• Tidak ada hasil yang ditemukan

E. Beberapa Pendekatan Matematika

5. Pendekatan Berbasis Masalah (PBM) a Teori Konstruktivisme

Model problem based learning (PBL) merupakan salah satu bentuk model yang dikembangkan dari teori belajar konstruktivisme Piaget dan Vygotsky. Dasar teori ini adalah anggapan bahwa pengetahuan merupakan hasil konstruksi manusia. Manusia mengonstruksi pengetahuannya melalui

interaksi mereka dengan objek, fenomena, pengalaman, dan lingkungan mereka. Pendapat ini sesuai dengan Von Glasersfeld (Surianto, 2009) yang mengemukakan bahwa pengetahuan itu dibentuk oleh struktur konsepsi seseorang sewaktu berinteraksi dengan lingkungannya. Struktur konsepsi tersebut membentuk pengetahuan bila digunakan dalam menghadapi berbagai pengalaman atau menghadapi persoalan-persoalan yang berkaitan dengan konsepsi tersebut.

Prinsip-prinsip teori konstruktivisme (Surianto, 2009) adalah sebagai berikut:

1. Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri

2. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar

3. Murid aktif megkontruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah

4. Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancar.

5. Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa

6. Struktur pembalajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan

7. Mmencari dan menilai pendapat siswa

8. Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa.

Dari semua itu hanya ada satu prinsip yang paling penting adalah guru tidak boleh hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa, istilahnya hanya memberikan materi yang perlu di sampaikan saja sedangka proses untuk membentuk pemahaman diabaikan. siswa harus membangun pengetahuan didalam benaknya sendiri. Seorang guru dapat membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan dengan

mengajak siswa agar menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberikan masalah kepada siswa yang mana masalah itu nantinya dimaksudkan dapat membantu mereka melakukan penemuan.

Pembentukan pengetahuan menurut Piaget (Surianto, 2009) dapat melalui dua proses yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi terjadi apabila informasi baru sesuai dengan pengetahuan awal yang telah ada dalam pikiran siswa,sedangkan akomodasi berlangsung apabila tidak seimbangnya antara informasi dengan struktur yang dimiliki siswa, sehingga siswa memerlukan perlakuan khusus agar tejadi keseimbangan baru dalam pikiran siswa.

Vygotsky (Surianto, 2009) menyatakan pembentukan dan pengembangan pengetahuan terjadi melalui interaksi sosial. Ia juga mengemukakan bahwa belajar merupakan pengetahuan suatu pengertian, baik pengertian spontan maupun pengertian ilmiah. Pengertian spontan adalah pengertian yang didapatkan dari pengalaman siswa sehari-hari dan sifatnya tidak terdefinisikan dan terangkai secara sistematis logis. Sedangkan pengertian ilmiah adalah pengertian yang didapat dari kelas dan sifatnya formal yang terdefinisikan secara logis dalam suatu system yang lebih luas.

Konstruktivisme Piaget dan Vygotsky dapat berjalan berdampingan dalam proses belajar. Konstruktivisme Piaget lebih menekankan pada kegiatan internal individu terhadap objek yang dihadapi dan pengalaman yang dimiliki orang tersebut. Sedangkan konstruktivisme Vygotsky menekankan

pada internal interaksi sosial dan melakukan rekonstruksi pengetahuan dari lingkungan sosialnya.

b. Pengertian PBL

Pembelajaran berbasis masalah (Problem-based Learning, disingkat PBL), adalah pembelajaran yang menjadikan masalah sebagai dasar atau basis bagi siswa untuk belajar.

konsep dari PBL yaitu pembelajaran dimulai dengan mengajukan masalah, pertanyaan, atau teka-teki, yang menjadikan siswa yang belajar ingin menyelesaikannya. Dalam pendekatan berbasis masalah, masalah yang nyata dan kompleks memotivasi siswa untuk mengidentifikasi dan meneliti konsep dan prinsip yang mereka perlu ketahui untuk berkembang melalui masalah tersebut. Berikut adalah beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian dari PBL.

1. Salahsatunya menurut Duch (Anonymous, 2007): Problem Based Learning (PBL) adalah metode pendidikan yang medorong siswa untuk mengenal cara belajar dan bekerjasama dalam kelompok untuk mencari penyelesaian masalah-masalah di dunia nyata. Simulasi masalah digunakan untuk mengaktifkan keingintahuan siswa sebelum mulai mempelajari suatu subyek. PBL menyiapkan siswa untuk berpikir secara kritis dan analitis, serta mampu untuk mendapatkan dan menggunakan secara tepat sumber-sumber pembelajaran.

2. H.S. Barrows (Exa, 2010), sebagai pakar PBL menyatakan bahwa definisi PBL adalah sebuah metode pembelajaran yang didasarkan pada prinsip bahwa masalah (problem) dapat digunakan sebagai titik awal untuk mendapatkan atau mengintegrasikan ilmu (knowledge) baru. Dengan demikian, masalah yang ada digunakan sebagai sarana agar anak didik dapat belajar sesuatu yang dapat menyokong keilmuannya.

3. Tamblyn (Aisyah, 2008) mendefinisikan PBL sebagai “the learning which result from the process of working towards the understanding of, or resolution of, a problem.”

4. Suradijono (Aisyah, 2008) mengemukaan PBL adalah metode belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru.

PBL sebagai suatu pembelajaran aktif dan pendekatan pembelajaran yang berpusat padasiswa, yang menggunakan masalah-masalah dunia nyata untuk proses pembelajaran. Pembelajaran dalam PBL dimulai dengan suatu masalah yang harus diselesaikan, danmasalah tersebut diajukan dengan cara sedemikian hingga para siswa memerlukantambahan pengetahuan baru sebelum mereka dapat menyelesaikan masalah tersebut.

Tidak sekedar mencoba atau mencari jawab tunggal yang benar, para siswa akan menafsirkan masalah tersebut, mengumpulkan informasi yang diperlukan, mengenalipenyelesaian yang mungkin, danmerumuskan kesimpulan. Dari beberapa pengertian PBL seperti tersebut di atas dapatlah disimpulkan bahwa PBL adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah nyata sebagai titik awal pembelajaran, dengan pertimbangan; pembelajaran dipandu oleh masalah yang menantang, para siswa bekerja dalam kelompok kecil, dan guru mengambil peran sebagai fasilitator dalam pembelajaran.

c. Karakteristik

Karakteristik pembelajaran berbasis masalah sebagaimana diungkapkan Nurhadi (Anonymous. 2011) adalah :

1. Pengajuan pertanyaan atau masalah. 2. Terintegrasi dengan disiplin ilmu lain. 3. Penyelidikan otentik.

4. Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya. 5. Kerja Sama

Pembelajaran berbasis masalah berpusat pada pertanyaan/masalah yang secara pribadi bermakna untuk peserta didik dengan mengajukan situasi kehidupan nyata. Pemberian masalah diberikan di awal pembelajaran kemudian dengan pemberian masalah tersebut dapat menciptakan pembelajaran yang menantang siswa untuk memecahkan masalah yang dihadapi dengan menjalin kerjasama dengan siswa lain, dan guru hanya berperan sebagai fasilitator. Jadi pembelajaran berpusat pada siswa.

Pembelajaran berbasis masalah berpusat pada mata pelajaran tertentu, akan tetapi masalah yang akan diselidiki telah dipilih benar-benar nyata agar dalam pemecahannya peserta didik meninjau masalah dari banyak sudut pandangan komunikasi, representasi, pemodelan dan penalaran.

Pembelajaran berbasis masalah mengharuskan peserta didik melakukan penyelidikan otentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah nyata. Peserta didik menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis dan membuat ramalan, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melakukan eksperimen (jika diperlukan), dan merumuskan kesimpulan.

Pembelajaran berbasis masalah menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. Bentuk tersebut dapat berupa laporan, model fisik, video, maupun program komputer. Karya nyata itu kemudian didemonstrasikan kepada teman-temannya yang

lain tentang apa yang telah mereka pelajari dan menyediakan suatu alternatif segar terhadap laporan tradisional atau makalah.

Model PBL mempunyai ciri bahwa siswa yang bekerjasama satu sama lain, paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil. Bekerjasama memberikan motivasi untuk terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan memperbanyak peluang untuk berbagi inkuiri, dialog, dan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berpikir yang dilakukan secara berkelanjutan.

d. Langkah-langkak PBL

langkah-langkah praktis yang harus dilakukan oleh guru dan siswa dalam pbl menurut Nurhadi (Widyasturi, 2010) ada 5 langkah seperti pada tabel di bawah ini.

Tabel 2.1

Langkah-langkah dalam Pelaksanaan PBL

Langkah Indikator Tingkah Laku Guru

Langkah 1 Orientasi siswa pada

masalah Guru memberikan masalah nyata

Langkah 2 Mengorganisasikan siswa untuk belajar

Guru menyuruh siswa berfikir kritis memecahkan masalah yang telah di berikan Langkah 3 Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok

Guru mendorong siswa untuk

mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen bila perlu untukmendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.

Langkah 4 Mengembangkan dan

menyajikan hasil karya

Guru membantu siswa dalam

merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model dan membantu mereka untuk

berbagitugas dengan temannya. Langkah 5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan

e. Manfaat PBL

Di dalam pembelajaran matematika terdapat beberapa keterampilan diantaranya, geometri, pengukuran dan bilangan. Melalui peningkatan kecakapan tersebut dan penguasaan pengetahuan dasar dalam matematika, siswa dalam PBL harus belajar proses matematika yang bervariasi dan kemampuan berkaitan komunikasi, representasi, pemodelan dan penalaran menurut Smith, Erickson, dan, Lubienski. Adapun manfaat yang diperoleh melalui pembelajaran PBL antara lain:

1. Motivasi

PBL membuat siswa lebih terlibat dalam pembelajaran sebab mereka terikat untuk merespon dan karena mereka merasa diberi kesempatan untuk mendapatkan hasil (dampak) dari penyelidikan yang mereka lakukan. Siswa akan termotivasi karena merasa tertantang dengan masalah yang disajikan guru.

2. Berpikir kritis

masalah yang disajikan membangkitkan pemikiran siswa secara tinggi (berpikir kritis) dan kreatif siswa, menebak apa jawaban yang benar yang dikehendaki guru untuk saya temukan? Menembak pun tidak sembarang menembak jawaban, namun memiliki dasar yang telah mereka ketahui atau baru saja ditemukan.

3. Melakukan sesuatu dengan caranya sendiri

PBL mengembangkan pemikiran dengan meminta siswa untuk menghasilkan cara mereka sendiri mendefinisikan masalah, mencari

informasi, menganalisis data dan membuat serta menguji hipotesis, membandingkan strategi lain, dan membaginya dengan siswa lain dan strategi dari pembimbing.

4. Berpikir ilmiah

Siswa akan berpikir semua masalah akan ada pemecahannya. Mereka mencari informasi mengenai masalah yang disajikan kemudian membuat kesimpulan. Hal tersebut kami rasa seperti berpikir secara ilmiah

f. Kelebihan dan Kekurangan

Adapun kelebihan dari model pembelajaran Problem based learning (PBL) ini adalah sebagai berikut.

1. Pemahaman dan ingatan siswa mengenai masalah yang telah terpecahkan atau dipelajari lebih lama dan kuat.

2. Mengintegrasi pengetahuan dengan baik

3. Mengembangkan belajar jangka panjang, yaitu bagaimana meneliti, mencari informasi relevan dan bagaimana menangani sebuah masalah. 4. Meningkatkan interaksi antar siswa maupun dengan guru

5. PBL dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis setiap siswa serta kemampuan mereka untuk beradaptasi untuk belajar dengan situasi yang baru

6. Menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.

Meskipun demikian PBL juga memiliki kekurangan seperti:

1. Siswa yang terbiasa dengan informasi yang diperoleh dari guru dan guru merupakan narasumber utama, akan merasa kurang nyaman dengan cara belajar sendiri dalam pemecahan masalah (perlu penyesuaian terlebih dahulu).

2. Jika siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan maka mereka akan merasa tidak mau, ragu, enggan, dan sebagainya untuk mencoba

3. Merumuskan masalah memerlukan cukup waktu dan persiapan yang matang.

4. Memungkinkan miss apersepsi

5. Kemudian hasil penelitian Ward dan Lee (Faiz, 2009) mengungkapkan beberapa kelemahan PBL seperti:

a. instrument penilaian hasil belajar yang valid dan dapat diterima sulit dibuat atau ditafsirkan.

b. waktu yang diperlukan dalam pembelajaran lebih banyak.

c. kendala pada faktor guru yang sulit berubah orientasi dari guru mengajar menjadi siswa belajar

d.sulitnya merancang masalah yang memenuhi standar pembelajaran berbasis masalah.

g. Analisis Temuan Penelitian Problem Base Learning

Analisis terhadap penelitian yang berjudul “Implementasi Problem Based Learning dengan Peer Lesson pada Pembelajaran Statistika Matematis Guna Meningkatkan Kemandirian Belajar”. Yang disusun oleh Arliani, Susanti, Hidayati, Caturiyati, dan Arifah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemandirian belajar siswa melalui implementasi Problem Based Learning (PBL) dengan strategi Peer Lesson pada pembelajaran Statistika Matematis. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research). Penelitian dilaksanakan dalam 2 siklus dengan partisipan penelitian siswa Program Studi Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta yang menempuh mata kuliah Statistika

Matematis pada semester gasal tahun akademik 2005/2006. Kegiatan penelitian pada siklus I meliputi perencanaan, tindakan, monitoring, refleksi, dan evaluasi. Kegiatan penelitian pada siklus II merupakan tindak lanjut dan modifikasi dari siklus I yakni berdasarkan hasil refleksi dan evaluasi yang telah dilaksanakan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket kemandirian

Belajar siswa, ujian tertulis dan tugas, lembar penilaian diskusi dan presentasi, angket respons siswa, lembar observasi pelaksanaan pembelajaran, pedoman wawancara, dan kumpulan portofolio yang meliputi hasil diskusi, penyelesaian tugas, dan CD pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui implementasi Problem Based Learning ( PBL )

Dengan strategi Peer Lesson pada pembelajaran Statistika Matematis telah terjadi peningkatan kemandirian belajar siswa. Adanya peningkatan ini, juga diiringi dengan meningkatnya pula hasil belajar yang dicapai siswa dan berdasarkan respons siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan menunjukkan bahwa secara umum siswa merespons cukup baik dan dengan pengelolaan secara lebih optimal mengharapkan digunakannya model ini untuk kegiatan pembelajaran selanjutnya.

Selain dari itu kami mencoba menganalisis terhadap penelitian yang berjudul“Penerapan Problem Based Learning dalam Upaya Meningkatkan Kemampuan Mengajukan dan Memecahkan Masalah Matematika Siswa Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri di Bandung.” Oleh Wati Susilawati. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa SLTP dalam mengajukan dan memecahkan masalah matematika melalui pendekatan problem based learning. Mengarah kepada

tujuan tersebut penelitian ini menelaah (a) kemampuan siswa dalam mengajukan masalah matematika sebelum dan sesudah pembelajaran dengan menggunakan pendekatan problem based learning, (b) kemampuan siswa dalam memecahkan masalah matematika yang menggunakan pendekatan problem based learning, (c) sikap siswa terhadap pembelajaran dengan pendekatan problem based learning dalam kaitannya dengan pengajuan dan pemecahan masalah matematika. Penelitian ini merupakan suatu studi eksperimen dengan desain penelitian pre-test post-test control group design. Subjek populasi adalah seluruh siswa kelas dua dengan mengambil sampel dua kelas (kelas eksprimen dan kelas kontrol) melalui teknik random sampling dari sembilan kelas paralel yang tersedia. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan dua macam instrumen yaitu tes dan non tes. Tes meliputi tes problem posing, tes problem solving, sedangkan non tes yaitu angket dengan model skala sikap siswa dan wawancara terhadap guru bidang studi matematika kelas II. Untuk melihat adanya perbedaan kemampuan siswa dalam mengajukan dan memecahkan masalah matematika antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol digunakan uji-t pada taraf signifikansi 0,05 setelah prasyarat pengujian terpenuhi. Dari data dan hasil uji statistik kemudian dianalisis secara inferensial untuk menginterpretasikan kemampuan siswa mengajukan dan memecahkan masalah matematika serta sikap siswa terhadap pembelajaran dengan pendekatan problem based learning dalam kaitan pengajuan dan pemecahan masalah matematika. Dari penelitian ini ditemukan bahwa; Kemampuan siswa mengajukan dan

memecahkan masalah matematika sebelum pembelajaran dengan pendekatan problem based learning, telah ada namun masih tergolong rendah, hal ini terlihat dari kecilnya persentase pengajuan dan pemecahan masalah matematika terselsaikan mengandung informasi baru. Melalui penerapan pembelajaran problem-based learning kemampuan siswa mengajukan dan memecahkan masalah matematika mencapai kriteria hasil belajar yang baik, secara kualitas terdapat perbedaan yang signifikan antara siswa yang pembelajarannya dengan pendekatan problem-based learning dan yang menggunakan pembelajaran dengan pendekatan biasa. Hal ini nampak dari besarnya jumlah respon siswa mengajukan dan memecahkan masalah matematika yang berkualifikasi tinggi. Secara umum siswa memiliki sikap positif terhadap pembelajaran dengan pendekatan problem-based learning, demikian pula sikap terhadap pengajuan dan pemecahan masalah matematika menunjukkan sikap positif. Sikap positif ini menjadi faktor pendukung siswa dalam upaya meningkatkan proses dan keberhasilan dalam belajar matematika.

h. Aplikasi Model Problem Based Learning dalam Pembelajaran Matematika

Saat pengaplikasian PBL di dalam pembelajaran, perlu diingat bahwa penggangkatan suatu masalah memegang peran penting dalam PBL. Masalah dalam PBL ialah suatu rangsangan dan tantangan bagi siswa untuk menggerakkan mereka belajar, diperlukan suatu skill khusus bagi seorang

penyaji, dalam hal ini guru untuk bisa mengangkat suatu permasalahan yang baik.

Mengutip Bloom (Dody, 2010) menerangkan ciri-ciri masalah yang baik sebagai berikut:

1. Melibatkan dan berorientasi pada dunia nyata. 2. Ill-structured dan rumit.

3. Membangkitkan banyak dugaan. 4. Memerlukan usaha tim.

5. Konsisten dengan sasaran pembelajaran.

6. Dibangun atas pengetahuan dan pengalaman yang ada.

7. Mendorong pengembangan keterampilan kognitif tingkat tinggi.

Lebih lanjutnya, peran guru, siswa, dan masalah dalam PBL dijelaskan Herman (Dody. 2010) seperti Tabel 3.1.

Tabel 3.1

Peran guru, siswa, dan masalah dalam PBL Guru sebagai instruktur Siswa sebagai pemecah masalah Masalah sebagai awal tantangan dan motivator 1.Bertanya untuk meminta

berpikir

2.Memonitor pembelajaran 3.Menjaga agar siswa terlibat

aktif 4.Mengatur dinamika kelompok 5.Menjaga berlangsungnya proses belajar 1.Aktif dan bertanggung jawab 2.Terlibat langsung dalam pembelajaran 3.Membangun pemahaman sendiri melalui interaksi 1.Menarik untuk dipecahkan siswa 2. Memicu konflik kognitif 3.Memuat matematika yang dipelajari berdasarkan pengetahuan awal siswa

Kemudian pertimbangkan dengan langkah-langkah pemecahan masalah dalam pembelajaran PBL paling sedikit ada delapan tahapan, yaitu:

1. Mengidentifikasi masalah, 2. Mengumpulkan data, 3. Menganalisis data,

4. Memecahkan masalah berdasarkan pada data yang ada dan analisisnya,

5. Memilih cara untuk memecahkan masalah, 6. Merencanakan penerapan pemecahan masalah,

7. Melakukan uji coba terhadap rencana yang ditetapkan, dan 8. Melakukan tindakan (action) untuk memecahkan masalah.

Empat tahap yang pertama wajib diperlukan untuk berbagai kategori tingkat berpikir, sedangkan empat tahap berikutnya harus dicapai bila pembelajaran dimaksudkan untuk mencapai keterampilan berpikir tingkat tinggi.

Langkah mengidentifikasi masalah merupakan tahapan yang sangat penting dalam PBL. Pemilihan masalah yang tepat agar dapat memberikan pengalaman belajar yang mencirikan kerja ilmiah seringkali menjadi ”masalah” bagi dosen dan siswa. Artinya, pemilihan masalah yang kurang luas, kurang relevan dengan konteks materi pembelajaran, atau suatu masalah yang sangat menyimpang dengan tingkat berpikir siswa dapat menyebabkan tidak tercapainya tujuan pembelajaran.

Oleh sebab itu, sangat penting adanya pendampingan oleh guru pada tahap ini. Walaupun guru tidak melakukan intervensi terhadap masalah tetapi dapat memfokuskan masalah melalui pertanyaan-pertanyaan agar siswa melakukan refleksi lebih dalam terhadap masalah yang dipilih. Dalam hal ini guru harus berperan sebagai fasilitator agar pembelajaran tetap pada bingkai yang direncanakan. Suatu hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam PBL adalah pertanyaan berbasis why bukan sekedar how. Setiap tahap dalam pemecahan masalah, keterampilan siswa dalam tahap tersebut hendaknya tidak semata-mata keterampilan how, tetapi kemampuan menjelaskan permasalahan dan bagaimana permasalahan dapat terjadi. Namun yang harus dicapai pada akhir pembelajaran adalah kemampuannya untuk memahami permasalahan dan alasan timbulnya permasalahan tersebut serta kedudukan permasalahan tersebut dalam tatanan sistem yang sangat luas.

matematika disusun secara berurutan), ilmu tentang pola hubungan, dan matematika terdiri dari simbol-simbol yang padat arti (bahasa simbol. Dalam proses pembelajaran matematika dikenal berbagai istilah yang diantaranya; pendekatan pembelajaran, strategi pembelajaran, metode pembelajaran, teknik, taktik dan model pembelajaran.

Berpikir kreatif adalah kemampuan mengolah data atau informasi yang tersedia menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, dimana penekanannya adalah pada kuantitas, ketepatgunaan, dan keragaman jawaban. Makin banyak kemungkinan jawaban yang dapat diberikan terhadap suatu masalah makin kreatiflah seseorang, tentunya dengan memperhatikan mutu atau kualitas dari jawaban tersebut. Berbicara tentang pemecahan masalah matematik tentu tidak terlepas dari masalah itu sendiri. Suatu masalah biasanya memuat suatu kondisi yang mendorong seseorang untuk cepat menyelesaikannya akan tetapi tidak tahu secara langsung bagaimana menyelesaikannya. pemecahan masalah matematik adalah mengerjakan tugas-tugas matematik yang cara menyelesaikannya belum diketahui sebelumnya, dan pemecahannya tidak dapat dilakukan dengan algoritma tertentu. Untuk menemukan pemecahannya siswa harus menggunakan pengetahuannya, dan melalui proses ini mereka akan mengembangkan pemahaman matematika baru. Tentunya pemecahan masalah matematik menuntut siswa untuk berfikir kreatif.

Menyadari akan pentingnya kemampuan berpikir kreatif dan pemecahan masalah, dirasakan perlu mengupayakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan-pendekatan yang dapat memberi peluang dan mendorong siswa untuk melatihkan kemampuan kemampuan tersebut. Beberapa pendekatan yang dirasa dapat mengembangkan kemampuan berpikir kreatif dan pemecahan masalah matematis diantaranya; pendekatan deduktif-induktif, pendekatan kontekstual (CTL), pendekatan realistik (RME / PMRI) , pendekatan open-ended, dan pendekatan berbasis masalah (PBL).

Aisyah, w. (2008). Pembelajaran Berbasis Masalah. [Online] tersedia:

http://wianti.multiply.com/journal/item/7?&show_interstitial=1&u= %2Fjournal%2Fitem [24 Mei 2012]

Ajrina, S. (2011). Pembelajaran Kontekstual Contextual Teaching and Learning. [Online]

Tersedia:http://sheilajrina.wordpress.com/2011/11/19/pembelajaran- kontekstual-contextual-teaching-and-learning-ctl/.htm [22 Maret 2012] Akhmad, S. (2008). Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, dan

Model Pembelajaran. Tersedia: http://www.psb- psma.org/content/blog/pengertian-pendekatan-strategi-teknik-taktik-dan- model-pembelajaran.htm [14 februari 2012]

Anonymous. (2007). Problem Base Learning. [Online] tersedia:

http://unisys.uii.ac.id/index.asp?u=710&b=I&v=1&j=I&id=8[24 Mei 2012]

Anonymous. (2011). Model pembelajaran problem based learning. [Online] tersedia: http://istanailmu.com/archives-2011/model-pembelajaran- problem-based-learning/html[24 Mei 2012]

Burhanuddin & Esa Nur Wahyuni. 2009. Teori belajar & Pembelajaran. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

Dahlan. (2011). Pembelajaran CTL Contextual Teaching. [Online] Tersedia:http://iptekdakhlan.blogspot.com/2011/02/pembelajaran-ctl- contextual-teaching.html [22 Maret 2012]

Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990. Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung.

Dody. (2010). Analisis terhadap Langkah-langkah Model Problem Based

Learning. [Online] tersedia:

http://www.scribd.com/doddy_renji/d/53178856-pembahasan [24 Mei

Dokumen terkait