BAB II KAJIAN TEORI
EVALUASI-DIRI
Gambar 2. 2. Daur Penjaminan Mutu dalam Rangka Akreditasi
BAN-PT, Pedoman Evaluasi-diri Program Studi, 2005.
D. Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Pendidikan dasar memiliki peran penting dalam memberikan fondasi yang kuat dalam pembangunan kualitas sumberdaya manusia. Mengingat pentingnya pendidikan dasar ini, semua negara di dunia menjadikan pendidikan dasar menjadi pendidikan yang wajib diikuti oleh semua warga negara. Gerakan wajib belajar pendidikan dasar ini dikenal dengan gerakan
EVALUASI PERBAIKAN INTERNAL DAN PEMBINAAN PERBAIKAN INTERNAL KEPUTUSAN AKREDITASI EVALUASI EKSTERNAL/ AKREDITASI
44
education for all yang sudah dirintis sejak tahun 1960an. Pada periode waktu antara tahun 1960 sampai dengan tahun 1975, negara Indonesia mampu meningkatkan jumlah akses pendidikan dasar. Pada tahun 1984, Indonesia mendapat penghargaan Aviciena dari UNESCO karena telah mampu menuntaskan wajib belajar 6 tahun (Tilaar, 2003: 4).
Konferensi pendidikan se dunia di Dakar pada tahun 2000 telah menetapkan 6 tujuan pokok pendidikan untuk semua (education for all: EFA) yang antara lain: (1) pendidikan bebas, wajib dan berkualitas baik yang menjamin semua anak, khususnya anak perempuan yang berada dalam keadaan sulit dan kelompok etnik minoritas, mempunyai akses dan dapat menyelesaikan pendidikan dasar yang bebas, wajib dan berkualitas baik; (2) meningkatkan kualitas pendidikan melalui perbaikan semua aspek pendidikan dan menjamin kualitas pendidikan dan dampak belajar yang dapat diukur telah dicapai oleh semua, khususnya dalam buta aksara (literacy), buta angka/menghitung (numeracy) dan keterampilan hidup (life skills) esensial. Pada tahun 2015 ditargetkan semua anak-anak baik laki-laki maupun perempuan akan mempunyai akses, bebas dan wajib untuk menyelesaikan primary education yang berkulitas baik (Dakar Framework for Action, 2000: 1).
Untuk meningkatkan jumlah akses dan kualitas pendidikan dasar, pemerintah memiliki beberapa program yang mendukung antara lain meningkatkan kualifikasi akademik guru SD dan program BERMUTU. Tuntutan kualifikasi pendidikan guru SD terus mengalami peningkatan. Semula guru SD hanya dituntut berpendidikan menengah keguruan, kemudian berkembang menjadi D2 dan saat ini ditetapkan minimal S1/D-4. Peningkatan kualifikasi pendidikan guru SD memberi konsekuensi kepada LPTK (Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan) untuk melayani kebutuhan penyediaan layanan pendidikan guru, khususnya guru SD. Berdasarkan kebutuhan tersebut, pelayanan program pendidikan untuk menyiapkan guru SD telah beberapa kali mengalami perubahan.
Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD)
45
kependidikan pada jenjang pendidikan SD. PGSD diselenggarakan karena tuntutan kebijakan yang tertuang pada Surat Keputusan (SK) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0854/U/1989, tanggal 31 Desember 1989 yang menetapkan kualifikasi formal guru sekolah dasar dari jenjang SLTA menjadi jenjang Diploma II atau D2. Sebelum ada SK tersebut, guru SD hanya berpendidikan sekolah menengah keguruan yaitu SPG, SGO dan PGA. Sekolah Pendidikan Guru (SPG) menyiapkan calon guru kelas SD secara umum, Sekolah Guru Olahraga (SGO) dan Pendidikan Guru Agama (PGA) menyiapkan calon guru SD khusus untuk mata pelajaran Olahraga dan Agama. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor
0854/U/1989 ditindaklanjuti pemerintah dengan menutup atau
mengalihfungsikan sekolah keguruan dan menugaskan beberapa perguruan tinggi negeri (IKIP dan FKIP) se Indonesia untuk menyelenggarakan Program D2 PGSD dengan dukungan Surat Keputusan Dirjen Dikti Nomor 400b/Kep/1992, Tanggal 20 Agustus 1992.
Tuntutan kualifikasi guru SD semakin tinggi. Pada tahun 2005, ditetapkan Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD) dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). Kedua landasan hukum tersebut mensyaratkan kualifikasi guru jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah lulusan Diploma IV (D4) atau lulusan Sarjana (S1). Selain kualifikasi akademik sarjana (S1) atau D-4, pada Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005, Pasal 29 ayat (2) dinyatakan guru SD/MI juga dituntut memiliki sertifikat profesi guru dalam bentuk yang dapat dipertanggungjawabkan baik dari sisi akademik maupun pengelolaannya. Regulasi pemerintah yang tertuang pada UUGD dan SNP memberi konsekuensi kepada PGSD, mulai tahun 2006 diberi kewenangan untuk menyelenggarakan program S1 PGSD dan Pendidikan Profesi Guru (PPG) SD. Penyelenggaraan program Sarjana (S1) PGSD diperkuat oleh SK Dirjen Dikti No. 3334/D/T/2006 tanggal 1 September 2006 sedangkan program PPG SD diselenggarakan mulai tahun
46
Kebijakan pemerintah menetapkan kualifikasi pendidikan guru SD minimal berpendidikan S1/D4 memberi dampak pekerjaan yang sangat besar bagi berbagai pihak yang terkait. Menurut data guru SD pada tahun 2006, Dikti mencatat dari 1.431.486 guru SD, hanya 8,3% (120.000 orang) yang sudah pendidikan sarjana, dan dari jumlah tersebut tidak seluruhnya memiliki latar belakang pendidikan guru, sedangkan 89,47 % belum sarjana. Selanjutnya ada sekitar 40.14 % berkualifikasi D2 PGSD dan sisanya (49,86 %) masih di bawah D2. Hal ini sangat wajar karena sebagian besar guru SD berasal dari SPG, SGO dan PGA. Tuntutan peningkatan kualifikasi pendidikan ini juga menuntut LPTK untuk menyelenggarakan program kelanjutan studi bagi guru SD yang belum memiliki ijazah S1/D4.
Kebutuhan layanan pendidikan calon guru SD dengan kualifikasi S1/D-4 meningkat tajam sejak ditetapkannya UUGD, mengingat jumlah guru SD yang belum berpendidikan S1/D4 masih sangat banyak dan proyeksi kebutuhan guru SD beberapa tahun yang datang juga tinggi. Fenomena ini menyebabkan animo masyarakat untuk masuk ke PGSD meningkat sehingga banyak LPTK negeri maupun swasta yang berminat membuka dan menambah jumlah mahasiswa PGSD. Untuk mengendalikan mutu program studi Badan Akreditasi Nasional telah menentapkan 100 butir indikator kinerja program studi. Untuk itu pengukuran kinerja program studi didasarkan pada instrumen yang telah dibuat Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi tersebut.
Dalam pasal 5 UU RI nomor 12 tahun 2012, pendidikan tinggi bertujuan untuk: (1) mengembangkan potensi Mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten, dan berbudaya untuk kepentingan bangsa; (2) menghasilkan lulusan yang menguasai cabang Ilmu Pengetahuan dan/atau Teknologi untuk memenuhi kepentingan nasional dan peningkatan daya saing bangsa; (3) menghasilkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi melalui Penelitian yang memperhatikan dan menerapkan nilai Humaniora agar bermanfaat bagi kemajuan bangsa, serta kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia; dan (4)
47
terwujudnya Pengabdian kepada Masyarakat berbasis penalaran dan karya Penelitian yang bermanfaat dalam memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
48