PENDIDIKAN KARAKTER
DI SEKOLAH
Urgensi Pendidikan Karakter Di Sekolah
Siswa-siswa di sekolah pada gilirannya merupakan generasi yang akan menentukan nasib bangsa ini di kemudian hari. Karena itu, karakter siswa yang terbentuk sejak sekarang akan sangat menentukan karakter bangsa ini di kemudian hari. Karakter siswa akan terbentuk dengan baik manakala dalam proses tumbuh kembang mereka mendapatkan cukup ruang untuk mengekspresikan diri secara leluasa. Dengan begitu siswa sebagai pribadi yang mempunyai hak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan iramanya masing-masing.
Wibowo (2012: 53) menceritakan, di negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS) pendidikan karakter sangat ditekankan bagi masyarakatnya. Bahkan salah satu komisi di Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat pada 1991, merekomendasikan pentingnya internalisasi pendidikan karakter di sekolah-sekolah. Tujuannya agar lulusan sekolah di AS dapat menyiapkan diri secara lebih baik dalam bidang pekerjaan. Pemerintah AS juga beranggapan bahwa pendidikan berperan penting dalam pembentukan karakter
seutuhnya. Itulah sebabnya mereka mempunyai kepentingan besar dalam bidang pendidikan, yaitu untuk mempersiapkan warga negaranya memiliki karakter yang kuat dalam rangka mencapai tujuan hidup berbangsa dan bernegara.
Menurut William Bennet, sekolah memiliki peran yang sangat urgen dalam pendidikan karakter seorang peserta didik. Apalagi bagi peserta didik yang tidak mendapatkan pendidikan karakter sama sekali di lingkungan dan keluarga mereka. Apa yang dikemukakan Bennet ini, tentu saja bukan tanpa dasar, tetapi berdasarkan hasil penelitiannya tentang kecenderungan masyarakat di Amerika, di mana anak-anak menghabiskan waktu lebih lama di sekolah ketimbang di rumah mereka. William Bennet sampai pada kesimpulan bahwa apa yang terekam dalam memori anak didik di sekolah, ternyata mempunyai pengaruh besar bagi kepribadian atau karakter mereka ketika dewasa kelak. Ringkasnya, sekolah merupakan salah satu wahana efektif dalam internalisasi pendidikan karakter terhadap anak didik (Wibowo, 2012: 53).
Selain Amerika, negara maju lainnya seperti Jepang dan Cina juga telah menerapkan model pendidikan itu sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis berdampak positif pada pencapaian akademis.
Jika di negara-negara maju seperti Amerika, Jepang dan Cina menekankan pentingnya pendidikan karakter bagi anak-anak mereka, bagaimana dengan Indonesia? Di Indonesia, pendidikan karakter sesungguhnya telah lama diimplementasikan dalam pembelajaran di sekolah, khususnya dalam pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, dan lain-lain. Meskipun komitmen pemerintah terhadap
pengembangan dan kesuksesan pendidikan karakter cukup besar, harus diakui jika implementasi pendidikan karakter masih terseok-seok dan belum optimal.
Barangkali kita masih ingat dengan kejadian berikut. Tanggal 16 Mei 2011 lalu, tepatnya setelah 4 hari ujian nasional berakhir, Siami mengetahui bahwa putranya Alif diminta oleh gurunya untuk memberikan contekan jawaban kepada siswa lainnya di dalam kelas. Siami lantas mengkonirmasi hal ini pada kepala sekolah. Tak puas dengan jawaban kepala sekolah, ia lalu mengadu ke komite sekolah namun tak kunjung mendapat tanggapan. Ia pun membawa masalah ini ke sebuah radio di Surabaya hingga akhirnya laporan tersebut sampai ke telinga Walikota Surabaya, Tri Rismaharini. Setelah dilakukan proses penyidikan, sanksi pun dijatuhkan pada pihak yang dinilai bertanggungjawab yaitu kepala sekolah dan dua guru. Sanksi ini lantas memicu kemarahan wali siswa. Mereka menilai Siami dan keluarganya tak punya hati, serta telah mencemarkan nama sekolah dan kampung. Setidaknya empat kali warga menggelar demonstrasi di depan rumahnya. Puncaknya terjadi Kamis, 9 Juni 2011. Lebih dari 100 warga Kampung Gadel Sari dan wali murid SDN Gadel II menuntut Siami meminta maaf dan mengusir Siami sekeluarga dari kampong (Oke Zone, http://news.okezone.com/read/2011/06/13/340/467597/ tragedi-sd-gadel-potret-kelam-ujian-nasional).
Kasus contek massal yang terjadi di SDN Gadel II Surabaya Jawa Timur di atas menjadi pelajaran tentang bagaimana “kecurangan” di negeri ini dipandang sebagai sesuatu yang lazim dan tidak harus dipersoalkan. Padahal sekolah memiliki peran penting dalam membentuk karakter individu-individu siswa. Maka amat keliru jika ada yang beranggapan bahwa sekolah hanya berfungsi mengajarkan pengetahuan dan keterampilan saja.
Sekolah semestinya juga harus berfungsi membentuk akhlak dan kecerdasan emosional siswa sehingga menjadi seseorang yang berbudi pekerti luhur. Sekolah, baik secara langsung maupun tidak langsung, hendaknya juga mengajarkan dan mentransmisi budaya seperti nilai-nilai, sikap, peran dan pola-pola perilaku. Sekolah harusnya mengajarkan dan membudayakan pada peserta didik untuk menghindari perbuatan curang dan menghargai kejujuran.
Kasus contek massal yang terjadi di SDN Gadel II Surabaya Jawa Timur menjadi salah satu contoh kasus tentang buruknya implementasi pendidikan karakter pada sebagian sekolah-sekolah kita. Contoh yang lain adalah meningkatnya kasus penggunaan narkoba di kalangan pelajar, pergaulan bebas di kalangan pelajar, maraknya angka kekerasan di kalangan pelajar, dan lain-lain, menandakan betapa pengetahuan agama dan moral yang didapatkan peserta didik di bangku sekolah ternyata tidak berdampak positif terhadap perubahan perilaku mereka.
Sebabnya, karena pendidikan karakter memerlukan pembiasaan untuk berbuat baik, pembiasaan untuk berlaku jujur, ksatria, malu berbuat curang, dan lain-lain. Meskipun demikian, penting disadari bahwa karakter tidaklah terbentuk secara instant, tapi harus dilatih secara serius dan proporsional agar mencapai bentuk dan kekuatan yang ideal. Agar bisa efektif, pendidikan karakter sebaiknya dikembangkan melalui pendekatan terpadu dan menyeluruh. Efektiitas pendidikan karakter tidak selalu harus dengan menambah program tersendiri melainkan bisa melalui transformasi budaya dan kehidupan di sekolah. Melalui pendidikan karakter, semua berkomitmen untuk mendidik siswa sehingga menjadi pribadi utuh yang menginternalisasi kebajikan (tahu dan mau) dan terbiasa mewujudkan kebajikan itu dalam kehidupan sehari- hari.
Aspek Penting dalam Pendidikan Karakter di Sekolah Beberapa aspek yang semestinya diperhatikan dalam pendidikan karakter di lingkungan sekolah, yaitu: (1) Pembenahan kurikulum sekolah; (2) Memperbaiki kompetensi, kinerja dan karakter guru/ kepala sekolah; dan (3) Pengintegrasian dalam budaya sekolah.
Pembenahan Kurikulum Sekolah 1.
Satu hal yang menjadi sebab pentingnya kurikulum dalam pendidikan, bahwa dengan kurikulum maka kegiatan pendidikan akan terarah dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kurikulum merupakan sejumlah kegiatan yang mencakup berbagai rencana strategi belajar- mengajar, pengaturan-pengaturan program agar dapat diterapkan, dan hal-hal yang mencakup pada kegiatan yang bertujuan mencapai tujuan yang diinginkan.
Agar proses internalisasi pendidikan karakter di sekolah dapat berlangsung efektif, maka pembenahan kurikulum sekolah menjadi penting, terutama karena kurikulum adalah “ruh” atau inti dari pendidikan itu sendiri. Namun perlu ditegaskan juga bahwa pembenahan tersebut tidak dimaksudkan untuk membuat kurikulum baru, tetapi hanya sekedar memperbaiki atau melengkapi kekurangan-kekurangan yang saat ini terdapat pada kurikulum sekolah. Ringkasnya, pembenahan kurikulum tidak lain adalah pengembangan kurikulum sekolah yang sudah ada, agar dapat sesuai dengan karakteristik pendidikan karakter.
Pengembangan kurikulum pendidikan karakter pada prinsipnya tidak dimasukkan sebagai pokok bahasan, tetapi terintegrasi ke dalam mata pelajaran-mata
pelajaran, pengembangan diri, dan budaya sekolah. Oleh karena itu guru dan pemangku kebijakan pendidikan di sekolah hendaknya dapat mengintegrasikan nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter ke dalam kurikulum sekolah, silabus, dan rencana program pembelajaran (RPP) yang sudah ada. Perhatikan tabel 3.1 sebagai berikut:
Tabel 3.1
Implementasi Pendidikan Karakter Dalam Kurikulum Sekolah
No Implementasi
Pendidikan Karakter
Bentuk Pelaksanaan Kegiatan
1 Integrasi dalam mata pelajaran yang ada
Mengembangkan silabus dan RPP pada kompetensi yang telah ada sesuai dengan nilai yang akan diterapkan 2 Mata pelajaran
dalam muatan lokal (mulok)
Ditetapkan oleh sekolah/daerah. Kompetensi dikembangkan oleh sekolah/ daerah.
3 Kegiatan
pengembangan diri
Pembudayaan dan pembiasaan, berupa: pengkondisian, kegiatan rutin, kegiatan spontanitas, keteladanan, dan kegiatan terprogram.
Ekstra kurikuler, seperti Pramuka, PMR, kantin kejujuran, UKS, KIR, olahraga dan seni, OSIS dan sebagainya.
Bimbingan konseling, yaitu pemberian layanan bagi anak yang mengalami masalah.
Pengintegrasian nilai-nilai karakter ke dalam kurikulum sekolah berarti memadukan, memasukkan, dan menerapkan nilai-nilai yang diyakini baik dan benar dalam rangka membentuk, mengembangkan, dan membina tabiat atau kepribadian siswa sesuai jati diri bangsa tatkala kegiatan pembelajaran berlangsung (Zubaedi 2011: 264). Nilai-nilai karakter yang dimaksud yaitu: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja-keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/ komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Integrasi nilai-nilai untuk pendidikan karakter ini ke dalam kurikulum sekolah dapat dilakukan melalui tahap- tahap perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
Hakikatnya, pengembangan pendidikan karakter di sekolah adalah untuk mengusahakan agar siswa itu mengenal dan menerima nilai-nilai karakter sebagai milik mereka dan bertanggungjawab atas keputusan yang diambilnya melalui tahapan mengenal pilihan, menilai pilihan, menentukan pendirian, dan selanjutnya menjadikan suatu nilai sesuai dengan keyakinan diri. Dengan prinsip tersebut, peserta didik belajar melalui proses “berpikir”, “bersikap”, dan “berbuat”. Ketiga proses dalam pendidikan karakter ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam melakukan kegiatan sosial, dan mendorong peserta didik untuk melihat diri sendiri tidak hanya sebagai makhluk individu tapi juga makhluk sosial (Wibowo, 2012: 72).
Berdasarkan tabel 3.1, model pengintegrasian pendidikan karakter di sekolah dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
Integrasi dalam mata pelajaran yang ada a.
Pengembangan nilai-nilai karakter diintegrasikan dalam setiap pokok bahasan dan setiap mata pelajaran. Nilai-nilai tersebut dicantumkan dalam silabus dan RPP. Hal ini sejalan dengan pendapat Fasli Jalal yang dikutip Zubaedi (2011: 269) bahwa pendidikan karakter yang didorong oleh pemerintah untuk dilaksanakan di sekolah-sekolah tidak akan membebani guru dan siswa, sebab hal-hal yang terkandung dalam pendidikan karakter sebenarnya sudah ada dalam kurikulum, namun selama ini tidak dikedepankan dan diajarkan secara tersurat. Jadi pendidikan karakter tidak diajarkan dalam mata pelajaran khusus, namun dilaksanakan melalui keseharian pembelajaran yang sudah ada di sekolah.
Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari siswa. Dengan demikian, pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengalaman nyata dalam kehidupan siswa sehari- hari di masyarakat.
Setiap guru diharapkan dapat menjadi guru pendidikan karakter dan setiap guru seharusnya berkompeten untuk mendidik karakter siswanya. Telah diterangkan bahwa bahwa pendidikan karakter pada prinsipnya tidak dimasukkan sebagai pokok bahasan, tetapi terintegrasi ke dalam mata pelajaran-mata pelajaran. Artinya, setiap guru mata pelajaran memiliki tugas dan tanggung jawab untuk mendidik karakter siswanya. Mengutip pendapat Zubaedi (2011: 270):
menjadi tugas sebagian guru tertentu saja seperti guru PPKn, guru akidah akhlak, guru bimbingan konseling ataupun guru agama. Pendidikan karakter menjadi tanggung jawab kita bersama termasuk di dalamnya seluruh guru mata pelajaran.
Di samping itu, pendidikan karakter menghendaki suatu proses yang berkelanjutan yang dilakukan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam kurikulum. Proses pengembangan nilai-nilai karakter menjadi sebuah proses panjang, dimulai dari awal peserta didik masuk sampai selesai dari suatu satuan pendidikan. Sejatinya, proses tersebut dimulai dari kelas 1 SD atau tahun pertama dan berlangsung paling tidak sampai kelas 9 atau kelas akhir SMP. Pendidikan karakter di SMA adalah kelanjutan dari proses yang telah terjadi selama 9 tahun (Wibowo, 2012: 73).
Pendidikan karakter tentu saja bukan sekedar mengajari siswa dengan ayat, dalil, dan semacamnya. Guru sebagai ujung tombak terlaksananya pembelajaran hendaknya mampu meramu kurikulum terpadu yang dapat menyentuh seluruh kebutuhan siswa.
Mata pelajaran dalam muatan lokal (mulok) b.
Untuk menanamkan nilai-nilai kearifan lokal, pemerintah menekankan adanya kurikulum muatan lokal. Kurikulum muatan lokal bukanlah barang baru. Sejak tahun 1987, keberadaannya dikuatkan dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dengan nomor 0412/U/1987 tanggal 11 Juli 1987. Sedangkan pelaksanaannya dijabarkan dalam Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan (Dikdasmen) Nomor 173/-C/Kep/M/87 tertanggal 7 Oktober 1987.
Di era reformasi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah menyatakan bahwa struktur kurikulum pada setiap satuan pendidikan memuat tiga komponen yaitu mata pelajaran, muatan lokal, dan pengembangan diri. Dipertegas dalam Peraturan Mendiknas Nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Implementasinya, Peraturan Mendiknas No. 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan Permen No. 22 dan 23, mulai tahun pelajaran 2006/2007 setiap sekolah diwajibkan menyusun kurikulum sendiri berupa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Sejalan dengan semangat desentralisasi pendidikan, didukung Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) penerapan KTSP diharapkan lebih implementatif dan membumi.
Namun demikian KTSP juga mempunyai kekurangan sehingga oleh pemerintah disempurnakan lagi menjadi kurikulum 2013. Adapun permasalahan yang terdapat pada KTSP, sebagaimana dikemukakan Kusuma (https://www.academia.edu/7450539/Jurnal_ Analisis_Komponen-Komponen_Pengembangan_ Kurikulum_2013_Analisis_Komponen-Komponen_ Pengembangan_Kurikulum_2013_pada_Bahan_Uji_ Publik_Kurikulum_2013_Penulis_Deden_Cahaya_ Kusuma_1103500), antara lain:
Konten kurikulum masih terlalu padat yang 1)
ditunjukkan dengan banyaknya mata pelajaran dan banyak materi yang keluasan dan kesukarannya melampaui tingkat perkembangan usia anak;
Kurikulum belum sepenuhnya berbasis kompetensi 2)
nasional;
Kompetensi belum menggambarkan secara holistik 3)
domain sikap, keterampilan, dan pengetahuan; Beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai 4)
dengan perkembangan kebutuhan (misalnya pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan) belum terakomodasi di dalam kurikulum;
Kurikulum belum peka dan tanggap terhadap 5)
perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, maupun global;
Standar proses pembelajaran belum menggambarkan 6)
urutan pembelajaran yang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru;
Standar penilaian belum mengarahkan pada penilaian 7)
berbasis kompetensi (sikap, keterampilan, dan pengetahuan) dan belum tegas, menuntut adanya remediasi secara berkala;
Dengan KTSP memerlukan dokumen kurikulum 8)
yang lebih rinci agar tidak menimbulkan multitafsir. Kekurangan-kekurangan yang ada pada KTSP ini yang selanjutnya diperbaiki pada kurikulum 2013. Dalam draf Kurikulum 2013 ada beberapa perubahan antara lain pelajaran IPA untuk Sekolah Dasar akan diintegrasikan dengan matematika dan Bahasa Indonesia. Sedangkan IPS akan diintegrasikan dengan PKn dan Bahasa Indonesia. Untuk tingkat SMP dan SMA pelajaran TIK akan diintegrasikan ke semua pelajaran. Sementara muatan lokal akan dimasukkan ke dalam seni budaya dan keterampilan.
Muatan lokal diartikan sebagai program pendidikan yang isi dan media penyampaiannya dikaitkan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial dan lingkungan budaya serta kebutuhan pembangunan daerah setempat yang perlu diajarkan kepada siswa. Mata pelajaran yang mendukung pengembangan nilai-nilai karakter dalam muatan lokal ini dipilih dan ditetapkan oleh sekolah/ daerah, seperti pelajaran bahasa daerah, dan lain-lain. Kompetensi yang dikembangkanpun juga diserahkan kepada sekolah/ daerah.
Dengan mata pelajaran yang mendukung pengembangan nilai-nilai karakter dalam muatan lokal ini, diharapkan peserta didik dapat: pertama, mengenal dan menjadi akrab dengan lingkungan alam, sosial, dan budayanya; kedua, memiliki pengetahuan, kemampuan, keterampilan, serta pengetahuan mengenai daerahnya yang berguna bagi dirinya maupun lingkungan masyarakat yang pada umumnya sebagai bekal menyesuaikan diri dalam kehidupan sehari-hari; dan ketiga, Memiliki perilaku dan sikap yang selaras dengan nilai-nilai/aturan- aturan yang berlaku di daerahnya, serta melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai luhur budaya setempat dalam rangka menunjang pembangunan nasional.
Dapat juga dikatakan, muatan lokal yang terintegrasi ke mata pelajaran, berfungsi:
Penyesuaian. Sekolah menyesuaikan program 1)
pendidikan dengan lingkungan dan kebudayaan daerah lingkungannya.
Integrasi. Muatan lokal mendidik kepribadian siswa 2)
untuk mampu mengintegrasikan dirinya dalam lingkungan sekitar.
Perbedaan. Memberi kesempatan pada peserta didik 3)
memiliki program pengembangan sesuai dengan perbedaan minat, bakat, kebutuhan, kemampuannya, lingkungan dan daerahnya.
Dari uraian di atas, pengembangan nilai-nilai karakter dalam muatan lokal pada hakikatnya bertujuan untuk menjembatani kesenjangan antara siswa dengan lingkungannya. Maksudnya, adanya pengembangan nilai-nilai karakter dalam muatan lokal dipersiapkan bagi lembaga pendidikan atau sekolah untuk member arahan pada siswa sehingga dapat beradaptasi secara maksimal dan bermanfaat terhadap lingkungannya.
Bahan pengajaran muatan lokal merupakan isi atau materi pelajaran yang dimuat dalam muatan lokal. Penentuan bahan pelajaran muatan lokal merupakan tanggungjawab satuan pendidikan dalam merespon keadaan serta kebutuhan daerahnya masing-masing. Keadaan daerah maksudnya adalah segala sesuatu yang terdapat di daerah tertentu dan pada dasarnya berkaitan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial, ekonomi, serta lingkungan budaya. Sedangkan yang dimaksud dengan kebutuhan daerah adalah segala sesuatu yang diperlukan masyarakat di suatu daerah, khususnya dalam bidang kelangsungan hidup dan peningkatan taraf kehidupan masyarakat sesuai dengan arah perkembangan serta potensi daerah yang bersangkutan. Maka langkah yang harus dilakukan sekolah dalam mengembangkan nilai-nilai karakter dalam pelajaran muatan lokal tidak lepas dari aspek keadaan serta kebutuhan yang ada di lingkungan masyarakat.
Dasar ini menurut penulis relevan dengan salah satu pandangan ilosois pendidikan mengenai tujuan pengajaran atau pendidikan, yaitu adanya pendidikan
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, oleh karena itu kurikulum yang digunakan juga harus berdasarkan keadaan serta kebutuhan yang ada di lingkungan masyarakat. Hal ini bersesuaian dengan pendapat Ramayulis dan Nizar (2009: 193) bahwa kurikulum sebagai reproduksi kultural yaitu proses transformasi dan releksi butir-butir kebudayaan masyarakat agar dimiliki dan dipahami siswa sebagai bagian dari masyarakat tersebut.
Kegiatan Pengembangan Diri c.
Perencanaan dan pelaksanaan pendidikan karakter pada siswa dalam program pengembangan diri dapat dilakukan melalui pengintegrasian ke dalam kegiatan sehari-hari di sekolah, menurut Wibowo (2012: 84-91) dapat melalui:
Kegiatan rutin sekolah. Kegiatan rutin merupakan kegiatan yang dilakukan siswa secara terus-menerus dan konsisten setiap saat. Contoh kegiatan ini adalah upacara pada hari besar kenegaraan, pemeriksaan kebersihan (kuku, telinga, rambut, pakaian, dan lain-lain) secara rutin di tiap minggunya, beribadah dan shalat berjamaah (bagi yang beragama Islam), berdoa waktu mulai dan pada akhir jam pelajaran, dan lain-lain.
Kegiatan spontan. Kegiatan spontan adalah kegiatan yang dilakukan secara spontan pada saat itu juga. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada saat guru atau tenaga kependidikan yang lain mengetahui adanya perbuatan yang kurang baik dari siswa, yang harus dikoreksi pada saat itu juga. Apabila guru mengetahui adanya perilaku dan sikap yang kurang baik dari siswa, maka pada saat itu juga guru harus melakukan koreksi sehingga siswa tidak akan melakukan tindakan yang tidak
baik itu. Misalnya, ketika ada siswa yang membuang sampah tidak pada tempatnya, berteriak-teriak sehingga mengganggu pihak lain, berkelahi, memalak, berlaku tidak sopan, mencuri, berpakaian tidak senonoh, maka guru atau tenaga kependidikan lainnya harus cepat mengkoreksi kesalahan yang dilakukan oleh siswa tersebut. Kegiatan spontan ini tidak saja berlaku untuk perilaku dan sikap siswa yang tidak baik, tetapi perilaku yang baik harus direspon secara spontan dengan memberikan pujian. Misalnya ketika siswa memperoleh nilai tinggi, menolong orang lain, memperoleh prestasi dalam olahraga atau kesenian, dan lain-lain.
Keteladanan. Keteladanan adalah perilaku atau sikap guru dan tenaga kependidikan lain dalam memberikan contoh terhadap tindakan-tindakan yang baik, sehingga diharapkan dapat menjadi panutan bagi siswa untuk mencontohnya. Jika guru dan tenaga kependidikan yang lain menghendaki agar siswa berperilaku atau bersikap sesuai dengan nilai-nilai karakter, maka guru dan tenaga kependidikan adalah orang yang pertama dan utama memberikan contoh perilaku dan bersikap sesuai dengan nilai-nilai itu.
Pengkondisian. Untuk mendukung keterlaksanaan pendidikan karakter maka sekolah perlu dikondisikan sebagai pendukung kegiatan itu. Selain itu, pengembangan nilai-nilai pembentukan karakter melalui pengkondisian diperlukan sarana yang memadai dan mendukung, misalnya toilet yang selalu bersih, bak sampah ada di berbagai tempat dan selalu dibersihkan, sekolah terlihat rapi dan alat belajar yang ditempatkan dengan teratur, dan lain-lain.
Memperbaiki kompetensi, kinerja dan karakter 2.
guru/ kepala sekolah
Menjadi seorang guru bukanlah pekerjaan yang gampang, seperti yang dibayangkan sebagian orang, dengan bermodal penguasaan materi dan menyampaikannya kepada siswa sudah cukup. Hal ini belumlah dapat dikategorikan guru yang memiliki kompetensi/kinerja guru yang berkarakter. Karena itu seorang guru hendaklah memiliki berbagai keterampilan, kemampuan khusus, mencintai pekerjaannya, menjaga kode etik guru, dan lain sebagainya.
Kompetensi merupakan keharusan yang harus dimiliki oleh seorang guru agar ia berhasil dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang guru (Ramayulis dan Nizar, 2009: 152). Menurut Asnawir (2004: 224), ada tiga kompetensi yang semestinya sudah dimiliki seorang guru yaitu:
Kompetensi di bidang kognitif, yaitu kemampuan a.
intelektual yang harus dimiliki oleh seorang guru yang mencakup penguasaan materi pelajaran, pengetahuan cara mengajar dan tingkah laku