• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

D. Pendekatan Keterampilan Proses (PKP)

Penerapan PKP dalam pembelajaran harus memperhatikan karakteristik siswa dan karakteristik mata pelajaran/bidang studi karena suatu kegiatan pembelajaran dapat terjadi pengembangan lebih dari satu macam keterampilan proses. Keterampilan dasar dalam keterampilan proses adalah mengobservasi, mengukur, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan. Pengembangan Keterampilan tersebut tidak berhenti hanya pada jenjang sekolah dasar saja, melainkan masih dikembangkan pada semua jenjang pendidikan (Dimyati dan Mudjiono, 2006: 151). Menurut Dimyati dan Mudjiono (2002: 198), keterampilan proses merupakan keterampilan yang diperoleh dari latihan kemampuan-kemampuan mental, fisik, dan sosial yang

mendasar sebagai penggerak kemampuan-kemampuan yang lebih tinggi. Sedangkan, menurut Semiawan (1987: 18), keterampilan proses adalah keterampilan-keterampilan memproseskan perolehan. Jadi, keterampilan proses adalah keterampilan yang diperoleh dari pengembangan kemampuan fisik dan mental pada proses tertentu.

Menurut W.Gulo (2002 dalam Sriregar 2010: 75), pendekatan pembelajaran adalah pandangan dalam mengupayakan cara siswa berinteraksi dengan lingkungannya. Menurut Dedikbut (1986: 7 dalam Dimyati dan Mudjiono 1999: 157), pendekatan keterampilan proses adalah wawasan atau anutan pengembangan keterampilan intelektual, sosial, dan fisik yang bersumber dari kemampuan-kemampuan dasar yang telah ada di dalam diri siswa. Sedangkan, menurut E. Mulyasa (2008: 90 dalam Anggun, dkk 2012: 3), pendekatan keterampilan proses merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses belajar, aktivitas, dan kreatifitas peserta didik dalam memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai, sikap, serta menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan, menurut Semiawan (1987: 18), pendekatan keterampilan proses adalah suatu pengelolaan kegiatan belajar-mengajar yang berfokus pada pelibatan siswa secara aktif dan kreatif dalam proses pemerolahan hasil belajar. Jadi berdasarkan pendapat diatas, peneliti menyimpulkan bahwa pendekatan keterampilan proses adalah suatu pengelolahan proses pembelajaran yang berfokus pada keterampilan fisik dan mental siswa

yang dikembangkan dalam menemukan fakta dan konsep serta menumbuhkan sikap untuk memperoleh nilai.

Menurut Nyimas Aisyah (2007: Unit6-4), keunggulan pendekatan keterampilan proses di dalam proses pembelajaran antara lain adalah:

1. Siswa terlibat langsung dengan objek nyata sehingga dapat mempermudah pemahaman siswa terhadap materi pelajaran, 2. Siswa menemukan sendiri konsep-konsep yang dipelajari, 3. Melatih siswa untuk berpikir lebih kritis,

4. Melatih siswa untuk bertanya dan terlibat aktif dalam pembelajaran,

5. Mendorong siswa untuk menemukan konsep-konsep baru, 6. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar

menggunakan metode ilmiah.

Menurut Dimyati dan Mudjiono (1999: 152), jenis-jenis keterampilan dalam keterampilan proses sebagai berikut:

a. Keterampilan-keterampilan dasar (basic skill).

Terdiri dari enam keterampilan, yakni: mengobservasi, mengklasifikasi, memprediksi, mengukur, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan.

b. Keterampilan-keterampilan terintegritas (integrated skill).

Terdiri dari sepuluh keterampilan, yakni: mengidentifikasi variabel, membuat tabulasi data, menyajikan data dalam bentuk

grafik, mengambarkan hubungan antar-variabel, mengumpulkan dan mengolah data, menganalisa penelitian, menyususn hipotesis, mendifinisikan variabel secara operasional, merancang penelitian, dan melaksanakan eksperimen (Funk, 1985:xiii dalam Dimyati dan Mudjiono, 1999: 140).

Keterampilan-keterampilan dasar dalam keterampilan proses menjadi landasan untuk keterampilan proses terintegrasi yang lebih kompleks. Keterampilan proses terintegritas pada hakikatnya merupakan keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk melakukan penelitian sains. Sains yang dimaksudkan adalah mata pelajaran matematika, fisika, biologi, dan kimia. Penerapan keterampilan proses terintegrasi dalam pembelajaran hendaknya dilakukan dengan urutan yang hirarkis. Maksud dari hirarkis tersebut adalah sebelum satu keterampilan dikuasai siswa jangan berpindah kepada keterampilan yang lainnya. Menurut Semiawan (1985: 18), fokus proses pembelajaran diarahkan pada pengembangan keterampilan siswa dalam memproseskan pengetahuan, menemukan, dan mengembangkan sendiri fakta, konsep, dan nilai-nilai yang diperlukan. Dalam penelitian ini peneliti akan melihat keterampilan-keterampilan dasar menurut Dimyati dan Mudjiono.

Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006: 141-150), prinsip-prinsip dalam kegiatan yang menjadi dasar pembelajaran PKP adalah sebagai berikut:

1. Mengamati atau mengobservasi

Melalui kegiatan mengamati, kita belajar tentang dunia sekitar. Manusia mengamati objek-objek dan fenomena alam dengan pancaindra yaitu: penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, dan perasa. Informasi yang kita peroleh dapat menuntut keiingintahuan, mempertanyakan, memikirkan, dan meneliti lebih lanjut tentang apa yang ditangkap oleh pancaindra kita. Contoh: siswa mengamati benda-benda yang berbentuk segitiga.

2. Mengklasifikasikan

Agar kita memahami sejumlah besar objek, peristiwa, dan segala yang ada dalam kehidupan sekitar kita, lebih mudah apabila menentukan berbagai jenis golongan. Kita menentukan golongan dengan mengamati persamaan, perbedaan, dan hubungan serta pengelompokan objek berdasarkan kesesuaian dengan berbagai tujuan. Mengklasifikasikan merupakan keterampilan proses untuk memilah berbagai objek peristiwa berdasarkan sifat-sifat khususnya, sehingga didapatkan golongan/kelompok sejenis dari objek peristiwa yang dimaksud. Contoh: siswa mengelompokkan benda-benda yang berbentuk segitiga siku dan yang bukan berbentuk segitiga siku-siku.

3. Mengkomunikasi

Kemampuan berkomunikasi dengan orang lain merupakan dasar untuk segala yang kita kerjakan. Grafik, bagan, peta, lambang-lambang, diagram, persamaan matematik, dan demonstrasi visual sama baiknya dengan kata-kata yang ditulis atau dibicarakan, semuanya adalah cara–cara berkomunikasi yang seringkali digunakan dalam ilmu pengetahuan. Mengkomunikasikan dapat diartikan sebangai menyampaikan dan memperoleh fakta, konsep, dan prinsip ilmu pengetahuan dalam bentuk suara, visual, atau suara visual. Contoh-contoh kegiatan dari keterampilan mengkomunikasikan adalah mendiskusikan suatu masalah, membuat laporan, membaca peta, dan kegitan lain sejenisnya.

4. Mengukur

Mengukur merupakan hal terpenting dalam membina observasi kuantitatif, mengklasifikasikan, dan membandingkan segala sesuatu di sekeliling kita, serta mengkomunikasikan secara tepat dan efektif kepada yang lain. Mengukur juga dapat diartikan sebagai membandingkan yang diukur dengan satuan ukuran tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Contoh-contoh kegiatan yang memperlihatkan keterampilan mengukur antara lain mengukur panjang garis, mengukur besar sudut dan lain sebagainya.

5. Memprediksi

Suatu prediksi merupakan suatu ramalan dari apa yang kemudian hari mungkin dapat diamati. Memprediksi dapat diartikan sebagai mengantisipasi atau membuat ramalan tentang segala hal yang akan terjadi pada waktu mendatang, berdasarkan perkiraan pada pola atau kecenderungan tertentu, atau hubungan antara fakta, konsep, dan prinsip dalam ilmu pengetahuan. Contoh kegiatan yang dapat digolongkan sebagai keterampilan memprediksi, antara lain: memprediksikan waktu yang akan dibutuhkan untuk menempuh jarak tertentu dengan menggunakan kendaraan dengan kecepatan tertentu, memprediksikan air yang dibutuhkan dalam pengisian botol dengan volume tertentu, dan kegiatan lain yang sejenis.

6. Menyimpulkan

Menyimpulkan dapat diartikan sebagai suatu keterampilan untuk memutuskan keadaan suatu objek atau peristiwa berdasarkan fakta, konsep, dan prinsip yang diketahui.

Jadi, langkah-langkah pendekatan keterampilan proses yang akan peneliti lakukan adalah sebagai berikut:

1. Mengobservasi

a. Siswa mengamati penjelasan guru tentang pengertian dan sifat-sifat persegi dan persegi panjang.

b. Siswa mengamati pemberian beberapa contoh benda-benda yang berbentuk bangun datar segiempat dan gambaran berbentuk persegi dan persegi panjang pada kertas asturo yang telah dibuat guru.

2. Mengklasifikasi

a. Siswa melihat benda-benda sekitar yang berhubungan dengan bentuk persegi dan persegi panjang. Siswa mengelompokkan benda-benda yang merupakan persegi dan persegi panjang.

b. Siswa mengelompokkan persegi dan persegi panjang berdasarkan pengertiannya dan sifatnya.

3. Mengkomunikasi

a. Siswa mendiskusikan dalam kelompok benda-benda apa saja yang merupakan bentuk persegi dan persegi panjang menurut pengertiannya dan sifat-sifatnya.

b. Siswa mengkomunikasikan hasil diskusi kelompok tentang benda-benda apa saja yang merupakan bentuk persegi dan persegi panjang menurut pengertiannya dan sifat-sifatnya di depan kelas.

4. Memprediksi

Siswa memprediksikan adanya sifat-sifat pada persegi dan persegi panjang.

5. Mengukur

Siswa mengukur untuk mengetahui kebenaran sifat-sifat persegi dan persegi panjang.

6. Menyimpulkan

Siswa menyimpulkan hasil belajar pada materi persegi dan persegi panjang.

Dokumen terkait