TINJAUAN PUSTAKA
2.1.2. Pendekatan Teori Kepemimpinan
Rivai (2009) menyatakan bahwa terdapat beberapa teori yang digunakan sebagai pendekatan dalam mengkaji efektifitas kepemimpinan, yaitu:
1) Pendekatan Teori Sifat
Teori sifat berusaha untuk mengidentifikasi karakteristik khas (fisik, mental/intelegensi, kepribadian) yang dimiliki seorang pemimpin dikaitkan dengan keberhasilan kepemimpinannya. Teori ini menekankan pada atribut- atribut pribadi dari pemimpin. Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa beberapa orang merupakan pemimpin alamiah dan dianugerahi beberapa ciri yang tidak dipunyai orang lain seperti semangat dan energi yang tinggi, intuisi yang mendalam, pandangan masa depan yang baik dan memiliki kekuatan persuasif. Teori kepemimpinan ini menyatakan bahwa keberhasilan manajerial disebabkan karena memiliki kemampuan luar biasa dari seorang pemimpin.
2) Pendekatan Teori Perilaku
Teori ini menekankan bahwa perilaku seseorang dapat menentukan keefektifan kepemimpinannya. Beberapa studi dilakukan oleh pendukung teori ini menemukan bahwa sifat-sifat pemimpin berpengaruh terhadap prestasi dan kepuasan dari pengikut-pengikutnya. Menurut Nawawi (2003) perilaku kepemimpinan nampak dari cara pengambilan keputusan, cara memerintah
21
(memberi instruksi), cara membimbing dan mengarahkan, cara menegakkan disiplin, cara mengendalikan dan mengawasi pekerjaan, cara memimpin rapat, cara menegur dan memberi hukuman.
Model Grid manajerial yang dikembangkan oleh Blake dan Mounton (2001) mengidentifikasikan variasi gaya kombinasi antara orientasi hasil dengan orientasi orang, yang menghasilkan empat macam gaya, yaitu: (1) gaya kurang efektif yang ditandai dengan rendahnya hubungan dengan orang dan hasil, (2) gaya moderat yang ditandai dengan memperhatikan keseimbangan terhadap orientasi hubungan dengan orang dan hasil- hasil kerja pada tingkat yang cukup memuaskan, (3) gaya yang menekankan hasil kerja dengan mengorbankan orientasi pada hubungan orang, (4) gaya berorientasi tinggi terhadap pencapaian hasil kerja dan gaya yang tinggi terhadap hubungan sesama orang.
Tannenbaum dan Schmidt (dalam Thoha, 2010) menyatakan ada dua bidang pengaruh yang ekstrem dalam hal perilaku kepimpinan seseorang yaitu bidang pengaruh pimpinan dan bidang kebebasan bawahan. Pada bidang pertama pemimpin menggunakan otoritasnya dalam gaya kepemimpinannya, sedangkan pada bidang kedua pemimpin menunjukkan gaya yang demokratis.
3) Pendekatan Situasional (Kontingensi)
Pendekatan kontingensi atau disebut juga pendekatan situasional mengemukakan bagaimana gaya dan tindakan pimpinan dalam menghadapi situasi atau kondisi tertentu. Pendekatan situasional menekankan faktor konstektual yang mempengaruhi proses kepemimpinan. Variabel situasional yang penting seperti karakeristik bawahan, sifat pekerjaan pemimpin, jenis organisasi,
22
dan sifat lingkungan eksternal. Pendekatan ini berangkat dari asumsi bahwa tidak ada satupun gaya kepemimpinan yang cocok dengan semua situasi, dan berusaha mencari jalan tengah antara pandangan yang mengatakan adanya asas-asas organisasi dan manajemen yang bersifat universal dengan pandangan yang berpendapat bahwa tiap organisasi adalah unik dan memiliki situasi yang berbeda- beda sehingga harus dihadapi dengan gaya kepemimpinan tertentu.
a. Teori Kontingensi Fidler.
Teori kontingensi menganggap bahwa kepemimpinan adalah suatu proses dimana kemampuan seorang pemimpin untuk melakukan pengaruhnya tergantung dengan situasi tugas kelompok (group task situation) dan tingkat gaya kepemimpinan, kepribadian dan pendekatan pemimpin yang sesuai dengan kelompoknya. Model atau teori kontingensi Fiedler melihat bahwa kelompok efektif tergantung pada kecocokan antara gaya pemimpin yang berinteraksi dengan anggotanya, dengan kata lain bahwa tinggi rendahnya prestasi kerja satu kelompok dipengaruhi oleh sistem motivasi dari pemimpin dan bagaimana pemimpin dapat mengendalikan dan mempengaruhi suatu situasi tertentu.
Fiedler mengatakan bahwa ada 2 (dua) tipe variabel kepemimpinan, yaitu:
Leader Orientation dan Situation Favorability. Leader Orientation diketahui dari skala semantik diferensial dari rekan yang paling tidak disenangi dalam
organisasi (Least Preffered Co-worker disingkat LPC). LPC tinggi apabila
pemimpin tidak menyenangi rekan kerja, sedangkan LPC rendah menunjukkan pemimpin yang siap menerima rekan kerja untuk bekerja sama. Skor LPC yang
23
tinggi menujukkan bahwa pemimpin berorientasi pada relationship, sebaliknya
skor LPC yang rendah menunjukkan bahwa pemimpin berorientasi pada tugas. Hubungan antara LPC pemimpin dan efektivitas kepemimpinan tergantung
pada sebuah variabel situasional yang rumit disebut “keuntungan situasional” atau “situational favorability”. Situation favorability adalah tolak ukur sejauh mana pemimpin dapat mengendalikan situasi yang ditentukan oleh 3 (tiga) variabel situasi, yaitu:
1) Kepemimpinan merupakan suatu konsep relasi-hubungan (relational
concept) pimpinan-anggota. Derajat baik buruknya hubungan antara pemimpin dan bawahan.
2) Kepemimpinan merupakan suatu proses struktur tugas. Derajat tinggi
rendahnya strukturisasi, standarisasi dan rincian tugas pekerjaan.
3) Kepemimpinan merupakan kekuasaan jabatan untuk harus membujuk
orang-orang lain untuk mengambil suatu tindakan. Derajat kuat/lemahnya kewenangan dan pengaruh pemimpin atas variabel-variabel kekuasaan seperti pemberian punish dan reward.
b. Teori Situasional Hersey-Blanchard.
Model kepemimpinan situasional yang dikembangkan oleh Hersey- Blanchard menekankan bahwa pemimpin harus mengetahui tingkat kematangan pengikutnya dan menggunakan kepemimpinan yang sesuai
dengan tingkatan tersebut. Kematangan atau maturity adalah bukan
kematangan secara psikologis melainkan menggambarkan kemauan dan kemampuan anggota dalam melaksanakan tugas masing- masing termasuk
24
tanggung jawan dalam melaksanakan tugas tersebut juga kemauan dan kemampuan mengarahkan diri sendiri.
Menurut Hersey dan Blanchard (1992) kepemimpinan situasional adalah didasarkan pada saling berhubungannya di antara hal-hal berikut: jumlah petunjuk dan pengarahan yang diberikan oleh pimpinan, jumlah dukungan sosio-emosional yang diberikan oleh pimpinan, dan tingkat kesiapan atau kematangan para pengikut yang ditunjukan dalam melaksanakan tugas khusus, fungsi atau tujuan tertentu.
Untuk berperilaku efektif, selain harus mampu mengdiagnosis dan mengidentifikasi isyarat-isyarat yang terjadi di lingkungannya, seorang pemimpin juga harus mampu untuk melakukan adaptasi kepemimpinan terhadap tuntutan lingkungan dimana dia memperagakan kepemimpinannya. Kebutuhan yang berbeda pada anak buah membuatnya harus diperlakukan secara berbeda pula.
c. Teori Jalur Tujuan (Path-Goal Theory).
Model kepemimpinan jalur tujuan berusaha meramalkan efektivitas kepemimpinan dalam berbagai situasi. Teori kepemimpinan jalur sasaran (path-goal theory) ini dikembangkan oleh Robert House. Teori jalur sasaran menyatakan bahwa tugas pemimpin adalah mendampingi pengikut dalam meraih sasaran mereka dan memberikan pengarahan dan atau dukungan yang perlu untuk menjamin sasaran mereka selaras dengan sasaran keseluruhan kelompok atau organisasi. Namun efektivitas perilaku pemimpin jalur sasaran ditentukan oleh dua faktor situasional yaitu: 1) faktor kontingensi
25
bawahan meliputi aspek: lokus kendali (locus of control), pengalaman dan persepsi kemampuan, serta 2) faktor kontingensi lingkungan meliputi aspek: tugas, sistim otoritas, dan kelompok kerja.
Robert House menggabungkan empat tipe atau gaya kepemimpinan yang utama yaitu: (1) kepemimpinan direktif yaitu pemimpin memberikan pengarahan yang spesifik, tidak ada partisipasi dari bawahan, (2) kepemimpinan suportif yaitu pemimpin memiliki sifat ramah, mudah didekati dan menunjukkan perhatian tulus untuk bawahan, (3) kepemimpinan partisipatif yaitu pemimpin meminta dan menggunakan saran dari bawahan, tetapi masih membuat keputusan, dan (4) kepemimpinan berorientasi pada prestasi yaitu pemimpin mengatur tujuan yang menentang bawahan untuk menunjukkan kepercayaan diri mereka akan mencapai tujuan dan memilki kinerja yang lebih baik.