• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Kajian Teori

3. Pendekatan Pembelajaran SAVI

a. Pengertian Pendekatan Pembelajaran SAVI

SAVI adalah akronim dari Somatic, Auditory, Visual, dan

Intellectual. Pembelajaran somatic, auditory, visual, dan

intellectual (SAVI) adalah pembelajaran yang menekankan bahwa

belajar haruslah memanfaatkan alat indra yang dimiliki siswa. Istilah SAVI sendiri adalah kependekan dari: somatic yang bermakna gerakan tubuh (hands-on, aktivitas fisik) dimana belajar

dengan mengalami dan melakukan; auditory yang bermakna bahwa belajar haruslah dengan melalui mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi, argumentasi, mengemukakan pendapat, dan menanggapi; visual yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melalui mengamati, menggambar, mendemonstrasikan, membaca, menggunakan media dan alat peraga; dan intellectual yang bermakna bahwa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds- on) belajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui menalar, menyelidiki, mengidentifikasi, menemukan, mencipta, mengkontruksi, memecahkan masalah, dan menerapkan (Ngalimun, 2016: 234). Keempat cara belajar ini harus ada agar belajar berlangsung optimal. Unsur-unsur ini semuanya terpadu, sehingga belajar yang paling baik bisa berlangsung jika semuanya itu digunakan secara simultan (Hernowo, 2015: 157).

Pembelajaran tidak otomatis meningkat dengan menyuruh orang berdiri dan bergerak ke sana ke mari. Pembelajaran adalah menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intellectual dan penggunaan semua indra (Hernowo, 2015: 157). Dave Meirer (dalam Suyanto, 2013: 91) menyatakan bahwa gerakan fisik meningkatkan proses mental. Pembelajaran yang menghalangi gerakan tubuh berarti mengalangi pikiran untuk berfungsi secara

maksimal, sebaliknya melibatkan tubuh dalam belajar cenderung membangkitkan kecerdasan terpadu manusia sepenuhnya.

Pendekatan pembelajaran SAVI dalam belajar memunculkan sebuah konsep belajar yang disebut Belajar Berbasis Aktivitas (BBA). Belajar dengan bergerak aktif dan memanfaatkan indra sebanyak mungkin dan membuat seluruh tubuh dan pikiran terlibat dalam proses belajar. Belajar menggunakan pendekatan SAVI jauh lebih efektif daripada yang didasarkan pada prestasi, materi, dan media, karena gerakan fisik meningkatkan proses mental (Suyadi, 2013: 102).

Senada dengan hal tersebut, Suyanto (2013: 91) menyatakan dalam pengelolaan siswa, hal mendasar yang mesti dikembangkan adalah agar siswa dapat bergerak aktif ketika belajar, dengan memanfaatkan indra sebanyak mungkin dan membuat seluruh tubuh serta pikiran terlibat dalam proses belajar. Pembelajaran yang semakin banyak melibatkan panca indra berpengaruh baik terhadap hasil belajar yang bisa dicapai. Sebaliknya, pola pembelajaran yang cenderung membuat siswa tidak aktif secara fisik dalam jangka waktu lama, akan menyababkan kejenuhan otak, belajar menjadi lambat, bahkan kemampuan belajar dapat terhenti, dengan kata lain hilangnya semangat belajar pada diri siswa.

Huda (2014: 284-285) mengemukakan bahwa cara-cara yang bisa menjadi starting point guru dalam melaksanakan pembelajaran SAVI adalah sebagai berikut:

1) Somatic: Learning by Doing

a) Proyek dirancang untuk mendorong siswa bergerak di tempat-tempat yang berbeda;

b) Waktu istirahat disediakan sesering mungkin ketika siswa tengah belajar, kemudian siswa diajak untuk segera bergerak ketika sedang menemukan gagasan baru;

c) Siswa dibiarkan berdiri dan berjalan ketika siswa tengah mendengarkan, menonton, atau berpikir; dan

d) Siswa diminta untuk menulis dalam sebuah kartu tentang apa yang telah dipelajari.

2) Auditory (Learning by Hearing)

a) Siswa diminta untuk menjelaskan apa yang telah dipelajari dari orang lain;

b) Siswa diminta untuk membaca buku atau handout dengan suara keras;

c) Proses presentasi pengajaran direkam, dan siswa diminta untuk mendengarkannya sejenak di ruang kelas; dan

d) Siswa dilibatkan dalam diskusi dan tukar pendapat dengan siswa-siswa lain.

3) Visual: Learning by Seeing

a) Siswa diberikan tugas untuk membaca satu atau dua paragraf, kemudian diminta untuk membuat sinopsis singkat tentang apa yang dibacanya;

b) Siswa diminta untuk terus mencatat setiap penjelasan penting yang disampaikan di ruang kelas;

c) Siswa diajak untuk membuat semacam gambar tentang gagasan siswa lalu ditempel di dinding kelas; dan

d) Mindmap digambar di papan tulis, dan siswa diminta untuk

memperhatikannya dengan seksama.

4) Intellectual: Learning by Thinking

a) Siswa diminta untuk duduk sejenak setelah menyelesaikan sesuatu pengalaman belajar untuk merefleksikan apa yang telah dipelajari dan menghubungkannya dengan apa yang telah diketahui;

b) Siswa diminta untuk membuat semacam diagram,

flowchart, atau piktogram yang bisa menggambarkan apa

yang direfleksikan;

c) Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan probing mengenai materi pelajaran yang telah diajarkan dan siswa diminta untuk berpikir tentang pemecahannya;

d) Analogi-analogi dibuat untuk merangsang siswa berpikir tentang apa yang terkandung di dalamnya; dan

e) Pokok-pokok pelajaran dibuat yang memungkinkan siswa untuk menyusunnya.

b. Karakteristik Pendekatan Pembelajaran SAVI

1) Somatic

Somatic berasal dari bahasa Yunani yang berarti

tubuh-soma (seperti dalam psikosomatic). Belajar somatic berarti belajar dengan indra peraba, kinestetis, praktis melibatkan fisik dan menggunakan serta menggerakkan tubuh sewaktu belajar (Hernowo, 2015: 157-158).

Suasana belajar yang dapat membuat siswa bangkit dan berdiri dari tempat duduk dan aktif secara fisik dari waktu ke waktu diciptakan untuk merangsang hubungan pikiran-tubuh. Pembelajaran tidak semuanya membutuhkan aktivitas fisik, tetapi dengan berganti-ganti menjalankan aktivitas belajar aktif dan pasif secara fisik (Hernowo, 2015: 159).

Fanany (2013: 85) berpendapat bahwa hal-hal yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan kemampuan belajar dengan menyerap informasi melalui gerakan fisik adalah sebagai berikut:

a) Siswa melaksanakan praktik lapangan;

b) Siswa melakukan demonstrasi atau pertunjukan langsung terhadap suatu proses;

d) Siswa dalam belajar tidak harus duduk secara formal, bisa dilakukan dengan duduk dengan posisi yang nyaman walaupun tidak biasa dilakukan oleh siswa lain;

e) Siswa melaksanakan praktik di laboratorium; f) Siswa melaksanakan simulasi dan role playing; dan g) Siswa diminta berdiri saat menjelaskan sesuatu. 2) Auditory

Belajar auditory, yaitu gaya belajar yang dilakukan siswa untuk memperoleh informasi dengan memanfaatkan indra telinga. Belajar auditory sangat mengandalkan telinga untuk mencapai kesuksesan belajar, misalnya dengan cara mendengar seperti ceramah, radio, berdialog, dan berdiskusi (Subini, 2013: 119).

Pikiran auditory siswa lebih kuat daripada yang disadari. Telinga siswa terus-menerus menangkap dan menyimpan informasi auditory, bahkan tanpa disadari. Siswa ketika membuat suara sendiri dengan berbicara, beberapa area penting di otak menjadi aktif (Hernowo, 2015: 161).

Pelajaran dirancang menarik bagi saluran auditory yang kuat dalam diri siswa, dengan mencari cara untuk mengajak siswa membicarakan apa yang sedang siswa pelajari. Siswa diminta menerjemahkan pengalamannya dengan suara dan diajak berbicara ketika sedang memecahkan masalah, membuat

model, mengumpulkan informasi, pengalaman belajar, atau menciptakan makna-makna pribadi bagi diri sendiri (Hernowo, 2015: 163-164).

Fanany (2013: 85) berpendapat bahwa hal-hal yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan kemampuan belajar dengan menyerap informasi melalui pendengaran adalah sebagai berikut:

a) Guru menggunakan audio dalam pembelajaran, misalnya musik dan radio;

b) Siswa ketika belajar dibiarkan membaca dengan nyaring dan suara keras;

c) Guru sering memberi pertanyaan kepada siswa; d) Siswa diminta membuat diskusi kelas;

e) Siswa diminta menjelaskan dengan kata-kata;

f) Siswa menuliskan apa yang siswa pahami tentang satu mata pelajaran; dan

g) Siswa belajar berkelompok. 3) Visual

Belajar visual adalah gaya belajar dengan cara melihat sehingga mata sangat memegang peranan penting. Gaya belajar secara visual dilakukan siswa untuk memperoleh informasi seperti melihat gambar, diagram, peta, poster, dan grafik (Subini, 2013: 119)

Ketajaman visual, meskipun lebih menonjol pada sebagian orang, sangat kuat dalam diri setiap orang. Alasannya adalah bahwa di dalam otak terdapat lebih banyak perangkat untuk memproses informasi visual daripada semua indra yang lain (Hernowo, 2015: 165).

Belajar visual paling baik jika siswa dapat melihat contoh dari dunia nyata, diagram, peta gagasan, ikon, gambar dan gambaran dari segala macam hal ketika siswa sedang belajar. Teknik yang bisa dilakukan semua siswa, terutama siswa dengan keterampilan visual yang kuat, adalah meminta siswa mengamati situasi dunia nyata lalu memikirkan serta mebicarakan situasi itu (Hernowo, 2015: 166).

Fanany (2013: 84) berpendapat bahwa hal-hal yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan kemampuan belajar dengan menyerap informasi melalui mata adalah sebagi berikut:

a) Siswa dibiarkan duduk di bangku paling depan, sehingga siswa bisa langsung melihat apa yang dituliskan atau digambarkan guru di papan tulis;

b) Guru membuat lebih banyak bagan-bagan, diagram, untuk menjelaskan sesuatu;

c) Siswa diminta menuliskan poin-poin penting yang harus dihafalkan;

d) Guru memberikan ilustrasi dan gambar digunakan dalam pembelajaran; dan

e) Siswa diminta menulis ulang apa yang ada di papan tulis. 4) Intellectual

Intellectual adalah pencipta makna dalam pikiran,

sarana yang digunakan manusia untuk “berpikir”, menyatukan pengalaman, menciptakan jaringan syaraf baru, dan belajar.

Intellectual menghubungkan pengalaman mental, fisik,

emosional, dan intuitif tubuh untuk membuat makna baru bagi dirinya sendiri. Intellectual merupakan sarana yang digunakan pikiran untuk mengubah pengalaman menjadi pengetahuan. Pengetahuan menjadi pemahaman, dan pemahaman (diharapkan) menjadi kearifan (Hernowo, 2015: 168).

Meier (dalam Hernowo, 2015: 168) berpendapat bahwa

intellectual bukanlah pendekatan belajar yang tanpa emosi,

tidak berhubungan, rasionalistis, “akademis”, dan terkotak -kotak. Kata “intellectual” menunjukkan apa yang dilakukan pembelajar dalam pikiran secara internal ketika menggunakan kecerdasan untuk merenungkan suatu pengalaman dan menciptakan hubungan, makna, rencana, dan nilai dari pengalaman tersebut. Intellectual adalah bagian diri yang merenung, mencipta, memecahkan masalah, dan membangun makna.

Siswa memiliki perbedaan dalam bidang intellectual yang perlu diketahui dan dipahami oleh guru, terutama dalam hubungannya dengan pengelompokan siswa di kelas. Siswa yang kurang cerdas jangan dikelompokkan dengan siswa yang kecerdasannya setingkat dengannya, tetapi perlu dimasukkan ke dalam kelompok siswa-siswa yang cerdas. Hal ini dilakukan agar siswa yang kurang cerdas itu terpacu untuk lebih kreatif (Djamarah, 2000: 58).

Hamzah (2015: 251) mengemukakan indikator

intellectual adalah sebagai berikut:

a) Mudah menangkap pelajaran; b) Mudah mengingat kembali;

c) Memiliki perbendaharaan kata yang luas;

d) Penalaran tajam (berpikir logis, kritis, memahami hubungan sebab akibat);

e) Daya konsentrasi baik (perhatian tidak mudah teralihkan); f) Menguasai banyak bahan tentang macam-macam topik; dan g) Senang membaca.

Sanaky (2015: 299) berpendapat bahwa cara memberdayakan intellectual siswa adalah dengan mengarahkan siswa pada penggunaan pengetahuan dan keterampilan secara lebih dalam dan berkembang (misalnya keterampilan berpikir

kritis). Guru dalam memberdayakan intellectual siswa dapat menggunakan beberapa cara yaitu:

a) Guru memadukan antara tugas dan hasil yang ingin dicapai; b) Guru menguji proses berpikir dan bukan sekadar informasi

terpisah yang dihafalkan;

c) Guru memanfaatkan pengetahuan atau riset yang dilakukan siswa sendiri;

d) Guru memberikan tantangan yang menekankan kedalaman pengetahuan dan pengertian; dan

e) Guru merangsang dan mendidik siswa sehingga siswa dapat belajar dari proses pengujian sendiri.

c. Langkah-Langkah Pendekatan Pembelajaran SAVI

Shoimin (2014: 178-180) menyatakan bahwa, langkah-langkah pendekatan pembelajaran SAVI adalah sebagai berikut: 1) Tahap Persiapan (Kegiatan Pendahuluan)

Tahap persiapan ini guru membangkitkan minat siswa, memberikan perasaan positif mengenai pengalaman belajar yang akan dilakukan, dan menempatkan siswa dalam situasi optimal untuk belajar. Secara spesifik meliputi meliputi hal-hal sebagai berikut:

a) Guru memberikan sugesti positif;

b) Guru memberikan tujuan yang jelas dan bermakna; c) Guru membangkitkan rasa ingin tahu siswa;

d) Guru menciptakan lingkungan emosional yang positif; e) Guru menenangkan rasa takut siswa;

f) Guru menyingkirkan hambatan-hambatan belajar;

g) Guru memberikan kesempatan siswa bertanya dan mengemukakan berbagai masalah; dan

h) Guru mengajak siswa terlibat penuh sejak awal. 2) Tahap Penyampaian (Kegiatan Inti)

Tahap penyampaian guru hendaknya membantu siswa menemukan materi belajar yang baru dengan cara melibatkan pancaindra dan cocok untuk semua gaya belajar. Hal-hal yang dapat dilakukan guru adalah:

a) Guru mengajak siswa mengamati fenomena dunia nyata; b) Guru merangsang siswa untuk melibatkan intellectual dan

seluruh panca indra dalam pembelajaran; c) Guru membangun presentasi interaktif;

d) Guru memfasilitasi seluruh gaya belajar siswa;

e) Guru melatih siswa menemukan pengetahuan (sendiri, berpasangan, berkelompok); dan

f) Guru memberikan pengalaman belajar di dunia nyata yang kontekstual.

3) Tahap Pelatihan (Kegiatan Inti)

Tahap pelatihan ini guru hendaknya membantu siswa mengintegrasikan dan menyerap pengetahuan dan keterampilan

baru dengan berbagai cara. Hal-hal yang dilakukan guru Secara spesifik, yang dilakukan guru adalah sebagai berikut:

a) Guru memberikan usaha aktif, umpan balik atau renungan; b) Guru memberikan permainan dalam belajar;

c) Guru melatih aksi pembelajaran;

d) Guru melatih aktivitas pemecahan masalah;

e) Guru memberikan pengajaran dan tinjauan kolaboratif; dan f) Guru melatih aktivitas praktis membangun keterampilan. 4) Tahap Penampilan Hasil (Tahap Penutup)

Tahap penampilan hasil ini guru hendaknya membantu siswa menerapkan dan memperluas pengetahuan atau keterampilan baru siswa pada pekerjaan sehingga hasil belajar akan melekat dan penampilan hasil akan terus meningkat. Hal-hal yang dapat dilakukan guru adalah:

a) Guru menekankan penerapan pembelajaran pada dunia nyata dalam waktu yang segera;

b) Guru membangun aktivitas dukungan kawan antar siswa; c) Guru membantu siswa menciptakan dan melaksanakan

rencana aksi;

d) Guru memberikan aktivitas penguatan penerapan; e) Guru menyampaikan materi penguatan persepsi; dan f) Guru memberikan umpan balik dan evaluasi kinerja.

d. Kelebihan Pendekatan Pembelajaran SAVI

Shoimin (2014: 182) mengemukakan bahwa kelebihan pendekatan pembelajaran SAVI adalah sebagai berikut:

1) Membangkitkan kecerdasan terpadu siswa secara penuh melalui penggabungan gerak fisik dengan aktivitas intellectual; 2) Siswa tidak mudah lupa karena siswa membangun

pengetahuannya sendiri;

3) Suasana dalam proses pembelajaran menyenangkan karena siswa merasa diperhatikan sehingga tidak cepat bosan untuk belajar;

4) Memupuk kerjasama karena siswa yang lebih pandai diharapkan dapat membantu yang kurang pandai;

5) Memunculkan suasana belajar yang lebih baik, menarik, dan efektif;

6) Mampu membangkitkan kreativitas dan meningkatkan kemampuan psikomotor siswa;

7) Memaksimalkan ketajaman konsentrasi siswa;

8) Siswa akan lebih termotivasi untuk belajar lebih baik;

9) Melatih siswa untuk terbiasa berpikir dan mengemukakan pendapat dan berani menjelaskan jawabannya; dan

e. Kekurangan Pendekatan Pembelajaran SAVI

Shoimin (2014: 182) mengemukakan bahwa kekurangan pendekatan pembelajaran SAVI adalah sebagai berikut:

1) Siswa yang sudah terbiasa diberi informasi terlebih dahulu sering mengalami kesulitan menemukan jawaban ataupun gagasannya sendiri;

2) Pendekatan pembelajaran SAVI membutuhkan waktu yang lama terutama bila siswa memiliki kemampuan yang lemah; 3) Pendekatan pembelajaran SAVI cenderung mensyaratkan

keaktifan siswa sehingga bagi siswa yang kemampuannya lemah bisa merasa minder.

f. Cara Menyiasati Kekurangan Pendekatan Pembelajaran SAVI

Peneliti berpendapat bahwa cara yang dapat dilakukan untuk menyiasati kekurangan pendekatan pembelajaran SAVI adalah sebagai berikut:

1) Guru memberikan stimulus kepada siswa, sehingga siswa akan lebih mudah dalam menemukan gagasannya sendiri;

2) Guru menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dengan mempertimbangkan alokasi waktu yang tepat, sehingga semua siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan baik; dan

3) Guru memotivasi semua siswa agar aktif dalam pembelajaran dan memberikan perhatian lebih kepada siswa yang kemampuannya lemah.

Kajian teori tentang hakikat pendekatan pembelajaran SAVI dapat ditampilkan pada Gambar 2.4.

Gambar 2.4 Bagan Pendekatan Pembelajaran SAVI

Sumber: Djamarah (2000); Fanany (2013); Hernowo (2015); dan Shoimin (2014)

Dokumen terkait