MEMBENTUK OPINI PUBLIK
3. Pendekatan koordinatif dan integratif
PR Telkom memiliki peranan yang lebih lebih luas tidak hanya membentuk reputasi baik perusahaan, tetapi juga berpartisipasi dalam menunjang program pembangunan nasional. Telkom memiliki mega proyek Indonesia Digital Society yang mendukung MP3EI (Master Plan Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) yang harus dikomunikasikan juga kepada khalayak luas
34
sebagai bentuk kepedulian Telkom untuk Indonesia, sehingga mampu membentuk reputasi yang baik bagi perusahaan. Tidak sekedar reputasi positif yang diharapkan, akan tetapi kontribusi Telkom untuk Indonesia juga mendukung pembangunan Indonesia berbasiskan pengembangan teknologi informasi dan komunikasi sehingga Indonesia memiliki daya saing di tingkat global.
Beberapa pendekatan komunikasi yang dilakukan PR Telkom diatas secara tidak langsung dalam periode tertentu mampu membentuk opini positif dari khalayak terhadap Telkom sebagai perusahaan yang menyediakan jasa dan layanan komunikasi yang baik. Hampir seluruh responden menganggap Telkom sebagai perusahaan yang bagus, berkembang, dan memiliki banyak produk untuk dikonsumsi. Strategi tersebut dianggap berhasil sehingga dapat memperoleh sikap dan persepsi yang menguntungkan dari khalayak sasarannya dan pada akhirnya akan tercipta suatu opini dan citra yang menguntungkan (Ruslan 2001).
Aktivitas sebagai Implementasi Strategi Public Relations Telkom
Public Relations melakukan pendekatan citra atau image dari suatu unit usaha penyedia barang dan jasa sebagai salah satu komponen dalam menjaga posisi unit usaha di pasar dan keberlangsungan usaha dalam jangka panjang. PR Telkom bertugas menciptakan pemahaman – pemahaman melalui kekuatan informasi. Informasi dapat bersumber dari realita mengenai produk Telkom Group yang disediakan, aktivitas perusahaan, maupun tanggung jawab sosial perusahaan yang informasinya disebarluaskan kepada publik Telkom. Sebagai bagian yang menjalankan fungsi strategis di perusahaan, Wasesa (2010) menjelaskan bahwa tugas PR adalah melakukan battle of opinions, dimana PR harus mampu menciptakan opini publik yang kuat sehingga berpengaruh terhadap opini yang datang dari benak publik, baik internal maupun eksternal perusahaan.
Ada dua aktivitas utama yang dilakukan PR Telkom dalam memberikan informasi kepada publik untuk membentuk opininya, yakni:
1. Internal communications
a. Publikasi dan sosialisasi untuk publik internal di website internal Telkom (Portal Telkom). Telkom memiliki portal khusus untuk karyawan yang menjadi bagian dari publik internal. PR Telkom mengelola portal tersebut untuk menyosialisasikan berbagai informasi terkait perusahaan, baik prestasi dan penghargaan Telkom, berita karyawan, capaian kinerja Telkom, dan artikel terkait lainnya. Hal ini dilakukan PR Telkom sebagai upaya untuk memberikan kemudahan bagi seluruh karyawan Telkom dalam mengakses informasi terbaru. Disamping itu, portal internal ini juga dimaksudkan sebagai sarana publikasi bagi karyawan terkait kegiatan – kegiatan yang dilakukan perusahaan sehingga karyawan selalu up to date terhadap informasi – informasi tersebut.
2. External communications
a. Media exposse (press release, press conference)
Fungsi dan tugas PR adalah menyelenggarakan publikasi atau menyebarluaskan informasi melalui berbagai media tentang aktivitas atau kegiatan perusahaan atau organisasi yang pantas untuk diketahui oleh publik. Setelah itu, menghasilkan publisitas untuk memperoleh
35 tanggapan positif secara lebih luas dari masyarakat. Dalam hal ini, tugas praktisi PR adalah menciptakan berita untuk mencari publisitas melalui kerjasama dengan pihak pers atau wartawan dengan tujuan menguntungkan citra lembaga atau organisasi yang diwakilinya (Ruslan 2000). PR Telkom juga mengandalkan kekuatan media untuk menghasilkan publisitas untuk memengaruhi opini publik terhadap perusahaan. Beberapa media, baik cetak, internet, ataupun radio di Jawa Timur yang menjadi rekan dari PR Telkom, adalah Jawa Pos, Investor Daily, Suara Karya, Antara, Bisnis Indonesia, Seputar Indonesia, Komputek, Surya, Radar Surabaya, Memo, Bangsa, Jakarta Post, Berita Lima, Okezone, Kompas, Viva News, Berita Jatim, Kabar Bisnis, Suara Surabaya, Radio Sonora, Radio Suara Surabaya, Radio Pas FM, dan Radio Pro2 FM (Lampiran 3).
b. Media relationship
Keberhasilan perusahaan dalam memperoleh publisitas dapat diperoleh dari hubungan yang harmonis dengan media. Peran media bagi Public Relations adalah sebagai saluran dalam penyampaian pesan yang berguna untuk memperkenalkan informasi dan pemberitaan dari PR sebagai kekuatan pembentuk opini (power of opinion) yang sangat efektif (Khadijah 2011). Beberapa aktivitas yang dilakukan oleh PR Telkom demi menjaga hubungan yang harmonis dengan media adalah media gathering. Kegiatan yang dilakukan dengan pers biasanya diwujudkan dalam bentuk sport gathering, kontak personal, berkumpul ketika ada event-event yang diliput, dan lain sebagainya dengan intensitas yang tidak rutin tapi sering dilakukan.
c. Customer education
Aktivitas lain yang dilakukan PR Telkom dalam memberikan aksi dan informasi kepada publik perusahaan adalah melalui kegiatan customer education. Edukasi dilakukan dalam bentuk company visit, seminar di perguruan tinggi setempat dan event ke sekolah – sekolah di Surabaya dan sekitarnya. Tanggal 11 Oktober 2013, Telkom bekerja sama dengan pihak perguruan tinggi setempat (Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel) untuk mengadakan pelatihan “Toko Online” yang diikuti oleh sekitar 30 peserta 7. Berbagai metode tersebut dilakukan dengan maksud untuk menyampaikan informasi seputar Telkom dalam bentuk kegiatan yang tidak terkesan “menggurui” dan menunjang pengembangan potensi dan bakat peserta dengan basis teknologi, informasi, dan komunikasi. d. Complain handling
Komplain dari konsumen ataupun stakeholders yang berkepentingan juga ditangani oleh PR Telkom. Dikhususkan untuk komplain via call center Telkom 147, penanganan komplain langsung dilakukan oleh bagian customer services. Seringkali, saat ini komplain dari publik terpublikasi di media online, seperti kaskus. Berbagai komentar terkait isu Telkom ataupun keluhan atas produk dan layanan Telkom dapat diakses jutaan pelanggan. Peranan PR Telkom disini adalah melakukan
7
Sumber : Data peserta pelatihan Toko Online LPKBI 2013 – 2014 Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel
36
kontrol dengan memberikan informasi yang relefan dengan isu supaya tidak memberikan kerugian bagi banyak pihak yang berkepentingan. e. Bekerjasama dengan unit – unit atau divisi terkait untuk beberapa
program
Berbagai upaya dalam memberikan aksi dan informasi kepada publik akan lebih efektif hasilnya jika dilakukan dengan integrasi dan kolaborasi yang baik dengan divisi – divisi lain dalam perusahaan. Hal ini juga dilakukan oleh PR Telkom untuk mengupayakan efektifitas penyampaian informasi kepada publik. Misalnya, pada mega proyek Digital Society, secara khusus PR Telkom berkoordinasi dengan unit pengembangan komunitas CDC (Community Development Center) dalam memberikan informasi kepada publik sasaran melalui sosialisasi, pengembangan kapasitas dari komunitas, dan lain sebagainya.
f. Event Management
Aktivitas event management dilakukan oleh PR Telkom. Bagi setiap kegiatan di luar kantor yang diprakarsai oleh Telkom, peran PR adalah menyusun informasi – informasi apa yang dapat dibawa pada kegiatan tersebut sebagai sarana edukasi dan persuasi. PR Telkom juga menyiapkan press converence atau sesi bagi pers atau media untuk meliput kegiatan dan memperoleh informasi seputar kegiatan sebagai data untuk dipublikasikan.
37
AKTIVITAS PENYAMPAIAN INFORMASI OLEH PUBLIC
RELATIONS DAN OPINI PUBLIK PROGRAM
INDIPRENEUR TELKOM
Aktivitas Penyampaian Informasi Program IndiPreneur Telkom
IndiPreneur Telkom adalah salah satu program baru Telkom yang diinisiasi untuk mendukung program pembangunan perekonomian nasional Indonesia dengan UMKM (Usaha Menengah Kecil dan Mikro) sebagai sasarannya. Informasi seputar program tersebut mutlak dibutuhkan oleh UMKM maupun seluruh stakeholders lainnya yang menjadi publik perusahaan agar dapat berkontribusi dalam mencapai tujuan program dan tentunya juga mampu membangun UMKM di seluruh wilayah Indonesia.
Pemberitaan di media
Segala bentuk aktivitas penyampaian informasi yang dilakukan oleh PR Telkom bertujuan untuk membentuk persepsi di benak publik terhadap perusahaan. Salah satunya adalah melakukan sinergi dengan pihak media untuk memberitakan program, kegiatan, dan isu mengenai perusahaan sehingga diketahui oleh publik luas. PR Telkom menyusun press release terkait isu atau kegiatan perusahaan yang ingin diberitakan kepada khalayak luas dan didistribusikan kepada beberapa media massa cetak (Lampiran 2). Press Release seputar kegiatan IndiPreneur telah didistribusikan kepada media cetak lokal, seperti Jawa Pos, Antara, Seputar Indonesia, Surya, dan Radar Surabaya.
Pemberitaan di internet
Telkom merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang disoroti keberadaannya oleh berbagai pihak karena dikenal dengan produk dan layanannya serta kegiatan dan prestasi yang dikonsumsi oleh masyarakat yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Perkembangan teknologi dan informasi yang sangat pesat saat ini merupakan suatu peluang bagi PR sebagai penghubung antara perusahaan dengan khalayak luas untuk mendistribusikan informasi – informasi tersebut. PR Telkom bekerjasama dengan berbagai warta berita online untuk juga ikut menginformasikan kepada berbagai pihak mengenai produk, layanan, prestasi, dan aktivitas dari Telkom. Pemberitaan melalui internet juga dilakukan oleh PR Telkom dengan mengaktifkan portal atau website resmi milik Telkom, yakni www.telkom.co.id yang berisi berbagai macam ulasan mengenai Telkom Group yang bisa diakses secara terbuka oleh khalayak luas serta website khusus IndiPreneur (www.smartbisnis.co.id) yang secara khusus dibuat untuk mewadahi para penggunanya.
Berita mengenai program IndiPreneur Telkom yang terbilang masih baru tersebut dapat diakses dengan cepat di media internet. Berbagai artikel terkait telah banyak diterbitkan oleh berbagai portal berita online, seperti Republika Online, Berita Jatim, Kabar Bisnis, Koran Indonesia, dan lain sebagainya sebanyak 48 media online (Lampiran 3), website Telkom dan website Indipreneur sendiri. Beberapa waktu yang lalu, pemberitaan prestasi Telkom terkait program IndiPreneur tersebut tercatat dalam Rekor Muri di Sidoarjo, Jawa Timur. Telkom juga mengadakan IndiPreneur Fest pada tahun 2013 dan juga diberitakan oleh banyak warta berita online yang dapat diakses secara bebas oleh khalayak luas.
38
Sosialisasi dan Brosur
Sosialisasi dilakukan oleh pihak Telkom sebagai bentuk komunikasi dengan publik IndiPreneur atau sasaran program tersebut, yakni pengelola UMKM yang juga menjadi mitra binaan Telkom. Secara khusus, sosialisasi dikelola oleh bagian pembinaan komunitas atau community relations yang dijalankan oleh CDC (Community Development Center). Tidak hanya kepada mitra binaan, sosialisasi juga pernah diadakan dengan mengajak rekan – rekan mahasiswa yang memiliki jiwa entrepreneur agar dapat terdedah informasi seputar bisnis berbasiskan media digital yang diusung Telkom sejak tahun 2013.
Penyampaian informasi seputar IndiPreneur kepada pihak terkait dalam sosialisasi dilakukan selama beberapa jam dengan sekaligus memberikan praktek langsung bagi peserta untuk dapat menggunakan perangkat komputer, layanan internet dan email, serta mendaftarkan unit bisnis atau UMKM peserta di website IndiPreneur www.smartbisnis.co.id. PR Telkom disini bersinergi dengan divisi CDC untuk melaksanakan sosialisasi dengan melakukan pertukaran informasi seputar IndiPreneur sehingga tidak terjadi kesalahpahaman di masa depan terkait dengan pemberitaan yang akan dipublikasikan oleh PR Telkom.
Sosialisasi dan pelatihan bagi UMKM pada tahun 2014 dilakukan selama beberapa kali. Tanggal 24 Februari 2014 dilakukan sosialisasi dan pelatihan bagi UMKM di beberapa tempat dalam waktu yang berbeda, yakni di BLC Margoyoso dan Dinoyo, Surabaya, Jawa Timur. Pelatihan untuk anggota mitra Telkom lainnya juga dilakukan di tempat yang sama pada bulan Maret 2014 dan dihadiri oleh puluhan peserta.8
Tingkat Pengetahuan mengenai Ragam dan Frekuensi Aktivitas Penyampaian Informasi Program IndiPreneur Telkom
Responden dalam penelitian ini adalah pengelola UMKM yang menjadi mitra binaan Telkom yang berlokasi di Surabaya, Jawa Timur. Berdasarkan data yang sudah diolah, didapatkan hasil bahwa penyampaian pesan seputar IndiPreneur melalui sosialisasi yang diberikan pihak Telkom kepada UMKM mitra binaan lebih banyak diketahui oleh responden dengan presentase sebesar 62 % (Gambar 4). Artinya, sosialisasi digunakan sebagai sumber informasi utama bagi pengelola UMKM dalam mengetahui lebih jauh informasi mengenai IndiPreneur tersebut, sedangkan media cetak, internet, dan brosur sebagai sumberi informasi memiliki porsi yang lebih kecil diketahui dan diakses oleh responden dengan presentase masing – masing sebesar 9%, 4%, dan 2%. Sisanya sebesar 23 % adalah tingkat pengetahuan resonden terhadap media penyampai informasi IndiPreneur dari rekan, teman, atau saudara.
8
39
Gambar 6 Presentase ragam aktivitas penyampaian pesan yang diketahui responden
Keseluruhan responden mengungkapkan bahwa sosialisasi adalah sumber informasi utama sehingga responden mengetahui berbagai informasi tentang program dari sosialisasi tersebut. Sumber informasi lainnya seperti pemberitaan di media cetak, internet, ataupun brosur tidak banyak diketahui. Hal ini mengindikasikan bahwa aktivitas penyampaian pesan oleh PR Telkom yang diketahui responden tidak beragam. Kenyataan tersebut diperkuat dengan pernyataan responden HR yang sudah menjadi mitra Telkom selama 4 tahun sebagai berikut.
“Program UKM Online dari Telkom itu taunya dari sosialisasi mbak. Dapat telepon dari orang Telkomnya untuk datang ke sosialisasi. Kalau dari internet tidak mbak, karena memang tidak pakai internet. Masih ada kebutuhan lain. Koran juga tidak langganan” (HR, pengusaha potong kertas struk).
Hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yakni jangkauan berita yang tidak sampai kepada responden (pemberitaan di media internet atau media cetak lebih umumnya tersegmentasi pada kalangan menengah ke atas), responden yang tidak akses kepada internet ataupun surat kabar, dan juga frekuensi pemberitaan yang tidak terlalu sering. Terhitung pada tahun 2014, jumlah pemberitaan di media dari Press Release yang disediakan oleh PR Telkom hanya sebanyak tiga kali pemberitaan. Hal ini tentu saja berdampak pada opini dan sikap publik terhadap program tersebut. Hampir 100% responden mengaku tidak mengetahui program IndiPreneur sebelum menerima sosialisasi dari pihak Telkom.
Fungsi dan tugas PR adalah menyelenggarakan publikasi atau menyebarluaskan informasi melalui berbagai media tentang aktivitas atau kegiatan perusahaan yang pantas untuk diketahui oleh publik, kemudian menghasilkan publisitas untuk memperoleh tanggapan positif secara lebih luas dari masyarakat. Tugas praktisi PR adalah menciptakan berita untuk mencari publisitas melalui kerjasama dengan pihak pers atau wartawan dengan tujuan menguntungkan citra lembaga atau organisasi yang diwakilinya (Ruslan 2000). Publikasi melalui media dan pers yang dilakukan oleh PR kurang tersegmentasi dengan tepat, khususnya untuk program IndiPreneur sehingga pada akhirnya pengelola UMKM yang tidak akses menjadi tidak mengetahui informasi dari
Sosialisasi 62% Media Cetak 9% Media Internet 4% Brosur 2% Rekan/Saudara 23%
40
media – media yang bersangkutan. Berkaitan dengan kondisi tersebut, PR Telkom bertugas dalam membentuk persepsi terlebih dahulu di benak publik sehingga publik paling tidak mengetahui bahwa Telkom memiliki program tersebut. Menyadari perihal tersebut, PR tidak dapat berdiri sendiri ketika akan menyampaikan informasi dan membentuk opini publik terhadap program Telkom tersebut ataupun perusahaan secara umumnya. Akan tetapi, PR juga mensinergikan dirinya dengan divisi terkait, seperti CDC, dalam menyampaikan informasi yang dibutuhkan publik sehingga terciptalah sosialisasi yang dikhususkan bagi mitra binaan Telkom serta kelompok lain yang membutuhkan sosialisasi menurut pihak Telkom. Jadi, pemberitaan di media saja memang tidak cukup untuk membentuk persepsi, opini, dan sikap publik yang terkait dengan pelaksanaan program tersebut. Terutama bagi penerima manfaat program, adanya sosialisasi dan pembinaan secara berkala dapat memacu semangat dalam mengembangkan UMKM. Bagi pihak Telkom sendiri, disamping penilaian yang baik terhadap perusahaan oleh publik, keikutsertaan berbagai pihak dalam mendukung program tersebut tentu akan memberikan keuntungan bisnis (peningkatan jumlah pelanggan produk dan jasa Telkom) serta tercapainya pemenuhan tanggung jawab Telkom untuk Indonesia.
Berdasarkan beberapa sumber informasi seputar IndiPreneur yang diketahui responden sesuai penjelasan diatas, dapat pula dianalisis tingkat pengetahuan responden mengenai ragam aktivitas penyampaian pesan tersebut. Didapatkan hasil bahwa tingkat pengetahuan responden mengenai ragam aktivitas penyampaian pesan tentang IndiPreneur berada pada kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa tidak banyak responden yang mengetahui dan tidak mengakses sumber media selain sosialisasi untuk mengetahui info seputar program IndiPreneur. Sebaran dan presentase responden dapat dilihat pada tabel dan diagram berikut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 50 % responden memiliki tingkat pengetahuan mengenai ragam aktivitas penyampaian pesan tentang IndiPreneur yang sedang. Tidak berbeda jauh dengan presentase dari kategori sedang, tingkat pengetahuan responden pada kategori rendah memiliki presentase sebesar 46,7 %. Sedangkan untuk tingkat pengetahuan responden pada kategori tinggi hanya sebesar 3,3 %. Artinya, sedikit responden yang mengetahui media penyampaian pesan mengenai IndiPreneur selain melalui sosialisasi.
Gambar 7 Tingkat pengetahuan responden mengenai ragam penyampaian pesan
0 10 20 30 40 50 60
Rendah Sedang Tinggi
Presentase
41 Sejalan dengan ragam media penyampaian pesan yang diketahui responden, pengetahuan responden mengenai frekuensi penyampaian pesan melalui beberapa media tersebut masih rendah dengan presentase sebanyak 50 %. Tingkat pengetahuan pada kategori sedang sebesar 46,7 % dan 3,3 % pada kategori tinggi. Artinya, sebagian responden tidak mengetahui secara pasti seberapa sering media – media tersebut memberitakan atau menyebarluaskan informasi seputar program IndiPreneur (Gambar 8).
Gambar 8 Tingkat pengetahuan responden mengenai frekuensi penyampaian pesan
Berdasarkan pengakuan responden yang hampir keseluruhan mengetahui program tersebut via sosialisasi, rata – rata mengetahui sosialisasi dilakukan sebanyak satu kali (tidak sering) dan hampir tidak mengetahui seberapa sering diberitakan melalui media lainnya, baik cetak ataupun internet. Hal ini juga dinyatakan oleh SI.
“Pemberitahuan sosialisasi dapatnya sekali mbak. Orang Telkom yang menelepon secara langsung untuk memberikan instruksi ikut sosialisasi. Diajak teman juga sekali untuk datang, kebetulan mitra binaan dengan Telkom juga” (SI, pedagang alas kaki).
Pernyataan SI tersebut juga diperkuat oleh ungkapan dari ES sebagai berikut.
“Saya taunya dari teman sekali. Kalau dari koran atau internet tidak pernah mbak. Tidak sempat juga buka – buka di internet atau baca koran mbak. Mending cari duit” (ES, pedangang sepatu).
Tingkat Penilaian terhadap Kekuatan Rancangan Pesan terkait Program IndiPreneur Telkom
Kekuatan rancangan pesan merupakan elemen penting dalam menyampaikan informasi kepada khalayak luas. Penelitian ini menggunakan komponen ANSVA menurut Alan H Monroe dalam Kusumastuti (2009), yakni terdapat lima tahapan urutan motif sesuai cara berpikir manusia dalam formula tersebut: Attention (perhatian), Need (kebutuhan), Satisfaction (kepuasan), Visualization (visualisasi),dan Action (tindakan).
Secara keseluruhan, penilaian responden terhadap kekuatan rancangan pesan tentang IndiPreneur berada pada kategori rendah dengan presentase yang cukup
0 10 20 30 40 50 60
Rendah Sedang Tinggi
Presentase
42
tinggi, yakni sebesar 93,3 %. Angka tersebut dapat dikaitkan dengan pengetahuan responden mengenai ragam aktivitas penyampaian pesan tentang IndiPreneur yang berbanding terbalik dengan variabel penilaian terhadap kekuatan rancangan pesan ini. Pengetahuan yang tidak cukup tinggi terhadap ragam aktivitas penyampaian pesan membuat responden juga tidak cukup pertimbangan untuk menilai bagaimana kekuatan rancangan pesan dari masing – maisng media penyampai pesan seputar IndiPrenuer sesuai formula ANSVA. Berikut merupakan gambaran lebih detail dari penilaian responden terhadap kekuatan rancangan pesan dari masing – masing media penyampai pesan seputar IndiPreneur Telkom yang terbagi dalam tiga kategori, yakni rendah, sedang dan tinggi.
Gambar 9 Tingkat penilaian responden terhadap kekuatan rancangan pesan (akumulasi)
Diagram berikut menggambarkan bahwa rata – rata penilaian responden terhadap kekuatan rancangan pesan dari masing – masing media berada pada kategori rendah dengan komposisi yang jauh berbeda dengan komponen sedang dan tingginya. Tingkat penilaian pada kategori tinggi hanya ada pada sosialisasi, yakni sebesar 63,3 %.
Gambar 10 Tingkat penilaian responden terhadap kekuatan rancangan pesan berdasarkan ragam media
0 20 40 60 80 100
Rendah Sedang Tinggi
Presentase
Penilaian terhadap kekuatan rancangan pesan
Media Cetak Media
Internet Brosur Sosialisasi
Rekan/Sauda ra Rendah 90 96,7 93,3 6,7 73,3 Sedang 6,7 3,3 3,3 30 20 Tinggi 3,3 0 3,4 63,3 6,7 0 20 40 60 80 100 120 Presen tase
43 Penilaian pada kekuatan pesan yang tinggi pada media sosialisasi didukung oleh pernyataan CKD berikut.
“Sudah cukup menarik informasi yang disampaikan, tetapi masih kurang mbak waktunya. Masih belum paham betul jadi sebaiknya ada sosialisasi lagi. Tapi keseluruhan sudah memuaskan dan menarik” (CKD, pedagang baju, tas, sepatu wanita).
Pernyataan tersebut juga diperkuat dengan ungkapan SI sebagai berikut berikut.
“Sudah cukup memuaskan tetapi secara pribadi masih kurang. Inginnya nambah lagi biar lebih paham dan bisa mengelola bisnis online” (SI, pedagang sepatu).
Hal ini dapat terjadi mengingat sosialisasi merupakan ragam aktivitas penyampaian pesan yang diketahui dan diakses oleh seluruh responden, sedangkan untuk media cetak, internet, brosur, dan informasi dari rekan atau saudara, penilaian responden berada pada kategori rendah dengan presentase diatas 90 % untuk media cetak, internet, dan brosur serta 73,3 % untuk penilaian terhadap informasi dari rekan atau saudara responden dikarenakan rata – rata responden mengungkapkan bahwa mereka tidak mengakses atau tidak mengetahui informasi seputar IndiPreneur dari media yang bersangkutan.
Opini Publik terkait Pelaksanaan Program IndiPreneur Telkom
Cutlip dan Center dalam Effendy (1999) menjelaskan opini sebagai pengekspresian suatu sikap mengenai persoalan yang mengandung pertentangan. Memahami opini seseorang, terutama opini publik, bukanlah susuatu yang sederhana. Seorang praktisi Public Relations hendaknya dapat memahami secara berkala opini yang tengah beredar dalam segmen publiknya. Opini sendiri punya kaitan yang erat dengan sikap atau attitude (Kasali 1994). Penelitian ini menggunakan tiga elemen sikap, yakni affect, cognition, dan behaviour untuk menilai opini publik, khususnya terhadap program IndiPreneur Telkom.
Gambar 11 Opini publik berdasarkan tingkat affect, cognition, dan behaviour 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
Affect Cognition Behaviour
Presentase
Opini publik berdasarkan tingakatan affect, cognition, dan behaviour
Rendah Sedang Tinggi
44
Opini publik berdasarkan komponen affect, cognition, dan behaviour terhadap program IndiPreneur Telkom adalah tinggi pada tingkatan affect dan cognition, akan tetapi sedang pada tingkatan behaviour-nya dengan presentase masing – masing 53,3 %, 83,3 %, dan 60 %. Angka tersebut menunjukkan bahwa aktivitas – aktivitas penyampaian pesan yang dilakukan PR Telkom bekerjasama