POTRET PENDUDUK KELURAHAN PULAU ABANG
3.2. Kualitas Sumber Daya Manusia
3.2.1. Pendidikan dan Keterampilan
Data pada Tabel 3.3 memperlihatkan distribusi responden menurut pendidikan yang ditamatkan. Tabel menunjukkan bahwa separuh dari responden berusia 7 tahun ke atas, dimana mayoritas berpendidikan SD kebawah (tidak pernah sekolah dan atau tidak tamat SD). Sebanyak 43,3 persen responden tamat SD dan sisanya adalah mereka yang berhasil menamatkan pendidikan setingkat SLTP dan SLTA. Banyaknya responden yang tidak pernah sekolah dan tidak tamat SD dapat dipahami dari kenyataan bahwa sebagian dari mereka diperkirakan masih bersekolah di tingkat SD. Hal ini digambarkan dari data yang menunjukkan bahwa sebesar 22 persen responden berada dalam kelompok umur 6-12 tahun (kebanyakan anak menamatkan SD pada usia 13 tahun). Dengan demikian, dari 50 persen responden yang termasuk dalam kategori tidak pernah sekolah dan tidak tamat SD tersebut, diperkirakan sebanyak 22 persen adalah mereka yang berada dalam kelompok umur 6-12 tahun yang masih bersekolah, selebihnya adalah orang-orang tua yang kemungkinan besar tidak pernah sekolah dan atau mereka yang tidak menamatkan bangku SD.
Tabel 3.3. Distribusi Responden Umur 7 Tahun Ke atas Menurut Tingkat Pendidikan dan Jenis Kelamin, Kelurahan P. Abang, Kota Batam, 2005 (Persentase)
Tingkat Pendidikan Laki-laki Perempuan Laki-laki + Perempuan
Tidak pernah sekolah 6,4 8,7 7,5 Tidak tamat SD 38,3 47,7 42,8 Tamat SD 46,8 39,5 43,3 Tamat SMP 4,8 1,2 3,1 Tamat SMA + 3,7 2,9 3,3 Jumlah 100,0 100,0 100,0 N 188 172 360
Sumber: Data Primer, Survei Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang Indonesia, 2005.
Lebih lanjut, cukup banyaknya responden yang hanya tamat SD menunjukkan kurangnya minat untuk melanjutkan pendidikan karena
lebih memilih untuk bekerja melaut, sebagaimana telah didiskusikan pada Bab II. Tidak adanya sarana pendidikan yang lebih tinggi dari
tingkatan sekolah dasar menjadi salah satu penghambat untuk melanjutkan sekolah ke tingkat sekolah lanjutan, disamping kurangnya motivasi anak dan dorongan orang tua untuk bersekolah. Oleh karena itu,
tidak mengherankan jika tidak sampai 10 persen responden yang berpendidikan lebih tinggi dari SD.
Jika dibedakan menurut jenis kelamin, terlihat bahwa kelompok responden laki-laki mempunyai pendidikan yang lebih tinggi daripada responden perempuan. Hal ini ditunjukkan oleh data dimana persentase
perempuan yang tidak sekolah dan yang tidak tamat SD lebih besar dibandingkan dengan laki-laki. Namun sebaliknya, persentase ini lebih kecil diantara mereka yang tamat SD, SMP dan SMA ke atas (Tabel 3.3).
Kenyataan ini merupakan fenomena umum yang juga terjadi di berbagai daerah lain di Indonesia. Kebanyakan orang tua cenderung lebih memberikan kesempatan pada anak laki-laki untuk memperoleh pendidikan daripada anak perempuan. Pertimbangan bahwa laki-laki adalah pencari nafkah utama dan oleh karenanya perlu mendapatkan pendidikan lebih tinggi menyebabkan sebagian orang tua lebih memilih
3.2.2. Kesehatan
Informasi tentang kesehatan pada bagian ini difokuskan pada kondisi kesehatan yang berkaitan dengan kualitas penduduk, yaitu berhubungan dengan kondisi gizi masyarakat. Secara umum kondisi gizi masyarakat dan anak-anak, pada khususnya, tergolong baik. Hal ini mungkin karena terkait dengan konsmsi ikan yang menjadi jenis lauk pauk utama yang dikonsumsi hampir setiap hari, kecuali pada musim sulit ikan. Kondisi gizi yang cukup baik tercermin pada anak-anak balita yang secara kasat mata terlihat sehat. Jarang ditemukan anak-anak yang mempunyai tanda-tanda kurang gizi, seperti rambut berwarna merah dan badan sangat kurus.
Namun demikian, kondisi gizi penduduk cenderung tidak seimbang. Hal ini karena mereka sangat jarang mengkonsumsi sayuran. Kebanyakan penduduk tidak terbiasa mengkonsumsi sayuran sebagai lauk pauk. Masyarakat Pulau Abang juga tidak banyak yang berminat untuk berusahatani, sehingga produksi sayuran juga sangat terbatas. Meskipun setiap hari ada penjual bahan makanan, termasuk penjual sayuran, berkeliling di Kelurahan Pulau Abang, namun sangat sedikit penduduk yang mengkonsumsi sayuran karena bukan merupakan pola makan mereka. Kebiasaan tidak mengkonsumsi sayuran juga terjadi dikalangan ibu hamil. Wawancara dengan beberapa ibu di lokasi penelitian mendapatkan bahwa tidak ada perbedaan pola makan di saat perempuan sedang hamil dengan ketika mereka tidak hamil. Oleh karena itu, beberapa kasus ibu hamil kurang gizi menjadi salah satu eprsoalan kesehatan reproduksi di Kelurahan P. Abang.
Kematian ibu waktu melahirkan tergolong tinggi di wilayah Kelurahan Pulau Abang, walaupun tidak ada data statistik mengenai kasus ini. Dari wawancara mendalam dengan beberapa narasumber di lokasi penelitian diketahui bahwa kasus ibu yang meninggal ketika melahirkan tergolong sering terjadi. Petugas kesehatan di lokasi penelitian mengemukakan bahwa penyebab yang dominan dari kematian ibu melahirkan adalah anemia, disamping perdarahan waktu persalinan dan terlambatnya pertolongan pada kelahiran yang disertai dengan kesulitan. Jarangnya ibu hamil memeriksakan kehamilannya, terutama pada awal kehamilan (pemeriksaan kehamilan pada umumnya dilakukan pada usia kehamilan di atas 7 bulan), menyebabkan banyak wanita hamil penderita anemia tidak mendapatkan bantuan untuk memperbaiki kondisi kesehatannya, sehingga pada gilirannya memperbesar resiko kematian saat persalinan. Hal ini diperburuk oleh kurangnya pengetahuan mengenai makanan bergizi yang terutama diperlukan pada masa
kehamilan. Makan dengan lauk tanpa sayur dan buah menjadi kebiasaan dan pola makan yang dominan dikalangan masyarakat. Kebiasaan ini terus dijalankan meskipun dalam keadaan hamil.
Kebanyakan persalinan di Kelurahan Pulau Abang dilakukan dengan tenaga dukun kampung, dengan biaya sekitar Rp. 300.000,-. Namun demikian, dengan jumlah dukun yang semakin sedikit (misalnya hanya satu orang dukun yang tinggal di Pulau Abang Kecil), maka kecenderungan untuk melahirkan dengan bantuan tenaga medis (bidan) semakin besar. Biaya melahirkan dengan bantuan bidan sama besarnya dengan besar biaya persalinan dengan dukun, tetapi untuk pergi ke atau memanggil bidan diperlukan tambahan biaya transportasi (menyewa pompong atau membeli bahan bakar jika menggunakan pompong milik sendiri). Kurangnya tenaga medis serta kondisi daerah kepulauan mempertinggi resiko kematian ibu melahirkan. Seperti telah dikemukakan sebelumnya, di Kelurahan Pulau Abang hanya terdapat satu orang bidan (tenaga PTT) yang bertempat tinggal di Pulau Nguan, padahal wilayah kelurahan ini mencakup beberapa pulau yang hanya dapat dicapai dengan perjalanan laut. Akibatnya, pertolongan medis untuk ibu-ibu yang mengalami komplikasi saat melahirkan menjadi sering terlambat, apalagi ketika laut sedang bergelombang besar dan angin bertiup kencang. Hal yang sama juga dialami ketika ibu melahirkan harus dirujuk ke Kota Batam atau Tanjung Pinang. Kendaraan laut milik Pustu jenis pompong dengan kekuatan mesik 20 PK mengalami kesulitan untuk berlayar pada kondisi laut yang tidak bersahabat. Oleh karena itu, keterlambatan memperoleh pertolongan menjadi ancaman dan meningkatkan resiko kematian bagi ibu-ibu melahirkan.
3.2.3. Pekerjaan
Hasil survei terhadap (anggota) rumah tangga terpilih menunjukkan kecenderungan yang sejalan dengan kondisi penduduk Kelurahan Pulau Abang secara keseluruhan. Dari 136 orang yang bekerja, mayoritas mempunyai pekerjaan utama sebagai nelayan (lihat Tabel 3.4). Kelompok ini terdiri dari nelayan yang melaut sendiri dan mereka yang bekerja bersama-sama, baik dengan anggota rumah tangga sendiri maupun bersama orang lain. Namun demikian, kebanyakan dari mereka bekerja sendiri, terlihat dari data mengenai status pekerjaannya dimana hampir tiga per empat responden (laki-laki)11 berusaha sendiri.
11
Responden yang bekerja sebagai pedagang meliputi mereka yang membuka warung di rumahnya, menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari serta pedagang pengumpul (ikan). Mereka yang bekerja pada lapangan/sektor industri pengolahan mengolah sumberdaya laut hasil tangkapan nelayan, seperti membuat kerupuk ikan atau cumi kering. Selanjutnya responden yang termasuk kelompok tenaga jasa terdiri dari guru dan pegawai kantor kelurahan. Data memperlihatkan bahwa kurang dari satu (1) persen responden yang bekerja di sektor pertanian. Berdasarkan data ini jelas terlihat bahwa pertanian bukanlah sektor pekerjaan yang utama bagi penduduk Kelurahan Pulau Abang.
Membandingkan responden berdasarkan jenis kelamin, terdapat perbedaan yang cukup mencolok pada lapangan dan jenis pekerjaan. Persentase pekerja perempuan yang bekerja di sektor perdagangan dan jasa jauh lebih besar dibandingkan dengan laki-laki. Di sektor perdagangan, kebanyakan dari mereka adalah pemilik warung yang menjual berbagai barang kebutuhan sehari-hari. Selanjutnya, di sektor jasa, kebanyakan responden perempuan adalah guru SD (pada umumnya berstatus honorer) di Kelurahan Pulau Abang. Meskipun tidak ada responden perempuan yang bekerja di lapangan/sektor industri pengolahan, hasil pengamatan dan wawancara mendalam memperoleh data bahwa terdapat sejumlah perempuan yang bekerja di sektor ini, yaitu membuat cumi kering. Bahan baku cumi diperoleh dari hasil tangkapan anggota rumah tangga sendiri. Hasil/produksi cumi kering tersebut pada umumnya dijual ke Tanjung Pinang.
Tabel 3.4. Distribusi Responden Menurut Lapangan, Jenis dan Status Pekerjaan Utama serta Jenis Kelamin, Kelurahan P. Abang, Kota Batam, 2005 (Persentase)
Pekerjaan Laki-laki Perempua n Laki-laki + perempuan Lapangan Pekerjaan Perikanan laut 86,4 9,1 80,1 Perikanan budidaya 0,8 0,0 0,7 Pertanian tanaman keras 0,8 0,0 0,7 Perdagangan (ikan &
warung)
2,4 45,4 5,9
Jasa (guru, staf kelurahan) 6,4 36,4 8,8 Industri pengolahan 1,6 0,0 1,5 Lainnya 1,6 9,1 2,2 Jumlah 100,0 100,0 100,0 N 125 11 136 Jenis Pekerjaan Nelayan 87,2 9,1 80,9 Petani 0,8 0,0 0,7 Pedagang 2,4 45,4 5,9 Tenaga jasa 4,8 27,3 6,6 Tenaga kasar 3,2 9,1 3,7 Lainnya 1,6 9,1 2,2 Jumlah 100,0 100,0 100,0 N 125 11 136 Status Pekerjaan Berusaha sendiri 72,8 18,2 68,4 Berusaha dengan anggota
rumah tangga atau buruh
tidak tetap
Pekerja/buruh 17,6 81,8 22,8
Jumlah 100,0 100,0 100,0
N 125 11 136
Sumber: Data Primer, Survei Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang Indonesia, 2005.
Disamping pekerjaan utama, beberapa responden juga mempunyai pekerjaan tambahan. Sebanyak 23 orang dari 136 responden
yang bekerja mempunyai pekerjaan tambahan. Pekerjaan yang berhubungan dengan perikanan masih mendominasi pekerjaan tambahan responden. Namun demikian, cukup banyak dari mereka yang melakukan
pekerjaan di bidang budidaya perikanan. Kelompok responden ini adalah mereka yang memelihara ikan kerapu dalam karamba yang dipasang di
dekat rumah mereka. Bibit ikan dan makanannya (ikan kecil-kesil) diperoleh dari hasil tangkapan sendiri. Namun, usaha ini tampaknya belum berkembang dengan baik, karena mereka sering menjual ikan yang belum memenuhi standar ekspor (’cukup ukur’). Penjualan ikan
sebelum waktu panen ini terpaksa dilakukan karena mereka sangat membutuhkan untuk pemenuhan keperluan-keperluan yang sangat mendadak, misalnya ketika ada anggota rumah tangga yang sakit dan
memerlukan biaya pengobatan. Oleh karena itu, kebanyakan mereka menganggap ikan-ikan yang dipelihara dalam karamba sebagai salah satu
bentuk tabungan, sebagaimana telah dibahas sebelumnya pada Bab II. Selain usaha budidaya ikan kerapu, pekerjaan tambahan yang juga cukup
banyak dilakukan responden adalah di sekor pertanian tanaman keras. Tanaman yang ditanam antara lain jenis buah-buahan seperti durian dan
manggis serta kelapa.
Tabel 3.5. Distribusi Responden Menurut Lapangan, Jenis dan Status Pekerjaan Tambahan serta Jenis Kelamin, Kelurahan P. Abang, Kota Batam, 2005 (Persentase)
Pekerjaan Laki-laki Perempuan Laki-laki + perempuan
Lapangan Pekerjaan
Perikanan laut 36,4 0,0 34,8 Perikanan budidaya 13,6 0,0 13,0
Pertanian tanaman keras 22,7 0,0 21,7 Perdagangan (ikan &
warung)
18,2 100,0 21,7
Jasa (guru, staf kelurahan) 0,0 0,0 0,0 Industri pengolahan 0,0 0,0 0,0
Lainnya 2,1 0,0 8,7
Jumlah 100,0 100,0 100,0
Tabel lanjutan Jenis Pekerjaan Nelayan 40,9 0,0 39,1 Petani 27,3 0,0 26,1 Pedagang 18,2 100,0 21,7 Tenaga jasa 0,0 0,0 0,0 Tenaga kasar 13,6 0,0 13,0 Lainnya 0,0 0,0 0,0 Jumlah 100,0 100,0 100,0 N 22 1 23 Status Pekerjaan Berusaha sendiri 68,2 100,0 69,6 Berusaha dengan
anggota rumah tangga atau buruh tidak tetap
13,6 0,0 13,0
Pekerja/buruh 18,2 0,0 17,4
Jumlah 100,0 100,0 100,0
N 22 1 23
Sumber: Data Primer, Survei Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang Indonesia, 2005.
3.3. Kesejahteraan
Bagian ini mendiskripsikan kondisi kesejahteraan penduduk Kelurahan Pulau Abang, terutama dilihat dari aspek ekonomi. Pembahasan dititikberatkan pada beberapa faktor, yaitu pendapatan, pengeluaran, strategi pengelolaan keuangan, kepemilikan asset rumah tangga serta kondisi perumahan dan sarana lingkungan. Faktor-faktor tersebut menjadi fokus perhatian mengingat semuanya mempunyai kaitan langsung dengan kondisi ekonomi rumah tangga, yang selanjutnya dapat dipakai untuk menggambarkan kondisi kesejahteraan rumah tangga.
Pendapatan penduduk Kelurahan Pulau Abang mayoritas bersumber dari kegiatan ekonomi yang langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan kegiatan kenelayanan. Kelompok penduduk yang berhubungan langsung dengan kegiatan kenelayanan adalah mereka yang melakukan kegiatan melaut, baik secara perseorangan maupun bersama-sama dengan orang lain, termasuk yang menjadi anak buah kapal pada pengusaha kapal penangkap ikan. Termasuk dalam kelompok ini adalah juga penduduk yang memperoleh penghasilan dengan menjadi pedagang pengumpul hasil tangkapan ikan dari nelayan yang tinggal di sekitar lokasi penelitian. Untuk kelompok penduduk yang kegiatan ekonominya tidak langsung berhubungan dengan kenelayanan antara lain adalah mereka yang menjual peralatan/kebutuhan melaut seperti alat tangkap dan bahan bakar perahu motor.
Pendapatan penduduk dari kegiatan kenelayanan bervariasi tergantung pada musim. Hal ini karena jumlah tangkapan yang berbeda-beda pada setiap musim. Pada musim Timur (Maret-Mei), hasil tangkapan nelayan melimpah, tidak hanya dari jumlah produksinya tetapi juga variasi jenis tangkapan. Kondisi laut yang tenang dan tidak bergelombang memungkinkan mereka dapat melaut setiap hari dengan menggunakan pancing dan bubu yang biasanya dipakai untuk menangkap ikan karang, disamping juga menggunakan comek dan candit untuk menangkap sotong (cumi-cumi) pada malam hari (Yayasan Laksana Samudera, 2004). Dengan hasil tangkapan yang melimpah ini nelayan memperoleh pendapatan yang lebih besar dibandingkan dengan pendapatan pada musim-musim lainnya. Pada musim Barat (September-November) hasil tangkapan nelayan juga tergolong banyak, meskipun lebih sedikit dibandingkan dengan musim Timur. Produksi sotong (cumi-cumi) juga banyak pada musim ini, disamping beberapa jenis ikan karang.
Musim Selatan (Juni-Agustus) merupakan musim paceklik bagi nelayan. Kondisi laut yang tidak bersahabat karena angin kencang dan gelombang yang kuat menyebabkan nelayan mengalami kesulitan untuk pergi melaut. Kondisi yang sama juga terjadi pada musim Utara (Desember-Februari), bahkan dengan tiupan angin lebih kencang disertai hujan dan gelombang yang besar. Hasil tangkapan pada kedua musim ini umumnya diperoleh dengan menggunakan jaring (karang dan dingkis) yang dipasang di pinggiran laut di sekitar pulau. Namun demikian, terdapat perbedaan yang mencolok dalam hal penghasilan nelayan pada dua musim dengan kondisi alam yang hampir serupa ini. Hal ini terjadi karena perbedaan jenis ikan yang ditangkap. Musim Utara adalah saat
berlimpahnya ikan dingkis yang mempunyai nilai harga tinggi, terutama yang ditangkap selama tiga hari pertama tahun baru Cina (Imlek)12. Ikan ini dikonsumsi oleh kelompok masyarakat Tionghoa, baik dari sekitar Pulau Batam maupun dari Singapura. Meskipun kegiatan penangkapan ikan jenis ini dilakukan dalam waktu singkat, volume produksi yang besar dan harga jual yang tinggi menghasilkan pendapatan besar bagi nelayan. Pernyataan seorang narasumber berikut ini menggambarkan bahwa nelayan bisa memperoleh pendapatan besar pada musim utara yang bergelombang besar karena banyaknya ikan dingkis dan ikan tersebut mempunyai harga jual tinggi.
“…. ada …. yang punya kelong dingkis bisa dapat sampai Rp. 60.000.000,- dalam sekali panen. Terlebih lagi dingkis waktu Imlek hari pertama dan kedua yang masih ada telurnya, harganya mahal”.
Selain jenis ikan dingkis, sumberdaya laut yang juga memberikan pendapatan tinggi bagi nelayan pada musim Utara dan Selatan adalah udang lobster. Jenis udang ini ditangkap menggunakan jaring udang, dan agar tidak tersapu oleh kapal pukat harimau, jaring tersebut dipasang di dekat pantai. Dengan harga per kilogram sekitar Rp. 120.000,- untuk ukuran 3-4 ons per ekor, nelayan bisa memperoleh penghasilan tinggi dari jenis sumberdaya laut ini. Beberapa narasumber di lokasi penelitian mengemukakan bahwa mereka bisa memperoleh hasil sekitar Rp. 4.000.000,- dalam 5-6 hari pemasangan jaring udang.
Nelayan yang bekerja sebagai anak buah kapal, dengan berbagai tugas pada setiap pelayaran, memperoleh pendapatan sesuai dengan kesepakatan antara mereka dengan pemilik kapal. Untuk nakhoda, perhitungan pendapatan berdasarkan pada bagi hasil, setelah dipotong dengan biaya operasional. Perbandingan bagi hasil biasanya sebesar 30 persen untuk nakhoda dan 70 persen untuk pemilik kapal. Jika mengalami kerugian, dalam arti penghasilan yang diperoleh lebih kecil dibandingkan dengan biaya operasional yang harus dikeluarkan, maka kerugian juga dibagi antara kedua pihak tersebut. Anak buah kapal
12
Dalam kepercayaan orang-orang Tionghoa di sekitar Pulau Batam dan Singapura, ikan dingkis, khususnya yang mengandung telur, adalah ikan yang membawa keberuntungan dan merupakan sajian pada perayaan tahun baru Cina (Imlek). Ikan ini termasuk jenis ikan mahal, bahkan bisa mencapai harga Rp. 400.000,/kg (untuk ukuran sekitar 3-3,5 ons/ekor), yaitu yang ditangkap dalam waktu tiga hari pertama tahun baru Cina. Karena anggapan tersebut, maka permintaan terhadap jenis ikan ini meningkat pada saat itu.
(ABK) digaji dengan sistim harian sebesar Rp. 50.000,- sampai Rp. 60.000,- per hari bagi yang sudah dikategorikan mahir dan Rp. 35.000,- untuk mereka yang setengah mahir. Wakil nakhoda juga dibayar dengan sistim harian, sebesar Rp. 50.000,- per hari. Biaya makan merupakan tanggung jawab pemilik kapal, namun rokok serta kebutuhan sehari-hari lainnya seperti keperluan mandi tidak disediakan oleh pemilik kapal (hasil wawancara dengan salah seorang pemilik kapal).
Selain upah yang sudah ditetapkan tersebut, anak buah kapal juga bisa mendapatkan tambahan penghasilan. Jika hasil tangkapan berjumlah besar, maka mereka biasanya memperoleh penghasilan tambahan. Besar penghasilan tambahan disesuaikan dengan jumlah tangkapan yang bisa mencapai Rp. 60.000,- untuk sekali pelayaran. Penghasilan tambahan juga bisa diperoleh dengan kegiatan memancing yang dilakukan pada waktu istirahat. Setelah menebar jaring, diperlukan waktu beberapa lama untuk menunggu jaring dipenuhi dengan ikan. Pada masa menunggu ini anak buah kapal boleh beristirahat dan kebanyakan memanfaatkan waktu dengan memancing. Jenis ikan yang dipancing dianggap sebagai milik perorangan dan hasil penjualannya juga menjadi milik mereka yang memancing.
Data pada Tabel 3.6 menyajikan informasi mengenai pendapatan responden terpilih dalam penelitian ini. Dari tabel tersebut terlihat perbedaan yang sangat mencolok antara pendapatan maksimum dan pendapatan minimum dari semua rumah tangga responden. Rumah tangga dengan pendapatan maksimum lebih dari Rp. 25.000.000,- adalah pengusaha (tauke) yang terpilih sebagai responden. Sementara itu, rumah tangga yang tidak mempunyai penghasilan (penghasilan minimum sebesar Rp. 0,-) merupakan rumah tangga dengan penghuni tunggal, yaitu orang tua yang sudah berusia lanjut, tidak bekerja dan semua kebutuhan hidup sehari-hari, termasuk makanan, diperoleh dari anak-anaknya. Data pada Tabel 3.6 juga memperlihatkan bahwa rata-rata pendapatan rumah tangga responden sebesar Rp. 1.340.314,- per bulan dan pendapatan per kapita sebesar Rp. 328.791,- per bulan. Pendapatan per kapita responden jauh lebih kecil dibandingkan dengan standar KHM (kebutuhan hidup minimum) yang untuk tahun 2005 ditetapkan oleh Pemkot Batam sebesar Rp. 728.000,- (Dalle, 2005). Meskipun Kelurahan Pulau Abang termasuk wilayah Kota Batam, namun letaknya yang dikelilingi laut menyebabkan daerah ini lebih terkesan seperti daerah perdesaan. Dengan demikian, ketetapan mengenai standar KHM kemungkinan tidak dapat diberlakukan sepenuhnya untuk wilayah Kelurahan Pulau Abang.
Tabel 3.6. Statistik Pendapatan Rumah Tangga Terpilih, Kelurahan Pulau Abang, Kota Batam, 2005
Pendapatan Jumlah (Rupiah)
Per kapita 328.791
Rata-rata rumah tangga 1.340.314 Minimum rumah tangga 0,- Maksimum rumah tangga 25.714.285
Sumber: Data Primer, Survei Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang Indonesia, 2005.
Distribusi pendapatan rata-rata dari seluruh rumah tangga responden diperlihatkan oleh data pada Tabel 3.7. Dari data tersebut diketahui bahwa lebih dari separuh responden (62 persen) mempunyai penghasilan rata-rata di bawah satu juta rupiah per bulan. Meskipun sebanyak 20 persen dari mereka berpenghasilan antara Rp. 1.000.000,- - Rp. 1.499.000,-, jika dirunut lebih mendalam, sebagian besar diantaranya mempunyai penghasilan kurang dari pendapatan rata-rata seluruh rumah tangga responden (Rp. 1.340.314,- per bulan). Kelompok responden ini pada umumnya mereka yang hanya bekerja sebagai nelayan, tidak mempunyai sumber penghasilan lain dan sangat tergantung pada tauke dalam menjalankan aktivitas kenelayanan. Sebagian diantaranya bahkan tidak mempunyai perahu bermotor, sehingga wilayah tangkapan mereka hanya di sekitar pantai. Sekitar 12 persen dari rumah tangga responden mempunyai penghasilan rata-rata antara Rp. 2.000.000,- - Rp. 4.499.999,- setiap bulan. Besar kemungkinan responden dalam kelompok ini adalah mereka yang tidak hanya bekerja sebagai nelayan, akan tetapi juga berperan sebagai pedagang pengumpul yang membeli ikan hasil tangkapan nelayan dan menjualnya kepada pedagang besar atau ke pasar lokal (di Kota Batam). Selain itu, beberapa diantara mereka juga mempunyai usaha ekonomi lain, seperti warung yang menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari dan juga bahan bakar untuk keperluan melaut. Hanya dua persen responden yang mempunyai penghasilan lebih dari lima juta setiap bulan, yaitu mereka yang termasuk kategori pedagang besar/tauke. Salah satu diantaranya mempunyai kapal penangkap ikan dan juga kapal pengumpul ikan yang dipakai sebagai armada pengangkut ikan hasil pembelian dari nelayan-nelayan di pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Abang. Data distribusi pendapatan responden ini mendukung kenyataan bahwa mayoritas rumah tangga responden
mempunyai penghasilan rendah yang selanjutnya berimplikasi terhadap rendahnya pendapatan per kapita.
Tabel 3.7. Distribusi Rumah Tangga Terpilih Menurut Besar Pendapatan, Kelurahan P. Abang, Kota Batam, 2005
Pendapatan (Rp.) Jumlah Persentase
< 500.000 26 26,0 500.000 – 999.999 36 36,0 1.000.000 – 1.499.999 20 20,0 1.500.000 – 1.999.999 4 4,0 2.000.000 – 2. 499.999 4 4,0 2.500.000 – 2.999 999 3 3,0 3.000.000 – 3.499.999 2 2,0 3.500.000 – 3.999.999 2 2,0 4.000.000 – 4.499.999 1 1,0 5.000.000 + 2 2,0 Jumlah 100 100,0
Sumber: Data Primer, Survei Data Dasar Aspek Sosial Terumbu Karang Indonesia, 2005.
Sesuai dengan posisi daerahnya sebagai wilayah kepulauan, pendapatan rata-rata rumah tangga responden yang paling besar diperoleh dari perikanan laut. Jika diperhatikan dari pendapatan maksimum rumah tangga, sektor perikanan laut juga memberikan penghasilan terbesar dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya. Sebaliknya, pekerjaan di sektor pertanian menghasilkan pendapatan terkecil diantara rumah tangga responden (Tabel 3.8). Hal ini tidak