• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

A. Pendidikan Akhlak Tasawuf

1. Pengertian Pendidikan Akhlak Tasawuf

Menurut KBBI Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007:263) pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional (SISDIKNAS) pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Pendidikan adalah suatu usaha sadar yang teratur dan sistematis, yang dilakukan oleh orang-orang yang diserahi tanggung jawab untuk mempengaruhi anak agar mempuyai sifat dan takbiat sesuai cita-cita pendidikan (Rahmaniyah, 2010:25). Jadi pendidikan adalah suatu proses pembelajaran yang terencana sehingga mewujudkan suasana belajar guna menumbuh kembangkan potensi- potensi peserta didik, mengubah sikap dan

perilaku menjadi dewasa agar bermanfaat bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (2007:20) akhlak adalah budi pekerti, kelakuan, krisis dan pendidikan. Menurut Imam Ghazali mengemukakan dalam Sultoni (2007:55) akhlak adalah kondisi/keadaan hati seseorang yang menjadi lahirnya akhlak mulia atau akhlak tercela. Akhlak adalah keadaan yang melekat pada jiwa manusia yang melahirkan perbuatan baik atau buruk (Ali, 2008:345). Jadi akhlak adalah sifat yang melekat dalam diri manusia yang mendorong perbuatan baik atau buruk tanpa memerlukan pertimbangan pikiran.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (2007:1147) tasawuf adalah suatu cara untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah sehingga memperoleh hubungan langsung secara sadar dengan-Nya. Tasawuf adalah kepasrahan mutlak pada kekuasaan al-Haqq untuk mencapai kebahagiaan hakiki dan mencapai tingkat kesempurnaan manusia serta berpegang teguh pada prinsip-prinsip ajaran Islam (Dahlan, 2010:6). Tasawuf adalah upaya untuk membebaskan diri dari sifat-sifat kemanusiaan demi meraih sifat-sifat malaikat dan akhlak Illahi, serta menjalani hidup pada poros makrifatullah dan mahababbtullah sembari spiritual (Gulen, 2013:2). Jadi tasawuf adalah suatu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kepasrahan mutlak pada kekuasaan Al-Haqq sehingga membebaskan diri dari sifat-sifat tercela agar mencapai mahabbah dan

pembelajaran dengan cara mengubah akhlak yang ada dalam diri seorang hamba agarmeningkatkan ketaqwaan kepada Allah serta mencapai maqam mahabbah dan ma’rifatullah.

2. Tujuan Akhlak Tasawuf

Dalam bertasawuf setiap manusia memiliki tujuan yang diantaranya (Sultoni, 2007:49-51).

a. Tujuan Tasawuf yang Hakiki ;

Pertama, pembinaan akhlak secara pribadi dan berhubungan dengan makhluk, yang semua itu ia lakukan untuk memperloleh kerelaan tuhan. Kesadaran diri akan melihat Tuhan dengan segala kesempurnaan sifat-Nya. Kedua, melihat sang Maha Kasih dan maha sayang, amaliyah pembersihan diri dari akhlak buruk dan menghiasinya dengan akhlak mulia sehingga menyingkap tabir hati, yang mengantarkannya pada penglihatan tuhan. Karena kebersihan hatilah mudah melihat tuhan. Ketiga, bersatulah diri dengan Tuhan.

b. Tujuan Tasawuf Secara Umum ;

Secara umum tujuan tasawuf adalah taqorrub, mendekatkan diri kepada Allah. Dalam hal ini yang di maksud dengan dekat kepada Allah yaitu:

Pertama, mengenal dan mempercayai Allah dengan segala kesempurnaan sifat-Nya. Kedua, melihat kesempurnaan sifat Asma’, Af’al, dan Dzat Allah. Ketiga, bersatu dengan kehendak Allah.

c. Tujuan Tasawuf Menurut Beberapa Ahli Tasawuf:

Beberapa pendapat yang dikemukakan para ahli tasawuf diantaranya:

Pertama, Hamka mengistilahkan tasawuf dengan hidup kerohanian dan tujuannya adalah diawali dengan keinginan mengendalikan jiwa dalam menempuh hidup mencari kerelaan Tuhan supaya tidak terpedaya oleh kebendaan. Selanjutnya tasawuf menjadi alat untuk mencapai tujuan yang lebih hebat yaitu melihat wajah Tuhan. Sampai pada akhirnya ingin mencapai maqam tertinggi yaitu fana dalam wujud Allah yaitu Ittihad baik hulul maupun wahdatul wujud, melalui latihan rohani dan kesungguhan. Kedua, Rabiah al-Adawiyah tujuan tasawuf yaitu terbukanya tabir penyekat alam gaib sehingga sang sufi bisa mengalami, menyaksikan dan berhubungan langsung dengan dunia gaib dan zat Tuhan. Sufi dapat menghayati alam gaib dan langsung bertatap muka dengan wajah Tuhan melalui pengalaman kejiwaan sewaktudalam keadaan fana’ fillah.

Ketiga, Abdul Hakim dalam kitabnya Al-Taswuf fi Al-syi’ri

‘Arabi, abdul hakim berpendapat tentang tujuan tasawuf yaitu sampai

pada Dzat yang haq, atau mutlaq atau bahkan bersatu dengan Dia. Para sufi tidak akan sampai pada tujuannya kecuali dengan laku mujahadah yang berat dan lama yang dipusatkan untuk mematikan segala keinginanya selain Allah dan menghancurkan segala keburukan jiwanya dan menjalankan bermacam-macam riyalat yang diatur dan

ditentukan oleh para sufi sendiri dan mereka namakan tarekat.Setiap manusia memiliki perbedaan orientasi dalam beribadah dan bertasawuf.

Orang- orang yang berkecimpung dalam dunia tasawuf adalah orang-orang yang selalu beriman kepada Allah dan hari akhir. Hal itu disebabkan bahwa tasawuf adalah sebuah bimbingan yang mengarah senantiasa bersifat rohani, mencintai Allah SWT., menjaga hubungan dengannya. Itulah tujuan akhir dari sufi. Namun, hal itu tidaklah mudah bagi pribadi-pribadi yang bukan mukmin untuk mencapai kesempurnaan itu, maka disini dijelaskan tujuan tasawuf diantaranya: (Forum Karya Ilmiah Purna Siswa, 2011:24).

a. Pembinaan Moral

Ilmu tasawuf sendiri oleh para ulama diandaikan sebagai alat yang khusus untuk membersihkan hati, mengobati penyakit-penyakit hati, menjauhkan dari sifat-sifat tercela, dan selalu menghiasi dengan sifat- sifat yang baik. Sebagaimana dalam firman Allah:

     

Artinya:Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. (Q.S Asy- Syam:9)

Dari makna ayat tersebut, bisa diketahui bahwa tasawuf adalah sebuah metode yang bisa menjadikan seseorang itu selamat dari sifat tercela, kesungguhan hati untuk menghadap kepada Allah dengan hati

Purna Siswa, Zakariya Al-Anshariy (2011:24) mengatakan bahwa apa yang di ajarkan tasawuf adalah tentang tatacara memurnikan diri orang, memperbaiki moral orang serta membangun kehidupan di dalam maupun di luar diri orang tersebut untuk mencapai kebahagiaan abadi. Isi yang dikandungnya adalah pemurniaan jiwa (tazkiyatun nafs) dan tujuannya adalah kebahagiaan dan keberkahan abadi.

b. Pembersih Jiwa

Tasawuf juga dapat berfungsi sebagai pembersih jiwa dari pengaruh materi keduniaan. Manusia tidak semestinya memuaskan dirinya hanya dengan materi saja tanpa unsur estetikanya (akhlak). Dengan kesempurnaan hati yang bersih seperti apa yang telah diajarkan oleh nabi, seseorang akan selalu berbudi luhur, memalingkan hatinya dari selain Allah, menghiasi dirinya dengan selalu ingat kepada Allah dan memperteguh sehingga menyuburkan keyakinan beragama merupakan salah satu dampak dari ajaran tasawuf

3. Rukun – rukun Tasawuf

Rukun- rukun tasawuf yaitu sesuatu yang akan dicapai secara berurutan dalam mencapai maqam ma’rifatullah. Salik tidak mungkin menaiki suatu peningkatan jika tidak melalui Rukun- rukun yang dilalui.

Adapun dijelaskan rukun- rukun tasawuf yang disusun peringkatnya sebagai berikut: (Gulen, 2014:4). Pertama, pencapain Tauhid Hakiki melalui jalan teoretik dan praktik. Kedua, membaca serta mengobservasi perintah-perintah dari Hadrah “yang terhormat” kekuasaan dan kehendak Ilahi, di samping mendengar dan memahami yang terhormat firman Illahi.

Ketiga, memenuhi diri dengan Mahabbah kepada Al-Haqq Allah

SWT; melihat demi Dia kepada semua entitas dengan menganggapnya sebagai persemayan ukhuwah serta melaksanakan interaksi yang baik dengan semua manusia, dan bahkan dengan segala sesuatu. Keempat, beramal dengan semangat iisaar (mengutamakan orang lain) di setiap saat, dengan selalu mengutamakan kepentingan orang lain dibandingkan diri sendiri sesuai.

Kelima, mengutamakan kehendak illahi di atas kehendak pribadi serta berusaha menggunakan seluruh usia untuk menghendaki ke puncak “ al

fana’ fi-Allah” (fana’ dalam Allah) dan “ al Baqa’ bi-Allah” (kekal dengan

Allah). Keenam, terbuka terhadap al-‘isyg (cinta), al wajd (kerinduan spiritual), al-jadz, dan al-injidzab (ekstase). Ketujuh, mampu menembus apa yang ada di dalam hati melalui ekspresi wajah, dan mampu membaca berbagai rahasia Illahi yang terdapat pada tampilan kejadian-kejadian. Kedelapan, melakukan ziarah ketempat-tempat yang dapat mengingatkan kepada akhirat dengan niat perjalanan untuk mendapatkan semangat hijrah. Kesembilan, merasa cukup dengan berbagai perasaan dan kenikmatan yang

sedikit pun kearah kawasan diluar syariat. Kesepuluh, terus bermujahadah dan berjuang untuk melawan sikap panjang angan-angan (thu al-amal) yang akan menimbulkan dugaan-dugaan tak berkesudahan. Kesebelas, tidak pernah melupakan- meski hanya sesaat- bahwa tidak ada keselamatan yang dapat diraih selain hanya melalui jalan keyakinan, keikhlasan dan ridlo Illahi, walaupun amal yang dilakukan adalah demi kekhidmat pada agama dan untuk menghantarkan umat manusia menuju al-haqq Allah SWT.

4. Tahapan-tahapan Supaya Bisa Dekat Dengan Allah

Menurut Ahmad Daudi mengemukakan dalam Cecep Alba (2012:20), menempuh jalan rohani menuju Tuhan taqqarub illah (mendekatkan diri kepada Allah), ada stasiun-stasiun (al-maqamat) yang mesti ditempuh oleh seorang salik. Maqam adalah kedudukan atau tahapan (posisi) di mana seorang sufi berada. Kedudukan ini hanya akan di dapat oleh seorang sufi atas usahanya sendiri dengan penuh kesungguhan dan istiqamah. Menurut

Al-Qusyairy dalam Al-Risalahnya, mengemukakan dalam Forum Karya

Ilmiah Purna Siswa (2011:62) maqam adalah suatu etika yang direalisasikan seorang hamba dalam satu kedudukan spiritual, yaitu suatu kedudukan yang dituju atau ditempuh seorang hamba dengan berbagai upaya, keinginan dan usaha secara maksimal serta menyibukkan diri dengan dengan berbagai riyadlahnya. Ketika seorang salik sudah melaksanakan semua itu, dia akan bertempat dalam satu kedudukan spiritualnya. Jadi maqam adalah suatu kondisi di mana kedudukan spiritual seorang sufi berada akan tetapi di dapatkan dengan cara riyadlahnya.

Adapun tahapan-tahapan supaya agar mudah mendekatkan diri kepada Allah yakni sebagai berikut: (Alba, 2012:20-26)

a. At-Taubah

Taubah adalah maqam pertama yang mesti dilalui oleh setiap salik. Secara etimologis taubah artinya kembali. Kesadaran hati terhadap kelalaian diri dan memandang diri dalam keadaan yang serba kurang karena tercemar dengan berbagai dosa.

At-taubah ada tingkatan-tingkatan: pertama, Taubah orang yang sadar yakni awalnya kebiasaan yang terjadi dalam lingkungan beragama tetapi akhirnya menjadi tinggi dalam perasaan dan bertambah menjadi peringatan. Kedua, taubah salik yakni taubah seorang salik bukan dari dosa dan kesalahan dan bukan dari penyesalan dan istigfar tetapi terjadi karena perpindahan kondisi jiwa yang naik menjadi sempurna, sehingga dapat menghadirkan Allah dalam setiap gerak nafasnya.

Dalam sebuah syi’ir yang indah Abdullah Al-Mubarok menyatakan:

Aku melihat dosa mematikan hati, lalu diikuti dengan kehinaan di

setiap zamannya, meninggalkan dosa adalah cara untuk

menghidupkan hati, maka pilihlah bagi dirimu untuk menjauhi dosa- dosa”.

Ketiga, Taubah ‘Arif yakni Taubah seorang ‘arif (orang yang ma’rifat) bukan dari dosa atau dari menyalahi jiwa, tetapi taubah dari kelupaan terhadap dirinya sendiri bahwa dirinya itu berada dalam genggaman Tuhannya. Zun Nun al-Misri menjelaskan bahwa taubah

adalah dari kelupaan. Taubah inabah ialah engkau takut oleh Allah karena Allah berkuasa penuh atasmu. Sedangkan taubah istijabah ialah engkau merasa malu oleh Allah karena Allah itu dekat kepadamu.

b. Wara’

Wara’ adalah sikap menahan diri agar hati tidak menyimpang

sekejap pun dari mengingat Allah. Wara’ ada empat tingkatan, yaitu: pertama, Wara’ orang ‘awam yakni kebanyakan menahan diri dari melakukan ha-hal yang dilarang Allah Swt. Kedua, Wara’ orang saleh yakni menahan diri dari menyentuh atau memakan sesuatu yang mungkin akan jatuh kepada haram, misalnya memakan sesuatu yang tidak jelas hukumnya (syubhat). Ketiga, Wara’ Muttaqin yakni menahan diri dari sesuatu yang tidak diharamkan dan tidak syubhat karena takut jatuh kepada haram. Keempat, Wara’ orang yang benar yakni menahan diri, dari apa yang tidak berdosa sama sekali dan tidak khawatir jatuh ke dalam dosa, tapi dia menahan diri melakukannya karena takut tidak ada niat untuk beribadah kepada Allah atau karena dapat membawanya kepada sebab-sebab yang memudahkannya jatuh kepada yang makruh atau maksiat.

c. Zuhud

Zuhud secara bahasa adalah zahada fihi, wa zahada ‘anhu zuhdan wa zahadan yaitu berpaling darinya dan meninggalkannya karena menganggapnya hina atau menjauhinya karena dosa. Sedangkan menurut Ibnu Qadamah Al-Maqdisi, zuhud adalah gambaran tentang menghindari

dari mencintai sesuatu menuju kepada sesuatu yang lebih baik darinya, menghindari dunia karena tahu kehinaannya bila dibandingkan dengan kemahalan akhirat. (Al-Qathani, 2003:488).

                                                              

Artinya ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Q.S. Al-Hadid:20)

d. Al-ma’rifat

Ma’rifat artinya mengenal atau melihat. Dan yang dimaksud adalah

melihat Tuhan dengan mata hati. Dzunun al-Misri membagi ma’rifat menjadi tiga bagian. Pertama, ma’rifat mukmin, kedua, ma’rifat ahli kalam, ketiga, ma’rifat Auliya muqarrabin. Sufi membagi manusia pada tiga klasifikasi: pertama, tingkatan kaum árif yang mendapatkan kebahagiaan sebuah hikmah. Kedua, tingkatan orang-orang mukmin yang mendapatkan kebagaiaan karena memiliki keimanan. Ketiga, tingkatan orang-orang bodoh dan mereka ini orang-orang yang binasa. Kebagiaan yang didapat dengan ma’rifat jauh lebih utama ketimbang kebahagiaan yang didapatkan dengan iman dan amal saleh. (Alba, 2012: 26).

5. Struktur Ahwal

Menurut Ali mengemukakan dalam forum karya Ilmiah purna siswa (2011:85) ahwal adalah Jamak dari hal. Bila ditinjau secara bahasa ahwal berarti keadaan, berlalu, lewat, berubah atau tidak tetap. Sedangkan menurut Al-Qushairy mengemukakan dalam forum karya Ilmiah purna siswa (2011:86) hakekat ahwal secara istilah yaitu suatu makna atau perasaan dalam kalbu seorang salik yang dianugrahkan atau dikaruniakan Allah dan merupakan efek dari peningkatan maqam yang tidak bisa diusahakan atau diupayakan. Ia bersifat tidak permanen (berubah ubah).

Namun ada beberapa ahwal dalam forum karya ilmiah purna siswa (2011:85-109).

a. Muraqabah

Menurut Ma’luf mengemukakan dalam forum karya Ilmiah purna siswa (2011:87) Muraqabah Secara bahasa berarti menjaga, mengawasi. Sedangkan Menurut Al Ghozali mengemukakan dalam Forum Karya Ilmiah Purna Siswa (2011:87) muraqabah secara istilah yaitu suatu keadaan seorang hamba yang selalu merasa diawasi sang Raqib (Zad yang selalu mengawasi) dan selalu memfokuskan tujuan hanya kepadanya. Menurut Al- Qasimiy mengemukakan dalam forum karya Ilmiah purna siswa (2011:88) bagi Muraqib (hamba yang selalu di awasi oleh Allah) di dalam setiap amalan terdapat dua sudut pandang yaitu: pertama, sebelum beramal harus intropeksi diri apakah motif amaliah dan seluruh gerakannya hanya untuk Allah semata atau

mengikuti hawa nafsu atau mengikuti syetan. Kedua, dalam beramal harus meneliti tata dalam beramal supaya ia bisa memenuhi hak Allah, memperbaiki niat dalam menyempurnakannya dan menjalankan sesempurna mungkin sesuai dengan kadar kemampuannya.

b. Mahabbah

Menurut Ma’luf mengemukakan dalam forum karya Ilmiah purna siswa (2011:91) mahabbah secara bahasa berarti kecintaan watak pada sesuatu yang nikmat atau yang disenangi. Sedangkan Menurut Al- Sulamy, mengemukakan dalam forum karya Ilmiah purna siswa (2011:91) mahabbah secara Istilah yaitu keadaan seorang hamba ketika matanya menyaksikan nikmat yang diberikan allah kepada dirinya. Ketika hatinya menyaksikan penjagaan dan perlindungan Allah kepadannnya, dan ketika iman serta keyakinan sejatinya menyaksikan inayah, Hidayah dan kecintaan Allah kepada dirinya.

Menurut Versi Abi Nasr As-Sarraj Ath Thusiy, Mahabbah terjadi menjadi tiga yaitu: (forum karya Ilmiah purna siswa, 2011:92-93)

Pertama, Mahabbah yang dirasakan orang umum. Mahabbahini lahir dari bagaimana mereka merasakan kebaikan dan perhatian Allah pada dirinya. Kedua, Mahabbah para Sodiqin dan muttqin, mahabbah ini lahir dari penyaksian hati atas ketidak butuahan Allah pada suatu apapun, kemuliaan, keagungan, pengetahuan dan kuasa allah. Ketiga, Mahabbah para siddiqin dan arivin, mahabbah ini lahir dari penyaksian

c. Khauf

Menurut Ma’luf mengemukakan dalam forum karya Ilmiah purna siswa (2011:93) khauf secara bahasa berarti perasaan terkejut, takut, kebalikan dari merasa aman dari pada sesuatu. Sedangkan menurut Al- Qasimiy mengemukakan dalam forum karya Ilmiah purna siswa (2011:93) khauf secara istilah yaitu kepedihan dan terbakarnya hati disebabkan hadirnya sesuatu keadaan yang lebih dikuasai dimasa mendatang, serta mengetahui beberapa sebabnya. Menurut Al-Ghozali mengemukakan dalam forum karya Ilmiah purna siswa (2011:94) Secara garis besar perasaan khauf kepada allah disebabkan tiga faktor yaitu: pertama, khauf yang muncul karena perasaaan ma’rifat pada Allah dan sifat sifatnya. Kedua, khauf yang muncul karena banyak penganiayaaan dari seseorang hamba dengan melaksanakan perbuatan maksiat. Ketiga, khauf yang muncul karena dua hal diatas.

d. Raja’

Menurut Ma’luf mengemukakan dalam forum karya Ilmiah purna siswa (2011:93) raja’ secara bahasa berarti berangan–angan, harapan dan menginginkan sesuatu kebalikan berputus asa. Raja’ adalah memperhatikan kebaikan dan berharap dapat mencapainya, melihat berbagai bentuk kelembutan dan nikmat Allah Swt. dan memenuhi diri dengan harapan demi masa depan serta hidup demi meraih harapan tersebut (Gulen, 2014 : 87).

Untuk menumbuhkan perasaan raja’ dalam setiap individu, perlu diketahui bahwa permulaan raja’ ada empat kriteria yaitu: menurut Al- Qusyairiy dalam forum karya Ilmiah purna siswa (2011:98)

Pertama, mengingat permulaan dari anugrah Allah tanpa didahului amal dan permintaan syafaat dari seorang hamba sebelumnya. Kedua, mengingat agungnya pahala dan kemuliaan Allah dengan memandang anugrah dan sifat kedermawanan. Ketiga, mengingat banyaknya nikmat dari Allah, baik perkara dunia dan akhirat. Keempat, mengingat keluasan rahmat allah dan mendahului rahmat dari pada murkannya.

Menurut Imam Abi Nassr As Sarraj Ath-Thusiy diklasifikasikan ada tiga hal yaitu: (forum karya Ilmiah purna siswa, 2011:93)

Pertama, Raja’ (Rasa harap) kepada Allah. Kedua, Raja’ kepada keluassaan rahmat Allah. Ketiga, Raja’ kepada pahala Allah.

6. Pokok- pokok Ajaran Akhlak Tasawuf

Mempelajari akhlak tasawuf juga harus mempertimbangkan Pokok- pokok ajarannya. Sehingga apapun yang dipelajari merujuk pada landasan yang akan dicapai. Pokok- pokok ajaran akhlak tasawuf dibahas yang diantaranya: (Lathief, 2014:1-2).

Pertama, taqwa kepada Allah dalam setiap keadaan (Sirri wal

‘alaniyah). Kedua, mengikuti panduan sunnah dalam setiap ucapan dan

mereka. Keempat ridla terhadap Allah Swt dalam pemberian banyak atau sedikit. Kelima, kembali kepada Allah Swt dalam kondisi tenang atau susah.

Taqwa direalisasikan dengan pola hidup wara’ dan istqomah. Mengikuti sunnah dinyatakan dengan memelihara dan menjaganya dan dengan budi pekerti yang baik. Berpaling dari makhluk dinyatakan dalam bentuk kesabaran dan tawakal. Ridla terhadap Allah dinyatakan dalam bentuk qona’ah dan berserah diri kepada Allah. Kembali kepada Allah diyatakan bentuk syukur dalam kondisi lapang dan mengembalikan urusan kepada Allah Swt dalam kondisi yang sulit.

Adapun penjelasan pokok kesemuannya itu ada 5 (Lima) yaitu :

Pertama, uluwwul Himmah atau Cita-cita yang yang tinggi. Kedua, hifdzul Hurmah atau menjaga kemuliaan Allah. Ketiga, husnul Hidmah (Pelayanan yang baik). Keempat, nufudzul ‘Azimah (Melestarikan kemauan). Kelima, ta’Dzhimum Ni’mah (Menghargai Nikmat). Orang yang tinggi Cita-citanya akan tinggi pula derajatnya, orang yang menjaga kemuliaan maka Allah akan menjaga kemuliaannya, orang yang berkhidmat dengan baik maka akan mendapat kemuliaan, orang yang melestarikan kemauannya maka akan senantiasa memperoleh petunjuk, orang yang menghargai, mensyukuri nikmat maka akan memperoleh fasilitas nikmat tambahan dari Allah ( Al- Mazid).

Menjadi pelaku salik (orang yang menempuh perjalanan tarekat), adapun harus memperhatikan beberapa hal berkaitan etika tasawuf yang diantaranya: (Sultoni, 2007:28- 45).

Pertama, tasawuf mengajarkan manusia untuk mengembangkan kepekaan terhadap realita dan lingkungannya. Semua yang terjadi ada dalam kehendak Allah sehingga melatih Hamba bersifat Husnudzhan (berprasangka baik) terhadap sesuatu apapun. Kedua, tasawuf senantiasa mengajak kita terbimbing oleh cahaya Allah, yaitu dengan menyiapkan hati agar selalu dapat mengungkap cahaya Allah. Kebersihan hati tetap mampu menangkap cahaya Allah. Ukuran kebaikan manusia bukan mutlak ditentukan keindahan jasmaninya, ketinggian ilmunya, namun lebih dari itu kebersihan hati menjadi ukuran yang paling diperhitungkan untuk mengukur tinggi rendahnya derajat manusia dihadapan Allah. Dari hati inilah akan muncul taqwa, sebagai indikator kemuliaan hamba dihadapan-NYA.

Ketiga, tasawuf mengajarkan berpenampilan kesederhanaan seperti halnya pakaian para kekasih Allah sebagai teladan baginya dan menghindari sifat kesombongan serta meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah. Dengan demikia gelar, pangkat, jabatan akan menjadi tak bermakna jika menjadikan manusia sombong di hadapan Allah.