• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A. Deskripsi Teoritik

3. Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)

Sub bab ini akan membahas mengenai landasan filosofis CTL, pengertian pendekatan CTL, karakteristik pembelajaran CTL, ciri-ciri pembelajaran CTL, komponen pembelajaran CTL dan langkah-langkah dalam pembelajaran CTL.

a. Landasan Filosofis CTL

CTL banyak dipengaruhi oleh filsafat konstruktivisme yang mulai digagas oleh Mark Baldwin dan selanjutnya dikembangkan oleh Jean Piaget. Piaget berpendapat, bahwa sejak kecil setiap anak sudah memiliki struktur kognitif yang kemudian dinamakan skema. Skema terbentuk karena pengalaman. Semakin dewasa anak, maka semakin sempurnalah skema yang dimilikinya. Proses penyempurnaan skema dilakukan melalui proses asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah proses penyempurnaan skema dan akomodasi adalah proses mengubah skema yang sudah ada hingga terbentuk skema baru. Semua itu terbentuk berkat pengalaman.20

Pandangan Piaget tentang bagaimana sebenarnya pengetahuan itu terbentuk dalam struktur kognitif anak, sangat berpengaruh terhadap beberapa model pembelajaran di antaranya model pembelajaran kontekstual. Menurut pembelajaran kontekstual, pengetahuan itu akan bermakna manakala ditemukan dan dibangun sendiri oleh siswa. Pengetahuan yang diperoleh dari pemberitahuan orang lain, tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna. Pengetahuan yang demikian akan mudah dilupakan dan tidak fungsional.21

b. Pengertian Pendekatan CTL

CTL adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.22

20

Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi KBK, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), h. 111-112.

21

Ibid., h. 113.

22

akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah, artinya belajar

akan lebih bermakna jika anak “bekerja” dan “mengalami” sendiri apa yang

dipelajarinya, bukan sekedar “mengetahuinya”.23

Johnson mengartikan pembelajaran kontekstual adalah suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadinya, sosialnya dan budayanya.24

Sistem CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna di dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subjek-subjek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial, dan budaya mereka.25

Dari beberapa pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran CTL adalah konsep belajar yang membantu guru menghubungkan antara materi pelajaran yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas sedikit demi sedikit, dan dari proses mengonstruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat.

Dengan menerapkan pembelajaran kontekstual, pembelajaran menjadi berpusat kepada siswa. Sebagian besar waktu pembelajaran digunakan oleh siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri melalui berbagai kegiatan, antara lain: praktikum, diskusi, presentasi, mengerjakan LKS atau tugas-tugas lain, membaca untuk menemukan konsep atau kalimat-kalimat kunci. Peran guru dalam bentuk pembimbingan tetap dibutuhkan selama kegiatan-kegiatan tersebut, tetapi lebih bersifat fasilitator bukan decision maker.

23

Kunandar, Guru Profesional, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2007), h. 271.

24

Kunandar, Ibid, h. 273.

25

Elaine B. Johnson, CTL Menjadikan Kegiatan Belajar-Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna, (Bandung: Kaifa, 2010), cet. ke-1, h. 67.

Terdapat lima karakteristik penting yang harus diperhatikan dalam poses pembelajaran yang menggunakan pendekatan CTL, yaitu:

1) Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge), artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari, dengan demikian pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain. 2) Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge) dengan cara

deduktif, yaitu mempelajari secara keseluruhan dulu, kemudian memperhatikan detailnya.

3) Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihapal tetapi untuk dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan.

4) Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge), artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan perilaku siswa.

5) Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan dan penyempurnaan strategi.26

d. Ciri-ciri Pembelajaran CTL

Berdasarkan karakteristik pembelajaran CTL, maka Kunandar memaparkan beberapa ciri-ciri pembelajaran kontekstual antara lain:

1) Adanya kerjasama antar semua pihak.

2) Menekankan pentingnya pemecahan masalah atau problem.

3) Bermuara pada keragaman konteks kehidupan siswa yang berbeda-beda. 4) Saling menunjang.

5) Menyenangkan, tidak membosankan. 6) Belajar dengan bergairah.

26

8) Menggunakan berbagai sumber. 9) Siswa aktif.

10)Sharing dengan teman. 11)Siswa kritis, guru kreatif.

12)Dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa.

13)Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa, dan sebagainya.27

e. Asas-asas Pembelajaran CTL

Ada tujuh asas utama pembelajaran yang mendasari penerapan pembelajaran kontekstual di kelas, yaitu sebagai berikut:

1) Konstruktivisme. Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Dalam konstruktivisme pembelajaran harus dikemas

menjadi proses “mengonstruksi” bukan “menerima” pengetahuan. Siswa menjadi pusat kegiatan, bukan guru. Dalam pandangan

konstruktivisme “strategi memperoleh” lebih diutamakan dibandingkan

seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. 2) Inkuiri (menemukan). Artinya, proses pembelajaran didasarkan pada

pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis bukan hasil mengingat seperngkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri.

3) Bertanya (Questioning). Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran berbasis kontekstual. Bertanya dalam pembelajaran sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa.

4) Masyarakat belajar (learning community). Dalam kelas CTL, penerapan asas masyarakat belajar dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya bersifat heterogen, baik dilihat dari

27

minatnya.

5) Pemodelan (modeling), adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Proses modeling tidak terbatas dari guru saja, akan tetapi dapat juga guru memanfaatkan siswa yang dianggap memiliki kemampuan. 6) Refleksi (reflection), adalah proses pengendapan pengalaman yang

telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Dalam proses pembelajaran dengan menggunakan CTL, setiap akhir proses pembelajaran guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk

“merenung” atau mengingat kembali apa yang telah dipelajarinya.

Biarkan secara bebas siswa menafsirkan pengalamannya sendiri, sehingga ia dapat menyimpulkan tentang pengalaman belajarnya. 7) Penialaian nyata (authentic assessment), adalah kegiatan menilai siswa

yang menekankan pada apa yang seharusnya dinilai, baik proses maupun hasil dengan berbagai instrument penilaian. Jadi siswa dinilai kemampuannya dengan berbagai cara, tidak melulu dari hasil ulangan tulis.28

f. Langkah-langkah Pembelajaran CTL

Sebelum melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL, tentu saja terlebih dahulu guru harus membuat disain (skenario) pembelajarannya, sebagai pedoman umum sekaligus sebagai alat kontrol dalam pelaksanaannya. Pada intinya pengembangan setiap komponen CTL tersebut dalam pembelajaran dapat dilakukan sebagai berikut:29

1) Mengembangkan pemikiran siswa untuk melakukan kegiatan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru yang harus akan dimilikinya.

28

Wina Sanjaya, op.cit., h. 118-122.

29

Laksmi Dewi Masitoh. Strategi Pembelajaran. (Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI. 2009), h. 285-286.

diajarkan.

3) Mengembangkan sifat ingin tahu siswa melalui memunculkan pertanyaan-pertanyaan.

4) Menciptakan masyarakat belajar seperti melalui kegiatan kelompok berdiskusi, tanya jawab dan lain sebagainya.

5) Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran, bisa melalui ilustrasi, model bahkan media yang sebenarnya.

6) Membiasakan anak untuk melakukan refleksi dari setiap kegiatan pembelajaran yang dilakukan.

7) Melakukan penilaian secara objektif yaitu menilai kemampuan yang sebenarnya pada setiap siswa.

Selain langkah-langkah penerapan CTL, ada pula tujuh strategi yang harus digunakan secara proposional dan rasional dalam pendekatan CTL, yaitu:

1) Pengajaran berbasis problem atau masalah, dengan memunculkan problem yang dihadapi bersama siswa ditantang untuk berfikir kritis untuk memecahkannya, problem seperti ini membawa makna personal dan sosial bagi siswa.

2) Menggunakan konteks yang beragam, guru membermaknakan pusparagam konteks sehingga makna yang diperoleh siswa menjadi semakin berkualitas.

3) Mempertimbangkan kebhinekaan siswa, guru mengayomi individu dan meyakini bahwa perbedaan individual dan sosial seyogyanya dibermaknakan menjadi mesin penggerak untuk belajar saling menghormati dan membangun toleransi demi terwujudnya keterampilan interpersonal.

4) Memberdayakan siswa untuk belajar sendiri, setiap manusia menjadi pembelajar aktif sepanjang hayat, melalui pendidikan untuk belajar mandiri di kemudian hari. Untuk itu siswa mesti dilatih berfikir kritis dan kreatif dalam mencari dan menganalisis informasi dengan sedikit bantuan atau malah secara mandiri.

kelompok untuk berbagi pengetahuan dan menentukan fokus belajar. 6) Menggunakan penilaian autentik, pembelajaran dengan CTL penilaiannya

adalah penilaian individual, yakni mengakui kekhasan sekaligus keluasan dalam pembelajaran, materi ajar, dan prestasi yang dicapai siswa.

7) Mengejar standar tinggi, standar unggul sering dipersepsi sebagai jaminan untuk mendapatkan pekerjaan, atau minimal membuat siswa merasa pede untuk menentukan pilihan masa depan. Agar menjadi manusia yang kompetitif, maka dari itu menentukan kompetensi lulusan dari tahun ke tahun terus ditingkatkan.30

Dokumen terkait