Ya, mereka itu mencarimu dan ingin memaksamu menikah dengan Kim Lan dan kalau engkau tidak mau menjadi suaminya, mereka berdua hendak membunuhmu!”
“Hemm, sumpah gila itu? Aku sudah tahu, suheng, dan aku tidak perduli. Salah mereka sendiri kenapa mereka mau membuat sumpah gila itu? Aku tidak ingin menjadi suaminya Kim Lan atau suami siapapun juga. Biarkan saja mereka mengancam akan membunuhku. Bagaimanapun mereka berada jauh di Kun-lun-pai!”
Cia Song tersenyum. “Siapa bilang mereka berada jauh di Kun-lun-pai? Mereka berada dekat sekali, sute. Mereka berada di sini, di kota ini!”
Thian Liong terkejut. Berita ini benar-benar mengejutkan, tidak pernah disangkanya. “Di sini? Di mana mereka? Biar kutemui mereka dan akan kujelaskan, kusadarkan mereka bahwa sumpah mereka itu benar gila dan tidak ada artinya!”
“Sssttt, tenanglah, Souw-sute. Aku telah bertemu secara kebetulan dengan mereka. Mereka dikeroyok segerombolan penjahat dan aku kebetulan lewat dan membantu mereka. Mereka lalu menceritakan semuanya tentang urusan Kim Lan denganmu dan Kim Lan sudah mengambil keputusan nekad, yaitu mengajak engkau menikah dan kalau engkau tidak mau, ia dan Ai Yin akan mengeroyokmu dan membunuhmu!”
“Aku tidak takut, Cia-suheng. Engkau bantulah aku menyadarkan mereka dari sumpah gila itu. Kalau mereka hendak mengeroyokku, aku dapat mengatasi mereka.”
“Hemm, mudah saja kau bicara. Dan apa yang dapat kaulakukan kalau mereka membunuh diri?” Thian Ltong terbelalak, “Membunuh diri……?”
“Nah, ini agaknya yang kau tidak ketahui, Souw-sute. Kim Lan mengatakan kepadaku bahwa kalau engkau menolak. Ia dan Ai Yin akan mengeroyokmu. Kalau mereka kalah, mereka akan membunuh diri di depanmu, karena kalau tidak, mereka juga akan dibunuh oleh guru mereka.”
“Gila betul…..!!”
“Gila atau tidak, apa yang dapat kaulakukan kalau mereka membunuh diri? Berarti mereka mati karena engkau, sute. Sama saja dengan engkau yang membunuh mereka.”
“Wah-wah, cialat (celaka) kalau begitu!” Thian Liong bingung. “Lalu apa yang harus kulakukan, suheng?”