• Tidak ada hasil yang ditemukan

STANDAR PERKEMBANGAN DASAR standar nasional

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "STANDAR PERKEMBANGAN DASAR standar nasional "

Copied!
64
0
0

Teks penuh

(1)

STANDAR PERKEMBANGAN DASAR

PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

A.

PENDAHULUAN

Pada hakikatnya pendidikan dalam konteks pembangunan nasional mempunyai fungsi:

(1) pemersatu bangsa, (2) penyamaan kesempatan, dan (3) pengembangan potensi diri.

Pendidikan diharapkan dapat memperkuat keutuhan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik

Indonesia (NKRI), memberi kesempatan yang sama bagi setiap warga Negara untuk

berpartisipasi dalam pembangunan, dan memungkinkan setiap warga Negara untuk

mengembangkan, potensi yang dimilikinya secara optimal.

Sementara itu, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang

Sistem Pendidikan Nasional merupakan dasar hukum penyelenggaraan dan reformasi system

pendidikan nasional. Undang-undang tersebut memuat visi, misi, fungsi dan tujuan

pendidikan nasional serta strategi pembangunan pendidikan nasional, untuk mewujudkan

pendidikan yang bermutu, relevan dengan kebutuhan masyarakat , dan berdaya saing dalam

kehidupan global.

Visi pendidikan nasional adalah mewujudkan system pendidikan sebagai pranata sosial

yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar

berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab

tantangan zaman yang selalu berubah. Misi pendidikan nasional adalah: (1) mengupayakan

perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh

rakyat Indonesia; (2) meningkatkan mutu pendidikan yang memiliki daya saing di tingkat

nasional, regional dan internasional; (3) meningkatkan relevansi pendidikan dengan

(2)

potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka

mewujudkan masyarakat belajar; (5) meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas

kepribadian yang bermoral; (6) meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga

pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap,

dan nilai berdasarkan standar yang bersifat nasional dan global; dan (7) mendorong peran

serta masyarakat prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indinesia.

Anak usia dini merupakan individu yang berbeda, unik, dan memiliki karakteristik

tersendiri sesuai dengan tahapan usianya. Masa usia dini (0-6 tahun) merupakan masa

keemasan (

golden age

) dimana stimulasi seluruh aspek perkembangan berperan penting

untuk tugas perkembangan selanjutnya. Perlu disadari bahwa masa-masa awal kehidupan

anak merupakan masa terpenting dalam rentang kehidupan seseorang anak. Pada masa ini

pertumbuhan otak sedang mengalami perkembangan yang sangat pesat (eksplosif).

Mengingat pentingnya masa ini, maka peran stimulasi berupa penyediaan lingkungan

yang kondusif harus disiapkan oleh para pendidik, baik orang tua, guru, pengasuh ataupun

orang dewasa lain yang ada disekitar anak, sehingga anak memiliki kesempatan untuk

mengembangkan seluruh potensinya. Potensi yang dimaksud meliputi aspek moral dan

nilai-nilai agama, sosial, emosional dan kemandirian, kemampuan berbahasa, kognitif,

fisik/motorik, dan seni. Pendidikan anak usia dini diberikan pada awal kehidupan anak untuk

dapat berkembang secara optimal.

Upaya pengembangan harus dilakukan melalui kegiatan bermain agar tidak membuat

anak kehilangan masa bermainnya. Bermain merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan

bagi anak, bermain juga membantu anak mengenal dirinya, dengan siapa ia hidup, serta

lingkungan tempat di mana ia hidup. Melalui bermain anak memperoleh kesempatan untuk

(3)

Atas dasar hal tersebut di atas, maka perlu dirumuskan

standar kompetensi / standar

perkembangan

bagi anak usia dini yang dikembangkan berdasarkan karakteristik

perkembangan anak agar dapat digunakan oleh para pendidik anak usia dini dalam

mengembangkan seluruh potensi anak.

B.

TUJUAN DAN FUNGSI

1.

Tujuan

Adanya standar kompetensi perkembangan anak diharapkan dapat membantu

mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki anak anak usia dini, meliputi aspek moral

dan nilai-nilai agama, sosial, emosional dan kemandirian, kemampuan berbahasa, kognitif,

fisik/motorik, dan seni, sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan

lingkungannya.

2.

Fungsi

a.

Mengetahui perkembangan sikap dan perilaku yang baik sesuai kaidah agama dan norma

yang dianut.

b.

Mengetahui kemampuan sosialisasi dan kemampuan mengendalikan emosi.

c.

Mengetahui perkembangan kemampuan menolong diri sendiri.

d.

Mengetahui kemampuan perkembangan bahasa.

e.

Mengetahui kemampuan daya pikir dan kemampuan untuk memecahkan masalah.

f.

Mengetahui pertumbuhan fisik dan perkembangan keterampilan motorik dan panca indera.

(4)

Standar kompetensi pendidikan anak usia dini merupakan seperangkat kompetensi yang

diharapkan dapat dikuasai oleh anak sesuai dengan tahapan usianya. Standar ini

dikembangkan berdasarkan aspek perkembangan anak, yang meliputi:

Perkembangan moral dan nilai-nilai agama

Perkembangan sosial, emosional dan kemandirian

Perkembangan bahasa

Perkembangan kognitif

Perkembangan fisik/motorik

Perkembangan seni

Standar perkembangan ini disusun sesuai dengan tahapan usia anak, yaitu:

Standar perkembangan anak usia lahir - 1 tahun

Standar perkembangan anak usia 1 – 2 tahun

Standar perkembangan anak usia 2 – 3 tahun

Standar perkembangan anak usia 3 – 4 tahun

Standar perkembangan anak usia 4 – 5 tahun

Standar perkembangan anak usia 5 – 6 tahun

D.

PRINSIP-PRINSIP

Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan kegiatan/ pembelajaran pada

pendidikan anak usia dini meliputi:

1. Berorientasi pada Perkembangan Anak

Dalam melakukan kegiatan, pendidik perlu memberikan kegiatan yang sesuai dengan tahapan

(5)

perbedaan secara individual. Dengan demikian dalam kegiatan yang disiapkan perlu

memperhatikan cara belajar anak yang dimulai dari cara sederhana ke rumit, konkrit ke

abstrak, gerakan ke verbal, dan dari ke-aku-an ke rasa sosial.

2. Berorientasi pada Kebutuhan Anak

Kegiatan pembelajaran pada anak harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. Anak

pada usia dini sedang membutuhkan proses belajar untuk mengoptimalkan semua aspek

perkembangannya. Dengan demikian berbagai jenis kegiatan pembelajaran hendaknya

dilakukan berdasarkan pada perkembangan dan kebutuhan masing-masing anak.

3. Bermain Sambil Belajar atau Belajar Seraya Bermain

Bermain merupakan pendekatan dalam melaksanakan pembelajaran pada anak usia dini.

Kegiatan pembelajaran yang disiapkan oleh pendidik hendaknya dilakukan dalam situasi

yang menyenangkan dengan menggunakan strategi, metode, materi/bahan, dan media yang

menarik serta mudah diikuti oleh anak. Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi,

menemukan dan memanfaatkan objek-objek yang dekat dengan anak, sehingga pembelajaran

menjadi bermakna bagi anak. Ketika bermain anak membangun pengertian yang berkaitan

dengan pengalamannya.

4.

Stimulasi Terpadu

Perkembangan anak bersifat sistematis, progresif dan berkesinambung-an antara aspek

kesehatan, gizi dan pendidikan. Hal ini berarti kemajuan perkembangan satu aspek akan

mempengaruhi aspek perkembangan lainnya. Karakteristik anak memandang segala sesuatu

sebagai suatu keseluruhan, bukan bagian demi bagian. Stimulasi harus diberikan secara

terpadu sehingga seluruh aspek perkembangan dapat berkembang secara berkelanjutan,

(6)

5.

Lingkungan Kondusif

Lingkungan pembelajaran harus diciptakan sedemikian menarik dan menyenangkan serta

demokratis sehingga anak merasa aman, nyaman dan menyenangkan dalam lingkungan

bermain baik di dalam maupun di luar ruangan. Lingkungan fisik hendaknya memperhatikan

keamanan dan kenyamanan anak dalam bermain. Penataan ruang belajar harus disesuaikan

dengan ruang gerak anak dalam bermain sehingga anak dapat berinteraksi dengan mudah

baik dengan pendidik maupun dengan temannya.

Lingkungan bermain hendaknya tidak memisahkan anak dari nilai-nilai budayanya, yaitu

tidak membedakan nilai-nilai yang dipelajari di rumah dan tempat bermain ataupun di

lingkungan sekitar. Pendidik harus peka terhadap karakteristik budaya masing-masing anak.

6.

Menggunakan Pendekatan Tematik

Kegiatan pembelajaran dirancang dengan menggunakan pendekatan tematik. Tema sebagai

wadah mengenalkan berbagai konsep untuk mengenal dirinya dan lingkungan sekitarnya.

Tema dipilih dan dikembangkan dari hal-hal yang paling dekat dengan anak, sederhana, serta

menarik minat.

7.

Aktif, Kreatif, Inovatif, Efektif, dan Menyenangkan

Proses pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif, efektif, dan menyenangkan dapat dilakukan

oleh anak yang disiapkan oleh pendidik melalui kegiatan-kegiatan yang menarik,

menyenangkan untuk membangkitkan rasa ingin tahu anak, memotivasi anak untuk berpikir

kritis, dan menemukan hal-hal baru. Pengelolaan pembelajaran hendaknya dilakukan secara

demokratis, mengingat anak merupakan subjek dalam proses pembelajaran.

8. Menggunakan Berbagai Media dan Sumber Belajar

Setiap kegiatan untuk menstimulasi perkembangan potensi anak, perlu memanfaatkan

(7)

yang sengaja disiapkan oleh pendidik. Penggunaan berbagai media dan sumber belajar

dimaksudkan agar anak dapat bereksplorasi dengan benda-benda di lingkungan sekitarnya.

9.

Mengembangkan Kecakapan Hidup

Proses pembelajaran harus diarahkan untuk mengembangkan kecakapan hidup melalui

penyiapan lingkungan belajar yang menunjang berkembangnya kemampuan menolong diri

sendiri, disiplin dan sosialisasi serta memperoleh keterampilan dasar yang berguna untuk

kelangsungan hidupnya.

10. Pemanfaatan Teknologi Informasi

Pelaksanaan stimulasi pada anak usia dini dapat memanfaatkan teknologi untuk kelancaran

kegiatan, misalnya tape, radio, televisi, komputer. Pemanfaatan teknologi informasi dalam

kegiatan pembelajaran dimaksudkan untuk mendorong anak menyenangi belajar.

E.

PENDEKATAN PENGEMBANGAN KURIKULUM

1.

Arah atau Sasaran Kurikulum PAUD

Kurikulum diarahkan pada pencapaian perkembangan sesuai dengan tingkatan pertumbuhan

dan perkembangan anak berdasarkan standar perkembangan dan perkembangan dasar (SPPD)

anak usia dini yang dikategorikan dalam kelompok umur sebagai acuan normatif.

2. Prinsip –prinsip Pengembangan Kurikulum

Pengembangan kurikulum hendaknya memperhatikan beberapa prinsip berikut ini:

(8)

Kurikulum anak usia dini harus relevan dengan kebutuhan dan perkembangan anak secara

individu

Adaptasi

Kurikulum anak usia dini harus memperhatikan dan mengadaptasi perubahan psikologis,

IPTEK, dan Seni.

Kontinuitas

Kurikulum anak usia dini harus disusun secara berkelanjutan antara satu tahapan

perkembangan ke tahapan perkembangan berikutnya dalam rangka mempersiapkan anak

memasuki pendidikan selanjutnya

Fleksibilitas

Kurikulum anak usia dini harus dipahami, dipergunakan dan dikembangakan secara fleksibel

sesuai dengan keunikan dan kebutuhan anak serta kondisi lembaga penyelenggara

Kepraktisan dan Akseptabilitas

Kurikulum anak usia dini harus memberikan kemudahan bagi praktisi dan masyarakat dalam

melaksanakan kegiatan pendidikan pada anak usia dini.

Kelayakan (feasibility)

Kurikulum anak usia dini harus menunjukkan kelayakan dan keberpihakan pada anak usia

dini.

Akuntabilitas

Kurikulum anak usia dini harus dapat dipertanggungjawabkan pada masyarakat sebagai

pengguna Jasa pendidikan anak usia dini

3. Pendekatan Pengembangan Kurikulum

Pengembangan kurikulum anak usia dini juga harus memperhatikan berbagai pendekatan

(9)

Pendekatan Holistik dan Terpadu

Pengembangan kurikulum dan isi program didalamnya hendaknya dapat mempertimbangkan

berbagai aspek perkembangan, potensi kecerdasan jamak serta berbagai aspek kebutuhan

anak usia dini lainnya seperti kesehatan dan gizi secara holistik dan terpadu. Sebagai

konsekuensinya, identifikasi dan pemetaan kompetensi harus disusun dan diorganisasikan

sesuai dengan perkembangan dan analisis kebutuhan anak usia dini.

Pendekatan Ragam budaya

(

Multiculture approach)

Pengembangan kurikulum anak usia dini harus memperhatikan lingkungan sosial dan budaya

yang ada di sekitar anak, maupun yang mungkin dialami anak pada perkembangan

berikutnya.

Pendekatan multibudaya akan memberikan konsekuensi pentingnya cakupan isi program

yang dihadapi untuk mengakomodasi pemahaman anak pada kebiasaan, budaya dalam

lingkungan keluarga, masyarakat dan budaya-budaya lain yang terdapat di Indonesia maupun

budaya global.

Pendekatan Konstruktivisme

(Constructivism Approach)

Kurikulum anak usia dini hendaknya mengacu pada pendekatan konstruktivisme yang

beranggapan bahwa anak membangun sendiri pengetahuannya. Untuk itu isi program dalam

kurikulum harus dapat memberikan peluang bagi anak untuk belajar sesuai dengan minat,

motivasi dan kebutuhannya. Hal ini akan berdampak pada proses pembelajaran yang berpusat

pada anak, yang diwarnai dengan adanya kebebasan untuk bereksplorasi dalam rangka

mencari dan menemukan sendiri pengetahuan dan keterampilan yang diminatinya.

Pendekatan kurikulum bermain kreatif (

Play based curriculum approach

)

Filosofi dan teori kurikulum bermain kreatif didasarkan pada 4 (empat) hal, yaitu: (1)

(10)

untuk berpikir, (3) bagaimana anak mengembangkan kemampuan fisik serta (4) bagaimana

anak berkembang melalui budayanya

4.

Karakteristik Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini

Pengembangan kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini memiliki karakteristik sebagai berikut:

Kurikulum PAUD merupakan program pembelajaran PAUD yang mengacu pada Standar

Perkembangan dan Perkembangan Dasar yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan

Nasional.

Kurikulum PAUD dilaksanakan secara terpadu dengan memperhatikan kebutuhan dan

kepentingan terbaik anak serta memperhatikan kecerdasan.

Kurikulum PAUD dilaksanakan secara fleksibel sesuai dengan karakteristik ruang lingkup

dan jenis PAUD.

Kurikulum PAUD dilaksanakan berdasarkan prinsip bermain sambil belajar dan belajar

seraya bermain dengan memperhatikan perbedaan bakat, minat, dan kemampuan

masing-masing anak, sosial budaya, serta kondisi dan kebutuhan masyarakat.

Standar Perkembangan disusun dan dilaksanakan dengan mengintegrasikan kebutuhan anak

terhadap kesehatan , gizi, dan stimulasi psikososial, termasuk kesejahteraannya.

F.

RAMBU-RAMBU

1.

Standar kompetensi / perkembangan ini merupakan acuan bagi pendidik dalam menyusun

program kegiatan atau perencanaan pembelajaran untuk mencapai optimalisasi

perkembangan anak.

2.

Standar kompetensi /perkembangan ini dirancang untuk melayani anak sesuai dengan

tahapan usianya.

(11)

4.

Standar kompetensi /perkembangan ini dirancang untuk akuntabilitas pada masyarakat dan

orangtua khususnya.

5.

Standar kompetensi /perkembangan ini merupakan standar perkembangan minimal. Pendidik

dapat memberikan pengayaan apabila anak telah menguasai kemampuan pada tahap

perkembangannya.

6.

Penggunaan standar kompetensi / perkembangan ini bersifat fleksibel yang disesuaikan

dengan lingkungan sosial dan budaya anak.

G.

Evaluasi, Pengukuran, dan Penilaian di PAUD

Penilaian pendidikan prasekolah (usia dini) dapat diartikan sebagai proses pengambilan

keputusan tentang kedudukan program pendidikan prasekolah (usia dini) yang dilaksanakan.

Sedangkan secara lengkap batasan dari penilaian pendidikan prasekolah (usia dini) dapat

didefinisikan sebagai suatu upaya dan proses memilih, mengumpulkan, serta menafsirkan

informasi tentang posisi program maupun anak, baik terkait dengan pertumbuhan,

perkembangan, kemajuan, perubahan serta kemampuan yang menjangkau berbagai aspek

(bidang pengembangan) melalui cara-cara yang benar, tepat, akurat, terencana dan sistematis

pada dimensi proses maupun hasil; sehingga keputusan yang diambil sesuai dengan kriteria

yang semestinya, yaitu tidak merugikan, sesuai tujuan dan nilai sebagaimana yang telah

ditetapkan.

Prinsip-prinsip Penilaian sebagai berikut:

1) berbasis/orientasi/fokus pada perkembangan.

2) menyeluruh/komprehenship.

3) mendidik/edukatif.

(12)

5) obyektif.

6) kebermaknaan.

7) alat dan caranya sahih (valid) dan terpercaya/ handal (reliable).

8) penilaian harus dikaitkan dan sesuai dengan program.

9) hasil penilaian harus dimanfaatkan untuk kepentingan anak,

10) penilaian harus mengakui perbedaan individual anak baik kemampuan maupun tipe

belajarnya,

11) Penilaian harus mencakup seluruh aspek perkembangan anak (fisik, sosial, mosi, kognitif,

bahasa, dan motorik),

12) penilaian melibatkan observasi yang teratur dan periodik dari anak dalam berbagai

keadaan yang menggambarkan tingkah laku anak setiap saat,

13) penilaian didasarkan pada prosedur yang menggambarkan kegiatan anak secara khusus

dan menolak pendekatan yang menempatkan anak dalam situasi yang dibuat-buat (artificial).

Aplikasi asesmen dalam PAUD

Proses evaluasi dalam PAUD, yaitu pengamatan, pencatatan, dan pendokumentasian kinerja

dan karya siswa serta bagaimana proses anak menhasilkan karya tersebut (Grace dan Shore,

1991;Kumano, 2002). Asesmen tidak digunakan untuk mengukur suatu keberhasilan suatu

program tetapi untuk mengetahui perkembangan atau kemajuan belajar anak. Dalam

aplikasinya di PAUD asesmen tersebut tidak dilakukan di kelas pada akhir program atau akhir

tahun tetapi dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan. Dengan cara misalnya, saat

anak bermain, mengambar, atau dari karya yang dihasilkan. Dengan asesmen guru dapat

mengetahui bakat,minat, kelebihan,dan kelemahan anak.Guru bersama orang tua siswa dapat

memberi bantuan belajar yang tepat untuk anak sehingga dapat diperoleh hasil belajar yang

optimal.

(13)

Perkembangan Fisik Motorik (kasar/ halus)

Perkembangan Kognitif/ Intelektual

Pekembangan Moral dan Sosial

Perkembangan Emosional

Perkembangan Bahasa dan Seni

Kegiatan pengamtan dapat dilakukan melalui berbagai teknik pengamatan, yaitu:

Narative observation yaitu catatan hasil observasi.

Anecdotal Record yaitu catatan yang dianggap lucu.

Running Record yaitu catatan cepat atau uraian singkat.

Time sampling yaitu sampel waktu atau kejadian.

check list yaitu laporan yang berupa daftar chek.

Asesmen digunakan untuk tujuan sebagai berikut:

Untuk mengetahui berbagai aspek perkembangan anak secara individual, dan sebagainya.

Untuk diagnosa adanya hambatan perkembangan maupun identifikasi penyebab masalah

belajar pada anak.

Untuk memberikan tempat dan program yang tepat untuk anak, dalam hal ini untuk

mengetahui apakah anak membutuhkan pelayanan khusus.’

Untuk membuat perencanaan program (curriculum planning), dalam hal ini asesmen

digunakan untuk memodifikasi kurikulum, menentukan metodelogi, dan memberikan umpan

balik (fedback).

Untuk mengidentifikasi dan memperbaiki masalah perkembangan pada anak

Untuk kajian penelitian

(14)

Memberikan informasi perkembangan spesifik

Membantu guru menetapkan tujuan dan merencanakan program

Mendapat profil anak (guru dan orang tua)

Bermanfaat untuk diagnosa anak berkebutuhan khusus sehingga dapat dibuat program

pendidikan individual dan lyanan untuk keluarga.

Evaluasi keberhasilan program, dan lain-lain

Sementara itu, tujuan asesmen untuk bayi dan batita adalah untuk menentukan apakah anak

berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya ataukah mengalami hambatan sehingga

membutuhkan intervensi.

Sumber: http://annetmbejie.blogspot.com/2012/11/standar-perkembangan-dasar-pendidikan.html

UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA MELALUI MEDIA GAMBAR

PADA ANAK USIA DINI

UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA MELALUI MEDIA GAMBAR PADA ANAK USIA DINI

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Sesuai dengan Pasal 1 UU RI No. 20 Tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara (Depdiknas, 2007:2).

Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 14).

PAUD merupakan lembaga pendidikan pra-skolastik atau akademik. Itu artinya, PAUD tidak mengemban tanggungjawab utama dalam membelajarkan keterampilan membaca dan menulis. Subtansi pembinaan kemampuan skolastik atau akademikini haruslah menjadi tanggungjawab utama lembaga pendidikan dasar (Depdiknas, 2007:1).

Usia dini merupakan kesempatan emas bagi anak untuk belajar, sehingga disebut usia emas

(golden age). Pada usia ini anak memiliki kemampuan untuk belajar yang luar biasa khususnya pada masa

(15)

berkembang fisiknya, baik motorik kasar maupun halus, berkembang aspek kognitif, aspek sosial dan emosional.

Anak usia dini memerlukan banyak sekali informasi untuk mengisi pengetahuannya agar siap menjadi manusia sesungguhnya. Dalam hal ini membaca merupakan cara untuk mendapatka an informasi karena pada saat membaca maka seluruh aspek kejiwaan manusia terlibat dan ikut serta bergerak. Hasilnya, otak yang merupakan pusat koordinasi pun bekerja keras menemukan hal-hal baru yang akan menjadi pengisi memori otak sekaligus menjadi bekal pertumbuhan (Adi Susilo, 2011:13).

PAUD sebagai salah satu bentuk lembaga pendidikan anak usia dini yang dalam proses pembelajarannya menekankan pada prinsip bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain. Bermain adalah bagian integral dalam kehidupan setiap anak dan merupakan cara yang paling baik untuk mengembangkan potensi anak secara optimal. Penggunaan metode bermain disesuaikan dengan perkembangan anak (keperluan usia anak). Permainan yang digunakan pada PAUD adalah permainan yang merangsang kreativitas dan menyenangkan (tidak ada unsur pemaksaan) dan sederhana. Pembinaan pengembangan motorik di sini merupakan salah satu kegiatan yang dapat mengembangkan aspek motorik secara optimal dan dapat merangsang perkembangan otak anak. Pengembangan aspek motorik bertujuan untuk memperkenalkan dan melatih gerakan kasar dan halus, meningkatkan kemampuan mengelola, mengontrol dan melakukan koordinasi gerak tubuh, serta meningkatkan keterampilan tubuh dan cara hidup sehat sehingga dapat menunjang pertumbuhan jasmani yang kuat dan terampil.

Melalui pembinaan aktivitas anak (Fisik Motorik) di PAUD diharapkan akan memberikan dasar pemikiran untuk mengkaji lebih spesifik dalam rangka pelaksanaan program pendidikan. Dengan memanfaatkan sarana alat bermain, gambar dan permainan yang tersedia di PAUD serta disesuaikan dengan perkembangan dan pertumbuhan fisik anak usia PAUD

Kemampuan membaca anak usia dini umumnya masih relatif kurang karena pedidikan usia dini merupakan awal atau permulaan anak belajar membaca. Anak usia dini umumnya enggan untuk membaca sesuatu yang bersifat abstrak. Selain itu tuntutan orang tua yang menginginkan anak cepat bisa membaca. Ditambah lagi tuntutan dari SD yang mengadakan penerimaan siswa dengan menggunakan tes baca tulis.

Guru memerlukan cara untuk menyelesaikan masalah tersebut. Salah satu cara yang dapat digunakan oleh guru adalah dengan menggunakan media yang dapat merangsang minat baca anak didik dalam membaca. Media yang dapat digunakan salah satunya adalah media kartu gambar. Media kartu gambar adalah media yang berupa gambar yang diserta dengan kata-kata atau kalimat dibawahnya. Dengan adanya gambar tersebut, maka anak didik akan terangsang utuk mengetahui maksud gambar tersebut dan mencoba membaca kata-kata atau kalimat yang ada.

1.2. Identifikasi Masalah

Memperhatikan dan menelaah latar belakang tersebut di atas, maka identifikasi masalah dalam penelitian skripsi ini dapat meliputi sebagai berikut :

1. Kemampuan membaca peserta didik yang umumnya masih relatif rendah

2. Tuntutan orang tua yang menginginkan anaknya bisa cepat membaca.

3. Bagaimana cara untuk meningkatkan minat membaca anak usia dini

4. Perlu adanya metode pembelajaran yang menarik untuk anak didik.

5. Penggunaan media pengajaran dalam proses pembelajaran.

6. Penggunaan gambar yang menarik untuk meningkatkan minat siswa.

1.3. Pembatasan Masalah

Agar pembahasan tidak terlalu meluas, penulis merasa perlu memberikan batasan. Untuk mempermudah didalam memahami skripsi ini, penulis berfokus pada upaya meningkatkan minat baca melalui media gambar menghubungkan tulisan sederhana dengan gambar yang melambangkannya, pada anak usia dini Hidayatul Mubtadiin Kecamatan Tunjung teja Kabupaten Serang.

(16)

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, penulis merumuskan masalah pokok yaitu; Bagaimanakah upaya meningkatkan Minat Baca Melalui Media Gambar pada Anak Usia dini Hidayatul Mubtadiin Kecamatan Tunjung Teja Kabupaten Serang.

1.5. Maksud dan Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan minat baca pada anak usia dini 2. Tujuan Khusus

Sesuai dengan perumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah meningkatkan minat baca melalui media gambar pada anak usia dini Hidayatul Mubtadiin Kecamatan Tunjung teja Kabupaten Serang.

1.6. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Untuk mendapatkan teori baru tentang meningkatkan minat baca anak didik melalui kartu gambar.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk berbagai pihak, antara lain: 1. Bagi siswa

a. Anak didik lebih termotivasi dalam belajar. b. Meningkatnya minat baca pada anak didik.

2. Bagi guru

a. Memperoleh pengalaman untuk meningkatkan minat baca anak didik melalui kartu gambar.

b. Dapat memperbaiki dan meningkatkan proses pembelajaran di kelas.

3. Bagi sekolah

a. Hasil penelitian diharapkan mampu membantu sekolah dalam rangka memperbaiki proses belajar mengajar.

b. Memotivasi kepada guru-guru untuk menerapkan metode yang bervariasi dalam pengajaran.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Pustaka

2.1.1. Minat

Minat merupakan sumber motivasi yang mendorong orang untuk melakukan apa yang mereka inginkan bila mereka bebas memilih. Bila mereka melihat sesuatu melihat sesuatu akan menguntungkan mereka merasa berminat. Ini kemudian mendatangkan kepuasaan. Bila kepuasaan berkurang, minat pun berkurang. Setiap minat memuaskan kebutuhan dalam kehidupan anak, walaupun kebutuhan ini mungkin tidak segera tampak bagi orang dewasa. Semakin kuat kebutuhan ini, semakin kuat dan bertahan pada minat tersebut (Hurlock. 1978:114).

(17)

yang dipilih sendiri dan menyenangkan sehingga dapat membentuk suatu kebiasaan dalam diri seseorang (www1.bpkpenabur. or.id/jurnal/04/017-035.pdf).

Minat merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi usaha yang dilakukan seseorang. Minat yang kuat akan menimbulkan usaha yang gigih, serius dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi tantangan. Jika seorang anak memiliki rasa ingin belajar, ia akan cepat dapat mengerti dan mengingatnya.

Berikut merupakan ciri-ciri minat anak menurut Hurlock (1978, 115), antara lain adalah sebagai berikut : (a) minat tumbuh bersamaan dengan perkembangan fisik, (b) minat bergantung pada kesiapan belajar, (c) minat bergantung pada kesempatan belajar, (d) perkembangan minat mungkin terbatas, (e) minat dipengaruhi pengaruh budaya, (f) minat itu egosentris.

Peserta didik akan terdorong untuk belajar manakala mereka memiliki minat untuk belajar. Oleh sebab itu, mengembangkan minat belajar peserta didik merupakan salah satu teknik dalam mengembangkan motivasi siswa. Beberapa cara dapat dilakukan untuk membangkitkan minat belajar siswa menurut Sanjaya (2006 : 28-29), diantaranya: (a) hubungkan bahan pelajaran yang akan diajarkan dengan kebutuhan peserta didik, (b) sesuaikan materi pelajaran dengan tingkat pengalaman dan kemampuan siswa, (c) ciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar, (d) berilah pujian yang wajar terhadap setiap keberhasilan siswa, (e) berikan penilaian, (f) berilah komentar terhadap hasil pekerjaan siswa, penghargaan bisa dilakukan dengan memberikan komentar positif, (g) ciptakan persaingan dan kerja sama. Persaingan yang sehat dapat memberikan pengaruh yang baik untuk keberhasilan proses pembelajaran peserta didik.

Menurut Usman (2008:27) kondisi belajar-mengajar yang efektif adalah minat dan perhatian siswa dalam belajar. Minat merupakan suatu sifat yag relatif menetap pada diri seseorang. Minat sangat besar pengaruhnya terhadap belajar sebab dengan minat seseorang akan melakukan sesuatu yang diminatinya. Sebaliknya, tanpa minat seseorang tidak mungkin melakukan sesuatu. Misalnya seorang anak menaruh minat terhadap terhadap kesenian, maka ia akan berusaha untuk mengetahui lebih banyak tentang kesenian. Pada hakikatnya setiap anak berminat terhadap belajar, dan guru sendiri hendaknya berusaha membangkitkan minat terhadap belajar.

2.1.2. Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini

Bahasa adalah segala bentuk komunikasi di mana pikiran dan perasaan seseorang disimbolisasikan agar dapat menyampaikan arti kepada orang lain. Oleh karena tiu, perkembangan bahasa dimulai dari tangisan pertama sampai anak mampu bertutur kata. Perkembangan bahasa terbagi menjadi dua periode, yaitu, periode Prelinguistik dan periode Linguistik. Periode Linguistik inilah anak mulai mengucapkan kata-kata pertama. Menurut Sumantri (2008:2.30-2.31) periode linguistic terbagi dalam tiga fase besar, yaitu:

a. Fase satu kata atau Holofrase

Pada fase ini anak mempergunakan satu kata untuk menyatakan pikiran yang kompleks, baik berupa keinginan, perasaan atau temuannya tanpa perbedaan yang jelas. Pada umumnya kata pertama yang diucapkan oleh anak adalah kata benda, setelah beberapa waktu barulah disusul dengan kata kerja.

b. Fase lebih dari satu kata

Fase dua kata muncul pada anak berusia sekitar 18 bulan. Pada fase ini anak sudah dapat membuat kalimat sederhana yang terdiri dari dua kata. Pada periode ini bahasa yang digunakan oleh anak tidak lagi egosentris, dari dan untuk dirinya. Orang tua mulai melakukan Tanya jawab dengan anak secara sederhana. Anak pun mulai dapat bercerita dengan kalimat-kalimat sederhana.

c. Fase diferensiasi

Periode terakhir dari masa balita yang berlangsung antara usia dua setengah sampai lima tahun. Keterampilan anak dalam berbicara mulai lancar dan berkembang pesat. Dalam berbicara anak bukan saja menambah kosakatanya yang mengagumkan akan tetapi anak mulai mampu mengungkapkan kata demi kata sesuai dengan jenisnya, terutama dalam pemakaian kata benda dan kata kerja.

Menurut Brewer dalam Suyanto (2005:73) perkembangan bahasa mengikuti suatu urutan yang dapat diramalkan secara umum sekalipun banyak variasinya diantara anak yang satu dengan anak yang lain, dengan tujuan mengembangkan kemampuan untuk berkomunikasi. Kebanyakan anak memulai perkembangan bahasanya dari menangis untuk mengekspresiakan responnya terhadap bermacam-macam stimuli. Anak mulai memerang (cooing), yaitu melafalkan bunyi yang tidak ada artinya secara berulang-ulang, seperti suara burung yang sedang berkicau. Anak pada umumnya belajar nama-nama benda sebelum kata-kata lain.

(18)

a. Keterampilan berbahasa, dapat ditunjukkan oleh anak dalam perilaku: menyapa, memperkenalkan diri, bertanya, mendeskripsikan, melaporkan kejadian, menyatakan suka/tidak, meminta ijin, bantuan, mengemukakan alas an, memerintah atau menolak sesuatu.

b. Keterampilan mendengar, dapat ditujukan oleh anak dalam perilaku: mendengarkan perintah, mendengarkan pertanyaan, mendengarkan orang yang sedang bercerita dan mendengarkan orang yang sedang member petunjuk.

c. Keterampilan berbicara, dapat ditujukan oleh anak dalam perilaku: mengembangkan keterampilan bertanya, menyiapkan kegiatan yang dapat dilakukan di dalam maupun di luar kelas, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan menggunakan berbagai kegiatan yang bervariasi.

d. Keterampilan membaca, adalah kegiatan yang melibatkan unsur auditif (pendengaran) dan visual (pengamatan).

2.1.3. Membaca

Retorika adalah kiat yang didasarkan atas nengetahuan yang tersusun baik dan kemahiran yang telah dimiliki untuk mencapai tujuan. Berbahasa merupakan kegiatan penggunaan bahasa untuk berkomunikasi. Penggunaan bahasa meliputi menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Membaca merupakan salah satu ketrampilan berbahasa yang lainnya (berbicara dan menulis) (Haryadi, 2007:4).

Agar dapat membaca secara efektif dan efisien, seorang pembaca harus dapat menggunakan dasar pengetahuan yang telah tersusun dengan baik dan dasar kemahiran yang telah dimiliki dengan benar dan tepat. Pembaca dapat menggunakan keduanya dengan tepat dan benar jika pembaca mempunyai kiat dalam membaca. Kiat yang dimaksud adalah bagaimana pembaca memilih dan menggunakan model membaca, metode membaca, dan teknik membaca sesuai kebutuhan.

Model-model membaca tidaklah muncul secara tiba-tiba, akan tetapi merupakan kerja keras dari para ahli yang mengkajinya dalam waktu yang relatif lama. Dalam menghasilkan suatu model membaca ada suatu tata kerja tersendiri yang harus ditempuh melalui penelitian. Cara menghasilkan model membaca dilakukannya secara profesional yang bersifat teknik. Berikut merupakan pendekatan membaca menurut Haryadi (2007:12-16): a. Pendekatan Taksonomik

Pendekatan taksonomik dikembangkan oleh Gray. Ia berpendapat bahwa dalam membaca diperlukan empat ketrampilan, yaitu mengenal kata, komprehensif, reaksi, dan asimilasi (Dechant dan Smith, 1977:15). Awal mula membaca merupakan kegiatan pengenalan simbol-simbol dilakukan pembaca dalam bentuk penyandian kembali simbol tulis yang berbentuk kata secara mekanik

b. Pendekatan Psikologis

Pendekatan psikologis terdiri atas dua, yaitu:

1. Pendekatan behavioral, dipelopori oleh Skinner. Pendekatan ini berpandangan bahwa belajar bahasa dapat dikendalikan oleh luar. Seseorang dikatakan belajar kalau mendapat stimulus atau rangsangan dari luar, kemudian dari rangsangan tersebut menghasilkan respon dari orang yang belajar. Menurut pandangan behavioral, ketrampilan membaca merupakan hasil proses membaca yang diperoleh dari hubungan antara rangsangan dan reaksi yang dikenal dengan sebutan S-R yaitu stimulus dan respons.

2. Pendekatan kognitif, dipelopori oleh piaget. Menurut pandangan kognitif, membaca tidaklah sekedar memperoleh rangsangan simbol-simbol tertulis melalui mata, tetapi yang lebih penting adalah memproses rabgsangan tersebut di dalam otak.

3. Pendekatan Proses Informasi. Tokoh yang dikenal dalam pendekatan proses informasi adalag Smith. Ia menyatakan bahwa keterampilan membaca merupakan suatu proses informasi. Pendekatan ini berprinsip bahwa membaca adalah aktivitas komunikasi yang memungkinkan informasi ditrasformasi dari penulis kepada pembaca.

4. Pendekatan Psikomotorik. Pendekatan ini dikembangkan oleh Holmes dan Singer . Kegunaan dari pendekatan ini dalam membaca adalah sebagai pengukur tingkat kenyaringan dan kecepatan baca yang dilakukan pembaca. c. Pendekatan Linguistik. Pendekatan ini dikembangkan dalam dua periode yaitu:

1) Bloomfield, Fries, dan lefevre. Bloomfield berpendapat bahwa

membaca merupakan hubungan teratur antara sistem tulisan dan ujaran. Fries mengatakan bahwa membaca merupakan hubungan antara bunyi-bunyi bahasa dengan huruf. Sedangkan Lefevre menekankan faktor kebahasaan dalam membaca, baik yang berkaitan dengan tuturan kata maupun hubungan antara kata dan kata dalam menghasilkan kalimat.

2) Muncul teori baru yang disebut teori trasformasi. Diperkenalkan oleh Chomsky yang kemudian dilanjutkan oleh Halle, Goodman, dan Ruddel. Teori transformasi menekankan perbedaan antara struktur luar dan struktur dalam. Yang dimaksud struktur luar membaca adalah bunyi-bunyi atau simbol-simbol tulisan, sedangkan struktur dalam membaca adalah makna sintaktik dan interpretasi semantik (penafsiran makna bacaan).Menurut Depdiknas (2007 : 3) kemampuan membaca ditentukan oleh perkembangan bahasa.

3) Perkembangan kemampuan berbahasa anak usia 4-6 tahun ditandai oleh berbagai kemampuan sebagai berikut: (a) mampu menggunakan kata ganti saya dalam berkomunikasi, (b) memiliki berbagai perbendaharaan kata kerja, kata sifat, kata keadaan,kata tanya, dan kata sambung, (c) menunjukkan pengertian, dan pemahaman tentang sesuatu, (d) mampu mengungkapkan pikiran, perasaan, dan tindakan dengan menggunakan kalimat sederhana (e) mampu membaca dan mengungkapkan sesuatu melalui gambar. Secara umum melalui kegiatan awal membaca dalam perkembangan berbahasa diharapkan anak dapat membentuk perilaku membaca, mengembangkan beberapa kemampuan sederhana dan keterampilan pemahaman dan mengembangkan kesadaran huruf.

2.1.4. Media Gambar

(19)

anak didik memperoleh pengetahuan, ketrampilan dan sikap. Menurut Sudjana (2007,2) manfaat media pengajaran dalam proses belajar antara lain :

a. Pengajaran akan lebih menarik perhatian anak didik sehingga dapat menumbuhnya motivasi belajar.

b. Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh para anak didik, dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran.

c. Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga anak didik tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga.

d. Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain.

Sedangkan menurut Usman (2008:32), media pendidikan mempunyai manfaat sebagai berikut: (a) meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berpikir. Oleh karena itu, mengurangi verbalisme, (b) memperbesar perhatian siswa, (c) membuat pelajaran lebih menetap atau tidak mudah dilupakan, (d) memberikan pengalaman yang nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri dikalangan para anak didik, (e) menumbuhkan pemikiran yang teraturdan bersambung, (f) membantu tumbuhnya pengertian dan membantu perkembangan kemampuan berbahasa.

Gambar merupakan media untuk berkomunikasi dengan orang lain. Gambar berfungsi sebagai stimulasi munculnya ide, pikiran maupun gagasan baru. Gagasan ini selanjutnya mendorong anak untuk berbuat, mengikuti pola berpikir seperti gambar atau justru muncul ide baru dan menggugah rasa (Pamadhi, 2008:2.8).

Dalam proses belajar mengajar gambar yang digunakan mampu membantu apa yang akan dijelaskas oleh guru, memliki kualitas yang baik, dalam arti, dalam arti memiliki tujuan yang relevan, jelas, mengadung kebenaran, autentik, aktual, lengkap, sederhana, menarik, dan memberikan sugesti terhadap kebenaran itu sendiri. Menurut Sadiman (2011, 31-33) ada enam syarat yang perlu dipenuhi oleh gambar/foto yang baik sehingga dapat dijadikan sebagai media pengajaran:

a. Autentik. Gambar tersebut secara jujur melukiskan situasi seperti kalau orang melihat benda sebenarnya. b. Sederhana. Komponen gambar hendaknya cukup jelas dan menunjukkan poin-poin pokok pembelajaran. c. Ukuran relatif. Gambar dapat memperbesar atau memperkecil obyek/benda sebenarnya.

d. Gambar/foto sebaiknya mengandung gerak atau perbuatan.

e. Gambar yang bagus belum tentu baik untuk mencapai tujuan pembelajaran. Walaupun dari segi mutu kurang, gambar/foto karya siswa sering sekali lebih baik.

f. Tidak semua gambar yang bagus adalah media yang baik. Gambar hendaknya bagus dari sudut seni dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Menurut Pamadhi (2008:2.9) manfaat gambar bagi anak adalah sebagai berikut: (a) alat untuk mengutarakan (berekspresi) isi hati, pendapat maupun gagasannya, (b) media bermain fantasi, imajinasi dan sekaligus sublimasi, (c) stimulasi bentuk ketika lupa, atau untuk menumbuhkan gagasan baru, (d) alat untuk

menjelaskan bentuk serta situasi.

Media pendidikan sangat berperan dalam perencanaan dan pelaksanaan secara sistematis. Media sendiri adalah orang, benda atau kejadian yang menciptakan suasana yang memungkinkan seseorang memperoleh pengetahuan, ketrampilan, maupun sikap. Salah satu media yang digunakan dalam proses pembelajaran adalah kartu gambar. Media kartu gambar adalah media yang berupa kertas tebal yang berbentuk persegi dengan disertai gambar baik berupa gambar orang, hewan tumbuhan dan lain sebagainya.

2.2. Kerangka Berpikir

Untuk mengatasi permasalahan yang dikemukan sebelumnya, penulis menggunakan media gambar untuk meningkatkan proses tercapainya tujuan yang nyata dari peningkatan minat membaca yang sesuai dengan keadaan tingkat kemampuannya. Dalam hal ini berarti bahwa anak-anak harus memperoleh peningkatan atau prestasi di dalam belajarnya, dengan menggunakan media yang dapat merangsang minat baca anak didik dalam membaca. Media yang dapat digunakan salah satunya adalah media kartu gambar. Media kartu gambar adalah media yang berupa gambar yang diserta dengan kata-kata atau kalimat dibawahnya. Dengan adanya gambar tersebut, maka anak didik akan terangsang utuk mengetahui maksud gambar tersebut dan mencoba membaca kata-kata atau kalimat yang ada.

2.3. Hipotesis Tindakan

Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Berdasarkan kajian teori di atas dapat ditarik hipotesis bahwa “ melalui media gambar dapat meningkatkan minat membaca pada anak usia dini Hidayatul Mubtadiin Kec. Tunjung teja Kabupaten Serang.

Tindakan Operasional

1. Setiap tema pebelajaran yang disampaikan kepada anak disisipkan kegiatan media gambar yang berkaitan dengan tema. Anak diajak membaca, diberikan contoh dan diberi kebebasan untuk melihat gambar serta diberikan kebebasan untuk mengetahui maksud gambar tersebut, mencoba membaca kata-kata atau kalimat yang ada

(20)

3. Guru harus bisa mengindari pembatasan terhadap gambar anak yang timbul dari ide kreatifnya.

4. Setiap gambar dijelaskan kepada anak dengan kreatif guru atau menirukan berbagai hal dari kreatifitas guru terhadap anak sehingga gambar dan bacaan yang ada di bawahnya mudah untuk dibaca.

BAB III

OBYEK DAN METODE PENELITIAN

3.1 Obyek Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di PAUD Hidayatul Mubtadiin Ds. Bojong Pandan, Kec. Tunjung teja Kabupaten Serang Propoinsi Banten. Pada tahun ajaran 2012/2013. Subyek penelitian tindakan kelas ini adalah anak didik kelas O Besar dengan jumlah siswa 20 anak yang terdiri dari 12 anak laki-laki dan 8 anak perempuan.

3.1.1. Waktu Penelitian

Penelitian tindakan kelas dilaksanakan pada bulan Mei 2013 sampai Juni 2013 Tahun Ajaran 2012/2013 Penelitian dilakukan karena minat baca pada anak usia dini Hidayatul Mubtadiin Kec. Tunjung teja Kab. Serang

3.1.2 Tempat Penelitian

a. Lokasi penelitian tindakan kelas yang dilakukan peneliti adalah di PAUD Hidayatul Mubtadiin Ds. Bojong Pandan, Kec. Tunjung teja Kabupaten Serang Propoinsi Banten.

b. Penelitian dilakukan pada PAUD Hidayatul Mubtadiin, karena peneliti merupakan guru dari PAUD tersebut.

3.2. Metode dan Desain Interventasi Tindakan (Rancangan Siklus Penelitian) 1. Metode Intervensi Tindakan

Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas, disingkat PTK. Penelitian tindakan kelas berasal dari istilah bahasa Inggris Classroom Action Research, yang berarti penelitian yang dilakukan pada sebuah kelas untuk mengetahui akibat tindakan yang dilakukan terhadap subyek penelitian di kelas tersebut.

Penelitian tindakan adalah merupakan salah satu penelitian teknikal tindakan yang mana bertujuan untuk meningkatkan efektifitas atau system dalam pengelolaan atau tindakan (Zuber dan Skerit, 2000:31)

Menurut Dr. Sulipan, M.Pd, dalam tulisannya yang disusun untuk Program Bimbingan Karya Tulis Ilmiah Online ( http://www.ktiguru.org ) berjudul ”Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research)”, pertama kali penelitian tindakan kelas diperkenalkan oleh Kurt Lewin pada tahun 1946, yang selanjutnya dikembangkan oleh Stephen Kemmis, Robin Mc Taggart, John Elliot, Dave Ebbutt dan lainnya. Pada awalnya penelitian tindakan menjadi salah satu model penelitian yang dilakukan pada bidang pekerjaan tertentu di mana peneliti melakukan pekerjaannya, baik di bidang pendidikan, kesehatan maupun pengelolaan sumber daya manusia. Salah satu contoh pekerjaan utama dalam bidang pendidikan adalah mengajar di kelas, menangani bimbingan dan konseling, dan mengelola sekolah. Dengan demikian para guru atau kepala sekolah dapat melakukan kegiatan penelitiannya tanpa harus pergi ke tempat lain seperti para peneliti konvensional pada umumnya. Adapun tujuan penelitian tindakan kelas itu tidak lain adalah untuk memecahkan masalah, memperbaiki kondisi, mengembangkan dan meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.

Menurut Suharsimi Arikunto (2002:82), penelitian tindakan adalah penelitian tentang hal-hal yang terjadi di masyarakat atau sekelompok sasaran dan hasilnya langsung dapat dikenakan pada masyarakat yang bersangkutan. Ciri atau karakteristik utama dalam penelitian tindakan adalah adanya partisipasi dan kolaborasi antara peneliti dengan anggota kelompok sasaran. Penelitian tindakan adalah salah satu strategi pemecahana masalah yang memanfaatkan tindakan nyata dalam bentuk proses pengembangan inovatif yang dicoba sambil jalan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah. Dalam prosesnya, pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut dapat saling mendukung satu sama lain.

Sedangkan tujuan penelitian tindakan harus memenuhi beberapa prinsip sebagai berikut;

1. Permasalahan atau topik yang dipilih harus memenuhi kriteria, yaitu benar-benar nyata dan penting, menarik perhatian dan mampu ditangani serta dalam jangkauan kewenangan peneliti untuk melakukan perubahan.

2. Kegiatan penelitian, baik inferensi maupun pengamatan yang dilakukan tidak boleh sampai mengganggu atau menghambat kegiatan utama.

(21)

4. Metodologi yang digunalkan harus jelas, rinci dan terbuka, setiap langkah dari tindakan dirumuskan dengan tegas sehingga orang yang berminat terhadap penelitian tersebut dapat mengecek setiap hipotesis dan pembuktiannya.

5. Kegiatan penelitian diharapkan dapat merupakan proses kegiatan yang berkelanjutan (on-going), mengingat bahwa pengembangan dan perbaikan terhadap kualitas tindakan memang tidak dapat berhenti tetapi menjadi tantangan sepanjang waktu (Arikunto, Suharsimi, 2002:82).

Menurut Sukidin, dkk (2002:54), ada 4 (empat) macam bentuk penelitian tindakan kelas, yaitu : (1) penelitian tindakan guru sebagai peneliti, (2) penelitian tindakan kolaborasi, (3) penelitian tindakan simultan terintegratif dan (4) penelitian tindakan sosial eksperimental. Keempat bentuk penelitian tindakan itu ada persamaan dan perbedaannya.

Penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian tindakan guru sebagai peneliti, dimana guru terlibat langsung secara penuh dalam proses pelaksanaan penelitian, mulai dari tahap menyusun perencanaan, melakukan tindakan, melakukan observasi dan tahap refleksi. Kehadiran pihak lain dalam penelitian ini, kalaupun ada, peranannya sangat kecil dan tidak dominan. Penelitian ini mengacu pada perbaikan pembelajaran yang berkesinambungan.

Ada banyak model penelitian tindakan yang dikemukakan oleh para ahli, tetapi secara garis besar suatu penelitian tindakan lazimnya memiliki 4 (empat) tahapan yang harus dilalui, yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi.

Kemmis dan Taggart (1988:14) menyatakan bahwa model penelitian tindakan adalah berbentuk spiral. Tahapan penelitian tindakan pada suatu siklus meliputi empat tahapan, yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan tahap refleksi. Siklus ini berlanjut dan akan dihentikan jika dirasa sudah cukup memenuhi kebutuhan dan tujuan penelitian yang telah ditetapkan.

Sesuai dengan jenis rancangan penelitian yang dipilih, yaitu penelitian tindakan kelas, maka penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart (dalam Arikunto, Suharsimi, 2002:83), yaitu berbentuk spiral dari siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan), observasi (pengamatan) dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya adalah perencanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus I dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan.

Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian tindakan (Action Research). Yaitu suatu penelitian yang menempuh langkah-langkah yang dilakukan secara siklus. Peneliti menetapkan 2 siklus dalam melakukan penelitian tindakan kelas, mengingat kemampuan anak dan waktu sangat terbatas maka peneliti menetapkan waktu yang dibutuhkan setiap siklus selama 6 hari belajar efektif (6 x pertemuan). Untuk siklus pertama dilakukan setiap hari berturut-turut selama 6 hari dalam waktu 1 jam kegiatan 60 menit.

Tahapan-tahapan dalam siklus adalah sebagai berikut: (a) perncanaan (planning), (b) tindakan

(acting), (c) Pengamatan (observing), (d) refleksi (reflecting)

2. Desain Interventasi Tindakan

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode penelitian tindakan kelas (Classroom Action

Research) dengan model yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Taggart (Muharjito, 2005:20), yaitu model

siklus secara berulang dan berkelanjutan (spiral) yang berarti semakin lama diharapkan semakin meningkat perubahannya dan pencapaian hasilnya. Penelitian ini berlangsung bersamaan dengan pelaksanaan proses pembelajaran sesungguhnya. Dalam penelitian ini peneliti berperan sebagai guru yang melakukan pengajaran dengan menerapkan metode pendekatan kontekstual. Setiap tahapan tersebut berfungsi saling menguraikan karena pada masing-masing tahapan meliputi proses penyempurnaan yang harus dilaksanakan secara terus menerus sehingga mendapat hasil yang diinginkan.

3.3. Peranan dan Posisi Peneliti dalam Penelitian 1. Peran Peneliti

Dalam penelitian tindakan kelas ini, peneliti sebagai pemimpin perencanaan. 2. Posisi Penelitian

Dalam penelitian tindakan kelas ini, peneliti berada pada posisi sebagai guru yang memberikan tindakan sekaligus kemudian memberikan tindakan kepada subjek penelitian, selama proses penelitian peneliti dan kolabolator melakukan pengamatan langsung, yang hasilnya di evaluasi secara kolaboratif, hasil dari

pengamatan dan refleksi dan tindakan yang telah dilakukan dapat digunakan untuk menganalisi data sehingga menjadi bahan acuan untuk memperbaiki perncanaan pada siklus berikutnya.

3.4. Tahapan Intervensi Tindakan

Siklus I

(22)

Pada tahap ini peneliti membuat program rencana kegiatan sebagai berikut: 1) menetapkan anak yang akan dijadikan subjek penelitian; 2) menyusun instrument untuk panduan observer/kolaborator yang akan dijadikan alat test disetiap akhir pertemuan disetiap siklus; 3) menyusun lembar program harian atau satuan kegiatan harian; 4) membuat lembar observasi yang digunakan untuk mencantum hasil pengamatan; 5) menentukan dan menetapkan waktu pelaksanaan; 6) membuat jadwal pelaksanaan kegiatan yang akan dilaksanakan; 7) menyusun absen anak untuk masing-masing siklus; 8) menjelaskan kepada orang tua/wali murid PAUD Hidayatul Mubtadiin mengenai penelitian yang akan dilaksanakan.

b. Tahap Tindakan (action)

Pelaksanaan tindakan dilakukan dalam setiap siklus terdiri dari 6 pertemuan, masing-masing pertemuan dilakukan dalam waktu selama 90 menit, yaitu 15 menit untuk pembukaan (apersepsi) 60 menit kegiatan inti dan 15 menit untuk evaluasi dan penutup.

Kegiatan yang disesuaikan dalam waktu belajar yang dijadwalkan di PAUD Hidayatul Mubtadiin tersebut setelah melaksanakan 1 siklus sebanyak 6 pertemuan, peneliti dan kolaborator melakukan refleksi secara keseluruhan dari siklus. Selanjutnya akan diadakan siklus II berdasarkan refleksi yang telah dilakukan lebih lanjut yang akan dilakukan pada setiap siklusnya.

c. Tahap Pengamatan

Tahap pengamatan atau observasi dalam setiap siklus pelaksanaannya adalah bersamaan dengan tindakan yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah:

a. Guru melakukan observasi atau pengamatan terhadap dirinya sendiri dengan cara mencatat pada format observasi yang sudah disiapkan sebelumnya tentang tindakan-tindakan yang sudah ataupun yang belum dilakukan dalam kegiatan pembelajaran.

b. Melakukan observasi atas aktivitas belajar anak dalam kelompok maupun dalam kelas dan interaksi belajar di antara mereka maupun dengan guru dengan cara mencatat pada lembar observasi yang telah disiapkan.

c. Mengamati keterampilan berbicara dan membaca selama kegiatan pembelajaran berlangsung melalui penerapan melalui media gambar.

4. Tahap Refleksi

Pada tahap ini guru melakukan penafsiran, pemaknaan, dan evaluasi atas segala tindakan yang telah dilakukan dan hasil-hasilnya maupun atas tindakan yang belum dilaksanakan berikut hambatan-hambatannya sambil memikirkan kembali upaya perbaikan yang akan dilakukan pada tahap siklus penelitian berikutnya. Dan jika sekiranya dari tahap refleksi ini sudah bisa disimpulkan bahwa tindakan perbaikan yang dilaksanakan sudah cukup memenuhi tujuan pembelajaran yang ditetapkan, maka siklus penelitian berikutnya bisa

dihentikan dan tidak perlu dilaksanakan. Sebaliknya, jika tujuan pembelajaran belum tercapai dan masih dirasa perlu untuk melakukan revisi atau langkah-langkah perbaikan tindakan lebih lanjut, maka penelitian berlanjut ke siklus berikutnya.

Siklus II

1. Tahap Perencanaan, meliputi kegiatan:

a. Menyusun rencana pembelajaran sebagai perbaikan dari rencana pembelajaran pada siklus terdahulu.

b. Menetapkan tindakan perbaikan yang diperlukan.

c. Menyusun media pembelajaran yang sesuai.

d. Menyusun instrumen penelitian.

e. Menyusun alat evaluasi.

2. Tahap Pelaksanaan Tindakan

Tahap ini adalah pelaksanaan dari skenario atau rencana pelaksanaan pembelajaran dengan tindakan-tindakan perbaikan yang telah ditetapkan pada tahap sebelumnya. Langkah-langkah kegiatan yang dilakukan pada tahap ini secara garis besar sama dengan tahap pelaksanaan tindakan pada siklus I.

3. Tahap Pengamatan

(23)

4. Tahap Refleksi

Pada tahap ini guru melakukan refleksi atas tindakan-tindakan yang telah dilakukan pada siklus II berikut hasil-hasil yang telah dicapainya. Selain itu guru juga memikirkan kekurangan-kekurangan serta

hambatan-hambatan yang masih dihadapi pada siklus II dan selanjutnya mencarikan alternatif tindakan perbaikannya untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya.

Siklus III (bila diperlukan).

3.5. Hasil Interventasi Tindakan yang Diharapkan

Hasil intervensi tindakan yang diharapkan dalam penelitian tindak kelas ini adalah untuk mengembangkan minat membaca melalui media gambar dapat dinyatakan berkembang apabila anak bis mencoba membaca dan mengerti huruf-hurup yang ada pada media gambar yang di sajikan oleh guru.

Untuk melakukan keberhasilan tersebut , peneliti bersama kolabolator menggunakan prosentase. Kemampuan minat membaca melalui media gambar dinyatakan mengalami peningkatan apabila anak mengalami tingkat penguasaan membaca minimal 60%.

Selanjutnya, untuk memberikan pedoman dalam pemaknaan atau penafsiran hasil penelitian, perlu kiranya ditetapkan kriteria kualifikasi penilaian yang berhubungan dengan aktivitas belajar maupun prestasi belajar siswa dalam bentuk tabel berikut.

3.6. Data dan Sumber Data

1. Jenis Data : Kualitatif dan Kuantitatif a. Data Kualitatif

Data ini diperoleh dari hasil pengamatan (observasi), wawancara dan dokumentasi berupa foto Anak yang diteliti pada saat melakukan kegiatan membaca serta mengunakan media gambar

b. Data Kuantitatif

Berupa hasil test kemampuan anak kelas O Besar dalam kegiatan mengembangkan minat membaca melalui media gambar pada siklus I dan siklus II

3.7. Instrumen Pengumpulan Data 1. Kalibrasi Instrumen

Instrumen yang akan digunakan dapat dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan. Uji validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi yang merupakan validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional atau lewat professional judgment.

Oleh karena itu isi dari sebuah tes tidak saja menunjukan bahwa tes tersebut harus komprehensif isinya akan tetapi harus isi yang relevan dan tidak keluar dari batasan tujuan ukur.

Dalam mengkaji validitas tes ini peneliti menggunakan tipe validitas logic, dimana suatu tes agar memperoleh validitas logic yang tinggi harus dirancang sedemikian rupa sehingga benar-benar berisi hanya item yang relevan dan perlu menjadi bagian tes secara keseluruhan. Suatu objek ukur yang hendak diungkap oleh tes haruslah dibatasi lebih dahulu kawasan perilaku secara seksama dan konkret.

2. Kisi-kisi instrument

Berdasarkan uji validitas diperoleh instrument final sebanyak 16 butir yang akan digunakan pada tes awal (pre test) dan tes akhir (post test) dengan sekor minimal 80.

3.8. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah free test dan post test. Free test diperoleh dari hasil kegiatan awal yang dilakukan oleh anak sebelum diberikan perlakuan pada setiap siklus. Setiap butir indicator yang diamati disusun berdasarkan aspek kemampuan perkembangan motorik kasar anak melalui kegiatan senam dengan memberikan tanda check list pada kolom yang telah disediakan. Post test di peroleh dari hasil tanya jawab setelah melalui kegiatan pengamatan/observasi dan reflcksi yang dilakukan oleh peneliti atau kolaborator dan hasil lembar kegiatan anak. Pengumpulan data juga diperoleh dari hasil penelitian lembar pengamatan anak setiap kali pertemuan, dokumentasi kegiatan pengembangan kemampuan motorik kasar pada gerakan-gerakan senam.

3.9. Teknik Pemeriksaan Keterpercayaan

Studi yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah dengan menggunakan teknik triangulasi yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data yang digunakan dengan memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data tersebut. Triangulasi terdiri dari peneliti, kolaborator I dan kloaborator II dengan membandingkan laporan hasil data berupa lembar observasi.

Data proses yang berupa observasi akan dikelompokan sesuai dengan komponen yang ada kemudian dibandingkan antara hasil observasi peneliti, hasil guru kelas dan hasil teman sejawat. Hasil perbandingan tersebut menjadi acuan sebagai pengamatan akhir untuk menentykan tindakan perbaikan yang dilakukan untuk memeriksa keabsahan data, peneliti memeriksa kembali dengan melihat dokumen sehingga dapat diketahui apakah tindakan yang telah dilakukan sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan. 3.10. Analisis Data dan Interprestasi Hasil Anailis

1. Analisis Data

Setelah data terkumpul selanjutnya peneliti akan melakukan analisis data yang terdiri dari : a) analisis evaluative berdasarkan pelaksanaan tindakan pada setiap siklus untuk menganalisis data kualitatif, b) analisis data yang digunakan adalah dengan analisis prosentase untuk menganalisis data kuantitatif.

(24)

Setelah tindakan selesai dilaksanakan, maka hasil pengamatan yang berupa lembar observasi dilanjutkan pada tahap menghitung prosentase sekor perolehan peringkat motorik kasar pada anak usia 4-5 tahun melalui kegiatan senam. Peneliti bersama kolaborator sepakat untuk menetapkan bahwa penelitian ini dikatakan berhasil apabila tingkat penguasaan yang dimiliki anak dalam pengembangan motorik kasar anak mencapai 60% pada setiap siklus. Dengan demikian prosentase skor yang diperoleh masing-masing anak minimal 60% pada setiap akhir siklus. Maka apabila kemampuan peningkatan motorik kasar anak tidak mencapai target atau kurang dari 60% maka penelitian dianggap tidak berhasil.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Kondisi

Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti, diperoleh data bahwa anak-anak usia dini PAUD Hidayatul Mubtadiin Kecamatan Tunjung teja Kabupaten Serang memiliki minat membaca yang rendah. Dari 20 anak 9 atau 45% memperoleh nilai baik, 6 atau 30% anak mendapat nilai cukup dan 5 atau 25% memperoleh nilai kurang.

1. Perencanaa

Perencanaan yang dilakukan dalam penelitian ini antara lain adalah guru merumuskan tujuan pembelajaran dengan mengunakan kartu gambar. Membuat Rencana Kegiatan Harian (RKH) yang digunakan sebagai skenario atau jalan cerita pada saat proses bermain dan belajar. Selain itu guru juga menyiapkan kartu gambar yang semenarik mungkin. Jumlah kartu gambar disesuaikan dengan jumlah murid.

2. Pelaksanaan tindakan

Pelaksanaan tindakan dimulai dengan guru mengucapakan salam. Mengabsensi untuk mengetahui kondisi anak. Sebelum pelajaran dimulai, guru mengecek kesiapan anak seperti, kerapian dalam berpakaian. Guru juga menjelaskan tujuan utama pembelajaran dengan menggunakan kartu gambar dan memberikan motivasi kepada anak. Proses bermain dan belajar dimulai dengan guru menjelaskan materi dengan menggunakan dengan menggunakan kartu gambar. Kartu gambar adalah kartu yang ada gambarnya berupa binatang yang dibawahnya terdapat tulisan sesuai dengan nama gambar tersebut. Guru memperlihatkan gambar-gambar tersebut di depan kekas. Kemudian menyuruh anak-anak menebak gambar dan memperhatikan huruf demi huruf yang ada dibawah gambar dan membacanya secara serempak. Gambar-gambar tersebut bertujuan untuk menarik minat anak dalam membaca. Agar anak-anak lebih konsentrasi, guru menyuruh anak untuk mencocokkan gambar dengan tulisan pada kertas yang telah dibagikan. Kemudian menyuruh anak untuk mencari gambar atau tulisan sesuai dengan perintah guru.

3. Pengamatan

Pengamatan dilakukan dengan melibatkan teman sejawat dengan menggunakan lembar observasi. Pengamatan terhadap kemampuan anak antara lain: kemampuan anak dalam mengingat materi yang telah di pelajari, kemampuan anak mengembangkan ide, kemampuan mengenali gambar, kesiapan anak dalam mengikuti pelajaran, kekondusifan suasana dalam proses bermain dan belajar, keaktifan anak dalam menebak

kartu gambar.

Kesiapan anak dalam belajar masih kurang, ada beberapa anak yang masih terlambat. Kondisi kelas sudah kondusif, sesuai dengan ukuran pada umumnya. Pada saat proses bermain dan belajar, kemampuan anak dalam mengingat materi yang lalu cukup baik. Anak-anak mampu mengenali gambar dengan baik. Pada pertemuan siklus I ini, sebagian anak masih ada yang belum paham dengan metode yang dipakai. Masih ada anak yang kurang tertarik dan berminat dalam membaca dengan gambar. Sebagian ada yang masih belum jelas dengan materi yang dijelaskan oleh guru.

4. Refleksi

Refleksi merupakan langkah untuk menganalisa hasil kerja anak dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian siklus I menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar anak didik dari pra siklus. Namun hasil tersebut belum sesuai dengan apa yang diharapkan peneliti. Perbaikan yang dilakukan antara lain: memperbaiki kualitas gambar yang dipakai agar anak lebih tertarik, kondisi ruang kelas ditata serapi mungkin dan menempelkan gambar-gambar yang menarik, dan dalam menyampaian materi guru menggunakan bahasa

sesederhana mungkin agar anak-anak lebih mudah memahami.

BAB V PENUTUP

(25)

1. Dengan menggunakan media gambar dalam kegiatan pembelajaran anak menjadi semakin bersemangat. 2. Dengan menggunakan media gambar anak lebih mudah mengingat huruf-huruf dan memudahkan anak untuk

belajar membaca.

3. Dengan menggunakan gambar-gambar yang bermacam-macam dan menarik anak semakin tertarik untuk belajar membaca.

4. Minat baca anak semakin meningkat dengan penggunaan media gambar pada kegiatan pembelajaran.

5.2 Saran

1. Bagi Guru, Guru diharapkan selalu meningkatkan kemampuannya dalam mengajar mampu membuat media pengajaran yang sesederhana mungkin untuk meningkatkan minat belajar khususnya minat membaca anak.

2. Bagi Anak, Tidak hanya di sekolah, anak-anak diharapkan untuk belajar membaca dimulai dengan membaca tulisan-tulisan yang ada di lingkungan sekitar kita.

3. Bagi Sekolah, Pembelajaran dengan media gambar ini bisa dijadikan menjadi salah satu pilihan untuk meningkatkan minat membaca pada anak usia dini.

DAFTAR PUSTAKA

Adi susilo, Taufik.2011.calistung.Jogjakarta.Hak Cipta

Asrori, Mohammad. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Wacana Prima.

Depdiknas. 2007. Bidang Pengembangan Berbahasa Di Taman Kanak-Kanak. Jakarta: Depdiknas.

Depdiknas. 2007. Persiapan Membaca dan Menulis Melalui Permainan. Jakarta: Depdiknas

Depdiknas. 2007. Pengembangan Model Pembelajaran Di Taman Kanak-Kanak. Jakarta: Depdiknas.

Haryadi. 2007. Retorika Membaca Model, Metode dan Teknik. Semarang: Rumah Indonesia.

Suyanto, Slamet. 2005. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Depdiknas.

Usman, M. Uzer. 2008. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

www1.bpkpenabur.or.id/jurnal/04/017-035.pd

sumber: http://adenaon.blogspot.com/2013/07/upaya-meningkatkan-minat-baca-melalui.html

Hakikat Pendidikan & Pembelajaran di PAUD

Pengertian Pendidikan dan Komponen-komponen Pendidikan

Dalam arti luas pendidikan adalah segala bentuk pengalaman belajar yang berlangsung dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk mengembangkan kemampuan seoptimal mungkin sejak lahir sampai akhir hayat. Dalam arti sempit, pendidikan identik dengan persekolahan di mana pendidikan dilakukan dalam bentuk kegiatan pembelajaran yang terprogram dan terencana secara formal.

Pendidikan merupakan suatu sistem yang terdiri dari komponen-komponen yang satu sama lain tidak dapat dipisahkan dan saling berhubungan satu sama lain. Komponen-komponen tersebut meliputi: 1) tujuan pendidikan, 2) peserta didik, 3) pendidik, 4) kurikulum, 5) fasilitas pendidikan, dan 6) interaksi edukatif.

Referensi

Dokumen terkait

According to Indonesian Law regarding Government Administration (Law No. 30 Year 2014), discretion is a decision and/or action made and/or undertaken by a government

Hasil amoniasi diangin-anginkan selama 1 - 2 hari untuk menghilangkan bau amonia, digiling untuk memperoleh sampel yang akan dianalisis dan diuji kecernaan bahan

Secara rinci diuraikan sebagai berikut: (1) Besar penurunan persentase jumlah siswa yang mengalami miskonsepsi terhadap materi gaya setelah diberikan remediasi

Penelitian ini akan memberikan kontribusi mengenai prediksi kebangkrutan pada setiap Bank yang menjadi sampel serta peran penting dari indikator kinerja keuangan yang

Secara mekanika, material kayu ini memiliki massa yang relatif ringan sehingga memperkecil beban yang diterima oleh tiang penyangga, memiliki nilai inersia yang rendah,

Terkait dengan mekanisme tranparansinya kita memang dalam tahap penyusunan kita belum berani untuk merilis laporan keuangan ke publik karena kita diikat oleh

Amilum kulit pisang meningkatkan kekerasan tablet, dan menurunkan kerapuhan tablet, meningkatkan waktu hancur tablet, dan menurunkan jumlah obat yang terlarut dalam

Penelitian ini merupakan jenis penelitian non eksperimental dengan rancangan penelitian analitik deskriptif. Kulit batang kayu manis didestilasi dengan destilasi uap dan air