• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP ETIKA, MURID, GURU DAN PENDIDIKAN ISLAM

D. Pendidikan Islam

1. Pengertian Pendidikan Islam

Kata pendidikan yang umum kita gunakan sekarang, dalam bahasa Arab adalah tarbiyyah, dengan kata kerja rabba. Kata pengajaran dalam bahasa Arab adalah ta’li>m dengan kata kerjanya alama. Pendidikan dan pengajaran dalam bahasa Arabnya tarbiyyah wa ta’li>m sedangkan pendidikan Islam

45

Hawi, Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam, 13.

46

dalam bahasa Arabnya adalah tarbiyyah islamiyah. Kata kerja rabba (mendidik) sudah digunakan pada zaman Nabi Muhammad SAW.47

Sebagai disiplin ilmu, pendidikan Islam merupakan sekumpulan ide-ide dan konsep intelektual yang tersususn dan diperkuat melalui pengalaman dan pengetahuan. Dengan kata lain, ilmu pendidikan Islam bertumpu pada gagasan-gagasan dialogis dengan pengalaman empiris yang terdiri dari fakta atau informasi untuk diolah menjadi teori dan menjadi tempat berpijaknya ilmu pengetahuan. Maka ilmu pendidikan Islam dapat dibedakan antara ilmu pendidikan Islam menurut adanya teori yang dijadikan pedoman operasional dalam praktik pendidikan. Pengetahuan tentang apa, bagaimana dan sejauh mana pandangan Islam tentang kepndidikan yang bersumberkan Al- Qur‟an, dapat dijadikan tambahan masukkan konsepsi ilmu pendidikan Islam teoritis dan praktis.48

Pendidikan mempunyai pengertian yang sangat luas, yang mencakup semua perbuatan atau semua usaha dari generasi tua untuk mengalihkan nilai-nilai serta melimpahkan pengetahuan, pengalaman, kecakapan, serta ketrampilan kepada generasi selanjutnya, sebagai usaha untuk menyiapkan mereka, agar dapat memenuhi fungsi hidup mereka, baik jasmani maupun rohani.49

47

Zakiah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2000), 25.

48

Moh. Hitami Salim dan Syamsul Kurniawan, Studi Ilmu Pendidikan Islam, 16-17.

49

Pendidikan secara teoretis mengandung pengertian “memberi makan”

kepada jiwa anak didik sehingga mendapatkan kepuasan rohaniah, juga sering diartikan dengan menumbuhkan kemampuan dasar manusia.50 Pendidikan dan agama mempunyai hubungan yang sangat erat. Hubungan antara keduanya bersifar organis-fungsional, pendidikan bersifat sebagai alat untuk mencapai tujuan Islam dan Islam memberikan landasan sistem nilai untuk megembangkan berbagai pemikiran tentang pendidikan Islam.51

Menurut Omar Muhammad At-Toumy Asy-Syaibany, sebagaimana yang dikutip oleh Mahmud, dalam bukunya yang berjudul Pemikiran Pendidikan Islam, mengartikan pendidikan Islam sebagai agen perubahan yang diinginkan dan diusahakan oleh proses pendidikan, baik pada tataran tingkah laku individu maupun tataran kehidupan sosial serta tataran relasi proposi diantara profesi-profesi dalam masyarakat.52

Menurut Hasan Langgulung sebagaimana yang dikutip oleh Sutrisno dan Muhyidin Albarobis dalam bukunya yang berjudul, Pendidikan Islam Berbasis Problem Sosial. Pendidikan Islam merupakan suatu proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan pemindahan pengetahuan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat kelak. Artinya pendidikan Islam tidak

50

M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, (Jakarta: Bumi aksara, 1991), 32.

51

Mahmud, Pemikiran Pendidikan Islam, 17-18.

52

bisa dimaknai sebatas transfer of knowledge akan tetapi juga transfer of value serta berorientasi dunia dan akhirat.53

Sedangkan menurut Ahmad D. Marimba, sebagaimana yang dikutip oleh Moh. Hitami Salim dan Syamsul Kurniawan dalam bukunya yang berjudul Studi Ilmu Pendidikan Islam bahwasanya Pendidikan Islam adalah bimbingan atau pertolongan secara sadar yang diberikan oleh pendidik kepada peserta didik dalam perkembangan jasmaniah dan rohaniah kearah kedewasaan dan seterusnya ke arah terbentuknya kepribadian yang utama.54

Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa pengertian pendidikan Islam adalah suatu aktifitas atau usaha pendidikan berupa bimbingan dan pengembangan fitrah manusia baik jasmani maupun rohani berdasarkan hukum-hukum Islam menuju terbentuknya kepribadian muslim mu>ttaqu>n

yang bahagia baik di dunia maupun di akhirat. 2. Tujuan Pendidikan Islam

Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang sadar dan bertujuan kepada Allah SWT meletakkan asas-asasnya bagi seluruh manusia di dalam

syari‟at ini. Oleh karena itu, sudah semestinya mengkaji pendidikan terlebih

dahulu menjelaskan tujuannya yang luhur dan luas, yang telah ditetapkan oleh Allah SWT bagi seluruh aktivitas manusia. karena tujuan merupakan

53

Sutrisno dan Muhyidin Albarobis, Pendidikan Islam Berbasis Problem Sosial, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), 21.

54

kompas, barometer sekaligus evaluator dalam penyelenggaraan sutau pendidikan.

Salah satu tujuan penting dalam pendidikan Islam ialah mmbentuk akhlak mulia, karena itu segala sifat-sifat kemuliaan (akhlak al-mahmudah) adalah peserta didik, begitu pula segala akhlak yang tercela dinamakan (akhlak mazmumah) dan harus dijauhi.55

Sedangkan tujuan pendidikan Islam ialah kepribadian muslim, yaitu suatu kepribadian yang seluruh aspeknya dijiwai oleh ajaran Islam. Orang yang berkepribadian muslim dalam Al- Qur‟an disebut mu>ttaqu>n. Karena itu pendidikan Islam berarti juga untuk pembentukan manusia yang bertaqwa. Pendidikan tersebut sesuai dengan pendidikan nasional yang dituangkan dalam tujuan pendidikan nasional yang akan membentuk manusia pancasila yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.56

Aspek tujuan pendidikan menurut Abd al-Rahman Saleh Abdullah mengatakan dalam bukunya Educational Theory a Qur‟anic Outlook, bahwa pendidikan Islam menurutnya dibangun atas empat komponen sifat dasar manusia yaitu:

a. Tujuan Jasmaniyah

Tujuan pendidikan Islam perlu dikaitkan dengan tugas manusia selaku khali>fah dimuka bumi yang harus memiliki kemampuan

55

Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam dalam Presepektif Filsafat, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2014), 119.

56

jasmani yang sehat, ketrampilan-ketrampilan fisik, disamping rohani yang teguh. Dan juga untuk membentuk manusia muslim yang sehat jasmaninya serta memiliki ketrampilan yang tinggi.

b. Tujuan Rohaniyah

Perhatian dari tujuan ini terkait dengan kemampuan manusia menerima ajaran agama Islam yang inti ajarannya adalah keimanan dan ketaatan kepada Allah SWT, dengan tunduk dan patuh kepada nilai-nilai moralitas yang diajarkan-Nya dan mengikuti teladan Rasulullah SAW.

c. Tujuan Akal

Tujuan ini bertumpu pada pengembangan intelegensi yang ada dalam otak manusia. Agar dapat memahami dan mneganalisis fenomena-fenomena ciptaan Allah SWT di jagad raya ini. Alam dan isinya merupakan sebuah buku besar yang harus dijadikan obyek pembacaan dan pengamatan serta renungan akal fikiran manusia sehingga akan diperoleh ilmu pengetahuan yang semakin maju dan berkembang.

d. Tujuan Sosial

Tujuan sosial ini merupakan pembentukan kepribadian yang utuh dari ruh, tubuh dan akal. Adanya idealitas dan eksistensi individu tercermin sebagai manusia yang hidup pada masyarakat yang plural

atau majemuk. Tujuan ini sangat penting keberadaannya karena manusia sebagai khali>fah Allah SWT di muka bumi ini.57

57

Muhamad Muntahibun Nafs, Ilmu Pendidikan Islam, (Yogyakarta: KALIMEDIA 2017), 72-73.

BAB III

BOIGRAFI IMA>MAL-GHAZA>LI> DAN IBNU TAIMIYAH

A. Boigrafi Ima>mAl-Ghaza>li>

1. Riwayat Hidup Ima>mAl-Ghaza>li>

Ima>m Al-Ghaza>li> lahir tahun 1059 Masehi/450 Hijriyah di Thus dari seorang keluarga Persia, yang nama lengkapnya adalah Abu> Ha>mid Muhammad bin Muhammad Al-Ghaza>li>. Beliau terkenal sebagai seorang yang ahli fiqih dan ilmu kalam, seorang filisof dan sufi yang pembawa pembaharuan terhadap penafsiran ajaran-ajaran Islam, yang berkenaan dengan kemasyarakatan, bahkan juga sebagai tokoh pendidikan akhlak atau moral yang berdasarkan hukum Islam dan kemudian ia mendapat gelar

sebagai ”Hu>jja>tu>l Islam” karena banyak pembelaanya kepada agama Islam. Adapun ayahnya terkenal sebagai seorang miskin yang shaleh, dan tidak mau makan kecuali dari usahanya sendiri yang halal, dengan pekerjaanya sebagai seorang pemintal benang dari bulu/wool. Disamping itu ia banyak mendengarkan pengajian-pengajian tentang fiqih dan banyak berbicara tentang fiqih dengan beberapa orang ahli fiqih. Karena banyaknya ketertarikan dengan masalah keislaman itu maka, ia pada suatu waktu pernah menangis sehabis mendengarkan pengajian keislaman dan sesudah itu ia memohon kepada Allah SWT agar kelak anaknya menjadi seorang yang ahli fiqih dan lahirlah anak yang bernama Al-Ghaza>li> atau Abu> Ha>mid ini.

Ternyata do‟anya pun diterima oleh Allah SWT dan Al-Ghaza>li> terkenal sebagai seorang yang ahli fiqih atau tasawuf yang banyak menasehati masyarakat dengan keislaman.58

Sejak mudanya Al-Ghaza>li> memang banyak mempelajari masalah fiqih dan tauhid. Ia juga mempelajari ilmu dibidang filsafat, terutama filsafat Al-Farabi dan Ibnu Si>na dan juga tentang tasawuf. Dari pengalaman-pengalaman yang ia pelajari ternyata kurang meyakini dan tidak membawa kebahagiaan pada hatinya. Maka sesuadah itu ia mengajar di Madrasah Nidzamiyah dan memerlukan penyelidikan lebih banyak lagi dengan menemui orang-orang tertentu dari satu negeri ke negeri yang lain.59

Al-Ghaza>li> memang orang yang cerdas dan sanggup mendebat segala sesuatu yang tidak sesuai dengan penalaran yang jernih. Hingga Ima>m al-Juwaini sempat memberi predikat beliau sebagai seorang yang memiliki

ilmu yang sangat luas bagaikan ”laut luas nan menenggelamkan”. Ketika

gurunya meninggal dunia. Al-Ghaza>li> meninggalkan Nisabur menuju ke istana Nidzam al-Mulk yang menjadi perdana menteri Sultan Bani Saljuk.

Keikutsertaan Al-Ghaza>li> dalam suatu diskusi bersama sekelompok ulama dan para intelektual dihadapan Nidzam al-Mulk membawa kemenangan baginya. Hal itu tidak lain berkat ketinggian ilmu filsafatnya, kekayaan ilmu pengetahuannya, kefasihan lidahnya dan kejituan

58

Achmad Sunarno, Ayyuhal Waladul Muhibbu, (Surabaya: Al Ikhlas, 1991), 46.

59

argumentasinya. Nidzam al-Mulk benar-benar kagum melihat kehebatan beliau ini dan berjanji akan mengangkatnya sebagai guru basar di Universitas yang didirikannya di Baghdad. Peristiwa ini terjadi pada tahun 484 atau 1091 Masehi.60

Al-Ghaza>li> dalam bukunya Ihya>’ Ulu>muddin berusaha untuk mendidik ke arah yang baik dengan mengikuti kehidupan yang bermoral dan teratur, adil dan bijaksana. Ia berhasil mendidik manusia pada akhlak yang baik yang perlu ditaati oleh para guru, murid, dan anak-anak. Ia juga mengajarkan perjuangan batin dan latihan jiwa buat mennuju kesempurnaan rohani. Pandangan Al-Ghaza>li> yang selama ini ternyata membantu kehidupan akhlak bagi anak-anak, seperti perlunya adab makan, minum berpakaian, bergerak sehingga tidak terbiasa lagi mereka tidak hidup bermalas-malasan. Al-Ghaza>li> membenarkan kesempatan bagi anak-anak untuk bermain-main agar tidak mematikan pikiran dan hatinya dengan pengertian untuk tidak menjadi pasif.61 Bagi Al-Ghaza>li> yang dikatakan orang yang berakal adalah orang yang dapat menggunakan dunia untuk tujuan akhirat, sehingga derajatnya lebih tinggi disisi Allah SWT dan lebih kebahagiaannya di akhirat kelak.62

60

Abuddin Nata, Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), 83.

61

Ibid., 49-50.

62

Al-Ghaza>li dalam karya-karyanya sangatlah jelas bagaimana pemikirannya. Dalam hal yang berhubungan dengan tasawuf misalnya. Meskipun dalam masalah ini kita tidak menemukan pembahasan tentang etimologi, terminologi dan sejarah perkembangan tasawuf secara detail, sebagaimana yang didapati pada kebayakan filosof lainnya. Al-Ghaza>li lebih banyak menitikberatkan pada praktikal hakikat tasawuf yang sesuai dengan Al-Qur‟an dan As-Sunnah, serta perjalanan sahabatRasulullah SAW.63

Ima>m Al-Ghaza>li> dalam siklus purna yang berhenti di tempat semula. Ia dilahirkan di Thus dan kembali ke Thus lagi. Ia wafat ditempat kelahirannya pada tahun 505 Hijriyah atau bertepatan dengan tahun 1111 Masehi. Dengan demikian, tidak perlu diragukan lagi jika dikatakan Ima>m Al-Ghaza>li> merupakan salah satu pemikir besar umat Islam yang banyak menyumbang bagi peningkatan sosial, kebudayaan, etika dan pandangan metafisik Islam.64

2. Konsep Pendidikan Ima>m Al-Ghaza>li

Dalam pandangan Ima>m Al-Ghaza>li, sebagaimana yang dikutip oleh Mahmud, dalam bukunya yang berjudul Pemikiran Pendidikan Islam mengatakan bahwa sentral dalam pendidikan adalah hati sebab hati adalah esensi dari manusia. Menurutnya subtansi manusia bukanlah terletak pada

63

Hery Sucipto, Ensiklopedi Tokoh Islam, (Jakarta: PT MIZAN PUBLIKA, 2003), 164.

64

unsur-unsur yang ada pada fisiknya melainkan berada pada hatinya sehingga pendidikan diarahkan pada pembentukan akhlak yang mulia.65

a. Tujuan pendidikan

1) Tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan untuk mencari kedudukan, kemegahan dan kegagahan atau mendapatkan kedudukan yang menghasilkan uang. Karena jika tujuan pendidikan diarahkan bukan pada mendekatkan diri kepada Allah SWT, akan dapat menimbulkan kedengkian, kebencian dan permusuhan. Hal ini mencerminkan sikap zuhud Ima>m Al-Ghaza>li> terhadap dunia, merasa

Qana`>’ah (merasa cukup dengan yang ada) dan banyak memikirkan kehidupan akhirat dari pada kehidupan dunia.

2) Sarana yang bertujuan mendapatkan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Dalam hal ini, Al-Ghaza>li> memandang bahwa dunia ini bukan merupakan hal pokok, tidak abadi dan akan rusak, sedangkan maut dapat memutuskan kenikmatan setiap saat. Tujuan pendidikan

Al-Ghaza>li> tidak sama sekali menistakan dunia, melainkan dunia ini hanya sebagai alat.66

b. Kurikulum

Secara tradisional kurikulum berarti mata pelajaran yang diberikan kepada anak didik untuk menanamkan sejumlah pengetahuan agar

65

Mahmud, Pemikiran Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2011), 245.

66

mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Kurikulum tersebut disusun agar dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan. Al-Ghaza>li> pernah berkomentar tentang konsep kurikulum pendidikan, bahwa mata pelajaran yang harus disampaikan kepada peserta didik didasarkan kepada dua pendekatan, antara lain:

1) Pendekatan Agama

Menurut Al-Ghaza>li> bahwa mata pelajaran yang utama dan harus terdapat dalam kurikulum pendidikan adalah ilmu Agama. Seperti Al-Qur‟an dan Al-Hadits, ilmu fiqh, ilmu tafsir dan lain sebagainya. 2) Pendekatan Pragmatis

Maksud dari pendekatan ini adalah bahwa setiap ilmu yang memiliki dampak positif, baik kepada peserta didik maupun kepada masyarakat, maka pelajaran tersebut harus ada dalam kurikulum pendidikan, seperti ilmu kedokteran, ilmu matematika dan lain sebagainya.67

Klasifikasi ilmu tersebut sepertinya Al-Ghaza>li> ingin mengatakan bahwa pada dasarnya ilmu terbagi kepada dua macam yaitu: pertama, disiplin ilmu yang harus dikuasai oleh setiap individu umat Islam. Ilmu inilah yang masuk dalam katagori Fardhu „A>in.. Karenanya tidak ada pilihan lain kecuali disiplin ilmu ini harus dimasukan kedalam kurikulum

67

Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, Cet. I, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2005), 93.

pendidikan. Kedua, disiplin ilmu yang tidak menuntut kepada setiap individu untuk menguasainya, tetapi cukup diwakili oleh beberapa umat Islam saja. Disiplin ilmu inilah yang disebut dengan istilah fardhu kifayah. Karenanya jika ada sebagian umat Islam telah memilikinya maka sudah terwakili. Dalam kesempatan lain, Al-Ghaza>li> pernah menawarkan konsep kurikulum yang dikaitkan pada ilmu pengetahuan. Dalam pandangan beliau bahwa ilmu terbagi kepada tiga bagian besar, antara lain:

a) Ilmu yang terkutuk, yaitu ilmu-ilmu yang tidak ada manfaatnya, baik di dunia maupun di akhirat seperti: ilmu sihir, ilmu nujum dan ilmu ramalan. Menurut pandangan Al-Ghaza>li> bahwa ilmu-ilmu tersebut adalah tercela dan sesat, karena dapat mendatangkan ke madharatan, baik bagi pemiliknya maupun bagi orang lain.

b) Ilmu yang terpuji, yaitu ilmu yang erat kaitannya dengan per ibadahan dan segala macamnya, seperti ilmu kebersihan atau bersuci, ilmu yang mendatangkan kemaslahatan bagi pemiliknya maupun kepada orang lain.

c) Ilmu yang terpuji dalam kadar tertentu, namun tercela jika dipelajari secara mendalam. Karena jika dipelajari secara mendalam maka akan menyebabkan kekacawan, kemadharatan bahkan menjadikan kafir bagi pemiliknya.

Dengan demikian, pada intinya Al-Ghaza>li> berkesimpulan bahwa ilmu yang paling utama adalah ilmu agama dan semua ilmu yang berhubungan dengannya. Karenanya ilmu agama harus terdapat di dalam kurikulum pendidikan.68

c. Metode pendidikan

Metode pendidikan diklasifikasikan Al-Ghaza>li> menjadi dua bagian: 1) Metode khusus pendidikan Agama. Meode ini memiliki orientasi

terhadap pengetahuan aqidah karena pendidikan agama pada realitasnya lebih sukar dibandingkan dengan pendidikan lainnya, karena pendidikan agama menyangkut problematika intuitif dan lebih menitikberatkan kepada pembentukan personality peserta didik. Dengan demikian pendidikan akal yang kohesif pada diri peserta didik selama dalam proses pendidikan akan dapat dikendalikan, sehingga bukan hanya mementingkan rasio, rasa, berpikir sebenar-benarnya tanpa dzikir. Tetapi peserta didik yang memiliki kepribadian yang ka>mil. Dengan demikian, agama bagi peserta didik menjadi pembimbing akal. Dari sinilah kemudian letak kesempurnaan hidup manusia dalam keseimbangan.

2) Metode khusus pendidikan Akhlak, Al-Ghaza>li> mengungkapkan:

”Sebagaimana dokter, jikalau memberikan pasiennya dengan satu macam obat saja, niscaya akan membunuh kebanyakan orang

68

sakit, begitupun guru, jikalau menunjukkan jalan kepada murid dengan satu macam saja dari latihan, niscaya membinasakan hati mereka. Akan tetapi seyogyanyalah memperhatikan tentang penyakit murid, tentang keadaan umurnya, sifat tubuhnya dan latihan apa yang disanggupimya. Berdasarkan yang demikian itu,

dibina latihan” dan berikutnya jika guru melihat murid yang sombong, keras kepala dan congkak maka suruhlah ia ke pasar untuk meminta-minta. Sesungguhnya sifat bangga diri egois tidak akan hancur selain dengan sifat mandiri.

Dari keterangan tersebut, Al-Ghaza>li> menegaskan bahwa untuk membuat diagnosis dan melakukan perbaikan akhlak tercela anak adalah dengan menyuruhnya melakukan perbuatan sebaliknya. Layaknya bila badan sakit obatnya ialah dengan cara menurunkan panas atau obatnya ialah membuang penyakit itu.69

d. Evaluasi Pendidikan

Menurut Al-Ghaza>li>, evaluasi pendidikan berarti usaha memikirkan, membandingkan, memprediksi atau memperkirakannya, menimbang, mengukur, dan menghitung segala aktifitas yang telah berlangsung dalam proses pendidikan, untuk meningkatkan usaha dan kreativitasnya sehingga dapat seefektif dan seefisien mungkin dalam mencapai tujuan yang lebih baik diwaktu yang akan datang.

69

Adapun subyek evaluasi pendidikan adalah orang yang terikat dalam proses kependidikan meliputi: pimpinan, subyek didik, wali murid, dan seluruh tenaga administrasi. Dalam hal ini yang menjadi evaluasi pendidikan adalah semua bentuk aktivitas yang terkait dengan tugas tanggungjawabnya masing-masing dalam proses kependidikan.70

3. Karya-Karya Ima>m Al-Ghaza>li>

Ima>m Al-Ghaza>li> telah meninggalkan tulisan berupa buku dan karya ilmiah sebanyak 228 kitab yang terdiri atas beragam kitab dan ilmu pengetahuan yang sangat terkenal pada masanya. Kitab-kitab yang diterbitkan antara lain khusus bidang tasawuf, adalah sebagai berikut:

1) Adab Al-Su>fi>ah, terbit di Mesir, 2) Al-Adab fi Ad-Di>n, dicetak di Kairo,

3) Al-Alma>’ An Asyka>li> Al-ihya>, sebagai jawaban Al-Ghaza>li> kepada orang yang menantangnya terhadap beberapa bagian dari buku Ihya. Dicetak bersama catatan pinggir (hasyiyah) buku itikaf As-Sabah Al-Muttaqin Zabdidy, di Kota Fes tahun 1302 H.

4) Al-Arba’i>n U>shu>l Ad-Di>n, merupakan bagian ketiga dari Jawahir

Al-Qur‟an, terbit di Mekah tahun 1302 H,

5) Al-Hikmah fi Ma>khli>fat Allah, telah dicetak berulang kali di Mesir.

70

Abidin Ibnu Rusn, Pemikiran Al-Ghaza>li Tentang Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), 105.

6) Ka>syf wa Tabi>yn fi Gu>nu>r Ajmai>n, dicetak dengan Tanbi>h Al-Mukhtar oleh Sya‟rawi,

7) Al-Mursyid Al-Ami>n Ya> Mau>di>kat Al-Mu’mini>n, merupakan ringkasan dari Al-Ihya>, dan diterbitkan di Mesir,

8) Al-Risalah Al-La>du>ni>yah,

9) Al-Risalah Al-Wa>dzi>yah, dicetak di Kairo pada tahun 1243 H,

10)Ayy>uhaal Al-Walad. Buku ini ditulis Ima>m Al-Ghaza>li> untuk seorang temannya sebagai nasihat kepadamya tentang zuhud, taghrib dan tarwib. Telah dicetak dalam bentuk terjemahannya di Wina tahun 1838 dan tahaun 1842 dan juga di Mesir. Tulisan aslinya masih ada dibeberapa perpustakaan di Eropa.

11)Bida>yah Al-Hida>yah wa Ta>hdzi>b Al-Nu>fu>z bi Al-Adab Asy-Syar’iyah telah dicetak berulang kali. Salinan tulisan aslinya terdapat di Berlin, Paris London dan Al-Jazair. Sementara di Indonesia buku ini telah diberi uraian lebih luas oleh Muhammad Nury dan diberi judul Maraqy Al-Ubudiyah.

Dokumen terkait