• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS IMPLEMENTASI STANDAR PROSES PADA MATA

C. Kendala Pengimplementasian Standar Proses di Sekolah Dasar

Aktivitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, kadang-kadang cepat memahami apa yang dipelajari dan kadang terasa amat sulit. Peserta didik terkadang memiliki semangat tinggi, tetapi terkadang juga sulit untuk mengadakan konsentrasi sehingga peserta didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinnya. Kesulitan belajar ini tidak selalu disebabkan karena faktor intelegensi yang rendah (kelainan) mental

57Ridha Hasyim, Kepala SDS Terpadu Bani Rauf Kab. Gowa, Wawancara, 25 Oktober 2013.

76

akan tetapi dapat juga disebabkan oleh faktor-faktor non intelegensi. Dengan demikian, intelegensi yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar.

Dari uraian diatas, disimpulkan bahwa peserta didik kadang-kadang mengalami kesulitan dalam proses pembelajaran berlangsung pada Sekolah Dasar Swasta Terpadu Bani Rauf.

Faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Swasta Terpadu Bani Rauf antara lain:

1. Orang Tua

Orang tua merupakan pendidik pertama dan utama bagi seorang anak, di tangannya tergenggam sejuta harapan untuk anak. Masa depan seorang anak sangat ditentukan oleh bagaimana kedua orang tua mengajar, mendidik dan membimbing sang anak. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga.

Pada umumnya pendidikan dalam rumah tangga itu bukan berpangkal tolak dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan mendidik, melainkan karena secara kodrati suasana dan strukturnya memberikan kemungkinan alami membangun situasi pendidikan. Situasi pendidikan orang tua menengah ke atas, maka akan memberikan peluang bagi anak untuk mendapatkan pengetahuan atau pendidikan yang lebih tinggi, sebaliknya jika orang tuanya pernah mengecap pendidikan dalam tingkat rendah juga akan berpengaruh pada pendidikan sang anak.

Seperti itu pula pengajaran Pendidikan Agama Islam, jika orang tua kurang

77

memahami tentang agama, maka kemungkinan besar akan berpengaruh terhadap anak.

Rendahnya tingkat pemahaman orang tua tentang Pendidikan Agama Islam, tentunya akan mempengaruhi tingkat motivasi siswa, orang tua memberikan dorongan kepada sang anak, sehingga anakpun hanya menerima apa adanya sesuai dengan apa yang diberikan oleh orang tuanya.

Dari uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam pada peserta didik Sekolah Dasar Swasta Terpadu Bani Rauf adalah orang tua peserta didik kurang memberi motivasi kepada anak-anaknya untuk belajar Pendidikan Agama Islam.

2. Faktor Lingkungan

Seperti diketahui bahwa yang dimaksud dengan lingkungan adalah segala sesuatu yang terdapat diluar diri anak, baik di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, maupun lingkungan masyarakat.

Namun untuk pemahaman ini, yang dimaksudkan peneliti sebagai lingkungan adalah lingkungan masyarakat dan semua perkumpulan-perkumpulan yang ada di dalamnya.

Lingkungan masyarakat adalah salah satu hal yang mempengaruhi pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di tempat anak-anak tersebut berdomisili. Hal ini dikarenakan masyarakat merupakan tempat pendidikan non formal yang paling menawarkan pola pikir dan bertingkah laku bahkan lebih jauh

78

lagi akan membentuk watak kepribadian anak-anak. Proses adaptasi anak-anak terhadap lingkungan masyarakat menjadi bagian yang terpenting bagi anak-anak dan menjadi jati diri mereka. Seringkali seseorang gagal atau menjadi anak nakal atau memiliki sikap yang tidak terpuji oleh karena lingkungan mereka.

Uraian tersebut di atas tampaknya sejalan dengan hasil wawancara peneliti dengan Nutfah Mansyur, S.Pd., selaku guru kelas III bahwa kurangnya perhatian orang tua untuk mendorong anaknya dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, faktor lingkungan, dimana anak sering beradaptasi dan kadang anak lupa dengan pelajaran yang telah ia dapatkan karena mereka larut dengan keadaan dilingkungannya, faktor waktu dan terbatasnya bahan atau alat pelajaran yang demikian.58

Dari hasil wawancara peneliti dengan informan seperti tersebut di atas, dapat kita pahami bahwa salah satu faktor yang dihadapi dalam mempelajari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam bagi anak-anak Sekolah Dasar Swasta Terpadu Bani Rauf adalah lingkungan. Lingkungan mereka adalah lingkungan yang memang kurang mendukung dalam arti bahwa orang tua dan masyarakat pada umumnya, belum tahu banyak tentang arti Pendidikan Agama Islam.

3. Siswa itu sendiri

Seperti dipahami bahwa pada dasarnya ada dua hal yang mempengaruhi belajar atau tinggi rendahnya pengetahuan seseorang, yakni internal faktor dan

58Nutfah Mansyur, Guru Kelas III SDS Terpadu Bani Rauf Kab. Gowa, Wawancara, 04 November 2013.

79

faktor eksternal. Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri anak, misalnya dari orang tua, ekonomi, lingkungan, sarana dan prasarana. Sedangkan faktor internal adalah yang berasal dari diri anak itu sendiri. Faktor ini dapat berupa kesehatan anak, kemampuan, dan minat.

Pengaruh diri sendiri ini juga sangat besar dalam belajar atau dalam mempelajari Pendidikan Agama Islam, hal ini dapat dipahami bahwa bagaimana pun kedua orang tua mereka memberikan motivasi agar anak tersebut belajar atau dapat mengecap pendidikan agama, didukung oleh linkungan, akan anak tersebut tidak punya kemampuan untuk belajar atau kurang berminat mempelajari agama, maka pendidikan agama anak sangat kurang.

Sesuai dengan hasil wawancara peneliti dengan Munawarah Hasyim selaku guru Pendidikan Agama Islam bahwa masih ada peserta didik yang belum fasih atau lancar mengaji, serta kurangnya minat belajar peserta didik atau kurang perhatian terhadap Pendidikan Agama Islam.59

Dalam belajar Pendidikan Agama Islam banyak masalah yang mengambat keberhasilan seseorang peserta didik dalam belajar yang pada akhirnya akan berdampak negatif terhadap peserta didik itu sendiri dan tidak akan tercapainya suatu tujuan pembelajaran.

Mengacu pada uraian yang telah dikemukakan di atas serta memperhatikan fakta-fakta yang ada di lapangan, maka untuk lebih jelasnya peneliti menguraikan

59Munawarah Hasyim, Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam SDS Terpadu Bani Rauf Kab. Gowa, Wawancara, 04 November 2013.

80

secara rinci hal-hal yang menjadi faktor yang menghambat dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Swasta Terpadu Bani Rauf Kabupaten Gowa adalah:

a. Kurangnya kesadaran belajar peserta didik

Salah satu faktor penghambat yang dialami oleh guru dalam mengajar Pendidikan Agama Islam adalah kurangnya kesadaran belajar peserta didik itu sendiri.

Berdasarkan pernyataan yang dikemukakan oleh Nutfah Mansyur, S.Pd selaku guru kelas III bahwa sebagian peserta didik masih dikategorikan kurang kesadaran belajarnya terhadap Pendidikan Agama Islam, hal ini jelas terlihat pada setiap akhir semester pada pelajaran khususnya bidang studi Agama Islam, hasil yang dicapai lumayan bagus setiap semester hanya rata-rata 6 (enam) jika dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain dapat mencapai rata-rata 7 (tujuh) dan 8 (delapan) dan hanya beberapa orang yang mendapat nilai 8 (delapan) atau 9 (sembilan).60

b. Kurangnya motivasi orang tua bagi peserta didik untuk belajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam

Motivasi atau dorongan dari luar bagi peserta didik untuk menekuni sesuatu sangatlah penting, terutama yang diberikan oleh orang tua dalam hal belajar anak khususnya pada mata pelajaran tertentu yang memang sangat sukar dimengerti atau

60Nutfah Mansyur, Guru Kelas III SDS Terpadu Bani Rauf Kab. Gowa, Wawancara, 04 November 2013.

81

dipahami oleh peserta didik, seperti halnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Berdasarkan pernyataan peserta didik dalam hal motivasi orang tua untuk menekuni pelajaran Pendidikan Agama Islam.

Pernyataan yang dikemukakan oleh Nutfah Mansyur, S.Pd., selaku guru kelas III bahwa sebagian orang tua peserta didik memang sangat kurang memberikan dukungan dalam hal belajar anaknya, hal ini dapat terlihat manakala guru memberikan tugas berupa PR atau bentuk apapun namanya, seringkali tidak diselesaikan sebagaimana yang diharapkan.61

Pernyataan yang telah dikemukakan di atas, memberikan indikasi bahwa kendala yang dihadapi dalam mengajar Pendidikan Agama Islam adalah kurangnya dukungan orang tua terutama dalam hal pemberian motivasi bagi anaknya untuk mendalami mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.

c. Kurangnya buku paket mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang tersedia Buku panduan sebagai materi bacaan yang baik oleh guru maupun peserta didik sangat mendukung kelancaran dalam proses pembelajaran di sekolah. Buku merupakan sarana yang sangat menentukan.

Mengacu pada uraian yang telah dikemukakan di atas dengan melihat peranan buku paket yang sangat vital, maka tidaklah mengherankan jika kelangkaan atau kurangnya buku panduan khususnya buku Pendidikan Agama Islam ikut mempengaruhi sekaligus menjadi penghambat pelaksanaan pembelajaran Pendidikan

61Nutfah Mansyur, Guru Kelas III SDS Terpadu Bani Rauf Kab. Gowa, Wawancara, 04 November 2013.

82

Agama Islam. Hal ini didukung oleh pernyataan Munawarah Hasyim selaku guru Pendidikan Agama Islam bahwa minimnya buku paket sebagai panduan dalam proses pembelajaran khususnya Pendidikan Agama Islam sangat terbatas. Hal ini sekaligus menjadi kendala dalam penerapan Pendidikan Agama Islam pada peserta didik, guru dan peserta didik sangat kesulitan untuk mendapatkan materi tambahan atau pendukung dalam proses pembelajaran.62

Pernyataan lain tentang kurangnya buku paket yang tersedia di perpustakaan sekolah, dikemukakan oleh Andi Gilang Insan peserta didik kelas III bahwa peserta didik disini sangat kesulitan untuk memperoleh materi tambahan, apalagi jika peserta didik diberikan tugas berupa pekerjaan rumah yang harus diselesaikan di luar jam pelajaran, karena buku-buku penunjang sangat kurang yang disediakan di perpustakaan khususnya Pendidikan Agama Islam.63

Berdasarkan pernyataan yang telah dikemukakan di atas, maka jelaslah bahwa salah satu penghambat pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah kurangnya buku panduan sebagai penunjang dalam proses pembelajaran.

4. Faktor Guru

Guru merupakan salah satu faktor penting dalam proses pembelajaran.

Bagaimanapun idealnya suatu kurikulum tanpa ditunjang oleh kemampuan guru

62Munawarah Hasyim, Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam SDS Terpadu Bani Rauf Kab. Gowa, Wawancara, 04 November 2013.

63Andi Gilang Insan, Peserta didik kelas III SDS Terpadu Bani Rauf Kab. Gowa, Wawancara, 07 November 2013.

83

untuk mengimplementasikannya maka kurikulum itu tidak akan bermakna sebagai suatu alat pendidikan.64

Di dalam Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Bab I pasal 1 ayat 1 disebutkan bahwa:

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.65

Dengan pasal ini menginformasikan bahwa guru, tentu saja termasuk guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Swasta Terpadu Bani Rauf, mempunyai tugas mengajar, mendidik, melatih, dan menilai hasil pembelajaran. Dari hasil catatan lapangan Penulis, bahwa guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Swasta Terpadu Bani Rauf ini telah melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai pendidik, dan pengajar dalam melaksanakan tugasnya telah didukung dengan perangkat pembelajaran, dengan adanya silabus, RPP, dan perangkat lainnya.

Namun, yang menjadi masalah, guru tidak menjadikan RPP sebagai acuan atau pedoman dalam menyampaikan materi pembelajaran, RPP terkesan hanya dijadikan kelengkapan administrasi pembelajaran, tanpa menjadikannya sebagai konsep operasional. Hal ini juga merupakan salah satu faktor yang menghambat proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Swasta Terpadu Bani Rauf.

64Abd. Rahman Getteng, Menuju Guru Profesional dan Ber -Etika (Cet. 3; Yogyakarta:

Graha Guru, 2011), h. 8.

65Republik Indonesia, Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Cet. 1; Jakarta: Sinar Grafika, 2006), h. 2.

84

Dalam proses pembelajaran peserta didik berbeda-beda sikap dan karakternya seperti pendiam dan pemalu, suka merenung, sangat aktif, pemalas, suka terlambat, suka mengganggu teman, kurang rapi, suka melanggar tata tertib sekolah dan suka bolos, tetapi yang menjadi kendala guru kurang memberi perhatian kepada peserta didik yang bersikap demikian.

5. Faktor Metodologi

Faktor metode pembelajaran merupakan unsur teknis yang sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan program pembelajaran. Karena dengan metode pembelajaran yang efektif dan efisien lebih mempercepat proses pembelajaran materi pembelajaran kepada peserta didik. Dari hasil pengamatan Penulis guru-guru khususnya guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Swasta Terpadu Bani Rauf, metode pembelajaran yang diterapkan masih konvensional, terkesan monoton tanpa ada variasi karena metode yang diterapkan dominan ceramah. Guru belum mampu menciptakan metode pembelajaran yang bersifat dinamis dan disukai peserta didik. Pembelajaran yang terjadi hanya satu arah, yakni dari guru saja. Keterlibatan peserta didik secara aktif dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas terutama. Peserta didik lebih cenderung pasif menerima informasi dari guru.

6. Faktor Sarana

Di dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pada pasal 42 ayat 1 disebutkan bahwa setiap satuan

85

pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.66 Dari hasil pengamatan Penulis terhadap ketersediaan sarana pendidikan di Sekolah Dasar Swasta Terpadu Bani Rauf ini relatif memadai, tetapi khusus sarana yang berkaitan langsung dengan proses pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Agama Islam masih terbatas, misalnya kitab suci al-Qur’an dan buku-buku mata pelajaran Pendidikan Agama Islam hanya guru yang memilikinya, sedangkan peserta didik tidak ada yang memilikinya karena tidak tersedianya di perpustakaan. Ini yang menjadi penghambat proses pembelajaran di Sekolah Dasar Swasta Terpadu Bani Rauf.

7. Faktor Kurikulum

Kurikulum sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan program pembelajaran. Dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 32 Tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan dan Permendikbud RI Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses yang merupakan kriteria mengenai pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai kompetensi lulusan mencakup perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran. Dari hasil pengamatan Penulis terhadap

66Republik Indonesia, Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, h. 3.

86

kurikulum yang ada di Sekolah Dasar Swasta Terpadu Bani Rauf belum sepenuhnya diterapkan dan masih di uji coba hanya pada kelas dasar yaitu kelas 1.

Sedangkan faktor pendukung adalah guru juga berusaha memberikan pelajaran tambahan atau diadakannya les pada sore hari, dan adanya pengadaan alat peraga serta kerjasama yang baik antara kepala sekolah, guru dan orang tua peserta didik dalam kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

Dalam kegiatan proses pembelajaran khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Swasta Terpadu Bani Rauf seharusnya memberikan motivasi sepenuhnya kepada peserta didik dalam bentuk kasih sayang, perhatian dan pendekatan kepada peserta didik agar dapat termotivasi untuk belajar dan dapat menumbuhkan minat peserta didik bahwa betapa pentingnya mempelajari pendidikan agama, memberikan tugas dengan menghafal surah-surah pendek, menghafal doa-doa yang telah diajarkan oleh guru. Penugasan tersebut dikerjakan di ruang kelas maupun tugas di luar kelas yang sesuai dengan kurikulum yang dipelajari.

Dari hasil wawancara Munawarah Hasyim selaku guru Pendidikan Agama Islam bahwa adanya kerjasama yang baik antara kepala sekolah, guru dan orang tua peserta didik dalam membantu setiap kegiatan dan peran serta masyarakat dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam utamanya belajar membaca

Al-87

Qur’an, belajar shalat dan partisipasi terhadap kegiatan-kegiatanyang dilaksanakan sekolah.67

Pada lingkungan sekitarnya baik dalam lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat seharusnya memberikan pengawasan dan bimbingan yang positif, agar peserta didik tidak sembarangan bergaul dan dapat membentuk watak kepribadian yang terpuji sesuai dengan harapan.

Menurut Nutfah Mansyur, S.Pd., (Guru Kelas Sekolah Dasar Swasta Terpadu Bani Rauf), mengatakan bahwa untuk mengatasi peserta didik yang mengalami perilaku yang seperti itu, sebaiknya guru melakukan pembinaan dan pembimbingan yang efektif, bila perlu menerapkan pendekatan pemberian sanksi, seperti peserta didik yang melanggar tata tertib sekolah harus diberi sanksi yang tegas dan di dalam menerapkan suatu sanksi harus konsisten, tidak diskriminatif, melakukan peneguran kepada peserta didik yang tidak menyelesaikan tugas, atau pekerjaan rumah (PR), dan sebagainya.68

Untuk pelaksanaan kegiatan pembelajara Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Swasta Terpadu Bani Rauf ditempuh lima langkah atau komponen strategi pembelajaran antara lain:

67Munawarah Hasyim, Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam SDS Terpadu Bani Rauf Kab. Gowa, Wawancara, 07 November 2013.

68Nutfah Mansyur, Guru Kelas III SDS Terpadu Bani Rauf Kab. Gowa, Wawancara, 08 November 2013.

88 1. Kegiatan pembelajaran pendahuluan

Kegiatan pendahuluan dalam proses pembelajaran merupakan bagian dari sistem. Pada bagian ini aktivitas guru diharapkan dapat menarik perhatian dan minat peserta didik atas materi pembelajaran yang akan disajikan. Ketika ditanyakan kepada Munawarah Hasyim selaku guru Pendidikan Agama Islam tentang kegiatan awal yang dilakukan bahwa pada saat memasuki kelas disertai ucapan salam kemudian dilanjutkan membaca Al-Qur’an surah pendek tertentu, melakukan pengecekan kehadiran peserta didik kemudian memasuki kegiatan inti yakni penyampaian materi pembelajaran.69 Kegiatan pendahuluan ini dapat dilakukan dengan teknik guru mengemukakan topik pembelajaran dan yang akan dicapai.

2. Kegiatan Inti dan Penyampaian Informasi

Dalam kegiatan ini guru menyampaikan topik pembelajaran disertai cara, metode, teknik, dan pendekatan pembelajaran. Dalam hal ini guru memahami kondisi yang dihadapi, sehingga informasi yang disampaikan dapat diserap oleh peserta didik. Hal yang harus diperhatikan oleh guru pada saat menyampaikan materi pembelajaran, antara lain uraian penyampaian, ruang lingkup materi, dan substansi materi.

Menurut Ridha Hasyim, S.Pd.I., selaku Kepala Sekolah Dasar Swasta Terpadu Bani Rauf bahwa RPP sangat penting bagi semua guru termasuk guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, karena dengan RPP ini guru lebih terarah dalam

69Munawarah Hasyim, Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam SDS Terpadu Bani Rauf Kab. Gowa, Wawancara, 11 November 2013.

89

menyajikan materi pembelajaran di hadapan peserta didik. RPP juga merupakan alat bantu bagi guru untuk memperlancar proses pelaksanaan pembelajaran dan perangkat pembelajaran seperti silabus dan RPP seharusnya betul-betul menjadi acuan atau pedoman dalam menyampaikan materi pembelajaran.

3. Pelibatan Peserta Didik

Pelibatan peserta didik di dalam proses pembelajaran merupakan salah satu aspek proses pembelajaran. Secara teoritis, pelibatan peserta didik di dalam proses pembelajaran, artinya membuka kreativitas peserta didik. Peserta didik akan lebih kreatif, jika guru (1) mengembangkan rasa percaya diri pada peserta didik, tidak merasa ditekan apalagi takut; (2) peserta didik diberi kesempatan untuk melakukan komunikasi ilmiah secara bebas namun tetap terarah; (3) peserta didik dilibatkan dalam penentuan tujuan dan evaluasi hasil belajar; (4) diberikan pengawasan tetapi tidak terlalu ketat dan tidak otoriter; serta (5) dilibatkan secara aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran.70

4. Keterampilan Tes

Tes adalah kegiatan guru untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi inti dan kompetensi dasar setelah proses pembelajaran selesai pada fase tertentu.

Pelaksanaan tes dilakukan pada akhir kegiatan pembelajaran. Tes dapat dilakukan dalam bentuk tes tulisan, tes lisan, dan tes praktek. Ini dilakukan untuk mengetahui tercapai tidaknya hasil pembelajaran.

70Ridha Hasyim, Kepala SDS Terpadu Bani Rauf Kab. Gowa, Wawancara, 28 Oktober 2013.

90 5. Kegiatan Lanjutan

Dalam proses pembelajaran perlu pengawasan dan evaluasi pembelajaran yakni Kepala Sekolah dan Pengawas Pendidikan yang secara teknis dapat memberi arahan, dan pembinaan yang berkesinambungan. Ketika Penulis menanyakan kepada Nutfah Mansyur, S.Pd., selaku Guru Kelas III Sekolah Dasar Swasta Terpadu Bani Rauf tentang keterlibatan Pengawas Pendidikan dan Kepala Sekolah melakukan pembinaan atas kegiatan pembelajaran oleh guru. Mengatakan bahwa kedua pihak tersebut memang secara fungsional selalu memberi arahan, pembinaan dan bimbingan baik menyangkut metode pembelajaran terbaru maupun pengelolaan administraasi pembelajaran.71 Oleh karena itu, untuk mewujudkan tujuan dan keberhasilan diperlukan manajemen sekolah yang efektif dan efisien.

Kegiatan pembelajaran diarahkan untuk memberdayakan semua potensi peserta didik menjadi aktual dan menguasai kompetensi inti dan kompetensi dasar.

Kegiatan pembelajaran mengembangkan kemampuan untuk mengetahui, memahami, melakukan sesuatu, dan mengaktualisasikan diri. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran perlu (1) berpusat pada peserta didik; (2) mengembangkan kreativitas peserta didik; (3) menciptakan kondisi yang menyenangkan dan menantang; (4) bermuatan nilai, etika, estetika logika, dan kinertetika; (5) menyediakan pengalaman

71Nutfah Mansyur, Guru Kelas III SDS Terpadu Bani Rauf Kab. Gowa, Wawancara, 11 November 2013.

91

belajar yang beragam; dan (6) perangkat pembelajaran seperti silabus dan RPP sepenuhnya dijadikan sebagai pedoman atau acuan pembelajaran.

Untuk merealisasikan kegiatan pembelajaran tersebut tentu diperlukan manajemen pembelajaran yang lebih efektif dari guru sebagai komponen yang paling menentukan, dengan menggunakan pendekatan kompetensi. Penggunaan pendekatan kompetensi menuntut desain pembelajaran yang memenuhi standar.

Untuk mengetahui berhasil tidaknya kegiatan pembelajaran, mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Swasta Terpadu Bani Rauf haruslah diukur melalui evaluasi dan penilaian secara holistik, yakni penilaian pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan praktek (psikomotorik). Penilaian kognitif dimaksudkan untuk mengukur tingkat pengetahuan, pemahaman peserta didik atas materi pembelajaran yang sudah disajikan guru baik di dalam maupun di luar kelas. Sedangkan penilaian afektif bertujuan mengidentifikasi sikap penerimaan dan penolakan atas proses pembelajaran yang udah diterima, sedangkan penilaian psikomotorik bertujuan mendeteksi kemampuan peserta didik untuk melaksanakan dan mempraktekkan materi pembelajaran.

Ridha Hasyim, S.Pd.I., selaku Kepala Sekolah Sekolah Dasar Swasta Terpadu Bani Rauf menjelaskan bahwa untuk keberhasilan proses pembelajaran

92

Pendidikan Agama Islam, diperlukan beberapa langkah, antara lain prosedur pembelajaran, pendekatan, metode, teknik mengajar, dan lain-lain.72

Dari segi prosedur pembelajaran hal ini telah dipraktekkan di Sekolah Sekolah Dasar Swasta Terpadu Bani Rauf ini yang dilihat dalam perspektif administrasi atau perangkat pembelajaran, karena telah dibuat seperti RPP, analisis program pembelajaran dan jadwal pembelajaran serta sistem penilaian. Dari segi pendekatan, Munawarah Hasyim selaku Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Sekolah Dasar Swasta Terpadu Bani Rauf mengatakan bahwa pembelajaran Pendidikan Agama Islam menempuh pendekatan terpadu yakni pendekatan keimanan, pengalaman dengan pembiasaan. Ketiganya dipadukan dalam suatu proses dimana peserta didik mempraktekkan dan merasakan pengamalan ibadah dan akhlak, dan membiasakan sikap dan perilaku baik sesuai dengan ajaran Islam. Apa yang diajarkan disajikan secara rasional dan emosional serta fungsional.73

Sedangkan dari segi metode pembelajaran, dari catatan dan hasil observasi Penulis terhadap aktivitas pembelajaran guru pendidikan agama Islam, dominan menerapkan metode pembelajaran ceramah. Guru belum mampu menvariasikan metode pembelajaran, sehingga cara penyampaian materi bersifat monoton, kaku, dan tradisional. Alasan guru menggunakan metode ceramah harus benar-benar dapat

72Ridha Hasyim, Kepala SDS Terpadu Bani Rauf Kab. Gowa, Wawancara, 04 November 2013.

73Munawarah Hasyim, Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam SDS Terpadu Bani Rauf Kab. Gowa, Wawancara, 11 November 2013.

Dokumen terkait