BAB 2 PEMAHAMAN PENANGANAN KAWASAN PERMUKIMAN KUMUH PERKOTAAN . 27
2.2 Pemahaman Berdasarkan Pedoman Penyusunan RP2KPKP
2.2.4 Pendekatan RP2KPKP Dalam Skema Program Penanganan Permukiman Kumuh
Amanat Undang-undang No.1 tahun 2011 dimana penyelenggaraan kawasan permukiman perlu didasarkan pada suatu dokumen rencana yang terpadu dan terintegrasi yaitu Rencana Kawasan Permukiman, dapat diartikan pula bahwa dalam konteks penanganan permukiman kumuh perlu juga memiliki suatu instrumen yang dapat menaungi upaya pencegahan dan peningkatan permukiman kumuh yaitu RP2KPKP. Terkait hal ini RP2KPKP diharapkan dapat menjadi:
1. Satu-satunya dokumen yang menjadi acuan Pemerintah Kab./Kota dalam upaya pencegahan dan peningkatan kualitas permukiman kumuh
2. Dokumen rencana yang mengintegrasikan program-program pencegahan dan peningkatan kualitas permukiman kumuh (program penanganan permukiman kumuh dari Pemerintah Kab./Kota, NUSP-SIAP, P2KKP/KOTAKU, program regular dari APBN/Provinsi, dll)
Dalam hal ini pemerintah daerah (kabupaten/kota) menjadi aktor dan pelaku utama dalam penanganan permukiman kumuh, mulai dari tahap perencanaan melalui fasilitasi penyusunan RP2KPKP dari pemerintah pusat, hingga ke pelaksanaan dan pengelolaannya, terutama terhadap kawasan permukiman kumuh yang memiliki kompleksitas permasalahan yang relatif ringan, sehingga nantinya penanganannya dapat dilakukan di tingkat kelurahan.
Pemerintah daerah juga dapat mengakses kemungkinan program penanganan lainnya yang dicanangkan oleh pemerintah pusat, terutama terhadap kawasan-kawasan permukiman kumuh yang memiliki kompleksitas permasalahan yang masiv dan memerlukan keterpaduan penanganan dari sisi pelaku serta sumber pendanaan, sebagaimana yang dapat dijelaskan pada skema di bawah ini.
Sumber: Permen PU dan Perumahan Rakyat Nomor 14/PRT/M/2018
Gambar 2-2 Keterkaitan RP2KPKP dengan Program-program Penanganan Permukiman Kumuh Lainnya
B A B 3
K A J I A N K E B I J A K A N P E M B A N G U N A N P E R M U K I M A N P E R K O T A A N
Bab ini menjelaskan mengenai gambaran umum permukiman kumuh pada Kota Salatiga yang mencakup
luasan, tingkat kekumuhan serta prioritas permukiman kumuh.
3 . 1 G A M B A R A N P E R M U K I M A N K U M U H K O T A S A L A T I G A
Mengacu pada Surat Keputusan Walikota Salatiga No. 658/440/2016 tentang Lokasi Penetapan Program Kota Tanpa Kumuh di Kota Salatiga, pada saat ini kawasan permukiman yang teridentifikasi sebagai kawasan permukiman kumuh di Kota Salatiga terdapat 54 kawasan dengan luas 231,82 Ha sebagai lokasi pencegahan tumbuh dan berkembangnya permukiman kumuh dan 9 kawasan dengan luas 21,84 Ha sebagai lokasi peningkatan kualitas permukiman kumuh. Luasan dan lokasi tersebut menjadi baseline data pemerintah kota untuk ditangani menjadi nol luasan kumuh. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan keterlibatan dan keterpaduan penanganan dari berbagai pemangku kepentingan termasuk peran serta kelompok swadaya masyarakat.
Berdasarkan persentase terdapat 27% (11 kawasan) permukiman kumuh yang tingkat kekumuhan sedang dan 83% (52 kawasan) dengan tingkat kekumuhan ringan. Dan berdasarkan luas kawasan permukiman kumuh diketahui bahwa kawasan Kauman Kidul 2 merupakan kawasan permukiman kumuh terluas yaitu: 20,65 Ha dan disusul Noborejo 1 dan Tegalrejo 1. Menurut UU Nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintah daerah, kawasan permukiman kumuh di Kota Salatiga menjadi wewenang pemerintah Kota Salatiga karena untuk peningkatan kualitas permukiman kumuh semuanya kurang dari 10 Ha
Berikut diagram persentase kawasan permukiman berdasarkan tingkat kekumuhan dan Jumlah Permukiman Kumuh Salatiga Berdasarkan Luas yang menjadi kewenangan pemerintah Kota Salatiga, Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah
Sumber: Tim penyusun, 2018
Gambar 3-1 Persentase Permukiman Kumuh Salatiga Berdasarkan Tingkat Kekumuhan
Sumber: Tim penyusun, 2018
Gambar 3-2 Jumlah Permukiman Kumuh Salatiga Berdasarkan Luas
Berikut lokasi pencegahan tumbuh dan berkembangnya permukiman kumuh Surat Keputusan Walikota Salatiga No. 658/440/2016 tentang Lokasi Penetapan Program Kota Tanpa Kumuh di Kota Salatiga.
83%
17%
kumuh ringan kumuh sedang
0 10 20 30 40 50 60
luas <10 ha Luas 10 - 15 Ha Luas >15 ha
Tabel 3-1 Lokasi Pencegahan Tumbuh dan Berkembangnya Permukiman Kumuh
No Kecamatan Kelurahan Nama Kawasan Lokasi Luas Kawasan (Ha) Jumlah Penduduk (Jiwa) Tingkat Kekumuhan Proritas Penanganan
1 Argomulyo Cebongan Cebongan 1 RT 04 RW I 4,94 605 kumuh sedang prioritas 8
RT 05 RW I RT 06 RW I
Cebongan 2 RT 01 RW VI 6,36 570 kumuh ringan prioritas 3
RT 02 RW VI RT 03 RW VI
Kumpulrejo Kumpulrejo RT 04 RW I 8,15 500 kumuh ringan prioritas 6
RT 05 RW I
Ledok Ledok 1 RT 01 RW II 3,13 278 kumuh ringan prioritas 3
RT 04 RW II
Ledok 2 RT 04 RW III 2,59 390 kumuh ringan prioritas 3
RT 05 RW III RT 07 RW III
Ledok 3 RT 02 RW IV 1,53 120 kumuh ringan prioritas 3
Ledok 4 RT 01 RW V 3,05 560 kumuh ringan prioritas 3
Ledok 5 RT 01 RW VI 4,21 560 kumuh ringan prioritas 3
RT 02 RW VI
Ledok 6 RT 01 RW VII 4,68 610 kumuh ringan prioritas 3
RT 02 RW VII RT 03 RW VII
Ledok 7 RT 01 RW VIII 2,00 250 kumuh ringan prioritas 3
Noborejo Noborejo 1 RT 01 RW IV 12,94 931 kumuh ringan prioritas 3
RT 02 RW IV RT 03 RW IV RT 04 RW IV
Noborejo 2 RT 01 RW X 6,36 376 kumuh ringan prioritas 6
RT 02 RW X RT 03 RW X
Randuacir Randiacir 1 RT 01 RW I 7,95 350 kumuh ringan prioritas 3
RT 02 RW I
Randuacir 2 RT 02 RW II 2,96 216 kumuh sedang prioritas 5
Randuacir 3 RT 03 RW V 4,62 285 kumuh ringan prioritas 6
RT 04 RW V
Tegalrejo Tegalrejo 1 RT 02 RW I 12,3 1589 kumuh ringan prioritas 3
RT 06 RW I RT 01 RW II RT 02 RW II RT 03 RW II RT 03 RW III RT 04 RW III
Tegalrejo 2 RT 02 RW V 3,10 310 kumuh ringan prioritas 3
No Kecamatan Kelurahan Nama Kawasan Lokasi Luas Kawasan (Ha) Jumlah Penduduk (Jiwa) Tingkat Kekumuhan Proritas Penanganan
Tegalrejo 4 RT 05 RW V 1,10 200 kumuh ringan prioritas 3
Tegalrejo 5 RT 06 RW V 0,61 200 kumuh ringan prioritas 3
2 Sidomukti Dukuh Dukuh RT 04 RW VI 4,60 835 kumuh sedang prioritas 2
RT 05 RW VI
Kecandran Kecandran 1 RT 01 RW VI 4,21 350 kumuh sedang prioritas 8
Kecandran 2 RT 03 RW VI 6,77 460 kumuh ringan prioritas 6
Kecandran 3 RT 06 RW VI 3,61 440 kumuh sedang prioritas 5
Mangunsari Mangunsari 1 RT 01 RW IV 1,58 445 kumuh ringan prioritas 3
RT 03 RW IV RT 04 RW IV RT 05 RW IV
Mangunsari 2 RT 06 RW IX 0,74 216 kumuh ringan prioritas 3
3 Sidorejo Blotongan Blotongan 1 RT 03 RW III 2,18 330 kumuh ringan prioritas 3
Blotongan 2 RT 02 RW VIII 4 581 kumuh sedang prioritas 5
RT 03 RW VIII RT 04 RW VIII RT 05 RW VIII
Bugel Bugel 1 RT 01 RW V 1,67 252 kumuh sedang prioritas 2
RT 03 RW V
Bugel 2 RT 02 RW V 4,28 334 kumuh ringan prioritas 3
RT 04 RW V
Kauman Kidul Kauman Kidul 1 RT 01 RW I 1,79 100 kumuh ringan prioritas 3
Kauman Kidul 2 RT 02 RW I 20,65 1444 kumuh ringan prioritas 3
RT 03 RW I RT 02 RW II RT 03 RW II RT 02 RW III RT 01 RW IV
Kauman Kidul 3 RT 01 RW II 3,19 320 kumuh sedang prioritas 5
Kauman Kidul 4 RT 01 RW V 5,68 650 kumuh ringan prioritas 3
RT 03 RW V RT 01 RW VI RT 03 RW VI RT 02 RW VI
Kauman Kidul RT 02 RW V 3,13 208 kumuh ringan prioritas 3
Pulutan Pulutan 1 RT 01 RW I 0,76 93 kumuh ringan prioritas 6
Pulutan 2 RT 04 RW I 7,21 1080 kumuh ringan prioritas 3
Pulutan 3 RT 01 RW II 0,74 140 kumuh sedang prioritas 3
RT 02 RW II RT 03 RW II
Pulutan 4 RT 01 RW III 6,31 775 kumuh ringan prioritas 3
RT 02 RW III RT 03 RW III
No Kecamatan Kelurahan Nama Kawasan Lokasi Luas Kawasan (Ha) Jumlah Penduduk (Jiwa) Tingkat Kekumuhan Proritas Penanganan
Pulutan 5 RT 03 RW IV 4,85 510 kumuh ringan prioritas 3
Pulutan 6 RT 01 RW V 2,51 400 kumuh ringan prioritas 3
Pulutan 7 RT 02 RW V 2,88 400 kumuh sedang prioritas 5
RT 05 RW V
Pulutan 8 RT 03 RW V 2,61 320 kumuh ringan prioritas 6
Pulutan 9 RT 04 RW V 1,17 130 kumuh ringan prioritas 3
Pulutan 10 RT 02 RW I 0,96 120 kumuh ringan prioritas 6
RT 03 RW I RT 01 RW IV RT 02 RW IV
Sidorejo Lor Sidorejo Lor 1 RT 02 RW I 4,86 663 kumuh ringan prioritas 3
RT 03 RW I RT 02 RW IV RT 01 RW IV
4 Tingkir Gendongan Gendongan 1 RT 01 RW I 5,99 678 kumuh ringan prioritas 6
RT 05 RW I RT 06 RW I RT 05 RW II RT 09 RW I
Gendongan 2 RT 02 RW II 2,02 458 kumuh ringan prioritas 3
RT 03 RW II RT 09 RW II
Kalibening Kalibening 1 RT 03 RW I 1,91 208 kumuh ringan prioritas 6
Kalibening 2 RT 02 RW II 3,4 324 kumuh ringan prioritas 6
RT 03 RW II
Sidorejo Sidorejo Kidul 1 RT 02 RW VI 2,2 250 kumuh ringan prioritas 3
Tingkir Lor Tingkir Lor 1 RT 01 RW I 8,28 868 kumuh ringan prioritas 3
RT 02 RW I RT 03 RW I RT 02 RW IV RT 01 RW IV
Tingkir Tengah Tingkir Tengah 1 RT 01 RW IV 2,01 330 kumuh sedang prioritas 8
RT 02 RW IV
Tingkir Tengah 2 RT 01 RW VII 8,73 783 kumuh ringan prioritas 9
RT 02 RW VII RT 03 RW VII RT 04 RW VII RT 05 RW VII
Sumber: Surat Keputusan Walikota Salatiga No. 658/440/2016 tentang Lokasi Penetapan Program Kota Tanpa Kumuh di Kota Salatiga,
Tabel 3-2 Lokasi Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh
Kecamatan Kelurahan Nama Kawasan Lokasi Luas Kawasan (Ha) Jumlah Penduduk (Jiwa) Tingkat Kekumuhan Prioritas Penanganan
Sidorejo Salatiga Salatiga 1 RT 04/RW IV 1,36 350 kumuh ringan prioritas 3
RT 05/RW V
Salatiga 2 RT 01/RW V 2,78 160 kumuh ringan prioritas 3
Salatiga 3 RT 08/RW V 0,73 280 kumuh ringan prioritas 3
Salatiga 4 RT 03/RW VII 2,69 695 kumuh ringan prioritas 3
RT 05/RW VII RT 07/RW VII RT 08/RW VII
Sidomukti Kalicacing Kalicacing 1 RT 06/RW I 2,91 600 kumuh ringan prioritas 3
RT 05/RW III RT 06/RW III
Kalicacing 2 RT 04/RW IV 8,2 1746 kumuh ringan prioritas 3
RT 05/RW IV RT 06/RW IV RT 01/RW V RT 02/RW V RT 03/RW V RT 04/RW V
Tingkir Kutowinangun Lor Kutowinangun Lor 1 RT 01/RW IV 1,47 453 kumuh ringan prioritas 3
RT 02/RW IV RT 03/RW IV RT 05/RW IV RT 04/RW IV
Kutowinangun Lor 2 RT 01/RW V 0,56 150 kumuh ringan prioritas 3
Kutowinangun Kidul 1 RT 05/RW II 1,14 388 kumuh ringan prioritas 3
RT 06/RW II RT 07/RW II RT 08/RW II
Sumber: Surat Keputusan Walikota Salatiga No. 658/440/2016 tentang Lokasi Penetapan Program Kota Tanpa Kumuh di Kota Salatiga,
3 . 2 I S U S T R A T E G I S P E M B A N G U N A N P E R U M A H A N D A N K A W A S A N P E R M U K I M A N P E R K O T A A N
3.2.1 ISU STRATEGIS PEMBANGUNAN PERMUKIMAN NASIONAL
Perumahan dan kawasan permukiman adalah satu kesatuan sistem yang terdiri atas pembinaan, penyelenggaraan perumahan, penyelenggaraan kawasan permukiman, pemeliharaan dan perbaikan, pencegahan dan peningkatan kualitas terhadap Permukiman Kumuh, penyediaan tanah, pendanaan dan sistem pembiayaan, serta peran masyarakat.
Pencegahan dan peningkatan kualitas terhadap Permukiman Kumuh guna meningkatkan mutu kehidupan dan penghidupan masyarakat penghuni dilakukan untuk mencegah tumbuh dan berkembangnya Permukiman Kumuh baru serta untuk menjaga dan meningkatkan kualitas dan fungsi perumahan dan permukiman. Pencegahan dan peningkatan kualitas terhadap Permukiman Kumuh wajib dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau setiap orang.
Pembangunan dan pengembangan kawasan permukiman bersifat multisektoral dan melibatkan banyak pihak. Direktorat Jenderal Cipta Karya merupakan leading sector dalam pengembangan dan pembangunan kawasan permukiman, namun bukan sebagai pelaku tunggal. Perlu dipahami bahwa pencapaian target pembangunan merupakan upaya terpadu dan sinkron dari berbagai pemangku kepentingan baik pemerintah, masyarakat maupun swasta.
Dalam penyelenggaraannya, pembangunan dan pengembangan kawasan permukiman dilakukan secara terdesentralisasi oleh Pemerintah dan pemerintah daerah dengan melibatkan peran masyarakat. Pemerintah (baik pusat maupun daerah) akan lebih berperan sebagai pembina, pengarah, dan pengatur, agar terus dapat tercipta suasana yang semakin kondusif.
Antara pemerintah dengan pemerintah daerah, juga terdapat pembagian peran dalampengaturan, pembinaan, pelaksanaan dan pengendalian mengacu pada peraturan perundangan yang berlaku.
Disamping itu agar terjadi efisiensi dan efektivitas dalam pembangunan perumahan dan permukiman, baik di kawasan perkotaan maupun di kawasan perdesaan,pelaksanaannya harus dilakukan secara terpadu (baik sektornya, pembiayaannya, maupun pelakunya) dan dilakukan berdasarkan dokumen perencanaan pembangunan dan penataan ruang yang berlaku.
Agenda Pembangunan Nasional yang berkaitan dengan Permukiman Kumuh termasuk ke dalam agenda ke-enam yaitu Meningkatkan Produktivitas Rakyat dan Daya Saing di Pasar Internasional dengan sub agenda Membangun Infrastruktur / Prasarana Dasar. Pembangunan Infrastruktur/Prasarana Dasar meliputi air minum, sanitasi, perumahan dan ketenagalistrikan dengan sasaran sebagai berikut:
1. Terfasilitasinya penyediaan hunian layak untuk 18,6 juta rumah tangga berpenghasilan rendah yakni pembangunan baru untuk 9 juta rumah tangga melalui bantuan stimulan perumahan swadaya untuk 5,5 juta rumah tangga dan pembangunan rusunawa untuk 514.976 rumah tangga, serta peningkatan kualitas hunian sebanyak 9,6 juta rumah tangga dalam pencapaian pengentasan kumuh 0 persen (pengurangan luasan permukiman kumuh sebanyak 38431 Ha).
2. Tercapainya 100 persen pelayanan air minum bagi seluruh penduduk Indonesia melalui (1) pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di 3.099 kawasan MBR, 2.144 Ibukota Kecamatan, 16.983 desa, 7.557 kawasan khusus, dan 28 regional; (2) Pembangunan Penampung Air Hujan (PAH) sebanyak 381.740 unit; (3) Fasilitasi optimasi bauran sumber daya air domestik di 27 kota metropolitan dan kota besar; (4) Fasilitasi 38 PDAM sehat di kota metropolitan, kota besar, kota sedang dan kota kecil; (5) Fasilitasi business to business di 315 PDAM; (6) Fasilitasi restrukturisasi utang 394 PDAM; (6) Peningkatan jumlah PDAM Sehat menjadi 253 PDAM, penurunan jumlah PDAM kurang sehat menjadi 80 PDAM, dan penurunan jumlah PDAM sakit menjadi 14 PDAM.
3. Meningkatnya akses penduduk terhadap sanitasi layak (air limbah domestik, sampah dan drainase lingkungan) menjadi 100 persen pada tingkat kebutuhan dasar yaitu (i) untuk sarana prasarana pengelolaan air limbah domestik dengan penambahan infrastruktur air limbah sistem terpusat di 430 kota/kab (melayani 33,9 juta jiwa), penambahan pengolahan air limbah komunal di 227 kota/kab (melayani 2,99 juta jiwa), serta peningkatan pengelolaan lumpur tinja perkotaan melalui pembangunan IPLT di 409 kota/kab; (ii) untuk sarana prasarana pengelolaan persampahan dengan pembangunan TPA sanitary landfill di 341 kota/kab, penyediaan fasilitas 3R komunal di 334 kota/kab, fasilitas 3R terpusat di 112 kota/kab; (iii) untuk sarana prasarana drainase permukiman dalam pengurangan genangan seluas 22.500 Ha di kawasan permukiman; serta (iv) kegiatan pembinaan, fasilitasi, pengawasan dan kampanye serta advokasi di 507 kota/kab seluruh Indonesia.
4. Meningkatnya keamanan dan keselamatan bangunan gedung di kawasan perkotaan melalui fasilitasi peningkatan kualitas bangunan gedung dan fasilitasnya di 9 kabupaten/kota,
fasilitasi peningkatan kualitas sarana dan prasarana di 1.600 lingkungan permukiman, serta peningkatan keswadayaan masyarakat di 55.365 kelurahan.
Sedangkan arah kebijakan dan strategi pembangunan infrastruktur dan sarana dasar adalah sebagai berikut :
1. Meningkatkan akses masyarakat berpendapatan rendah terhadap hunian yang layak, aman,dan terjangkau serta didukung oleh penyediaan prasarana, sarana, dan utilitas yang memadai melalui strategi:
a. Peningkatan peran fasilitasi pemerintah dan pemerintah daerah dalam menyediakanhunian baru (sewa/milik) dan peningkatan kualitas hunian. Penyediaan hunian baru(sewa/milik) dilakukan melalui pengembangan sistem pembiayaan perumahan nasionalyang efektif dan efisien termasuk pengembangan subsidi uang muka, kredit mikroperumahan swadaya, bantuan stimulan, memperluas program Fasilitas LikuiditasPembiayaan Perumahan, serta integrasi tabungan perumahan dalam sistem jaminansosial nasional. Sementara peningkatan kualitas hunian dilakukan melalui penyediaanprasarana, sarana, dan utilitas, pembangunan kampung deret, serta bantuan stimulandan/atau kredit mikro perbaikan rumah termasuk penanganan permukiman kumuh yangberbasis komunitas.
b. Peningkatan tata kelola dan keterpaduan antara para pemangku kepentingan pembangunan perumahan melalui: i) penguatan kapasitas pemerintah dan pemerintahdaerah dalam memberdayakan pasar perumahan dengan mengembangkan regulasiyang efektif dan tidak mendistorsi pasar; ii) penguatan peran lembaga keuangan(bank/non-bank); serta iii) revitalisasi Perum Perumnas menjadi badan pelaksanapembangunan perumahan sekaligus pengelola Bank Tanah untuk perumahan.
c. Peningkatan peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang terkait dengan penyediaanperumahan untuk MBR melalui: i) peningkatan ekuitas Bank Tabungan Negara (BTN), Perum Perumnas, dan Sarana Multigriya Finansial (SMF) melalui Penyertaan Modal Negara (PMN); ii) mendorong BTN menjadi bank khusus perumahan, serta iii) melakukan perpanjangan Peraturan Presiden tentang SMF terkait penyaluran pinjaman kepada penyalur Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan sumber pendanaan dari pasar modal dengan dukungan pemerintah.
d. Peningkatan efektifitas dan efisiensi manajemen lahan dan hunian di perkotaan melalui fasilitasi penyediaan rumah susun sewa dan rumah susun milik serta pengembangan instrumen pengelolaan lahan untuk perumahan seperti konsolidasi lahan (land
consolidation), bank tanah (land banking), serta pemanfaatan lahan milik BUMN, tanah terlantar, dan tanah wakaf.
e. Pemanfaatan teknologi dan bahan bangunan yang aman dan murah serta pengembangan implementasi konsep rumah tumbuh (incremental housing). f.
Penyediaan sarana air minum dan sanitasi layak yang terintegrasi dengan penyediaan dan pengembangan perumahan. Sarana air minum dan sanitasi menjadi infrastruktur bingkai bagi terciptanya hunian yang layak.
2. Menjamin ketahanan sumber daya air domestik melalui optimalisasi bauran sumber daya airdomestik melalui strategi:
a. Jaga Air, yakni strategi untuk mengarusutamakan pem-bangunan air minum yang memenuhi prinsip 4K (kualitas, kuantitas, kontinuitas dan keterjangkauan) serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan hygiene dan sanitasi.
b. Simpan Air, yakni strategi untuk menjaga ketersediaan dan kuantitas air melalui upaya konservasi sumber air baku air minum yakni perluasan daerah resapan air hujan, pemanfaatan air hujan (rain water harvesting) sebagai sumber air baku air minum maupun secondary uses pada skala rumah tangga (biopori dan penampung air hujan) dan skala kawasan (kolam retensi), serta pengelolaan drainase berwawasan lingkungan.
c. Hemat Air, yakni strategi untuk mengoptimalkan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang telah ada melalui pengurangan kebocoran air hingga 20 persen, pemanfaatan idle capacity; dan pengelolaan kebutuhan air di tingkat penyelenggara dan skala kota.
d. Daur Ulang Air, yakni strategi untuk memanfaatkan air yang telah terpakai melalui pemakaiaan air tingkat kedua (secondary water uses) dan daur ulang air yang telah dipergunakan (water reclaiming).
3. Penyediaan infrastruktur produktif melalui penerapan manajemen aset baik di perencanaan,penganggaran, dan investasi termasuk untuk pemeliharaan dan pembaharuan infrastruktur yang sudah terbangun melalui strategi :
a. Penerapan tarif atau iuran bagi seluruh sarana dan prasarana air minum dan sanitasi terbangun yang menuju prinsip tarif pemulihan biaya penuh (full cost recovery)/memenuhi kebutuhan untuk Biaya Pokok Produksi (BPP). Pemberian subsidi dari pemerintah bagi penyelenggara air minum dan sanitasi juga dilakukan sebagai langkah jika terjadi kekurangan pendapatan dalam rangka pemenuhan full cost recovery.
b. Pengaturan kontrak berbasis kinerja baik perancangan, pembangunan, pengoperasian, dan pemeliharaan aset infrastruktur.
c. Rehabilitasi dan optimalisasi sarana dan prasarana air minum dan sanitasi yang ada saat ini dan peningkatan pemenuhan pelayanan sarana sanitasi komunal.
4. Penyelenggaraan sinergi air minum dan sanitasi yang dilakukan di tingkat nasional, provinsi, kabupaten/kota, dan masyarakat melalui strategi:
a. Peningkatan kualitas Rencana Induk-Sistem Penyediaan Air Minum (RI-SPAM) yang didasari dengan neraca keseimbangan air domestik kota/kabupaten dan telah mengintegrasikan pengelolaan sanitasi sebagai upaya pengamanan air minum;
b. Upaya peningkatan promosi hygiene dan sanitasi yang terintegrasi dengan penyediaan sarana dan prasarana air minum dan sanitasi;
c. Implementasi Strategi Sanitasi Kota/Kabupaten (SSK) yang berkualitas melalui pengarusutamaan SSK dalam proses perencanaan dan penganggaran formal;
d. Peningkatan peran, kapasitas, serta kualitas kinerja Pemerintah Daerah di sektor air minum dan sanitasi.
e. Advokasi kepada para pemangku kepentingan di sektor air minum dan sanitasi, baik eksekutif maupun legislatif serta media.
5. Peningkatan efektifitas dan efisiensi pendanaan infrastruktur air minum dan sanitasi melaluisinergi dan koordinasi antar pelaku program dan kegiatan mulai tahap perencanaan sampaiimplementasi baik secara vertikal maupun horizontal melalui strategi:
a. Pelaksanaan sanitasi sekolah dan pesantren, sinergi pengembangan air minum dan sanitasi dengan kegiatan-kegiatan pelestarian lingkungan hidup dan upaya-upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim serta integrasi pembangunan perumahan dan penyediaan kawasan permukiman dengan pembangunan air minum dan sanitasi.
b. Pelaksanaan pelayanan dasar berbasis regional dalam rangka mengatasi kendala ketersediaan sumber air baku air minum dan lahan serta dalam rangka mendukung konektivitas antar wilayah yang mendukung perkembangan dan pertumbuhan ekonomi.
Sinergi pendanaan air minum dan sanitasi dilaksanakan melalui (i) pemanfaatan alokasi dana pendidikan untuk penyediaan sarana dan prasarana air minum dan sanitasi di sekolah; (ii) pemanfaatan alokasi dana kesehatan baik untuk upaya preventif penyakit dan promosi hygiene dan sanitasi serta pemanfaatan jaminan kesehatan masyarakat; (iii) penyediaan air minum dan sanitasi melalui Anggaran Dasar Desa (ADD) serta (iv) sinergi penyediaan air minum dan sanitasi dengan Dana Alokasi Khusus (DAK), Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan (TP) untuk bidang kesehatan, lingkungan hidup, perumahan, dan pembangunan desa tertinggal.
3.2.2 ISU STRATEGIS PEMBANGUNAN PERMUKIMAN DAERAH
Permasalahan Pembangunan Urusan Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman
1. Masih belum optimalnya kualitas dan ketersediaan perumahan yang ditnjukkan dengan kondisi ketersediaan rumah layak huni sebesar 89,53% dan cakupan lingkungan yang sehat dan aman yang di dukung PSU baru sebesar 50,00%.
2. Masih terdapatnya luasan kawasan kumuh perkotaan, ditahun 2016 tercatat ada 13,20%
termasuk kategori kawasan kumuh.
3. Masih rendahnya ketersediaan air baku untuk pemenuhan sehari-hari, tahun 2016 tercatat baru memenuhi sebesar 41,00%.
4. Belum optimalnya kondisi sanitasi masyarakat yang dapat dilihat dari ketersediaan dan distribusi air minum aman ditahun 2016 tercapai 78,25%, sementara itu untuk pelayanan air limbah penduduk yang terlayani sistem air limbah yang memadai sebesar 77,15%.
5. Ketersedian wilayah pemakaman saat ini belum menjangkau seluruh penduduk Kota Salatiga.
Isu Strategis Pembangunan Permukiman Daerah yang terkait dengan perumahan dan kawasan permukiman adalah:
1. Belum Optimalnya Pemenuhan Pelayanan Infrastruktur
Isu strategis dibidang infrastruktur wilayah dilihat dari penyediaan sarana dan prasarana umum dan pelayanan dasar bagi masyarakat. Dibidang sarana dan prasaran umum, permasalahan yang dihadapi yaitu masih terdapatnya saluran drainase yang tidak berfungsi dengan baik. Persentase Drainase dalam kondisi baik/ pembuangan aliran air tidak tersumbat pada tahun 2016 baru mencapai 90,87% dari total panjang drainase sebesar 201,956 meter. Saluran drainase tersumbat oleh sampah karena masih kurangnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah. Penggunaan ruang milik jalan (rumija) belum berdasarkan fungsinya, ada yang digunakan untuk berjualan termasuk pemasangan reklame. Dibidang pertanian, saluran irigasi banyak mengalami kerusakan dan masih ada masyarakat yang membuat bangunan di atas lahan irigasi. Saat ini Rasio jaringan irigasi baru mencapai 67 m/ha dengan total panjang saluran irigasi mencapai 38.533 meter.
Persentase Kondisi irigasi kondisinya saat ini mencapai 90,87%. Panjang jalan yang menjadi kewenangan pemerintah Kota salatiga saat ini dalam kondisi baik mencapai 109,820 km, kondisi sedang sebesar 169,280 km dan rusak sebesar 58,360 km
Dalam pemenuhan sarana dan prasaran dasar, di Kota Salatiga masih terdapat 4 kelurahan
Noborejo. Sanitasi masih menjadi permasalahan, terutama dipermukiman padat yang belum memilki sanitasi tidak layak dan masih terdapatnya luasan kawasan kumuh perkotaan yang belum terselesaikan. Selain itu masih terdapatnya rumah tidak layak huni yang belum tertangani dan ketersedian wilayah pemakaman saat ini belum menjangkau seluruh penduduk Kota Salatiga.
2. Belum Optimalnya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan serta Belum Optimalnya Penegakaan Hukum Pelanggaran Tata Ruang.
Isu strategis pengendalian pencemaran lingkungan dapat dilihat dari kondisi saat ini
Isu strategis pengendalian pencemaran lingkungan dapat dilihat dari kondisi saat ini