• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DI SEKOLAH DAN

A. Pendidikan Agama Katolik

2. Pendidikan Agama Katolik di Sekolah

Pendidik adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan

pendidikan. Sebagai seorang pendidik harus memiliki kewibawaan yang mampu

memberikan pancaran untuk mengakui, menerima dan menuruti dengan penuh

pengertian. Pendidik memiliki peran untuk membantu perkembangan peserta didik

itu sendiri, karena mereka menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan

baik-buruknya proses pelaksanaan di sekolah (Mohamad Surya, 2010: 28).

3) Materi dan Alat Pendidikan

Materi atau bahan menjadi faktor utama dalam mencapai tujuan pendidikan

yang diterima dan dipahami oleh peserta didik harus menggunakan alat atau

metode dalam melakukan komunikasi antara pendidik dan peserta didik (Mohamad

Surya, 2010: 28).

4) Situasi Pendidikan

Situasi berlangsungnya proses pendidikan sangat menentukan keberhasilan

pencapaian tujuan pendidikan. Proses berlangsungnya pendidikan perlu memiliki

lingkungan yang mendukung, yakni lingkungan yang nyaman sehingga proses

pendidikan tidak terganggu. Situasi pendidikan yang dimaknai secara fisik, antara

lain: gedung sekolah, halaman, tempat tinggal, teman sebaya, kelompok belajar,

dan sebagainya. Secara psikologis seperti: suasana hening, tidak bising, nyaman

dan perasaan gembira (Mohamad Surya, 2010: 28).

2. Pendidikan Agama Katolik di Sekolah

a. Pengertian Pendidikan Agama Katolik di Sekolah

Agama merupakan suatu pedoman hidup yang sangat penting bagi

kehidupan manusia, dimana agama membantu seseorang menemukan makna hidup

yang lebih mendalam. Dalam tujuan pendidikan tidak hanya ditekankan pada segi

agama seperti hukum, ajaran-ajarannya, upacara dan lain sebagainya, namun juga

dapat menghayati relasi yang terjalin dengan Tuhan. Oleh karena itu sekolah

memiliki peranan dalam membantu mewujudkan tujuan hidup seseorang dalam hal

iman. Heryatno Wono Wulung (2008: 23) menuliskan bahwa Pendidikan Agama

Katolik dipahami sebagai proses pendidikan dalam iman yang diselenggarakan

peserta didik agar semakin beriman kepada Tuhan Yesus Kristus sehingga

nilai-nilai Kerajaan Allah sungguh terwujud di tengah-tengah hidup mereka.

Dalam silabus Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Menengah

Atas/Kejuruan (SMA/SMK) menegaskan bahwa:

Pendidikan Agama Katolik adalah usaha yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka mengembangkan kemampuan siswa untuk memperteguh iman dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan ajaran Gereja Katolik, dengan tetap memperhatikan penghormatan terhadap agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama untuk mewujudkan persatuan nasional (Komkat KWI, 2007: 11).

Dari kutipan di atas dapat dilihat bahwa Pendidikan Agama Katolik

merupakan upaya sadar dan terencana untuk membantu siswa berkembang menjadi

dewasa dalam semua segi kehidupannya. Pendidikan agama dimaksudkan untuk

membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan

Yang Maha Esa, memiliki budi pekerti yang baik dan peningkatan dalam imannya.

Seseorang tidak akan memiliki iman yang kuat hanya dengan memiliki buku-buku

pengetahuan agama, doa-doa permohonan, kitab suci, atau pun teori-teori agama

yang telah diterima, namun dengan menghayati pengalaman-pengalaman dalam

hidupnya maka akan semakin mampu mendalami tujuan hidupnya.

Seorang yang beriman adalah orang yang mampu melihat, menyadari,

menghayati kehadiran Allah dalam hidupnya, dan berusaha melaksanakan

kehendak Allah dalam kehidupan sehari-hari. Iman merupakan pusat hidup

kepribadian seseorang dimana semakin dalam iman yang dimiliki akan semakin

mempengaruhi kepribadian orang tersebut. Seseorang yang beriman dewasa akan

memiliki keyakinan dan motivasi yang tinggi di dalam hidupnya serta berani

hal-hal penting dan yang tidak penting dalam hidupnya. Misalnya memiliki

kerendahan hati untuk mengakui kesalahan dan mampu untuk memaafkan.

Pendidikan Agama Katolik di sekolah merupakan salah satu usaha untuk

membantu peserta didik menjalani proses pemahaman, pergumulan, dan

penghayatan iman dalam konteks hidup sehari-hari. Proses semacam ini diharapkan

semakin memperteguh dan mendewasakan iman peserta didik. Peran Pendidikan

Agama Katolik sebagai jembatan, jalan bagi para peserta didik untuk sampai pada

penghayatan iman mereka dalam kenyataan hidup seahri-hari. Iman yang dewasa

diartikan sebagai iman yang berkembang semakin matang secara penuh karena

mencakup segi pemikiran, hati dan praksis (Komkat KWI, 2007: 11).

Pendidikan iman di sekolah merupakan proses pendewasaan iman

diharapkan mampu membantu memperkembangkan iman peserta didik secara

seimbang. Oleh karena itu, Pendidikan Agama Katolik juga tidak pernah

membatasi perhatiannya hanya kepada kegiatan rohani yang terpisah dari

kenyataan hidup lainnya. Sebaliknya Pendidikan Agama Katolik harus mampu

mendorong peserta didik untuk mengambil bagian di dalam penindasan serta

ketidakadilan. Pendidikan Agama Katolik di sekolah perlu mempelopori

terwujudnya kebebasan agar para peserta didik dapat dibantu mengambil keputusan

hidup yang sungguh-sungguh keluar dari hati nuraninya.

Yan Riberu (2004: 25) juga menulis bahwa pendidikan agama ini juga

mengusahakan pengembangan sikap hidup orang beriman. Puncak pengembangan

ini berupa terbentuknya hati nurani dengan kesadaran moral yang tinggi. Para

pendidik agama wajib mendorong para peserta didik melalui proses demi proses

kebiasaan melainkan menurut kesadaran yang berasal dari diri sendiri. Pendidikan

agama dikatakan berhasil bukan karena mampu mengalihkan ajaran-ajaran pokok

agama, melainkan pendidikan agama yang mampu mengembangkan sikap-sikap

hidup seseorang yang senantiasa dibimbing hati nuraninya melakukan sesuatu

dengan penuh kesadaran moral tinggi.

Pendidikan agama di sekolah hendaknya tampil sebagai mata pelajaran

yang penting, dengan tuntutan dan kepentingan yang sama dengan

pelajaran-pelajaran yang lainnya. Pendidikan agama harus mampu menyampaikan pesan dan

peristiwa Kristiani dengan kesungguhan dan kedalaman yang sama dengan apa

yang disampaikan oleh disiplin lainnya. Pendidikan agama hendaknya tidak hanya

ditempatkan sebagai pelajaran tambahan di sekolah, melainkan sebagai hal dasar

yang memiliki peran sangat penting di dalam kegiatan sekolah yang mampu

membentuk kepribadian para peserta didik. Melalui cara ini, penyajian pesan-pesan

Kristiani mampu mempengaruhi cara memahami asal mula dunia, pengertian

sejarah, dasar nilai-nilai etis, fungsi agama dalam budaya, tujuan manusia dan

hubungannya dengan alam.

Pendidikan agama di sekolah dikembangkan dalam konteks sekolah yang

berbeda-beda, hal ini tergantung dari pandangan pribadi masing-masing guru

namun tetap mempertahankan sifat khas pendidikan agama sehingga tetap mampu

menanggapi tujuannya (Sutarjo Adisusilo, 2012: 40). Hidup dan iman peserta didik

yang menerima pendidikan agama di sekolah ditandai dengan perubahan yang

terus-menerus. Pendidikan agama disekolah juga perlu memperhitungkan

fakta-fakta untuk dapat mencapai tujuannya. Bagi peserta didik yang percaya, pendidikan

Bagi peserta didik yang sedang mencari atau yang ragu-ragu, juga dapat

menemukan pendidikan agama kemungkinan untuk menemukan apa artinya iman

yang tepat kepada Yesus Kristus, dan memberikan mereka kesempatan untuk

menguji pilihan mereka sendiri secara lebih dalam. Sedangkan bagi peserta didik

yang tidak percaya, pendidikan agama hanya bersifat pewartaan missioner injil,

dimana katekese akan mendewasakan iman mereka.

b. Tujuan Pendidikan Agama Katolik di Sekolah

Dalam buku silabus Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Menengah

Atas/Kejuruan (SMA/SMK) menjabarkan bahwa Pendidikan Agama Katolik pada

dasarnya bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan membangun hidup

yang semakin beriman. Tujuan Pendidikan Agama Katolik adalah untuk membantu

naradidik menghayati imannya di dalam hidup sehari-hari, sehingga mereka

sungguh-sungguh menjadi orang Katolik yang imannya dewasa (Heryatno Wono

Wulung, 2008: 23). Tujuan Pendidikan Agama Katolik itu sendiri tidak dapat

dibatasi dalam lingkup sekolah, tetapi juga menyangkut bagaimana memberikan

pendidikan iman di tengah-tengah masyarakat.

Tujuan Pendidikan Agama Katolik yang diterapkan di sekolah maupun di

luar sekolah haruslah bersifat utuh yang mampu mencakup seluruh aspek hidup

beriman peserta didik, baik itu segi kognitif, afeksi dan praksis. Pendidikan di

dalam iman membantu memperkembangkan seluruh aspek secara seimbang

sehingga memiliki arah pendidikan yang bersifat konatif. Bersifat konatif berarti,

tujuan pendidikan di dalam iman sudah diolah dan dipertimbangkan

supaya semakin setia serta konsisten mewujudkannya di dalam kenyataan hidup

sehari-hari. Pendidikan bertujuan untuk membantu peserta didik memiliki

kesadaran kritis yang reflektif dan mampu berpikir sendiri, juga menolong mereka

untuk menjadi lebih peka pada kebutuhan komunitas dan lingkungannya sehingga

memiliki wawasan yang luas (Heryatno Wono Wulung, 2008: 23).

Ignatia Esti Sumarah (2003: 39) juga menulis pandangan Konsili Vatikan II

bahwa pendidikan agama yang diberikan di sekolah Katolik bertujuan

menanamkan pendidikan moral menciptakan lingkungan hidup yang dijiwai oleh

semangat injil, kebebasan dan cinta kasih sehingga membantu peserta didik dalam

mengembangkan kepribadiannya. Cita-cita Pendidikan Agama Katolik menurut

iman Katolik adalah sebagai arah menuju jalan keselamatan di tengah-tengah

segala masalah dan pergumulan hidup sehari-hari seseorang (GE art. 7 dan 8).

Konsili Vatikan II juga menegaskan bahwa sekolah Katolik merupakan

sebuah lembaga pendidikan resmi demi mengembangkan bakat, minat, dan

kemampuan peserta didik agar mereka dapat tumbuh menjadi pribadi yang matang

dan mandiri. Tujuan Pendidikan Agama Katolik itu sendiri mencakup

pengembangan pribadi yang utuh, membentuk kesadaran etis dan sosial, lebih

bertanggung jawab, mampu memilih secara bebas dan benar, serta menyiapkan

para peserta didik untuk membuka diri terhadap kenyataan hidup dan semakin

mampu memaknai hidup.

c. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Katolik

Komkat KWI (2007: 12) membagi ruang lingkup pembelajaran PAK

1) Pribadi Siswa

Dalam aspek pribadi siswa dibahas tentang pemahaman diri sebagai laki-laki dan perempuan yang memiliki kemampuan dan keterbatasan, kelebihan dan kekurangan dalam hal berelasi dengan sesama serta lingkungan sekitarnya.

2) Yesus Kristus

Dalam aspek Yesus Kristus dibahas bagaimana meneladani pribadi Yesus Kristus yang mewartakan Allah Bapa dan Kerajaan Allah. Dengan meneladani Yesus, diharapkan para peserta mampu menjadi pribadi yang lebih baik dalam bertingkah laku dan bertutur kata.

3) Gereja

Dalam aspek Gereja dibahas arti dan makna Gereja, yang sebagai persekutuan murid-murid Yesus dipanggil serta diutus menjadi pewarta, saksi dan pelaksana karya keselamatan Allah, serta bagaimana mewujudkan kehidupan menggereja dalam realitas hidup sehari-hari.

4) Kemasyarakatan

Dalam aspek kemasyarakatan dibahas secara mendalam hidup bersama dalam masyarakat sesuai dengan Firman/Sabda Tuhan, ajaran Yesus dan ajaran Gereja, atas dasar keyakinan, bahwa kehadiran Yesus dan Gereja-Nya di dunia bukan hanya untuk Gereja tetapi untuk semua orang.

d. Konteks Pendidikan Agama Katolik di Sekolah

Konteks Pendidikan Agama Katolik akan menjabarkan dua pendekatan

yaitu sosialisai dan edukasi. Sosialisasi merupakan proses dimana kita menjadi diri

sendiri dengan berinteraksi dengan orang lain, dengan aturan dan nilai hidup yang

diikuti, serta pola tingkah laku yang diharapkan oleh lingkungan sosial itu sendiri.

Sedangkan edukasi adalah sebagai proses dimana kita dengan sadar mendidik diri

sendiri dan peserta didik agar secara bersama mengalami perkembangan hidup

yang utuh. Sosialisasi dan edukasi itu sendiri antara lain:

1) Sosialisasi Menuju Pribadi yang Lebih Matang

Sosialisasi merupakan proses yang berlangsung seumur hidup di mana

kita diajak untuk bisa beradaptasi pada sistem nilai yang dianut dan norma-norma

hidup yang berlaku di masyarakat (Heryatno Wono Wulung, 2008: 44). Manusia

tetap berperan sebagai subyek yang bebas dalam berpikir, mengambil keputusan

dan bertindak menurut hati nuraninya. Di dalam Pendidikan Agama Katolik di

sekolah kesadaran diri sebagai subyek perlu ditegaskan dan ditekankan. Selain hal

itu, perlunya meningkatkan hubungan yang berkaitan dengan masyarakat dan

individu, antara kenyataan sosial dan kesadaran perseorangan.

2) Sosialisasi Menuju Hidup Beriman yang Dewasa

Untuk menjadi orang beriman kristiani yang mantap dan dewasa kita perlu

berinteraksi dan bersosialisasi dengan hidup sesama jemaat lainnya (Heryatno

Wono Wulung, 2008: 46). Melalui interaksi tersebut iman seseorang akan dibentuk

dan dikembangkan. Penyelenggaraan Pendidikan Agama Katolik di sekolah harus

bertitik tolak pada kebutuhan peserta didik sehingga mampu mengarahkan mereka

menjadi orang Katolik yang sungguh beriman.

3) Proses Sosialisasi Memerlukan Edukasi yang Bersifat Kritis

Pendidikan Agama Katolik bukan hanya proses sosialisasi, tetapi juga

proses edukasi yang kritis yang memberdayakan. Pendidikan Agama Katolik juga

berusaha supaya dapat meningkatkan hubungan yang bersifat dialektis antara

jemaatnya dengan warga dan begitu pula sebaliknya. Perkembangan iman juga

merupakan proses dialektis. Oleh sebab itu, Pendidikan Agama Katolik yang

diselenggarakan di sekolah perlu meningkatkan proses sosialisasi yang bersifat

e. Proses Pendidikan Agama Katolik di Sekolah

Setiap sekolah Katolik wajib menyelenggarakan Pendidikan Agama Katolik

yang bervisi spiritual, yakni dengan mengedepankan hal-hal yang berhubungan

dengan inti hidup manusia. Pendidikan yang bervisi spiritual itu dapat terwujud

apabila suasana sekolah Katolik juga dijiwai oleh cinta kasih dan kebebasan injili.

Kebebasan injili merupakan kebebasan sejati, dimana mengalir dari hati nurani

seseorang dengan berani mengatakan “ya” baik kepada sabda Allah, kehidupan

sesama maupun dirinya sendiri. Pendidikan Agama Katolik di sekolah tidak hanya

mengejar prestasi akademis dan berhenti pada pengetahuan saja, melainkan secara

utuh memperkembangkan nilai-nilai kejujuran, kepekaan, kepedulian,

kebijaksanaan, dan hati nurani peserta didik.

Pendidikan diharapkan tidak hanya menyebarkan informasi, akan tetapi

juga memberikan inspirasi hidup kepada para peserta didik antara lain bagaimana

menghadapi kenyataan hidup di masa sekarang dan menjawab tantangan di masa

depan. Pendidikan Agama Katolik diharapkan mampu membantu para peserta

didik semakin terampil dalam menemukan makna hidup dari kenyataan sehari-hari.

Elemen dasariah dari pendidikan itu sendiri adalah perkembangan atau perwujudan

diri yang terus menerus. Sikap dasar terus menerus belajar dan

memperkembangkan diri ini perlu ditekankan karena sifat manusia yang terus

berkembang, sejarah hidup manusia yang tidak pernah berhenti dengan ada

perubahan-perubahan pada dunia dan globalisasi pada masa sekarang (Heryatno

Wono Wulung, 2008: 15).

Simon Rachmadi (2001: 84) menulis bahwa refleksi merupakan komunikasi

secara lebih mendalam. Proses refleksi itu sendiri merupakan cara membaca

pengalaman hidup nyata, agar para peserta didik mampu melihat sisi-sisi angugerah

ilahi yang membangkitkan iman di dalam dirinya. Untuk sampai pada komunikasi

pengalaman iman itu sendiri, orang membutuhkan kemampuan berefleksi dan

ketrampilan dalam memaknai kenyataan hidup yang dialami sehari-hari.

Dengan adanya komunikasi tentu akan saling memperkaya dan

meneguhkan pengalaman iman para peserta yang lain pula. Namun semua

penilaian tersebut tidak semata-mata menghitung seberapa banyak informasi yang

bisa dihafal, melainkan bagaimana kesungguhan hati para peserta didik di dalam

melakukan refleksi dan terus menerus mendalaminya secara lebih mendalam lagi

komunikasinya dengan Allah di dalam hidup sehari-hari. Sebagai komunikasi

iman, Pendidikan Agama Katolik perlu menekankan sifatnya yang menekankan

pada tindakan menuju penghayatan iman yang lebih “baik”.

Pendidikan Agama Katolik menekankan proses perkembangan iman,

peneguhan serta perwujudan cinta kasih. Sehingga suasana kebersamaan,

kesalingan serta penghargaan pada masing-masing pribadi sangat penting untuk

diciptakan di dalam kelas atau pun dalam kegiatan pembinaan yang lain. Suasana

sekolah semacam ini mampu membuat peserta didik merasa martabatnya

dihormati, permasalahan hidupnya dipahami, pertanyaan dan keluhannya

diperhatikan. Selain itu, mereka juga dibantu menemukan identitas diri dan

perannya di dalam lingkungan sekolah dan masyarakat. Di samping itu, suasana

kelas yang menggembirakan perlu ditekankan agar tidak membosankan dan

menekan. Dengan memiliki visi dan suasana semacam ini, maka tujuan Pendidikan

f. Peranan Guru Pendidikan Agama Katolik di Sekolah

Kelayakan pendidikan dapat diukur dari ketersediaan sarana dan prasarana

belajar, media dan sumber belajar, serta guru yang professional. Guru adalah orang

yang memberikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik dalam lembaga

pendidikan formal, yaitu sekolah. Untuk menjadi guru yang professional, guru

harus mampu menjalankan tugasnya secara professional, mampu membelajarkan

peserta didiknya baik dalam materi maupun praktek tentang pengetahuan yang

dikuasainya dengan baik. Beberapa peran yang dapat dilakukan guru sebagai

tenaga pendidik, antara lain:

a) sebagai pekerja professional dengan fungsi mengajar, membimbing dan melatih, b) sebagai pekerja kemanusiaan dengan fungsi dapat merealisasikan seluruh kemampuan kemanusiaan yang dimiliki, c) sebagai petugas kemasyarakatan dengan fungsi mengajar dan mendidik masyarakat untuk menjadi warga negara yang baik. Peran guru seperti ini menuntut pribadi guru harus memiliki kemampuan manajemen kelas yang baik, teknis, serta keikhlasan bekerja yang dilandaskan pada panggilan hati untuk melayani orang lain (Mohamad Surya, 2010: 8).

Guru merupakan penanggung jawab utama dalam pendidikan formal di

sekolah. Sebagai seorang pendidik, guru menjadi tokoh, teladan dan identifikasi

bagi para peserta didik dan lingkungannya. Masyarakat menempatkan guru pada

tempat yang terhormat dalam kehidupan masyarakat, yakni di depan memberi

teladan, di tengah-tengah membangun, dan di belakang memberikan dorongan dan

motivasi (ing ngarso sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani).

Kedudukan seperti itu merupakan tantangan untuk para guru, bukan saja di depan

kelas melainkan juga di tengah masyarakat. Oleh karena itu, guru harus memiliki

kualitas pribadi yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri dan disiplin

Memahami peserta didik, cara mereka berkembang dan cara mereka belajar

merupakan hal yang sangat penting agar pengajaran yang dilaksanakan oleh guru

menjadi efektif. Pengetahuan guru tentang tumbuh kembang peserta didik

membantu guru dalam mengatur kelas agar efektif, membantu dalam memilih

latihan-latihan yang tepat untuk peserta didik, mengarahkan proses pembelajaran,

dan menjaga agar siswa tetap termotivasi untuk belajar. Guru harus memiliki

pengetahuan tentang perkembangan yang terjadi dari berbagai aspek, yakni aspek

fisik, sosial, emosional, kognisi dan linguistik. Guru yang demikian tahu

bagaimana cara membantu peserta didik agar mereka dapat belajar tentang hal yang

tepat pada saat yang tepat dan dengan cara yang tepat, sehingga mereka dapat

mencapai kemajuan yang maksimal (Linda, 2009: 14)

Menjadi seorang guru berarti mendampingi peserta didik secara total dalam

berproses menjadi pribadi yang utuh. Yustiana (2012: 33) beliau juga menulis

bahwa guru Katolik dipanggil untuk membentuk pribadi peserta didik sehingga

peserta didik siap berperan dalam kehidupan bermasyarakat, mengambil bagian

dalam perubahan dan perbaikan struktur sosial agar tercipta peradaban manusia

yang bermartabat. Guru secara terus menerus berdaya upaya dalam pembentukan

pribadi peserta didik secara utuh dan mengembangkan sikap tanggung jawab dan

kepedulian terhadap masyarakat terutama masyarakat yang kurang diperhitungkan.

Guru menjadi penggerak dalam perubahan sosial yang diwujudkan melalui

pembinaan utuh peserta didik sehingga mampu mengemban tanggung jawab,

menggunakan kebebasan secara tepat, dan terlibat aktif dalam kehidupan

masyarakat. Para guru juga perlu mengetahui cara menciptakan kelas yang penuh

Memiliki profesi sebagai guru agama Katolik bukanlah tugas yang mudah,

tugas ini merupakan suatu panggilan dariNya yang mempercayakan diri kita untuk

mendampingi peserta didik menemukan imannya yang utuh dalam hidupnya

sehingga mampu mengantar peserta didik menuju kematangan iman yang sejati.

Melalui sikap meneguhkan, menyemangati, mengasihi, memperhatikan serta

mendampingi merupakan sikap yang harus kita miliki sebagai bentuk tanggapan

kita terhadap panggilan menjadi seorang guru agama Katolik. Menjadi seorang

guru agama Katolik tentunya harus memiliki spiritualitas dalam diri sehingga lebih

mudah bagi kita masuk dalam kehidupan peserta didik.

Spiritualitas seorang guru itu sendiri nampak dalam semangat, sikap dasar

dan gaya hidup sebagai murid-murid-Nya berakar pada relasi yang intim dan

mendalam diri kita dengan hidup Yesus Kristus. Relasi penuh kepercayaan dan

persahabatan pribadi dengan Yesus Kristus merupakan dasar dan sumber

spiritualitas guru agama Katolik (Heryatno Wono Wulung, 2008: 103).

Pengalaman dikasihi dan mengasihi Yesus Kristus inilah yang menjadi dorongan

bagi guru agama Katolik dalam mengembangkan sikap mengasihi para peserta

didik yang memiliki masalah dalam hidup pribadinya. Kehebatan Yesus dalam

menghadapi para murid dapat menjadi contoh dalam menjalin interaksi dan

komunkasi dengan peserta didik.

Proses penyelenggaraan Pendidikan Agama Katolik menjadi sarana

komunikasi pengalaman bahwa peserta didik dicintai oleh Yesus dan menjadi

sarana untuk bersama-sama semakin menyadari dan menghayati kehadiran kasih

Yesus di dalam kehidupannya. Membantu para peserta didik menemukan makna

agama Katolik harus mampu memberikan dirinya serta melayani siapa saja yang

membutuhkan, terutama para peserta didik yang memiliki masalah serta banyak

kesulitan dalam hidupnya. Dengan demikian, guru agama Katolik semakin mampu

menyadari cinta kasih Yesus Kristus yang berlimpah dalam hidup sehari-hari.

Dokumen terkait