• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.6. Kerangka Teori dan Konseptual

1.6.3. Konsep subsidi

1.6.3.2. Pendekatan Dalam Perhitungan Subsidi

37

Pada dasarnya profit loss istilah subsidi ditemukan pada penghitungan biaya pokok dan umumnya digunakan dalam lingkup mikroekonomi. Sebagaimana tujuan organisasi dalam

36 Memahami pengertian dan kebijakan subsidi dalam APBN http://www.bppk.depkeu.go.id/berita-cimahi/9631-memahami-pengertian-dan-kebijakan-subsidi-dalam-apbn. diakses pada 23 Januari 2017. Pukul 20.19 WIB

37Makalah Subsidi http://www.academia.edu/16509119/makalah_subsidi diakses pada 25 Januari 2017 Pukul 21.00 WIB

melakukan produksi adalah untuk memperoleh keuntungan dari selisih antara harga pokok dan harga jual. Harga pokok adalah harga yang diperoleh dari komponen-komponen biaya dengan menggunakan metode perhitungan tertentu. Harga jual adalah besarnya harga pokok ditambah besarnya laba atau keuntungan yang dikehendaki. Harga jual biasanya ditentukan pula berdasarkan pertimbangan ekonomi, seperti harga persaingan atau harga pasar dan besarnya nilai manfaat atau produk. Oleh karena itu, pengertian subsidi berdasarkan pendekatan profit loss merupakan kebijakan atas penentuan harga jual yang besarnya sama dengan harga pokok, sehingga dalam hal ini pihak produsen tidak mendapatkan keuntungan tetapi tidak pula mengalami kerugian.

Pengertian subsidi dalam pendekatan kebijakan pemerintah memiliki perspektif yang berbeda dengan definisi menurut ilmu ekonomi. Sasarannya masih sama, yaitu harga. Dalam hal ini, kebijakan subsidi bertujuan untuk menekan harga penjualan di bawah harga yang umumnya berlaku. Harga jual bisa memiliki dua pengertian, yaitu harga jual yang ditetapkan oleh produsen atau harga jual yang mengikuti harga pasar (market price). Harga jual dalam arti ditetapkan atau ditentukan oleh produsen merupakan harga pokok ditambahkan besarnya keuntungan yang dikehendaki. Besarnya subsidi bisa jadi menggantikan tambahan keuntungan atau tambahan keuntungan ditambah beberapa ongkos produksi yang terhitung pada harga pokok.38

Kebijakan pemberian subsidi biasanya dikaitkan kepada barang dan jasa yang memiliki positif eksternalitas dengan tujuan agar untuk menambah output dan lebih banyak sumber daya yang dialokasikan kebarang dan jasa tersebut. Dalam konteks ini meliputi pula bidang 1.6.3.3 Manfaat dan Dampak Negatif Pelaksanaan Subsidi

38 Milton H. Spencer & Orley M. Amos, Jr., Contemporary Economics, Edisi ke-8, 1993, Worth Publishers, New York. Hal 126

pendidikan dan teknologi tinggi. Oleh karena itu, secara umum pelaksanaan subsidi yang dilakukan oleh pemerintah, dirasakan manfaatnya oleh masyarakat konsumen maupun produsen antara lain Pertama, membantu peningkatan kualitas ekonomi. Kedua, membantu golongan yang berpendapatan rendah dalam hal pemenuhan kebutuhan ekonomi. Ketiga, mencegah terjadinya kebangkrutan bagi pelaku usaha.39

Pelaksanaan subsidi juga punya dampak negatif antara lain secara umum yaitu Pertama, subsidi menciptakan alokasi sumberdaya yang tidak efisien. Oleh karena itu konsumen membayar barang dan jasa pada harga yang lebih rendah daripada harga pasar, maka ada kecenderungan konsumen tidak hemat dalam mengkonsumsi barang yang dikonsumsi. Kedua, subsidi menyebabkan distorsi artinya subsidi yang tidak transparan dan tidak tepat sasaran akan mengakibatkan subsidi besar yang digunakan untuk program yang sifatnya populis cenderung menciptakan distorsi baru dalam perekonomian, subsidi menciptakan ketidakefisienan, dan subsidi tidak dinikmati oleh mereka yang berhak.40 Ketiga, subsidi dapat mengganggu pasar dan memakan biaya ekonomi yang besar. Keempat, mematikan para pesaing, dalam arti pihak swasta yang dirugikan.41

Subsidi merupakan bantuan yang diberikan pemerintah kepada konsumen atau produsen agar barang dan jasa yang dihasilkan harganya lebih rendah dan jumlah yang dibeli masyarakat 1.6.3.4 Konsep subsidi dalam APBN

39Makalah Subsidi http://www.academia.edu/16509119/makalah_subsidi diakses pada 25 Januari 2017 Pukul 21.15 WIB

40 Basri. F. 2002. Perekonoian Indonesia Tantangan Dan Harapan Bagi Kebangkitan Ekonomi Indonesia. Jakarta. Erlangga . Hal 249.

41Makalah Subsidi http://www.academia.edu/16509119/makalah_subsidi diakses pada 25 Januari 2017 Pukul 21.15 WIB

lebih banyak. Subsidi (government transfer payment) merupakan alat kebijakan pemerintah untuk redistribusi dan stabilisasi. Menurut Nota Keuangan dan RAPBN 2014, subsidi adalah salah satu mekanisme dalam RAPBN 2014 yang digunakan untuk melaksanakan fungsi distribusi. Penerapan fungsi distribusi Pemerintah dalam RAPBN 2014 dijalankan dalam kaitannya dengan upaya pemerataan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, subsidi yang dibayarkan oleh Pemerintah dalam membuat suatu barang/jasa menjadi lebih murah untuk dibeli, digunakan, atau dihasilkan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.42

Subsidi tetap diberikan untuk membantu menstabilkan harga barang dan jasa yang berdampak luas ke masyarakat. Pelaksanaannya diupayakan untuk mempertajam sasaran subsidi agar lebih terarah dan menyentuh kehidupan masyarakat miskin. Namun, tetap memperhitungkan sisi efisiensi dan kemampuan keuangan negara.

43

1.6.3.5 Arah Kebijakan Subsidi

Kebijakan subsidi bertujuan untuk menjaga stabilitas harga barang dan jasa, memberikan perlindungan pada masyarakat berpendapatan rendah, meningkatkan produksi pertanian, serta insentif bagi dunia usaha dan masyarakat. Diantaranya seperti pada tahun anggaran 2013, kebijakan subsidi diarahkan melalui Pertama, kebijakan subsidi yang efisien dengan penerima subsidi yang tepat sasaran, yaitu melalui pengendalian besaran subsidi energi dan subsidi non‐energi. Kedua, menyediakan tambahan anggaran untuk antisipasi subsidi tepat sasaran.44

42 Memahami pengertian dan kebijakan subsidi dalam APBN

Arah dan kebijakan belanja Pemerintah Pusat pada RAPBN tahun 2014 akan difokuskan antara lain pada upaya untuk menyusun kebijakan subsidi yang lebih tepat

http://www.bppk.depkeu.go.id/berita-cimahi/9631-memahami-pengertian-dan-kebijakan-subsidi-dalam-apbn. diakses pada 23 Januari 2017. Pukul 20.47 WIB

43 Basri F. Op. Cit. hal 208

44Memahami pengertian dan kebijakan subsidi dalam APBN http://www.bppk.depkeu.go.id/berita-cimahi/9631-memahami-pengertian-dan-kebijakan-subsidi-dalam-apbn. diakses pada 23 Januari 2017. Pukul 20.47 WIB

sasaran. Adapun pelaksanaannya melalui Redesign subsidi dengan penyediaan berbagai jenis subsidi yaitu melalui Pertama, subsidi harga barang-barang kebutuhan pokok barang/jasa tertentu (price subsidies), dengan target dicapainya subsidi tepat sasaran. Kedua, subsidi langsung ke objek sasaran dan/atau tertutup sesuai dengan target sasaran (targeted subsidies).45

1.6.4. Konsep Subsidi BBM 1.6.4.1 Subsidi BBM

BBM merupakan salah satu kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia, pengolahan dan penyalurannya dikuasai oleh negara. hal ini sesuai dengan pasal 33 ayat (2) UUD 1945 yang menyatakan bahwa cabang–cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai olehnegara. Subsidi merupakan bantuan yang diberikan pemerintah kepada produsen atau konsumen agar barang atau jasa yang dihasilkan harganya lebih rendah dengan jumlah yang dapat dibeli masyarakat lebih banyak. Besarnya subsidi yang diberikan biasanya tetap untuk setiap unit barang. Dengan adanya subsidi diharapkan oleh pemerintah harga barang menjadi lebih rendah. Pemerintah disini menanggung sebagian dari biaya produksi dan pemasaran. Pada hakekatnya subsidi diberikan untuk membantu golongan masyarakat yang mempunyai kemampuan lemah, bukan untuk golongan masyarakat yang mempunyai kemampuan ekonomi lebih tinggi.

Subsidi BBM, sebagaimana dapat dipahami dari naskah RAPBN dan Nota Keuangan setiap tahun adalah “pembayaran yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia kepada PERTAMINA (pemegang monopoli pendistribusian BBM di Indonesia) dalam situasi dimana pendapatan yang diperoleh PERTAMINA dari tugas menyediakan BBM di Tanah Air adalah

45 Ibid

lebih rendah dibandingkan biaya yang dikeluarkannya untuk menyediakan BBM tersebut”.

Dalam hal itu bernilai positif, seperti dulu sering dialami, angka itu disebut Laba Bersih Minyak.

Definisi mengenai “subsidi BBM” yang dikembangkan oleh pemerintah tersebut telah diturunkan ke dalam perhitungan akuntansi yang angka-angkanya kemudian menjadi dasar bagi program pemerintah untuk “menghapuskan subsidi BBM”, termasuk perancangan program-program pengurangan dampak kenaikan harga BBM.

1.6.4.2 Kebijakan Fiskal Dalam Pengeluaran Subsidi BBM

Kebijakan fiskal merupakan kebijakan pemerintah dalam bidang pendapatan dan pengeluaran negara dengan tujuan untuk mempengaruhi jalannya perekonomian. Instrumen kebijakan fiskal dapat berupa pemungutan pajak, pemberian subsidi, mempengaruhi kondisi perekonomian, tingkat pengangguran, inflasi, pertumbuhan ekonomi, pendapatan perkapita, serta pemerataan pendidikan dan kesehatan. Kebijakan fiskal sebagai pengalokasian anggaran untuk terlaksananya kegiatan dan program-program pemerintah dalam rangka mensejahterakan masyarakat.46

1.6.4.3 Harga BBM

Harga BBM di Indonesia adalah harga yang diatur oleh pemerintah dan berlaku sama di seluruh wilayah Indonesia. Pada dasarnya, pemerintah bersama DPR menetapkan harga BBM setelah memperhatikan biaya-biaya pokok penyediaan BBM yang diberikan PERTAMINA serta tingkat kemampuan masyarakat. Belakangan, dalam upaya menyesuaikan harga BBM di dalam

46 Sudirman, I Wayan. 2011. Kebijakan Fiskal dan Moneter. Teori dan Empirikal.Kencana. Jakarta hal 24

negeri dengan perkembangan harga BBM internasional, dikeluarkan Keputusan Presiden yang memungkinkan PERTAMINA untuk secara berkala menyesuaikan harga BBM sesuai perkembangan MOPS (Middle Oil Platts, Singapore). Namun, mekanisme penyesuaian harga otomatis tersebut tidak terus dapat dipertahankan.

Subsidi BBM diberikan oleh pemerintah kepada PERTAMINA sebagai konsekuensi dari penetapan harga BBM yang dilakukan oleh pemerintah. Pekerjaan PERTAMINA “melaksanakan tugas penyediaan dan pelayanan Bahan Bakar Minyak untuk keperluan dalam negeri”

diperintahkan oleh Undang-Undang No. 8 Tahun 1971 tentang Pertamina sebagai tugas pelayanan masyarakat (public service obligation).

Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi No 22 Tahun 2001 menegaskan bahwa penugasan khusus kepada PERTAMINA untuk menyediakan BBM di dalam negeri akan diakhiri pada (bulan November) 2005, namun bagaimana menggantikan peran Pertamina dalam hal ini nampaknya belum disiapkan dengan baik.47

1.7 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif.

Penelitian kualitatif merupakan metode-metode untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang oleh sejumlah individu atau sekelompok orang yang dianggap berasal dari masalah sosial kemanusiaan. Proses penelitian kualitatif ini melibatkan upaya-upaya penting, seperti mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan prosedur-prosedur, mengumpulkan data yang spesifik

47 Penyediaan BBM: Masalah Besar Menghadang,. http://.kompas.com/read/2015/14/234876/masalah-tersensediri. diakses Pada 6 Juli 2015 Pukul 23:00 WIB.

dari para partisipan, menganalisis data secara induktif mulai dari tema-tema yang khusus ke tema-tema yang umum dan menafsirkan makna dan data.48

Jenis Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif.

Jenis penelitian deskriptif adalah jenis penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan ihwal masalah-masalah atau objek maupun subjek tertentu secara rinci.

1.7.1. Jenis Penelitian

49

Dalam menyusun sebuah penelitian adalah penting memilih sebuah teknik pengumpulan data yang tepat, yang akan sangat berpengaruh terhadap hasil penelitian. Teknik pengumpulan data akan memungkinkan dicapainya pemecahan masalah secara valid dan reliable, yang ada gilirannya akan memungkinkannya dirumuskannya generalisasi yang objektif.

Penelitian deskriptif dilakukan untuk menjawab sebuah atau beberapa pertanyaan mengenai keadaan objek atau subjek amatan secara rinci.

1.7.2. Teknik Pengumpulan Data

50

Studi pustaka dalam pengumpulan data yang diperlukan, dilakukan melalui penelitian kepustakan (Library Research). Data akan diolah dari berbagai sumber kepustakan, antara lain buku-buku ilmiah, majalah, surat kabar, jurnal, media cetak dan bahan tulisan lainnya yang erat Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam melakukan penelitian ini adalah studi kepustakaan.

48 Husaini Usman, Purnomo Setiadi Akbar. 2009. Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Hal. 78

49Burhan Bungin. 2007. Penelitian Kualitatif (Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Public, Dan Ilmu Social Lainnya. Jakarta.

Kencana Prenada Media Group. hal. 67

50Burhan Bugin. Ibid. hal 107

kaitannya dengan subjek penelitian. Dalam hal ini penelitian pada media internet /online yang memuat berita yang dibutuhkan dalam menyempurnakan penelitian ini.

1.7.3. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan analisa data kualitatif, yaitu dengan menekankan analisanya pada sebuah proses pengambilan kesimpulan secara induktif serta analisa pada fenomena yang sedang diamati dengan menggunakan metode ilmiah51 serta analisa pada fenomena yang sedang diamati dengan menggunakan metode ilmiah. Metode yang dimaksud adalah prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu dengan langkah-langkah sistematis.52

51 Burhan Bugin. Ibid. hal 103

52 Suwardi Lubis. 1997. Metodologi Penelitian Sosial: USU Press. hal 15.

1.8 Kerangka Pemikiran

Latar Belakang

Pemerintahan Jokowi-JK mengeluarkan Perpres No 191 Tahun 2014 Mengenai mekanisme baru untuk BBM, dan Mencabut Subsidi BBM, untuk BBM Khusus Penugasan(Premium Ron 88)

Alasan Pencabutan Subsidi BBM oleh

pemerintah yaitu Melonggarkan Beban APBN, Subsidi BBM tidak tepat sasaran, dan untuk mengalihkan pada pembangunan yang bersifat jangka panjang seperti, Infrastruktur,

Kesehatan, dan Pendidikan.

Identifikasi Masalah

Diberlakukannya Perpres No. 191 Tahun 2014 memunculkan turunan Peraturan Menteri ESDM No. 39 Tahun 2014 untuk menghitung harga jual eceran BBM dan mengeluarkan kembali revisi dari Permen ESDM No. 04 Tahun 2015 mengenai perhitungan harga dasar yang akan disesuai kan dengan harga pasar dunia dan berubah setiap 3 bulan sekali

Analisis Kebijakan Pencabutan

1.9 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan merupakan penjabaran rencana penulisan untuk lebih mempermudah penulisan karya ilmiah dan mendapatkan hasil penulisan yang terarah. Agar mendapatkan gambaran yang jelas dan terperinci, maka peneliti membagi penulisan skripsi ke dalam empat bab, yaitu sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini terdiri dari Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Batasan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Kerangka Teori, Metodologi Penelitian, Sistematika Penulisan.

BAB II :DESKRIPSI KEBIJAKAN BBM DI INDONESIA

Dalam bab ini menjelaskan mengenai gambaran umum kebijakan MIGAS khususnya BBM di Indonesia. Dalam bab ini juga dipaparkan tentang kebijakan subsidi BBM yang diterapkan di Indonesia dimulai dari masa Presiden Soekarno sampai pada masa Presiden Jokowi.

BAB III :ANALISIS KEBIJAKAN PENCABUTAN SUBSIDI BBM REZIM JOKOWI - JK

Pada bab ini berisikan tentang analisis dari kebijakan pencabutan subsidi BBM Rezim Jokowi-JK. Dalam bab ini akan dianalisis menggunakan teori-teori yang telah dipaparkan dalam bab pendahuluan. Dalam bab ini menyempitkan konsepsi yang luas dengan menyajikan defenisi analisis kebijakan publik yang konkrit dan karakteristiknya sebagai displin ilmu terapan.

BAB IV : PENUTUP

Bab ini berisikan kesimpulan dan saran dari hasil penelitian.

BAB II

DESKRIPSI KEBIJAKAN BBM DI INDONESIA

2.1. Keadaan Umum Kebijakan Migas di Indonesia

2.1.1 Orde Lama atau Fase Awal

Undang Undang Dasar 1945 pasal 33 yang menyebutkan secara tegas “ bumi dan air dan kekayaan alam yang terkndung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.”53 Telah menjadi dasar bagi negara untuk mengelola sumber daya alam sebaik mungkin, yang diperuntukkan sepenuhnya untuk kemakmuran rakyat.

DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) mengeluarkan kebijakan yang menyatakan bahwa penambangan hanya boleh dilakukan oleh negara melalui perusahaan milik negara. Hal ini dituangkan dalam Undang Undang No.44 tahun 1960.54

Pada tahun 1957 terbentuklah perusahaan negara. Perusahaan minyak negara (PERMINA) didirikan dengan tanggung jawab untuk menyediakan tenaga ahli dibidang perminyakan. Selain itu didirikan juga perusahaan negara yaitu PN PERTAMIN dan PN PERMIGAN yang mendapat tanggung jawab untuk mengatur proses distribusi minyk dan pertambangan bagi kepulauan Indonesia. Pada tahun 1968, untuk mengkonsolidasi industri perminyakan dan gas, manajemen eksplorasi pemasaran dan distribusi maka ketiga perusahaan tersebut digabungkan menjadi PN Didalam undang undang tersebut juga dinyatakan bahwa Menteri dapat menunjuk pihak lain untuk menjadi kontraktor bagi perusahaan negara apabil dianggap perlu untuk menyelesaikan suatu proyek atau memulai suatu proyek yang belum di usahakan oleh perusahaan negara.

53 Undang-Undang Dasar Tahun 1945

54 Lihat Undang-Undang Nomor. 44 Tahun 1960 tentang pengelolaan migas

PERTAMINA (Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Nasional).55

Presiden Soekarno kala itu sudah menyadari ketidakberesan ide royalti, karena bertentangan dengan amanat konstitusi. Menyadari hal itu presiden Soekarno melakukan nasionalisasi dan sekaligus merubah bentuk kontrak pengusahaan migas. Melalui UU No 44 Tahun 1960, pengelolaan migas mulai ditata kembali. Usaha pertambangan migas hanya boleh dikelola oleh negara saja. Kontrak konsensi diubah menjadi kontrak karya, dimana para perusahaan asing hanya boleh sebagai penggarap dan harus berhubungan kontrak karya dengan salah satu perusahaan milik negara yaitu PERMINA, PERTAMIN dan PERMIGAN.

Berikut ini adalah penjelasan mengenai kebijakan harga BBM pada masa pemerintahan Orde Lama pada masa Presiden Soekarno.

Sejak kurun waktu 1884 hinga awal kemerdekaan Indonesia pada tahu 1960 an. Lapangan- lapangan minyak Indonesia dikuasai setidaknya 18 perusahaan milik Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat. Perusahaan tersebut menguasai lapangan minyak berdasarkan kontrak konsensi. Artinya, kepemilikan sumberdaya alam berada ditangan pemegang hak konsensi, dan negara hanya memperoleh royalty saja. Itupun berdasarkan presentase dari produksi yang dihasilkan.

56

Sejak awal orde baru, pembangunan ekonomi dan industrialisasi berkembang pesat. Orde ini secara rinci dapat dibagi dalam empat tahap, yitu: pertama adalah periode stabilisasi dan rehabilitasi. Dalam periode ini pemerintah orde baru memberlakukan deregulisasi di bidang investasiperdagangan internasional dan sistem devisa. Dengan pemberian intensif terhadap

2.1.2 Orde Baru

55 Sejarah asal mula pertamina di Indonesia http://www.andi.my.id/2014/08/sejarah-asal-mula-pertamina-di-indonesia.html diakses pada 02 Oktober 2016 Pukul 17.35 WIB

56 Gde Pradnyana, Nasionalisme Migas, Banten: PT.Nayotama Press Holdings. Hal 11-12

penanam modal, periode ini merupakan periode “liberal”. dikatakan periode liberal dikarenakan pada masa ini pemerintah memberikan pintu terbuka bagi investor asing untuk menanamkan modal di Indonesia tanpa banyak mengalami hambatan bahkan diperbolehkannya kepemilikan asing 100%.

Kedua adalah periode boom oil (1973-1981) . masa krisis minyak pada tahun 1974-1979 membawa keuntungan bagi Negara-negara pengekspor minyak (OPEC), termasuk Indonesia.

Masa itu memberikan pemasukan yang cukup besar bagi Indonesia dengan produksi minyak yang cukup melimpah. Pada masa itu juga struktur perlindungan industry mulai dikembangkan oleh pemerintah dengan perlindungan industri baru. Peraturan untuk penanam modal asing mulai diketatkan dengan kecendrungan nasionalisme. Berbagai peraturan diberlakukan, terutama dalam investasi kepemilikan asing, tidak boleh lagi kepemilikan asing 100%.

Ketiga, periode awal penurunan harga minyak(1982-1985). Pada periode ini industrialisasi mengalami masa persimpangan. Disatu sisi ada pengurangan dari penekan terhadap industri berat dan padat modal oleh pemerintah dengan dijadwalkannya beberapa proyek besar pada tahun 1983. Tapi disisi lain sistem tata niaga dan penggunaan komponen domestik meningkat.

Keempat , setelah terjadi penurunan harga minyak secara tajam pada 1986, terjadi arah kebijakan industrilisasi yang menggarisbawahi peningkatan efisiensi, persaingan dan orientasi ekspor. Berbagai macam kebijakan seperti devaluasi, pelonggaran syarat untuk investasi domestik maupun asing, perbaikan prosedur untuk impor dan ekspor, dan lain-lain dilakukan untuk memperbaiki iklim investasi dan menggalakan ekspor non migas.57

57 Tulus Tambunan, 1998, Indonesia dan oil boom, Jurnal PRISMA No 9, hal 48-66

Dalam empat tahap perkembangan pembangunan ekonomi pada masa orde baru tersebut ada dampak positif dan juga negatif yang dialami Indonesia. Pada saat yang bersamaan dengan kelangkaan dana pembangunan, pemerintah mendapatkan pemasukan dari turunnya harga minyak dunia dan meningkatnya produksi minyak dalam negeri atau yang dikenal dengan istilah oil boom . namun hal ini juga membawa dampak negatif bagi Indonesia, rezeki minyak melimpah menimbulkan penyakit korupsi, kolusi dan nepotisme.

Masa minyak melimpah seakan menjadi ujian bagi Indonesia. Bertambahnya pendapatan Negara dengan adanya minyak berlimpah membuat banyak praktek korupsi. Keadaan minyak melimpah ternyata tidak bertahan lama, pada tahun 1982 harga minyak dunia turun drastis yang sebelumnya mencapai US$ 30 per barel jatuh menjadi US$ 6 per barrel. Penurunan harga minyak dunia ini membuat penurunan pendapatan pemerintah Indonesia, yang turun secara drastis. Hal ini menyebabkan Indonesia lebih bergantung pada pada utang luar negeri sebagai sumber pembiayaan pembangunan.58

Melalui gaya pemerintahan yang birokratik legitimasi rezim orde baru dibawah presiden soharto semakin berkembang dan bertahan karena sebagian rakyat (khususnya kaum elit dan golongan menengah) memperoleh apa yang mereka inginkan, yaitu stabilitas politik dan keamanan yang terpnjang selama berdirinya republik Indonesia. Tidak dapat dipungkiri selama 25 tahun pertama, pertumbuhan ekonomi mencapai 6%, suatu angka pertumbuhan yang cukup baik.59

58Naming Prih Hatiningrum. 2004, Kajian Ekonomi Politik Kebijakan Harga BBM di Indonesia. Tesis. Semarang; Universitas Diponogoro hal 79

59 Ibid hal 80

Berikut ini adalah penjelasan mengenai kebijakan harga BBM pada masa Orde Baru pada masa pemerintahan Soeharto.

Pada era pemerintahan soeharto Subsidi BBM sudah diberikan sehingga harganya lebih murahh dibandingkan dengan harga BBM dipasar internasional. Subsidi BBM diberikan sebagai salah satu instrument kebijakan pemerintah soeharto untuk meredam dampak negative gejolak harga minyak mentah dipasar global dan untuk menjaga stabilitas politik serta mendorong laju pertumbuhan ekonomi.

Selama pemerintahan orde baru bukan berarti kebijakan subsidi BBM tidak menimbulkan pro dan kontra. Ada dua kubu yang berlawanan selama kurun waktu tersebut, yaitu pihak yang menginginkan pencabutan subsidi BBM dan pihak yang menginginkan subsidi BBM tetap dipertahankan. Pihak yang menganggap perlunya subsidi BBM tetap dipertahankan berpendapat bahwa pencabutan subsidi BBM berdampak pada kenaikan harga BBM yang sangat berdampak luar biasa pada sektor ekonomi dan politik. Dimana dengan kenaikan harga BBM juga akan mempengaruhi seluruh harga kebutuhan secara umum. Oleh karena itu, kelompok ini mengkahwatirkan dengan kenaikan harga BBM akan mengakibatkan terjadinya inflasi. Berbeda halnya dengan kubu yang setuju agar subsidi BBM dicabut, mereka bependapat dengan tidak adanya subsidi BBM maka akan melonggarkan beban APBN. Disamping itu juga subsidi dianggap tidak mengajarkan kepada masyarakat untuk hemat energi.

Tarik ulur kebijakan subsidi BBM pada pemerintahan soeharto menjadi polemic yang berkepanjangan pada tahun 1990 an. Oleh karena itu, kebijakan pengurangan subsidi BBM sangat tidak popular dimata masyarakat, khususnya tuntutan masyarakat kepada pemerintah

Tarik ulur kebijakan subsidi BBM pada pemerintahan soeharto menjadi polemic yang berkepanjangan pada tahun 1990 an. Oleh karena itu, kebijakan pengurangan subsidi BBM sangat tidak popular dimata masyarakat, khususnya tuntutan masyarakat kepada pemerintah

Dokumen terkait