• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Demokrasi

Dalam dokumen BERFIKIR KRITIS Model Pembelajaran Proje (Halaman 50-93)

Bab III DEMOKRASI SEBAGAI PERAN UTAMA DALAM

C. Pendidikan Demokrasi

Pendidikan demokrasi mutlak perlu dilaksanakan dalam suatu system pemerintahan demokratis yang diselenggarakan secara terencana, terarah, sistematis dan berkesinambungan. Oleh karena itu, diperlukan tatanan dan aturan politik serta hukum yang jelas supaya pelaksanaan demokrasi tidak mengarah kepada anarkisme atau otorianisme (Djiwandono dkk, 2003:41). Sehingga rakyat mengerti dan memahami akan hak dan kewajibannya sebagai warganegara.

Pentingnya pendidikan demokrasi disadarai oleh beberapa tokoh pendidikan seperti Tilaar (1999:172-174), yang mengemukakan bahwa:

Pendidikan demokrasi merupakan tuntutan dari t masyarakat madani Indonesia memiliki bebera diantaranya: a) manusia memerlukan kebebasan politik bahwa mereka memerlukan pemerintah dari dan un sendiri; b) kebebasan intelektual; c) kesempatan un dalam perwujudan diri sendiri (self realization); d) pen mengembnagkan kepatuhan moral pada kepentingan b bukan kepentingan diri sendiri atau kelompok; e) pen mengakui hak untuk berbeda (the right to be different kepada kemampuan manusia untuk membina masyara depan.

Berdasarkan pendapat tersebut di atas, pendidikan demo diperlukan demi terwujudnya masyarakat madani Indones tercipta kehidupan masyarakat, bangsa dan negara yang Pendidikan demokrasi dimulai dari tingkat persekolahan dasa sampai perguruan tinggi.

Gambar 3.2. Salah satu kegiatan di sekolah yang menanamkan nila adalah pemilihan Ketua OSIS

(Sumber: SMAN 1 Lubuk Alung)

Winataputra (2001) dalam disertasinya mengemuka pendidikan demokrasi adalah upaya sistematis yang dilakukan masyarakat untuk memfasilitasi individu warganegara agar menghayati dan mengamalkan serta mengembangkan konsep, nilai demokrasi sesuai dengan satus dan perannya dalam

ri terbentuknya berapa unsure litik yang berarti n untuk mereka untuk bersaing pendidikan yang an bersama dan pendidikan yang rent); f) percaya syarakat dimasa emokrasi mutlak onesia sehingga ang demokratis. asar, menengah nilai demokrasi ukakan bahwa ukan negara dan gar memahami, sep, prinsip, dan lam masyarakat.

Selanjutnya, Visi dan misi pendidikan demokrasi dikemukakan juga oleh Winataputra (2004:2), sebagai berikut:

Visi

Sebagai wahana substantive, pedagogic, dan social-kultural untuk membangun cita, nilai, konsep, prinsip, sikap, dan keterampilan demokrasi dalam diri warga Negara melalui pengalaman hidup dan kehidupan demokrasi dalam berbagai konteks.

Misi

Memfasilitasi warganegara untuk mendapatkan berbagai akses kepada dan menggunakan dengan cerdas berbagai sumber informasi tentang demokrasi dalam teori dan praktek untuk berbagai konteks kehidupan sehingga memiliki wawasan yang luas dan memadai(well-informed).

Memfasilitasi warganegara untuk melakukan kajian konseptual dan operasional secara cermat dan bertanggung jawab terhadap berbagai cita-cita, instrumentasi, dan praksis demokrasi guna mendapatkan keyakinan dalam melakukan pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari-hari serta berargumentasi atas keputusannya itu.

Memfasilitasi warganegara untuk memperoleh dan memanfaatkan kesempatan berpartisipasi secara cerdas dan bertanggung jawabdalam praksis kehidupan demokrasi di lingkungannya, seperti mengeluarkan pendapat, berkumpul dan berserikat, memiliki serta memonitor dan mempengaruhi kebijakan publik.

Berdasarkan visi dan misi yang dikemukakan di atas, maka para pendidik harus memahami bahwa pembelajaran demokrasi tidak hanya mencakup teori saja tetapi harus mampu mengembangkan budaya demokrasi secara nyata dalam berbagai aspek kehidupan. Selain itu, sikap guru dalam proses pembelajaran juga merupakan hal yang akan menjadi penentu dalam membina sikap demokratis siswa. Sebab mengutip pendapat Fukuyama (2003:195) “tidak ada demokrasi tanpa orang-orang yang democrat, yaitu seorang manusia yang demokratis”.

Kemudian Affandi (2005:7) mengemukakan bahwa terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan dalam menanamkan pendidikan demokrasi kepada genarasi muda, yaitu pengetahuan dan kesadaran akan hal:

Pertama, demokrasi adalah bentuk kehidupan bermasyarakat yang palin menjamin hak-hak warga masyarakat itu sendiri. Kedua, demokrasi adalah suatu learning procces yang tidak dapat begitu saja meniru dari masyarakat lain. Ketiga, kelangsungan demokrasi tergantung pada keberhasilan mentransformasikan nilai-nilai demokrasi seperti kebebasan, persamaan dan keadilan serta loyal kepada system politik yang bersifat demokrasi.

Berdasarkan pendapat tersebut, bahwa pendidikan demokrasi perlu digali dari budaya masyarakat itu sendiri dan tidak bisa meniru dari masyarakat lain. Selain itu, perlu adanya transformasi nilai-nilai demokrasi seperti kebebasan, persamaan dan keadilan serta loyalitas terhadap system politik yang bersifat demokratis sehingga demokrasi itu sendiri dapat berlangsung dan berkembang secara berkesinambungan. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pendidikan demokrasi yaitu keteladanan dan pola pembelajaran harus memperhatikan prinsip-prinsip demokrasi, sehingga demokrasi dapat tertanam kuat dalam diri siswa.

Pendidikan demokrasi menurut Gandal dan Finn (1992) perlu dikembangkan dalam bentuk model “school-based democracy education” yang bisa berbentuk empat alternative, yaitu: 1)the root and braces of the democracy ide(perhatian yang cermat yaitu landasan dan bentuk-bentuk demokrasi). 2) how the ideas of democracy have been translated into institutions and practices around the world and through the age (bagaimana ide demokrasi telah diterjemahkan ke dalam bentuk-bentuk kelembagaan dan praktik di berbagai belahan bumi dalam berbagai kurun

waktu. Dengan demikian siswa akan mengetahui dan memahami kekuatan dan kelemahan demokrasi dalam berbagai konteks ruang dan waktu. 3) adanya kurikulum yang memungkinkan siswa dapat belajar sejarah demokrasi di negaranya yang dapat menjawab persoalan apakah kekuatan dan kelemahan demokrasi yang diterapkan dinegaranya dalam berbagai kurun waktu. 4) tersedianya kesempatan bagi siswa untuk memahami kondisi demokrasi yang diterapkan di negara-negara di dunia, sehingga para siswa memiliki aneka ragam sistem social demokrasi dalam berbagai konteks.

Berdasarkan berbagai pendapat tersebut di atas, setiap pendidik perlu memahami bahwa pendidikan demokrasi yang perlu dikembangkan adalah pendidikan demokrasi yang bersifat multidimensional yang dapat mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki siswa. Dengan demikian, melalui pendidikan demokrasi setiap siswa dapat menjadi warga negara yang demokratis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bab IV

BERFIKIR KRITIS SEBAGAI SALAH SATU TUJUAN

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

enurut Somantri (1981), berpikir adalah suatu proses yang membuahkan pengetahuan. Proses ini merupakan serangkaian gerak pemikiran dalam mengikuti pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan berupa pengetahuan. Selain itu dalam proses tersebuut terjadi kegiatan penggabungan antara persepsi dan sistem unsure yang ada dalam pikiran.

Pendapat tersebut sejalan dengan pemikiran Presseisen (1985:45) yang mengemukakan bahwa berpikir dianggap sebagai suatu proses kognitif yaitu aktivitas mental untuk memperoleh pengetahuan. Aktivitas mental ini terjadi karena adanya suatu rangsangan dari luar yang membentuk suatu pemikiran, penalaran dan keputusan serta kegiatan memperluas aturan yang diketahui untuk memecahkan masalah.

Pendapat lain dikemukakan oleh Wijaya dalam Gilhooyly (1982), bahwa berpikir mengacu pada serentetan proses-proses kegiatan merakit, menggunakan, dan memperbaiki model simbolik internal, model-model itu dapat berbentuk tiga macam, yaitu 1) wujud ciptaan yang mewakili suatu kenyataan, seperti dalam hal ilmu pengetahuan, semua dinyatakan berupa ekspresi hasil pengamatan fakta. Model-model yang diciptakannya bersifat mewakili eksistensi benda yang terdapat dalam

M

lingkungan; 2) model kenyataan hasil membayangkan sesua tertentu, seperti dalam hal cerita fiksi, dimana si pengarang m dalam sebuah adegan tertentu dalam suatu kenyataan; 3) m yang dilukiskan dalam pikiran dan perasaan seperti dalam h matematika dan musik. Jadi, dalam berpikir orang mengguna simbol tertentu dan berposes dalam otak secara internal.

Gambar 4.1. Patung The Thingker karya Auguste Rodin menjelaskan merupakan keistimewaan manusia

(Sumber: Wikipedia)

Dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya berpik pengetahuan yang diterima dari guru saja, tetapi perlu dilatih s memiliki keterampilan berpikir sebagai sarana yang dapat me siswa kepada pencapaian tujuan pendidikan lainnya, teru meraih pengetahuan dan sikap yang berguna bagi masyarakat, bangsa dan Negara. Selain itu, keterampi diarahkan untuk memecahkan masalah. Terdapat dua jenis k berpikir, yaitu berpikir kritis dan berpikir kreatif (creative thinking)(Bruner, 1957). esuatu peristiwa g menulis cerita ) model abstrak m hal pelajaran gunakan simbol

-kan proses berfikir

rpikir mengenai tih supaya siswa menghantarkan terutama dalam gi kepentingan mpilan berpikir nis keterampilan tive and critical

Robert Ennis (1991) dalam Hassoubah (2004:87) memberikan definisi berpikir kritis adalah berpikir reflektif yang berfokus pada pola pengambilan keputusan tentang apa yang harus diyakini dan harus dilakukan. Berdasarkan definisi tersebut, lebih lanjut Ennis mengatakan bahwa “untuk dapat menguasai proses berpikir kritis ada baiknya terlebih dahulu mengenal kecenderungan dan kemampuan untuk menentukan apa yang mesti dipercayai atau dillakukan”. Menurut R.H Ennis (Hassoubah, 2004:91) bentuk kecenderungan ini terdiri atas tiga belas komponen yaitu: (1) mencari pernyataan yang jelas dari setiap pertanyaan, (2) mencari atau menganalisis argumen, (3) berusaha mengetahui informasi dengan baik, (4) memakai sumber yang memiliki kredibilitas dan menyebutkannya, (5) memperhatikan situasi dan kondisi secara keseluruhan yang berkaian dengan observasi dan menilai laporan hasil observasi, (6) berusaha tetap relevan dengan ide utama, (7) mengingat kepentingan yang asli dan mendasar, (8) mencari alternatif, (9) bersikap dan berpikir terbuka, (10) mengambil posisi ketika ada bukti yang cukup untuk melakukan sesuatu, (11) mencari penjelasan sebanyak mungkin apabila memungkinkan, (12) bersikap secara sistematis dan teratur dengan bagian-bagian dari keseluruhan masalaha, (13) peka terhadap tingkat keilmuan dan keahlian orang lain. Sedangkan aspek kemampuan menurut Ennis (Hassoubah, 2004:92) adalah keterampilan untuk: (1) menentukan kredibilitas suatu sumber, (2) membedakan antara yang relevan dari yang tidak relevan, (3) membedakan fakta dari penilaian, (4) mengidentifikasi dan mengevaluasi asumsi yang tidak terucapkan, (5) mengidentifikais bias yang ada, (6) mengidentifikasi sudut pandang, (7) mengevaluasi bukti yang ditawarkan untuk mendukung pengakuan.

Johnson (2000), mengemukakan keterampilan berpikir dapat dibedakan menjadi berpikir kritis dan berpikir kreatif. Kedua jenis berpikir ini disebut juga sebagai keterampilan berpikir tingkat tinggi (Liliasari, 2002). Berpikir kritis merupakan proses mental yang terorganisasi dengan baik dan berperan dalam proses mengambil keputusan untuk memecahkan masalah dengan menganalisis dan menginterpretasi data dalam kegiatan inkuiri ilmiah.

Sedangkan berpikir kreatif adalah proses berpikir yang menghasilkan gagasan asli atau orisinal, konstruktif, dan menekankan pada aspek intuitif dan rasional (Johnson, 2000). Pemahaman umum mengenai berpikir kritis, sebenarnya adalah pencerminan dari apa yang digagas oleh John Dewey sejak tahun 1916 sebagai inkuiri ilmiah dan merupakan suatu cara untuk membangun pengetahuan. Dressel & Mayhew (1954) dalam Ahmad (2007) mengutip kemampuan berpikir kritis yang dikembangkan oleh Komite Berpikir Kritis Antar-Universitas (Intercollege Committee on Critical Thinking) yang terdiri atas: (1) kemampuan mendefinisikan masalah, (2) kemampuan menyeleksi informasi untuk pemecahan masalah, (3) kemampuan mengenali asumsi-asumsi, (4) kemampuan merumuskan hipotesis, dan (5) kemampuan menarik kesimpulan. Indikator Berpikir Kritis Wade (1995) mengidentifikasi delapan karakteristik berpikir kritis, yakni meliputi: (1) kegiatan merumuskan pertanyaan, (2) membatasi permasalahan, (3) menguji data-data, (4) menganalisis berbagai pendapat, (5) menghindari pertimbangan yang sangat emosional, (6) menghindari penyederhanaan berlebihan, (7) mempertimbangkan berbagai interpretasi, dan (8) mentoleransi ambiguitas.

Karakteristik lain yang berhubungan dengan berpikir krit Beyer (1995: 12-15) secara lengkap dalam bukuCritical Think Watak (dispositions): Seseorang yang mempunyai keteramp kritis mempunyai sikap skeptis, sangat terbuka, mengha kejujuran, respek terhadap berbagai data dan pendapat, resp kejelasan dan ketelitian, mencari pandangan-pandangan berbeda, dan akan berubah sikap ketika terdapat sebuah pe dianggapnya baik; b) Kriteria: Dalam berpikir kritis harus sebuah kriteria atau patokan.

Gambar 4.2. Pemikiran kritis harus dibiasakan agar siswa tidak mera takut mengemukakan pendapatnya

(Sumber: Nani Nur’aeni)

Untuk sampai ke arah sana maka harus menemukan se diputuskan atau dipercayai. Meskipun sebuah argumen dapat beberapa sumber pelajaran, namun akan mempunyai k berbeda. Apabila kita akan menerapkan standarisasi ma berdasarkan kepada relevansi, keakuratan fakta-fakta, b sumber yang kredibel, teliti, tidak bias, bebas dari logika yang yang konsisten, dan pertimbangan yang matang; c) Argumen adalah pernyataan atau proposisi yang dilandasi oleh Keterampilan berpikir kritis akan meliputi kegiatan pengenala

kritis, dijelaskan hinking, yaitu: a) rampilan berpikir ghargai sebuah respek terhadap gan lain yang pendapat yang rus mempunyai

erasa malu atau

n sesuatu untuk pat disusun dari i kriteria yang maka haruslah a, berlandaskan ng keliru, logika men (argument) oleh data -data nalan, penilaian,

dan menyusun argument; d) Pertimbangan atau pemikiran (reasoning), yaitu kemampuan untuk merangkum kesimpulan dari satu atau beberapa premis.

Prosesnya akan meliputi kegiatan menguji hubungan antara beberapa pernyataan atau data; e) Sudut pandang (point of view) adalah cara memandang atau menafsirkan dunia ini, yang akan menentukan konstruksi makna. Seseorang yang berpikir dengan kritis akan memandang sebuah fenomena dari berbagai sudut pandang yang berbeda; f) Prosedur penerapan kriteria (procedures for applying criteria). Prosedur ini sangat kompleks dan prosedural. Prosedur tersebut akan meliputi merumuskan permasalahan, menentukan keputusan yang akan diambil, dan mengidentifikasi perkiraan-perkiraan.

Orlich (1998) menyatakan bahwa kemampuan yang berasosiasi dengan berpikir kritis yang efektif meliputi: (1) mengobservasi; (2) mengidentifikasi pola, hubungan, hubungan sebab-akibat, asumsi-kesalahan alasan, asumsi-kesalahan logika dan bias; (3) membangun kriteria dan

mengklasisfikasi; (4) membandingkan dan membedakan; (5)

menginterpretasikan; (6) meringkas; (7) menganalisis, mensintesis dan menggeneralisasi; mengemukakan hipotesis; (8) membedakan data yang relevan dengan yang tidak relevan, data yang dapat diverifikasi dan yang tidak, membedakan masalah dengan pernyataan yang tidak relevan. Sehubungan dengan itu, Zeidler (1992) menyatakan ciri-ciri orang yang mampu berpikir kritis adalah: (a) memiliki perangkat pikiran tertentu yang dipergunakan untuk mendekati gagasannya, dan memiliki motivasi kuat untuk mencari dan memecahkan masalah, (b) bersikap skeptis yaitu tidak mudah menerima ide atau gagasan kecuali dia sudah dapat membuktikan

kebenarannya. Berdasarkan uraian seperti di atas, maka kemampuan berpikir kritis yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah proses mental yang mencakup kemampuan merumuskan masalah, memberikan dan menganalisis argumen, melakukan observasi, menyusun hipotesis, melakukan deduksi dan induksi, mengevaluasi, dan mengambil keputusan serta melaksanakan tindakan.

Keterampilan berpikir kritis merupakan salah satu modal dasar atau modal intelektual yang sangat penting bagi setiap orang (Galbreath,1999; Liliasari, 2002; Depdiknas, 2003; Trilling & Hood, 1999; Kubow, 2000) dan merupakan bagian yang fundamental dari kematangan manusia (Penner 1995 dalam Liliasari, 2000). Oleh karena itu, pengembangan Ketrampilan berpikir kritis menjadi sangat penting bagi siswa di setiap jenjang pendidikan. Keterampilan berpikir kritis menggunakan dasar berpikir menganalisis argumen dan memunculkan wawasan terhadap tiap-tiap interpretasi untuk mengembangkan pola penalaran yang kohesif dan logis, kemampuan memahami asumsi, memformulasi masalah, melakukan deduksi dan induksi serta mengambil keputusan yang tepat. Ketrampilan berpikir kritis adalah potensi intelektual yang dapat dikembangkan melalui proses pembelajaran. Setiap manusia memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang menjadi pemikir yang kritis karena sesungguhnya kegiatan berpikir memiliki hubungan dengan pola pengelolaan diri (self organization) yang ada pada setiap mahluk di alam termasuk manusia sendiri (Liliasari, 2001; Johnson, 2000).

Marzano (1992) memberikan kerangka tentang pentingnya pembelajaran berpikir yaitu: (1) berpikir diperlukan untuk mengembangkan sikap dan persepsi yang mendukung terciptanya kondisi

kelas yang positif, (2) berpikir perlu untuk memperoleh dan mengintegrasikan pengetahuan, (3) perlu untuk memperluas wawasan pengetahuan, (4) perlu untuk mengaktualisasikan kebermaknaan pengetahuan, (5) perlu untuk mengembangkan perilaku berpikir yang menguntungkan. Berpikir kritis merupakan suatu kompetensi yang harus dilatihkan pada peserta didik, karena kemampuan ini sangat diperlukan dalam kehidupan sekarang (Schafersman, 1999 dalam Arnyana, 2004).

Guru perlu membantu siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis melalui strategi, dan metode pembelajaran yang mendukung siswa untuk belajar secara aktif. Inkuiri yang dipadukan dengan strategi kooperatif merupakan salah satu cara untuk itu. Dengan kegiatan inkuiri, siswa dapat belajar secara aktif untuk merumuskan masalah, melakukan penyelidikan, menganalisis dan menginterpretasikan data, serta mengambil keputusan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Perpaduan kegiatan inkuiri dengan strategi kooperatif dapat melatih siswa untuk bekerjasama dengan teman sebayanya.

Dalam makalahnya Andrew P. Jhonson (The Educational Resources Information Center (ERIC), 2002) memberikan contoh 10 keterampilan berpikir kritis dan 8 keterampilan berpikir kreatif beserta kerangka berpikirnya. Yang dimaksud dengan kerangka berpikir adalah suatu representasi dari proses kognitif tertentu yang dipecah ke dalam langkah-langkah spesifik dan digunakan untuk mendukung proses berpikir. Kerangka berpikir tersebut digunakan sebagai petunjuk berpikir bagi siswa ketika mereka mempelajari suatu keterampilan berpikir. Dalam praktiknya, kerangka berpikir tersebut dapat dibuat dalam bentuk poster yang

ditempatkan di dalam ruang kelas untuk membantu proses belajar mengajar.

Menurut Somantri (1981), berpikir adalah suatu proses yang membuahkan pengetahuan. Proses ini merupakan serangkaian gerak pemikiran dalam mengikuti pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan berupa pengetahuan. Selain itu dalam proses tersebut terjadi kegiatan penggabungan antara persepsi dan sistem unsur yang ada dalam pikiran. Berpikir dianggap sebagai suatu proses kognitif yaitu aktivitas mental untuk memperoleh pengetahuan. Aktivitas mental ini terjadi karena adanya suatu rangsangan dari luar yang membentuk suatu pemikiran, penalaran dan keputusan serta kegiatan memperluas aturan yang diketahui untuk memecahkan masalah.

Pendapat lain dikemukakan oleh Wijaya (1982), bahwa berpikir mengacu pada serentetan proses-proses kegiatan merakit, menggunakan, dan memperbaiki model-model simbolik internal, model-model itu dapat berbentuk tiga macam, yaitu 1) wujud ciptaan yang mewakili suatu kenyataan, seperti dalam hal ilmu pengetahuan, semua dinyatakan berupa ekspresi hasil pengamatan fakta. Model-model yang diciptakannya bersifat mewakili eksistensi benda yang terdapat dalam lingkungan; 2) model kenyataan hasil membayangkan sesuatu peristiwa tertentu, seperti dalam hal cerita fiksi, dimana si pengarang menulis cerita dalam sebuah adegan tertentu dalam suatu kenyataan; 3) model abstrak yang dilukiskan dalam pikiran dan perasaan seperti dalam hal pelajaran matematika dan musik. Jadi, dalam berpikir orang menggunakan simbol-simbol tertentu dan berposes dalam otak secara internal.

Keterampilan berpikir kritis menurut Wijaya (1999) adalah “kegiatan menganalisis idea atau gagasan ke arah yang lebih spesifik, membedakannya secara tajam, memilih, mengidentifikasi, mengkaji dan mengembangkannya ke arah yang lebih sempurna”. Selanjutnya Wijaya (1999:73-74) mengemukakan cirri-ciri berpikir kritis, sebagai berikut:

1) mengenal secara rinci bagian-bagian dari keseluruhan; 2) pandai mendeteksi;

3) mampu membedakan ide yang relevan; 4) mampu membedakan fakta dengan pendapat;

5) mampu mengidentifikasi perbedaan atau kesenjangan-kesenjangan informasi;

6) dapat membedakan argumentasi logis dan tidak logis;

7) mampu mengembangkan criteria atau standard penelitian data; 8) suka mengumpulkan data untuk pembuktian factual;

9) dapat membedakan antara kritik membangun dan merusak; 10) mampu mengidentifikasi pandangan perspektif yang bersifat

ganda berkaitan dengan data;

11) mampu mengetes asumsi dengan cermat;

12) mampu mengkaji ide yang bertentangan dengan peristiwa dalam lingkkungan;

13) mampu mengidentifikasikan atribut-atribut manusia, tempat dan benda, seperti sifat, bentuk dan wujud dan lain-lain;

14) Mampu mendaftar segala akibat yang mungkin terjadi atau alternative pemecahan terhadap masalah, ide dan situasi;

15) Mampu membuat hubungan antara masalah satu dengan masalah lainnya;

16) Mampu menarik kesimpulan generalisasi dari data yang telah tersedia dengan data yang diperoleh dari lapangan;

17) Mampu menggambarkan konklusi dengan cermat dari data yang tersedi;

18) Mampu membuat prediksi dari informasi yang tersedia;

19) Dapat membedakan konklusi yang salah dan tepat terhadap informasi yang diterimanya;

20) Mampu menarik kesimpulan dari data yang telah ada dan terseleksi;

21) Mampu membuat interpretasi pengertian, definisi, reasoning dan isu yang controversial;

22) Sanggup memberikan pembuktian-pembuktian yang kondusif; 23) Mampu mengklasifikasikan informasi dan ide;

24) Mampu menginterpretasi dan menjabarkan informasi ke dalam pola atau bagan-bagan tertentu;

25) Mampu menginterpretasikan dan membuat flow charts;

26) Mampu menganalisis isi, unsur, kecenderungan, pola, hubungan, prinsip, promosi, dan bias.

27) Sanggup membuat reasoning berdasarkan persamaan-persamaan analog;

28) Mampu membandingkan dan mempertentangkan yang kontras; 29) Sanggup mendeteksi bias atau penyimpangan-penyimpangan; 30) Terampil menggunakan sumber-sumber pengetahuan yang dapat

dipercaya;

31) Mampu menginterpretasikan gambar dan kartun; 32) Mampu menentukan hubungan sebab akibat 33) Mampu membuat konklusi yang valid.

Kemampuan berpikir kritis tidak bisa didapat begitu saja, tetapi ketajaman berpikir kritis akan diperoleh melalui banyak latihan dan praktek. Menurut Anita Harnadek dalam Hasoubah (2003:90) menyatakan bahwa “critical thingking is a skill which must be practiced in order to develop effectively”. Maksudnya bahwa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis pada siswa salah satu cara yang efektif yaitu melalui praktek dan latihan. Berpikir kritis didefinisikan sebagai suatu proses kompleks yang melibatkan penerimaan dan penguasaan data, analisis data, dan evaluasi data dengan mempertimbangkan aspek kualitatif serta melakukan seleksi atau membuat keputusan berdasarkan hasil evaluasi.(Gerhard 1971, dalam Redhana 2003: 14)

Berpikir kritis menurut R. Swartz dan D. N. Perkins (1990, dalam Hassoubah 2004: 86-87) berarti bertujuan untuk mencapai penilaian yang

kritis terhadap apa yang akan kita terima atau apa yang akan kita lakukan dengan alasan yang logis, memakai standar penilaian sebagai hasil dari berpikir kritis dalam membuat keputusan, menerapkan berbagai strategi yang tersusun dan memberikan alasan untuk menentukan dan menerapkan standar tersebut, mencari dan menghimpun informasi yang dapat dipercaya untuk dipakai sebagai bukti yang dapat mendukung suatu penilaian.

Tyler (1949, dalam Redhana 2003: 13-14) berpendapat bahwa pengalaman atau pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh keterampilan-keterampilan dalam pemecahan masalah dapat merangsang keterampilan berpikir kritis siswa. Berpikir kritis merupakan suatu aktivitas evaluatif untuk menghasilkan suatu simpulan (Cabrera 1992, dalam Redhana 2003: 14).

Pertukaran gagasan yang aktif didalam kelompok kecil tidak hanya menarik perhatian siswa tetapi juga dapat mempromosikan pemikiran kritis (Gokhale 2002: http://scholar.lib.vt.Edu/enjournals/JTE). Kerjasama dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk terlibat dalam diskusi, bertanggung jawab terhadap pelajaran sehingga dengan begitu mereka menjadi pemikir yang kritis (Totten, Ambang, Digby, & Russ 1991, dalam Gokhale 2002: http://scholar.lib.vt.Edu/enjournals/ JTE). Materi tentang pemikiran kritis yaitu materi yang melibatkan analisa, sintesis, dan evaluasi konsep (Gokhale 2002: http://scholar.lib.vt.Edu/ enjournals/JTE).

Lebih lanjut Harsanto (2005: 45-62) mengemukakan bahwa kemampuan berpikir kritis meliputi:

a. Kemampuan membedakan antara fakta, non fakta dan pendapat Pada saat kita membaca sebuah koran atau majalah, apakah setiap kalimat yang tertera di dalamnya merupakan suatu fakta yang terjadi atau hanya sebuah pendapat dari si penulis saja. Di sinilah kemampuan siswa akan dilatih bahwa suatu berita yang ada tidak

Dalam dokumen BERFIKIR KRITIS Model Pembelajaran Proje (Halaman 50-93)

Dokumen terkait