KAJIAN TEORI, PENELITIAN YANG RELEVAN KERANGKA BERFIKIR, DAN HIPOTESIS
A. Kajian Teori 1. Belajar dan Pembelajaran
2. Pendekatan Pembelajaran a. Pendekatan Kontruktivisme
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan manusia adalah konstruksi (bentukan) manusia sendiri. Pengetahuan bukanlah suatu tiruan dari kenyataan dan juga bukan gambaran dari kenyataan yang ada, melainkan pengetahuan selalu merupakan akibat dari konstruksi kognitif kenyataan melalui kegiatan yang dilakukan seseorang.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat dijelaskan bahwa pengetahuan merupakan suatu proses menjadi tahu yang dibentuk oleh struktur konsepsi seseorang sewaktu dia berinteraksi dengan lingkungan. Lingkungan bisa berarti menunjuk kepada keseluruhan obyek dan semua relasinya yang diabstraksikan dari pengalaman. Salah satu contoh alat atau sarana yang tersedia bagi seseorang untuk mengetahui sesuatu adalah alat inderanya. Seseorang berinteraksi dengan obyek dan lingkungan dengan melihat, mendengar, menjamah, mencium dan merasakannya.
Oleh karena itu pada penelitian ini menggunakan pendekatan konstruktivisme
dengan metode inkuiri terbimbing melalui media virtual lab dan real lab dengan
mempertimbangkan gaya belajar dan aktivitas belajar siswa. Pendekatan dan metode ini diharapkan siswa selama belajar mengalami proses internalisasi, membentuk kelompok atau membentuk pengetahuan baru dengan menggunakan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya.
Dari beberapa uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa proses belajar dengan pendekatan konstruktivisme merupakan proses pembentukan pengetahuan baru yang melibatkan internalisasi dan keaktifan siswa untuk menggunakan pengetahuan yang dimiliki secara terus-menerus sehingga terjadi konstruksi pengetahuan baru yang didahului oleh rasa keingintahuan yang dapat dirangsang dengan penyajian masalah- masalah oleh guru untuk dibahas dan diselesaikan siswa.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id b. Pendekatan Psikologis Sosial
Cobb dalam Paul Suparno, (2007: 11) mengatakan bahwa: “pentingnya interaksi sosial dengan orang-orang lain terlebih yang punya pengetahuan lebih baik dan sistem yang secara kultural telah berkembang dengan baik”. Jadi dapat disimpulkan bahwa interaksi dengan orang lain sangat penting untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih baik dan lebih banyak lagi. Menurut Vygotsky pembelajaran
terjadi saat anak bekerja dalam zona perkembangan proximal (zone of proximal
development) yaitu zona jarak antara tingkat perkembangan aktual yang ditentukan oleh pemecahan masalah secara independen dan tingkat perkembangan potensial yang ditentukan lewat pemecahan masalah dibawah bimbingan orang dewasa atau dalam kolaborasinya dengan rekan-rekan yang lebih mampu.
Tingkat perkembangan aktual adalah kemampuan anak memecahkan masalah secara mandiri sedangkan tingkat perkembangan potensial adalah kemampuan memecahkan masalah dibawah bimbingan orang dewasa melalui kerja sama dengan teman sebaya yang lebih mampu. Ide penting lain yang diturunkan dari Vygotsky
adalah Scaffolding, yaitu memberikan bantuan kepada anak pada tahap-tahap awal
perkembangan, kemudian bantuan ini dikurangi untuk memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah anak dapat melakukannya. Jika diterapkan dalam proses pembelajaran, ide Scaffolding dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan dan menguraikan masalah pada awal pembelajaran.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 3. Metode Inkuiri Terbimbing
a. Pengertian Metode Inkuiri Terbimbing
Inkuiri berasal dari bahasa Inggris “inquiry”yang berarti pertanyaan atau
penyelidikan. Barlow dalam Muhibbin Syah (2005: 191) berpendapat bahwa:
Inkuiri merupakan proses penggunaan intelektual siswa dalam memperoleh pengetahuan dengan cara menemukan dan mengorganisasikan konsep-konsep dan prinsip-prinsip ke dalam sebuah tatanan penting menurut siswa. Tujuan utama inkuiri adalah mengembangkan ketrampilan intelektual, berfikir kritis dan mampu memecahkan masalah secara alamiah.
Berdasarkan pendapat diatas dapat dijelaskan bahwa inkuiri merupakan salah satu metode atau kegiatan penyajian materi pelajaran untuk memperoleh pengetahuan yang dilakukan dengan cara menemukan dan mengorganisasikan konsep-konsep dan prinsip-prinsip melalui penyelidikan. Melalui metode ini siswa mempunyai kesempatan yang luas untuk mencari dan menemukan sendiri yang dia butuhkan untuk memecahkan masalah dengan mengembangkan ketrampilan intelektual dan daya pikir kritis.
Trowbridge, Bybee dan Robert B. Sund dalam Ratna Wilis Dahar (1986:4) mengatakan bahwa: “inkuiri adalah proses menemukan dan menyelidiki masalah-masalah, menyusun hipotesis, merencanakan eksperimen, mengumpulkan data, menganalisa dan menarik kesimpulan tentang pemecahan masalah”. Trowbridge,
Bybee dan Robert B. Sund dalam Paul Suparno (2007: 69) mengatakan bahwa:” the
essence of inquiry teaching is arranging the learning environment to facilitate student centered instruction and giving sufficient guidance to ensure direction and success in discovering scientific concept and principles”. Artinya bahwa pengajaran inkuiri adalah mengatur lingkungan belajar untuk memudahkan pembelajaran yang berpusat pada siswa dan memberikan petunjuk yang cukup untuk memastikan kelancaran dan
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
keterarahan dalam menemukan prinsip dan konsep ilmiah. Salah satu cara yang dapat digunakan oleh guru untuk membantu siswa agar terarah kepada tujuan pembelajaran dan dapat menggunakan ingatannya adalah dengan pertanyaan atau diskusi sehingga dapat mengembangkan perilaku inkuiri.
Meskipun para ahli menjelaskan secara berbeda-beda tentang metode pembelajaran inkuiri sebagaimana tertera diatas, namun secara keseluruhan dapat dijelaskan bahwa pembelajaran tersebut menggunakan proses sebagaimana diungkapkan oleh Kindsvatter, Willen dan Ishler dalam Paul Suparno (2007: 65) seperti berikut: “1) identifikasi masalah, 2) membuat hipotesis, 3) merancang percobaan, 4) melakukan percobaan untuk mengumpulkan data, 5) menganalisis data, 6) mengambil keputusan “.
Trowbridge, Bybee dan Robert B. Sund dalam Momi Sahromi (1986: 55)
mengatakan bahwa: “ada tiga macam metode inkuiri yaitu inkuiri terbimbing (Guided
inquiry), inkuiri terbuka, bebas (Open Inquiry), dan inkuiri bebas termodifikasi (Modified Free Inquiry)”. Yang dimaksud dengan inkuiri terbimbing adalah inkuiri yang banyak dicampuri guru. Guru banyak mengarahkan dan memberikan petunjuk baik melalui prosedur yang lengkap maupun pertanyaan-pertanyaan pengarahan selama proses inkuiri. Bahkan guru sudah punya jawaban sebelumnya, sehingga siswa tidak begitu bebas mengembangkan gagasan dan idenya. Guru memberikan persoalan dan siswa diminta memecahkan persoalan tersebut dengan prosedur yang tertentu yang diarahkan oleh guru. Guru banyak memberikan pertanyaan di sela-sela proses, sehingga kesimpulan lebih cepat dan mudah diambil. Metode inkuiri terbimbing (terarah) ini lebih cocok untuk siswa yang belum terbiasa melakukan
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
inkuiri. Dengan metode inkuiri terbimbing siswa tidak mudah bingung dan tidak mengalami kegagalan dalam belajar karena guru terlibat penuh.
Metode inkuiri memiliki kebaikan-kebaikan antara lain: meningkatkan potensi intelektual anak, menguasai melakukan penemuan, meningkatkan daya ingat, membuat anak lebih aktif, membentuk dan mengembangkan konsep diri anak, menambah tingkat harapan anak, mengembangkan bakat-bakat, menghindarkan siswa dari belajar menghafal, memberikan waktu pada siswa untuk mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.
b. Tahapan Inkuiri Terbimbing
Tahapan inkuiri terbimbing antara lain sebagai berikut: 1). Perumusan Masalah. Langkah awal adalah menentukan masalah yang ingin dialami atau dipecahkan dengan metode inkuiri. Persoalan dapat disiapkan atau diajukan oleh guru. Persoalan sendiri harus jelas sehingga dapat dipikirkan, dialami, dan dipecahkan oleh siswa. Persoalan perlu diidentifikasi dengan jelas tujuan dari seluruh proses pembelajaran atau penyelidikan. Bila persoalan ditentukan oleh guru perlu diperhatikan bahwa persoalan itu real, dapat dikerjakan oleh siswa, dan sesuai kemampuan siswa. Persoalan yang terlalu tinggi akan membuat siswa tidak semangat, sedangkan persoalan yang terlalu mudah yang sudah mereka ketahui tidak menarik minat siswa. Sangat baik bila persoalan itu sesuai dengan tingkat hidup dan keadaan siswa. 2). Menyusun hipotesis. Langkah berikutnya adalah siswa diminta untuk mengajukan jawaban sementara tentang masalah itu. Inilah yang disebut hipotesis. Hipotesis siswa perlu dikaji apakah jelas atau tidak. Bila belum jelas, sebaiknya guru mencoba membantu memperjelas maksudnya lebih dahulu. Guru diharapkan tidak memperbaiki hipotesis siswa yang salah, tetapi cukup memperjelas maksudnya saja.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
Hipotesis yang salah, tetapi cukup memperjelas maksudnya saja. Hipotesis yang salah nantinya akan kelihatan setelah pengambilan data dan analisis data yang diperoleh. 3). Mengumpulkan data. Langkah selanjutnya adalah siswa mencari dan mengumpulkan data sebanyak-banyaknya untuk membuktikan apakah hipotesis mereka benar atau tidak. 4). Menganalisis data. Data yang sudah dikumpulkan harus dianalisis untuk dapat membuktikan hipotesis apakah benar atau tidak. Untuk mempermudah menganalisis data, data sebaiknya diorganisasikan, dikelompokkan, diatur sehingga dapat dibaca dan dianalisis dengan mudah. Biasanya disusun dalam suatu tabel. 5). Menyimpulkan. Dari data yang telah dikelompokkan dan dianalisis, kemudian diambil kesimpulan dengan generalisasi. Setelah diambil, kesimpulan, kemudian dicocokkan dengan hipotesis asal, apakah hipotesis kita diterima atau tidak. Sintak inkuiri terbimbing disajikan pada tabel 2.1
Tabel 2.1: Sintak Inkuiri Terbimbing
No Langkah Pokok Aktivitas Pengajar Aktivitas siswa
1. Perumusaan
masalah
Ø Menjelaskan prosedur kegiatan
menyelidiki
Ø Menyajikan masalah dengan
mengajukan pertanyaan tentang inti masalah.
Ø Memahami prosedur kegiatan Ø Merumuskan permasalahan 2. Menyusun hipotesis Ø Membimbing dalam merumuskan masalah Ø Merumuskan hipotesis 3. Mengumpulkan data
Ø Memberi tugas kegiatan inti
Ø Memantau dan membimbing
proses kegiatan penemuan konsep Ø Mengumpulkan data dan informasi Ø Melakukan kegiatan penemuan konsep 4. Menganalisa data Ø Membimbing dalam
menganalisa data hasil kegiatan
Ø Mengadakan diskusi
Ø Menganalisa data hasil
Ø Melakukan diskusi
hasil
5. Menyimpulkan Ø Memacu proses penyimpulan
Ø Membimbing siswa dalam
mengambil kesimpulan
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id c. Syarat agar inkuiri dapat berjalan baik
Agar inkuiri dapat berjalan dengan baik maka siswa diberi kebebasan untuk mengungkapkan hipotesisnya, menyusun eksperimen yang mau digunakan, dan mencari informasi apapun yang dianggap perlu untuk memecahkan persoalan dalam penelitiannya. Lingkungan atau suasana yang responsif ada laboratorium, komputer, kelas, pustaka, dan sarana yang mendukung terjadinya proses inkuiri. Fokus persoalan yang mau dialami harus jelas arahnya, dan dapat dipecahkan siswa. Dalam inkuiri terbimbing persoalan memang harus sangat jelas. Bila muncul banyak persoalan yang diajukan oleh siswa dengan melihat gejala yang ada, dapat dipilih salah satu yang terpenting dan soal itu memang mungkin dipecahkan oleh siswa. Sedangkan untuk inkuiri yang bebas, persoalan tidak perlu terarah dan tidak perlu hanya diambil satu. Biarlah tiap kelompok siswa menentukan persoalannya sendiri. Jadi agar inkuiri terbimbing dapat berjalan dengan baik perlu ada kerja sama yang baik antara siswa dengan siswa dalam satu kelompok ataupun guru dengan siswa.