۞
نايببِاٍعُِمجمِهعِكيبوأس
صشحَِءاكر
تغهبَِسابطصاَ
۞
نامصِلُطَِراتسأداشساَ
Artinya: “Ingatlah, Kamu tidak akan berhasil dalam memperoleh ilmu kecuali ada enam perkara yang akan dijelaskan kepadamu secara ringkas. Yaitu kecerdasan, cinta pada ilmu, kesabaran, biaya, petunjuk guru, dan masa yang lama” (Zarnuji, t.t: 15).
B. Pendidikan Agama Islam
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Undang-Undang Sisdiknas, 2009: 3). Menurut Muhaimin bahwa pendidikan adalah upaya yang secara sadar dirancang untuk membantu seseorag atau sekelompok orang dalam mengembangkan pandangan hidup (bagaimana
30
orang akan menjalani dan memanfaatkan hidup dan kehidupannya), sikap hidup, dan keterampilan hidup, baik yang bersifat manual (petunjuk praktis), maupun mental dan sosial (Muhaimin, 2001:37).
Marimba memberikan pengertian pendidikan sebagai berikut: “bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si terdidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Pendidikan adalah segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya kearah kedewasaan (Purwanto, 1997: 11).
Dalam bahasa Arab, para pakar pendidikan pada umumnya menggunakan kata tarbiyah untuk arti pendidikan. Istilah tarbiyah mengacu pada makna pendidikan secara konseptual sejalan dengan subtansi yang berlaku dalam istilah pendidikan itu sendiri, bahwa ia merupakan upaya penyempurnaan terhadap suatu hal yang dilakukan secara bertahap. Ki Hajar Dewantara, mengatakan bahwa pendidikan berarti daya upaya untuk memajukan pertumbuhan budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak yang antara satu dan lainnya saling berhubungan agar dapat memajukan kesempurnaan hidup, yakni kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik selaras dengan dunianya (Nata, 2009: 338).
Dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh orang dewasa dalam rangka menanamkan, membina, dan mengembangkan potensi anak didik agar menjadi manusia utama yang
31
berakhlak mulia yang terwujud dalam berfikir, bertindak, bersikap dan mempunyai keterampilan yang berguna bagi nusa dan bangsa.
Agama dari segi bahasa berasal dari kata kata din (هيد), menurut satu pendapat, agama tersusun dari dua kata, a = tidak dan gam = pergi, jadi agama artinya tidak pergi, tetap di tempat, diwarisi secara turun-temurun. Hal demikian menunjukkan pada salah satu sifat agama, yaitu diwarisi secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi lainnya (Daradjat, 1991: 3). Harun Nasution, Guru Besar Filsafat dan Teologi Islam mengemukakan, berdasarkan analisisnya terhadap berbagai kata yang berkaitan dengan agama yaitu al-din,religi dan kata agama itu sendiri sampai pada kesimpulan bahwa intisari yang terkandung dalam istilah-istilah di atas adalah ikatan. Agama mengandung arti ikatan-ikatan yang hars dipegang dan dipatuhi manusia. Ikatan ini mempunyai pengaruh yang besar sekali terhadap kehiduan manusia sehari-hari. Ikatan ini berasal dari suatu kekuatan yang lebih tinggi daripada manusia (Nasution, 1979: 10).
Frazer dalam Arifin mengemukakan, bahwa definisi agama adalah suatu ketundukan atau penyerahan diri kepada kekuatan yang lebih tinggi daripada manusia yang dipercaya mengatur dan mengendalikan jalannya alam dan kehidupan manusia. Lebih lanjut Frazer mengatakan bahwa agama terdiri dari dua elemen, yakni yang bersifat teoritis dan yang bersifat praktis. Yang bersifat teoritis berupa kepercayaan kekuatan-kekuatan yang lebih tinggi daripada manusia, sedangkan yang bersifat praktis ialah usaha manusia untuk
32
tunduk kepada kekuatan-kekuatan tersebut serta usaha menggembirakannya (Arifin, 1992: 5).
Selanjutnya definisi Islam menurut bahasa, Islam berasal dari kata salima yang artinya damai atau selamat. Dalam Al-Qur’an kata tersebut digunakan dengan beberapa perubahan dan tambahan. Secara tata bahasa, Kata islam memiliki akar kata salima yang berarti “selamat”. Kemudian dari kata tersebut diderevasikan menjadi aslama dengan menambahkan huruf hamzahdi depannya sehingga berubah pemaknaannya dari kata yang asal muatan maknanya intransitif menjadi transitif, yakni dari selamat menjadi “menyelamatkan”, dari sini terkandung faidah menyelamatkan jiwa dan raga sehingga kemudian kata tersebut dimaknai “berserah” atau “tunduk“. Artinya orang yang ingin selamat jiwa dan raganya ia haruslah tunduk dan berserah diri kepada tata aturan Tuhan yang telah menciptakannya untuk mencapai keselamatan. Islam menjadi nama bagi suatu agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui Nabi Muhammad Saw. sebagai Rasul. Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mencapai satu segi, tetapi mengenai berbagai segi dari kehidupan manusia.
Pendidikan Agama yaitu “usaha-usaha secara sistematis dan pragmatis dalam membantu anak didik agar supaya mereka hidup sesuai dengan ajaran Islam (Zuhairini, 1983: 27). Menurut Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2007 Bab I pasal 2 menyebutkan Pendidikan agama adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan, membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan
33
peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan (Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2007, Tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan Bab I, pasal 2, ayat (1)).
Menurut Daradjat pengertian Pendidikan Agama Islam sebagai berikut:
1. Pendidikan Agama Islam adalah usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik, agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam serta menjadikannya sebagai pendangan hidup (way of life).
2. Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan yang dilaksanakan berdasarkan ajaran Islam.
3. Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan dengan melalui ajaran-ajaran agama Islam, yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikannya, ia dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama Islam yang telah diyakininya secara menyeluruh serta menjadikannya sebagai suatu pandangan hidupnya, demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia maupun di akhirat kelak.
Pendidikan Agama Islam adalah suatu mata pelajaran yang diajarkan di setiap lembaga pendidikan baik pendidikan dasar, menengah maupun perguruan tingi baik negeri maupun swasta. Adapun tujuan diberikannya
34
materi PAI adalah untuk memperkuat iman, ketakwaan terhadap tuhan Yang Maha Esa sesuai yang dianut oleh peserta didik yang bertakwa.
Pendidikan agama Islam merupakan usaha sadar dan terencana untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan (Nazarudin, 2007:12).
Jadi, Pendidikan Agama Islam merupakan “usaha sadar yang dilakukan pendidik dalam rangka mempersiapkan peserta didik untuk meyakini, memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau pelatihan yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan” (Majid, 2004 : 132).
Pendidikan agama Islam merupakan komponen yang tak terpisahkan dari sistem pendidikan Islam yang jangkauan serta sasarannya lebih luas, namun berfungsi sangat strategik untuk mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam berbagai disiplin ilmu yang dipelajari oleh subjek didik.
Pendidikan agama Islam sebagai sebuah progam pembelajaran yang diarahkan untuk:
1. Menjaga akidah dan ketakwaan peserta didik,
2. Menjadi landasan untuk lebih rajin mempelajari dan mendalami ilmu-ilmu agama,
3. Mendorong peserta didik untuk lebih kritis, kreatif, dan inovatif, 4. Menjadi landasan perilaku dalam kehidupan sehari-hari dimasyarakat.
35
Pendidikan agama islam merupakan progam pengajaran pada lembaga pendidikan serta usaha bimbingan dan pembinaan guru terhadap siswa dalam memahami ,menghayati, serta mengamalkan ajaran Islam. Sehingga siswa dapat menjadi manusia yang bertaqwa serta memiliki budi pekerti luhur, sesuai dengan tujuan dari pendidikan Islam.
Secara substansial tujuan pendidikan agama Islam adalah mengasuh, membimbing, mendorong, mengusahakan, menumbuhkembangkan manusia takwa. Takwa merupakan derajat yang menunjukkan kualitas manusia bukan saja dihadapan sesama manusia, tetapi juga di hadapan Allah. Ketakwaan merupakan “high concept” dalam arti memiliki banyak dimensi dan merupakan suatu kondisi yang pencapaiannya membutuhkan upaya yang keras melewati dan melampaui tahap demi tahap. Pencapaiannya mempersyaratkan bukan saja dimilikinya sejumlah pengetahuan dan pemahaman, tetapi juga penghayatan dan pengejawantahannya dalam perilaku nyata.
Pendidikan Agama Islam merupakan sebutan yang diberikan pada salah satu objek pelajaran yang harus dipelajari oleh siswa muslim dalam menyelesaikan pendidikannya pada tingkat tertentu. Ia merupakan bagian tak terpisahkan dari kurikulum suatu sekolah, sehingga merupakan alat untuk mencapai salah satu aspek tujuan sekolah yang bersangkutan. Karena itu, subjek ini diharapkan dapat memberi keseimbangan dalam kehidupan anak kelak, yakni manusia yang memiliki “kualifikasi” tertentu, tetapi tidak lepas dari nilai-nilai agama Islam. Sebagai subyek pelajaran, pendidikan agama
36
islam mempunyai fungsi yang berbeda dari subyek pelajaran yang lain. Ia dapat memiliki fungsi yang bermacam-macam, sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh masing-masing lembaga pendidikan. Adapun fungsi pendidikan agama Islam adalah:
1. Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan peserta didik kepada Allah SWT yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga.
2. Penyaluran, yaitu menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat khusus di bidang agama agar bakat tersebut dapat berkembang secara optimal sehingga dapat di manfaatkan untuk dirinya sendiri dan bagi orang lain.
3. Perbaikan yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan, dan kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pemahaman dan pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan seharihari.
4. Pencegahan, yaitu menangkal hal-hal negatif dari lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia Indonesia seutuhnya.
5. Penyesuaian, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran Islam
6. Sumber nilai, yaitu memberikan pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat (Departemen Agama RI, Pedoman Umum Pendidikan Agama Islam Sekolah Umum Dan Sekolah Luar Biasa 4-5).
37 C. Guru
Guru dalam bahasa arab dikenal dengan sebutan “al mu’alim atau al ustadz” yang bertugas memberikan ilmu pada majelis ta’lim (tempat memperoleh ilmu). Dalam hal ini al mu’alim atau al ustadz juga mempunyai pengertian orang yang mempunyai tugas untuk membangun aspek spiritualitas manusia (Suparlan, 2005:12).
Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (UU Guru dan Dosen, 2005: 2).
Zuraini mengatakan bahwa guru adalah orang yang mempunyai tanggung jawab terhadap pembentukan pribadi anak yang sesuai dengan ajaran Aama Islam dan bertanggungjawab kepada Allah (Zuraini, 2004: 54). Guru adalah orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar (Mulyasa, 2007: 288). Nurudin menguraikan bahwa guru adalah orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik dengan mengupayakan seluruh potensinya, baik potensi efektif, potensi kognitif, maupun potensi potensi psikomotorik (Nurdin, 2010: 128).
Guru (pendidik) menurut Ahmad Marimba adalah orang yang memikul pertanggung jawaban untuk mendidik, pada umumnya jika mendengar istilah pendidik akan terbayang di depan kita seorang manusia dewasa, dan sesungguhnya yang kita maksudkan adalah manusia yang karena hak dan kewajibannya bertanggung jawab tentang pendidikan si terdidik
38
(Marimba, 1989: 37). Hadarawi Nawawi mengatakan bahwa guru adalah orang yang kerjanya mengajar atau memberikan pelajaran di sekolah, sedangkan lebih khusus lagi ia mengatakan bahwa guru berarti orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang ikut bertanggung jawab dalam membantu anak didik mencapai kedewasaan (Nata, 2001: 62).
Dengan begitu pengertian guru pendidikan agama Islam adalah seseorang yang memiliki kemampuan menyajikan ide (pengetahuan) tentang ajaran agama Islam untuk disampaikan kepada anak didik dengan penuh kesadaran dan rasa tanggung jawab supaya dapat terbimbing ke arah pencapaian kedewasaan serta membentuk kepribadian muslim sejati yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai keseimbangan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Guru yang ideal adalah guru yang memenuhi kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rokhani serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Guru sebagai salah satu komponen dalam kegiatan belajar mengajar memiliki posisi yang sangat menentukan keberhasilan, karena fungsi guru adalah merancang, mengelola, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran. Di samping itu, kedudukan guru dalam kegiatan belajar mengajar juga sangat strategis dan menentukan. Strategis, karena guru yang akan menentukan kedalaman dan keluasan materi pelajaran, bersifat menentukan, karena guru yang memilah dan memilih materi sebagai bahan pelajaran yang akan disajikan kepada peserta didik.
39
Adapun peran guru dapat dilihat (Mulyasa 2001: 37-64) sebagai berikut :
1. Guru sebagai pendidik
Guru adalah pendidik, yang menjadi kokoh, panutan, dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu guru harus memiliki standar kualitas yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri dan disiplin.
2. Guru sebagai pengajar
Sejak adanya kehidupan, sejak itu pula guru telah melaksanakan pembelajaran, dan memang hal tersebut merupakan tugas yang pertama dan utama. Guru membantu peserta didik yang sedang berkembang untuk mempelajari sesuatu yang belum diketahuinya, membentuk kompetensi dan memahami materi standar yang dipelajari.
3. Guru sebagai pembimbing
Guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan, yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya bertanggung jawab atas kelancaran perjalanan itu. Dalam hal ini, istilah perjalanan tidak hanya menyangkut fisik, tetapi juga menyangkut perjalanan mental,emosional, kreatifitas, moral dan spiritual yang lebih dalam dan kompleks.
4. Guru sebagai pelatih
Protes pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan keterampilan baik intelektual maupun motorik, sehingga menuntut guru untuk bertindak sebagai pelatih.
40 5. Guru sebagai penasihat
Guru adalah seorang penasihat bagi peserta didik bahkan bagi orang tua, meski mereka tidak memiliki latihan khusus sebagai penasihat. Dan dalam beberapa hal tidak dapat berharap untuk menasihati orang. 6. Guru sebagai inovator
Guru sebagai bagian dari komponen pendidikan dituntut untuk menjembatani kesenjangan ini. Guru harus bertindak sebagai pembaharuan yang dapat memperkecil perbedaan antara pelaksanaan pendidikan dan kemajuan masyarakat. Untuk itu guru harus selalu belajar dan meningkatkan pengetahuan serta keterampilannya agar dapat menciptakan hal-hal baru guna peningkatan mutu pendidikan sehingga sejalan dengan perkembangan masyarakat.
7. Guru sebagai model dan teladan.
Perilaku guru disekokah selalu menjadi figur dan menjadikan dalil bagi para siswanya untuk meniru perilaku tersebut. Hal ini wajar karena peserta didik dalam proses pembelajaran kadang melakukan modelling untuk mengubah tingkah lakunya. Sebagai teladan bagi peserta didik dan orang-orang di sekitarnya, mengharuskan guru melaksanakan kode etik keguruan yang menjadi dasar berperilaku. Baik dalam interaksinya dengan kepala sekolah, teman sejawat, bawahan, peserta didik, dan masyarakat pada umumnya.
41 8. Guru sebagai pribadi
Sebagai individu yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, guru harus memiliki kepribadian yang mencerminkan seorang pendidik. Karena, seorang guru merupakan salah satu panutan bagi masyarakat. Guru dituntut untuk meningkatkan pengetahuannya, selalu mengontrol emosinya, berbaur dengan masyarakat sekitarnya, serta selalu melaksanakan ajaran-ajaran agamanya.
9. Guru sebagai peneliti
Manusia adalah makhluk yang unik, satu sama lain berbeda. Manusia yang satu memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Namun, mereka juga memiliki kelemahan yang tidak dimiliki yang lainnya. Demikian pula dengan peserta didik, mereka memiliki keunikan yang beraneka ragam dari waktu ke waktu. Karenanya guru tidak bisa memperlakukan mereka dengan cara yang sama untuk semua peserta didik dan untuk zaman yang berbeda. Hal ini menuntut guru mencari suatu sistem pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan zaman, tingkat perkembangan, serta kebutuhan peserta didik tersebut.
10. Guru sebagai pendorong kreativitas.
Dalam proses pembelajaran, peserta didik terkadang tidak memiliki motivasi belajar, apalagi menciptakan hal-hal baru yang dapat meningkatkan kompetensinya. Sebagai motivator , guru berkewajiban meningkatkan dorongan peserta didik untuk kreatif dalam belajar. Motivasi merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan kualitas
42
pembelajaran, karena peserta didik akan sungguh-sungguh belajar apabila memiliki motivasi yang tinggi.
11. Guru sebagai pembangkit pandangan
Guru harus menanamkan pandangan yang positif terhadap martabat manusia kedalam pribadi peserta didik. Sebagai seorang guru tentunya tidak ingin peserta didik menjadi orang yang akan memperbudak orang lain, melainkan menjadi orang yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Sehingga terjadi kehidupan masyarakat yang sejahtera lahir dan batin.
12. Guru sebagai pekerja rutin
Guru bekerja dengan keterampilan dan kebiasaan rutin yang amat diperlukan dan sering kali memberatkan. Jika kegiatan tersebut tidak dilakukan dengan baik, maka bisa mengurangi atau merusak keefektifan guru pada semua peranannya.
Guru merupakan pemegang peranan sentral proses belajar mengajar, dalam pelaksanaan proses pembelajaran di Sekolah guru dihadapkan pada siswa yang memiliki berbagai macam karakteristik dan juga dihadapkan pada problem pembelajaran yang terjadi. Seorang guru harus mau dan berusaha mencari penyelesaian berbagai kesulitan itu (Daradjat, 2001: 99).
Beberapa hal yang harus dilaksanakan seorang guru sebagai bagian dari rasa tanggung jawabnya terhadap anak didik adalah sebagai berikut: 1. Guru harus menuntut anak didiknya belajar
43
3. Melakukan pembinaan terhadap diri siswa (Kepribadian, watak, dan jasmaniah)
4. Memberikan bimbingan kepada murid
5. Melakukan diagnosis atas kesulitan-kesulitan belajar dan mengadakan penilaian atas kemajuan belajar
6. Menyelenggarakan penelitian
7. Mengenal masyarakat dan ikut serta aktif 8. Menghayati, mengamalkan pancasila
9. Turut serta membantu terciptanya kesatuan dan persatuan bangsa dan perdamaian dunia
10. Turut menyukseskan pembangunan
11. Tanggung jawab meningkatkan peranan profesional guru (Hamalik, 2001: 127).
Guru dituntut memenuhi cakupan kompetensi berkaitan dengan profesionalisme guru sebagaimana yang tercantum dalam Undang-undang Guru dan Dosen No. 14 Tahun 2015 BAB IV Pasal 8 meliputi: (Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen Bab IV pasal 8, 7).
1. Kompetensi pedagogik
Kompetensi pedagogik adalah kemampuan pemahaman terhadap peserta didik, perancangan, dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya
44 2. Kompetensi kepribadian
Kompetensi kepribadian (personel) berarti seorang guru harus memiliki sifat-sifat kepribadian tertentu, yaitu ciri-ciri hakiki kepribadian guru yang menuntunnya ke arah pencapaian tujuan pendidikan.
3. Kompetensi sosial
Kompetensi sosial berarti seorang guru bersedia memberikan pelayanan kepada masyarakat untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah dirancang.
4. Kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi
Kompetensi profesional berhubungan dengan kemampuan dan tekad guru dalam menjalankan tugas keguruannya.
45 BAB III
HASIL PENELITIAN
A. Profil SDN Garangan
Adapun prifil sekolah dari SDN Garangan adalah sebagai berikut:
No Identitas Sekolah
1 Nama Sekolah SD Negeri Garangan
2 N.I.S 659/744
3 N.S.S 101030918012
4 Propinsi Jawa Tengah
5 Otonomi TK II Boyolali
6 Kecamatan Wonosegoro
7 Desa/Kelurahan Garangan
8 Jalan dan Nomor Jl. Jrebeng-Repaking 3 KM
9 Kode Pos 57382
10 Daerah Pedesaan
11 Status Sekolah Negeri
12 Kelompok Sekolah Inti
13 Akreditasi A
14 Surat Keputuan / SK No. 421.2/03/AK/02 tgl 22-7-2002
15 Penerbit SK ditandatangani oleh KA Dinas Diknas Kab. Boyolali
46
17 Tahun Perubahan Tahun Penegerian 1 April 1985 18 Kegiatan Belajar Mengajar Pagi
19 Bangunan Sekolah Milik Sendiri
20 Luas Bangunan 571 m2
21 Lokasi Sekolah 5.000 m2
22 Jarak ke Pusat Kecamatan 3 KM
23 Jarak ke Pusat OTODA 46 KM
24 Terletak pada Lintasan Desa
25 Jumlah Keanggotaan Enam Sekolah
26 Organisasi Penyeleggara Pemerintah
27 Perjalanan / Perubahan Sekolah UD Penegerian 1 April 1985 AK 421/013/XVIII/34
B. Visi, Misi dan Tujuan SDN Garangan 1. Visi
Terwujudnya sekolah yang kondusif, menjadi idola masyarakat, dan mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Misi
1. Mewujudkan sistem pembelajaran yang erkwalitas melalui pembelajaran yang berbasis IPTEK dan IMTAQ.
2. Membetuk pribadi siswa yang berbudi luhur melalui pembiasaan sikap dan perilaku terpuji serta keteladanan.
47 3. Tujuan Sekolah
Sesuai dengan visi, misi dan tujuan Sekolah Dasar Negeri Garangan mengantarkan siswa didik untuk:
1. Menghasilkan lulusan yang dapat melanjutkan ke SMP/MTs favorit di daerah setempat.
2. Menghasilkan lulusan yang selalu taat menjalankan ajaran agama yang dianutnya.
3. Menghasilkan lulusan yang memiliki sikap dan perilaku yang santun. 4. Menjuarai berbagai lomba, baik akademik maupun non akademik di
tingkat kecamatan.
5. Menjuarai berbagai lomba, baik akademik maupun non akademik di tingkat kabupaten.
6. Menjuarai sebagian lomba, baik akademik maupun non akademik di tingkat provinsi.
C. Keadaan Siswa
Keadaan siswa di SDN Garangan tahun ajaran 2016-2017 adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1
Keadaan Siswa SDN Garangan
Kelas L P Jumlah I II III 7 7 13 9 9 7 16 16 20
48 IV V VI 7 11 12 13 8 8 20 19 20 Jumlah 57 54 111 D. Keadaan Guru
Keadaan siswa di SDN Garangan tahun ajaran 2016-2017 adalah sebagai berikut:
Tabel 3.2
Keadaan Guru SDN Garangan
No Nama Status Jabatan
1 Sukardi, S.Pd.SD PNS Kepala Sekolah
2 Sri Umiyati, S.Pd.I PNS Guru PAI
3 Zoeh Baniyah, S.Pd.SD PNS Guru Kelas
4 Siti Aminah, S.Pd.SD PNS Guru Kelas
5 Kasini, S.Pd PNS Guru Kelas
6 Ninik Setyowati, A.Md PNS Guru Kelas
7 Rina Setyoningsih, S.Pd.SD PNS Guru Kelas 8 Wahid Husein Aliatmoko, S.Pd Honorer Guru OR 9 M. Akris Sya’bani, S.Pd.SD Honorer Guru Kelas 10 Siti Khori’ah, S.I.Pust Honorer Guru Perpus 11 Zeni Ngindahul Masruroh, S.Pd.I Honorer Guru PAI
49
E. Keadaan Sarana dan Prasarana SDN Garangan
Demi menunjang lancarnya proses pendidikan, dibutuhkan sarana prasarana yang baik dan sesuai, salah satunya adalah gedung sebagai tempat proses belajar mengajar serta kegiatan lain dalam sekolahan berlangsung. Rincian sarana dan prasarana SDN Garangan sebagai berikut: