STUDI KOMPARASI: PEMIKIRAN IMA>M AL-GHAZA>LI> DALAM KITAB
IHYA>’ ULU>MUDDIN DAN IBNU TAIMIYAH DALAM KITAB MAJMU>’
FATA>WA> TENTANG KONSEP ETIKA MURIDTERHADAP GURU DALAM
PENDIDIKAN ISLAM
SKRIPSI
OLEH:
ALIYATUL WAKHIDAH NIM: 210314267
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONOROGO
ABSTRAK
Wakhidah, Aliyatul. 2018. Studi Komparasi: Pemikiran Ima>m Al-Ghaza>li> dalam Kitab Ihya>’ Ulu>muddin dan Ibnu Taimiyah dalam Kitab Majmu>’ Fata>wa> Tentang Konsep Etika Murid Terhadap Guru dalam Pendidikan Islam. Skripsi. Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Ponorogo. Pembimbing, Dr. Evi Muafiah, M.Ag.
Kata Kunci: Etika, Ima>m Al-Ghaza>li,> Ibnu Taimiyah, Pendidikan Islam
Latar belakang penelitian ini berawal dari keprihatinan peneliti yang disebabkan menurunnya etika murid pada saat ini. Terlihat dari banyaknya pemberitaan tentang akhlakatau etika murid/siswa yang tidak sepantasnya ditampakkan atau kurangnya pendidikan moral pada murid/siswa di era globalisasi ini.
Penelitian ini bertujuan: 1) Untuk mengetahui pemikiran Ima>m Al-Ghaza>li>
dalam Kitab Ihya>’ Ulu>muddin Tentang Konsep Etika Murid Terhadap Guru dalam Pendidikan Islam. 2) Untuk mengetahui pemikiran Ibnu Taimiyah dalam Kitab
Majmu>’ Fata>wa> Tentang Konsep Etika Murid Terhadap Guru dalam Pendidikan Islam. 3) Untuk mengetahui persamaan dan perbedaan pemikiran Ima>m Al-Ghaza>li>
dalam Kitab Ihya>’ Ulu>muddin dan Ibnu Taimiyah dalam Kitab Majmu>’ Fata>wa> Tentang Konsep Etika Murid Terhadap Guru dalam Pendidikan Islam.
Jenis penelitian yang digunakan adalah pustaka (Library Research). Menggunakan metode dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan metode Content Analisis dan analisis komparatif.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan: 1) Etika murid dalam menuntut ilmu menurut Ima>m Al-Ghaza>li: Seorang murid hendaknya mempunyai tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT, tidak bersikap sombong, hendaknya mengetahui faktor penyebab dengannya ia mengetahui ilmu yang paling mulia, mendahulukan kesucian jiwa, mengurangi ketertarikannya dengan dunia, menjaga diri dari perselisihan manusia, tidak boleh meninggalkan suatu cabang ilmu yang terpuji, tidak menekuni semua bidang ilmu secara sekaligus, ilmunya harus bertahap dan hendaklah mengetahui kaitan ilmu dengan tujuan. 2) Etika murid dalam menuntut ilmu menurut Ibnu Taimiyah: Sebagai murid hendaknya memiliki niat yang baik, mengharapkan ridha Allah SWT, hendaknya mengetahui tentang cara memuliakan gurunya, mau menerima setiap ilmu sepanjang ia mengetahui sumbernya, tidak memihak atau menyalahkan mahdzab orang lain. 3) Persamaan: tujuan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, bersabar dalam menjalani proses belajar serta niatkan balajar untuk beribadah hanya kepada Allah. Hal ini terdapat kesesuaian dengan kode etik peserta didik dalam pendidikan Islam. Perbedaan Ima>m
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam dunia pendidikan ada beberapa aspek tidak lepas dari adanya proses belajar dan mengajar yang meniscayakan adanya hubungan antara murid dan guru. Hal ini sudah menjadi perhatian para pendidik pada masa klasik maupun moderen.1 Pendidikan merupakan faktor yang sangat penting dalam kehidupan sosial guna menjamin perkembangan dan kelangsungan hidup masyarakat. Manusia sebagai warga masyarakat dengan berbagai lapisannya berhak mendapatkan pendidikan yang layak, sehingga dalam hidup dan kehidupannya mempunyai tendensi ke arah kemajuan dan perkembangan yang positif, ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Menurut Ahmad Hidayat, sebagaimana yang dikutip oleh A Syaifuddin, dalam bukunya yang berjudul Percikan Ima>m Al-Ghaza>li> menyatakan lebih lanjut bahwa untuk keperluan itu, manusia menuntut adanya suatu sistem yang dikenal dengan istilah pendidikan. Dengan adanya pendidikan, diharapkan manusia terutama muslim dapat menggunakan akalnya secara luas dan benar sesuai dengan konstitusi Islam.2
Pemikiran pendidikan sampai kapan pun akan memiliki daya tarik tersendiri untuk selalu ditelaah dan menjadi sebuah kajian yang tidak
1Sya‟roni, Model Relasi Guru dan Murid
, (Yogyakarta: Teras, 2007), 5.
2
membosankan. Sebab pemikiran pendidikan menampilkan sosok sekaligus pemikiran yang unik dan berbeda antara satu tokoh dengan tokoh yang lain. Gagasan atas tokoh yang didokumentasikan memberi manfaat sekaligus sebagai cermin kehidupan bagi generasi masa kini dan masa yang akan datang. Sehingga pada titik terakhir gagasan pemikiran berbagai tokoh pendidikan mampu membekali kita untuk memiliki keberagamaan pemahaman sekaligus diimplementasikan dalam kehidupan, yakni menjadi Khali>fatullah.3
Pemikiran berasal dari kata dasar pikir yang artinya berproses, cara perbuatan mikir. Adapun konsep yang berkaitan dengan pemikiran ialah sentiensi atau merancang, kesadaran, idea dan imaginasi atau secara umum pemikiran berarti menggunakan akal pikiran dan budi untuk memutuskan suatu persoalan dengan mempertimbangkan segala sesuatu secara bijaksana. Dalam konteks tersebut, pemikiran pada hakikatnya dapat dimaknai sebagai upaya menelaah secara cermat dan kreatif terhadap sebuah gejala atau fenomena di masyarakat secara luas guna menemukan solusi secara tepat dengan melibatkan peran akal dan kalbu.
Pemikiran pendidikan Islam sebagai bagian penting atas perkembangan dan kemajuan pendidikan Islam tentunya harus memiliki dan mendapat prioritas untuk dikaji secara dinamis. Semenjak masa Nabi Muhammad SAW sebagaimana dimulainya proses pendidikan hingga saat ini. Beliau sebagai seorang pendidik pada saat itu mampu menerapkan konsep pendidikan tidak
3
sebatas pengajaran namun mencakup pendidikan itu sendiri. Dengan kata lain proses pendidikan Nabi tidak sebatas mengajarkan fakta-fakta dan pengetahuan Islam, namun lebih mengajarkan bagaimana menjadi seorang muslim yang sejati. Inilah nilai keteladanan atas pemikiran pendidikan pertama dalam dunia Islam yang kemudian diikuti oleh tokoh-tokoh Islam yang lain.4
Pendidikan agama mempunyai tujuan untuk mendidik akhlak dan jiwa mereka, menanamkan rasa fadhi>lah (keutamaan) membiasakan mereka dengan kesopanan yang tinggi, mempersiapkan mereka untuk suatu kehidupan yang suci seluruhnya ikhlas dan jujur.5
Menurut Imam Raghib sebagaimana yang dikutip oleh Abu Muhammad Iqbal, dalam bukunya yang berjudul Pemikiran Pendidikan Islam, membagi ilmu menjadi 2 yakni ilmu teoretis dan ilmu aplikatif. Ilmu teoritis berarti ilmu yang hanya membutuhkan pengetahuan tentangnya. Jika telah diketahui berarti telah sempurna seperti ilmu tentang keberadaan dunia. Sementara ilmu aplikatif adalah ilmu yang tidak sempurna tanpa dipraktikkan seperti ilmu tentang ibadah, akhlak dan lain sebagainya.
Kemuliaan ilmu sudah jelas dapat diketahui oleh setiap orang, sebab ilmu ini khusus dimiliki oleh manusia. Dengan ilmu Allah SWT mengunggulkan Adam as di atas malaikat dan bahkan kepada Nabi Adam pula ia diperintah agar sujud dan menghormat kepadanya. Karena ilmu ditafsiri dengan sifat yang kalau
4
Ibid., 4-5.
5
dimiliki oleh seseorang maka menjadilah apa yang terlintas di dalam pengertiannya. Dikatakan tidak ada ilmu kecuali dengan diamalkan, hal tersebut adalah meninggalkan tujuan duniawi menuju ukhrawi. Setiap orang seharusnya tidak sampai melupakan dirinya dari hal-hal yang berguna, agar akal dan ilmu tidak menjaga dalih dan menyebabkannya bertambah maksiat.6
Akhlak mampu terbentuk jika terdapat interaksi atau hubungan. Dalam dunia pendidikan sendiri terdapat interaksi antara guru dan murid. Hubungan guru dan murid adalah hubungan ilmu pengetahuan yang setelah diberikan akan bersatu bersama dan nantinya kedudukan guru sebagai pelaksana tugas orang tua. Sehingga guru merupakan wakil dari orang tua dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran. Dari segi konsumsi rohani kedudukan guru di bawah kedudukan orang tua. Bahkan terkadang masalah-masalah pendidikan dan konsumsi rohani seseorang lebih banyak didapatkan dari guru daripada orang tua.7
Guru dan murid berperan penting dalam pendidikan terutama dalam kegiatan pembelajaran. Dalam proses belajar mengajar yang terjadi adalah interaksi antara guru dan murid, antara dimengerti dan yang tidak dimengerti, namun semua itu pasti berjalan atas kemauan kedua belah pihak. Tujuannya adalah untuk mencari dan mengamalkan ilmu tersebut. Sesungguhnya yang
6
Abu Muhammad Iqbal, Pemikiran Pendidikan Islam, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2015), 380.
7
demikian itu, sopan santun ataupun tatakrama dalam mencari ilmu harus tetap dipegang dan dilaksanakan kedua belah pihak terutama bagi seorang murid.8
Dalam hal ini keprihatinan dan kegelisahan peneliti disebabkan menurunnya etika murid pada saat ini. Terlihat dari banyaknya pemberitaan tentang etika atau akhlak murid/siswa yang tidak sepantasnya ditampakkan atau kurangnya pendidikan moral pada murid/siswa di era globalisasi ini. Misalnya seorang murid/siswa tidak boleh banyak bertanya kepada gurunya sebelum waktunya. Etika ini sudah tidak kondisional lagi digunakan dalam proses belajar mengajar, sebab dimasa sekarang informasi tidak hanya diperoleh dari guru saja tapi bisa juga dari alat elektronika seperti handpone, televisi atau yang lain.9
Dari permasalahan tersebut kita perlu mengetahui pemikiran para tokoh-tokoh pendidikan Islam. Tokoh pendidikan Islam di dunia ini ada banyak sekali diantaranya: Ima>m Al-Ghaza>li>, Ibnu Taimiyah, Ibnu Si>na, Ima>m Burha>n al-Di>n al-Zarmu>ji>, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Ibnu Miskawai>h, Ibnu Khaldu>n, Abdullah Nasih Ulwan dll. Diantara sekian banyak tokoh pemikir pendidikan Islam penulis tertarik untuk mengkaji tokoh Ima>m Al-Ghaza>li> dan Ibnu Taimiyah. Keduanya sama-sama memiliki kiprah dalam dunia pendidikan yaitu sebagai seorang yang ahli Tasawuf dan juga sebagai pendidik namun juga memiliki perbedaan dalam hal pola pikir antar keduanya.
8
Abu Muhammad Iqbal, Pemikiran Pendidikan Islam, 63.
9
Ima>m Al-Ghaza>li> merupakan pemikir Islam yang terkemuka. Kitab-kitab karangan beliau telah tersebar diseluruh penjuru dan banyak juga yang telah menggunakan atas apa yang telah diijtihadkan beliau. Salah satu kitab karangan beliau yang fenomenal dan sangat populer adalah kitab Ihya>’ Ulu>muddin. Kitab tersebut membahas beberapa pokok bahasan tentang beragama. Salah satu yang menarik adalah pembahasan tentang konsep beliau tentang pendidikan akhlak/adab.10
Ibnu Taimiyah digolongkan pemikir tauhid Islam yang paling penting, karangannya sampai sekarang hanya sedikit dipelajari secara detail. Lagi pula, walaupun pendapat Ibnu Taimiyah sangat memengaruhi sejumlah besar pemikir Islam pada zaman moderen ini, interpretasi atau tafsiran terhadap pemikiran Ibnu Taimiyah sering sangat berbeda. Maka pentinglah dalam hal ini kembali ke teks-teks karangan Ibnu Taimiyah yang autentik untuk memperoleh pengertian tentang pendapatnya yang autentik pula, yang telah menimbulkan macam-macam tafsiran tersebut.11
Ima>m Al-Ghaza>li> dan Ibnu Taimiyah dua tokoh yang memiliki kiprah dalam dunia pendidikan Islam. Sebagai seorang pendidik kedua tokoh tersebut sangat patut dijadikan teladan oleh para guru. Dengan keteladanan sebagai seorang guru yang dimiliki oleh Ima>m Al-Ghaza>li> dan Ibnu Taimiyah tentunya dapat dipelajari bagaimana kedua tokoh tersebut menunjukkan dan
10
Achmad Sunarno, Ayyuhal Waladul Muhibbu, (Surabaya: MUTIARA ILMU, 2014), 49.
11
menyampaikan pandangannya mengenai etika seorang murid terhadap guru. Sehingga dari hal itu, peneliti berkeinginan untuk mengkaji pemikiran kedua ilmuan tersebut tentang etika seorang murid terhadap guru dalam pendidikan Islam yang akan disusun sebagai skripsi dengan judul “Studi Komparasi: Pemikiran Ima>m Al-Ghaza>li> dalam Kitab Ihya>’ Ulu>muddin dan Ibnu Taimiyah Dalam Kitab Majmu>’ Fata>wa> Tentang Konsep Etika Murid Terhadap Guru dalam Pendidikan Islam”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang sebagaimana yang dipaparkan di atas, maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pemikiran Ima>m Al-Ghaza>li> dalam Kitab Ihya>’ Ulu>muddin Tentang Konsep Etika Murid Terhadap Guru dalam Pendidikan Islam ? 2. Bagaimana pemikiran Ibnu Taimiyah dalam Kitab Majmu>’ Fata>wa>
Tentang Konsep Etika Murid Terhadap Guru dalam Pendidikan Islam ? 3. Bagaimana persamaan dan perbedaan pemikiran Ima>m Al-Ghaza>li> dalam
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan:
1. Untuk mengetahui pemikiran Ima>m Al-Ghaza>li> dalam Kitab Ihya>’
Ulu>muddin Tentang Konsep Etika Murid Terhadap Guru dalam Pendidikan Islam.
2. Untuk mengetahui pemikiran Ibnu Taimiyah dalam Kitab Majmu>’ Fata>wa> Tentang Konsep Etika Murid Terhadap Guru dalam Pendidikan Islam. 3. Untuk mengetahui persamaan dan perbedaan pemikiran Ima>m Al-Ghaza>li>
dalam Kitab Ihya>’ Ulu>muddin dan Ibnu Taimiyah dalam Kitab Majmu>’
Fata>wa> Tentang Konsep Etika Murid Terhadap Guru Pendidikan Islam.
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah: 1. Manfaat Teoretis
a. Sebagai bahan rujukan/referensi untuk dasar pengembangan penelitian berikutnya yang terkait dengan penelitian ini, terutama penelitian yang berhubungan dengan tugas akhir (skripsi).
2. Manfaat Praktis a. Bagi Peneliti
Memberikan pengalaman kepada penulis untuk memperluas wawasan dan pengetahuan tentang konsep etika murid terhadap guru dalam pendidikan Islam.
b. Guru
Sebagai rujukan untuk mendidik peserta didik dengan strategi mengajar yang baik sehingga melahirkan generasi Islam yang gigih, memperjuangkan agama Islam serta dapat meningkatkan mutu pendidikan dalam dunia Islam melalui etika peserta didik yang diharapkan bisa menjadi generasi penerus agama.
c. Murid/Peserta Didik
Memberikan pencerahan untuk menjadi murid/peserta didik yang taat dan selalu menjaga etika yang baik dalam mencari ilmu untuk melaksanakan tugas hidup dalam kehidupan dunia dan akhirat, sehingga bisa merasakan kenikmatan dan kelezatan ilmu yang dimilikinya selama belajar.
E. Telaah Hasil Penelitian Terdahulu
dengan penelitian ini. Adapun hasil temuan penelitian terdahulu adalah sebagai berikut:
1. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Mar‟atus Solikhah, skripsi tahun 2012 dengan judul Etika belajar dalam kitab Ta’li>m al-Muta ‘ali>m Ta>riq
al-Ta’lu>m.12 Hal ini mendapat perhatian yang sangat besar sekali oleh para
tokoh pendidikan Islam, karena realitanya banyak siswa yang belajar dan menguasai ilmunya akan tetapi kurangnya rasa tawadu‟, sehingga mereka tidak bisa merasakan kenikmatan dan kemanfaatan ilmu tersebut. Adapun rumusan masalahnya: (a) Bagaimana etika siswa terhadap ilmu dalam kitab Ta’li>m al-Muta ‘ali>m Ta>riq al-Ta’lu>m karya Ima>m Burha>n al-Di>n al-Zarmu>ji> dalam prespektif pendidikan Islam? (b) Bagaimana etika siswa terhadap guru dalam kitab Ta’li>m al-Muta ‘ali>m Ta>riq al-Ta’lu>m karya I Ima>m Burha>n
al-Di>n al-Zarmu>ji> dalam prespektif pendidikan Islam? Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif dan jenis penelitian yang digunakan ialah kepustakaan atau Library Research. Pengumpulan datanya dengan jalan Editing, Organizing dan penemuan hasil penelitian. Sedangkan analisis data yang dipakai adalah analisis isi (contet analysis). Hasil penelitiannya adalah etika siswa terhadap ilmu yang terdapat dalam kitab Ta’li>m al-Muta ‘ali>m Ta>riq al-Ta’lu>m karya Ima>m Burha>n al-Di>n al-Zarmu>ji> meliputi: seorang siswa harus bisa memilih ilmu yang terbagus, sabar dan
12Mar‟atus Solikhah,
tabah dalam belajar menuntut ilmu, menghormati atau ta‟zim terhadap ilmu dan ahli ilmu, menghormati kitab, mampu menghindari sifat-sifat tercela, bersungguh-sungguh dalam belajar dan berdo‟a sebelum memulai pelajaran. Semuanya ini terdapat kesesuaian dengan prespektif dalam pendidikan Islam. Etika siswa terhadap guru dalam kitab Ta’li>m al-Muta ‘ali>m Ta>riq al-Ta’lu>m karya Ima>m Burha>n al-Di>n al-Zarmu>ji> meliputi siswa harus: menghormati guru dengan memuliakannya, menyerahkan urusan pemilihan pada bidang ilmu terhadap guru dan mendengarkan penjelasan guru dengan penuh hormat. Hal ini terdapat kesesuaian dengan prespektif dalam pendidikan Islam.
2. Hasil telaah lainnya adalah Idfi Riandanita, skripsi tahun 2017 dengan judul Etika Guru dalam Pendidikan Islam (Studi Komparasi Pemikiran KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari>).13 Adapun rumusan masalaahnya: (a) Bagaimana pemikiran KH. Ahmad Dahlan tentang etika guru dalam pendidikan Islam? (b) Bagaimana pemikiran KH. Hasyim Asy’ari> tentang etika guru dalam pendidikan Islam? (c) Bagaimana perbedaan dan persamaan pemikiran KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari> tentang etika guru dalam pendidikan Islam? Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan atau Library Reasearch. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat banyak perbedaan melainkan lebih banyak terdapat persamaan
13
mengenai pemikiran KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari> tentang etika guru dalam pendidikan Islam. Perbedaan yang menonjol dari pemikiran keduanya tentang etika guru adalah Kiai Ahmad Dahlan lebih menunjukkan sifat guru yang harus menjadi teladan dan memiliki sifat terbuka bagi para anak didiknya. Sedangkan Kiai Hasyim Asy’ari> lebih menekankan seorang guru harus memiliki hati yang bersih dalam mengajar dan sangat menjaga kewibawaannya sebagai seorang guru. Sedangkan persamaan yang muncul yaitu Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asy’ari> sama-sama menganjurkan seorang guru untuk memiliki kasih sayang kepada anak didiknya, memperingatkan anak didik akan tujuan menuntut ilmu tidak hanya untuk keperluan duniawi semata, mencegah anak didiknya agar tidak terjerembab pada akhlak tercela, menganjurkan muridnya untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, dan menyampaikan materi pelajaran sesusai dengan kemampuan anak didiknya.
3. Hasil penelitian selanjutnya adalah Umi Noor Fadillah, Skripsi Tahun 2007 dengan judul Implementasi Nilai-Nilai etika sosial Pemikiran „Abdullah
Nasih „Ulwan dalam kitab Al-Au>lad Fi> Al-Islam” (Studi Kasus di Pondok Al-Hidayat Ginuk Kecamatan Karas Kabupaten Magetan).14 Adapun rumusan masalahnya: (a) Bagaimana etika sosial dalam pemikiran „Abdulah
Nasih „Ulwan? (b) Bagaimana implementasi nilai-nilai etika sosial di Pondok
14
Pesantren Al-Hidayat Ginuk Kecamatan Karas Kabupaten Magetan? Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Adapun teknik pengumpulan datanya meggunakan data reduction, data display dan conclucion. Dari hasil penelitian ini memiliki sebuah kesimpulan yakni: etika makan dan minum menurut pemikiran Abdullah Nasih Ulwan diantaranya adalah mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, membaca basmallah sebelum makan dan hamdallah sesudah makan dll. Etika mengucapkan salam menurut pemikiran Abdullah Nasih Ulwan diantaranya mengucapkan salam ketika memasuki rumah, tidak mengucapkan salam seperti non muslim, dan menjawab salam kepada non muslim dengan “wa‟alaikum”. Etika meminta izin menurut pemikiran Abdullah Nasih Ulwan diantaranya ialah memberi salam terlebih dahulu ketika hendak meminta izin, memberitahukan namanya dll. Etika di dalam majelis menurut pemikiran Abdullah Nasih Ulwan diantaranya adalah menjabat tangan orang yang sedang ditemui dalam majelis, duduk ditempat yang telah ditentukan tuan rumah, duduk sejajar, dilarang berisik, meminta
izin sebelum keluar dari majelis, membaca do‟a kafaratul majlis. Etika
selamat dengan do‟a, dan mengucapkan selamat dan saling memberi hadiah.
Etika menjenguk orang yang sakit dalam pemikiran Abdullah Nasih Ulwan diantaranya yaitu memperhitungkan waktunya, dianjurkan bertanya tentang keadaan-keadaan sakitnya, mengingatkan orang sakit dengan kalimat La>
Ila>ha Illalla>h apabila ajal sudah dekat. Etika bersin dan menguap dalam pemikiran Abdullah Nasih Ulwan diantaranya ialah megucapkan kalimat hamdalah, rahmah dan hidayah. Dimakhruhkan mengeraskan suara ketika menguap. Etika sosial yang dilaksanakan santri Al-Hidayat Ginuk Magetan dapat dikatakan seimbang, karena ada yang sesuai dan juga ada yang tidak sesuai seperti membaca rahmah dan hidayah ketika bersin. Ketika bersin
mendo‟akan orang yang mengucapkan Alhamdulillah. Namun ternyata juga
ada etika santri yang tidak dijleaskan Abdullah Nasih Ulwan seperti menutup mulut dengan tangan kiri baik dibalik maupun tidak ketika menguap.
Dari beberapa penelitian terdahulu terdapat persamaan dan perbedaan. Diantara persamaannya adalah membahas tentang masalah etika sedangkan perbedaannya terletak pada subyek, yakni pada tokoh yang akan diteliti. Maka jelaslah bahwa dalam penelitian yang akan dilakukan sangatlah berbeda dengan penelitian sebelumnya. Penelitian yang akan peneliti lakukan ini adalah Studi Komparasi: Pemikiran Ima>m Al-Ghaza>li> dalam Kitab Ihya>’
F. Metode Penelitian 1. Pendekatan Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah kepustakaan (Library Research) dan pendekatan penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif yaitu penelitian yang dilaksanakan dengan menggunakan literatur atau kepustakaan, baik berupa buku, catatan maupun laporan hasil penelitian dari penelitian terdahulu.15
2. Data dan Sumber Data
Sumber data yang dijadikan bahan-bahan dalam kajian ini merupakan sumber data yang diperoleh dari bahan-bahan pustaka yang dikategorikan sebagai berikut:
a. Sumber Data Primer
Merupakan bahan utama atau rujukan utama dalam mengadakan suatu penelitian untuk mengungkapkan dan menganalisis penelitian tersebut. Adapun data Primer yang digunakan adalah:
1) Abu> Ha>mid Muhammad bin Muhammad Al-Ghaza>li, kitab Ihya>’
Ulu>muddin.
2) Syaikhul Isla>m Taqiyyuddi>n Ibnu Taimiyah, Majmu>’ Fata>wa>.
3) Shalih Ahmad asy-Syami, Untaian Nasehat Ibnu Taimiyah, (Jakarta: TUROS, 2014).
15
4) Achmad Sunarno, Ayyuhal Waladul Muhibbu, (Surabaya: MUTIARA ILMU, 2014).
b. Sumber Data Sekunder
Yaitu buku-buku yang ditulis oleh tokoh-tokoh lain yang berkaitan dengan dalam kajian ini, diantaranya:
1) A Syaifuddin, Percikan Ima>m Al Ghaza>li>, (Bandung Pustaka Setia, 2005.
2) Abuddin Nata, Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2003).
3) Abu Muhammad Iqbal, Pemikiran Pendidikan Islam, (Yogyakarta, Pustaka Pelajar), 2015.
4) Arief Furchan, Agus Maimun, Studi Tokoh (Metode Penelitian Mengenai Tokoh), (Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR, 2005). 5) Hasan Basari, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia,
2009).
6) Mahmud, Pemikiran Pendidikan Islam, (Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2011).
7) Moh. Hitami Salim dan Syamsul Kurniawan, Studi Ilmu Pendidikan Islam, (Jogjakarta: ar-Ruzz Media, 2012).
9) Noeng Muhajir, Metodologi Pendidikan Kualitatif, (Yogyakarta: Bayu Indah Grafika, 1987).
10)Rachmat Djatmika, Sistem Etika Islami, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1996).
11)Ramayulis dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2009).
12) Safrudin Aziz, Pemikiran Pendidikan Islam, (Yogyakarta: KALIMEDIA, 2015).
3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam studi ini dilakukan dalam tiga tahap, yaitu :
a. Tahap Orientasi
Pada tahap ini, peneliti mengumpulkan data secara umum tentang Ima>m Al-Ghaza>li> dan Ibnu Taimiyah untuk mencari hal-hal menarik dan penting untuk diteliti. Dari sini, peneliti kemudian menentukan fokus studi, yang terdiri dari biografi Ima>m Al-Ghaza>li> dan Ibnu Taimiyah serta Pemikiran pendidikan tentang etika murid terhadap guru dalam Pendidikan Islam menurut Ima>m Al-Ghaza>li> dan Ibnu Taimiyah.
b. Tahap Eksplorasi
sebagaimana telah dipaparkan di atas, peneliti mulai melakukan kegiatan dengan mengumpulkan data sesuai dengan fokus studi tersebut.
c. Tahap Penelitian Terfokus
Pada tahap ini, peneliti mulai melakukan studi secara mendalam yang terfokus pada studi, yang terdiri dari Biografi Ima>m Al-Ghaza>li> dan Ibnu Taimiyah serta Pemikiran pendidikan tentang etika murid terhadap guru dalam Pendidikan Islam menurut Ima>m Al-Ghaza>li> dan Ibnu Taimiyah.16
Karena penelitian ini berbentuk Library Research, maka dalam mengumpulkan data menggunakan metode dokumentasi.17 Dengan metode dokumentasi, peneliti dapat mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, majalah, buku atau karya-karya yang dihasilkan Ima>m Al-Ghaza>li> dan Ibnu Taimiyah selama ini serta tulisan-tulisan orang lain yang berkaitan dengan Ima>m Al-Ghaza>li> dan Ibnu Taimiyah.
Meliputi buku dokumen pribadi Ima>m Al-Ghaza>li> dan Ibnu Taimiyah yang terkait dengan pemikiran pendidikan yang dilakukan oleh Ima>m Al-Ghaza>li> dan Ibnu Taimiyah tentang etika murid terhadap guru dalam pendidikan Islam.
16
Arief Furchan, Agus Maimun, Studi Tokoh (Metode Penelitian Mengenai Tokoh), (Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR, 2005), 47-49.
17
4. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah kegiatan mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, memberi kode atau tanda dan mengkatagorikan data sehingga dapat ditemukan dan dirumuskan hipotesis kerja berdasarkan data tersebut.18
Analisis data kualitatif dalam studi tokoh dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Menemukan pola atau tema tertentu. Artinya, peneliti berusaha mengungkap karakteristik pemikiran yang tokoh dengan cara menata dan melihatnya berdasarkan dimensi suatu bidang keilmuan sehingga dapat ditemukan pola atau tema tertentu.
b. Mencari hubungan logis antara pemikiran sang tokoh dalam berbagai bidang, sehingga dapat ditemukan alasan mengenai pemikiran tersebut. c. Mengklasifikasikan dalam arti membuat pengelompokan pemikiran sang
tokoh sehingga dapat dikelompokkan ke dalam berbagai bidang/aspek pendidikan Islam yang sesuai. Dengan pengelompokan semacam ini peneliti akan dapat menarik kesimpulan berdasarkan studi atas sang tokoh.
d. Mencari generalisasi yang spesifik. Artinya, berdasarkan temuan-temuan yang spesifik tentang sang tokoh, peneliti mungkin akan dapat menemukan aspek-aspek yang dapat digeneralisasikan untuk tokoh-tokoh
18
lain yang serupa. Dengan demikian, studi tokoh tersebut akan memiliki keberlakuan yang cukup luas dalam bidangnya.19
Penelitian ini menggunakan teknik analisis isi (content analysis) dan analisis komparatif. Analisis isi adalah suatu teknik penelitian untuk membuat kesimpulan-kesimpulan (inferensi) yang dapat ditiru (replicabel) dan dengan data yang valid, dengan memperhatikan konteksnya.
Teknik ini dimaksudkan untuk menganalisis konsep pemikiran Ima>m
Al-Ghaza>li> dengan Ibnu Taimiyah Tentang Konsep Etika Murid Terhadap Guru dalam Pendidikan Islam secara lebih mendalam.
Dalam penelitian ini, penulis memulainya dari tahapan merumuskan masalah, membuat latar belakang masalah, mencari landasan teori, menentukan metode penelitian, menentukan teknik pengumpulan data dan kemudian sampai pada tahap mengumpulkan metode analisis data.20
G. Sistematika Pembahasan
Rencana pembahsan dalam penelitian ini dibagi ke dalam beberapa bab yang masing-masing bab mempunyai sub-sub bab, dan masing-masing bab itu saling berkaitan satu sama lainnya, sehingga membentuk rangkaian kesatuan pembahasan. Dimulai dengan:
19
Ibid., 60-62.
20
Bab pertama yang memaparkan pendahuluan, yang terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan kajian, manfaat kajian, telaah hasil penelitian terdahulu, metodologi penelitian, dan sistematika pembahasan.
Bab kedua merupakan landasan teori yang berisi tentang konsep Konsep Etika, Murid, Guru dan Pendidikan Islam.
Bab ketiga Boigrafi Ima>m Al-Ghaza>li> dan Ibnu Taimiyah yang berisi tentang, Riwayat Hidup Ima>m Al-Ghaza>li> dan Ibnu Taimiyah, Corak Pemikiran Ima>m Al-Ghaza>li> dan Ibnu Taimiyah dan Karya-Karya Ima>m
Al-Ghaza>li> dan Ibnu Taimiyah.
Bab keempat adalah anlisis komparasi pemikiran Ima>m Al-Ghaza>li>
dalam kitab Ihya>’ Ulu>muddin dan Ibnu Taimiyah dalam kitab Majmu>’
BAB II
KONSEP ETIKA, MURID, GURU DAN PENDIDIKAN ISLAM
A. Etika
1. Pengertian Etika
Kata etika berasal dari bahasa Yunani yang artinya adat kebiasaan. Hal ini berarti sebuah tuntunan perilaku berdasarkan suatu sistem nilai dalam masyarakat tertentu. Etika lebih banyak berkaitan dengan ilmu atau filsafat. Oleh karena itu, standar baik dan buruk adalah akal manusia.21 Secara etimologi etika berasal dari kata Yunani “Ethos” yang berarti watak kesusilaan atau adat. Identik dengan perkataan moral yang berasal dari kata Latin “Mos” yang dalam bentuk jamaknya “Mores” yang berarti juga adat atau cara hidup.22
Dalam kamus besar bahasa Indonesia etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral atau akhlak. Di dalam Ensiklopedi Pendidikan tersebut di atas diterangkan bahwa etika adalah filsafat tentang nilai, kesusilaan tentang baik dan buruk. Kecuali mempelajari nilai-nilai itu sendiri. Sebagai cabang filsafat yang mempelajari tingkah laku manusia untuk menentukan nilai perbuatan baik atau buruk, ukuran yang dipergunakannya adalah akal pikiran. Akallah yang menentukan
21
Zainuddin Ali, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Bumu Aksara, 2012), 29
22
apakah perbuatan manusia itu baik atau buruk. Kalau moral dan etika diperbandingkan, secara jelas moral bersifat praktis sedangkan etika bersifat teoritis. Moral bersifat lokal dan etika bersifar regional.23
Dalam hal ini adab merupakan pengenalan dan pengakuan terhadap realitas bahwasanya ilmu dan segala sesuatu yang ada terdiri dari tingkatan yang sesuai dengan kategori-kategorinya dan bahwa seseorang itu memiliki tempatnya masing-masing dalam kaitannya realitas, kapasitasnya, potensi fisik, intelektual dan spiritualnya.24 Pemaknaan tertua dari kata adab mengimplikasikan suatu kebiasaan, suatu norma tingkah laku dengan kondisi ganda yakni: pertama nilai tersebut dipandang terpuji dan kedua nilai tersebut diwariskan dari generasi ke generasi. Dengan demikian unsur utama etika ialah muatan nilai baik dan kelanggengan melalui pewarisan antar generasi.25
Kejayaan seseorang terletak pada akhlaknya, akhlak yang baik selalu membuat seseorang disekitarnya menjadi tenang, aman dan terhindar dari perbuatan tercela. Seseorang yang akhlaknya buruk menjadi sorotan bagi sesamanya, bagi keluarga, bagi masyarakat dan negara. Rasulullah SAW menegaskan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak
23
Muhammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1998), 354
24
Ibid., 315.
25
mulia.26Akhlak yang baik adalah baik dan terpuji menurut akal (agama) dan syariat sedangkan akhlak yang buruk adalah buruk menurut akal dan syariat.27
Adapun tata krama dan kewajiban seorang murid bersopan santun dalam kehidupan sehari-hari adalah suatu kewajiban yang bersifat pribadi, apalagi sopan santun kepada guru merupakan suatu tuntutan yang harus dilakukan. Guru adalah ibarat seorang pemimpin bagi rakyatnya, dia harus jujur, disiplin, adil dan bijaksana dalam setiap bertindak, seorang murid harus patuh dan taat terhadap perintah guru asalkan perintah itu tidak menyalahi aturan agama yang bermuara pada perbuatan maksiat.28
2. Etika dalam Ajaran Islam
Istilah etika dalam ajaran Islam tidak sama dengan apa yang diartikan oleh para ilmuan Barat. Bila etika Barat sifatnya “antroposentrik” (berkisar sekitar manusia), maka etika Islam bersifat “teosentrik” (berkisar sekitar Tuhan). Dalam etika Islam pembaharuan selalu dihubungkan dengan amal shaleh atau dosa, dengan pahala atau siksa dengan surga atau neraka.
Menurut Hamzah Ya‟qub sebagaimana yang dikutip oleh Akmal Hawi, dalam bukunya yang berjudul Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam teologis pengertian etika adalah yang menjadi ukuran baik dan buruknya perbuatan manusia, didasarkan atas ajaran Allah SWT. Segala perbuatan yang diperintahkan oleh Allah SWT itulah yang baik dan segala
26
Muhamad Muntahibun Nafs, Ilmu Pendidikan Islam, (Yogyakarta: TERAS, 2011), 130.
27
Mahmud, Pemikiran Pendidikan Islam, (Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2011), 255.
28
perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT itulah perbuatan buruk. Karakter khusus etika Islam sebagian besar tergatung kepada konsepnya mengenai manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, dengan dirinya sendiri, dengan alam dan masyarakat.29
B. Murid
1. Pengertian Murid
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, murid berarti orang (anak yang sedang berguru (belajar, sekolah).30 Sedangkan menurut Shafique Ali Khan, dalam bukunya sendiri yang berjudul Filsafat Pendidikan Al-Ghaza>li> pengertian murid adalah orang yang datang ke suatu lembaga untuk memperoleh atau mempelajari beberapa tipe pendidikan. Seorang murid adalah orang yang mempelajari ilmu pengetahuan berapa pun usianya, dari mana pun, siapa pun, dalam bentuk apa pun, dengan biaya berapa pun untuk meningkatkan intelektual dan moralnya dalam rangka mengembangkan dan membersihkan jiwanya dan mengikuti jalan kebaikan.31
Murid atau anak didik adalah salah satu komponen manusiawi yang menempati posisi sentral dalam proses belajar-mengajar. Di dalam proses belajar-mengajar, murid sebagai pihak yang ingin meraih cita-cita, memiliki
29
Akmal Hawi, Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam, 49-50.
30
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1990), 601.
31
tujuan dan kemudian ingin mencapainya secara optimal. Murid akan menjadi faktor penentu, sehingga dapat mempengaruhi segala sesuatu yang diperlukan untuk mencapai tujuan belajarnya. Murid atau anak adalah pribadi yang unik yang mempunyai potensi dan mengalami proses berkembang. Dalam proses berkembang itu anak atau murid membutuhkan bantuan yang sifat dan coraknya tidak ditentukan oleh guru tetapi oleh anak itu sendiri, dalam suatu kehidupan bersama dengan individu-individu yang lain.32
2. Kebutuhan Murid
Satu hal yang juga perlu mendapat perhatian pendidik dalam membimbing peserta didiknya adalah kebutuhan mereka. Menurut Al-Qusy sebagaimana yang dikutip oleh Zakiah Daradjat dkk, dalam bukunya yang berjudul Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam mengatakan bahwa kebutuhan peserta didik secara umum dapat dibagi menjadi dua kebutuhan pokok. Pertama kebutuhan jasmani seperti makanan, minuman, seks dan sebagainya. Kedua, kebutuhan rohani. Kebutuhan rohani ini dibagi menjadi enam macam yakni: Kebutuhan kasih sayang, akan rasa aman, akan rasa harga diri, akan rasa bebas, akan rasa sukses dan akan suatu kekuatan pembimbing atau pengendalian diri manusia, seperti pengetahuan-pengetahuan lain yang ada pada diri setiap manusia.33
32
Zakiah Daradjat, dkk, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta, Bumi Aksara, 1995), 268.
33
Selain beberapa kebutuhan di atas terdapat kebutuhan yang paling esensi, yaitu kebutuhan pada agama. Agama dibutuhkan oleh manusia karena memerlukan orientasi dan objek pengabdian dalam hidupnya. Oleh karena itu, tidak ada seorang pun yang tidak membutuhkan agama. Para ahli tafsir juga mempunyai pendapat yang sama bahwa fitrah beragama ialah menjadi kebutuhan manusia. Jadi tidak heran jika ada yang mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang beragama.34
Kebutuhan peserta didik yang harus dipenuhi oleh pendidik diantaranya:
a. Kebutuhan Fisik
Fisik peserta didik mengalami pertumbuhan yang sangat cepat terutama pada masa pubertas. Kebutuhan biologis yaitu berupa makan, minum dan istirahat, dimana hal ini menurut peserta didik untuk memenuhinya. Disamping pendidik memperhatikan pertumbuhan fisik, pendidik juga harus dapat memberikan informasi yang memadai tentang pertumbuhan melalui berbagai bimbingan seperti bimbingan kelompok maupun pribadi.
b. Kebutuhan Sosial
Kebutuhan sosial merupakan kebutuhan yang berhubungan langsung dengan masyarakat agar peserta didik dapat berinteraksi dengan masyarakat lingkungannya, seperti dapat diterima oleh teman-temannya
34
secara wajar. Begitu juga supaya dapat diterima oleh orang yang lebih tinggi dari dia seperti orang tuanya, guru-gurunya dan pemimpin-pemimpinnya. Kebutuhan ini perlu dipenuhi agar peserta didik dapat memperoleh posisi dan berprestasi dalam masyarakat.
c. Kebutuhan Ingin Dicintai dan Disayangi
Rasa ingin dicintai dan disayangi merupakan kebutuhan yang esensial, karena dengan terpenuhi kebutuhan ini akan mempengaruhi sikap dan mental peserta didik. Banyak anak-anak yang tidak membutuhkan kasih dan sayang dari orang tuanya, guru dan lain-lainnya mengalami prestasi dalam hidup. Dalam agama cinta kasih yang paling tinggi diharapkan dari Allah SWT itu sebabnya setiap orang tua berusaha mencari kasih dan sayang mendekatkan diri kepadanya.
d. Kebutuhan Untuk Berprestasi
e. Kebutuhan Mandiri
Peserta didik pada usia remaja ingin lepas dari batasan-batasan atau aturan orang tuanya dan mencoba untuk mengarahkan dan mendisiplinkan dirinya sendiri. Ia ingin bebas dari perlakuan orang tuanya yang terkadang terlalu berlebihan dan terkesan sering mencampuri urusan mereka yang menurut mereka bisa diatasi sendiri. Banyak orang tua yang sangat memperhatikan dan membatasi sikap, perilaku dan tindakan-tindakannya. Hal ini membuat remaja merasa tidak dipercayai dan dihargai oleh orang tua mereka, sehingga muncul sikap menolak dan terkadang juga memberontak.
f. Kebutuhan Untuk Mendapatkan Status
Peserta didik terutama pada usia remaja membutuhkan suatu yang menjadikan dirinya berguna bagi masyarakat. Kebanggaan terhadap diri sendiri, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Peserta didik juga butuh kebanggaan untuk diteima dan dikenal sebagai individu yang berarti dalam kelompok teman sebayanya, karena penerimaan sangat dibanggakan kelompok sangat penting bagi peserta didik dalam mencari identitas diri dan kemandirian.
g. Kebutuhan Untuk Curhat
pubertas. Sebaliknya jika mereka tidak mendapatkan kesempatan untuk mengkomunkasikan pemasalannya tersebut, apalagi dilecehkan, ditolak atau dimusuhi dapat menimbulkan kekecewaan yang besar bagi mereka. h. Kebutuhan Untuk Memiliki Falsafah Hidup
Peserta didik pada usaia remaja mulai terarik untuk mengatahui tentang kebenaran nilai-nilai ideal. Mereka mempunyai keinginan untuk mengenal apa tujuan hidup dan bagaimana kebahagiaan itu diperoleh. Karena itu mereka juga membutuhkan pengetahuan-pengetahuan yang jelas sebagai suatu filsafat hidup yang memuaskan yang sesuai deengan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga dapat dijadikan pedoman dalam mengarungi kehidupan ini.35
Kebutuhan-kebutuhan peserta didik tersebut harus menjadi perhatian serius para pendidik, sehingga peserta didik akan mencapai kematangan, baik secara fisik maupun psikis. Dalam hal ini pelaksanaannya adalah pemenuhan kebutuhan setiap agama, karena ajaran agama sudah dihayati, diyakini dan diamalkan oleh anak didik akan merawat seluruh aspek kehidupannya. Oleh karena itu, setiap pendidik yang mengabaikan kebutuhan terhadap agama ini akan mampu meraih sebagian kecil dari keperibadiannya, atau bahkan usahanya akan sia-sia sekali, sebab pendidikan yang tidak akan
35
memperhatikan kebutuhan tersebut tidak akan menjamah psikologis manusiawi yang terdalam.36
3. Etika Peserta Didik dalam Islam
Sebagaimana halnya pendidik, peserta didik pun untuk mencapai tujuan yang diharapkankan, ada beberapa sifat, tugas, tanggungjawab dan langkah-langkah yang harus dipenuhi dan dilaksanakan. Menurut Ahmad Hasan Fahmi, sebagaimana yang dikutip oleh Moh. Hitami Salim dan Syamsul Kurniawan dalam bukunya yang berjudul Studi Ilmu Pendidikan Islam ada empat etika yang harus dimiliki oleh seorang murid yaitu:
a. Seorang peserta didik harus membersihkan hatinya dari kotoran dan penyakit hati sebelum ia menuntut ilmu,
b. Seorang peserta didik harus mempunyai tujuan dalam mencari ilmu dalam rangka menghiasi jiwa dan sifat keutamaan mendekatkan diri kepada Allah SWT,
c. Seorang peserta didik harus tabah dalam memperoleh ilmu dan bersedia merantau dan
d. Seorang peserta didik wajib meghormati gurunya dan berusaha memperoleh kerelaan dari pendidiknya.37
Etika peserta didik dalam pendidikan ialah etika yang paling penting yang harus dimiliki oleh peserta didik. Seorang peserta didik hendaklah ia
36
Ibid., 81-82.
37
menganggap pendidikannya sebagai seorang pengajar dan pendidik. Sebagai seorang pengajar yang mengajarkan ilmu kepada peserta didik, serta sebagai pendidik yang membimbingnya pada budi pekerti yang baik. Berlakulah sopan dan santun kepada pendidik, baik pada saat duduk bersama, berbicara padanya, saat bertanya dan mendengarkan pelajaran, jangan banyak bicara dan berdebat dengannya, jangan memotong pembicaraan selama pelajaran berlangsung, jauhi banyak bertanya terutama dalam kondisi ramai, karena itu membuat kita menjadi bangga terhadap diri tetapi bagi pendidik akan membuat bosan.
Peserta didik harus menampakkan kegembiraan dan bisa mengambil maknanya selama proses belajar, harus bersikap sabar dan tidak boleh bosan. Kemudian, jika peserta didik mengetahui kesalahan atau kebinggungan pendidiknya, jangan jadikan itu alasan untuk meremehkannya, karena itulah yang akan menjadi sebab peserta didik tidak akan pernah memperoleh ilmu.
Dalam hal ini peserta didik tidak boleh berdiam diri terhadap sebuah kesalahan karena sikap ini akan bisa membahayakan peserta didik maupun pendidiknya dan apabila peserta didik mengingatkan lalu pendidiknya sadar, pendidiknya akan meralat kesalahan tersebut, begitu juga kesalahan yang disengaja maupun yang tidak disengaja.38
38
C. Guru
a. Pengertian Guru
Kata pendidik berasal dari kata dasar didik, artinya memelihara, merawat dan memberi latihan agar seseorang memiliki ilmu pengetahuan seperti yang diharapkan (tentang sopan santun, akal budi, akhlak dan sebagainya). Selanjutnya dengan menambahkan awalan pe hingga menjadi pendidik, yang artinya orang yang mendidik.
Secara terminologi, pendidik menurut Ahmad Tafsir, sebagaimana yang dikutip oleh Ramayulis dan Samsul Nizar, dalam bukunya yang berjudul Filsafat Pendidikan Islam “orang yang bertanggungjawab terhadap berlangsungnya proses pertumbuhan dan perkembangan potensi anak didik, baik potensi kognitif maupun potensi psikomotoriknya. Sementara menurut
Ima>m Barnadib pendidik adalah “ tiap orang yang sengaja mempengaruhi orang lain untuk mencapai kedewasaan.39
Sedangkan menurut Ametembun, sebagaimana yang dikutip oleh Ramayulis dan Samsul Nizar, dalam bukunya yang berjudul Filsafat Pendidikan Islam guru adalah semua orang yang bertanggungjawab dan berwewenang terhadap pendidikan murid, baik secara individual ataupun klasikal, baik di sekolah maupun diluar sekolah. Dalam UUD Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 Bab 1 Pasal 6, dibedakan antara pendidik dan tenaga kependidikan, tenaga kependidikan ialah anggota
39
masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. Sedangkan pendidik ialah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong, fasilitator dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya serta berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan.
Secara umun istilah pendidikan dikenal dengan guru. Menurut Hadari Nawawi sebagaimana yang dikutip oleh Ramayulis dan Samsul Nizar, dalam bukunya yang berjudul Filsafat Pendidikan Islam mengatakan bahwa guru adalah orang yang kerjaannya mengajar atau memberikan pelajaran di sekolah. Secara khusus Hadari Nawawi mengatakan bahwa guru adalah orang yang ikut bertanggungjawab dalam membantu anak mencapai kedewasaan masing-masing. Guru bukanlah seorang yang berdiri di dalam kelas menyampaikan materi pengetahuan tertentu, akan tetapi guru adalah anggota masyarakat yang harus ikut aktif dan berjiwa besar serta aktif dalam mengarahkan perkembangan anak didiknya untuk menjadi anggota masyarakat sebagai orang dewasa.40
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulakan bahwa guru atau pendidik adalah orang yang bertanggungjawab terhadap perkembangan dan kematangan aspek rohani dan jasmani anak. Pendidik itu bisa saja orang tua dari anak itu sendiri atau orang lain yang diserahi tanggungjawab oleh orang tua.
40
b. Syarat-Syarat Guru
Menjadi guru berdasarkan tuntunan hati nurani tidaklah semua orang dapat melaksanakannya. Guru dituntut mempunyai suatu pengabdian yang dedikasi dan loyalitas, ikhlas sehingga menciptakan anak didik yang tumbuh dewasa, berakhlak dan berketrampilan. Guru memang menempati kedudukan yang terhormat di masyarakat, kewibawaannyalah yang menyebabkan guru dihormati dan diterima. Menurut Zakiah Darajat, sebagaimana yang dikutip oleh Akmal Hawi, dalam bukunya yang berjudul Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam, bahwasannya guru harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu: Takwa kepada Allah SWT, berilmu, sehat jasmani dan berkelakuan baik.41
Adapun persyaratan yang harus dipenuhi oleh seorang guru antara lain adalah:
a. Harus memiliki sifat rabbani,
b. Menyempurnakan sifat rabbani dengan keikhlasan, c. Memiliki rasa sabar,
d. Memiliki kejujuran dengan menerangkan apa yang diajarkan dalam kehidupan pribadi,
e. Meningkatkan wawasan, pengetahuan dan kajian, f. Menguasai banyak variasi serta metode mengajar,
41
g. Mampu bersikap tegas dan meletakkan sesuatu sesuai dengan tempatnya sehingga ia akan mampu mengontrol diri dan muridnya,
h. Memahami dan menguasai psikologis anak, memperlakukan mereka sesuai dengan kemampuan intelektual dan kesiapan psikologisnya,
i. Mampu menguasai fenomena kehidupan sehingga memahami berbagai kecenderungan dunia beserta dampak yang akan ditimbulkan bagi peserta didik dan
j. Dituntut memiliki sifat adil terhadap sesama murid.42
Dalam hal ini seorang guru menurut Athiyah Al Abrasi, sebagaimana yang dikutip oleh Akmal Hawi, dalam bukunya yang berjudul Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam, harus memiliki kriteria sebagai berikut:
a. Zuhud, tidak mementingkan materi dan mencari keridhoan Allah SWT, b. Bersih, yaitu berusaha membersihkan diri dari berbuat dosa dan
kesalahan secara fisik, serta membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela dengan cara membersihkannya,
c. Ikhlas, antara lain dengan cara menyesuaikan antara perkataan dan berbuatan, serta tidak malu menyatakan secara jujur bahwa saya tidak tahu terhadap masalah yang belum ia ketahui,
d. Pemaaf, yaitu memiliki sifat pemaaf yang tinggi, e. Berperan sebagai orang tua bagi murid dan f. Menguasai mata pelajaran.43
42
c. Tugas Guru
Keutamaan seorang pendidik terletak pada tugas mulai diembannya. Tugas yang diemban seorang pendidik hampir sama dengan tugas seorang Rasul. Artinya, tugas pendidik sebagai suatu misi yang mengajak manusia untuk tunduk dan patuh pada hukum-hukum Allah SWT guna memperoleh keselamatan dunia dan akhirat. Misi ini kemudian dikembangkan pada proses pembentukan kepribadian yang berjiwa tauhid, kreatif, beramal shaleh dan bermoral tinggi.
Untuk melaksanakan tugasnya sebagai pendidik hendaknya pada prinsip Amar Ma’ru>f Nahi> Mungkar dan menjadikan prinsip tauhid sebagai pusat kegiatan penyebaran misi Iman, Islam dan Ihsan. Kekuatan yang dikembangkan oleh pendidik adalah kekuatan individualitas, sosial dan moral agama.44
Menurut Fuad Hasan “Dengan berlakunya UUD itu nanti maka
tegaslah adanya pedoman penyelenggaraan kegiatan pendidikan kita”. Untuk
itu tugas guru bukan hanya memindahkan muatan materi ke peserta didik, tetapi dalam kurun waktu 24 jam ia harus siap sedia sebagaimana tutur bapak Abdurrahmansyah, sebagaimana yang dikutip oleh Akmal Hawi, dalam bukunya yang berjudul Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam. Adapun
43
Ibid., 12.
44
bidang-bidang garapan profesi atau tugas kemanusiaan dan kemasyarakatan guru sebagai berikut:45
a. Guru sebagai profesi atau jabatan pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru tugasnya mliputi: mendidik, mengajar dan melatih dan
b. Guru sebagai bidang kemanusiaan, di sekolah ia harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua.
Meskipun seorang pengajar dapat mengajar secara jelas dan cermat, tetapi kalau tidak bertolak dari tujuan tertentu, pelajaran yang ia berikan pasti tidak akan banyak berguna. Selain itu juga tugas guru ialah memberikan pengetahuan, sikap dan nilai ketrampilan kepada murid. Dan juga guru itu harus berusaha menjadi pembimbing yang arif dan bijaksana sehingga tercipta hubungan dan arah harmonis antara guru dan murid.46
D. Pendidikan Islam
1. Pengertian Pendidikan Islam
Kata pendidikan yang umum kita gunakan sekarang, dalam bahasa Arab adalah tarbiyyah, dengan kata kerja rabba. Kata pengajaran dalam bahasa Arab adalah ta’li>m dengan kata kerjanya alama. Pendidikan dan pengajaran dalam bahasa Arabnya tarbiyyah wa ta’li>m sedangkan pendidikan Islam
45
Hawi, Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam, 13.
46
dalam bahasa Arabnya adalah tarbiyyah islamiyah. Kata kerja rabba (mendidik) sudah digunakan pada zaman Nabi Muhammad SAW.47
Sebagai disiplin ilmu, pendidikan Islam merupakan sekumpulan ide-ide dan konsep intelektual yang tersususn dan diperkuat melalui pengalaman dan pengetahuan. Dengan kata lain, ilmu pendidikan Islam bertumpu pada gagasan-gagasan dialogis dengan pengalaman empiris yang terdiri dari fakta atau informasi untuk diolah menjadi teori dan menjadi tempat berpijaknya ilmu pengetahuan. Maka ilmu pendidikan Islam dapat dibedakan antara ilmu pendidikan Islam menurut adanya teori yang dijadikan pedoman operasional dalam praktik pendidikan. Pengetahuan tentang apa, bagaimana dan sejauh mana pandangan Islam tentang kepndidikan yang bersumberkan Al- Qur‟an, dapat dijadikan tambahan masukkan konsepsi ilmu pendidikan Islam teoritis dan praktis.48
Pendidikan mempunyai pengertian yang sangat luas, yang mencakup semua perbuatan atau semua usaha dari generasi tua untuk mengalihkan nilai-nilai serta melimpahkan pengetahuan, pengalaman, kecakapan, serta ketrampilan kepada generasi selanjutnya, sebagai usaha untuk menyiapkan mereka, agar dapat memenuhi fungsi hidup mereka, baik jasmani maupun rohani.49
47
Zakiah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2000), 25.
48
Moh. Hitami Salim dan Syamsul Kurniawan, Studi Ilmu Pendidikan Islam, 16-17.
49
Pendidikan secara teoretis mengandung pengertian “memberi makan” kepada jiwa anak didik sehingga mendapatkan kepuasan rohaniah, juga sering diartikan dengan menumbuhkan kemampuan dasar manusia.50 Pendidikan dan agama mempunyai hubungan yang sangat erat. Hubungan antara keduanya bersifar organis-fungsional, pendidikan bersifat sebagai alat untuk mencapai tujuan Islam dan Islam memberikan landasan sistem nilai untuk megembangkan berbagai pemikiran tentang pendidikan Islam.51
Menurut Omar Muhammad At-Toumy Asy-Syaibany, sebagaimana yang dikutip oleh Mahmud, dalam bukunya yang berjudul Pemikiran Pendidikan Islam, mengartikan pendidikan Islam sebagai agen perubahan yang diinginkan dan diusahakan oleh proses pendidikan, baik pada tataran tingkah laku individu maupun tataran kehidupan sosial serta tataran relasi proposi diantara profesi-profesi dalam masyarakat.52
Menurut Hasan Langgulung sebagaimana yang dikutip oleh Sutrisno dan Muhyidin Albarobis dalam bukunya yang berjudul, Pendidikan Islam Berbasis Problem Sosial. Pendidikan Islam merupakan suatu proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan pemindahan pengetahuan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat kelak. Artinya pendidikan Islam tidak
50
M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, (Jakarta: Bumi aksara, 1991), 32.
51
Mahmud, Pemikiran Pendidikan Islam, 17-18.
52
bisa dimaknai sebatas transfer of knowledge akan tetapi juga transfer of value serta berorientasi dunia dan akhirat.53
Sedangkan menurut Ahmad D. Marimba, sebagaimana yang dikutip oleh Moh. Hitami Salim dan Syamsul Kurniawan dalam bukunya yang berjudul Studi Ilmu Pendidikan Islam bahwasanya Pendidikan Islam adalah bimbingan atau pertolongan secara sadar yang diberikan oleh pendidik kepada peserta didik dalam perkembangan jasmaniah dan rohaniah kearah kedewasaan dan seterusnya ke arah terbentuknya kepribadian yang utama.54
Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa pengertian pendidikan Islam adalah suatu aktifitas atau usaha pendidikan berupa bimbingan dan pengembangan fitrah manusia baik jasmani maupun rohani berdasarkan hukum-hukum Islam menuju terbentuknya kepribadian muslim mu>ttaqu>n yang bahagia baik di dunia maupun di akhirat.
2. Tujuan Pendidikan Islam
Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang sadar dan bertujuan kepada Allah SWT meletakkan asas-asasnya bagi seluruh manusia di dalam
syari‟at ini. Oleh karena itu, sudah semestinya mengkaji pendidikan terlebih
dahulu menjelaskan tujuannya yang luhur dan luas, yang telah ditetapkan oleh Allah SWT bagi seluruh aktivitas manusia. karena tujuan merupakan
53
Sutrisno dan Muhyidin Albarobis, Pendidikan Islam Berbasis Problem Sosial, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), 21.
54
kompas, barometer sekaligus evaluator dalam penyelenggaraan sutau pendidikan.
Salah satu tujuan penting dalam pendidikan Islam ialah mmbentuk akhlak mulia, karena itu segala sifat-sifat kemuliaan (akhlak al-mahmudah) adalah peserta didik, begitu pula segala akhlak yang tercela dinamakan (akhlak mazmumah) dan harus dijauhi.55
Sedangkan tujuan pendidikan Islam ialah kepribadian muslim, yaitu suatu kepribadian yang seluruh aspeknya dijiwai oleh ajaran Islam. Orang yang berkepribadian muslim dalam Al- Qur‟an disebut mu>ttaqu>n. Karena itu pendidikan Islam berarti juga untuk pembentukan manusia yang bertaqwa. Pendidikan tersebut sesuai dengan pendidikan nasional yang dituangkan dalam tujuan pendidikan nasional yang akan membentuk manusia pancasila yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.56
Aspek tujuan pendidikan menurut Abd al-Rahman Saleh Abdullah mengatakan dalam bukunya Educational Theory a Qur‟anic Outlook, bahwa pendidikan Islam menurutnya dibangun atas empat komponen sifat dasar manusia yaitu:
a. Tujuan Jasmaniyah
Tujuan pendidikan Islam perlu dikaitkan dengan tugas manusia selaku khali>fah dimuka bumi yang harus memiliki kemampuan
55
Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam dalam Presepektif Filsafat, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2014), 119.
56
jasmani yang sehat, ketrampilan-ketrampilan fisik, disamping rohani yang teguh. Dan juga untuk membentuk manusia muslim yang sehat jasmaninya serta memiliki ketrampilan yang tinggi.
b. Tujuan Rohaniyah
Perhatian dari tujuan ini terkait dengan kemampuan manusia menerima ajaran agama Islam yang inti ajarannya adalah keimanan dan ketaatan kepada Allah SWT, dengan tunduk dan patuh kepada nilai-nilai moralitas yang diajarkan-Nya dan mengikuti teladan Rasulullah SAW.
c. Tujuan Akal
Tujuan ini bertumpu pada pengembangan intelegensi yang ada dalam otak manusia. Agar dapat memahami dan mneganalisis fenomena-fenomena ciptaan Allah SWT di jagad raya ini. Alam dan isinya merupakan sebuah buku besar yang harus dijadikan obyek pembacaan dan pengamatan serta renungan akal fikiran manusia sehingga akan diperoleh ilmu pengetahuan yang semakin maju dan berkembang.
d. Tujuan Sosial
atau majemuk. Tujuan ini sangat penting keberadaannya karena manusia sebagai khali>fah Allah SWT di muka bumi ini.57
57
BAB III
BOIGRAFI IMA>MAL-GHAZA>LI> DAN IBNU TAIMIYAH
A. Boigrafi Ima>mAl-Ghaza>li>
1. Riwayat Hidup Ima>mAl-Ghaza>li>
Ima>m Al-Ghaza>li> lahir tahun 1059 Masehi/450 Hijriyah di Thus dari seorang keluarga Persia, yang nama lengkapnya adalah Abu> Ha>mid
Muhammad bin Muhammad Al-Ghaza>li>. Beliau terkenal sebagai seorang yang ahli fiqih dan ilmu kalam, seorang filisof dan sufi yang pembawa pembaharuan terhadap penafsiran ajaran-ajaran Islam, yang berkenaan dengan kemasyarakatan, bahkan juga sebagai tokoh pendidikan akhlak atau moral yang berdasarkan hukum Islam dan kemudian ia mendapat gelar
Ternyata do‟anya pun diterima oleh Allah SWT dan Al-Ghaza>li> terkenal sebagai seorang yang ahli fiqih atau tasawuf yang banyak menasehati masyarakat dengan keislaman.58
Sejak mudanya Al-Ghaza>li> memang banyak mempelajari masalah fiqih dan tauhid. Ia juga mempelajari ilmu dibidang filsafat, terutama filsafat Al-Farabi dan Ibnu Si>na dan juga tentang tasawuf. Dari pengalaman-pengalaman yang ia pelajari ternyata kurang meyakini dan tidak membawa kebahagiaan pada hatinya. Maka sesuadah itu ia mengajar di Madrasah Nidzamiyah dan memerlukan penyelidikan lebih banyak lagi dengan menemui orang-orang tertentu dari satu negeri ke negeri yang lain.59
Al-Ghaza>li> memang orang yang cerdas dan sanggup mendebat segala sesuatu yang tidak sesuai dengan penalaran yang jernih. Hingga Ima>m al-Juwaini sempat memberi predikat beliau sebagai seorang yang memiliki
ilmu yang sangat luas bagaikan ”laut luas nan menenggelamkan”. Ketika
gurunya meninggal dunia. Al-Ghaza>li> meninggalkan Nisabur menuju ke istana Nidzam al-Mulk yang menjadi perdana menteri Sultan Bani Saljuk.
Keikutsertaan Al-Ghaza>li> dalam suatu diskusi bersama sekelompok ulama dan para intelektual dihadapan Nidzam al-Mulk membawa kemenangan baginya. Hal itu tidak lain berkat ketinggian ilmu filsafatnya, kekayaan ilmu pengetahuannya, kefasihan lidahnya dan kejituan
58
Achmad Sunarno, Ayyuhal Waladul Muhibbu, (Surabaya: Al Ikhlas, 1991), 46.
59
argumentasinya. Nidzam al-Mulk benar-benar kagum melihat kehebatan beliau ini dan berjanji akan mengangkatnya sebagai guru basar di Universitas yang didirikannya di Baghdad. Peristiwa ini terjadi pada tahun 484 atau 1091 Masehi.60
Al-Ghaza>li> dalam bukunya Ihya>’ Ulu>muddin berusaha untuk mendidik ke arah yang baik dengan mengikuti kehidupan yang bermoral dan teratur, adil dan bijaksana. Ia berhasil mendidik manusia pada akhlak yang baik yang perlu ditaati oleh para guru, murid, dan anak-anak. Ia juga mengajarkan perjuangan batin dan latihan jiwa buat mennuju kesempurnaan rohani. Pandangan Al-Ghaza>li> yang selama ini ternyata membantu kehidupan akhlak bagi anak-anak, seperti perlunya adab makan, minum berpakaian, bergerak sehingga tidak terbiasa lagi mereka tidak hidup bermalas-malasan. Al-Ghaza>li> membenarkan kesempatan bagi anak-anak untuk bermain-main agar tidak mematikan pikiran dan hatinya dengan pengertian untuk tidak menjadi pasif.61 Bagi Al-Ghaza>li> yang dikatakan orang yang berakal adalah orang yang dapat menggunakan dunia untuk tujuan akhirat, sehingga derajatnya lebih tinggi disisi Allah SWT dan lebih kebahagiaannya di akhirat kelak.62
60
Abuddin Nata, Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), 83.
61
Ibid., 49-50.
62
Al-Ghaza>li dalam karya-karyanya sangatlah jelas bagaimana pemikirannya. Dalam hal yang berhubungan dengan tasawuf misalnya. Meskipun dalam masalah ini kita tidak menemukan pembahasan tentang etimologi, terminologi dan sejarah perkembangan tasawuf secara detail, sebagaimana yang didapati pada kebayakan filosof lainnya. Al-Ghaza>li lebih banyak menitikberatkan pada praktikal hakikat tasawuf yang sesuai dengan Al-Qur‟an dan As-Sunnah, serta perjalanan sahabatRasulullah SAW.63
Ima>m Al-Ghaza>li> dalam siklus purna yang berhenti di tempat semula. Ia dilahirkan di Thus dan kembali ke Thus lagi. Ia wafat ditempat kelahirannya pada tahun 505 Hijriyah atau bertepatan dengan tahun 1111 Masehi. Dengan demikian, tidak perlu diragukan lagi jika dikatakan Ima>m
Al-Ghaza>li> merupakan salah satu pemikir besar umat Islam yang banyak menyumbang bagi peningkatan sosial, kebudayaan, etika dan pandangan metafisik Islam.64
2. Konsep Pendidikan Ima>m Al-Ghaza>li
Dalam pandangan Ima>m Al-Ghaza>li, sebagaimana yang dikutip oleh Mahmud, dalam bukunya yang berjudul Pemikiran Pendidikan Islam mengatakan bahwa sentral dalam pendidikan adalah hati sebab hati adalah esensi dari manusia. Menurutnya subtansi manusia bukanlah terletak pada
63
Hery Sucipto, Ensiklopedi Tokoh Islam, (Jakarta: PT MIZAN PUBLIKA, 2003), 164.
64
unsur-unsur yang ada pada fisiknya melainkan berada pada hatinya sehingga pendidikan diarahkan pada pembentukan akhlak yang mulia.65
a. Tujuan pendidikan
1) Tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan untuk mencari kedudukan, kemegahan dan kegagahan atau mendapatkan kedudukan yang menghasilkan uang. Karena jika tujuan pendidikan diarahkan bukan pada mendekatkan diri kepada Allah SWT, akan dapat menimbulkan kedengkian, kebencian dan permusuhan. Hal ini mencerminkan sikap zuhud Ima>m Al-Ghaza>li> terhadap dunia, merasa
Qana`>’ah (merasa cukup dengan yang ada) dan banyak memikirkan kehidupan akhirat dari pada kehidupan dunia.
2) Sarana yang bertujuan mendapatkan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Dalam hal ini, Al-Ghaza>li> memandang bahwa dunia ini bukan merupakan hal pokok, tidak abadi dan akan rusak, sedangkan maut dapat memutuskan kenikmatan setiap saat. Tujuan pendidikan
Al-Ghaza>li> tidak sama sekali menistakan dunia, melainkan dunia ini hanya sebagai alat.66
b. Kurikulum
Secara tradisional kurikulum berarti mata pelajaran yang diberikan kepada anak didik untuk menanamkan sejumlah pengetahuan agar
65
Mahmud, Pemikiran Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2011), 245.
66
mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Kurikulum tersebut disusun agar dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan. Al-Ghaza>li> pernah berkomentar tentang konsep kurikulum pendidikan, bahwa mata pelajaran yang harus disampaikan kepada peserta didik didasarkan kepada dua pendekatan, antara lain:
1) Pendekatan Agama
Menurut Al-Ghaza>li> bahwa mata pelajaran yang utama dan harus terdapat dalam kurikulum pendidikan adalah ilmu Agama. Seperti Al-Qur‟an dan Al-Hadits, ilmu fiqh, ilmu tafsir dan lain sebagainya. 2) Pendekatan Pragmatis
Maksud dari pendekatan ini adalah bahwa setiap ilmu yang memiliki dampak positif, baik kepada peserta didik maupun kepada masyarakat, maka pelajaran tersebut harus ada dalam kurikulum pendidikan, seperti ilmu kedokteran, ilmu matematika dan lain sebagainya.67
Klasifikasi ilmu tersebut sepertinya Al-Ghaza>li> ingin mengatakan bahwa pada dasarnya ilmu terbagi kepada dua macam yaitu: pertama, disiplin ilmu yang harus dikuasai oleh setiap individu umat Islam. Ilmu inilah yang masuk dalam katagori Fardhu „A>in.. Karenanya tidak ada pilihan lain kecuali disiplin ilmu ini harus dimasukan kedalam kurikulum
67
pendidikan. Kedua, disiplin ilmu yang tidak menuntut kepada setiap individu untuk menguasainya, tetapi cukup diwakili oleh beberapa umat Islam saja. Disiplin ilmu inilah yang disebut dengan istilah fardhu kifayah. Karenanya jika ada sebagian umat Islam telah memilikinya maka sudah terwakili. Dalam kesempatan lain, Al-Ghaza>li> pernah menawarkan konsep kurikulum yang dikaitkan pada ilmu pengetahuan. Dalam pandangan beliau bahwa ilmu terbagi kepada tiga bagian besar, antara lain:
a) Ilmu yang terkutuk, yaitu ilmu-ilmu yang tidak ada manfaatnya, baik di dunia maupun di akhirat seperti: ilmu sihir, ilmu nujum dan ilmu ramalan. Menurut pandangan Al-Ghaza>li> bahwa ilmu-ilmu tersebut adalah tercela dan sesat, karena dapat mendatangkan ke madharatan, baik bagi pemiliknya maupun bagi orang lain.
b) Ilmu yang terpuji, yaitu ilmu yang erat kaitannya dengan per ibadahan dan segala macamnya, seperti ilmu kebersihan atau bersuci, ilmu yang mendatangkan kemaslahatan bagi pemiliknya maupun kepada orang lain.
Dengan demikian, pada intinya Al-Ghaza>li> berkesimpulan bahwa ilmu yang paling utama adalah ilmu agama dan semua ilmu yang berhubungan dengannya. Karenanya ilmu agama harus terdapat di dalam kurikulum pendidikan.68
c. Metode pendidikan
Metode pendidikan diklasifikasikan Al-Ghaza>li> menjadi dua bagian: 1) Metode khusus pendidikan Agama. Meode ini memiliki orientasi
terhadap pengetahuan aqidah karena pendidikan agama pada realitasnya lebih sukar dibandingkan dengan pendidikan lainnya, karena pendidikan agama menyangkut problematika intuitif dan lebih menitikberatkan kepada pembentukan personality peserta didik. Dengan demikian pendidikan akal yang kohesif pada diri peserta didik selama dalam proses pendidikan akan dapat dikendalikan, sehingga bukan hanya mementingkan rasio, rasa, berpikir sebenar-benarnya tanpa dzikir. Tetapi peserta didik yang memiliki kepribadian yang ka>mil. Dengan demikian, agama bagi peserta didik menjadi pembimbing akal. Dari sinilah kemudian letak kesempurnaan hidup manusia dalam keseimbangan.
2) Metode khusus pendidikan Akhlak, Al-G