• Tidak ada hasil yang ditemukan

MELALUI PENDEKATAN PENDIDIKAN HOLISTIK BERBASIS PARENTING Oleh: Cep Unang Wardaya

Dalam dokumen STANDAR PERKEMBANGAN DASAR standar nasional (Halaman 49-64)

f Mengerjakan sesuatu dengan orang dewasa g Mengulang untuk tahu lebih jauh

MELALUI PENDEKATAN PENDIDIKAN HOLISTIK BERBASIS PARENTING Oleh: Cep Unang Wardaya

Widyaiswara PPPPTK TK dan PLB, Bandung ABSTRAK

Mengembangkan Karakter Anak Usia Dini di TK Melalui Pendidikan Holistik Berbasis Parenting. Dalam upaya melakukan Pembentukan karakter harus dimulai dari membangun potensi nilai-nilai spritual, mengasah dan membangkitkan kecerdasan emosional dan kecerdasan intelektual yang sudah diberikan Tuhan sebagai fitrah manusia sejak lahir melalui pendidikan yang utuh dan menyeluruh (holistik). Pendidikan karakter harus dilaksanakan sejak usia dini, karena usia dini merupakan periode perkembangan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pada masa ini, seluruh instrumen besar manusia terbentuk, bukan kecerdasan saja tetapi seluruh kecakapan psikis. Para ahli menamakan periode ini sebagai usia emas perkembangan.Pendidikan anak usia dini sangat penting karena akan menentukan kualitas SDM di masa depan. Hal ini disebabkan karena masa pembentukan otak manusia terjadi paling cepat pada usia saat anak berada pada usia dini. Oleh karena itu, pemerintah sudah semestinya memperhatikan sektor ini sebagaimana sektor-sektor lainya. Pendidikan termasuk di dalamnya pendidikan karakter merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan negara.

Keluarga adalah tempat pendidikan pertama dan utama bagi anak, mereka berada dalam keluarga sejak dalam kandungan sampai menjelang pernikahan. Oleh karena itu peranan keluarga sangat penting dalam perjalanan seorang anak.Pendekatan pendidikan holistik berbasis parenting pada anak usia dini di Taman Kanak-Kanak dalam upaya pembentukan manusia holistik yang berkarakter unggul, harus didukung dengan perencanaan program jelas dan berkualitas yang meliputi visi, misi, tujuan, strategi, kegiatan yang

utuh dan terintegrasi, guru yang berkualitas, sarana prasarana yang memadai, jadwal kegiatan dan dokumen perencanaan pembelajaran yang lengkap.Pelaksanaan pendekatan pendidikan holistik berbasis parenting pada anak usia dini di Taman Kanak-Kanak dapat meningkatkan kemampuan anak dalam seluruh aspek perkembangan dan karakternya melalui praktik pendidikan yang dapat mengintegrasikan pendidikan agama, pendidikan karakter pada pendidikan yang mengoptimalkan seluruh potensi peserta didik secara holistik.

Kata Kunci: pendidikan holistik, pendidikan karakter, parenting dan anak usia dini.

1.

Pendahuluan

Pendidikan karakter adalah sesuatu yang penting dalam membangun kembali peradaban bangsa. Banyak bangsa yang maju di dunia yang berawal dari karakter unggul yang dimiliki warganya. Bangsa yang ingin maju, berdaulat, dan sejahtera membutuhkan karakter yang kuat. Kesejahteraan sebuah bangsa bermula dari karakter kuat warganya(Marcus Tutillus 106-43 SM). Ungkapan ini disampaikan dalam rangka mengingatkan seluruh warga kekaisaran Roma tentang perlunya praktik kebajikan. Kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber alam, kompetensi, dan kecanggihan teknologi tetapi yang utama dan terutama adalah karena dorongan semangat dan karakter bangsanya. Billy Graham menyatakan : “Bila harta hilang, sesungguhnya tak ada yang hilang, bila kesehatan hilang, ada sesuatu yang hilang tapi bila karakter hilang maka sesungguhnya, segalanya telah hilang.”

Bangsa Indonesia adalah bangsa kaya akan sumber daya alam (pendapat pakar), bangsa yang religious, sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran agama yang di anutnya, memiliki sejarah sebagai bangsa yang terkenal dengan “keramahanya”, dan “gotong royongnya”. Bangsa yang memiliki semangat juang yang tinggi dalam membela kedaulatan bangsa dari tangan penjajah. Saat ini kemana semua karakter (watak) yang dimiliki orang tua, para pejuang dan pendiri bangsa ini. Kita harus menemukan kembali karakter dan jati diri bangsa yang telah luntur bahkan sudah mulai menghilang, dengan membangun kembali semangat juang, keramahan, gotong royong dan religiusitas bangsa ini. Hanya satu kata dalam menemukan kembali jati diri dan karakter bangsa, yaitu pendidikan yang berbasis karakter. Dengan menanamkan nilai-nilai karakter universal dan semangat juang para pendiri Negara ini, maka kita dapat mengejar ketertinggalan dari Negara maju pada abad 21.

Pentingnya pendidikan karakter bagi bangsa Indonesia adalah sebagai modal dasar untuk melaksanakan pembangunan di segala bidang dalam rangka menuju persaingan di era abad 21. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menekankan pentingnya karakter bangsa yang unggul dalam mencapai tujuan negara maju pada abad ke-21, sebagaimana disampaikan SBY dalam sambutannya pada Puncak Peringatan Hari Pendidikan Nasional dan Hari Kebangkitan Nasional 2011, sebagi berikut:

Lima karakter manusia unggul yang ingin dicapai oleh Indonesia. "Pertama, manusia-manusia Indonesia yang sungguh bermoral, berakhlak dan berperilaku baik. Oleh karena itulah, masyarakat kita harus menjadi masyarakat yang religius," ucap SBY. Kedua adalah mencapai masyarakat yang cerdas dan rasional. Ketiga, manusia-manusia Indonesia yang makin ke depan menjadi manusia yang inovatif dan terus mengejar kemajuan.Keempat, Presiden SBY mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk memperkuat semangat Harus Bisa, yang terus mencari solusi dalam setiap kesulitan. "Yang terakhir,

kita semua, manusia Indonesia haruslah menjadi patriot sejati yang mencintai bangsa dan negaranya, mencintai tanah airnya.

Pembentukan karakter harus dimulai dari membangun potensi nilai-nilai spritual, mengasah dan membangkitkan kecerdasan emosional dan kecerdasan intelektual yang sudah diberikan Tuhan sebagai fitrah manusia sejak lahir melalui pendidikan yang utuh dan menyeluruh (holistik). Dalam prosesnya sendiri fitrah yang alamiah ini berupa potensi pemberian Tuhan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan dan lingkungan masyarakat. Maka sangat penting adanya sinergitas dan keutuhan dari tri pusat pendidikan dalam membentuk anak Indonesia yang cerdas, handal berdaya saing dan berkarakter unggul. Jadi Pendidikan karakter bukan hanya tugas guru di sekolah, akan tetapi harus merupakan tanggung jawab semua elemen bangsa.

Pembentukan karakter bangsa merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Dalam Undang-Undang Sisdiknas 2003 dikatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Makna ungkapan tersebut begitu dalam dan sangat mulia, karena dalam tujuan pendidikan tersebut terkandung prinsip keseimbangan. Pendidikan kita tidak hanya untuk membentuk anak-anak yang hanya pinter dan cerdas saja, tetapi juga berkepribadian dan berkarakter/berakhlak mulia, sehingga melalui pendidikan ini diharapkan akan muncul generasi yang cerdas dari sisi intelektual, emosional dan spritual. Dengan kata lain insan Indonesia yang cerdas, handal, berdaya saingdan berakhlak mulia.

Pendidikan karakter harus dilaksanakan sejak usia dini, karena usia dini merupakan periode perkembangan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pada masa ini, seluruh instrumen besar manusia terbentuk, bukan kecerdasan saja tetapi seluruh kecakapan psikis. Para ahli menamakan periode ini sebagai usia emas perkembangan.Pendidikan anak usia dini sangat penting karena akan menentukan kualitas SDM di masa depan. Hal ini disebabkan karena masa pembentukan otak manusia terjadi paling cepat pada usia saat anak berada pada usia dini. Oleh karena itu, pemerintah sudah semestinya memperhatikan sektor ini sebagaimana sektor-sektor lainya.

Kelompok anak usia dini merupakan kelompok yang sangat strategis dan efektif dalam pembinaan karakter, hal ini harus menjadi kesadaran kolektif dari seluruh elemen bangsa ini. Karena masalah pendidikan anak usia dini sampai saat ini masih banyak menyisakan persoalan. Pertama, masih banyaknya kelompok anak usia dini yang belum dapat mengakses pendidikan (lihat data APK AUD). Kedua, kurangnya pemahaman para guru akan hakikat tujuan pendidikan nasional untuk membangun peserta didik menjadi manusia holistik yang berkarakter. Sehingga dalam proses pembelajaran terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif. Padahal amanat Undang-Undang sudah demikian jelas bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk membentuk (peserta didik) menjadi manusia holistik yang berkarakter. Maka dalam prosesnya pendidikan dan pembelajaranya harus mampu mengembangkan seluruh dimensi dan potensi serta aspek-aspek peserta didik secara utuh dan menyeluruh (holistik). Akibat dari kekurangpahaman ini

banyak praktek-praktek pembelajaran di PAUD/TK yang cenderung lebih mementingkan kemampuan

akademik (calistung) daripada pengembangan aspek emosi dan sosial anak. Hal ini tidak terlepas dari

tuntutan orang tua, termasuk Sekolah Dasar yang mensyaratkan penerimaan siswa dengan melakukan test

kemampuan calistung. Memaksakan anak usia dibawah 6 atau 7 tahun untuk belajar calistung akan

beresiko timbulnya stress jangka pendek dan rusaknya perkembangan jiwa anak dalam jangka panjang (Elkind, 2000:12). Praktek seperti ini jelas akan menghambat proses pembentukan karakter anak.

Ketiga, kurangnya wawasan guru tentang pendekatan dan metode pendidikan karakter yang tepat dalam pembentukan karakter anak usia dini. Padahal wawasan guru dalam berbagai pendekatan dan metode tersebut sangat penting dalam implementasi pendidikan karakter. Akibat kurangnya wawasan guru dalam hal model, pendekatan dan metode pembelajaran pendidikan karakter di TK, maka proses pembelajaran akan menjadi pasif dan tidak memberikan pengalaman kongkrit pada anak (Megawangi, 2011:61).

Keempat, kurang sinergisnya antar sekolah, keluarga dan masyarakat. Ketiga unsur tersebut harus saling mendukung untuk peningkatan pembentukan karakter peserta didik. Akibat ketidaksinergisan ini, pembentukan karakter peserta didik menjadi parsial, dan tidak holistik, akibatnya muncul gejala anak yang bersikap baik di sekolah tetapi di luar sekolah berperilaku kurang baik. Atau sebaliknya di rumah dalam lingkungan keluarga menunjukan sikap yang baik tetapi di luar rumah terlibat geng motor, narkoba dan senang tawuran. Sikap inkonsistensi para peserta didik ini salah satunya diakibatkan kurang sinerginya antara pendidikan sekolah dan keluarga serta masyarakat.

Pendidikan karakter pada anak usia dini sudah sepatutnya menjadi prioritas para orang tua dalam lingkungan keluarga, karena pendidikan karakter harus dimulai dari dalam lingkungan keluarga, yang merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak. Dukungan para orang tua ini sangat penting dalam keberhasilan pendidikan karakter di lingkungan sekolah.Lingkungan keluarga dan masyarakat yang merupakan tempat dimana anak bergaul dan bersosialisasi memiliki tanggung jawab dalam pembentukan karakter anak. Dan begitu juga dukungan komitmen pemerintah sangat penting dalam upaya pembangunan karakter bangsa melalui kebijakan yang berpihak pada pembinaan karakter, khususnya pendidikan karakter anak usia dini.Jika saat ini semua elemen bangsa menyingsingkan lengan baju dan semuanya dengan serius berpartisifasi dalam pembentukan karakter semua anak Indonesia yang berada dalam rentang usia dini (0-6 tahun) maka saat negara ini memasuki usia emas 2045 (seratus tahun Indonesia merdeka), kita akan memiliki generasi emas yang cerdas tangguh dan berkarakter serta berakhlak mulia.

Oleh karena itu diperlukan sebuah pendekatan dalam pengembangan karakter anak usia dini, yang dapat menjadi panduan orang tua, guru dan pengasuh dalam membentuk anak yang berkarakter unggul. Salah satu alternatif pendekatan yang dapat digunakan adalah” Pendekatan Holistik Berbasis Parenting”.

A.

B.

Pengembangan Pendekatan Pendidikan Holistik Berbasis Parenting

1.

Pendidikan Anak Usia Dini Masa Strategis Pembentukan Fondasi Manusia Holistik dan Pengembangan Pendidikan Karakter

C.

Usia dini adalah usia yang strategis dan memiliki peran penting dalam meletakan dasar-dasar dan fondasi untuk pembentukan fondasi manusia holistik dan pengembangan pendidikan karakter sehingga anak siap untuk memasuki jenjang pendidikan selanjutnya. “Usia dini merupakan masa emas

perkembangan (golden age) yang keberhasilannya sangat menentukan kualitas anak di masa

dewasanya”, (Megawangi, 2011:18). Maria Montesori ( dalam Hurlock, 1978:13) menyebut masa ini

dengan istilah “periode kepekaan (sensitive period)”. Pada periode tersebut seluruh aspek

perkembangan anak sangat peka, sehingga masa ini perlu dikelola secara optimal melalui upaya berbagai stimulasi yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.

Jika peletakan fondasi manusia holistik pada masa anak usia dini terlewatkan dan stimulasi perkembangan dan pertumbuhan serta pembinaan pada aspek fisik, emosi, sosial, kreativitas, spiritual dan intelektual anak usia dini terabaikan, maka besar kemungkinan di masa-masa berikutnya anak akan bermasalah dalam kehidupannya. Karena kemampuan berpikir kreatif, kritis dan kemampuan menyelesaikan berbagai masalah dalam kehidupan seseoarang saat mereka dewasa sangat ditentukan pada kualitas pendidikan anak pada saat usia dini . Oleh karena itu hendaklah pendidikan anak usia dini dalam pembinaan karakter dan pembinaan kemampuan-kemampuan anak lainya dilakukan secara optimal, utuh dan menyeluruh (holistik).

Dalam prakteknya pembelajaran holistik pada anak usia dini harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak dan memperhatikan keunikan mereka. Bredekamp, (dalam Megawangi, 2004:124)

menjelaskan pendekatan yang sesuai dengan perkembangan anak yaitu DAP (Developmentally

Appropriate Practices), yaitu :”Suatu pendekatan pembelajaran yang patut dan menyenangkan dan sesuai dengan tahapan perkembangan anak, juga memperhatikan keunikan masing-masing individu anak”.

1.

Pendekatan Holistik dalam Pendidikan Anak Usia Dini

Anak sejak lahir sampai usia delapan tahun adalah pengalaman yang unik dan masa kritis dalam pengembangan dan pembelajaran. Pembelajaran anak saat usia dini akan membentuk landasan bagi kehidupan anak. Pengembangan pendidikan holistikpada anak usia dinimemiliki lingkup yang jauh lebih luas dari hanya sekadarmengembangkan keterampilan dan pengetahuan anak. Banyak faktor, seperti lingkungan sosial budaya, lingkungan fisik, dan keyakinan spiritual orang tuaatau pengasuhyang berpengaruh pada perkembangan anak usia dini. Oleh karena itu orang tua, pendidik, masyarakat, dan pemerintah, memiliki peran penting dalam mendorong perkembangan menyeluruh pada anak usia dini melalui pendekatan secara holistik.

Di setiap negara penyelenggaraan pendidikan anak usia dini telah menerapkan pendekatan pendidikan holistik. Pendekatan pendidikan holistik dianggap tepat dalam proses pengembangan anak usia dini.

Menurut The Australian Department of Education, Employment and Workplace Relations (2009:3)

adalah :

Prosespembelajaran yang memperhatikan keterkaitan antara pikiran, tubuh dan jiwa. Ketika pendidik anak usia dini mengambil pendekatan holistik mereka harus memperhatikan kesejahteraan fisik anak-anak, personal, sosial, emosional dan spiritual serta aspek pembelajaran kognitif.Semua komponen dalam pendekatan holistik terintegrasi dan saling berhubungan dari mulai perencanaan sampai penilaian.Pendidik holistik harus memahami hubungan antara anak, keluarga dan masyarakat dan pentingnya hubungan timbal balik dan kemitraan untuk proses belajar. Sebuah pendekatanyangholistik dalam proses pembelajaran harus terkoneksi dengan alam. Pendidik harus memiliki kapasitas untuk memahami dan menghormati lingkungan alam yang saling ketergantungansatu sama lain.

Dalam melaksanakan pendekatan holistik hendaklah seorang pendidik memahami perkembangan holistik pada anak usia dini, pertama-tama perlu dipahami terlebih dahulu substansi tentang apa itu

anak usia dini, bagaimana karakteristik anak usia dini. Tentang siapa itu anak usia dini, National

Assosiation Education for Young Children (NAEYC), menyampaikan bahwaanak usia dini adalah “sekelompok individu yang berada pada rentang usia antara 0 sampai dengan 8 tahun”. Sementara di Indonesia sesuai dengan Pasal 28 UU Sisdiknas No.20 Tahun 2003 ayat 1, rentang anak usia dini adalah 0-6 tahun. Terlepas dari rentang usia tertentu, pengembangan anak usia dini merupakan masa perubahan fisik, psikologis, dan kognitif yang luar biasa yang sangat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Bahkan Santrock dan Yussen (1992:71)menganggap usia dini “merupakan masa yang penuh dengan kejadian-kejadian yangpenting dan unik yang meletakkan dasar bagi seseorang di masa dewasa”.

Pada saat anak-anak mulai masuk di TK, mereka telah mencapai beberapa tingkat kemandirian yang telah ditanamkan orang tuanya di lingkungan keluarga, baik dalam pengembangan khasanah kemampuan intelektual, sosial, fisik dan emosional. Anak-anak telah memiliki kemampuan untuk berbicara, bahkan beberapa dari mereka memahami lebih dari satu bahasa. Anak-anak datang ke sekolahmembawa keterampilan dan bakat individual mereka. Oleh karena itu sekolah, dalam hal ini TK harus siap untuk melayani meraka dengan seoptimal mungkin.Peran pendidikan Taman Kanak-Kanak adalah untuk mempersiapkan anak-anak untuk perjalananbelajar seumur hidup. Dan tujuan utama daripendidikan TK adalah “untuk mendukung dan mendorong perkembangan anak secara holistik”, (Ministry of Education Singapore : 2003:7).

Secara khusus proses pendidikan holistik di TK harus mampu mempersiapkan anak untuk mendapatkan tantangan kehidupan dan tantangan akademik. Dan untuk memelihara kesehatan, keutuhan, dan rasa ingin tahu anak, dengan cara memaksimalkan potensi bawaan anak-anak, mengembangkan keterampilan, nilai-nilai, dan semangat anak untuk belajar. Lembaga pendidikan anak usia dini di TK harus berupaya untuk menciptakan suatu aktivitas pengembangan secara keseluruhan, melalui penguasaan pengetahuan, penguasaan keterampilan dan pembentukan karakter. Para pendidik holistik hendaknya membantu anak-anak untuk menemukan bakat mereka sendiri, dan untuk mewujudkan

potensi mereka secara utuh, menjamin kesetaraan belajar bagi semua anak, dan menghormati keragaman perbedaan budaya dan individu. Dan juga sangat penting untuk selalu menumbuhkan perasaan positif anak tentang dirinya, hubungan mereka dengan teman-teman sebaya , keluarga dan masyarakat.

Pemahaman pendidik tentang bagaimana anak-anak belajar dan perencanaan yang optimal dengan memperhatikan perkembangan anak di TK akan sangat bermanfaat bagi anak dalam berbagai hal. Diantara manfaat tersebut sebagaimana disampaikan (Ministry of Education, Canada:2010:17): sebagai berikut :

Anak akan (1) menemukan dan menghargai karunia yang ada pada dirinya, (2) mendapatkan kepercayaan melalui rasa memiliki, (3) memahami bahwa mereka dapat memberikan kontribusi berharga untuk masyarakat, (4) menjadi kreatif, komunikatif dan kompeten (5) menjadi pembelajar seumur hidup.

Anak-anak memiliki kekuatan dan potensi yang luar biasa serta kebutuhan berekspresiyang tak terbatas. Anak-anak secara alami terus bereksplorasi, membuat penemuan, dan mengubahdirinya. Oleh karena itu setiap pendidik anak usia dini di TK harus menyadari dan memahami potensi yang dimiliki anak. Seorang pendidik yang efektif akan menghargai bahwa anak adalah pembelajar aktif yang tertarik pada pengalaman-pengalaman untuk membangun pemahaman meraka tentang dunia. Seorang anak akan kompeten dan menjadi pembelajar sejati dengan kehadiran seorang pendidik yang mampu menghargai keberadaan mereka, dapat memenuhi kebutuhan fisiknya serta mampu menciptakan rasa aman pada diri anak. Seorang pendidik harus menyadari bahwa setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda dalam belajar dan bertindak, oleh karena itu setiap anak harus diberikan dukungan dalam perkembanganya dengan memberikan kesempatan untuk secara bebas dalam berekspresi dalammenunjukan berbagai kemampuan baru yang telah diperolehnya.

Pengembangan dan pembelajaranholistik di TK didasarkan pada premis bahwa setiap orang menemukan identitas, makna, dan tujuan hidupnya melaluihubungan dengan orang-orang, tempat, nilai-nilai, dan keyakinan yang dianutnya. Oleh karena itu dalam proses pengembangan pembelajaran di TK hendaknya memberikan kesempatan pada anak untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, minat, sikap, dan kemampuan mereka yang optimal melalui pemberian pengalaman terintegrasi yang mendukung anak-anak dalam mencapaihasil belajarnya dan memberikan kesempatan pada anak-anak untuk tumbuh dan berkembang dalam setiap dimensi dan potensi yang meliputi aspek intelektual, sosial, emosional, fisik, estetik, spiritual, dan aspek karakter/ akhlak mulia.

Secara umum kegiatan pendidikan holistik di TK di beberapa negara meliputi aspek sosial, emosional,intelektual,kreativitas,fisik, dan spritual. Sedangkan tujuan kegiatan pendidikan di tingkat TK adalah untuk meningkatkan pengembangan anak-anak secara holistik, dimana“kurikulum dan pembelajaran di TK minimal harus memberikan pengalaman yang tepat untuk membantu anak tumbuh dan berkembangsecara optimal dalam bidang sosial, emosional, moral,fisik, intelektual kreativitas dan spiritual”, (Attard,2002:5). Program pengembangan pendidikan holistik pada anak usia dini di TK dalam Saskatchewan Ministry of EducationCanada, (2008:24) mencakup “pengembangansosial-

emosional, fisik, intelektual, spritual, bahasa dan keaksaraan”.Semua bidang perkembangan anak di TK

saling terkait danberkembang secara bersamaan dalam kehidupan mereka. Kemajuan dalam satu area perkembangan mempengaruhikemajuan dalamarea lain. Demikian pula, ketika suatuperubahan dalam salah satu area, memiliki dampak pada semua wilayah pengembanganlainnya.

Dalam kegiatan pendidikan holistik di Taman Kanak-Kanak, sangat penting untuk dikembangkan pola kerjasama kemitraan yang harmonis antara orang tua dan guru, melalui kegiatan parenting atau kegiatan lainya. Ketika anak-anak melihat orang tua mereka dan guru saling berbagi tentang kemajuan perkembangan mereka, dan perencanaan untuk pengembangan mereka secara bersama-sama, mereka merasa dihargai oleh masyarakat dan keluarga. Hal ini akan memotivasi mereka dalam belajar dan memacu mereka untuk menyadari tujuan dan ambisi mereka sepanjang hidup. Keluarga harus secara teratur diberitahu tentang kemajuan anak-anaknya di sekolah, dan selalu terlibat dalam perkembangan anak-anak mereka.

a.

A.

Kegatan Pendidikan Anak Usia Dini Berbasis Parenting

b.

c.

Pendidikan anak usia dini berbasis keluarga (Parenting)

Anak adalah amanah dari Yang Maha Kuasa, oleh karena itu orang tua wajib untuk merawat, mengasuh dan mendidiknya dengan baik agar mereka tumbuh menjadi manusia yang seutuhnya. Manusia yang seutuhnya adalah manusia yang berkembanga secara optimal segenap potensi yang dimilikinya. Anak dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah), seperti kertas putuh yang suci dan bersih, akan tetapi sejumlah potensi telah disiapkan dalam diri anak yang harus menjadi tanggung jawab orang tua, masyarakat dab bangsa.

Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan negara. Keluarga adalah tempat pendidikan pertama dan utama bagi anak, mereka berada dalam keluarga sejak dalam kandungan sampai menjelang pernikahan. Oleh karena itu peranan keluarga sangat penting dalam perjalanan seorang anak. Dalam pedoman penyelenggaraan parenting Kemdikbud 2012, dinyatakan sebagai berikut:

Keluarga sebagai lembaga pendidikan informal dilindungi dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Menurut Ki Hadjar Dewantara, “Keluarga adalah Lingkungan Pendidikan yang Pertama dan Utama”. Dengan demikian, peran keluarga dalam hal pendidikan bagi anak, tidak dapat tergantikan sekalipun anak telah dididik di lembaga

pendidikan formal maupun nonformal. Untuk itu, keluarga harus memiliki kemampuan

Dalam dokumen STANDAR PERKEMBANGAN DASAR standar nasional (Halaman 49-64)

Dokumen terkait