• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dilihat dari sudut bahasa (etimologi) perkataan akhlak (bahasa arab) adalah bentuk jamak dari kata khulk berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabi’at. (Asmaran AS 1994 : 1)

Adapun pengertian lain bahwa akhlak secara etimologi (arti bahasa) berasal dari kata khalaqa, yang kata asalnya khuluqun yang berarti perangai,

tabiat, adat, atau khalqun yang berarti kejadian, buatan, tabiat, atau sistem perilaku yang dibuat. Abu Ahmadi, Nur Salimi (1996 : 198)

Dalam al-Quran Q.S Al-Ahzab ayat 21, akhlakul karimah di jelaskan

Sesungguhnya ada pada diri Rosulullah SAW yaitu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (hormat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan banyak menyebut nama Allah SWT. (QS Al-Ahzab 21)

. Sebagaimana Sabda Rosul SAW :

يلع قفتم( ِهِن اَس ِجَمُي ْوَا ِهِن ا َّر ِصَنُي ْوَا ِهِناَد ْوُهَي ُُا َوَب َاَف ِة َرْطِفْلا ىَلَع ُدَل ْوُي ٍد ْوُل ْوَم ْنِم َام )ه

Tiada manusia dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah (suci) maka kedua orang tuanya yang menjadikan dia (kafir) yahudi, nasroni atau majusi”. (HR. Mutafaq Alaihi).

Dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa akhlak ialah sifat-sifat yang tertanam dalam jiwanya dan selalu ada padanya. Sifat dapat lahir berupa perbuatan baik disebut akhlak yang mulia, atau perbuatan buruk, disebut akhlak yang tercela sesuai dengan pembinaannya.

Akhlaq yang baik dalam sebuah hadist Bulugul Marom djelaskan.

ِوْقَت َة نَجلا ُلُخ ْدَي اَم ُرَثْكَا َمَّلَس َو ِهْيَلَع ُ َّللَّا ىَلَص ِ َّللَّا ُل ْوُس َر َلاَق :َلاَق َة َرْي َرُه ىِبَأ ْنَع َو

Terjemahannya :

Dari Abu Hurairoh berkata : Rosululloh SAW bersabda: Kebanyakan amal yang menyebabkan masuk surga adalah takwa kepada Allah dan perangai yang baik”.(HR. Tirmizi dan di shokhehkan Al Hakim).

Ahmad Amin (2001 : 32) mengatakan bahwa akhlak ialah kebiasaan kehendak. Ini berarti bahwa kehendak itu bila dibiasakan akan sesuatu maka kebiasaan itu disebut akhlak.

Senada dengan ungkapan di atas telah dikemukakan oleh Imam Gazali dalam kitab Ihya-nya sebagai berikut , Al khulk ialah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

Jadi pada hakekatnya khulk (budi pekerti) atau akhlak ialah suatu kondisi atau sifat yang telah meresap dalam jiwa dan menjadi kepribadian hingga dari situlah timbul berbagai macam perbuatan dengan cara spontan dan mudah tanpa dibuat-buat dan tanpa memerlukan pemikiran.

Adapun pengertian akhlak secara terminologi, dapat merujuk kepada berbagai pendapat para pakar di bidang ini. Ibu Miskawaih (w. 421 H/1030 M) yang selanjutnya dikenal sebagai pakar dibidang akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

Sementara itu Imam Al Ghazali (2005:32) mendefinisikan akhlak sebagai berikut :Akhlak adalah suatu sikap yang mengakar dalam yang

darinya lahir berbagai perbuatan dengan mudah dan gampang tanpa perlu pemikiran dan pertimbangan. Jika sikap itu darinya lahir perbuatan yang baik dan terpuji, baik dari segi akal maupun syara’, maka ia disebut akhlak yang baik. Dan jika yang lahir darinya perbuatan tercela maka sikap tersebut disebut akhlak buruk.

Hamsah Ya’kub (2001:21) dalam bukunya Etika Islam mengemukakan pengertian Ilmu akhlak mengatakan :

Adapun pengertian sepanjang termiologi yang dikemukakan oleh ulama akhlak antara lain :

a. Ilmu akhlak adalah ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk, antara yang terpuji dan yang tercela, tentang perkataan atau perbuatan manusia lahir dan batin.

b. Ilmu akhlak adalah ilmu pengetahuan yang memberikan pengertian tentang baik dan buruk, ilmu yang mengajarkan pergaulan manusia dan menyatakan tujuan mereka yang terakhir dari seluruh usaha dan pekerjaan mereka.

Dalam hubungan dengan hal ini Ahmad Amin mengatakan, “bahwa ilmu akhlak adalah ilmu yang membahas tentang perbuatan manusia yang dapat nilai baik atau buruk. Tetapi tidak semua perbuatan atau amal yang baik itu dapatdikatakan perbuatan akhlak.

Akhlak dalam Islam adalah perbuatan nyata bukan kata-kata semata, perbuatan yang didorong oleh hati bukan oleh ucapan lisan, ia adalah

perilaku yang mengantarkan pada jalan kebenaran. Orang bijak berkata,

“akhlak yang baik oleh pelakunya adalah kenyamanan dan bagi yang lain adalah keselamatan, sedangkan akhlak yang buruk bagi orang lain adalah bencana dan bagi pelakunya adalah kepenatan, maka jika baik akhlak seseorang niscanya banyak sahabatnya, sedikit musuhnya, perkara-perkara yang sulit menjadi mudah dan hati yang keras menjadi lunak.

Maka dalam melaksanakan perbuatan akhlaq harus bisa mengamalkan akhlaq itu sendiri/ dalam surat Al Qa’lam ayat 4 dijelaskan .



dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

(Q.S Al Qa’lam ayat 4).

Dan sumber-sumber pokok Akhlaq iyalah Al-Qur’an danAs-sunnah seperti pesan lukman hakim adalah hamba Allah SWT yang memp[eroleh anugrah hikmah. Sholeh Harun. (2002 : 5)

Allah SWT menuliskan tentang orang yang memperoleh hikamah sebagai berikut :

Allah memberikan hikmah kepada orang yang dikehendakinya,barang siapa yang diberi hikmah maka ia sungguh telah memperoleh

kebijakan yang banyak.(Qs.Al-Baqoroh.269).

Dari pengertian diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa akhlaqul karimah adalah budi pekerti yang mulya yaitu berupa sifat-sifat dan sikap atau perilaku yang telah mendarah daging dalam diri seseorang. Jadi akhlak adalah sikap yang mempersoalkan baik dan buruknya amal. Amal yang terdiri dari perkataan dan perbuatan, perbuatan kombinasi keduanya dari segi lahir dan batin.

Dari beberapa pengertian akhlaq bukan saja merupakan tata aturan atau norma perilaku yang mengatur hubungan antar sesamama manusia dengan tuhan dan alam semesta.

Selain itu di dalam kata akhlaq mencakup pengertian terciptanya keterpaduan antara kehendak khalik dengan perilaku makhluk. Artinya tata perilaku seseorang terhadap orang lain dan lingkungannya disebut mengandung nilai akhlak, manakala tindakan atau perilaku tersebut didasakan kepada kehendak Allah Swt, karena itu sesuai dengan tuntunan akhlak, segala motivasi tindakan (niat) harus mengacu kepada semangat taqwa kepada Allah (Taqwallah).

Karena akhlak berpusat pada taqwa, sedangkan taqwa merupakan asas yang kokoh dan tidak akan pernah berubah lantaran kehendak hawa nafsu, maka akhlak islamiah mempunyai ciri khusus yang membedakannya dari akhlak ciptaan manusia. Ciri tersebut adalah :

a. Kebajikan yang mutlak

Akhlak yang menjamin adanya kebajikan yang mutlak, karena islam telah menciptakan akhlakulkarimah, baik untuk individu maupun bagi masyarakat disetiap lingkungan dalam setiap kondisi serta waktu.

b. Kebaikan yang menyeluruh

Norma-norma yang diajarkan oleh akhlak sangat mudah untuk dimengerti dan tidak mengandung kesulitan atau kesukaran, artinya kebaikan yang diajarkan tidak memberatkan dan sesuai dengan kadar dan kemampuan manusia yang bersifat menyeluruh tanpa membedakan ras dan kebangsaan.

c. Kemantapan

Nilai kebajikan yang diajarkan oleh akhlak bersifat mutlak dan menyeluruh, juga bersifat permanen, langgeng (tetap dan mantap). Karena akhlak diciptakan oleh Alah SWT yang selalu memelihara kebaikan yang mutlak universal serta langgeng. Hal ini berbeda dengan aturan akhlak ciptaan manusia yang bersifat nisbi (sementara), dan tidak bersih dari kepentingan individu maupun golongan. Akhlak ciptaan manusia selalu berubah dan tidak selalu sesuai dengan kepentingan masyarakat.

d. Kewajiban yang wajib ditaati

Akhlak Islamiyah bersumber dari akidah serta syariat islam yang wajib ditaati. Ia mempunyai daya kekuatan mengikat yang tinggi, menguasai semua perilaku manusia, lahir maupun batin dan di dalam keadaan suka

maupun duka. Kepatuhan dan ketaqwaan kepada Allah mendorong untuk tetap setia kepada ajaran-ajarannya, sekaligus menjadi motivator (pendorong) untuk berbuat kebajikan dan meninggalkan segala bentuk kedzaliman.

e. Pengawasan menyeluruh

Taqwa kepada Allah y ang menjadi sumber utama akhlak merupakan pengawas (kontrol) bagi hati nurani dan akal sehat. Islam menghargai hati nurani yang didasarkan oleh iman, islam dan ihsan, bahkan dijadikan tolak ukur dalam menetapkan berbagai ikhtiar (usaha) dan ketetapan hukum.

2. Sifat-Sifat Pokok Nilai Akhlak

Islam sebagai sistem nilai yang sempurna menjadikan akhlak dalam Islam tidak akan berbeda dengan sistem nilai agama Islam itu sendiri.

Adapun sifat-sifat pokok dari nilai akhlak dalam Islam dapat disebutkan sebagai berikut.

a. Akhlak Rabbani b. Akhlak Manusiawi c. Akhlak Universal d. Akhlak Keseimbangan e. Akhlak Realistik

a. Akhlak Rabbani

Akhlak Rabbani adalah bahwa ajaran akhlak dalam Islam bersumber dari wahyu ilahi yang termaktub didalam Al-Qur’an maupun sunnah rasul.

Sifat Rabbani akhlak dalam Islam itu menyangkut tujuannya. Akhlak dalam Islam bertujuan untuk memperoleh kebahagiaan hidup didunia kini dan diakhirat nanti dalam hubungan manusia dengan Tuhan, dengan dirinya sendiri, dengan orang lain dan dengan alamnya. Hal ini sering dengan tujuan diciptakannya manusia oleh Allah, yaitu untuk beribadah kepadanya (Allah), Allah berfirman dalam surat Al-Maidah Ayat 8 :



Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Mahabbatullah merupakan pondasi bangunan akhlak manusia, menjadikan seseorang menentang hawa nafsunya demi mandapat ridha dan cinta-Nya. Mahabbatullah mendorong seorang hamba Allah untuk meninggalkan hal-hal yang membuat dirinya rendah dan menodai kepribadian muslimnya. Mahabbatullah mendorongnya untuk meninggalkan perilaku tidak terpuji, membuatnya bertakwa kepada Allah baik dalam ucapan maupun dalam perbutan.

b. Akhlak manusiawi

Akhlak manusiawi adalah bahwa ajaran akhlak dalam Islam sejalan dengan dan memenuhi tuntutan fitrah manusia. Kerinduan jiwa manusia kepada kebaikan akan terpenuhi dan mengikuti ajaran akhlak dalam Islam.

Ketetapan akal tentang kebaikan akan bertemu dengan ajaran kebaikan dalam Islam diperuntukkan bagi manusia yang merindukan kebahagiaan dalam arti yang hakiki, bukan kebahagiaan semua.

Berikut ini hadits yang menerangkan tentang akhlakul karimah:

ْحَأ اًناَمْيِإ َنْيِنِمْؤُملا ُلَمْكَا َمَّلَس َو ِهْيَلَع ُ َّللَّا ىَلَص ِ َّللَّا ُل ْوُس َر َلاَق :َلاَق َة َرْي َرُه ىِبَأ ْنَع َو ًقْلَخ ْمُهُنَس

ا

ُحْي ِحَص نَسَح ُثْيِدَح َلْيِق َو ىِذِم ْرِتلا ُُا َو َر(ْمِهِئاَسِنِل ْمُك َراَيَخ َو) Terjemahannya :

Dari Abu Huroiroh RA berkata : Rosululloh SAW bersabda : mukmin yang paling sempurna akhlaqnya adalah yang paling baik budi pekertinya, sedang orang terbaik diantara kamu adalah yang paling baik kepada perempuan. (HR. Tirmidzi dan beliau berkata ia adalah Hadist hasan).

c. Akhlak universal

Akhlak universal adalah bahwa ajaran akhlak dalam Islam sesuai dengan kemanusiaan yang universal dan mencakup segala aspek bagi manusia.

d. Akhlak keseimbangan

Akhlak keseimbangan adalah bahwa ajaran akhlak dalam Islam adalah tengah-tengah antara yang menghayalkan manusia sebagai malaikat yang hanya menitik beratkan segi kebaikannya dan yang menghayalkan

sebagai hewan atau seperti hewan yang menitik beratkan pada sifat keburukannya saja. Manusia memiliki unsur jasmani dan rohani yang memerlukan pelayanan kebutuhan masing-masing secara seimbang.

e. Akhlak realistis

Akhlak realistis adalah bahwa ajaran akhlak dalam Islam memperhatikan kenyataan manusia, meskipun sebagai makhluk yang mulia dan mempunyai kelebihan dari makhluk-makhluk lainnya, manusia mempunyai kelemahan-kelemahan, memiliki berbagai macam kebutuhan material dan spiritual. Perbedaan-perbedaan pembawaan dan kemampuan pun diperhatikan. (Asmaran AS (2001 : 127-129)

Dari apa yang telah terurai diatas dapat dikatakan bahwa Islam adalah agama Samawi yang telah disempurnakan. Islam yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw memberi pedoman hidup yang bersifat menyeluruh, lengkap, langgeng dan abadi untuk mencapai kebahagiaan didunia dan diakhirat.

3. Tujuan pendidikan Islam

Berdasarkan uraian diatas, maka dapat dipahami bahwa akhlak adalah suatu tingkah laku yang tertanam di dalam jiwa pribadi seseorang, namun tingkah laku itu tentu tidak semuanya mengandung unsur kebaikan, tapi akhlak yang dimaksud dalam pembahasan akhlak yang mengandung unsur kebaikan. Karena akhlak merupakan penjelmaan dari perbuatan

manusia untuk menuju kearah lebih baik, dengan memperlihatkan budi pekerti, sopan santun, kesusilaan yang baik dan lain sebagainya.

Tujuan pendidikan akhlak, yang perlu kita perhatikan untuk menjadi manusia yang baik adalah melalui pendidikan dan pembinaan sejak dini. Dan Bila seseorang banyak tindak tanduknya banyak cenderung berbuat baik sesuai dengan ajaran Islam maka dinamakan Akhlaq yang baik dalam sebuah hadist Bulugul Marom djelaskan.

ِوْقَت َة نَجلا ُلُخ ْدَي اَم ُرَثْكَا َمَّلَس َو ِهْيَلَع ُ َّللَّا ىَلَص ِ َّللَّا ُل ْوُس َر َلاَق :َلاَق َة َرْي َرُه ىِبَأ ْنَع َو َّللَّا ى

ِ لا نسح و ُُا َو َر( ِقْلُح

ِمِكاَحلا ُهُح ِحَص َو ىِذِم ْرِتلا) Terjemahannya :

Dari Abu Hurairoh berkata : Rosululloh SAW bersabda: Kebanyakan amal yang menyebabkan masuk surga adalah takwa kepada Allah dan perangai yang baik”.(HR. Tirmizi dan di shokhehkan Al Hakim)

Dalam hal ini Al-Ghazali mengatakan : “Apabila anak dibiasakan untuk mengamalkan segala sesuatu yang baik, diberi pendidikan kearah itu.

Pastilah ia akan tumbuh diatas kebaikan dan akibat positifnya ia akan selamat sentosa didunia dan akhirat. Kedua orang tuanya dan semua pendidikan pengajar serta pengasuhannya ikut serta memperoleh pahalanya.

Sebaliknya, jika sejak kecil sudah dibiasakan mengerjakan kebaikan dan dibiarkan begitu saja tanpa dihiraukan pendidikan dan pengajarannya sebagaimana halnya seorang yang memelihara binatang, maka akibatnya anak itu pun akan celaka dan rusak binasa akhlaknya sedangkan dosanya

yang utama tentulah dipikulkan oleh orang tua, pendidik yang bertanggung jawab untuk memelihara dan mengasuhnya”. Hamdani Ihsan. Drs. H.A. Fuad Ihsan, (1998 : 241).

Acuan Al-Ghazali dalam . Mulyadi Kartanegara (2000 : 78) mengenai pembinaan akhlak dan dorongannya terhadap tingkah laku yang baik didasarkan pada ide-ide keseimbangan. Ini dimaksudkan untuk menghasilakn tindakan-tindakan konkret yang pada gilirannya akan mencetak sifat-sifat yang pada jiwa sianak, khususnya untuk menyeimbangi daya marah dan hawa nafsu yang mengusai jiwanya.

Ibnu Bajah dalam Ahmad Hanafi (1991 : 156) mambagi perbuatan-perbuatan manusia kepada dua bagian. Bagian pertama ialah perbuatan yang timbul dari motif naluri dan hal-hal lain yang berhubungan dengannya, baik dekat atau jauh. Bagian yang kedua ialah perbuatan yang timbul dari pemikiran yang lurus dan kemauan yang bersih dan tinggi dan bagian ini disebutnya : “Perbuatan-perbuatan manusia.

Sedangkan Athiyah Al-Abarasyi dalam Muhammad Irfan, Mastuki HS (2000 : 145) manghendaki tujuan tertinggi pendidikan Islam adalah manusia yang berakhlak mulia.

Selanjutnya pendidikan akhlak dalam Islam tersimpul dalam prinsip

“berpegang teguh pada kebaikan dan kebajikan serta menjauhi keburukan dan kemungkaran”, berhubungan erat dengan upaya mewujudkan tujuan dasar pendidikan Islam yaitu: Ketakwaan, ketundukan dan beribadah kepada Allah Swt. Pendidikan akhlak menekankan pada sikap, tabiat dan perilaku yang menggambarkan nilai-nilai kebaikan yang harus dimiliki dan dijadikan

kebiasaan anak didik dalam kehidupan sehari-hari. (Said Agil Husain Al Munawwar, 2003 : 8)

Sesungguhnya tujuan akhir dari semua kegiatan pendidikan akhlak yang sehat dan berguna ialah yang menyerahkan manusia kepada kehidupan yang lebih baik dan meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaannya. Dalam waktu yang sama dapat menyelamatkan manusia dari keburukan serta bahaya-bahaya yang bersumber dari nafsu amarah atau kebejatan akhlak dan kerusakan masyarakat yang melingkupinya.

Tujuan pendidikan akhlak untuk memperkokoh praktek-praktek amal shaleh dan cinta kepada amal kebaikan, demikian ini merupakan karunia Allah yang akan mendorong manusia untuk senantiasa mengerjakan amal shaleh dan menolong orang lain maka hal tersebut akan dapat menjamin keselamatan orang perorang dan memperkokoh masyarakat.

Dari uraian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa tujuan pendidikan akhlak untuk menjadikan tolak ukur kelakuan baik dan buruk mestilah merujuk kepada ketentuan Allah. Demikianlah rumus yang diberikan oleh kebanyakan ulama dan perlu ditambahkan bahwa apa yang dinilai baik oleh Allah, pasti baik dalam esensinya.

E. Guru Pendidikan Agama Islam