• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.5 Pendekatan Antropologi Sastra

Antropologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu antrophos yang berarti manusia sedangkan logos ilmu, maka antropologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan manusia yang mencakup beberapa aspek dalam kehidupan. Sastra adalah suatu karya yang diciptakan manusia dalam bentuk tulisan, karya sastra itu bersifat imajinatif. Sebagai salah satu ilmu “social humaniora” Antropologi sastra jelas membahas tentang permasalahan manusia dalam kehidupan bermasyarakat dalam aspek-aspek kebudayaan.

13

Ucok Haleluya Sidebang, S.sn dalam tulisan skripsi ( Ahoi Mengirik Padi Pada Masyarakat Melayu Daerah Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara : Suatu kajian Tekstual dan Musikal, hal 29)

Mengkaji tentang manusia berarti mengamati dan mempelajari manusia dari semua bentuk segi kehidupan tak terkecuali cara berpikir manusia. Jati diri yang menonjol pada diri manusia akan mencerminkan prilaku dan watak manusia. Manusia yang kognitif akan menciptakan kemudahan bagi diri sendiri dan orang lain bukan sebaliknya.14

Antropologi sastra adalah analisis interdisiplin terhadap karya sastra di dalamnya terkandung unsur-unsur Antroplogi. Dalam hubungan ini menjelaskan bahwa karya sastra menduduki posisi yang lebih berpengaruh, sebaliknya antropologi itu sendiri sebagai pelengkap. 15

Penggunaan teori Antropologi sastra sebagai metode pembahasan objek tidak terlepas dari adanya dukungan unsur-unsur lain dari teori, metode, teknik, dan berbagai peralatan, termasuk objek. Maka jelas, Antropologi Sastra adalah Ilmu yang mempelajari tentang karya sastra yang berhubungan dengan manusia dan dengan melihat pembagian antropologi menjadi dua macam, yaitu antropologi fisik dan antropologi nonfisik. Antropologi fisik merupakan ilmu yang mempelajari manusia sebagai badan, seperti dilakukan dalam bidang ilmu kedokteran. Sebaliknya, antropologi nonfisik memahami manusia sebagai badan halus, manusia secara rohaniah, termasuk masalah-masalah yang berkaitan dengan emosional dan intelektual. Namun seiring perkembangan sesudah tahun 1920-an antropologi non fisik inilah yang disebut sebagai antropologi budaya (kultural).16

Maka antropologi sastra dibicarakan dalam kaitannya dengan antropologi kultural (kebudayaan), dengan karya-karya yang dihasilkan oleh manusia, seperti: bahasa, religi, mitos,sejarah, hukum, adat-istiadat, karya sastra, dan karya seni. Dalam hubungannya dengan

14

Prof. Wan Syaifuddin dalam Skripsi Rendy Novrizal, S.s ( Jati Diri Masyarakat Melayu Serdang Dalam Tradisi Bela Diri Silat Lintau Di Kedatukan Batang Kuis ; Kajian Antropologi Sastra 2014, hal.9)

15

Nyoman Kutha Ratna, Antropologi sastra:peranan unsur-unsur kebudayaan dalam proses kreatif, 2012 : 52)

16

Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna, S.U. ANTROPOLOGI SASTRA:peranan unsur-unsur kebudayaan dalam proses kreatif, 2011, hal.53)

tiga macam bentuk kebudayan yang dihasilkan oleh manusia,yaitu: ide, kegiatan ataupun aktivitas, dan pencapaian, atas dasar pemikiran bahwa sistem kebudayaan suatu suku tersimpan didalam peninggalan manusia, maka, antropologi sastra merupakan metode yang sangat penting untuk mengetahui jati diri budaya pada suatu kelompok masyarakat.

Lahirnya model pendekatan antropologi sastra dikarenakan oleh ilmu antropologi dengan ilmu sastra sama-sama mempermasalahkan relevansi manusia dengan kebudayaannya, Aspek itulah yang menghubungkan batas-batas penelitian di antara antopologi dan sastra.

Menurut syaifuddin (2015:156) penelitian antropologi sastra adalah celah baru penelitian sastra. Penelitian yang mencoba menggabungkan dua disiplin ilmu , masih jarang diminati. Sesungguhnya banyak hal yang menarik dan dapat digali dari teori ini.

Maksudnya, peneliti sastra dapat mengungkap berbagai hal yang berhuhungan dengan kiasan-kiasan antropologis. Peneliti juga dapat lebih leluasa memadukan kedua bidang itu secara interdisipliner, karena baik sastra maupun antropologi sama-sama berbicara tentang manusia.17

Studi antropologi mulai berkembang awal abad ke-20 pada saat negara-negara kolonial, khususnya Inggris menaruh perhatian terhadap bangsa non-Eropah dalam rangka mengetahui sifat bangsa-bangsa yang dijajah. Dalam hal ini antropologi sastra ada kaitannya dengan studi orientalis. Atas dasar pertimbangan bahwa sistem kultural suatu bangsa tersimpan di dalam bahasa, maka jelas karya sastra merupakan sumber yang sangat penting.

Dalam ruang lingkup regional dan nasional jelas antropologi sastra perlu dibina dan dikembangkan. Polemik Kebudayaan tahun 1930-an yang dipicu oleh pikiran-pikiran Sutan

17

Syaifuddin Hj. Wan Mahzirn. 2005. Mantera dan Upacara Ritual Masyarakat Melayu Pesisir di Sumatera Utara: Kajian Tentang Fungsi dan Nilai-Nilai Budaya.

Takdir Alisyahbana tidak semata-mata heronentasi ke Barat, sebagaimana ditanggapi oleh kritikus dan budayawan yang lain. Sebaliknya, Polemik Kebudayaan bermaksud untuk menemukan pola-pola kebudayaan nasional, dasar-dasar berpikir yang dapat digunakan untuk mengembangkan model-model kesenian berikutnya, khususnya kesusastraan. Dengan memanfaatkan bahasa Indonesia yang secara definitif sudah mulai digunakan sejak Kebangkitan Nasional (1908), yang kemudian disahkan dalam Sumpah Pemuda (1928), karya sastra Indonesia modern diharapkan mampu menjadi wadah bagi aspirasi bangsa, baik intelektual maupun emosional. Sastra Indonesia modern yang pada dasarnya merupakan kelanjutan sastra Melayu, bersama-sama dengan sastra daerah lainnya diharapkan mampu untuk memberikan keseimbangan antara perkembangan teknologi dan perkembangan spritual. Meskipun karya sastra tersebut merupakan hasil imajinasi, tetapi perlu diketahui bahwa justru di dalam imajinasi itulah nilai-nilai antropologis ‘dipermain-mainkan’, di situlah lokus penelitian antropologi sastra (Ratna, 2004:352).18

Banyak hal dalam karya sastra yang memuat aspek-aspek etnografi kehidupan manusia dan sebaliknya tidak sedikit karya etnografi yang memuat kiasan-kiasan sastra. Jadi, penelitian sastra dapat menitik beratkan pada dua hal, yaitu Pertama, meneliti tulisan-tulisan etnografi yang berbau sastra untuk melihat estetikanya. Kedua, meneliti karya sastra dan sisi pandang etnografi, yaitu untuk melihat aspek-aspek budaya masyarakat.

Menurut Kleden (2004:356), refleksi kebudayaan harus selalu diadakan karena kebudayaan hanya dapat dikembangkan karena direfleksikan. Tanpa refleksi, bukan tidak rnungkin bahwa suatu masyarakat akan hanyut dalam semacam determinisme kebudayaan. Dalam pandangan kebudayaan yang deterministis kebudayaan dipandang hanya sebagai norma dan nilai yang tidak boleh digugat, dan bukannya juga produk- produk bersama yang

18

Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra : dan Strukiuralisme hingga Postrukturalisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

telah dihasilkan dan diciptakan, dan karena itu dapat selalu berubah dan diubah jika tidak sesuai lagi dengan keperluan pada saat ini. Sesuai kedudukannya sebagai kata benda kebudayaan harus kita hadapi dan kita terima, tetapi dalam kedudukannya sebagai kata kerja kebudayaan harus digarap dan diolah kembali. Salah satu unsur kebudayaan adalah sistem kepercayaan yang merupakan serangkaian pengetahuan manusia mengenai kosmologi, seperti makhluk halus, mitos, serta dunia nyata yang kompleks (Wallace, 1966:70).

Hoed (2007:122) menjelaskan bahwa setiap lapisan kebudayaan mengandung prinsip- prinsip supra individual dengan warga masyarakatnya yang masing-masing mempunyai benih otonomi individual. Benih-benih itu menjadi kuat dan mulai meninggalkan sebagian prinsip- prinsip supra individual dalam kebudayaan internasional atau global untuk membentuk kebudayaan baru.

Salah satu faktor yang mendorong perkembangan antropologi sastra adalah hakikat manusia sebagai animal symbolicum, yang menolak hakikat manusia sebagai animal rationale. Cassirer (1990:65) menyatakan bahwa sistem simbol mendahului

sistem berpikir, sebab pada dasarnya pikiran pun dinyatakan melalui simbol. Menurut teori ini, karakteristik yang menandai semua kegiatan manusia adalah proses simbolisme.

Sebagaimana dikatakan oleh Eliade (2002:12) bahwa pemikiran simbolik merupakan salah satu bagian mutlak manusia. Pemikiran simbolik adalab awal dan bahasa dan pemikiran deskriptif.

Dalam teori kontemporer, dominasi pikiran pun mesti didekonstruksi sehingga sistem simbol, termasuk simbol suku primitif dapat dimanfaatkan dan diartikan. Di satu pihak, simbol tidak seragam, ciri-ciri yang memungkinkan sistem komunikasi dapat berkembang secara tak terbatas.

Di pihak lain, sesuai dengan pendapat Bloch, manusia adalah entitas historis, keberadaannya ditentukan oleh sejumlah faktor yang saling mempengaruhi, yaitu : a) hubungan manusia dengan alam sekitar, b) hubungan manusia dengan manusia yang lain, c) hubungan manusia dengan struktur dan institusi sosial, d) hubungan manusia dengan kebudayaan pada ruang dan waktu tertentu, dan f) manusia dan kesadaran religius atau para- religius (Ratna, 2004:351).19

Menurut Forde (Minsarwati, 2002:48), hubungan antara aktivitas manusia dengan alam dijembatani oleh pola-pola kebudayaan. Melalui kebudayaan ini manusia menyesuaikan diri dan memanfaatkan lingkungan demi kelangsungan hidupnya. Dalarn hal ini kebudayaan ditempatkan sebagai sistem aturan-aturan atau pola-pola untuk perilaku dan berupa pola kompleks nilai yang bersumber dari etika dan pandangan.

Pada umumnya penelitian antropologi sastra, menurut Bernard (Endraswara, 2008:109) lebih bersumber pada tiga hal, yaitu (a) manusia (b) artikel tentang (c) bibliografi dan ketiga sumber data ini sering dijadikan awal seorang peneliti sastra untuk mengungkap makna di balik karya sastra. Ketiga sumber data tersebut dipandang sebagai documentation resources. Hal ini memang patut dipahami karena karya sastra sebenarnya juga merupakan sumber informasi.20

Selanjutnya, antropologi sastra ini termasuk juga ke dalam pendekatan arketaipal, yaitu kajian karya sastra yang menekankan pada warisan budaya masa lalu. Warisan budaya tersebut dapat tercermin dalam karya-karya sastra klasik dan modern. Hal tersebut berhubungan dengan unsur-unsur mitos, legenda, dongeng, fantasi, dan sejarah dalam karya sastra. Satu lagi yang menjadi ilmu pendekatan ini ialah penelitian terhadap konsep kesadaran

19

Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra : dan Strukiuralisme hingga Postrukturalisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

20

Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra Epistemologi, Model, Leon, dan Aplikasi. Yogyakarta: Media Pressindo.

kolektif dan primordial images yang terungkap dalam karya sastra. Dalam pengaplikasiannya seseorang dituntut dan budaya masyarakat.

Scott (Sikana, 2008:137), dalam buku teori klasiknya Five Approaches of Lzteraiy criticism menjelaskan arketaipal menjurus kepada pencarian simbol, ritual, dan unsurunsur tradisi dalam karya sastra. Arketaipal lebih bertumpu kepada analisis yang bersifat mengkaji manusia dengan tindak-tanduknya daripada mengkaji unsur estetik dan intrinsik karya. Oleh karena itu pendekatan ini berhubungan dengan psikologi manusia, sebab manusia dalam setiap zaman tidak terlepas dan tindakan-tindakan yang berbentuk budaya dan kesenian.

Jung (1875-1961) kelahiran Swiss adalah pelopor teori arketaipal. Jung juga merupakan psikiater. Teori ini merupakan lanjutan falsafah psikologis Jung. Lebih lanjut, Jung (Sikana, 2008:138) mengemukakan bahwa dalam diri manusia, terutama pengarang, memiliki suatu indera dan intuisi. Tanpa sadar, penceritaan terhadap sesuatu akan dilakukan secara turun-temurun. Jung juga menyebutkan bahwa manusia mempunyai persamaan pengalaman dan asas serta tidak berubah-ubah. Di samping itu, terdapat juga penyimpangan gaya hidup terhadap norma-norma yang berlaku dalam masyarakatnya.

Sangat beralasan jika Sikana mengemukakan bahwa pendekatan ini dapat diterapkan pada karya-karya yang kaya dengan unsur-unsur mitos. Hal itu sejalan dengan pendapat Frye, yang menegaskan bahwa karya yang paling banyak dapat dihubungkan dengan mitologisme dan arkaisme ialah yang bercorak keagamaan, yaitu segala bentuk kepercayaan tradisi, seperti animisme, toternisme, berhala, dan agama Kristiani sendiri. Menurutnya, setiap kepercayaan itu kaya dengan unsur-unsur mitos, lahirnya kepercayaan itu sendiri dibina oleh mitos-mitos (Sikana, 2008:134). Mitos ini pula dalam interpretasi yang luas dapat dikaitkan

dengan teori psikologi Jung. Dengan demikian, antropologi sastra dapat mengkajinya dalam bentuk paparan etnografi.21

21

BAB III

METODE PENELITIAN

Dokumen terkait