• Tidak ada hasil yang ditemukan

Stakeholders Terlibat Dalam Pengelolaan Sumber Daya Laut

BAB IV PENGELOLAAN SUMBER DAYA LAUT

4.4. Stakeholders Terlibat Dalam Pengelolaan Sumber Daya Laut

Banyak pihak/stakehoders yang berkepentingan dengan pengelolaan sumber daya laut (SDL), dimana masing-masing stakeholders memiliki kepentingan sendiri-sendiri. Perbedaan kepentingan diantara kelompok satu dengan kelompok lain ada yang menjadi faktor yang berpotensi mendukung upaya pelestarian terumbu karang, tetapi ada pula yang justru semakin menambah kerusakan ekosistem terumbu karang.

Telah dikemukakan sebelumnya bahwa secara umum pengelolaan SDL dilakukan oleh masyarakat (termasuk pengusaha) dan pemerintah. Masyarakat dimaksud disini bukan hanya kelompok nelayan yang memiliki ketergantungan sangat tinggi dengan sumber daya laut, tetapi juga pedagang ikan dan tauke. Bahkan, kelompok nelayan bisa saja terbagi lagi menurut teknologi penangkapan, jenis biota laut yang ditangkap dan dikelola, atau menurut tempat tinggal berdasarkan pulau/dusun dan suku bangsa. Namun demikian, hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa tidak ada perbedaan kepentingan yang menonjol antar nelayan di tiga dusun sebagai lokasi penelitian. Demikian pula tidak ada perbedaan kepentingan antara nelayan menurut teknologi penangkapan, karena mayoritas nelayan menggunakan kapal motor (pompong atau pancung) dan alat tangkap ikan yang homogen (umumnya kelong, bubu, jaring dan pancing). Dengan demikian, keterlibatan nelayan dalam pengelolaan sumber daya laut tidak lagi dibedakan menurut kelompok.

Masyarakat nelayan memiliki kepentingan sangat besar dalam pengelolaan SDL. Mereka memanfaatkan potensi SDL sebagai sumber mata pencaharian. Beberapa jenis alat tangkap mereka gunakan untuk menangkap ikan, tetapi nelayan Kelurahan P. Abang cenderung tidak memanfaatkan SDL secara berlebihan. Jarang ditemukan nelayan yang menggunakan bahan peledak untuk menangkap ikan. Mereka umumnya menggunakan bubu sebagai alat tangkap utama, disamping kelong dan jaring. Meskipun demikian, karena bubu umumnya digunakan hanya dengan meletakkannya di atas batu karang (biasanya dipilih di lokasi karang yang telah mati), kerusakan terumbu karang akibat alat tangkap bubu tidak parah. Demikian pula penggunaan teknologi penangkapan kelong pantai dan pancing tampaknya justru dapat membantu upaya pelestarian terumbu karang. Bahkan, dengan berkembangnya usaha karamba untuk budidaya ikan kerapu (sunu) yang didapat dari hasil memancing, upaya ini dapat dikembangkan sebagai salah satu alternatif mata pencaharian penduduk, sehingga dapat mengurangi tekanan

terhadap SDL, yang berarti berkontribusi positif terhadap upaya pelestarian terumbu karang.

Terkait dengan penggunaan racun sebagai alat tangkap yang merusak, walaupun hasil survei menemukan tidak adanya responden yang mengatakan menggunakan bahan tangkap ini untuk menangkap ikan, berdasarkan diskusi kelompok terfokus dapat disimpulkan bahwa bahan racun (menggunakan akar tuba atau membeli) masih digunakan secara sembunyi-sembunyi. Meskipun sebagian besar nelayan mengetahui bahwa menangkap ikan dengan racun dilarang oleh pemerintah, sebagian kecil dari mereka tetap menggunakan bahan tangkap ini. Masyarakat tampaknya kurang peduli terhadap kegiatan penangkapan ikan dengan racun, mungkin karena pelaku adalah anggota masyarakat di Kelurahan P. Abang. Tampaknya masyarakat masih merasa segan dan tidak ingin terjadi konflik diantara mereka. Walaupun demikian, informasi dari sejumlah informan dalam diskusi kelompok terfokus maupun PRA menunjukkan bahwa ada kemauan dari masyarakat setempat untuk mengupayakan agar penduduk (nelayan) berhenti menggunakan racun, tetapi mereka juga perlu bantuan untuk ‘mengusir’ pendatang dan pukat yang melakukan penangkapan di wilayah penangkapan mereka.

Pemanfaatan sumber daya ikan yang dapat mengancam kelestarian terumbu karang justru dilakukan oleh nelayan besar yang sekaligus juga berstatus tauke dan orang luar (nelayan pendatang dari luar Kelurahan P. Abang). Nelayan besar (baik tauke dalam wilayah Kelurahan P. Abang maupun pendatang) menggunakan pukat trawl yang melakukan penangkapan di wilayah perairan Kelurahan P. Abang yang secara hukum (aturan pemerintah) jelas-jelas telah melanggar wilayah penangkapan. Karenanya, kegiatan penangkapan ini pada umumnya tidak dilakukan secara terang-terangan (di luar pengamatan nelayan setempat). Kegiatan ini bukan hanya merugikan nelayan setempat, tetapi juga merusak kelestarian terumbu karang, karena jaring pukat dapat menjaring apa saja yang dilaluinya, termasuk terumbu karang hidup.

Bentuk pengelolaan SDL oleh masyarakat juga ditunjukkan dengan upaya masyarakat setempat untuk menjaga wilayah penangkapan dari nelayan pendatang yang menggunakan bahan peledak untuk menangkap ikan. Penggunaan bom untuk menangkap ikan pernah dilakukan oleh orang luar (bukan penduduk Kelurahan P. Abang) beberapa tahun lalu , tetapi dalam tiga tahun terakhir, kegiatan tersebut sudah berkurang, mungkin karena pernah ada pengebom yang meninggal (terjadi tahun 2004), dimana mayatnya baru diketemukan dua hari

setelah kejadian. Faktor lainnya adalah adanya penjagaan wilayah penangkapan oleh nelayan setempat terhadap nelayan pendatang yang melakukan penangkapan ikan, terutama yang menggunakan bahan peledak. Penjagaan itu dilakukan dengan cara ‘mengusir’ nelayan luar yang melakukan pengeboman. Tidak diketahui secara jelas dari mana mereka berasal, tetapi diperkirakan dari daerah Moro dan Senayang. Nelayan Kelurahan P. Abang tidak bisa menangkap pelaku pengeboman, karena armada yang digunakan pengebom umumnya memiliki kemampuan mesin cukup besar, sehingga mereka dengan mudah melarikan diri.

Tidak ditemukan pengelolaan SDL bentuk lain yang dilakukan oleh nelayan selain keterlibatannya dalam penangkapan ikan dan SDL lain. Usaha pengolahan sumber daya laut dilakukan oleh isteri nelayan dalam skala kecil. Mereka mengolah sotong dengan cara membelah sotong menjadi dua kemudian dikeringkan dengan menjemur di bawah terik matahari. Sotong kering kemudian dijual ke Tanjung Pinang, langsung ke konsumen atau ke pedagang di pasar. Pengolahan ikan juga dilakukan dengan cara mengeringkan ikan, tetapi hanya ditujukan untuk konsumsi sendiri, itupun hanya dilakukan untuk hasil tangkapan yang jumlahnya sangat kecil.

Disamping nelayan, unsur masyarakat lain yang terlibat dalam pengelolaan SDL adalah pedagang pengumpul (dikenal dengan penampung, baik penampung besar maupun kecil) dan tauke (pengusaha di tingkat kelurahan). Penampung kecil umumnya memiliki modal terbatas. Dalam menjalankan kegiatannya pedagang pengumpul membeli ikan secara langsung pada nelayan dan hasil pembelian biasanya dijual lagi pada pengumpul besar atau tauke, kadang ke konsumen akhir. Di Kelurahan P. Abang terdapat kurang lebih 8 pedagang pengumpul yang menyebar di P. Abang Kecil, Air Saga dan P. Petong. Diantara penampung kecil ini ada yang langsung berhubungan dengan tauke di Batam atau Tanjung Pinang, tetapi karena mereka tidak memiliki armada sendiri untuk membawa ikan hasil pembeliannya dari nelayan, mereka biasanya menumpang kapal pengangkut ikan (kapal ikan) milik penampung besar/tauke.

Penampung besar membeli ikan dengan sistem ‘menjemput bola’. Mereka memiliki anak buah yang bertugas mencari/membeli ikan dengan sistem ‘menjemput bola’ (mendatangi nelayan hingga ke pulau-pulau kecil). Penampung besar terkadang juga memiliki hubungan kerja dengan nelayan, yaitu dengan cara memberikan bantuan biaya operasional (kadang-kadang juga pompong) kepada nelayan, tetapi

nelayan diharuskan untuk menjual hasil tangkapan pada penampung besar.

Tauke tidak melakukan sistem pembelian ikan dengan cara ‘menjemput bola’. Mereka hanya menunggu hasil tangkapan dari nelayan yang dijual ke mereka, disamping juga membeli ikan yang dikumpulkan oleh penampung kecil. Sistem ini dilakukan karena tauke umumnya memiliki ‘anak kaki’ (nelayan yang mereka pinjami modal untuk melaut/menangkap ikan, mencakup armada, alat tangkap dan biaya operasional) yang berdasarkan kesepakatan diantara mereka, nelayan harus menjual hasil tangkapan kepada tauke. Namun demikian, tidak pernah ada tekanan dari tauke terhadap nelayan untuk dengan segera dapat melunasi hutangnya, sehingga nelayan tidak terdorong untuk menggunakan alat-alat tangkap yang merusak untuk mendapat ikan sebanyak-banyaknya. Keadaan ini mungkin terkait dengan aktivitas tauke yang juga berperan sebagai nelayan dengan modal besar. Tauke-tauke di Kelurahan P. Abang memiliki armada penangkapan ikan jenis

trawl/pukat harimau yang dapat menangkap ikan dalam jumlah besar

dari berbagai jenis ikan. Selama 7-10 hari armada melakukan aktivitas penangkapan. Penggunaan teknologi semacam ini dapat mengasilkan tangkapan berbagai jenis ikan dalam jumlah besar, tetapi dapat mengancam ekosistem terumbu karang, karena jaring trawl bukan hanya menangkap ikan tetapi juga merusak terumbu karang hidup. Aktivitas penangkapan SDL oleh tauke dinilai oleh masyarakat semakin tinggi intensivitasnya, sehingga kerusakan mengganggu sumber penghasilan nelayan, karena karena armada ini sering memasuki wilayah perairan dangkal yang menjadi wilayah penangkapan nelayan setempat (biasanya mereka hanya menggunakan alat-alat tangkap sederhana).

Di pihak lain, keterlibatan pemerintah dalam pengelolaan SDL adalah sebagai pembuat kebijakan yang dituangkan dalam peraturan-peraturan di tingkat nasional, propinsi dan kabupaten/kota. Pemerintah juga berperan sebagai implementator dalam pengelolaan SDL. Kebijakan pengelolaan SDL ini dimaksudkan agar pemanfaatan sumber daya laut dilakukan secara optimal untuk kesejahteraan masyarakat, tetapi tetap terjaga kelestariannya. Di wilayah Kelurahan P. Abang yang masuk dalam wilayah Kecamatan Galang, P. Batam peraturan tentang pengelolaan SDL mengacu pada peraturan di tingkat provinsi. Sumber daya kelautan merupakan potensi ekonomi utama di Provinsi Kepulauan Riau, sehingga prioritas kebijakan pembangunan di provinsi ini adalah pembangunan dan pengembangan maritim. Konsep dan strategi pembangunan diarahkan pada tujuh sektor: (1) penguatan sektor kelutan,

(2) lembaga pendidikan kelautan; (3) transportasi laut; (4) pengembangan desa pantai; (5) pertambangan dan lingkungan hidup; (6) rekreasi dan wisata bahari; (7) pemantapan petahanan dan keamanan; (lihat Syahzinan, 2004). Sesuai dengan karakteristiknya, Kota Batam juga memprioritaskan pembangunan sektor kelautan, ditunjukkan dengan adanya pengembangan wilayah budidaya perikanan laut, pengembangan wisata bahari (misalnya taman laut di wilayah perairan P. Abang). Belum ada Perda tentang pengelolaan SDL, tetapi saat ini sedang melakukan identifikasi dan inventarisasi peraturan-peraturan di tingkat nasional tentang usaha perikanan, pertanian, peternakan dan kehutanan.

Untuk kebijakan tentang pengelolaan terumbu karang belum dituangkan dalam suatu peraturan daerah (Perda). Meskipun demikian, pemerintah daerah dapat mengacu pada Undang-Undang No 9 Tahun 1985 tentang Usaha Perikanan yang secara implisit mengandung aturan tentang pelarangan pengambilan terumbu karang. Undang-undang ini kemudian diperbarui/direvisi menjadi Undang-Undang No 31 tahun 2004. Keterlibatan pemerintah dalam pengelolaan sumber daya laut juga ditunjukkan dari dukungan yang tinggi terhadap program COREMAP. Pemkot Batam memberikan alokasi dana pendamping untuk pelaksanaan program ini. Program COREMAP di Kota Batam yang termasuk dalam fase II baru dimulai pada tahun 2004 yang berlokasi di perairan Galang, termasuk didalamnya adalah perairan Kelurahan P. Abang. Diluncurkannya program COREMAP di Kelurahan P. Abang yang juga direncanakan akan dikembangkan sebagai kawasan wisata bahari yang ramah lingkungan, menunjukkan bahwa keterlibatan Pemerintah Kota Batam dalam pengelolaan SDL dan kelestarian terumbu karang sangat tinggi. Implementasi program masih dalam proses sosialisasi dan melakukan konsultasi publik di lokasi program (Kelurahan. P. Abang), tetapi tampaknya telah memberikan hasil positif terkait dengan pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap pengelolaan SDL dan upaya melestarikan terumbu karang (secara rinci lihat pada Bagian 4.1).

Upaya/program penyelamatan terumbu karang oleh pemerintah melalui Program Coremap tampaknya telah diketahui oleh masyarakat secara luas. Hasil survei menunjukkan, kira-kira dua-pertiga responden pernah mendengar program tersebut (Tabel 4.5). Suatu kondisi yang mudah dipahami karena program ini telah dilaksanakan di Kelurahan P. Abang, meskipun baru sampai pada tahap sosialisasi, pembentukan kelompok, dan konsultasi publik. Meskipun tidak semua kepala keluarga atau anggota keluarga yang mewakili hadir dalam pertemuan sosialisasi dan konsultasi publik, informasi tentang program Coremap telah

menyebar secara luas. Hal ini karena peserta pertemuan tersebut berasal dari perwakilan setiap dusun di wilayah Kelurahan P. Abang, sehingga peserta sosialisasi dan konsultasi publik dapat menyebabrkan informasi tentang program Coremap kepada tetangga mereka.

Tabel 4.5. Responden Berdasarkan Pengetahuan Tentang Upaya Penyelamatan Terumbu Karang

Pernah mendengar tentang program Coremap % N - pernah - tidak pernah Jumlah 64,0 36,0 100,0 64 36 100 Jika pernah, tujuan program

Coremap

- melindungi terumbu karang - meningkatkan pendapatan - tidak tahu Jumlah 92,2 1,6 6,2 100,0 59 1 4 64 Implementasi program Coremap di

wilayah ini - ya, sudah - tidak/belum - tidak tahu Jumlah 46,9 42,2 10,9 100,0 30 27 7 64 Jika ya, keterlibatan dalam program

Coremap - ya - tidak Jumlah 36,7 63,3 100,0 11 19 30 Untuk yang tidak dan tidak tahu,

apakah berkeinginan untuk terlibat dalam program Coremap

- ya - tidak Jumlah 84,9 55,1 100,0 45 8 53

Sumber: Data primer, Survei Data Dasar Dan Analisa Sosial Terumbu Karang Indonesia, 2005

Diantara mereka yang pernah mendengar program Coremap, mayoritas mengetahui bahwa program ini bertujuan untuk melindungi terumbu karang, dan hanya kurang dari sepersepuluh menjawab tidak tahu tujuan program. Pengetahuan seperti ini diperkirakan sangat mendukung dalam upaya pelestarian terumbu karang melalui program Coremap. Lebih lanjut, kurang dari separuh responden yang pernah mendengar program ini mengatakan bahwa program Coremap telah dilaksanakan di Kelurahan P. Abang. Namun demikian, hanya sepertiga dari jumlah responden yang mengetahui implementasi program Coremap mengemukakan keterlibatan mereka dalam program Coremap. Dari wawancara mendalam diketahu1 bahwa keterlibatan tersebut adalah sebagai peserta kegiatan sosialisasi, konsultasi publik, pelatihan selam (meskipun hanya melibatkan beberapa warga). Bagi responden yang tidak mengetahui dan mereka yang mengetahui tetapi belum terlibat dalam Program Coremap (53 responden), lebih dari tiga per empat menginginkan untuk ikut berpartisipasi dalam program ini. Temuan ini menggambarkan bahwa upaya pelestarian terumbu karang yang berbasis masyarakat sangat berpotensi untuk dikembangkan di Kelurahan P. Abang.

Selain Program Coremap, dalam upaya mengelola sumber daya laut dan terumbu karang agar dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan, Pemerintah Kota Batam telah mengembangkan budidaya ikan kerapu yang dimulai sejak tahun 1989 dan berkembang semakin besar sejak dua tahun terakhir melalui kerjasama dengan pusat (dalam hal ini Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi-BPPT). Pengembangan budidaya ikan dilaksanakan dalam rangka merespon undang-Undang No 22 yang menyatakan bahwa wilayah perairan untuk tingkat kota/kabupaten hanya mencapai 4 mil dari pantai, sehingga pengembangan perikanan budidaya diharapkan bisa mengurangi tekanan terhadap ekosistem terumbu karang akibat aktivitas manusia, khususnya terkait dengan kegiatan penangkapan ikan berlebih.