Dia bertanya kepada Panglima Kiat Kon yang juga menonton pertandingan itu dengan tertarik sekali. Tingkat kepandaian silat panglima ini juga sudah cukup tinggi, seimbang dibandingkan tingkat masing-masing anggauta Ngo-heng Kiam-tin itu, maka dia dapat mengikuti pertandingan itu dan menjadi amat kagum melihat betapa Cia Song dapat mempertahankan diri bahkan mengimbangi serangan gabungan yang dahsyat itu. Dia sendiri akan kalah dalam waktu pendek kalau harus menandingi pengeroyokan Ngo-heng Kiam-tin itu.
“Hebat, Pangeran. Ngo-heng Kiam-tin memang dahsyat sekali, akan tetapi kepandaian Cia-sicu juga luar biasa sehingga dia mampu mengimbangi pengeroyokan itu,” katanya sambil mengangguk angguk dengan hati kagum.
Pertandingan itu memang hebat bukan main. Semua serangan dari barisan pedang lima orang itu dapat dihindarkan dengan baik oleh Cia Song, biarpun serangan itu datang bergelombang dan bertubi-tubi. Akan tetapi serangan balasan dari Cia Song juga selalu dapat ditangkis. Kalau Cia Song hendak mengandalkan kelebihan tenaganya, diapun gagal karena yang menangkis pedangnya tentu sedikitnya dua orang, bahkan kadang tiga-empat pedang samurai sekaligus menyambut pedangnya sehingga kelebihan tenaganya diimbangi tenaga gabungan para pengeroyok. Sampai seratus jurus mereka bertanding dan belum tampak siapa yang akan keluar sebagai pemenang.
Cia Song merasa sudah cukup menguji jagoan itu dan dia merasa girang. Ternyata Ngo-heng Kiam-tin memang tangguh dan boleh diandalkan. Dibantu lima orang seperti ini, apalagi yang memimpin dua losin perajurit pilihan, dia akan merasa kuat menghadapi Pek Hong Nio-cu dan Souw Thian Liong. Maka dia ingin menyudahi ujian itu. Akan tetapi dasar dia memiliki watak yang sombong, walaupun disembunyikan di balik sikapnya yang halus dan sopan, maka dia tidak akan merasa puas kalau tidak lebih dulu mengalahkan mereka agar dia memperoleh kesan yang baik dan agar lima orang itu tunduk kepadanya sehingga dapat menjadi pembantu-pembantu yang taat kepadanya.
Diam-diam Cia Song mengerahkan tenaga saktinya dan mempergunakan ilmu pukulan jarak jauh bercampur kekuatan sihir yang dipelajarinya dari Ali Ahmed.
“Hyaaaattt... ahhhh!” Tangan kirinya mendorong ke depan dan tubuhnya berputar sehingga sasaran pukulan jarak jauh itu diarahkan kepada lima orang pengeroyok yang mengepungnya. Dari telapak tangan kirinya keluar asap hitam yang menyambar ke arah lima orang itu. Terdengar teriakan-teriakan kaget dan lima orang itu satu demi satu terhuyung ke belakang. Cia Song bergerak cepat sekali. Pedangnya menyambar-nyambar dan ketika dia melompat agak ke belakang menjauhi mereka, lima orang itu melihat betapa ujung baju mereka telah terbabat putus oleh sinar pedang Cia Song selagi mereka terhuyung tadi! Lima orang itu membungkuk sampai dalam dan Con Gu mewakili para rekanrrya berkata, “ilmu pedang Cia-sicu hebat bukan main! Kami mengaku kalah!”
Cia Song menyimpan kembali pedangnya dan berkata, “Ngo-heng Kiam-tin amat tangguh. Aku girang sekali mendapatkan pembantu seperti kalian berlima!”
Mendengar ini, Pangeran Hiu Kit Bong dan Panglima Kiat Kon bertepuk tangan.
“Kami girang sekali bahwa mereka berlima lulus ujian, Cia-sicu. Bagaimana pendapat sicu? Apakah ditemani mereka yang akan memimpin dua losin perajurit pilihan dianggap cukup kuat?”
“Lebih dari cukup, Pangeran. Dengan bantuan mereka dan dua losin perajurit pilihan, hamba yakin kami dapat menangkap Puteri Moguhai dan Souw Thian Liong.”
“Bagus! Duduklah kalian berenam!” kata Pangeran Hiu Kit Bong. “Akan tetapi kalau Puteri Moguhai jangan dibunuh, sebaliknya pemuda lihai yang menjadi temannya itu harus dibunuh karena dia membahayakan kita.”
“Tidak, Pangeran. Souw Thian Liong juga akan hamba tangkap karena dia harus memperhitungkan dosa-dosanya kepada Kun-lun-pai dan Siauw-lim-pai. Dia harus menerima hukumannya,” kata Cia Song.
“Hemm, apa sih yang dilakukannya? Ah, sudahlah, bukan urusan kami. Terserah kepadamu kalau engkau hendak menangkap pemuda itu, Cia-sicu. Yang terpenting bagi kami adalah menawan Puteri Moguhai untuk dijadikan sandera,” kata Pangeran Hiu Kit Bong.
Setelah mengadakan perundingan matang dan membuat persiapan, berangkatlah Cia Song bersama kelima Ngo-heng Kiam-tin, memimpin dua losin perajurit yang terlatih baik dan rata-rata pandai ilmu silat melakukan pengejaran kepada Puteri Moguhai dan Souw Thian Liong yang menuju ke barat. Mereka menunggang kuda-kuda pilihan sehingga dapat melakukan perjalanan cepat.
◄Y►
Souw Thian Liong mendapat kenyataan yang amat menyenangkan hatinya. Setelah melakukan perjalanan dengan Pek Hong Nio-cu selama hampir sebulan lamanya, dia mendapat kenyataan betapa amat menggembirakan perjalanan itu.
Pek Hong Nio-cu ternyata merupakan teman seperjalanan yang amat baik. Wataknya gembira, pandai bicara dan di mana saja pendekar wanita yang sesungguhnya puteri raja ini memperlihatkan watak aselinya yang mengagumkan. Ia ramah terhadap rakyat jelata, murah hati dan siap menolong rakyat yang hidup sengsara. Ringan tangan menghajar orang orang yang mengandalkan kekerasan dan kekuasaan untuk menindas rakyat. Terutama sekali ia amat keras terhadap para pembesar kecil yang bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat. Dan di mana saja, para pembesar itu selalu mati kutu dan ketakutan setelah memperlihatkan pedang bengkok dari emas yang menjadi lambang kekuasaan Kaisar kerajaan Kin. Puteri raja ini selain cantik jelita dan menarik hati, juga gagah perkasa dan memiliki watak yang budiman.
Di lain pihak, diam-diam Pek Hong Nio-cu juga kagum bukan main kepada Thian Liong. Pemuda itu selalu sopan dan penuh perhatian. Tidak pernah sedikitpun mernperlihatkan watak mata keranjang, tidak pernah mencoba untuk merayunya seperti yang banyak ditemui pada diri para pria kalau bertemu dengannya. Sungguh seorang pemuda yang hebat, berjiwa pendekar dan juga pandai bicara dan suka berkelakar dengan sopan.
Seperti kita ketahui, ketika mereka berdua tiba di kota Kiang-cu dan bermalam di sebuah rumah penginapan, Cia Song menemui Thian Liong dan membujuk agar Thian Liong segera meninggalkan kota itu karena Kim Lan dan Ai Yin mencarinya untuk memaksa Thian Liong menikahi Kim Lan atau kalau tidak mau, dua orang gadis itu hendak membunuhnya.
Setelah Cia Song pergi, Pek Hong Nio-cu mendengar dari Thian Liong tentang gadis murid Kun-lun-pai yang hendak memaksa dia mengawini dengan alasan bahwa gadis itu sudah bersumpah akan berjodoh dengan pria yang dapat mengalahkannya. Kalau dia tidak mau, Thian Liong akan dibunuhnya! Mendengar ini, Pek Hong Nio-cu marah sekali.
Malam itu, tanpa setahu Thian Liong, Pek Hong Nio-cu pergi mengunjungi rumah penginapan di mana Kim Lan dan Ai Yin bermalam. Ia melemparkan surat celaannya yang disambitkan ke atas meja dengan sebuah pisau lalu meninggalkan atap rumah penginapan itu karena ia melihat bayangan orang. Dan pada keesokan harinya, Thian Liong mengajaknya segera pergi meninggalkan kota Kiang-cu.
Pemuda ini ingin menghindarkan diri dari kejaran dua orang gadis Kun-lun-pai itu. Pek Hong Nio-cu juga tidak pernah bicara tentang dua orang gadis itu juga tidak pernah menceritakan tentang perbuatannya mengirim surat teguran yang isinya rnencela murid wanita Kun-lun-pai sebagai wanita yang tidak tahu malu hendak memaksa seorang pria menjadi suaminya!
Matahari telah naik tinggi dan udara lumayan panasnya. Mereka berdua menjalankan kuda mereka perlahan-lahan, menyusuri sepanjang tepi Sungai Han, yaitu sungai yang menjadi cabang Sungai Yang-ce yang besar. Pemandangan alamnya di lembah sungai itu amat indah. Daerah ini termasuk daerah yang kecil jumlah penduduknya sehingga tempat yang mereka lalui itu sunyi. Thian Liong menjalankan kudanya di sebelah kiri kuda yang ditunggangi Pek Hong Nio-cu. Dua ekor kuda itu berjalan seenaknya karena dua orang penunggangnya tidak ingin memaksa binatang yang juga sudah tampak kelelahan itu. Thian Liong melamun.
Dia melamun tentang keadaan dirinya. Sungguh tak pernah disangkanya sama sekali bahwa dia akan melakukan perjalanan berdua saja dengan puteri Raja Kin! Dan perjalanan bersama itu sudah dilakukan selama kurang lebih satu bulan! Sungguh amat mengherankan dan tentu banyak yang tidak percaya kalau dia bercerita kepada orang lain. Dia disambut oleh pejabat-pejabat pemerintah Kin di sepanjang jalan dengan sikap hormat sekali karena dia diperkenalkan oleh Puteri Moguhai atau Pek Hong Nio-cu sebagai sahabatnya. Dan puteri itu begitu manis, begitu ramah dan akrab dengan dia. Akan tetapi yang menunggang kuda di sisinya ini adalah seorang puteri bangsawan tinggi, Puteri Raja Kin sedangkan dia apa? Seorang pemuda yatim piatu yang bodoh dan miskin, rumahpun tidak punya! Akan tetapi Thian Liong tidak merasa rendah diri. Mengapa rendah diri?
Dia tidak mempunyai pamrih apapun dalam persahabatannya dengan Pek Hong Nio-cu. Memang harus dia akui bahwa dia amat tertarik, kagum dan suka sekali kepada gadis bangsawan ini. Sungguh jauh bedanya gadis ini dibandingkan gadis-gadis yang pernah dia jumpai. Berpikir sampai di sini, terbayang olehnya wajah seorang gadis yang manis. Wajahnya bulat telur, rambutnya hitam panjang dengan anak rambut melingkar di dahi dan pelipis. Dahinya halus dan putih sekali, dengan alis hitam kecil panjang dan tebal, matanya seperti sepasang bintang, bersinar tajam dan penuh gairah hidup, hidungnya mancung dan mulutnya amat menggairahkan, dengan bibir merah basah dan lesung pipit menghias kanan kiri mulut itu. Dagunya runcing dan kulitnya putih mulus. Tubuhnya padat ranum dengan pinggang ramping.
Gadis yang lincah dan liar, galak penuh semangat, berpakaian merah muda. Gadis yang telah mencuri kitab Ngo-heng Lian-hoan Kun hoat dari buntalan pakaiannya, kitab yang seharusnya dia serahkan kepada para ketua Kun-lun-pai seperti yang dipesan gurunya. Gadis cantik jelita dan juga gagah perkasa. Akan tetapi sayang, ia mencuri kitab, dan lebih sayang lagi, dia tidak tahu siapa nama gadis itu dan di mana tempat tinggalnya. Perjalanannya ke barat inipun untuk mencari gadis pencuri itu. Dia hanya menduga bahwa gadis itu tentu berada di daerah barat mengingat bahwa ilmu silatnya seperti ilmu silat aliran Tibet.
Kalau dibuat perbandingan antara gadis baju merah itu dengan Pek Hon g Nio-cu, alangkah jauh bedanya. Memang mereka berdua sama sama cantik menarik, sama-sama gagah perkasa, bahkan sama-sama lincah, agak liar dan galak bersemangat. Akan tetapi gadis baju merah yang liar itu adalah seorang gadis kang-ouw tulen dan seorang pencuri, sebaliknya Pek Hong Nio-cu adalah seorang puteri raja yang baik hati. Akan tetapi aneh, dia sukar dapat melupakan gadis baju merah itu dan kalau teringat padanya, jantungnya berdebar dan wajahnya berseri. Padahal, dia berjanji kalau dapat menemukan gadis baju merah itu, akan direbahkan gadis itu menelungkup di atas kedua pahanya lalu akan ditamparnya pinggul gadis itu seputuh kali seperti orang mengajar anaknya yang nakal!
Kemudian, bayangan wajah gadis baju merah yang mencuri kitab milik Kun-lun pai itu terganti wajah seorang gadis lain. Wajah yang setelah kini terbayang olehnya, makin tampak betapa wajah itu tidak ada bedanya dengan wajah Pek Hong Nio-cu! Dia mencoba untuk mencari perbedaan antara dua wajah itu. Namun, seingatnya, tidak ada bedanya sama sekali! Wajah Thio Siang In yang berjuluk Ang-hwa Sian-li, gadis yang suka memakai pakaian serba hijau itu.
Ada bunga mawar merah di rambutnya. Cantik jelita dan cerdik sekali. Juga amat lihai ilmu silatnya. Hebatnya, seingatnya Thio Siang In juga mempunyai setitik tahi lalat di dekat mulutnya, di ujung bibir, sama dengan Puteri Moguhai! Kedua wajah itu serupa benar. Kalau ada perbedaan yang sangat mencolok adalah warna dan bentuk pakaian mereka. Pek Hong Nio-cu berpakaian serba putih dan Ang-hwa Sian-li berpakalan serba hijau. Akan tetapi, walaupun tidak sampai mencuri seperti yang dilakukan gadis baju merah, Thio Siang In itupun seorang gadis yang ugal-ugalan. Hendak meminjam kitab Sam-jong-cin-keng milik Siauw-lim-pai dengan paksa! Ketika dia tidak mau menyerahkan kitab itu, Ang-hwa Sian-li Thio Siang In marah dan mengajak bertanding! Sayang sekali, padahal gadis itu gagah perkasa dan tadinya sudah menjadi teman akrab dengannya. Seperti juga bayangan gadis baju merah, bayangan Ang-hwa Sian-li ini selalu muncul dalam ingatannya.
Kemudian teringat dia akan wajah Kim Lan, murid Kun-lun-pai itu, bersama su-moinya (adik seperguruannya) yang bernama Ai Yin. Mereka juga gadis-gadis manis, cantik menarik, gagah perkasa dan sebagai murid-murid Kun-lun-pai, tentu saja kepandaian mereka tinggi dan watak mereka seperti pendekar. Akan tetapi sayang, terutama sekali Kim Lan, gadis cantik itu diikat sumpah yang aneh sehingga ketika kalah bertanding melawannya, kini mengejarnya untuk memaksa dia mengawininya dan kalau dia menolak, dia akan dibunuhnya!
Thian Liong menghela napas panjang. Aneh-aneh saja pengalamannya dengan gadis-gadis itu! Dan biarpun mereka, yang tiga orang itu, gadis baju merah, Ang-hwa Sian-li, dan Kim Lan tidak dapat disamakan dengan Pek Hong Nio-cu yang anggun, bangsawan tinggi dan tidak ada kesalahan kepadanya, namun tetap saja ada rasa suka pula dalam hatinya terhadap mereka. Dan wajah mereka selalu bermunculan dalam kenangannya.
“Souw Thian Liong, kenapa engkau menghela napas panjang setelah sejak tadi melamun seorang diri?” tiba-tiba suara Pek Hong Nio-cu menyadarkan dan seolah menyeret dia kembali ke alam sadar.
“Eh? Apa maksud paduka, Puteri?” tanya Thian Liong gagap, seperti orang baru bangun tidur.
“Hushh! Berapa kali aku memperingatkan agar engkau jangan menyebut aku paduka dan puteri, kecuali kalau berhadapan dengan para pembesar dan dalam suasana resmi!” tegur Pek Hong Nio-cu dengan alis berkerut. “Dalam percakapan pribadi, aku ini bukan lain adalah Pek Hong Nio-cu, seorang sahabat yang sederajat denganmu.”
“Ah, maafkan, Nio-cu. Aku memang pelupa, akan tetapi apa yang kau maksudkan dengan pertanyaanmu tadi?”
“Hemm, bagaimana sih pertanyaanku tadi, Thian Liong?”
Thian Liong menggeleng kepalanya. “Aku tidak tahu, tidak ingat lagi.”
“Nah, itu tandanya bahwa engkau tenggelam ke dalam lamunanmu,” kata Pek Hong Nio-cu sambil menahan dan menghentikan kudanya. Melihat ini, Thian Liong juga menghentikan kudanya. “Thian Liong, sejak tadi aku melihat engkau melamun dengan pandang mata kosong, kadang tersenyum-senyum dan kemudian engkau menghela napas panjang. Nah, tadi aku bertanya mengapa engkau melamun terus dan menghela napas panjang?”
Ah, itukah yang kautanyakan? Nio-cu, marilah kita mengaso dan berteduh di bawah pohon itu,” kata Thian Liong.
“Baiklah, memang sinar matahari panas bukan main dan kuda kita juga sudah lelah,” kata Pek Hong Nio-cu. Mereka menuju ke sebuah pohon besar yang tumbuh di tepi Sungai Han, turun dari kuda dan menambatkan kuda di batang pohon kecil tak jauh dari situ. “Kota Yun-sian berada tidak jauh lagi di depan. Sebelum sore kita sudah dapat memasuki kota itu.”
“Nio-cu, agaknya engkau mengenal betul daerah ini,” kata Thian Liong.
“Tentu saja, sudah beberapa kali aku mengunjungi Paman Kuang yang memimpin pasukan menjaga perbatasan. Tapi, engkau belum menjawab pertanyaan tadi, Thian Liong.”
Pemuda itu duduk di atas batu di bawah pohon yang teduh itu dan Pek Hong Nio-cu juga duduk di atas batu di depannya. Pemandangan di situ amat indah. Di dekat mereka, hanya empat meter jauhnya, tampak Sungai Han mengalirkan airnya yang masih jernih dengan tenang.
Di tepi sungai, kanan kiri, tumbuh subur segala macam pohon dan semak. Sebuah perahu terapung di tepi sungai tak jauh dari tempat mereka duduk. Seorang pengail duduk di atas perahu itu, duduk seperti patung, memegangi tangkai pancingnya, bahkan menengokpun tidak ketika Thian Liong dan Pek Hong Nio-cu berhenti di bawah pohon. Dia tenggelam ke dalam keasyikan memancing ikan.
Pengail itu memakai caping lebar akan tetapi sedikit bagian mukanya kelihatan dan ternyata dia adalah seorang laki laki yang sudah tua. Thian Liong, dan Pek Hong Nio-cu tidak memperdulikan kakek itu yang dari bentuk capingnya dapat diduga bahwa dia tentu seorang bersuku bangsa Hui.
“Aku harus menjawab bagaimana, Pek Hong Nio-cu? Aku tadi memang sedang melamun. Panasnya sinar matahari dan kuda kita yang berjalan perlahan membu¬at aku mengantuk lalu melamun.”
“Hemm, melamun sambil cengar-¬cengir, tersenyum dan menghela napas. Apa saja sih yang kaulamunkan?”
Tentu saja Thian Liong merasa malu untuk menceritakan bahwa tadi dia me¬lamun, membayangkan gadis-gadis yang pernah berurusan dengannya! “Ah, aku melamun tentang masa laluku sampai sa¬at ini.”
“Kenapa senyum-senyum dan menghe¬la napas segala? Seperti orang bergembi¬ra kemudian bersedih!” desak puteri itu.
“Aku bergembira ketika teringat ke¬tika aku masih kanak-kanak lalu bersedih kalau mengingat keadaanku sekarang, mengejar pencuri kitab yang tidak kuke¬tahui namanya dan kuketahui tempat tinggalnya. Kitab itu harus kudapatkan kembali untuk kuserahkan kepada yang berhak di Kun-lun-pai, kalau tidak berar¬ti aku gagal melaksanakan perintah su¬hu.”
Pek Hong Nio-cu menatap wajah pe¬muda itu penuh perhatian. Agaknya hati¬nya tertarik sekali. “Souw Thian Liong, maukah engkau menceritakan rlwayatmu ketika engkau masih kecil, tentang orang tuamu, tentang gurumu? Aku sudah la¬ma mendengar tentang Tiong Lee Cin¬-jin yang sangat terkenal sebagai seorang yang sakti berilmu tinggi, juga yang di¬kenal sebagai Tabib Dewa, suka meno¬long siapa saja tanpa pilih bulu. Bahkan semua keluarga ayahku di istana menge¬nal nama itu dan merasa kagum.”
“Tidak ada apa-apa yang menarik tentang diriku, Nio-cu. Aku seorang anak desa yang tlnggal di sebuah dusun kecil di lereng Mao-mao-san. Ketika berusia lima tahun, ayah ibuku meninggal dunia karena wabah penyakit perut yang me¬ngamuk di dusun kami.”
“Aduh, kasihan sekali engkau, Thian Liong. Dalam usia lima tahun sudah piatu, ditinggal mati ayah ibu,” kata Pek Hong Nio-cu sambil memandang wa¬jah Thian Liong dengan iba.
“Aku hidup berdua dengan nenekku dan setelah berusia sepuluh tahun aku bekerja kepada Lurah Coa di dusun ka¬mi. Pekerjaanku menggembala kerbau.”
Pek Hong Nio-cu tersenyum lebar. “Ah, aku teringat akan dongeng Ibuku. Ketika aku masih kecil ibu mendongeng tentang seorang pemuda penggembala kerbau yang dengan tiupan sulingnya me¬narik perhatian seorang bidadari sehing¬ga bidadari turun dari langit kemudian menjadi isteri si penggembala kerbau.”