• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendekatan Pengelolaan Pesisir Terpadu (ICM) dalam Pengelolaan Ekosistem Lamun

VI. PEMBAHASAN PENELITIAN

6.6 Pendekatan Pengelolaan Pesisir Terpadu (ICM) dalam Pengelolaan Ekosistem Lamun

ekonomi langsung), tetapi juga keuntungan tidak langsung (nilai ekonomi tidak langsung). Secara ekologi keberadaan lamun dapat memberikan manfaat pada sumberdaya yang ada disekitarnya. Ekosistem lamun tersebut juga dapat berfungsi menstabilkan lingkungan pesisir dan sebagai suatu lingkungan yang sangat baik bagi kehidupan berbagai biota. Sebagai habitat, keberadaan ekosistem tersebut dapat memberikan kenaekaragaman spesies dan biota yang hidup disekitarnya.

Sebagai sebuah ekosisitem yang berada di pesisir maupun lautan, ekosistem lamun memiliki fungsi ekologis yang tidak bisa tergantikan peranannya. Fungsi ekologi dari ekosistem lamun itu sendiri yaitu sebagai habitat atau tempat hidup dari biota laut dan ikan, baik sebagai tempat pemijahan, pengasuhan, pembesaran, dan mencari makan dari berbagai biota laut. Selain itu ekosistem lamun ini merupakan komponen perlindungan pantai dari arus, terpaan ombak dan gelombang. Dengan pemahaman nelayan lokal terhadap peran ekosistem lamun dalam menunjang kesejahteraan hidup mereka, maka tingkat kesadaran dan pemahaman nelayan untuk menjaga serta mengelola keberlanjutan sumberdaya ekosistem lamun (sustainable resources management) terus terjadi. Hal ini dikarenakan kuatnya konektivitas sistem sosial-ekologi yang dapat memberikan dampak positif terhadap kehidupan masyarakat nelayan lokal, selain itu dapat menyebabkan dampak negatif terhadap sistem ekologi lamun. Dampak negatif tersebut dapat terjadi apabila terjadi eksploitasi yang berlebihan tanpa menghiraukan kelestarian ekosistem lamun. Sesuai menurut Damayanti (2011), ekosistem lamun merupakan lahan utama bagi nelayan dalam mengeksploitasi sumberdaya perikanan, akan tetapi eksploitasi secara berlebihan menjadikan keberadaan ekosistem lamun terganggu. Dengan pengelolaan sistem pesisir dan laut secara berkelanjutan maka ketergantungan antara sistem sosial dan sistem ekologi akan terjaga dengan baik.

6.6 Pendekatan Pengelolaan Pesisir Terpadu (ICM) dalam Pengelolaan Ekosistem Lamun

Pengelolaan Berdasarkan Ekosistem (Ecosystem Based Management) Pengelolaan pesisir yang berkelanjutan dengan memperhatikan kelestariannya secara ekologi sangat penting untuk keberlanjutan ekosistem lamun. Pertimbangan secara ekologis lebih menekankan pada pentingnya upaya-upaya untuk mencegah terganggunya fungsi dasar ekosistem lamun sehingga tidak akan mengurangi fungsi layanan ekologi. Pengelolaan ekosistem lamun secara lestari dan berkelanjutan sangat penting artinya. Dimana peran ekosistem lamun sebagai tempat untuk mencari makan ikan, tempat berpijah, tempat untuk berkembangbiak ikan, dan tempat pengasuhan ikan. Ekosistem lamun yang sangat produktif dapat mendukung kihidupan nelayan setempat. Jika habitat padang lamun dapat berfungsi secara optimal, maka produksi ikan lamun akan dapat dipanen secara berkesinambungan atau berkelanjutan dan memberi keuntungan secara sosial dan ekonomi bagi masyarakat setempat di seluruh Indonesia untuk masa kini dan masa yang akan datang sejalan dengan pembangunan nasional. Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menjamin keberlanjutan dari

pemanfaatan sumberdaya padang lamun adalah pemerataan (equeity), sociopolytical right, pendidikan, kesehatan dan teknologi. Sesuai dengan penyataan Damayanti (2011) yang menjelaskan pengelolaan ekosistem lamun berbasis ekosistem yang ada di lokasi penelitian dalam sistem ekologi bertujuan untuk mempertahankan kesehatan, produktivitas perairan dan ketahanan lingkungan yang memberikan jasa ekosistem (ecosystem services) yang dibutuhkan oleh nelayan, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.

Sebagai ekosistem pesisir, keberadaan ekosistem lamun sangat penting, akan tetapi ekosistem lamun juga menjadi salah satu ekosistem yang terus diganggu sehingga mengalami kerusakan. Masalah utama dari kerusakan ekosistem lamun adalah kerusakan akibat aktivitas manusia berupa pengerukan dan penimbunan yang terus meluas, serta pencemaran air akibat fasilitas produksi minyak, pemasukan pencemaran di sekitar fasilitas industri, dan limbah air panas dari pembangkit listrik. Berwick (1983) menyebutkan beberapa batasan kegiatan manusia yang berpengaruh dan menimbulkan dampak terhadap ekosistem lamun yang selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Batasan Kegiatan Manusia yang Dapat Merusak Ekosistem Lamun

No Kegiatan Dampak Potensial

1. Pengerukan dan pengurugan yang berkaitan dengan pembangunan real estate pinggir laut, pelabuhan, industri estate pinggir laut, dan pengerukan saluran navigasi

- Perusakan total padang lamun sebagai habitat di lokasi pengerukan dan pengurugan

- Perusakan habitat di lokasi pembuangan hasil pengerukan

- Dampak sekunder pada perairan di sekitar lokasi pengurugan berupa : (1) meningkatnya kekeruhan yang akan mempengaruhi intensitas cahaya dan dengan demikian akan menghambat proses fotosintesis oleh tumbuhan air yang berakibat turunnya produksi primer, (2) terlapisnya insang berbagai hewan (terutama yang hidup menetap di dasar laut seperti karang dan tiram) oleh sedimen akan menghambat atau bahkan menghentikan difusi oksigen terlarut ke dalam insang hewan, sehingga menyebabkan kematian.

2 Pembuangan sampah organik cair (sewage)

Penurunan kadar oksigen terlarut dalam kolom air di atas padang lamun yang dapat menggangu penyediaan

oksigen bukan saja bagi lamun, tetapi juga bagi hewan-hewan air yang menggunakan padang lamun sebagai habitat.

3 Penangkapan ikan Penangkapan ikan dengan alat tidak ramah lingkungan seperti bom dan pukat dapat merusak habitat lamun

4 Pembuangan sampah padat

- Penyuburan (eutrofikasi) kolom air di atas padang lamun yang mengakibatkan tumbuh suburnya (blooming) fitoplankton (ganggang renik yang hidup melayang-layang dalam air) yang akan meningkatkan

Tabel 11. Lanjutan

No Kegiatan Dampak Potensial

kekeruhan air dengan demikian menghalangi penetrasi cahaya ke dalam air, selanjutnya akan menghambat laju fotosintesis lamun yang berakibat terhadap menurunya produktivitas padang lamun. - Eutrofikasi kolom air di atas padang lamun dapat

pula mengakibatkan tumbuh suburnya ganggang renik bersel tunggal yang hidup melekat di permukaan daun-daun lamun, sehingga seluruh permukaan daun tertutup oleh ganggang ini, dengan demikian dapat menghalangi daun dalam menerima cahaya dan berakibat terhadap terhentinya proses fotosisntesis dan matinya lamun.

5 Pencemaran oleh limbah industri, terutama logam berat (dalam bentuk senyawa-senyawa organometalik) dan senyawa-senyawa organokhlorid

Lamun melalui proses biological magnification mampu mengkonsentrasikan logam-logam berat (misalnya Hg) yang terikat pada senyawa-senyawa organo-metalik, sehingga kadar logam berat dalam lamun jauh lebih besar daripada kadarnya dalam air, dengan demikian dapat meracuni hewan yang makan lamun atau detritus yang berasal dari lamun.

6 Pencemaran minyak

Lapisan minyak pada daun lamun menghalagi cahaya untuk sampai ke permukaan daun dan menembusnya, dan dengan demikian lamun tidak dapat berfotosintesis yang mengakibatkan kematiannya.

Sumber: Berwick (1983) dalam Kordi (2011).

Oleh karena itu, kebijakan pengelolaan kawasan ekosistem lamun tidak terlepas dari proses-proses ekologis dan biologis yang berlangsung di dalamnya. Kebijakan yang diambil diharapkan dapat menjaga keutuhan segenap komponen biofisik, baik biotanya maupun habitat dan lingkungannya. Akan tetapi dalam melakukan pengelolaan pesisir terpadu pada ekosistem lamun selain melihat dari segi ekologi juga mempertimbangkan segi sosial, ekonomi, dan kelembagaannya sehingga dapat terjalin keterpaduan dalam pengelolaan ekosistem lamun secara terpadu. Hal ini dikarenakan pengelolaan ekosistem lamun juga untuk kepentingan manusia, sehingga juga harus dipertimbangkan juga faktor yang lain.

Pengelolaan Adaptif dengan Pendekatan Sistem Sosial-Ekologi (Adaptive Social-Ecological System Management Approach )

Pengelolaan pesisir terpadu dalam pengelolaan adaptif ekosistem lamun dapat dilakukan pendekatan sistem sosial-ekologi. Konektivitas sosial-ekologi selain memberikan dampak positif juga dapat memberikan dampak negatif. Permasalahan yang dapat mempengaruhi dampak negatif terhadap ekosistem

lamun dalam konteks sistem sosial-ekologi berdasarkan konsep Anderies et al. (2004) berupa kerusakan yang diakibatkan oleh sistem sosial dan sistem ekologi. Gangguan dalam sistem ekologi berupa gangguan biofisik seperti blooming algae, gempa bumi, abrasi pantai, dan perubahan iklim yang dapat mempengaruhi sumberdaya ekosistem lamun dan infrastruktur sumberdaya lamun. Dalam sistem sosial: peningkatan penduduk, pencemaran air akibat kegiatan masyarakat pesisir, perubahan ekonomi, dan perubahan arah politik seperti pengerukan dan penimbunan untuk pembangunan pelabuhan dan industri yang berdampak pada pengguna sumberdaya ekosistem lamun dan penyedia infrastruktur ekosistem lamun.

Ekosistem lamun merupakan bagian integral dari sumberdaya pesisir dan lautan, sehingga pembuatan kebijakan pengelolaannya tidak terlepas satu kesatuan pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu. Oleh karena itu, desain kebijakan pengelolaan ekosistem lamun dalam konteks konektivitas sistem sosial-ekologi yang mengacu pada konsep Anderies et al. (2004) menyatakan ada empat (4) entitas utama yang berperan, antara lain:

A : Sumberdaya yaitu ekosistem lamun

B : Pemanfaat sumberdaya yaitu nelayan skala kecil

C : Penyedia infrastruktur publik yaitu stakeholder yang berasal dari dinas dan lembaga yang terkait ekosistem lamun

D : infrastruktur publik yaitu peraturan daerah perlindungan dan lainnya. Entitas sumberdaya yaitu ekologi lamun merupakan komponen utama dari sumberdaya alam yang perlu dikelola dengan baik. Arahan kebijakan dalam sistem ekologi (biofisik) dalam studi ini ditekankan pada keinginan untuk menjaga padang lamun agar tetap memberikan manfaat ekologis kepada seluruh biota yang terasosiasi dengan keberadaan ekosistem ini. Entitas selanjutnya yang berkaitan sosial yaitu pemanfaat sumberdaya (nelayan) dan penyedia infrastruktur yang merupakan komponen penunjang dalam memberikan nilai penting dari komponen ekologi. Aktivitas sosial dapat memberikan pengaruh negatif maupun pengaruh positif terhadap sumberdaya alam. Entitas yang berkaitan dengan komponen sosial politik adalah infrastruktur publik yang mempunyai peranan penting dalam melaksanakan kebijakan pengelolaan. Komponen ini merupakan perangkat untuk memberikan rambu-rambu atau pedoman kepada semua komponen dalam pemanfaatan dan pengelolaan ekosistem lamun agar berjalan serasi dan tidak saling mengganggu. Arahan kebijakan sosial politik dalam studi ini ditekankan pada keinginan untuk menjaga ekosistem lamun agar tetap memberikan manfaat ekologis dan ekonomis.

Berikut ini adalah keterkaitan entitas sistem sosial-ekologi yang juga dapat berdampak negatif terhadap ekosistem lamun dan dapat mata pencaharian manusia tersaji pada Tabel 12 (diadopsi dari konsep Anderies et al., 2004).

Tabel 12. Keterkaitan Entitas dalam Sistem Sosial-Ekologi Lamun dan Perikanan Skala Kecil

Sistem Sosial-Ekologi Kegiatan Potensial Masalah Tactical Decision

(1) Antara sumberdaya lamun dan pengguna sumberdaya lamun (nelayan)

a. Eksploitasi gong-gong (Strombus minimus) berlebih tanpa menghiraukan kondisi lamun

b. Pencemaran minyak dari kapal dan alat tangkap bagan apung yang digunakan nelayan saat di tepikan

a. Ketersediaan biota akan berkurang, dan cara pengambilan biota dengan menginjak lamun dapat merusak lamun (pengambilan pada saat kondisi perairan surut)

b. Lapisan minyak dapat menempel pada daun lamun yang dapat menghalangi cahaya ke permukaan daun dan tidak dapat berfotosintesis yang mengakibatkan kematiannya

 Mengatur pemanfaatan sumberdaya hayati ekosistem lamun yang mencakup jumlah individu, ukuran, dan frekuensi penangkapan

 Memberikan penyuluhan dan pelatihan kepada masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya hayati laut yang mengedepankan prinsip-prinsip kelestarian

(2) Antara infrastruktur

publik dan

sumberdaya lamun

a. Pengerukan dan reklamasi untuk pembangunan hotel, restoran, dan industri

a. Pengerukan sedimen dengan menggunakan kapal keruk merupakan sumber pencemaran, dimana material hasil pengerukan tersebut dapat tercemar oleh sampah bahan organik, dan sisa buangan industri termasuk logam berat dan minyak yang dapat merusak lamun

 Mencegah kerusakan fisik lamun dari kegiatan pengerukan dan pengurugan.

 Memberi pengertian kepada masyarakat dan pengusaha tentang pentingnya fungsi lamun sebagai habitat sumberdaya hayati laut (3) Antara infrastruktur

publik dan dinamika sumberdaya lamun

a. Adanya pembangunan pelabuhan internaional dan dermaga

a. Terjadi pencemaran limbah dan minyak, sehingga terjadi degradasi habitat yang juga dapat berpengaruh terhadap sumberdaya perikanan

 Membuat ketentuan hukum yang mengatur pengolahan dan pembuangan limbah ke laut.

 Menjaga kualitas perairan lamun dari pencemaran pelabuhan/dermaga (4) Antara pengguna

sumberdaya lamun dan infrastruktur publik

a. Penjagaan terhadap kawasan perlindungan lamun

a. Konflik daerah penangkapan antar nelayan karena adanya perlindungan lamun

 Membuat peraturan yang mengawasi kegiatan di ekosistem lamun.

 Menentukan nilai kompensasi pada perusakan habitat lamun.

Sumber: Hasil Penelitian Diolah (2014) diadopsi dari Anderies et al. (2004)

Keterpaduan dalam Pengelolaan Ekosistem Lamun di Kabupaten Bintan Strategi dalam menetapkan kebijakan pengelolaan, diperlukan suatu pendekatan yang dapat di terapkan secara optimal dan berkelanjutan. Pendekatan pengelolaan pesisir dalam penelitian ini adalah pengeloalaan ekosistem lamun secara terpadu dan berkelanjutan. pengelolaan secara terpadu adalah pengelolaan yang memanfaatkan jasa dari keberadaan sumberdaya alam dengan tetap menjaga kelestarian dan keberlanjutan dari sumberdaya alam tersebut. Pengelolaan ekosistem lamun secara terpadu ini mencakup: keterpaduan sistem (system integration), keterpaduan dalam kebijakan (policy integration), dan keterpaduan fungsional (functional integration).

Keterpaduan Sistem (System Integration)

Pendekatan pengelolaan ekosistem lamun terpadu ini salah satunya dapat dilakukan dengan melihat keterpaduan sistem pada ekosistem lamun. Pada Gambar 27 telah dijelaskan terdapat jaringan sosial-ekologi lamun dengan perikanan skala kecil. Keterpaduan sistem ini mencakup sistem ekologis dan sistem sosial yang saling terkait satu dengan yang lainnya. Dalam sistem ekologis keberadaan ekosistem lamun sangat penting bagi biota dan ikan-ikan yang hidup didalamnya, dimana habitat dari ekosistem lamun tersebut kaya akan nutrient dan dapat dijadikan tempat mencari makanan bagi biota dan jenis ikan yang hidup di lamun. Keberadaan jenis ikan yang berasosiasi dengan ekosistem lamun tersebut dalam sistem sosial tejadi aktivitas pemanfaatan oleh nelayan dalam menunjang mata pencahariannya.

Keterpaduan sistem sosial-ekologi yang dibangun secara bekelanjutan akan berdampak positif pada nelayan dan kelestarian ekosistem lamun. Oleh karena itu beberapa pihak yang terlibat seperti pemerintah, stakeholder, dan nelayan harus melakukan penyusunan dan perencanaan dalam dalam pengelolaan ekosistem yang terpadu dan tetap menjaga kelestarian ekosistem lamun dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Hal ini sesuai dengan pendapat Wahyudin (2011) yang menjelaskan bahwa dalam pengelolaan pesisir secara terpadu harus memperhatikan keterpaduan ekologis, sektoral, dan stakeholder sehingga dapat tercipta pengelolaan pesisir yang terpadu dan berkelanjutan.

Keterpaduan dalam Kebijakan (Policy Integration)

Keterpaduan dalam pengambilan kebijakan merupakan salah satu faktor yang penting dalam pengelolaan ekosistem lamun secara terpadu. Sebagai konsukuensi dalam menjaga ekosistem lamun agar tetap lestari dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan maka keterpaduan pengambilan kebijakan harus dilakukan secara optimal. Keterpaduan kebijakan (Policy integration) harus mengikutsertakan adanya lembaga pemerintahan dari desa sampai ke pemerintah pusat. Hal ini dilakukan untuk mengintegrasikan kebijakan yang dibuat dan diatur sedemikian rupa sebagai komitmen untuk memanfaatkan sumberdaya lamun secara terpadu. Berikut ini adalah keterpaduan dalam kebijakan (Policy Integration Networks) pengelolaan ekosistem lamun di lokasi penelitian tersaji pada Gambar 34.

Gambar 34.Keterpaduan Kebijakan (Policy Integration) dalam Pengelolaan Ekosistem Lamun di Lokasi Penenlitian.

Gambar diatas menjelaskan bahwa terdapat keterpaduan kebijakan (policy integration) antara pemerintah Bintan dan pemerintah pusat. Keterpaduan kebijakan dalam pengelolaan ekosistem lamun dalam pemerintah Bintan meliputi Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bintan, Bappeda Kabupaten Bintan, Kepala Desa, dan nelayan yang langsung sebagai aktor dalam pemanfaatan sumberdaya ekosistem lamun. Sedangkan pada pemerintah pusat dibawah LIPI dan Kementerian Kelautan dan Peikanan Pusat. Keterpaduan tersebut diharapkan dapat berjalan optimal sehingga dapat tersusun suatu pola pembangunan yang sangat baik dalam pengelolaan ekosistem lamun secara terpadu. Senhingga para nelayan dapat memanfaatkan sumberdaya lamun dengan tetap menjaga kelestarian dari ekosistem lamun itu sendiri.

Keterpaduan Fungsional (Functional Integration)

Keterpaduan fungsional dalam pengelolaan ekosistem lamun ini didasarkan pada beberapa lembaga yang terkait dan berpartisipasi secara langsung dalam pengelolaan ekosistem lamun. Dengan adanya keterpaduan fungsional dalam lembaga ini dapat dijadikan bukti komitmen yang kuat terhadap keberadaan lamun yang dapat dikelola secara lestari dan berkelanjutan. Berikut ini keterpaduan fungsional (Functional Integration) yang terjadi dalam pengelolaan ekosistem lamun secara terpadu di lokasi penelitian daat dilihat pada Gambar 35.

Gambar 35. Keterpaduan Fungsional (Functional Integration) dalam Pengelolaan Ekosistem Lamun di Lokasi Penelitian.

Beberapa lembaga yang terbentuk dalam jaringan tersebut bertugas dalam mengkoordinasi segala bentuk kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan ekosistem lamun di Kabupaten Bintan. Semua lembaga yang terintegrasi dalam melakukan kegiatan untuk pembangunan pengelolaan ekosistem lamun secara terpadu ini bertanggung jawab kepada Pemerintah Daerah Bintan yaitu Bupati Bintan dan sekretarisnya, hal ini dikarenakan anggaran yang digunakan dalam pengelolaan dimasukkan dalam APBD kabupaten Bintan. Terbentuknya jaringan keterpaduan tersebut diharapkan berjalan dengan baik dalam pembanunan pengelolaan ekosistem lamun secara terpadu khususnya di Kabupten Bintan.

Dokumen terkait